HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2) Struktur Tekstual Naskah Megantaka
Karya sastra merupakan kesatuan struktural yang setiap bagiannya menunjukkan kepada keseluruhan. Naskah Megantaka sebagai teks mandiri, maka pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan struktural.Teks ceritera naskah Megantaka disajikan dalam bentuk tembang macapat (puisi).
Dengan demikian, diperlukan pengkajian atau analisis dengan bantuan teori struktur tekstual.Berdasarkan teori struktural menyebut struktur teks sebagai hakikat prosa terdiri atas tema (sense), alur (plot), latar (setting), dan perwatakan.
Tabel 3
Tekstual Naskah Megantaka
No Struktur Tekstual Keterangan
1 Tema Penderitaan
2 Alur Sedih, senang, dan bahagia
3 Latar Bumi Sasak Lombok
4 Perwatakan Protagonis dan antagonis
5 Amanat Lengkap
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa struktur tekstual cerita lontar Megantaka terdiri atas (1) tema, (2) alur, (3) latar atau setting, dan (4) amanat.(1) Tema dalam cerita geguritan Megantaka mengawali dengan kisah penderitaan putri raja nusantara dalam menghadapi perjalanan hidupnya. (2) Alur merupakan salah satu aspek struktur tekstual sebuah cerita yang mengurutkan setiap peristiwa para tokoh cerita di saat senang, sedih, dan bahagia. Demikian juga dengan perjalanan tokoh cerita dalam lontar Megantaka. Selanjutnya, (3) latar yang diungkapkan pengarang dalam naskah berada di Bumi Sasak Lombok.(4) Perwatakan para tokoh ceritera dalam naskah bersifat protagonis dan antagonis.
(5) Amanat dalam cerita Megantaka lengkap, yakni adanya peristiwa akhir yang logis yang sesuai dengan urutan struktur peristiwa-peristiwa yang dibangun dalam ceritera. Peristiwa yang digambarkan penuh kesedihan ini diakhiri atau diselesaikan dengan sebuah pupuh (tembang) Durma yang semakin jelasdalam suasana kesedihannya.
b. AnalisisKonteks Sosial Budaya
Dalam mengamati unsur kebudayaan suatu daerah, para ahli antropologi membagi seluruh kebudayaan yang terintegrasi ke dalam unsur-unsur yang besar yang disebut dengan unsur-unsur kebudayaan universal. Unsur kebudayaan yang dapat ditemukan di seluruh dunia menurut Koentjaraningrat (2005:80) terdiri atas tujuh unsur kebudayaan, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial dan kepemimpinan masyarakat, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian. Unsur budaya tersebut dapat diamati dalam kehidupan masyarakat suatu bangsa. Dalam naskah ini ditemukan beberapa unsur kebudayaan seperti kesenian, sistem kepercayaan masyarakat Sasak, dan organisasi sosial (awiq-awiq adat) dan kepemimpinan masyarakat. Unsur sub kebudayaan lain yang ditemukan misalnya, strata sosial atau kelas sosial dan adat pernikahan masyarakat yang tercermin dalam naskah.
Karya sastra merupakan salah satu hasil interaksi sosial suatu masyarakat tertentu di mana sastra itu dilahirkan. Dalam hal ini, sastra naskah Megantaka tidak diciptakan sekedar untuk memberikan hiburan atau kenikmatan, tetapi
diciptakan untuk meneruskan dan menyampaikan nilai atau konsep budaya yang telah dihayati dan diyakini kebenarannya oleh orang Sasak.Sebagai karya masa lampau, naskah sesungguhnya mampu memberikan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat yang pernah ada. Mengamati sastra lama dalam rangka menggali kebudayaan Nusantara merupakan usaha yang erat hubungannya dengan pembangunan bangsa.
Konteks sosial budaya dalam naskah dideskripsikan atas dasar bentuk relasi antarindividu yang tercermin dalam ceritera. Bentuk hubungan tersebut dikategorikan jenis konteks sosial budaya dalam naskah seperti dalam tabel berikut ini.
Tabel 5
Konteks Sosial Budaya dalam Naskah Lontar Megantaka
Nomor Kontek sosial budaya Kode Data
1 Strata sosial p.10, p.124,
2 Kepemimpinan p.12, p.134, p.180, p.181, p.186 3 Adat Pernikahan p.12, p.85, p.147, p.188
4 Kesenian p.58, p.104,
5 Sistem religi p.11, p.16, p.114,
Tabel di atas menjelaskan bahwa (a) konteks sosial budaya yang mencerminkan atau mensimbolkan strata sosial dapat dilihat dalam naskah lontar Megantaka di halaman 10dan 124. (b) Konteks sosial budaya yang mensimbolkan sikap dan sifat kepemimpinan dalam naskah lontar Megantaka
dapat ditemukan di halaman 12, 134,180, 181, dan 186. (c) Konteks sosial budaya masyarakat Sasak dalam pernikahan dapat ditemukan dalam naskah lontar Megantaka di halaman 12, 85, 147,dan 188. (d) Keseniandalam konteks sosial budaya masyarakat Sasak dalam naskah lontar Megantaka dapat dilihat pada halaman 58 dan 104. (e) Sistem religi dalam naskah dapat ditemukan pada halaman 11, 16, dan 114.
c. Kontribusi Konteks Sosial Budaya Naskah terhadap Kearifan Masyarakat Sasak
Sastra Megantaka sebagai peninggalan masa lampau masyarakat Sasak di Lombok memperlihatkan adanya peran yang penting terhadap kehidupan orang Sasak. Berbagai bukti dapat dilihat, baik melalui pernyataan yang terungkap dalam naskah maupun yang tampak dalam kehidupan nyata yang masih dilestarikan dan dipakai dalam masyarakat. Peran dan fungsi dari naskah ini masih dapat bertahan hidup sampai sekarang, bahkan berkembang dalam kehidupan masyarakat Sasak masa kini. Masih terdapatnya ciri masyarakat masa lampau yang masih menggejala pada masyarakat masa kini menandakan masih adanya relevansi antara kehidupan masyarakat masa lampau dengan masa kini.
Konteks budaya dalam kehidupan masyarakat masa kini tidak bisa terlepas dari falsafah kehidupan masyarakat masa lampau, walaupun ada beberapa budaya Sasak masa kini yang merupakan hasil akulturasi budaya lain. Nilai budaya terdiri dari konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai berharga dan
penting oleh masyarakat Sasak, sehingga hal tersebut dapat berfungsi sebagai suatu pedoman orientasi kehidupan masyarakat bersangkutan. Dalam setiap masyarakat, baik yang kompleks maupun sederhana terdapat sejumlah nilai budaya yang saling berkaitan, dan bahkah telah menjadi suatu sistem. Sistem itulah yang menjadi pendorong yang kuat untuk mengarahkan kehidupan masyarakat.
Tabel 6
Indikator Kontribusi Konteks Sosial Budaya Lontar Megantaka
No Konteks Sosial Budaya Indikator
1 Strata sosial/kelas sosial
a. Adanya golongan menak dan non menak b. Berdasarkan adat Sasak tidak
dibolehkannya golongan menak menikah dengan non menak (jajar karang)
c. Terbentuknya organisasi masyarakat Sasak seprti banjar dese atau kampung
2 Model kepemimpinan
a. Adanya sesenggaq Sasak yang masih dipedomani di masyarakat Sasak
b. Dilestarikannya budaya gotong royong di pedesaan masyarakat Sasak
c. Sikap demokratis seorang pemimpin
3 Adat pernikahan
a. Adanya seni musik Sasak gendang beleq sampai saat ini di tengah masyarakat Sasak dalam begawe
b. Adanya klasifikasi pesta perayaan nikah, yakni pesta gawe dan bejango
c. Masih dilestarikannya adat kawin lari di kalangan masyarakat Sasak
4 Kesenian lelakaq
a. Adanya permainan adu lelakaq dalam setiap pesta bau nyale setahun sekali b. Adanya budaya lelakaq di sebagian
masyarakat Sasak dalam begawe 5 Kepercayaan religi a. Adanya varian kepercayaan waktu lima
dan waktu telu.
Dari tabel di atas dapat diuraikan bahwa dalam konteks sosial budaya yang tercermin dalam naskah (1) strata sosial atau kelas sosial memberikan kontribusi dengan adanya Adanya golongan menak dan non menak, berdasarkan adat Sasak tidak dibolehkannya golongan menak menikah dengan non menak (jajar karang), dan terbentuknya organisasi masyarakat Sasak seprti banjar dese atau kampung. (2) Model kepemimpinan dalam naskah melahirkan beberapa kearifan masyarakat Sasak seperti adanya sesenggaq Sasak yang masih dipedomani di masyarakat Sasak, dilestarikannya budaya gotong royong di pedesaan masyarakat Sasak, dan diharuskannya seorang pemimpin bersikap demokratis.
Selanjutnya,pada tabel nomor (3) adat pernikahan dalam perayaan berkontribusi dalam hal adanya seni musik Sasak gendang beleq sampai saat ini di tengah masyarakat Sasak dalam begawe, adanya klasifikasi tradisi perayaan nikah, yakni pesta gawe dan bejango, masih dilestarikannya adat kawin lari di kalangan masyarakat Sasak, dan Berdirinya berbagai organisasi adat kekawin. (4) Budaya lelakaq memberikan kontribusi yang dapat dilihat dalam masyarakat Sasak adanya permainan adu lelakaq dalam setiap pesta bau nyale setahun sekali antara bulan Februari-Maret dan adanya budaya lelakaq di sebagian masyarakat Sasak dalam begawe. (5) sistem kepercayaan masyarakat Sasak masa kini dapat dilihat dengan adanya varian kepercayaan waktu lima dan waktu telu, serta masih adanya pemujaan ruh leluhur.