Uraian Indramayu Pontianak
Rata-rata Jumlah Anggota Rumahtangga 3.54 3.78 Rata-rata Jumlah ART usia 15-54 2.45 2.36
Umur KK (tahun) 47.93 47.12
Umur Anggota Rumahtangga (%)
0 - 14 tahun 22.90 28.44
15 - 24 tahun 18.69 18.67
25 - 54 tahun 45.33 39.11
> 55 tahun 13.08 13.78
Sumber: Data primer diolah.
b. Kabupaten Pontianak
Mencermati Tabel 16, rataan jumlah anggota rumahtangga contoh termasuk usia kerja adalah 2,36 orang (20%–80%). Artinya, paling sedikit 2 orang anggota rumahtangga yang bekerja dengan kisaran umur antara 1 – 25 tahun. Jumlah anggota rumahtangga antara 2–7 orang (termasuk KK dan istri) dengan kisaran 0-4 orang anak perempuan dan 0 - 3 anak laki-laki. Umur KK petani contoh rata-rata 47,93 tahun dengan kisaran antara 28 hingga 66 tahun.
2. Struktur Rumahtangga Berdasarkan Pendidikan dan Pekerjaan a. Kabupaten Indramayu
Dengan mencermati Tabel 17, menunjukkan relatif rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh KK petani contoh di Indramayu, rata-rata sekitar 2,9 tahun, dengan kisaran rata-rata antara 0 tahun hingga 12 tahun. Keadaan ini mencerminkan masih terdapatnya KK yang tidak pernah bersekolah, namun mereka dapat menghitung uang hasil penjualan produksi usahatani atau usaha rumahtangga lain. Sedang pendidikan rata-rata anggota rumahtangga sekitar 4,4 tahun dengan kisaran antara 0 – 14 tahun.
Keadaan ini bukan sepenuhnya mencerminkan rendahnya tingkat pendidikan anggota rumahtangga, namun lebih disebabkan masih banyaknya terdapat anak-anak/balita sebagai faktor pembagi (rataan) dalam rumahtangga petani contoh.
Pekerjaan utama KK hampir seluruhnya (95,08%) di sektor pertanian (on-farm), baik sebagai petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Hal ini juga dapat mencerminkan bahwa beberapa petani yang merupakan migran ke daerah perkotaan (bekerja sebagai tukang atau buruh bangunan, buruh pabrik, pedagang asongan, pemulung, dan sebagainya). Meski demikian, pada kegiatan musim tanam atau musim panen mereka menyempatkan diri untuk pulang (mudik) dan melakukan kegiatan usahatani tersebut.
Sementara itu, rata-rata petani contoh yang melakukan usaha off-farm (buruh tani, dan menyewakan alat pertanian) hanya sekitar 3,28%. Sebagian besar dilakukan oleh petani contoh yang memiliki luas lahan antara < 0,25 hingga > 1 ha, sedangkan untuk usaha menyewa atau menyewakan lahan hanya dilakukan oleh petani contoh yang memiliki lahan > 1 ha. Petani contoh yang melakukan usaha non-farm (usaha industri, usaha/jasa lain, dagang, tukang atau buruh bangunan, aparat desa, TKI, pemulung, dan ojek) rataannya hanya sekitar 1,64% yang dilakukan oleh beberapa petani contoh yang memiliki luas lahan dari < 0,25 hingga > 1 Ha.
b. Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat
Tabel 17 tersebut juga menunjukkan relatif rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh KK petani contoh di daerah tersebut rataannya hanya sekitar 2,7 tahun, dengan kisaran rata-rata antara 0 - 9 tahun. Keadaan ini mencerminkan masih terdapatnya KK yang tidak pernah bersekolah, namun mereka mampu sedikit membaca dan dapat menghitung uang hasil penjualan produksi usahatani atau usaha rumah tangga lainnya. Sedang rataan pendidikan anggota rumahtangga sekitar 3,6 tahun dengan kisaran antara 0 – 12 tahun. Keadaan ini tidak sepenuhnya mencerminkan rendahnya tingkat pendidikan anggota keluarga, tetapi lebih disebabkan faktor pembagi (rataan) yang berusia balita (belum bersekolah).
Hampir seluruh KK (98,33%) yang menguasai dan mengusahakan lahan dengan luas antara < 0,25 - > 1 Ha pada rumahtangga contoh melakukan pekerjaan utama di sektor pertanian (on-farm), baik sebagai petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Kondisi ini mencerminkan bahwa mayoritas petani contoh masih mempertahankan usahatani sebagai matapencaharian rumahtangganya.
Sementara itu, petani contoh yang melakukan usaha off-farm (buruh tani) rataannya hanya sekitar 1,67%; dimana sebagian besar dilakukan oleh petani contoh yang memiliki luas lahan antara < 0,25 Ha dan > 0,5 - > 1 Ha, sedangkan untuk usaha menyewa atau menyewakan lahan hanya dilakukan oleh petani contoh yang memiliki lahan > 1 Ha.
Sementara itu, tidak ditemukan adanya rataan petani contoh yang melakukan usaha non-farm (usaha industri, usaha/jasa lain, dagang, tukang atau buruh bangunan, aparat desa, TKI, pemulung, dan ojek).
Dengan demikian, dari hasil kajian data struktur rumahtangga contoh menunjukkan masih relatif rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki baik oleh KK maupun anggota rumahtangga petani contoh di lokasi penelitian tersebut. Secara lebih rinci, struktur rumahtangga petani contoh berdasarkan pendidikan dan pekerjaan di Indramayu dan Pontianak, disajikan pada tabel berikut:
Tabel 17. Karakteristik Rumahtangga Petani Contoh berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan. 2006.
Uraian Indramayu Pontianak
Rata-rata Tingkat Pendidikan KK 2,9 2,7
Rata-rata Tingkat Pendidikan Anggota RT 4,4 3,6
Pekerjaan Utama KK (%):
- ON FARM 95.08 98.33
- OFF FARM 3.28 1.67
- NON FARM 1.64 .
Pekerjaan Sampingan KK (%)
- ON FARM . .
- OFF FARM 17.39 31.43
- NON FARM 82.61 68.57
Sumber: Data Primer Diolah
3. Kondisi Rumah Tinggal Contoh
a. Kabupaten Indramayu
Dengan mencermati Tabel 18, diketahui bahwa dari 30 rumahtangga petani contoh di Indramayu, memiliki rataan luas pekarangan 141,51 m2. Rataan luas bangunan rumah tinggal adalah 56,69 m2. Sebagian besar merupakan milik mereka (96,61%), dan sisanya (3,39%) tinggal bersama orang tua dengan status menumpang.
Petani contoh umumnya membangun rumah tinggal tersebut di atas tanah yang menjadi milik sendiri (sekitar 93,33%), dan hanya sebagian kecil saja (sekitar 6,67%) yang mendiami rumah dengan status menumpang pada orangtua maupun keluarga.
Ditinjau dari fasilitas yang dimiliki rumah petani contoh, rata-rata memperlihatkan kondisi yang cukup baik, karena sebagian besar (68,85%) dibangun dengan dinding tembok yang cukup kokoh, hanya sebagian kecil saja (13,11%) yang berdindingkan bilik, setengah tembok (8,20%), ataupun jenis dinding lainnya (9,84%).
Demikian halnya dengan lantai rumah, dimana hampir 32,79% dari 60 petani contoh rumahnya telah berlantaikan ubin/traso, semen (21,31%), bahkan 22,95% yang telah memasang keramik untuk lantai rumahnya. Meski demikian, masih ditemukan rumah dengan lantai sederhana, seperti: berlantai tanah (11,48%), bambu (9,84%), maupun berlantaikan kayu (1,64%).
Sumber air minum di 60 rumahtangga petani contoh tersebut umumnya (96,72%) berasal dari sumur, baik sumur gali maupun sumur bor (pantek), yang sebagian besar dialirkan oleh mesin pompa air listrik, meski masih dijumpai beberapa rumahtangga yang menggunakan pompa tangan maupun timba untuk mengambil air di sumur tersebut. Hal ini dimungkinkan karena hampir seluruh (93,44%) rumah tinggal petani contoh di Kabupaten Indramayu telah dialiri listrik, sedang sisanya masih mengandalkan sentir/dammar sebagai alat penerangan di rumah. Dengan tersedianya fasilitas air dan listrik, maka mereka umumnya telah melengkapi sanitasi MCK pribadi di rumah mereka (77,05%), sisanya sekitar 13,11% yang masih mempergunakan MCK bersama/umum, atau pergi ke sungai (1,64%) dan alam (8,20%). Kondisi rumah tinggal dari
rumahtangga petani contoh di lokasi penelitian, secara lebih rinci disajikan pada tabel berikut.
Tabel 18. Kondisi Tempat Tinggal Rumahtangga Petani Contoh. 2006.
Uraian Indramayu Pontianak
Luas Pekarangan (M2) 141.51 2375.96
Luas Bangunan (M2) 56.69 54.02
Status Rumah (%):
Sumber : Data Primer Diolah.
b. Kabupaten Pontianak
Dari Tabel 18 tersebut, pada 30 rumahtangga petani contoh di Pontianak, rataan luas pekarangan yang dimiliki petani 2375,96 m2. Hal ini menunjukkan bahwa selain sebagai pekarangan, tanah tersebut juga merupakan kebun ataupun tempat berusahatani.
Sebagai kebun, umumnya mereka mengusahakan tanaman kelapa. Beberapa di antara petani contoh juga mengusahakan tanaman pepaya Pontianak yang terkenal khas, Aloe vera (lidah buaya) dan sebagainya. Rataan luas bangunan rumah tinggal mereka adalah 54,02 m2, yang sebagian besar sudah berstatus milik (90,00%), dan sisanya (10,00%) tinggal menumpang bersama orang tua atau keluarga. Adapun status tanah dari rumah mereka tersebut sebagian besar (86,67%) milik sendiri, dan sisanya (13,33%) menumpang pada orangtua maupun keluarga.
Mencermati Tabel 18, kondisi dinding rumah petani contoh umumnya relatif sederhana, namun terlihat rapi. Sebagian besar (60,00%) terbuat dari kayu. Kayu sebagai salah satu bahan bangunan masih banyak tersedia di Pontianak, mudah memperolehnya, harganya relatif lebih terjangkau. Hanya sekitar 28,33% rumah petani contoh yang terbuat dari tembok. Sebagian kecil (1,67%) yang berdindingkan bilik, setengah tembok (3,33%), namun masih ditemukan dinding rumah petani contoh dari rumbia (6,67%).
Hampir 75% rumah petani contoh yang berlantaikan kayu, meski ada juga yang berlantaikan keramik (8,33%) dan semen (8,33%). Masih ditemukan rumah dengan lantai sederhana, seperti: berlantai tanah (6,67%), bambu (1,67%),
Sumber air minum umumnya berasal dari air hujan (98,33%) yang ditampung dalam bak-bak penampungan. Hanya sekitar 1,67% yang mengambil air dari mata air.
Bila persediaan air dalam bak habis, mereka pergi ke sungai mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Rumah petani contoh umumnya telah dialiri listrik (96,67%), sedang sisanya masih mengandalkan sentir/dammar (1,67% dan lampu teplok (1,67%) sebagai alat penerangan di rumah. Meski fasilitas air diperoleh dari menampung air hujan, namun petani contoh umumnya telah melengkapi sanitasi MCK pribadi di rumah mereka (65%), sisanya sekitar 11,67% yang masih mempergunakan MCK bersama (umum), atau pergi ke sungai (3,33%), dan fasilitas lain (5%).
Untuk lebih melengkapi gambaran kondisi rumahtangga contoh, disajikan secara rinci pada Tabel 19.
Tabel 19. Kelengkapan Rumahtangga Contoh, di Lokasi Penelitian, 2006.
Jenis Alat Rumah Tangga Jumlah Peralatan
Indramayu Pontianak
1. Radio/tape recorder 37 25
2. TV hitam putih 4 4
3. TV warna 39 47
4. VCD 9 31
5. Kulkas 6 4
6. Pompa listrik 12 15
7. Pompa tangan 14 .
8. Kompor minyak tanah 60 61
9. Kompor gas . 3
10. Mesin jahit 3 12
11. Lampu petromaks 3 2
12. Sumber energi lain 2 22
Sumber : Data Primer diolah.
Dari tabel kelengkapan peralatan rumahtangga tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar petani contoh memiliki TV berwarna, radio/tape recorder, dan kompor minyak tanah, yang sudah menjadi kebutuhan primer suatu rumahtangga. Beberapa petani juga sudah memiliki VCD, pompa listrik, pompa tangan, dan kulkas. Dengan demikian, secara keseluruhan, rumahtangga petani contoh di kedua provinsi penelitian dapat dikategorikan sebagai rumahtangga dengan kondisi yang relatif baik (lengkap).
4. Penguasaan dan Pengusahaan Aset Produktif
Informasi tentang asset produktif yang dikuasai maupun yang diusahakan oleh rumahtangga petani contoh dibutuhkan untuk mengetahui pendapatan dan efisiensi usahataninya. Informasi tersebut juga diperlukan untuk menganalisis korelasi antara berbagai faktor terhadap diversifikasi usaha yang dilakukan suatu rumahtangga pertanian di pedesaan.
a. Kabupaten Indramayu
Petani contoh di desa Santing dan Ranjeng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, rataan menguasai 1,43 persil lahan. Dengan rataan masing-masing baik secara milik (0,492 ha), sewa (0,668 ha), sakap (0,478 ha), maupun dengan cara lainnya (misalnya meminjam, menumpang, warisan belum milik) seluas 0,950 ha.
Di samping itu, beberapa diantara petani contoh masih memiliki sepersil lahan kering (0,150 Ha), dan sepersil kebun (0,406 ha). Meski relatif sempit (0,022 ha), rata-rata petani contoh memiliki lahan untuk rumah dan pekarangan. Secara rinci, rataan status luas penguasaan dan pengusahaan lahan di Indramayu, disajikan pada tabel berikut.
Tabel 20. Rataan Status Penguasaan dan Pengusahaan Lahan Petani Contoh di Kabupaten Indramayu. 2006.
Jenis Lahan
Rataan Status Lahan (Ha)
Penguasaan Pengusahaan Milik Jml
Persil
Milik Sewa Sakap Lain-nya
Total
1. Pekarangan 0,022 1,000 0,022 - - - 0,022
2. Sawah tadah hujan 0,492 1,306 0,492 0,476 0,478 0,225 1,671
3. Lahan Pasang surut - - - -
4. Lahan kering 0,150 1,000 0,150 - - 0,123 0,273
5. Kebun 0,406 1,000 0,406 - - - 0,406
6. Kolam - - - -
7. Lainnya - 1,000 - 0,475 - - 0,475
Sumber : Data Primer diolah.
Dari Tabel 20, petani contoh di Indramayu rata-rata mengusahakan 1,306 persil lahan sawah tadah hujan. Dengan rataan masing-masing baik secara milik (0,492 ha), sewa (0,476 ha), sakap (0,478 ha), atau dengan meminjam, menumpang, warisan belum milik) seluas 0,225 ha, serta total lahan kering seluas 0,273 ha.
b. Kabupaten Pontianak
Rumahtangga petani contoh di Pontianak, rata-rata menguasai 1,42 persil lahan pasang surut, dengan rataan milik 1,195 ha, secara rinci disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21. Rataan Status Penguasaan dan Pengusahaan Lahan (Ha) Petani Contoh di Kabupaten Pontianak. 2005/2006.
Jenis Lahan
Rataan Status Lahan (ha)
Penguasaan Pengusahaan
Milik Jml Persil
Milik Sewa Sakap Lain-nya
Total
1. Pekarangan 0,285 1,000 0,285 - - 0,175 0,460
2. Sawah tadah hujan - - - -
3. Lahan Pasang surut 1,195 1,278 1,195 0,660 1,325 0,700 3,600 4. Lahan kering 0,942 1,000 0,942 0,670 - - 1,612
5. Kebun 0,833 1,000 0,833 - - - 0,833
6. Kolam - - - -
7. Lainnya - - - -
Sumber : Data primer Diolah. 2006.
Di samping itu, beberapa diantara petani contoh masih memiliki sepersil lahan kering (0,942 Ha), dan sepersil kebun (0,833 ha). Mereka memiliki lahan untuk rumah dan pekarangan dengan rataan seluas 0,285 ha. Dari Tabel 20, rataan penguasaan lahan pasang surut tersebut, petani contoh rataan mengusahakan 1,278 persil lahan. Dengan rataan masing-masing baik secara milik (0,915 ha), sewa (0,66 ha), sakap (1,325 ha), atau meminjam, menumpang, warisan belum milik seluas 0,700 ha. Di samping itu, ditemukan beberapa diantara petani contoh yang juga mengusahakan rata-rata 1 persil lahan kering milik seluas 0,942 ha dan secara sewa seluas 0,670 ha, maupun 1 persil kebun yang berstatus milik seluas 0,833 ha.
Relatif rendahnya penguasaan aset sumberdaya lahan pada petani responden, umumnya ditopang oleh aset produktif yang lain. Aset produktif lain yang umum ditemukan pada petani contoh adalah berupa pemilikan ternak sapi, kambing, ayam kampung, ayam buras, itik/entok, dan sebagainya. Secara lebih rinci, rataan pemilikan ternak pada rumahtangga petani contoh disajikan pada Tabel 22.
Tabel 22. Rataan Pemilikan Ternak Pada Rumahtangga Contoh, 2006
Sumber : Data Primer Diolah.
Keterangan: % = persentase RMT yang memiliki ternak sapi.
Di samping kepemilikian ternak, rata-rata petani contoh memiliki peralatan mesin pertanian (alsintan), yang secara rinci disajikan pada tabel berikut.
Tabel 23. Pemilikan Alsintan Rumahtangga Contoh, di Lokasi Penelitian, 2006.
Indramayu Pontianak
Alsin-tan Kondisi Baik
Alsin-tan Kondisi Baik
Sumber : Data primer diolah. 2006.
Dengan mencermati Tabel 23, pada beberapa petani contoh di Indramayu ditemukan yang memiliki hand tractor yang biasanya disewakan pada kegiatan pengolahan tanah (sebelum musim tanam). Usaha penyewaan hand tractor yang dilakukan beberapa petani contoh tersebut, juga dapat diindikasikan sebagai salah satu upaya diversifikasi usaha rumahtangga pertanian di pedesaan. Dari tabel pemilikan alsintan di atas, ditemukan perbedaan pada pemilikan hand tractor. Kebanyakan terdapat di Indramayu, sedang di Pontianak tidak ditemukan adanya pemilikan hand tractor tersebut.
Hal ini terutama disebabkan perbedaan nyata pada topografi areal pertanian.
Kondisi relatif datar dan kering di Indramayu sangat berbeda bila dibandingkan dengan kondisi lahan pasang surut di Pontianak berupa rawa yang selalu terendam. Kondisi tersebut menyebabkan petani contoh tidak biasa menggunakan hand tractor untuk mengolah lahan usahatani pada kegiatan pengolahan tanah untuk persiapan tanam.
Selain itu, ditemukan juga pemilikan alat transportasi (motor, sepeda, gerobak, speed boat) sebagai aset produktif rumahtangga mereka. Secara lebih rinci, pemilikan alat transportasi pada rumahtangga petani contoh disajikan pada tabel berikut.
Tabel 24. Pemilikan Alat Transportasi Rumahtangga Contoh, di Lokasi Penelitian, 2006.
Indramayu Pontianak
% Rata-an (Unit)
Nilai
(000) % Rata-an (Unit)
Nilai (000) Alat Transportasi
- Sepeda Motor 24.59 1.07 8800 43.33 1.00 6960
- Sepeda 50.82 1.48 175 85.00 1.69 192
- Speed boat 0.00 . . 0.00 . .
- Becak 1.64 1.00 300 0.00 . .
- Gerobak 4.92 1.67 367 1.67 1.00 400
Sumber: Data Primer Diolah. 2006.
5. Pola Usahatani
Di Kabupaten Indramayu, petani contoh umumnya mengusahakan tanaman monokultur setiap musimnya dengan menerapkan pola Palawija; Padi-Padi-Sayuran; atau Padi-Padi Bera dalam mengusahakan tanaman pangan dan sayuran dataran rendah. Integrasi antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau antara tanaman dengan ternak tidak ditemukan pada usahatani rumahtangga mereka. Pemilikan ternak di lokasi penelitian cukup memadai. Lebih dari 40% rumahtangga contoh yang mengusahakan ternak, terutama unggas (ayam buras dan ras). Mengusahakan ternak sapi (< 2%) dengan rataan 2 ekor per peternak. Mengusahakan ”kado” (kambing, domba) sekitar 5-10% dengan rataan 3,3 - 4,8 ekor/peternak. Namun, mereka umumnya belum memanfaatkan limbah tanaman untuk ternak, dan kotoran ternak (pupuk kandang) sebagai pupuk organik.
Di Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, petani contoh umumnya menerapkan sistem monokultur dengan pola tanam Padi-Sayuran-Bera; Padi-Jagung-Bera; atau Padi-Bera-Bera dalam mengusahakan padi, jagung dan sayuran dataran rendah. Sekitar 22% petani contoh memelihara sapi dengan skala rata-rata 2,8 ekor per peternak. Model usahatani yang diterapkan adalah pola terpisah (parsial) antara tanaman dan ternak. Petani contoh di Pontianak umumnya juga belum memanfaatkan limbah tanaman untuk pakan sapi, dan kotoran sapi untuk memupuk tanaman, sehingga belum terlihat integrasi sinergis antara tanaman dengan ternak.
6. Analisis Pendapatan Usahatani
Analisis usahatani rumahtangga petani contoh di Indramayu, dilakukan untuk tanaman dominan pada dua musim (padi sawah). Sedangkan di Pontianak, tanaman dominan pada MH adalah padi sawah dan pada MK adalah jagung. Sedangkan untuk MK2, tidak dimasukkan dalam analisis ini, karena sedikitnya petani yang menanam, baik karena resiko kekeringan maupun gangguan hama dan penyakit. Hasil analisis usahatani tanaman dominan, disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25. Analisa Usahatani Padi dan Palawija (/ha), di Lokasi Penelitian. 2006 B. Penerimaan 6.155,68 4.638,69 3.257,91 2.885,88 C. Keuntungan 3.880,16 2.704,46 2.070,76 1.710,26
D. B/C 1,70 1,40 1,70 1,45
Sumber: Data primer dianalisis.
Mencermati Tabel 25, diketahui biaya produksi sangat beragam, mulai dari yang rendah (sekitar Rp 1.187 ribu/ha di Pontianak), sampai yang relatif tinggi (Rp 2,28 juta/ha di Indramayu). Besarnya keuntungan usahatani juga beragam sesuai dengan curahan modal tunai dan tingkat produktivitas lahan. Keuntungan usahatani padi di Indramayu adalah Rp 3,88 juta/ha pada MH dan Rp 2,70 juta/ha pada MK1. Di Pontianak, keuntungan usahatani adalah Rp 2,07 juta/ha pada MH dan Rp 1,71 juta/ha pada MK1.
Usahatani di lokasi penelitian secara umum cukup menguntungkan. B/C rasio usahatani di Indramayu pada MH sebesar 1,70, dan pada MK1 sebesar 1,40. Di Pontianak, B/C rasio mencapai 1,70 pada MH dan 1,45 pada MK1 (Tabel 25). Meski terlihat berimbang, namun pendapatan petani contoh di Pontianak termasuk sangat rendah. Dengan mengusahakan lahan yang lebih luas dibanding di Indramayu, namun B/C analisis usahatani di Pontianak tidak berbeda dibanding nilai B/C di Indramayu. Hal ini terjadi meski produksi termasuk rendah, tetapi dengan biaya produksi yang juga rendah. Dapat disimpulkan makin beresiko lahan usaha maka makin terbatas input yang digunakan petani karena petani tidak mau ambil resiko mengeluarkan biaya lebih besar karena input tinggi. Petani contoh di Pontianak tidak yakin bila input ditingkatkan, akan menaikkan produksi sehingga dapat meningkatkan pendapatan.
7. Pemanfaatan Sumberdaya Lahan
Lahan merupakan sumberdaya (asset) produktif utama yang dimiliki rumahtangga petani sebagai sumber perolehan pendapatan. Besarnya pendapatan rumahtangga dari lahan sangat ditentukan oleh tingkat pemanfaatannya. Pemanfaatan sumberdaya lahan didefinisikan sebagai rasio antara luas lahan yang diusahakan dengan luas lahan yang dikuasai. Jika luas lahan yang diusahakan adalah seluruh lahan yang dikuasai, maka rasionya adalah 1,00, sedangkan jika lahan yang dikuasai tidak diusahakan, maka rasionya adalah 0,00.
Di Indramayu, luas penguasaan lahan rumahtangga petani contoh berkisar antara 0 - 3,03 ha, dengan rataan 1,10 ha. Dari luasan tersebut, sekitar 0 - 3,03 ha yang diusahakan untuk usahatani, dengan rataan 1,03 ha. Sedangkan rasio pengusahaannya berkisar antara 0-1, dengan rataan 0,94. Artinya bahwa rata-rata 94 persen dari lahan yang dikuasai diusahakan untuk usahatani. Selebihnya (6%) tidak diusahakan untuk usahatani atau dibiarkan bera, karena keterbatasan modal dan tenaga kerja.
Di Pontianak, rentang luas penguasaan antara 0-3,50 ha, dengan rataan 1,48 ha.
Rataan pengusahaan adalah 1,41 ha per rumahtangga, dengan rataan rasio 0,95.
Pemanfaatan sumberdaya lahan di lokasi penelitian, secara umum cukup efisien, dengan rasio pengusahaan rata-rata 94% di Indramayu, sedangkan di Pontianak rasio pengusahaan rata-rata adalah 95%. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan lahan di Pontianak sangat baik. Demikian halnya juga tidak jauh berbeda dengan di Indramayu.
Hal ini dimungkinkan karena merupakan daerah transmigran asal Jawa, sehingga kemampuan dan kebiasaan tenaga kerja keluarga tidak jauh berbeda dengan petani di Jawa umumnya. Adapun perbedaan yang terjadi, umumnya hanya pada jenis komoditas, pola tanam, model usahatani, dan modal (relatif lebih terbatas) untuk menggarap lahan.
Pada Tabel 26, disajikan secara rinci luas lahan yang dikuasai, yang diusahakan dan rasio dari keduanya.
Tabel 26. Luas Penguasaan, Pengusahaan Lahan, dan Rasio antara keduanya Di Lokasi Penelitian, 2006.
Uraian Kab. Indramayu Kab. Pontianak A. Penguasaan lahan
- Minimum 0,00 0,00
- Maksimum 3,03 3,50
- Rataan 1,10 1,48
B. Pengusahaan lahan
- Minimum 0,00 0,00
- Maksimum 3,03 3,50
- Rataan 1,03 1,41
C. Rasio (B/A)
- Minimum 0,00 0,00
- Maksimum 1,00 1,00
- Rataan 0,94 0,95
Sumber: Data primer diolah. 2006.
Secara keseluruhan rata-rata pemilikan lahan di lokasi penelitian berkisar antara 0 – 3,5 ha. Pada rumah tanggapetani contoh di Kabupaten Indramayu pemilikan lahan sawah tadah hujan masih tergolong lahan sempit (< 0,25 ha) bahkan terdapat satu rumahtangga petani contoh yang tidak memiliki lahan usahatani (landless). Upaya untuk memperoleh sumber pendapatan di luar sektor pertanian relatif tinggi. Rataan pemilikan lahan pasang surut pada rumahtangga petani contoh di Pontianak relatif tinggi (>1,0 ha).
Hal ini disebabkan bahwa sebagian besar (80%) petani responden merupakan penduduk transmigran dari daerah Jawa (sekitar tahun 1976). Para transmigran tersebut memperoleh pembagian lahan dari pemerintah, yaitu seluas 2 ha/KK. Dari sisi pengusahaan lahan, petani contoh di Pontianak secara rataan hanya mengusahakan 1,278 persil dengan rataan pengusahaan seluas 3,60 ha. Pengusahaan tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan rataan pengusahaan petani contoh di Indramayu (1,671 ha), namun dengan jumlah persil yang lebih banyak yaitu 1,306 persil.
Keadaan ini dapat mengindikasikan lebih marjinalnya kondisi lahan pasang surut di Pontianak dibanding dengan lahan sawah tadah hujan di Indramayu. Lebih marjinalnya kondisi lahan pasang surut dibanding dengan lahan sawah tadah hujan tersebut mencerminkan relatif lebih rendahnya produksi dan produktivitas lahan yang
dapat dihasilkannya. Hal tersebut tercermin pada nilai B/C rasio dimana walau pengusahaan lahan di Pontianak hampir dua kali lebih luas daripada di Indramayu, namun B/C rasio keduanya tidak jauh berbeda yaitu 1,70 (MH) dan 1,40 (MK) untuk usahatani di Indramayu, sedangkan B/C usahatani di Pontianak 1,70 (MH) dan 1,45 (MK).
Nilai rasio usahatani tersebut akhirnya mempengaruhi pendapatan rumahtangga petani contoh yang mengusahakannya. Relatif tingginya keuntungan usahatani di Pontianak umumnya diperoleh oleh petani yang melakukan diversifikasi usahatani dengan tanaman sayuran. Oleh karena itu, petani contoh di Pontianak lebih berminat untuk mengusahakan pertanaman komoditas hortikultura terutama sayuran (di samping pepaya dan Aloe vera) dari pada mengusahakan tanaman pangan (padi). Selain itu, mereka juga memperoleh tambahan pendapatan rumahtangga dari usaha off-farm dan non-farm, yang secara rinci disajikan pada bagian berikut dari tulisan ini yaitu peran remitans bekerja dari luar negeri (TKI) dan diversifikasi usaha rumahtangga yang dilakukan petani contoh di lokasi penelitian.
PERAN REMITANS BEKERJA DARI LUAR NEGERI
Pada era globalisasi sekarang ini, bekerja sebagai TKI merupakan pilihan fenomenal angkatan kerja. Belum pulihnya perekonomian di sektor riil, belum stabilnya kondisi sosial politik dalam negeri, serta kecilnya kesempatan kerja di Indonesia telah memicu tingginya tingkat pengangguran. Hal tersebut berimplikasi terhadap semakin banyaknya penduduk miskin. Ditambah berbagai fakta dan berita bahwa pekerja migran ke luar negeri memiliki prospek, gaji dan penghidupan perekonomian yang lebih menjanjikan.
Pada era globalisasi sekarang ini, bekerja sebagai TKI merupakan pilihan fenomenal angkatan kerja. Belum pulihnya perekonomian di sektor riil, belum stabilnya kondisi sosial politik dalam negeri, serta kecilnya kesempatan kerja di Indonesia telah memicu tingginya tingkat pengangguran. Hal tersebut berimplikasi terhadap semakin banyaknya penduduk miskin. Ditambah berbagai fakta dan berita bahwa pekerja migran ke luar negeri memiliki prospek, gaji dan penghidupan perekonomian yang lebih menjanjikan.