II. TINJAUAN PUSTAKA
4.1. Analisis Situasional
4.1.1. Analisis Kondisi Fisik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan
4.1.1.4. Vegetasi dan Satwa
4.1.1.4.3. Struktur Vegetasi dan Satwa di Pekarangan
Pekarangan merupakan salah satu bentuk agroekosistem yang mengkombinasikan ragam tanaman semusim dan nonsemusim. Dibandingkan dengan sistem kebun-talun, sistem pekarangan dibedakan dari luasan dan jenis tanaman dan/atau ternak yang dibudidayakan. Di samping itu, letak pekarangan berada dekat dengan rumah pemiliknya dengan posisi berada di sekitar dan mengelilingi bangunan utama. Dengan demikian, pekarangan merupakan konsep pemanfaatan lahan di sekitar rumah untuk dijadikan lahan pertanian.
Pekarangan di daerah studi memiliki keunikan tersendiri berupa pemanfaatan sebagian besar ruang (> 30%) sebagai kolam ikan (Gambar 25). Kondisi tersebut memberikan kesempatan petani untuk memanfaatkan ruang seoptimal mungkin guna menghasilkan manfaat tidak hanya ekonomi, sosial dan budaya, tetapi juga untuk fungsi ekologi. Secara umum kondisi agroekosistem pekarangan di daerah studi dibentuk berdasarkan kebutuhan ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya.
Gambar 25. Kondisi Agroekosistem Pekarangan di Daerah Studi
Karakteristik khas dari pekarangan di daerah studi adalah keberadaan kolam ikan yang selalu ada di setiap pekarangan, baik pada luasan lahan yang luas maupun sempit. Selain kolam ikan, sebagian besar masyarakat menambahkan usaha peternakan dengan memelihara ragam hewan ternak di pekarangan. Kondisi tersebut memberikan ruang untuk tanaman yang relatif lebih sempit. Adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat adalah memanfaatkan ruang sisa dengan menanam beragam jenis tanaman berdasarkan kebutuhan masyarakat. Masyarakat menanam tanaman dipinggiran kolam dan di beberapa media tanam buatan lain seperti pot tanaman atau polybag. Dengan demikian, pemanfaatan ruang di pekarangan dilakukan secara optimal untuk usaha perikanan, peternakan, kehutanan, dan pertanian.
Hasil inventarisasi ragam tanaman menunjukkan data tanaman yang dominan ditanam oleh masyarakat sejumlah 193 jenis dengan dominansi ragam tanaman penutup tanah (Tabel 7). Struktur vertikal agroekosistem pekarangan disusun oleh ragam tanaman pohon, perdu, semak, herba, dan penutup tanah. Ragam pohon tinggi di pekarangan didominasi pohon kelapa (Cocos nucifera L.) dan sengon (Paraserianthes falcataria). Tanaman kelompok herba yang banyak ditanam di pekarangan, di antaranya, adalah pisang (Musa paradisiaca L.) dan pepaya (Carica papaya L.). Kemudahan menanam dan memanen hasil tanaman menjadi faktor utama yang mempengaruhi preferensi masyarakat.
Tabel 7. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Pekarangan
Dusun Nama
Lokal
Nama Botani Individu Kelompok Fungsi
Ciomas 1 Pisang Musa paradisiaca L.
7 Herba Buah/Penghasil Pati/Obat Pepaya Carica papaya L. 5 Herba Buah/Obat Cengkeh Eurgenia
aromatic
3 Perdu Bumbu/Lainnya
Ciomas 2 Pisang Musa paradisiaca L.
8 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Pepaya Carica papaya L. 3 Herba Buah/Obat Sengon/
Albo
Paraserianthes falcataria
3 Pohon Industri/Lainnya Ciomas 3 Pisang Musa paradisiaca
L.
5 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Pepaya Carica papaya L. 5 Herba Buah/Obat Sengon/
Albo
Paraserianthes falcataria
3 Pohon Industri/Lainnya Mandalare 1 Pisang Musa paradisiaca
L.
8 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Pepaya Carica papaya L. 3 Herba Buah/Obat Cengkeh Eurgenia
aromatic
2 Perdu Bumbu/Lainnya
Mandalare 2 Pisang Musa paradisiaca L.
9 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Sengon/ Albo Paraserianthes falcataria 7 Pohon Industri/Lainnya Pepaya Carica papaya L. 2 Herba Buah/Obat Mandalare 3 Pisang Musa paradisiaca
L.
6 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Jambu
Biji
Psidium guajava 4 Perdu Buah/Obat
Alpukat Persea americana 1 Pohon Buah/Obat Kertabraya 1 Pisang Musa paradisiaca
L.
16 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Kelapa Cocos nucifera L. 5 Pohon Buah/Bumbu/Lainn
ya Sengon/ Albo Paraserianthes falcataria 5 Pohon Industri/Lainnya Kertabraya 2 Pisang Musa paradisiaca
L.
11 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Pepaya Carica papaya L. 5 Herba Buah/Obat Sengon/
Albo
Paraserianthes falcataria
2 Pohon Industri/Lainnya Kertabraya 3 Pisang Musa paradisiaca
L.
7 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Pepaya Carica papaya L. 3 Herba Buah/Obat Sengon/
Albo
Paraserianthes falcataria
2 Pohon Industri/Lainnya Sumber: Pengamatan lapang
Tingkat keanekaragaman jenis tanaman khususnya kelompok perdu dan pohon pada agroekosistem pekarangan di daerah studi secara umum tergolong kategori sedang (Tabel 4). Dusun Ciomas memiliki nilai tertinggi (2,05) jika dibandingkan dengan Dusun Mandalare (1,81) dan Dusun Kertabraya (1,83). Berdasarkan hasil survei di beberapa contoh pekarangan, tidak ada perbedaan yang mencolok dalam hal keragaman struktur vertikal (stratifikasi tajuk) tanaman. Namun, terlihat perbedaan ragam tanaman berdasarkan struktur horizontal (fungsi) yang dipengaruhi faktor luasan lahan.
Tabel 8. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Pekarangan
No Dusun Plot H Rerata H Kategori*
1 Ciomas 1 2,273399914 2,056516063 Sedang 2 1,972246979 3 1,923901295 2 Mandalare 1 2,059044366 1,81211773 Sedang 2 1,623203494 3 1,754105331 3 Kertabraya 1 2,186766525 1,833449219 Sedang 2 1,918184041 3 1,395397092 *Kategori: H<1 Rendah 1<H<3 Sedang H>3 Tinggi
Luas rata-rata pekarangan di daerah studi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pekarangan sempit (<200 m2), sedang (200-500 m2), dan luas (> 500 m2). Pekarangan pada luasan lahan lebih dari 500 m2 memiliki ragam fungsi tanaman yang tinggi (Gambar 26). Pekarangan pada luasan lahan antara 200-500 m2 memberikan kesempatan pada masyarakat untuk menanam lebih dari lima fungsi tanaman (Gambar 27). Sedangkan pekarangan dengan luasan kurang dari 200 m2 tidak lebih dari lima fungsi tanaman yang dapat ditanam oleh masyarakat (Gambar 28). Perbedaan ragam jenis tanaman dipengaruhi pula oleh keterikatan pekarangan dengan pemiliknya. Kedekatan hubungan fungsi antara pemilik denga pekaranga berdampak pada meningkatnya ragam jenis tanaman.
Gambar 26. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Luas (> 500 m2)
Gambar 27. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Sedang (200-500 m2)
Selain luas lahan dimanfaatkan oleh bangunan, pola sosial yang terbentuk mempengaruhi preferensi masyarakat untuk tetap menyediakan ruang untuk kolam ikan meskipun dengan ukuran yang sempit (2-10 m2). Luas rata-rata kolam ikan di daerah studi adalah 40 m2. Kondisi tersebut menuntut masyarakat untuk dapat memaksimalkan ruang sisa untuk menanam tanaman. Untuk memberikan manfaat utama sebagai pelengkap kebutuhan harian, sebagian besar masyarakat lebih memilih menanam tanaman sayuran, bumbu, buah, obat, ornamental, dan fungsi lainnya (Lampiran 6).
Selain faktor luasan lahan pekarangan, hubungan lokasi pekarangan dengan jarak ke arah pusat kota (kota kecamatan) cukup mempengaruhi preferensi masyarakat dalam memilih jenis tanaman. Beberapa pekarangan di Dusun Ciomas yang berdekatan dengan akses utama menuju kota kecamatan lebih didominasi oleh tanaman fungsi ornamental dan beberapa jenis tanaman untuk fungsi obat. Tanaman dengan fungsi penghasil pati, sayur, dan buah jarang ditemukan. Hal tersebut disebabkan oleh kemudahan masyarakat untuk membeli kebutuhannya secara langsung di pasar. Struktur vertikal tanaman didominasi tanaman penutup tanah, semak, herba, dan perdu. Tanaman pohon dengan fungsi industri jarang ditemukan di pekarangan. Kondisi yang berbeda ditemukan di Dusun Mandalare dan Kertabraya, jarak menuju kota yang relatif jauh cukup mempengaruhi preferensi masyarakat untuk lebih memanfaatkan pekarangan sebagai modal kebutuhan harian. Dengan demikian, banyak ditemukan jenis tanaman penghasil pati, sayur, buah, obat, industri, fungsi lain, dan tanaman ornamental.
Seperti halnya dengan masyarakat perdesaan di daerah lain, masyarakat di daerah studi mengalami fenomena migrasi sebagian masyarakat desa ke kota. Fenomena tersebut membentuk pola sosial-ekonomi yang khas yang dicirikan dengan ukuran beberapa bangunan yang besar dan luas (imah gedong). Bangunan tersebut didukung pula dengan luasan lahan pekarangan yang besar dan luas (> 500 m2). Namun, besar dan luasnya lahan pekarangan tidak berbanding lurus dengan tingkat keanekaragaman hayati. Pekarangan lebih difungsikan untuk kolam ikan dengan ukuran yang cukup luas (> 30% dari luas lahan) dan lahan yang diperkeras (paving) sehingga pemanfaatan untuk tanam kurang optimal.
Ragam jenis tanaman yang banyak ditemukan adalah tanaman ornamental dan pohon buah (Gambar 29). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fungsi dari imah
gedong sebagai tempat tinggal sementara yang dimanfaatkan hanya pada waktu
tertentu seperti perayaan hari besar Islam, hajatan, dan liburan sehingga pihak yang memanfaatkannya hanya penjaga rumah dan bukan pemiliknya. Kondisi tersebut membuktikan bahwa agroekosistem pekarangan memiliki syarat tidak hanya adanya bentuk fisik, tetapi harus ada keterikatan fungsional antara pemilik dengan pekarangan. Ikatan masyarakat dengan pekarangan berdasarkan adat istiadatnya, terwujud pada ragam bentuk pemanfaatan pekarangan (kebun sayur, kebun toga, kolam ikan, dan kandang ternak) dan obyeknya (ragam jenis tanaman, hewan, dan perkakas pertanian). Semakin kuat ikatannya, semakin beragam komponen pembentuknya (intensif). Semakin lemah ikatannya, semakin sedikit jenis elemen pembentuknya (ekstensif).
Gambar 29. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Ekstensif
Selain ragam jenis tanaman, ditemukan pula ragam jenis satwa baik yang masih liar maupun yang sudah didomestikasi. Satwa liar yang ditemukan di agroekosistem pekarangan tergolong satwa kecil hingga sedang baik dari kelompok mamalia seperti musang, tupai, dan kelalawar; kelompok burung seperti kutilang, tekukur, pipit, gereja, dan burung hantu; kelompok reptil seperti ular, kadal, dan biyawak; kelompok ampibi seperti katak dan kodok; kelompok
ikan seperti benter, bogo, dan impun; kelompok serangga seperti kupu-kupu dan belalang; dan kelompok moluska seperti siput, kerang, dan keong. Satwa yang dikembangbiakan untuk diambil hasilnya secara langsung, diidentifikasi terdapat dua hewan ternak besar (sapi dan kerbau), dua hewan ternak sedang (domba dan kambing), dan hewan ternak kecil (ayam kampung, ayam buras, bebek, mentog, angsa, kelinci, dan beberapa burung peliharaan seperti tekukur, dan merpati), serta beberapa jenis ikan air tawar (mas, gurame, tawes, tambak, lele, mujaer, nilem, bawal, dan patin).
Hewan liar yang berada dalam agroekosistem pekarangan dibiarkan hidup bebas oleh masyarakat tanpa mengharapkan manfaat langsung. Namun demikian, beberapa narasumber menyampaikan bahwa dengan menanam beberapa jenis pohon habitat (keystone species) dapat memberikan ruang hidup (habitat) bagi beberapa jenis hewan yang bermanfaat untuk keberlangsungan sistem ekologi pertanian. Keberadaan hewan liar dapat membantu dalam penyebaran vegetasi, membantu proses penyerbukan bunga (pollinator), menjadi musuh alami hama dan penyakit (predator), dan sebagainya.
Adapun untuk hewan ternak yang secara sadar dibudidayakan oleh masyarakat, memiliki peran penting dalam membentuk struktur keanekaragaman hayati agroekosistem pekarangan. Ternak yang dipelihara sebagian besar untuk kebutuhan konsumsi keluarga petani (subsisten > 90%). Beberapa jenis hewan ternak diperdagangkan (komersial < 10%) oleh masyarakat untuk menambah pendapatan keluarga petani. Sebagian besar masyarakat memelihara kelompok hewan ternak kecil karena keterbatasan lahan untuk pemanfaatan pekarangan.
Pemanfaatan ruang pekarangan dilakukan secara terpadu, seperti ternak ikan dan unggas. Petani memanfaatkan ruang diatas kolam ikan dengan membangun kandang ternak. Model tersebut sangat bermanfaat dari sisi ekologi dan ekonomi karena ketersediaan pakan untuk ikan dapat tersedia dari kotoran dan sisa makanan hewan ternak. Dengan demikian, petani dapat mengurangi biaya produksi untuk penyediaan pakan untuk ikan. Selain pakan dari kotoran dan sisa pakan ternak, pakan ikan tersedia dengan mudah dari beberap jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai pakan seperti singkong (Manihot utillissima Crantz) dan sente (Alocasia macorhiza (L) Schott) (Gambar 30).
Gambar 30. Pemanfatan Kotoran Ternak (Kiri) dan Tanaman (Kanan) sebagai Pakan Ikan di Pekarangan
Kelompok hewan ternak sedang dan besar dikembangbiakan oleh sebagian kecil masyarakat. Besarnya biaya produksi baik modal untuk pembeliaan bibit maupun untuk perawatan menjadi kendala kurangnya minat petani untuk membudidayakan ternak sedang dan besar. Padahal manfaat yang dapat diperoleh cukup menjanjikan bagi usaha pertanian masyarakat. Beberapa informan kunci yang memiliki usaha ternak hewan sedang dan/atau besar mengungkapkan bahwa selain hasil yang diperoleh berupa uang cash dari penjualan ternak, petani memperoleh hasil ikutan berupa ketersediaan pupuk kandang untuk membantu pemupukan tanaman pertanian yang diperoleh selama proses pembudidayaan.
Tenaga kerbau, dapat dimanfaatkan pula tenaganya untuk proses pembajakan lahan sawah. Kelebihan lain dari kepemilikan kerbau adalah dengan menyediakan jasa penyewaan kerbau untuk membajak lahan sawah petani lainnya. Banyaknya manfaat ikutan dari usaha peternakan hewan sedang dan besar sebanding dengan modal (tenaga, waktu, dan finansial) yang besar. Dengan pemberdayaan usaha peternakan dapat mendukung efektivitas dan efisiensi dari usaha pertanian terutama dalam menyedikan pupuk kandang (agrosilvopastoral). Agroekosistem pekarangan mampu berkontribusi positif bagi keberlangsungan kehidupan petani. Kontribusi positif tersebut dapat dirasakan dengan ketersediaan sumber pangan potensial (karbohidrat), protein nabati dan hewani, vitamin, mineral, serta sumber nutrisi lain yang dibutuhkan manusia. Namun, tantangan muncul berupa keengganan masyarakat petani dalam membudidayakan jenis tanaman yang tidak bernilai ekonomi atau yang memiliki rasa kurang enak sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Begitu pula dengan semakin ditinggalkannya sistem mina padi akibat tingginya pemakaian pupuk dan
pestisida kimia mengurangi ragam usaha pertanian masyarakat. Di samping itu, besarnya biaya produksi menjadi hambatan petani untuk memperoleh manfaat lebih besar dari usaha memelihara hewan ternak sedang dan/atau besar.
Ragam tanaman secara vertikal memberikan keuntungan bagi keberlanjutan agroekosistem pekarangan. Stratifikasi tajuk yang beragam berfungsi menahan jatuhan air hujan sehingga bahaya erosi dapat dikurangi. Rapatnya tajuk dapat memanfaatkan sinar matahari secara optimal oleh tanaman. Dengan demikian, manfaat lanjutan dari pertumbuhan tanaman yang optimal serta kondisi fisik lahan (tanah, air, dan udara) yang terjaga kelestariannya dapat dirasakan oleh masyarakat baik langsung maupun tidak. Manfaat langsung dapat dirasakan dari hasil pertanian yang baik. Manfaat tidak langsung dapat dirasakan dari kelestarian lingkungan yang mendukung terciptanya kehidupan bermasyarakat yang kuat secara sosial-budaya dan kaya dalam sosial-ekonomi.
Agroekosistem kebun-talun memiliki hubungan yang erat dengan kawasan hutan sebagai satu kesatuan ekosistem. Kawasan hutan di daerah studi dikelompokkan menjadi dua, yaitu hutan lindung dan hutan produksi. Pengelompokkan secara garis besar tersebut didasarkan pada status pengelolaannya yang berpengaruh pada pembentukan karakteristik hutan. Hutan lindung ditetapkan untuk melindungi sumber daya alam dan sumber daya buatan termasuk nilai sejarah dan budaya guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Salah satu bentuk dari hutan lindung adalah suaka margasatwa yang saat ini menjadi status bagi Gunung Sawal. Dengan statusnya sebagai hutan lindung, konsekuensi pemanfaatannya sangat terbatas untuk usaha konservasi (Gambar 31).
Status Gunung Sawal sebagai suaka margasatwa terlihat dari pemanfaatan sumber daya hutan yang sangat terbatas. Penentuan status sebagai suaka margasatwa didasarkan pada sumber daya hayati Gunung Sawal yang sangat tinggi. Identifikasi ragam jenis vegetasi dan satwa yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat menemukan jenis vegetasi dan satwa lokal, seperti
teureup (Artocarpus elasticus Reinw), puspa (Schima walichii Korth), saninten
(Castanopsis argantea), pasang (Quercus sp.), kiara (Ficus annulata BI.),
Gambar 31. Kondisi Kawasan Hutan Gunung Sawal
Jenis satwa lokal dan khas berdasarkan informasi dari masyarakat yang ditemukan di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, di antaranya, adalah meong
congkok (Fellis bengalensis), babi hutan (Sus vitatus), macan kumbang (Panthera
pardus), macan tutul (Panthera pardus), kijang (Muntiacus muntjak),
peucang/kancil (Tragulus javanicus), trenggiling (Manis javanicus), kera
(Macaca fascicularis), lutung (Tracyphitecus auratus), bajing/tupai (Sciurus sp.),
kalong/kelalawar (Pteropus vamyrus), elang lurik (Spilomia cheela), dan saeran
(Dicrurus leucophaeus).
Sebagai kawasan yang difungsikan untuk perlindungan penyangga kehidupan, pemanfaatan sumber daya hutan dilakukan secara selektif. Hal-hal yang menganggu stabilitas ekosistem dilarang dengan payung hukum negara yang jelas. Salah satu implementasinya adalah pembatasan akses untuk memasuki kawasan hutan. Tanpa tujuan yang jelas, masyarakat tidak mudah melakukan aktivitas di dalamnya. Dengan kondisi demikian, upaya pemeliharaan dilakukan secara terbatas dengan berharap pada suksesi hutan secara alami.
Meskipun demikian, upaya pemeliharaan hutan lindung tetap dilakukan secara manual oleh pengelola dengan menanam beberapa jenis tanaman penting
(key stone species). Penanaman dilakukan dengan ujuan utama untuk menjaga
Berdasarkan analisis visual (long-middle distance view), terlihat struktur vegetasi vertikal yang beragam dengan stratifikasi tajuk yang berlapis. Untuk fungsi tanaman, dapat diduga bahwa kawasan hutan lindung memiliki ragam fungsi tanaman dengan fungsi utama sebagai konservasi. Dengan adanya upaya penanaman tersebut, kawasan hutan lindung dapat pula disebut sebagai agroekosistem dengan pengelolaan ekstensif.
Hutan produksi di daerah studi berada dalam pengawasan Perum Perhutani. Pemanfaatan hutan dilakukan secara partisipatif dengan keterlibatan berbagai
stakeholders. Peran utama dipegang oleh masyarakat yang berstatus sebagai
petani penggarap dengan aturan dari Perhutani yang mengikat. Aturan yang dibentuk mengatur petani untuk menanam jenis tanaman yang diinstruksikan langsung oleh Perhutani sesuai dengan kebutuhannya. Ragam jenis tanaman yang ditanam di kawasan hutan produksi, di antaranya, adalah pinus (Pinus merkusii) dan damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.). Penanaman jenis tersebut berdampak pada struktur vertikal vegetasi menjadi seragam. Fungsi tanaman yang diperoleh hanya fungsi industri yang memanfaatkan kayu dan getahnya.
Kondisi aktual dewasa ini, Perhutani sedang menggalakkan konversi lahan masal untuk dimanfaatkan sebagai perkebunan kopi. Introduksi kopi berdampak pada pembatasan ruang hidup bagi tanaman lain. Pada masa awal pertumbuhan kopi, masyarakat dapat melakukan tumpang sari dengan pinus, damar, atau sengon. Namun, hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan kopi karena syarat tumbuh kopi membutuhkan penyinaran sinar matahari maksimal. Masyarakat mengungkapkan bahwa kebutuhan kopi terhadap cahaya maksimal membutuhkan kondisi lingkungan yang bebas dari penghalang sinar matahari. Hal tersebut menyebabkan petani mengurangi tanaman lain yang dapat mengganggu pertumbuhan optimal kopi dengan cara penjarangan (pruning). Dampaknya terlihat dari kawasan hutan produksi dengan struktur vertikal dan horizontal tanaman yang seragam.
Adanya penetapan prioritas tanaman utama (dalam hal ini kopi) berdampak pada semakin berkurangnya keanekaragaman hayati di kawasan hutan produksi. Jika dilihat dari posisi hutan produksi yang berada di antara hutan lindung dan hutan rakyat (kebun-talun), berkurangnya keanekaragaman vegetasi berpotensi
mengurangi ruang gerak dan akses bagi satwa liar untuk beraktivitas. Sistem monokultur pada hutan produksi tidak dapat memberikan kesempatan lebih bagi satwa liar untuk memanfaatkan fungsi tanaman. Sebagai dampaknya, fungsi satwa liar sebagai penyeimbang agroekosistem tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.