• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN

1. Struktur Novel LP dan OMDS

a. Tema

Tema merupakan ide pokok sebuah cerita. Burhan Nurgiyantoro (2005: 82 – 83) menggolongkan tema dari tingkat keutamaannya, yaitu: tema mayor dan tema minor. Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Sedangkan tema minor bersifat mendukung atau mencerminkan makna utama keseluruhan cerita

1) Novel LP

Untuk menuju pada kesimpulan tentang tema novel LP terlebih dahulu dikemukakan beberapa hal setelah membaca novel tersebut, yaitu: Pengarang ingin menyampaikan tentang pendidikan, pengarang ingin memaparkan masalah kemiskinan, persahabatan , dan cinta kasih.

Dalam sebuah novel dapat ditemukan tema utama dan tema-tema sampingan (kecil) yang disisipkan pengarang. Tema utama novel LP cenderung pada permasalahan yang pertama yaitu tentang pendidikan. Seperti kutipan berikut:

Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol sedikit saja oleh kambing yang senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan. Kami memiliki enam kelas kecil-kecil, pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore untuk SMP Muhammadiyah (LP: 17).

Penyimpulan mengenai tema pendidikan, dapat dilihat dari beberapa hal di antaranya terlihat dari kutipan di atas. Dari kutipan di atas terlihat bahwa latar yang digunakan adalah sekolah Muhammadiyah, di mana sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan formal. Di sekolah seorang anak dididik dan ditransfer berbagai macam ilmu pengetahuan.

Pendidikan dalam konteks ini dapat bermakna luas. Selain pendidikan dalam arti pendidikan formal, namun pendidikan di sini juga bermakna sebagai

commit to user

proses pendewasaan peserta didik atau proses memanusiakan manusia. Sepeerti kutipan di bawah ini:

Dalam pendidikan, tidak jarang bakat seorang siswa diketahui secara tidak sengaja. Hal ini karena pada hakikatnya pendidikan adalah sebuah proses pencarian identitas. Di dalam novel Laskar Pelangi, fenomena semacam ini juga muncul, yakni ketika Ikal dan kawan-kawan sedang mengikuti pelajaran seni suara. Saat itu secara tidak sengaja bakat Mahar di bidang seni tergali. (LP: 129).

Dari kutipan di atas terlihat bahwa pendidikan berarti pencarian identitas. Dalam hal ini bakat serta potensi Mahar tergali secara tidak sengaja pada saat pelajaran seni suara.

Sedangkan subtema dalam novel LP adalah kemiskinan, persahabatan dan percintaan. Novel ini menceritakan kehidupan masyarakat asli Belitong pada waktu itu yang pada umumnya hidup di bawah garis kemiskinan. Karena semua aset pulau Belitong yakni tambang timah telah dikuasai secara eksklusif oleh PN Timah. Masyarakat asli Belitong hanya menjadi karyawan rendahan dan buruh kasar saja, di mana gajinya pun terkadang untuk makan saja kurang. Tak ayal masyarakat Belitong diibaratkan sebagai tikus yang mati di lumbung padi sendiri. Perhatikan kutipan berikut:

Jika dilihat dari jauh sekolah kami seolah akan tumpah karena tiang-tiang kayu yang tua sudah tak tegak menahan atap sirap yang berat. Maka sekolah kami sangat mirip gudang kopra. Konstruksi bangunan yang menyalahi prinsip arsitektur ini menyebabkan tak ada daun pintu dan jendela yang bisa dikunci karena sudah tidak simetris dengan rangka kusennya. Tapi buat apa pula dikunci? (LP: 19).

Dari kutipan di atas terlihat jelas bagaimana kondisi sekolah Muhammadiyah yang hampir roboh karena tidak ada biaya untuk memperbaiki bangunan sekolah. Hal ini disebabkan karena masyarakat Melayu Belitong pada saat itu sangat miskin, sehingga tidak mampu membayar uang sekolah. Akibatnya sekolah tidak mempunyai dana untuk memperbaiki dirinya sendiri. Selain itu, kemiskinan ini pulalah yang mengharuskan Mahar bekerja sebagai pesuruh tukang parut kelapa karena ayahnya telah lama sakit-sakitan sehingga mengharuskan ia bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Perhatikan kutipan berikut ini:

commit to user

Sejak kelas dua SD Mahar bekerja sampingan sebagai pesuruh tukang parut kelapa di sebuah toko sayur milik seorang Tionghoa miskin. Tangannya berminyak karena berjam-jam meremas ampas kelapa sehingga tampak licin, sedangkan jemari dan kukunya cacat karena disayat gigi-gigi mesin parut yang tajam dan berputar kencang. Mesin itu mengepulkan asap hitam dan harus dihidupkan dengan tenaga orang dewasa dengan cara menarik sebuah tuas berulang-ulang. Bunyi mesin itu juga merisaukan, suatu bunyi kemelaratan, kerja keras dan hidup tanpa pilihan. Ia membantu menghidupi keluarga dengan menjadi pesuruh tukang parut karena ayahnya telah lama sakit-sakitan (LP: 135).

Dalam novel ini kemiskinan masyarakat Belitong dibahas dan disinggung terus menerus, tentang putus sekolah karena miskin, tak bisa makan karena miskin hingga yang paling parah tak berani bercita-cita karena miskin.

Adapun subtema yang lain yaitu masalah percintaan. Diceritakan bahwa tokoh Ikal jatuh cinta ketika ia duduk di bangku SMP. Cinta itu berawal dari kegiatan membeli kapur di toko Sinar Harapan yang secara tak sengaja mempertemukannya dengan seorang wanita yang digambarkan berkuku cantik. Ia lah A Ling atau Michele Yeoh cinta pertama Ikal. Cinta pertama yang indah, mengesankan dan akan terus ia ingat hingga kelak ia dewasa (203 – 214).

Aku siap menerima hukuman seberat apa pun-termasuk jikalau harus mengambil ember yang kemarin dijatuhkan Trapani di sumur horor itu. Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah Michele Yeoh, Michele Yeoh, dan Michele Yeoh, serta detik-detik ketika cinta menyergapku tadi. Hukuman yang kejam hanya akan menambah sentimental suasana romantis di mana aku rela masuk sumur maut dunia lain sebagai pahlawan cinta pertama … Ah! Cinta … (LP: 214).

Dari kutipan di atas digambarkan perasaan cinta Ikal kepada A Ling. Perasaan jatuh cinta yang membuatnya melayang-layang dan mau melakukan apapun demi cinta. Kisah cinta Ikal dan A Ling pun berlanjut. Setiap Senin ia rela mengayuh sepeda ke Toko Sinar harapan hanya untuk melihat pujaan hatinya. Tak dinyana ternyata A Ling adalah saudara A Kiong. Ia pun kemudian menitip surat dan mengirimkan puisi untuk A Ling. Kisah cinta Ikal dan A Kiong memberi warna yang berbeda dalam kisah ini.

Subtema lainnya adalah persahabatan. Perhatikan kutipan berikut:

Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang melekat erat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu.

commit to user

Kami seperti anak-anak bebek. Tak terpisahkan dalam susah dan senang. Induknya adalah Bu Mus. Sekali lagi kulihat wajah mereka, Harun yang murah senyum, Trapani yang rupawan, Syahdan yang liliput, Kucai yang sok gengsi, Sahara yang ketus, A Kiong yang polos, dan pria kedelapan- yaitu Samson- yang duduk seperti patung Ganesha (LP: 85).

Diceritakan dalam novel ini sebuah jalinan persahabatan di antara sepuluh orang anak yang dijuluki Laskar Pelangi, karena kebiasaan mereka melihat pelangi secara bersama-sama. Kesepuluh anak tersebut yaitu Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, Harun, A Kiong, Kucai, Trapani, Samson, dan Syahdan. Kesepuluh anak ini bersahabat sejak pertama masuk SD. Sebuah persahabatan yang indah. Semua individu punya karakteristik tertentu. Lintang Si jenius, Samson Si Pria perkasa, Trapani Si pria flamboyan, Kucai yang oportunis dan bermulut besar, Sahara yang temperamental, Harun Si Pria santun dan murah senyum, Mahar sang seniman, A Kiong yang sangat naif, Syahdan yang tak punya sense of fashion, serta Ikal yang memang berambut Ikal (66 – 86). Sebuah persahabatan yang indah dan tak terpisahkan.

Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tema pokok dalam novel LP adalah masalah pendidikan, yang diramu dengan subtema persahabatan, cinta, dan fenomena sosial yakni masalah kemiskinan. Adanya beberapa subtema merupakan sarana untuk menyangkutkan atau mengikat makna. Persoalan-persoalan tersebut saling berkait, saling mendukung dan menopang sehingga tercipta jalinan cerita yang kompleks.

2) Novel OMDS

Hampir sama dengan LP, novel OMDS juga merupakan sebuah novel yang menyoroti masalah pendidikan. Menyoroti wajah pendidikan di mata orang marjinal. Mengenai perjuangan sekelompok anak yang berjuang mati-matian untuk bisa mengenyam pendidikan.

Tema mayor atau tema utama dalam OMDS adalah pendidikan. Namun jika diteliti lebih dalam ternyata novel ini memiliki tema minor yang berbeda-beda, namun tetap tidak terlepas dari tema utamanya yaitu pendidikan.

commit to user

Pendidikan sebagai tema utama novel ini dapat dilihat dari banyaknya hal yang mengandung masalah pendidikan yang tersebar merata pada keseluruhan bab. Seperti kutipan di bawah ini:

Habis gelap terbitlah terang seakan-akan mengandaikan pendidikan itu ibaratnya pelita yang akan menuntun manusia buta, bodoh, menuju cahaya ilmu yang gilang gemilang. Seperti pagi itu, selepas membuka kancing atas agar bebas gerah dan angin bisa masuk, mereka tergopoh-gopoh memasuki gerbang sekolah. Mereka bertiga memandang sebentar patung Kartini untuk menitiskan ruh semangat sekolah sebelum di Senin ini mereka memasuki dunia yang penuh gairah (OMDS: 244)

Dari kutipan di atas terlihat bahwa pendidikan di sini diibaratkan ”pelita yang akan menuntun manusia buta, bodoh, menuju cahaya yang gilang gemilang”. Dan memang itulah hakikat dari pendidikan, yakni ”pendidikan sebagai latihan mental, moral, dan fisik yang mampu menghasilkan manusia berbudaya tinggi maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab”.

Selain itu novel ini juga banyak mengambil latar di kelas 1-2 khususnya dan SD Kartini pada umumnya, di mana notabene sekolah merupakan tempat memperoleh pendidikan. Perhatian kutipan berikut:

Kami berjalan kembali di ruangan kelas pertama yang kami lewati tadi. Pak Zainal masuk ke ruangan 1-2 atau kelas satu ruangan kedua, bekas kelasku dulu. Kulihat Bu Mutia masih menuliskan sesuatu di papan tulis berkapur, melihat kehadiran kami, Bu Mutia menghentiukan pekerjaannya, ia berusaha ramah kepada Pak Kepala Sekolah yang datang mendadak (OMDS: 92).

Hal ini semakin memperkuat tema novel ini adalah pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Herman J. Waluyo (2006: 28) yang menyatakan bahwa latar berfungsi untuk memperjelas tema dalam novel.

Sedangkan tema minor atau subtema dalam novel ini adalah kemiskinan. Kemiskinan yang senantiasa menggelayuti tokoh utama dan mewarnai setiap kisah dalam novel ini. Kemiskinan yang mengiringi perjuangan dalam meraih pendidikan. Seperti dalam kutipan berikut ini:

”Astaghfirullahal ’azhim, aku lupa, mereka bertiga memang tidak sekolah, sampai sebesar ini mereka belum pernah sekolah sekalipun. Orang tua mereka tak sanggup menyekolahkan karena tak ada biaya. Sekolah bagi

commit to user

mereka tidak penting dan membuang-buang waktu, tubuh-tubuh kecil mereka kadang diperas untuk membantu orang tua mereka, entah mengangkut kotoran, memeras susu sapi, bahkan sampai mengangkat rumput-rumput di depan moncong sapi (OMDS: 23).

Dari kutipan di atas terlihat bahwa kemiskinan menjadi masalah yang pelik bagi ketiga Anak. Di satu sisi Anak Alam ingin sekolah, tapi di sisi lain orang tua mereka tidak mampu membiayai karena memang gaji mereka menjadi buruh di peternakan hanya cukup untuk makan. Begitu juga terlihat pada kutipan berikut ini:

Sepagi itu, mereka sudah melakoni hidup dengan susah payah, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, tetapi mereka sama sekali tak mengeluh dengan nasib mereka yang selalu di bawah. Kebodohannya membuat pola pikirnya begitu pendek, setiap kali mereka menemui kesusahan, dianggapnya itu sebagai takdir dari yang di atas. Kebodohannya pula yang menyebabkan ia menganggap rezekinya sudah diatur hanya segitu-gitunya, tak pernah nambah (OMDS: 135).

Kemiskinan yang sudah melekat erat di tubuh ketiga Anak Alam. Kemiskinan yang berakibat pada kebodohan, dan kebodohan yang membuat pola pikir menjadi pendek.

Adapun tema minor lainnya adalah percintaan. Diceritakan bahwa tokoh Pambudi mempunyai cinta pertama dengan tokoh Kania. Seperti kutipan berikut ini:

Kania, tiba-tiba nama itu yang selalu berdengung-dengung di telinga Yudi, Pambudi, dan Pepeng. Di mana pun tempat dan keadaan, nama Kania begitu enak disebut, renyah di telinga, dan nyaman di hati. Bahkan, bayang-bayang Kania hadir di mana pun mereka berada... Rasa rindu yang membuncah itu semakin menggebu saat ia membayangkan bagaimana dengan tangkasnya Kania membela mereka. Hari pertama mereka sekolah, mereka langsung terkesan kepada Kania, mereka langsung jatuh hati kepada murid berlesung pipit dan suka mengepang rambutnya itu (OMDS: 109).

Dari kutipan di atas terlihat bahwa perasaan cinta Pambudi berawal ketika Kania membela Pambudi yang sedang dicela oleh teman-teman sekelasnya. Di mana sejak kejadian itu tumbuhlah perasaan cinta itu.

Perasaan cinta di antara Pambudi dan Kania, dimaknai Kania sebagai penyemangat Pambudi untuk semakin meningkatkan prestasinya dalam belajar.

commit to user

Hal ini membuktikan bahwa subtema percintaan tidak terlepas dari tema pokok yaitu mengenai pendidikan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Panuti Sudjiman (1988: 55) bahwa ”tema sampingan atau subtema berfungsi sebagai sarana untuk menyangkutkan atau mengikat makna”. Seperti kutipan percakapan antara Pambudi dan Kania di bawah ini:

”Biarlah cinta kita ada di dalam hati saja....”

”Sampai semuanya memungkinkan, kita bisa pacaran.” ”Tidak boleh ada pacaran, aku tak mau pacaran.” ”Lalu?”

”Ya, kita tumbuhkan hal-hal positif saja dari hubungan ini, seperti yang pernah aku minta padamu dahulu, kau boleh berhubungan denganku, asalkan kau bisa mengimbangiku, kau juga harus pintar, harus rajin belajar, nilai-nilai ulanganmu juga harus baik, dan yang penting, besok kau harus sekolah... ”

”Iya Kan, aku mau. Kalau ada kau, mana ada rintangan yang sulit? Semua pasti mudah dijalani.”

”Aku tak ingin gara-gara kau nilaiku jadi jelek ...” ”Tidak, aku tak akan mengganggumu.”

”Yang penting, aku tak mau setelah ini kau jadi tak terkendali, kau jadi mabuk kepayang. Aku ingin kenal Pam yang sekarang, yang jujur, yang polos, dan apa adanya.” (OMDS: 215 – 216).

Dari kutipan di atas terlihat sikap Kania kepada Pambudi. Kania memacu semangat Pambudi untuk belajar giat. Perasaan cinta di antara keduanya dimaknai positif oleh Kania untuk menumbuhkan hal-hal positif dari hubungan tersebut. Selain percintaan dan masalah kemiskinan, novel ini juga bertemakan persahabatan, yakni persahabatan Faisal dengan ketika anak alam (Pambudi, Yudi, dan Pepeng). Meskipun mempunyai status sosial ekonomi yang berbeda, mereka tetap bersahabat dengan baik. Mereka rela berkorban satu sama lain dan setia kawan. Faisal yang berasal dari keluarga mampu, selalu memikirkan nasib teman-temannya dan mengusahakan pendidikan untuk teman-temannya tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tema mayor atau tema pokok dalam novel ini adalah pendidikan. Sedangkan tema minornya yaitu kemiskinan, percintaan, dan persahabatan.

commit to user

b. Sudut Pandang

Pada dasarnya sudut pandang dalam karya sastra fiksi diartikan sebagai strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang merupakan masalah teknis yang digunakan pengarang untuk menyampaikan makna karya artistiknya untuk sampai dan berhubungan dengan pembaca. Burhan Nurgiyantoro membagi sudut pandang menjadi tiga yakni sudut pandang persona ketiga “Dia”, Sudut pandang persona pertama “Aku”, dan sudut pandang campuran (2005: 256 – 271).

1) Novel LP

Berdasarkan keterangan di atas dapat dikemukakan bahwa novel LP

menggunakan sudut pandang persona pertama pertama “Aku” yang berarti pengarang terlibat dalam cerita secara langsung. Pengarang adalah tokoh yang mengisahkan kesadaran dunia, menceritakan peristiwa yang dialami, dirasakan, serta sikap pengarang (tokoh) terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Hal ini tampak dalam kutipan berikut ini:

Pagi itu, ketika aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas (LP: 1).

Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru baru … semuanya bercampur aduk (LP: 12). Dari kutipan di atas terlihat bahwa pengarang selalu menyebut dirinya “Aku”. “Aku” mengisahkan peristiwa yang dialami dan dirasakannya ketika hari pertama masuk sekolah.

Dalam novel ini, pengarang yaitu Andrea Hirata merupakan pengisah seluruh kejadian yang terdapat dalam novel LP. Di dalam novel ini pengarang mempunyai nama tokoh “Ikal”. Perhatikan kutipan berikut ini:

“Tabahkan hatimu, Ikal….., “ itulah nasihat Trapani pelan padaku. (LP: 366 – 367).

Bagian lain yang juga menunjukkan bahwa si “aku” bernama Ikal tampak dalam kutipan berikut:

Pak Pos tersenyum menggoda. Beliau mengeluarkan form x13. Tanda terima kiriman penting.

commit to user

“Surat ini untukmu, rambut ikal, cepat tanda tangan di sini, tak ‘kan kuhabiskan waktuku di sekolahmu ini, masih banyak kerjaan, sekarang musim bayar pajak, masih ratusan SPT pajak harus diantar, cepatlah …” Pak pos belum puas dengan godaannya.

Ada gadis kecil datang ke kantor pos pagi-pagi. Mengirimimu kilat khusus dalam kota! Mungkin asap hio membuatnya sedikit linglung, pakai perangko biasa pun pasti kuantar hari ini. Ia berkeras dengan kilat khusus, begitu pentingkah urusanmu belakangan ini, ikal mayang?” (LP: 280). Berdasarkan peran, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama (teknik akuan) bernama Ikal, namun pada bab terakhir, tokoh aku berganti dengan tokoh yang lain yaitu Syahdan.

Aku bangga duduk di sini di antara para panelis, yaitu budayawan Melayu yang selalu menimbulkan rasa iri. Sebuah benda segitiga dari plastik di depanku menyatakan eksistensiku:

Syahdan Noor Aziz Bin Syaharani Noor Aziz

Panelis (LP: 489).

Jadi, dalam kisah ini pengarang menggunakan dua tokoh “Aku” yakni tokoh “Aku” Ikal dan tokoh “Aku” Syahdan.

2) Novel OMDS

Novel OMDS gaya penceritaannya menggunakan sudut pandang campuran

yakni persona pertama “Aku” dan persona ketiga “Dia” Mahatahu. Sudut pandang persona pertama yang berarti pengarang terlibat dalam cerita secara langsung. Pengarang adalah tokoh yang mengisahkan kesadaran dunia, menceritakan peristiwa yang dialami, dirasakan, serta sikap pengarang (tokoh) terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Seperti kutipan berikut ini:

Aku terus meraut batang lidi hingga batangnya terlihat mengecil dan kurus, aku diam-diam geli mendengar perkataan mereka, ternyata kebodohan membuat kita gampang tertipu, gampang naik pitam, dan mudah sekali diombang-ambingkan (OMDS: 46).

Dari kutipan di atas terlihat bahwa tokoh “Aku” menceritakan apa yang dipikirkannya terhadap tokoh lain kepada pembaca. Ia memberikan penilaian bahwa kebodohan membuat orang mudah tertipu, mudah naik pitam, dan mudah terombang-ambing.

commit to user

Wiwid Prasetyo merupakan pengisah seluruh kejadian yang terdapat

dalam novel OMDS. Di dalam novel ini Wiwid mempunyai nama tokoh “Faisal”.

Perhatikan kutipan berikut ini:

Napas kelegaan menghampiri kami. Aku yang berada di belakang bisa menyusul di antara mereka, terengah-engah, dan saling melepaskan lelah di sebuah reruntuhan gedung yang tak terpakai.

“Dasar kamu Sal, payah… Mengambil layangan saja tidak bisa…,” ledek Pambudi.

“Iya Sal, coba kalau aku yang mengambil, kita pulang dengan membawa layang-layang itu dan besok kita akan menantang Mat Karmin yang sombong itu. “Kali ini, Pepeng ikut-ikutan memarahiku (OMDS: 8). Selain menggunakan sudut pandang persona pertama, pengarang menambahkan lagi dengan teknik sudut pandang persona ketiga “Dia” Mahatahu. Dengan teknik ini narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Narator bersifat mahatahu. Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan. Perhatikan kutipan berikut ini:

Aneh, mendengar perintah Mat Karmin, bocah itu seperti robot Jepang yang dikendalikan oleh remote control, selanjutnya ia melangkah menghampiri pintu dengan rasa perih di duburnya, berjalan tertatih-tatih seperti orang habis sunat, kemudian meninggalkan teman-temannya tanpa ekspresi. Panji hanya diam, ia membayangkan seisi langit runtuh menimpanya, masa depannya jelas suram, kesedihannya menggelegak, seluruh air di dalam tubuhnya seakan-akan menghempaskannya ke dalam jurang yang teramat dalam (OMDS: 232)

Dari kutipan di atas, pengarang berusaha menembusi pikiran Panji dan lebih dari sepuluh orang yang menjadi korban Mat Karmin. Yaitu menggambarkan bagaimana perasaan Panji setelah disodomi Mat Karmin, dengan membayangkan seisi langit runtuh menimpanya. Pengarang menceritakan betapa sakit dan hancur perasaan Panji, masa depan yang suram, dan kepedihan tiada akhir serta rasa malu yang akan dipikulnya hingga kelak ia dewasa.

Dari kutipan-kutipan di atas, dapat ditegaskan bahwa pengarang menggunakan sudut pandang campuran yakni mengkombinasikan sudut pandang persona pertama dengan teknik pengarang “Dia” Mahatahu. Hal ini sejalan dengan pernyataan Herman J Waluyo (2002: 184 – 185) yang menyatakan bahwa

commit to user

ketiga jenis metode ini (akuan, diaan, dan pengarang serba tahu) dapat dikombinasikan oleh pengarang dalam suatu cerita rekaan dengan tujuan untuk membuat variasi cerita agar tidak membosankan.

c. Penokohan

Dalam penelitian ini peneliti membedakan tokoh menjadi dua macam, yaitu (a) tokoh utama, dan (b) tokoh tambahan. Penggunaan pembagian tokoh ini brtujuan untuk memudahkan dan membedakan mana tokoh yang perlu mendapat perhatian khusus dan mana yang tidak, didasarkan atas seberapa jauh keterlibatan

Dokumen terkait