• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Tinjauan Umum Grdung Bioskop Mini

11. Studi Banding

a. Gedung Hollywood Sineplek di Kendari

Hollywood Sineplek merupakan sebagian bahan perbandingan dan literatur dalam penulisan dilakukan studi banding yang ada di kota Kendari. Dalam studi banding yang dilakukan tidak berdasarkan perbandingan fasilitas maupun klasifikasi bentuk yang dimiliki, tetapi lebih dominant untuk mudah membuat acuan perancangan. Sesuai penelitian gedung ini memiliki dua studio yaitu studio satu dan studio dua yang memiliki kapasitasnya 158 kursi.

1) Lokasi

Lokasi gedung bioskop di kendari tepat di jalan saranani yang sesuai dengan arahan fungsi BWK 1 Kota Kendari. Luas tanah yang digunakan sekitar + 2000 m2 penampilan bangunan sangat sederhana dan minimalis.

2) Kebutuhan ruang gedung bioskop di Kota Kendari

Adapun kebutuhan ruang yang ada di dalam gedung bioskop Kota Kendari yaitu :

a) Ruang lobby

b) Ruang penjualan tiket c) Ruang studio

d) Ruang proyektor e) Ruang karyawan f) Kantin

STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA

GEDUNG BIOSKOP

DIREKTUR WAKIL STAF SEKRETARIS BENDAHARA MANAJER OPEATOR CLEANING SERVICE MANAJER FASILITAS KEAMANAN ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

3) Fasilitas yang lain di luar gedung bioskop yaitu ruang swalayan dan pepsi

4) Foto-foto hasil penelitian di dalam dan diluar gedung bioskop

Gambar 2.7. Tampak Depan

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Tampak depan gedung bioskop Hollywood Sineplek kota Kendari dengan bentuk yang sederhana dan minimalis.

Gambar 2.8. Ruang Lobby

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang Lobby dengan asumsi luas + 250 m2 dimana pengunjung bisa menunggu di area lobby untuk pemutaran film, juga dilengkapi dengan jadwal film yang akan diputar. Ruang-ruang yang tersedia seperti Ruang-ruang penjualan karcis, kantin, dan toilet.

Gambar 2.9. Ruang Penjualan Karcis

Penjualan karcis dengan asumsi luas + 15m2 dimana pengunjung disediakan 2 loket untuk pengambilan karcis, terdiri dari dua studio yaitu studio 1 dan studio 2.

Gambar 2.10. Ruang Proyektor

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang proyektor dengan asumsi luas + 20 m2 dilengkapi dengan 2 mesin proyektor untuk masing-masing studio.

Gambar 2.11. Ruang Studi

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang studio dengan asumsi luas + 140 m2 dengan kapasitas kursi 158 buah, dilengkapi dengan layar dengan ukuran 3

x 8 meter, pintu darurat, loudspeaker sebanyak 6 buah, AC sentral 2 unit. Tinggi dinding dari depan 9 meter dari belakang 6 meter dan jarak lorong 120 cm. Plafond berbentuk peredam dari bahan gypsum, gllas bull, dan karpet dengan tebal + 5 cm serta lampu pijar sebanyak 12 buah. Dinding juga dikelilingi peredam suara dengan ketebalan + 10 cm. Untuk lantai menggunakan dasar semen dilapisi under layer dan karpet.

Gambar 2.12. Ruang Pepsi

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang pepsi dengan asumsi luas + 120 m2 digunakan untuk kegiatan makan/minum, bagi pengunjung bioskop maupun pengunjung lain.

Gambar 2.13. Ruang Toilet

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang toilet dengan asumsi luas + 25 m2 memiliki empat urinoir, 3 toilet untuk pria sedangkan untuk wanita memiliki 3 toilet.

Gambar 2.14. Ruang Karyawan

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang karyawan dengan asumsi luas + 80 m2 banyak karyawan yaitu 15 orang, sedangkan untuk bagian khusus bioskop 8 orang. Ruang karyawan dilengkapi juga fasilitas alat olahraga seperti barbell dan lain-lain.

Gambar 2.15. Ruang Direktur

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Ruang Direktur dengan asumsi luas + 20 m2. Ruang utama untuk Direktur yang dapat mengontrol semua aktivitas kegiatan dalam gedung.

Gambar 2.16. Ruang Direktur

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Pada ruang jadwal pemutaran film pengunjung dapat melihat langsung di area lobby jadwal film yang akan ditayangkan.

Gambar 2.17. Roll Film

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Panjang roll film 2.700 meter dengan durasi 1,5 jam. Jenis mesin yaitu Cinema Kanika (Italy).

Gambar 2.18. Proyektor

Sumber : Hasil Tinjauan Lapangan

Mesin proyektor sebanyak 2 unit untuk pemutaran film masing-masing studio.

b. Pusat Perfilman Usmar Ismail

Dibangun di atas tanah seluas 1,8 Hadi kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Luas bangunan seluruhnya meliputi 11.550 m2 yang terdiri dari :

1) Bangunan induk (perkantoran) seluas 1.620 m2 terdiri dari 3 lantai :

a) Lantai 1 disewakan untuk kantor-kantor perusahaan perfilman b) Lantai 2 untuk kantor-kantor organisasi perfilman

c) Lantai 3 untuk kantor pusat perfilman dan Sinematek

2) Ruang preview, lobby, ruang proyektor, kafetaria dan ruang sidang sebanyak 3 buah seluruhnya seluas 1.250 m2. Ruang preview berkapasitas 200 orang dan dapat berfungsi sebagai ruang sidang dan pertemuan.

3) Gedung bioskop seluas 3.400 m2 dengan kapasitas 800 orang yang terdiri dari ruang mekanik, ruang menyimpan film, lobby dan gudang.

Kompleks pusat perfilman terdiri dari 3 buah gedung yaitu :

a) Gedung bioskop yang terletak pada bagian depan kompleks menghadap jalan Rasuna Said.

b) Ruang preview room terletak di bagian belakang kompleks. c) Gedung pusat perfilman yang terdiri dari kantor organisasi dan

Gaya bangunan seperti bangunan-bangunan perkantoran yang dibangun pada tahun 70-an bergaya internasional style, bercat putih dengan dominasi garis-garis horizontal. Bangunan ini baik eksterior maupun interiornya tidak mencerminkan bangunan kesenian yang umumnya representatif.

c. Media Center, Hamburg, Germany

Ide membuat media center ini datang dari The Hamburger

Filmburo, sebuah badan yang menyokong pembuat film swasta yang

membutuhkan sarana perkantoran dan studio.

Media center ini merupakan restrukturisasi dari bangunan lama yang sejak tahun 1868 berfungsi sebagai pabrik besi baja yang memproduksi baling-baling kapal. Pabrik ini bangkrut dan diubah fungsinya menjadi media center. Sejak tahun 1970 medium Architekten, Peter Wiesner, Thiess Jentz, Heiko Popp dan Jan Stormer menitikberatkan pada pembentukan kembali, pengembangan dan penambahan struktur bangunan tambahan yang dapat melayani penggunaan modern. Mereka menggambarkannya sebagai Soft

Architecture yang mencangkokkan fungsi dan bentuk-bentuk baru

pada bangunan lama. Hasilnya berupa ekspresi dari struktur bata merah yang masih dengan rangka baja yang diekspos seperti struktur pabrik.

Di bagian manapun dari bangunan dapat terbaca masa lalu dan kekinian. Bangunan ini lebih sebagai sebuah sculpture daripada arsitektur. Seperti dalam perancangannya, arsitek selalu membawa kapur dan menggambarkannya langsung di lokasi.

Ruang-ruang : 1) Film kafe

2) Toko-toko dengan perkantoran di atasnya 3) Kompleks bioskop

4) Perkantoran untuk perusahaan perfilman 5) Eisenstein restoran

6) Lembaga film dan teater

7) Perpustakaan film dan video untuk umum

d. Arts Library, Seoul Arts Center

Merupakan bagian dari kompleks Seul Art Center yang terdiri dari concert hall, calligraphy hall, festival hall, arts gallery, korean music center dan arts library. Kompleks ini dibangun di atas tanah seluas 234.385 m2 dengan luas total bangunan 120.000 m2. Arts library ini memiliki total luas 23.175 m2 yang dibagi menjadi 4 lantai.

Pada lantai basement terdapat perpustakaan film yang memiliki 2 bioskop dengan kapasitas 100 dan 140 orang, studio workshop, ruang kuliah, ruang penyimpanan film, dan perpustakaan rujukan. Perpustakaan ini menjadi tempat untuk mencari informasi,

mempelajari, mengembangkan dan menyajikan program-program film dimana film dinikmati dan dipelajari sebagai salah satu bentuk seni.

Pada lantai 1 terdapat ruang pelayanan referensi yang menyediakan berbagai informasi tentang seni. Di lantai ini juga terdapat perpustakaan anak yang dimaksudkan untuk memperkenalkan seni pada anak-anak sejak dini.

Pada lantai 2 terdapat perpustakaan seni, koleksi barang cetakan dan ruang mikro film. Perpustakaan ini menggunakan sistem pelayanan komputer untuk memudahkan pencarian informasi. Ruang audio visual terdapat di lantai 3 yang dilengkapi dengan ruang-ruang saji untuk perorangan maupun kelompok.

Konsep arts library ini mengikuti master plan konsep seoul arts center yaitu sebuah tempat interaksi antara tua dan muda, Barat dan Timur, dan interaksi antara masa lalu dan masa kini. Hal ini terlihat dari ekspresi bangunan yang mencerminkan kombinasi antara teknologi Barat dengan bentuk-bentuk eksotis dunia Timur.

e. Bioskop Bandung

Bagi sebagian orang, gedung bioskop merupakan tempat alternatif untuk melepas kepenatan setelah lelah beraktivitas seharian. Namun, sebagian lagi menganggap gedung bioskop sebagai tempat untuk menyalurkan hobi menontonnya. Bahkan, di bioskop orang bisa memperoleh pengetahuan baru dari film yang ditontonnya.

Beribu alasan orang datang menonton di gedung bioskop. Lebih lebar layarnya dibandingkan layar televisi, lebih fokus menontonnya, lebih mantap suaranya, juga lebih nyaman rasanya. Tidak jarang, banyak juga yang datang hanya untuk berpacaran selain untuk menikmati hiburan.

Gedung bioskop di Bandung sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Sebut saja gedung Bioskop Elita yang terletak di jalan Alun-Alun dan Bioskop Majestic di jalan Braga yang sudah tersohor di tahun 1920-an. Dari tahun ke tahun, hingga tahun 1970, jumlah bioskop di kota Bandung mencapai 30 gedung dengan berbagai kelas dan kualitas. Salah satu gedung bioskop yang paling top pada masanya, menurut Subakti, seorang pengusaha bioskop dari tahun 1970, adalah Nusantara dan Paramount. Kedua gedung itu punya kelebihan masing-masing, awal tahun 1980-an, Nusantara menawarkan gedung gaya Belanda dengan daya tampung 1.200 kursi, sedangkan Paramount berkapasitas 1.006 kursi, hadir dengan gedung baru yang modern pada masa itu.

Dokumen terkait