• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1Tinjauan Teoritis

2.1.2 Struktur Modal

Struktur modal merupakan pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Riyanto, 2001). Sedangkan menurut Halim (2007) yang dimaksud struktur modal adalah perimbangan jumlah hutang jangka pendek yang bersifat tetap, hutang jangka panjang, saham preferen, dan saham biasa. Van Horne dan Wachowicz (2007) menyatakan,

struktur modal adalah sebagai bauran atau proporsi pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh hutang, ekuitas saham preferen dan saham biasa. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa struktur modal merupakanpertimbangan proporsi pemakaian antara hutang jangka pendek , hutang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa untuk pendanaan perusahaan.

sedangkan menurut Gittman (2003:516) bahwa struktur modal adalah gabungan antara hutang jangka panjang dan modal yang harus dipertahankan oleh perusahaan. Manajemen perusahaan mencari sumber dana selain dari internal perusahaan dalam pemenuhan kegiatan pendanaan operasional perusahaan.Menurut Hasley (2005 : 19) pasar keuangan merupakan sumber potensial untuk pendanaan perusahaan. Perusahaan mempertimbangkan beberapa

hal dalam mencari pasar keuangan,meliputi jumlah pendanaan yang diperlukan,sumber pendanaan (pemilik atau kreditur), waktu pembayaran kembali dan struktur perjanjian pendanaan. Pengaruh kebijakan keuangan yang dilakukan perusahaan tentunya berdampak terhadap struktur modal yang terdapat dalam laporan keuangan.Penentuan komposisi struktur modal yang tepat dapat memberikan jaminan yang memadai terhadap dana yang ditanamkan perusahaan baik oleh investor maupun kreditur.

Sumber internal adalah modal atau dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri didalam perusahaan, yang berarti suatu pembelanjaan dengan “kekuatan sendiri”, Sedangkan sumber eksternal berasal dari pemilik yang merupakan komponen modal sendiri dan dana yang berasal dari para kreditur yang merupakan modal pinjaman atau hutang. Menurut Djohanputro (2008), sumber pendanaan perusahaan yang berasal dari ekuitas dapat berupa laba ditahan dan penerbitan saham. Laba ditahan merupakan sumber dana yang paling aman. Namun, laba ditahan jumlahnya terbatas sehingga seringkali tidak mencukupi untuk pembiayaan investasi perusahaan. Pendanaan ekuitas lainnya adalah dengan penerbitan saham perusahaan. Pendanaan eksternal dengan penerbitan saham ini menyebabkan sebagian hak kepemilikan perusahaan berpindah ke tangan pihak lain. Di samping itu, penerbitan saham juga membutuhkan biaya yang lebih mahal dibandingkan biaya utang. Namun demikian, salah satu keuntungan dari penerbitan saham adalah perusahaan tidak perlu membayar dividen ketika sedang mengalami kerugian. Berbeda dengan pendanaan utang yang tetap mewajibkan perusahaan untuk membayar beban bunga, tidak peduli kondisi perusahaan sedang

untung atau rugi. Sumber pendanaan utang dapat berasal dari utang jangka pendek dan utang jangka panjang. Utang jangka pendek adalah utang yang waktu jatuh temponya kurang dari satu tahun. Sementara utang jangka panjang adalah utang yang waktu jatuh temponya lebih dari satu tahun. Menurut Subramanyam danWild (2010), utang merupakan sumber pendanaan yang lebih disukai daripada penerbitan saham karena dua alasan:

- Bunga atas sebagian besar utang jumlahnya tetap, dan jika bunga lebih kecil daripada pengembalian atas aset operasi bersih, selisih pengembalian tersebut akan menjadi keuntungan bagi investor ekuitas.

- Bunga merupakan beban yang dapat mengurangi pajak, sedangkan dividen tidakDengan tambahan dana dari utang, perusahaan dapat menjadi lebih produktif sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Namun demikian, utang juga harus diimbangi dengan produktivitas yang baik. Sebab jika tidak, perusahaan dapat mengalami kesulitan keuangan karena jumlah utang yang harus dibayar berikut dengan bunganya melampaui jumlah laba yang dihasilkan perusahaan.

Struktur modal yang optimal menurut Martono (2000 : 240) ialah “struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan modal keseluruhan ataubiaya modal rata-rata, sehingga akan memaksimalkan nilai perusahaan.” Tingkat utang perusahaan dinyatakan dengan rasio leverage. Rasio leverage meliputi Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR).

Dalam penelitian ini leverage diukurdengan menggunakan debt to equity ratiodikenal sebagai ratio financial leverage. Selainmenggambarkan tingkat

penggunaan hutangdalam struktur modal perusahaan yang bisamemberikan tingkat pengembalian lebih tinggi,debt to equity ratio juga dapat menggambarkanresiko dalam berinvestasi pada suatu perusahaan,hal ini disebabkan karena debt to equity ratiomenggambarkan sejauh mana modal pemilikdapat menutupi hutang-hutang kepada pihakluar. Debt to equity ratio (DER) juga bisamemberikan gambaran mengenai struktur modalyang dimiliki oleh perusahaan, sehingga dapatdilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatuhutang (Ang, 1997). Tingginya rasio debt toequity atau rasio financial leveragemencerminkan tingginya resiko keuanganperusahaan.

2.1.2.1 Debtto Equity Ratio

Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur penggunaan hutang terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan. Rumusan untuk mencari DER dapat digunakan perbandinganantara total utang dengan total ekuitas sebagai berikut (John Wild, 2005:41).

Debt to Equity Ratio : Total Liabilities Equity

dimana: DER = Debt to Equity Ratio TL = Total Liabilities Equity = Total Equity

Semakin tinggi rasio leverage mengindikasikan bahwa semakin tinggi beban yang ditanggung perusahaan, sehingga semakin tinggi pula risiko yang ditanggungnya.

2.1.3 Profitabilitas

Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan manajemen perusahaan (Brigham dan Houston, 2006). Profitabilitas menurut Halim (2007) adalah ukuran sampai seberapa besar efektivitas manajemen dalam mengelola aset dan modal yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktivitas yang dilakukan perusahaan pada periode akuntansi tertentu. Perusahaan yang memiliki profitabilitas atau tingkat pengembalian atas investasi yang sangat tinggi menggunakan hutang yang relatif sedikit. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan perusahaan membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan mereka dengan dana yang dihasilkan secara internal.Menurut Munawar (1995) ada beberapa faktor yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan, yaitu :

- Jenis Perusahaan Profitabilitas perusahaan akan sangat bergantung pada jenis perusahaan, jika perusahaan menjual barang konsumsi atau jasa biasanya akan memiliki keuntungan yang stabil dibandingkan dengan perusahaan yang memproduksi barang-barang modal.

- Umur Perusahaan Sebuah perusahaan yang telah lama berdiri akan lebih stabil bila dibandingkan dengan perusahaan yang baru berdiri. Umur perusahaan ini adalah umur sejak berdirinya perusahaan hingga perusahaan tersebut masih mampu menjalankan operasinya.

- Skala Perusahaan Jika skala ekonominya lebih tinggi, berarti perusahaan dapat menghasilkan produk dengan biaya yang rendah. Tingkat biaya rendah tersebut merupakan cara untuk memproleh laba yang diinginkan.

- Harga Produksi Perusahaan yang biaya produksinya relatif lebih murah akan memilikikeuntungan yang lebih baik dan stabil daripada perusahaan yang biaya produksinya tinggi.

- Produk yang Dihasilkan Perusahaan yang bahan produksinya berhubungan dengan kebutuhan pokok biasanya penghasilan perusahaan tersebut akan lebih stabil daripada perusahaan yang memproduksi barang. Profitabilitas perusahaan diukur dengankesuksesan perusahaan dan kemampuanmenggunakan aktivanya secara produktif,dengandemikian profitabilitas suatu perusahaandapat diketahui dengan membandingkan antaralaba yang diperoleh dalam suatu periode denganjumlah aktiva atau modal perusahaan.Profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaiankebijakan dan keputusan yang menunjukkanpengaruh gabungan dari kebijakan likuiditas,menajemen aktiva dan manajemen utangterhadap hasil operasi (Brigham dan Houston,2001).Pengukuran kinerja suatu perusahaanmerupakan hal yang sangat penting terutamasekali untuk mengukur kinerja manajemen dalammengelola perusahaan, dan biasanyamenggunakan ukuran profitabilitas. Tingkatprofitabilitas suatuperusahaan memperlihatkanseberapa besar kemampuan perusahaan untukmemperolehkeuntungan dari investasi yangdilakukan.

2.1.3.1 Rasio Pengukuran Profitabilitas

Perbandingan ini disebut rasioprofitabilitas (profitability ratio). Berikut iniadalah beberapa ratio yang digunakan untukmengukur profitabilitas adalah

sebagai berikut :Return On Asset (ROA)ROA merupakan ukuran kemampuanperusahaan dalam menghasilkan laba dengansemua aktiva yang dimiliki oleh perusahaantersebut. Dalam hal ini laba yang digunakanadalah laba setelah pajak (EAT). PerhitunganROA menurut Wild dkk (2005) adalah sebagaiberikut :

ROA = Laba Bersih

Total Asset X100%

Rasio profitabilitas return on assets(ROA) dapat dijadikan sebagai ukuran daritingkat pengembalian yang dihasilkan oleh assetorganisasi (Atkinson et. al, 2004) ataubagaimana kemampuan perusahaanmenghasilkan laba bersih berdasarkan tingkatasset tertentu. Semakin tinggi rasio yangdiperoleh maka semakin efisien manajemen assetperusahaan. Dengan demikian ROA dipakaiuntuk melihat berapa besar kombinasi pengaruhantara margin dan tingkat perputaran asset(Higgins, 2004).

Dokumen terkait