• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS KABUPATEN KULON PROGO, YOGYAKARTA

Hartiningsih dan Wati Hermawati

Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) LIPI Jl. Gatot Subroto no. 10 Jakarta 12710

ABSTRAK

Tungku Sehat Hemat Energi (TSHE) merupakan salah satu inovasi teknologi tungku sebagai pengganti tungku tradisional yang boros kayu bakar dan mengeluarkan asap ke dalam ruangan, sehingga membahayakan penggunanya yaitu mayoritas kaum ibu dan anak-anak. Tungku banyak dipergunakan oleh rumah tangga di pedesaan maupun usaha mikro, kecil, dan menengah yang mengolah makanan. Program TSHE pertama kali diperkenalkan di Kabupaten Kulon Progo oleh Yayasan Dian Desa. Sampai saat ini, pengguna TSHE telah tersebar di berbagai Kecamatan di Kulon Progo dan kabupaten lainnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Studi ini mengidentifikasi tatangan keberlanjutan adopsi TSHE di tingkat masyarakat dengan fokus studi di wilayah Kulon Progo. Dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, studi ini mengidentifikasi aspek komunikasi dan jejaring, sumber daya, dan adopsi tungku serta dampak implementasi program tersebut terhadap kehidupan masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberhasilan adopsi TSHE lebih banyak disebabkan oleh komunikasi yang baik antar pelaksana program serta pelaksana kegiatan dengan masyarakat, ketersediaan sumber daya lokal, keterbukaan masyarakat terhadap hal-hal baru, dan didukung oleh proses difusi dan adopsi yang sederhana dan efektif. Tantangan yang dihadapi antara lain penyebaran informasi TSHE yang lebih luas, serta peningkatan skala produksi TSHE di tingkat industri. Dampak positif ditunjukkan oleh TSHE dari aspek ekonomi, sosial, kesehatan, keterampilan warga, dan kebersihan lingkungan.

Kata Kunci: keberlanjutan, difusi, adopsi, TSHE, Kulon Progo.

1. PENDAHULUAN

Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian barat, dan terdiri dari 12 kecamatan, 87 desa, 1 kelurahan, dan 917 dukuh21. Berdasarkan sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk kabupaten Kulon Progo sebanyak 388.869 orang, yang terdiri dari 190.694 orang laki-laki dan 198.175 orang perempuan. Menurut Data Sosial Ekonomi 2005, Kabupaten Kulon Progo memiliki Rumah Tangga Miskin sebanyak 42.345 Rumah Tangga yang digolongkan mendekati miskin 15.136 rumah tangga, miskin 20.581 rumah tangga, dan sangat miskin 6.628 rumah tangga. Jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) berdasarkan pendataan program perlindungan sosial (PPLS) 2008 di Kabupaten Kulon Progo tercatat sebanyak 33.280 rumah tangga22.

Salah satu produk unggulan Kulon Progo yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah gula merah kristal atau gula semut yang berkualitas dan berbahan baku nira dari pohon kelapa. Saat ini, proses pembuatan gula semut melibatkan 6000 penderes dan ratusan pedagang gula23. Hasil produksi gula semut Kabupaten Kulon Progo telah di ekspor ke

21www.kulonprogokab.go.id– akses tanggal 6 September 2013.

22Kulo Progo Dalam Angka 2011-BPS, diupdate 26/04/2012

143

Belanda, Jerman, Belgia, Inggris, Norwegia, sebagian negara Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan sebagian negara-negara Asia24.

Sebagian besar penduduk Kabupaten Kulon Progo, termasuk produsen gula merah dan gula semut, menggunakan tungku tradisional dengan bahan bakar kayu yang diambil dari kebun milik sendiri atau dari hutan sekitar. Alasan lain dalam penggunaan tungku adalah harga minyak tanah yang cenderung naik dan semakin langka, sehingga banyak rumah tangga merasa tidak mampu membeli minyak tanah atau sulit mendapatkan minyak tanah.

Tungku tradisional yang banyak digunakan terbuat dari tanah liat dengan bahan bakar kayu. Tungku tersebut banyak menghasilkan asap dalam ruang dan menghasilkan panas yang kurang efektif, sehingga sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan produktivitas tungku. Berawal dari pengamatan inilah, Yayasan Dian Desa memperkenalkan tungku sehat hemat energi (TSHE). TSHE adalah inovasi tungku yang dilakukan oleh berbagai pihak dengan kerja sama Yayasan Dian Desa. Tungku ini mempunyai kelebihan: irit kayu bakar, asap yang masuk ke dapur sedikit, dan menghasilkan panas tinggi sehingga proses memasak menjadi lebih cepat.

Salah satu wilayah sentra penghasil gula merah dan gula semut yang menggunakan tungku tradisional di Kulon Progo adalah Pedukuhan Gunungrejo, Kelurahan Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo. Waktu yang dibutuhkan untuk mengolah gula merah dengan tungku tradisional sekitar enam jam. Selama waktu itu pula, asap memenuhi ruangan dapur tempat gula diproduksi. Dampak dari asap di dalam dapur ini adalah para ibu serta anak perempuan yang membantu memproduksi gula terkena paparan asap, sehingga banyak yang menderita penyakit saluran pernafasan dan gangguan pada mata.

Pada tahun 2005, Yayasan Dian Desa memperkenalkan TSHE yang merupakan inovasi dari tungku tradisional yang ada di masyarakat. Tungku yang diciptakan oleh Yayasan Dian Desa pada mulanya adalah tungku yang terbuat dari tanah liat (gerabah). Namun, karena membutuhkan waktu yang banyak dalam pembuatannya (proses mencetak dilakukan dengan tangan sehingga memakan banyak waktu), juga bahannya yang mudah pecah tidak bertahan lama akhirnya bahan baku tanah liat diganti dengan semen. Tungku yang dibuat dari semen lebih tahan lama, serta pembuatannya lebih mudah dan cepat karena dapat dicetak menggunakan cetakan. Pada akhirnya, TSHE dengan semen inilah yang dikembangkan di Pedukuhan Gunungrejo Kelurahan Hargorejo.

Meskipun saat ini penggunaan bahan bakar gas atau LPG mulai digalakkan oleh pemerintah, sebagian besar warga di Kecamatan Kokap, Kulon Progo, terutama di Pedukuhan Gunungrejo Kelurahan Hargorejo masih menggunakan tungku tradisional. Ketidakmampuan masyarakat untuk membeli bahan bakar modern (minyak tanah dan gas), serta kelangkaan dan mahalnya harga minyak tanah dan gas LPG, membuat masyarakat tetap menggunakan tungku sebagai alat utama memasak. Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri terutama dalam proses difusi dan adopsi TSHE agar dapat dilakukan secara berkelanjutan

Yayasan Dian Desa adalah sebuah organisasi nonpemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) yang aktif dalam kegiatan pengembangan masyarakat pada umumnya, dengan yang memfokuskan pada pengembangan teknologi tepat guna, diantaranya TSHE.

2. METODOLOGI

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam studi ini adalah wawancara, observasi, dan pencatatan. Wawancara digunakan untuk memperoleh data primer dari responden terkait pemanfaatan dan inovasi tungku, baik yang dilakukan oleh pengguna maupun agen pengembang masyarakat seperti Yayasan Dian Desa. Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terkait sosialisasi, promosi, penggunaan, dan inovasi tungku, baik yang dilakukan oleh pengguna, maupun yang dilakukan

24Sarwani, 2012. UKM dituntut kreatif penuhi keinginan pasar global.

144

oleh produsen tungku. Data sekunder diperoleh dari berbagai majalah ilmiah, jurnal, dan laporan yang dikeluarkan oleh institusi terkait dengan tungku.

Analisis dilakukan secara deskriptif. Beberapa aspek terkait difusi dan adopsi TSHE yang telah diperoleh melalui survei, studi pustaka, dan wawancara di lapangan baik dengan pengguna maupun dengan pakar tungku dideskripsikan, antara lain meliputi komunikasi, difusi, dan cara adopsi tungku, serta mengidentifikasi dampak implementasi program tersebut terhadap kehidupan masyarakat. Analisis deskriptif juga dilakukan untuk menjelaskan kondisi atau situasi aktual dari TSHE di lokasi terpilih.

3. PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (TSHE)

TSHE di Kokap, Kulon Progo pertama kali diperkenalkan oleh Yayasan Dian Desa untuk komunitas penghasil gula merah. TSHE merupakan penyempurnaan dari tungku tradisional yang ada di masyarakat. Pada tahun 1990, Yayasan Dian Desa melakukan inovasi tungku dengan mengembangkan program TSHE. Kegiatan TSHE ini dikembangkan di desa-desa yang masih menggunakan tungku tradisional sebagai kompor/alat untuk memasak. Tungku tradisional terdiri dari tiga lubang, menghasilkan banyak asap dalam ruangan, tidak efisien atau boros bahan bakar kayu, dan masih memiliki celah di lubang untuk memasak sehingga panas api tungku dapat keluar dan proses pemasakan kurang sempurna serta memakan banyak waktu dalam memasak.

Program TSHE adalah program kegiatan tungku yang sehat, bersih, dan hemat energi untuk masyarakat. TSHE adalah inovasi dari tungku tradisional yang memiliki kelebihan lebih hemat energi dan efisien dalam penggunaan bahan bakar. Tungku ini memiliki penutup celah pada lubang, sehingga panas tidak akan keluar dan proses pemasakan lebih cepat. Selain itu, tungku ini membutuhkan kayu bakar lebih sedikit dibandingkan tungku tradisional dan lebih bersih karena memiliki cerobong asap sendiri yang dibangun ke atas atap sehingga asap yang dihasilkan langsung dibuang keluar ruangan. Tungku tradisional yang telah diimprovisasiantara lain (Majalah Tungku Indonesia, 2009):

a. Tungku SAE adalah tungku yang memiliki dua lubang masak, yang fungsinya untuk memanfaatkan sisa panas dari lubang pertama.

b. Tungku Arang (Anglo Supra dan Anglo Bangkok) merupakan tungku arang yang berasal dari Thailand dan mampu menghemat bahan bakar sampai 50% dan juga waktu memasak lebih cepat dibandingkan dengan anglo tradisional.

c. Tungku Tasir Satu Lubang atau Tungku Tasir Improved (TSHE) adalah tungku yang dibuat dari tanah dan pasir (tasir) dengan tiga lubang berjajar, tidak bercerobong, tanpa sarangan dan baffle/lidah.

d. TSHE Multi Pot/lebih dari satu lubang masak merupakan penyempurnaan dari tungku tanah liat multi pot/lubang yang sudah ada sejak dahulu.

e. Tungku Liner Gerabah (Tungku Jolentho) adalah tungku yang terbuat dari gerabah dan terpisah (knock-down) dalam tiga bagian yang disambungkan dengan dua buah pipa/tunel/lorong yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kinerja tungku tasir

improved (TSHE) yang selama ini sudah dikembangkan.

f. Tungku Gasifikasi “Makunda’ atau EIGAS 2 yaitu tungku yang berbahan stainless steel

dengan model satu lubang memasak, memiliki tingkat efisiensi tinggi.

Pada awalnya, tungku yang dikembangkan oleh Yayasan Dian Desa adalah tungku yang terbuat dari tanah liat (gerabah). Namun, karena membutuhkan waktu yang banyak dalam pembuatannya (proses mencetak dilakukan dengan tangan sehingga memakan banyak waktu), juga bahannya yang mudah pecah tidak bertahan lama akhirnya bahan baku tanah liat diganti dengan semen. Bahan baku semen lebih tahan lama, serta pembuatannya lebih mudah dan cepat karena dapat dicetak menggunakan cetakan. Pada akhirnya saat ini tungku hemat energi dengan semen inilah yang dikembangkan terutama untuk Pedukuhan Gunungrejo Kelurahan Hargorejo.

145

Proses penyebaran TSHE dilakukan oleh Yayasan Dian Desa dengan kerja sama beberapa LSM dan individu pemerhati lingkungan. Kegiatan yang dilakukan meliputi:

(1) Sosialisasi dan promosi kegiatan TSHE serta kegiatan dapur sehat melalui poster