TINJAUAN PUSTAKA
3. Retribusi Perizinan Tertentu
2.4 Studi Empiris
Sebelumnya setelah ada beberapa penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah. Berikut ini adalah beberapa penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain :
Yunawati (2002) dalam analisanya dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Jumlah Industri, Wisatawan Mancanegara, Wisatawan Nusantara, dan PDRB DIY. Penelitian ini mengkaji sejauh mana variabel independen yaitu Jumlah Industri, Wisatawan mancanegara, Wisatawan Nusantara, dan PDRB mempengaruhi variabel dependen yaitu Pendapatan Asli Daerah. Alat analisis yang digunakan meliputi pengujian estimasi, koefisien determinasi(R), pengujian statistik, pengujian Asumsi Klasik, (Pengujian Autokorelasi, Uji Heterokedastisitas, Uji Multikolinieritas), analisis elastisitas. Adapun hasil dari penelitianya Variabel jumlah Industri berpenggaruh signifikan positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Variabel Wisatawan Mancanegara berpengaruh signifikan positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Variabel Wisatawan Nusantara berpengaruh signifikan negatif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) DIY. Variabel PDRB berpengaruh signifikan positif terhadap Pendapatan Ali Daerah (PAD) DIY dengan pengujian serempak menunjukan bahwa variable bebass yaitu Jumlah Industri, Wisatawan Mancanegara, Wisatawan Nusantara, PDRB secara bersama-sama dapat mempengaruhi besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) DIY.
Tri cahyono (2002) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Pendapatan Asli Derah Kabupaten Karang Anyar yaitu PDRB, investasi, jumlah penduduk, dan pendapatan per kapita Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa variabel PDRB, investasi, jumlah penduduk dan pendapatan perkapita masyarakat berpengaruh terhadap besarnya PAD kabupaten Karanganyar Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder runtun waktu (time series) mulai tahun 1990-2002. Metode yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan model log dilanjutkan dengan uji statistik uji t (uji parsial), uji F (analisis varian) uji R2 (koefisien determinasi) serta uji asumsi klsik yaitu uji multikolinieritas, heterokedasitas dan autokorelasi. Dari hasil analisis diperoleh bahwa baik secara individu maupun secara bersama-sama besarnya PDRB, investasi, jumlah penduduk, pendapatan perkapita masyarakat berpengaruh signifikan terhadap besarnya PAD Kabupaten Karanganyar tahun 2010 meningkat secara meyakinkan. Implementasi kebijakan/yang disarankan dalah peningkatan kinerja perekonomian pada sektor-sektor dominan yang ada di Kabupaten Karanganyar.
Bramantio Lynarsatia (2000) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Perkembangan Industri Pariwisata dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Asli Daerah di kota Surakarta Tahun 1990-2000” bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah kamar hotel, jumlah wisatawan dan biro perjalanan wisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data sekunder yang mengambil lokasi penelitian di Kota Surakarta. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Model analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis trend linier dan analisis regresi berganda. Hal ini menunjukkan bahwa variabel jumlah kamar hotel, jumlah wisatawan dan biro perjalanan wisata berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah Surakarta. Bila dilihat dari analisis data di atas maka saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah pihak pemerintah lebih meningkatkan fasilitas dalam sektor pariwisata yang diiharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Disamping itu pihak Pemerintah juga lebih meningkatkan keberadaan biro perjalanan wisata mengingat variabel tersebut merupakan variabel terbesar yang mempengaruhi PAD maupun lama tinggal wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara di Kota Surakarta.
Suntono (2005) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap perkembangan pembangunan di kota Semarang tahun 2005”. Dalam pembahasannya disebutkan berdasrakan hasil pengujian regresi linier sederhana diperoleh model regresi yang berarti atau signifikan,, kecuali regresi antara hasil usaha milik daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto (Y). Demikian pula dengan koefisien regresinya signifikan, kecuali koefisien antara hasil usaha milik daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto (Y). Hal ini menunjukan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh terhadap perkembangan pembangunan di kota Semarang setiap tahunnya. Sumbangan terkecil dalam menyokong perkembangan pembangunan di Kota Semarang yaitu dari hasil usaha milik daerah.
Berdasarkan hasil uji regresi linier ganda antara pajak daerah, retribusi daerah dan hasil usaha milik daerah dengan Produk Domestik Regional Bruto (Y)
menghasilkan model regresi linier ganda yang signifikan. Hal ini menunjukan bahwa model regresi dapat dipakai untuk memprediksi perkembangan pembangunan di Kota Semarang. Arah hubungan yang positif pada hasil korelasi di atas menunjukan bahwa semakin besar pajak daerah, retribusi daerah dan hasil usaha milik daerah akan menyebabkan perkembangan pembangunan di Kota Semarang cenderung semakin meningkat
Mohammad Riduansyah (2003) dalam penelitiannya yang berjudul “Kontribusi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) guna mendukung pelaksanaan otonomi daerah Kota Bogor”. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa total kontribusi komponen pajak daerah terhadap penerimaan APBD dalam kurun waktu tahun anggaran 1993/1994-2000 berkisar antara 7,07% - 8,79%, dengan rata-rata kontribusi per tahunnya sebesar 7,81% dengan pertumbuhan per tahun 22,89%. Kontribusi pajak terbesar terhadap total penerimaan APBD diberikan oleh pajak hotel dan restoran serta pajak hiburan. Pajak hotel dan restoran pada periode ini memberikan rata-rata kontribusi sebesar 3,06% per tahunnya dan tumbuh rata-rata sebesar 32,64% per tahun. Sedangkan pajak hiburan, pada kurun waktu yang sama memberikan rata-rata kontribusi sebesar 1,96% per tahun dan tumbuh rata-rata sebesar 8,58% per tahunnya. Untuk kontribusi komponen retribusi daerah terhadap total penerimaan APBD dalam kurun waktu tahun anggaran 1993/1994 – 2000 berkisar antara 8,36%--23,05%, dengan rata-rata kontribusi per tahunnya sebesar 15,61% dengan pertumbuhannya per tahun 5,08%. Kontribusi retribusi terbesar terhadap total penerimaan APBD diberikan
oleh retribusi pasar dan retribusi terminal. Retribusi pasar pada periode ini memberikan rata-rata kontribusi sebesar 3,25% per tahunnya dan tumbuh rata-rata sebesar 3,25% per tahunnya dan tumbuh rata-rata sebesar 1,44% per tahun. Sedangkan retribusi terminal, pada kurun waktu yang sama memberikan rata-rata kontribusi sebesar 2,93% per tahun dan tumbuh rata-rata sebesar 5,02% per tahunnya. Dari data yang diperoleh, terlihat bahwa kontribusi komponen pajak daerah dan retribusi daerah terhadap penerimaan APBD Pemerintah daerah Kota Bogor sangat fluktuatif. Hal ini banyak diakibatkan karena terjadinya perubahan peraturan perundang-undangan dalam kurun waktu tahun anggaran 1993/1994 – 2000, terakhir dengan diberlakukan UU No. 34/2000 sebagai revisi dari UU No. 18/1997. Pemberlakuan undang-undang yang berbeda-beda ini menyebabkan jenis pajak daerah dan retribusi daerah mengalami banyak perubahan, antara lain menyebabkan penghapusan jenis pajak daerah dan retribusi daerah dan di saat yang sama juga memberikan peluang dimungkinkannnya ditarik jenis retribusi maupun pajak daerah yang baru. Untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah, kiranya perlu bagi Pemerintah Daerah Bogor untuk memperhatikan peluang yang ada. Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 34 Tahun 2000, pemerintah daerah dapat membuat pajak daerah serta retribusi baru asalkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kewenangan yang dimilikinya. Langkah ini merupakan bentuk pelaksanaan penarikan pajak daerah dan retribusi daerah yang telah diberlakukan sebelumnya.
Analisis hubungan pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap anggaran belanja daerah (ABD) kota Depok periode 2000-2004 . (Muhammad Adam Hesa, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pajak dan retribusi daerah terhadap ABD, data yang diambil dalam penelitian ini diperoleh dari Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) kota Depok berupa laporan realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah serta ABD pada periode 2000-2004. Metode penelitian yang digunakan adalah metode uji korelasi, regresi sederhana, uji determinasi. Berdasarkan hasil penelitiannya diketahui bahwa kedua variabel independen yaitu pajak daerah dan retribusi daerah mempunyai hubungan yang tidak signifikan terhadap ABD.
Analisisi faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di kabupaten Karawang ( Ahmad Najib, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, serta pendapatan lain-lain yang sah terhadap penerimaan PAD pada kabupaten Karawang. Data yang digunakan adalah laporan bulanan Pendapatan Asli Daerah selama 1 periode yaitu tahun 2001-2005. Penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda yang kemudian dilakukan uji F dan T yang telah dinyatakan bebas dari uji asumsi klasik. Berdasarkan hasll penelitiannya dapat diketahui bahwa keempat variabel independen (Pajak daerah, retribusi, perusahaan milik daerah, serta pendapatan lain yang sah) berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan PAD Kabupaten Karawang.
tidak tidak
ya
2.5 Diagram Kerangka Pemikiran
Retribusi Daerah Badan Usaha Milik Daerah Pendapatan Asli Daerah
Uji Stasioneritas Data dengan PP Test
Stasioner?
Dilihat apakah variable yang diuji stasioner pada ordo yang sama Stasionerkan data
dengan differencing
Uji Derajat Integrasi Keluarkan dari
pengujian
Analisis Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan Badan Usaha Milik Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tangerang
Tahun 2003 - 2009
Uji Asumsi Klasik
Pajak Daerah