• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus: Hotel Chain Internasional Kawasan Kuta

Putu Ratih Pertiwi 1) Fanny Maharani Suarka 2)

Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana [email protected]

ABSTRAK

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui penurunan eksistensi fasilitas hotel bintang lima dan kendala apa saja yang dihadapi hotel – hotel dalam hal ini tim Sales Marketing departemen dalam mengembalikan eksistensi hotel bintang lima di kawasan Kuta pasca erupsi Gunung Agung. Hotel bintang lima yang memiliki chain internasional yang terletak di kawasan Kuta selalu memiliki tingkat okupansi yang tinggi dan diminati oleh wisatawan karena lokasi yang strategis dan dekat dengan Pantai Kuta yang menjadi ikon Bali. Selain itu produk dan fasilitas dimiliki oleh hotel – hotel ini beragam dan standar operasinya bertaraf internasional. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan kuesioner. Sensus sampling digunakan untuk menentukan 3 hotel bintang lima yang memiliki chain international di kawasan Kuta yaitu (1) Marriott’s Autograph Collection: The Stones Hotel Bali ; (2) Sheraton Bali Kuta Resort ; dan (3) Pullman Bali Legian Nirwana. Sedangkan purposive samplin technique digunakan untuk menentukan informan yaitu staff Sales Marketing dari ketiga hotel tersebut. Diketahui pasca erupsi Gunung Agung, beberapa produk dan fasilitas hotel bintang lima di kawasan Kuta tersebut mengalami penurunan kunjungan dimana seluruh hotel (100%) menyatakan mengalami penurunan kunjungan pada kamar, restaurant dan bar, spa, dan swimming pool. Sedangkan 67% dari hotel – hotel tersebut menyatakan bahwa mereka juga mengalami penurunan pada meeting room dan fitness center yang mereka miliki. Kendala yang dihadapi Sales Marketing dalam mengembalikan eksistensi hotel bintang lima kawasan Kuta adalah kendala eksternal yaitu adanya travel advisory, ditutupnya Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, persepsi wisatawan, dan meningkatnya permintaan complimentary night dari tamu yang menginap.

Keyword: Fasilitas hotel, hotel bintang lima, sales marketing, gunung agung. !

I. PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri dampak dari erupsi Gunung Agung sudah mulai dirasakan oleh sektor pariwisata di Bali. Dengan menurunnya jumlah kunjungan wisata ke Bali, maka jumlah wisatawan yang menginap di hotel pun menurun. penutupan bandara

yang berlangsung selama beberapa hari berdampak pada sejumlah hotel yang tingkat okupansinya langsung menurun drastis. Bahkan untuk hotel bintang lima yang memiliki chain internasaional di kawasan Kuta pun terkena dampak dari bencana alam tersebut, dengan menurunnya tingkat okupansi kamar, eksistensi hotel pun

mulai melemah. Dimana eksistensi yang dimaksud dalam hal ini yaitu fasilitas – fasilitas yang dimiliki hotel untuk mendukung aktivitas tamu seperti fasilitas makanan – dan minuman, mice untuk mengadakan event, spa, beauty salon, kids playground, sport center yang biasanya terdiri dari kolam renang, gymnastic, dan sebagainya. Banyak dari fasilitas tersebut tidak berjalan seperti biasanya pasca bencana alam yang terjadi di Karangasem karena sepinya tamu yang menginap di hotel tersebut.

Dimana fasilitas – fasilitas tersebut menjadi penunjang bagi pemasukan hotel selain penunjang utamanya yaitu kamar.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui fasilitas hotel bintang lima yang menurun eksistensinya dan kendala apa saja yang dihadapi hotel – hotel dalam hal ini tim Sales Marketing departemen dalam mengembalikan eksistensi hotel bintang lima di kawasan Kuta pasca erupsi Gunung Agung, sehingga dapat mengatasi masalah tersebut. Adapun pertimbangan memilih kritera hotel ini karena hotel bintang lima yang memiliki chain internasional yang terletak di kawasan Kuta yaitu lokasi yang strategis berada di pusat atraksi pariwisata yaitu Pantai Kuta yang terkenal, pusat perbelanjaan baik mall maupun artshop yang banyak menawarkan oleh – oleh khas Bali, restaurant, dan bar merupakan pilihan favorit para wisatawan. Selain itu banyak produk dan fasilitas dimiliki oleh hotel – hotel ini yang tentunya standar operasinya bertaraf internasional.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengetahui upaya sales marketing dalam mengembalikan eksistensi hotel

bintang lima pasca erupsi Gunung Agung dengan mengambil studi kasus di hotel bintang lima yang memiliki chain international di kawasan Kuta. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dan penyebaran angket (questionnaires).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Diagram 1.

Pernyataan Responden Mengenai Produk & Fasilitas Hotel Bintang Lima Kawasan Kuta yang Mengalami Penurunan Eksistensi

Pasca Erupsi Gunung Agung

Berdasarkan Diagram 3.1 dapat dilihat bahwa sebanyak 100% responden menyatakan bahwa hotel – hotel tersebut mengalami penurunan kunjungan di beberapa produk dan fasilitasnya yaitu kamar, restaurant dan bar, spa, dan swimming pool. Sedangkan 67% dari hotel – hotel tersebut mengalami penurunan kunjungan pada meeting room dan fitness centernya.

Tabel 1.

Kendala Internal dan Eksternal Sales Marketing Dalam Mengembalikan Eksistensi Hotel Bintang Lima Kawasan Kuta Pasca Erupsi Gunung Agung

No. Kendala

Internal Eksternal 1. - Travel advisory

2. - Penutupan Bandar Udara Ngurah Rai 3. - Persepsi wisatawan

4. - Permintaan complimentary night dari tamu hotel

Tabel 1. di atas menunjukkan bahwa terdapat empat kendala eksternal dan tidak ada kendala internal yang dialami sales marketing dalam mengembalikan eksistensi hotel bintang lima kawasan Kuta pasca erupsi Gunung Agung.

3.2. Pembahasan !

Terdapat empat kendala eksternal yang dialami sales marketing dalam mengembalikan eksistensi hotel bintang lima kawasan Kuta pasca erupsi Gunung Agung, yaitu:

1. Travel Advisory

Beberapa negara mengeluarkan travel advisory dikarenakan erupsi Gunung Agung, dalam hal ini negara Republik Rakyat Cina mengeluarkan travel advisory untuk bepergian ke Indonesia khususnya Bali, sehingga kunjungan wisatawan China yang menjadi pasar besar hotel bintang lima kawasan Kuta berkurang secara signifikan.

2. Penutupan Bandara Ngurah Rai Ditutupnya Bandar Udara Internasional Ngurah Rai demi keamanan akibat erupsi Gunung Agung menyebabkan turunnya tingkat hunian hotel di Bali. Diketahui bahwa kawasan Kuta hanya memiliki okupansi hotel rata – rata sejumlah 30 persen, dan hotel non-bintang hanya 8 sampai 10 persen.

3. Persepsi Wisatawan

Wisatawan dan travel agent, khususnya mancanegara masih ragu dan takut untuk datang ke Bali walaupun sudah dalam periode post eruption (beberapa hari / beberapa bulan setelah Gunung Agung) karena khawatir akan terjadi erupsi susulan.

4. Permintaan Complimentary Night dari Tamu Hotel

Kekhawatiran para wisatawan yang menjadi tamu di hotel, mengakibatkan tingginya permintaan complimentary night, agar tamu yang menginap di hotel dapat merasa lebih tenang jika ada erupsi susulan, karena mereka masih memiliki tempat berlindung selama mereka kembali. Walaupun dengan memenuhi permintaan complimentary night dari para tamu mampu meningkatkan eksistensi hotel – hotel bintang lima kawasan Kuta, tetapi hotel – hotel ini cukup kewalahan dalam mengatur tingginya permintaan ini.

!

IV. PENUTUP

Hotel – hotel bintang lima di kawasan Kuta memiliki produk dan fasilitas hotel yang lengkap seperti berbagai tipe kamar, restaurant dan bar, beberapa ruangan untuk meeting dan konferensi, kolam renang, fitness center, spa, kids area, dan beberapa fasilitas penunjang lainnya. Tetapi pasca erupsi Gunung Agung yang terjadi di Kabupaten Karangasem beberapa produk dan fasilitas hotel bintang lima di kawasan Kuta tersebut mengalami penurunan kunjungan dimana seluruh hotel menyatakan mengalami penurunan kunjungan pada kamar, restaurant dan bar, spa, dan swimming pool. Sedangkan 67% dari hotel – hotel tersebut menyatakan bahwa mereka juga mengalami penurunan pada meeting room dan fitness center yang mereka miliki.

Kendala yang dihadapi Sales Marketing dalam meningkatkan eksistensi hotel bintang lima kawasan Kuta adalah kendala eksternal yaitu adanya travel advisory, ditutupnya Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, persepsi wisatawan, dan

meningkatnya permintaan complimentary night dari tamu yang menginap.

V. DAFTAR PUSTAKA

Buchari, A. 2014. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Alfabeta: Bandung.

Bagyono. 2006. Manajemen Housekeeping Hotel. Bandung : Alfabeta.

Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial

Lainnya. Bandung:

Rosdakarya.

Rangkuti, Freddy. 2002. Teknik Analisis Segmentasi & Targeting dalam Marketing. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Rangkuti, Freddy (2002), Measuring Customer Satisfaction,Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Rossiter, John R. dan Larry Percy. 1997. Advertising and Promotion Management. New York: McGraw-Hill.

Rumekso. 2001. Housekeeping Hotel. Yogyakarta : Penerbit Andi Yogyakarta.

Sihite, Richard. 1996. Tourism Industry. SIC : Surabaya. Sihite, Richard (2000). Hotel

Management. Surabaya : SIC. Soemanagara, Rd. 2006. Strategic

Marketing Communication:

Konsep Strategis & Terapan. Bandung : Alfabeta.

Swastha, Basu. 1996. Saluran Pemasaran. Yogyakarta : BPEF.

Swastha, Basu dan Irawan. 1990. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta : Liberty. Tarmoezi, Trizno. (2000). Hotel Front

Office. Jakarta : Kesaint Blanc. Tjiptono, Fandy. 2008. Strategi

Pemasaran. Yogyakarta : ANDI ! ! ! ! ! ! ! ! !

STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIC RELATION DI DALAM