BAB II IDENTIFIKASI DESA
2.4 Struktur Sosial Budaya
Karakteristik orang-orang Karo pada umumnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan alam tempat tinggalnya. Walaupun mereka terisolir di pedalaman dataran tinggi, sebagai sebuah komunitas, di sana juga terbentuk sebuah budaya yang menjadi patron bagi masyarakat Karo dalam menjalin hubungan dengan sesamanya.25 Seluruh pola hubungan tersebut tertuang dalam sebuah aturan tidak tertulis yang bersifat mengatur. Adapun adat istiadat yang berlaku di dataran tinggi Karo berbeda antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya. Wilayah peradatan ini dapat dikategorikan sebagai berikut:
o Karo Kenjulu
Meliputi Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan Berastagi, Kecamatan Barusjahe, Kecamatan Tiga Panah, Kecamatan Merek dan sekitarnya.
o Karo Timur
Meliputi Kecamatan Lubuk Pakam, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan Dolok Silau, Kecamatan Silima Kuta dan sekitarnya.
o Karo Langkat
Meliputi Kecamatan Padang Tualang (Batang Serangan), Kecamatan Bahorok, Kecamatan Selapian, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai, Kecamatan Sungai Bingai, Kota Binjai, Kecamatan Stabat dan sekitarnya.
o Karo Baluren
Meliputi Kecamatan Tanah Pinem, Kecamatan Tiga Lingga, Kecamatan Gunung Stember, dan sekitarnya di Kabupaten Dairi.
o Karo Dusun
Meliputi Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Namorambe, Kecamatan Sunggal, Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Senembah Tanjung Muda Hilir, Kecamatan Senembah Tanjung Muda Hulu,
Kecamatan Hamparan Perak, Kecamatan Tanjung Morawa, Kecamatan Biru- biru, Deli Tua dan sekitarnya.
o Karo Teruh Deleng
Meliputi Kecamatan Kutabuluh, Kecamatan Payung, Kecamatan Tiganderket, Kecamatan Lau Baleng, Kecamatan Mardinding dan sekitarnya.
o Karo Singalor Lau
Meliputi Kecamatan Tiga Binanga, Kecamatan Juhar, Kecamatan Munthe dan sekitarnya.
Dari keterangan tersebut dapat dilihat bahwa Desa Sukatendel termasuk ke dalam wilayah Karo Teruh Deleng.26 Masyarakat Karo pada umumnya harus memahami beberapa hak dan kewajiban tiap-tiap orang dalam adat. Demikian juga halnya di Desa Sukatendel. Salah satu yang utama ialah sangkep nggeluh, yaitu suatu sistem kekeluargaan pada masyarakat Karo yang secara garis besar terdiri atas senina,
kalimbubu dan anak beru. Adapun pusat dari sangkep nggeluh ini ialah sukut, yakni
pribadi/keluarga/merga tertentu yang diayomi oleh senina, kalimbubu dan anak beru- nya.
26 Sebutan Karo Teruh Deleng (di bawah gunung) mengacu pada letak pedesaan yang
Tutor
Dalam melaksanakan upacara adat tertentu seperti pernikahan, upacara kematian atau memasuki rumah baru, sangkep nggeluh akan diketahui bila sudah jelas siapa yang menjadi sukut dalam acara tersebut. Misalnya, dalam adat pernikahan, sukut adalah orang yang menikah beserta orang tuanya. Dalam adat kematian, sukut adalah istri/suami yang ditinggal beserta anak dari orang yang meninggal tersebut. Dalam adat memasuki rumah baru, sukut adalah si pemilik rumah.
Untuk memahami hal tersebut, sebaiknya harus dipahami terlebih dahulu bagaimana cara orang-orang Karo menarik garis keturunan, baik dari ayah
(patrilineal) dan ibu (matrilineal) dari seseorang, yang disebut dengan tutor.
Adapun cara menarik garis keturunan atau tutor ini meliputi: 1. Marga atau Beru
Marga adalah hal yang paling utama dalam identitas seorang Karo. Untuk
laki-laki, dipakai kata merga yang merupakan nama keluarga, sedangkan untuk perempuan dipakai kata beru. Dalam setiap perkenalan masyarakat Karo, biasanya akan ditanyakan marga terlebih dahulu. Merga berasal dari kata
meherga yang berarti mahal.27 Mahal dalam konteks budaya Karo berarti penting.
Marga ini akan diwariskan hanya kepada anak laki-laki dari tiap keluarga.
Terdapat lima marga/beru pada suku karo yakni Ginting, Karo-karo, Perangin- angin, Sembiring dan Tarigan.
27 Mengenai penjelasan tentang asal mula kemunculan marga ini, lihat di Sarjani Tarigan, Op. Cit. hal. 292.
2. Bere-bere
Bere-bere merupakan nama keluarga yang diwarisi dari beru ibu
seseorang. Misalkan jika seseorang bermarga Ginting dan ibunya beru Tarigan, maka anaknya bere-bere Tarigan.
3. Binuang
Binuang merupakan nama keluarga yang diwarisi seseorang dari bere- bere ayahnya (ibu dari ayah). Misalkan jika seorang anak mempunyai ayah yang
bermarga Sembiring dan ayahnya bere-bere Ginting, maka binuang anak tersebut ialah Ginting.
4. Kempu
Kempu merupakan nama keluarga yang diwarisi oleh seseorang dari bere- bere ibunya (ibu dari ibu). Misalkan jika seorang anak mempunyai ibu beru
Ginting dan bere-bere Tarigan, maka anak tersebut kempu Tarigan. 5. Kampah
Kampah merupakan nama keluarga yang diwarisi oleh seseorang dari beru
nenek ayahnya (dari pihak ayah). Misalkan jika seorang anak bermarga Tarigan dan nenek ayahnya (ibu dari ayahnya) beru Sembiring maka anak tersebut
kampah Sembiring.
6. Soler
Soler merupakan nama keluarga yang diwarisi oleh seseorang dari beru
nenek ibunya (dari pihak ibu). Misalkan jika seorang anak bermarga Tarigan dan nenek ibunya (ibu dari ibunya) beru Ginting maka anak tersebut soler Ginting.
Demikianlah terlihat bahwa masyarakat Karo mengambil garis keturunan baik dari ayah atau ibu. Tutor ini dapat menjadi sebuah faktor yang mempererat rasa kekeluargaan. Umumnya, dua orang yang berbeda marga tapi mempunyai kesamaan pada salah satu unsur di atas, sudah dianggap bersaudara.
Rakut Sitelu
Rakut Sitelu mencakup tiga hal: 1. Senina
Yang dimaksud dengan senina ialah orang-orang yang sependapat di dalam permusyawaratan adat. Se berarti satu, nina artinya kata atau pendapat.
2. Anak Beru
Dalam kehidupan adat, anak beru dikenal sebagai kelompok yang mengambil istri dari sebuah keluarga (marga).
3. Kalimbubu
Kalimbubu merupakan kelompok pemberi gadis bagi suatu keluarga (merga). Kalimbubu sering diidentikkan dengan Dibata Ni Idah (Tuhan yang terlihat),
karena kedudukannya yang sangat dihormati.
Ketiga hal ini mempunyai cabang masing-masing yang berbeda tugas dan fungsinya dalam setiap acara adat.28
28 Untuk penjelasan selengkapnya tentang sangkep nggeluh masyarakat Karo, lihat di