• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Lelang Eksekusi Harta Pailit PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit)

2.5. Penemuan dan Analisa Masalah

2.5.1. Studi Kasus Lelang Eksekusi Harta Pailit PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit)

Kasus ini bermulai dari permohonan pailit oleh PT Namyang Chemical Indonesia sebagai Pemohon Pailit dengan PT Truba Raya Trading sebagai Termohon Pailit yang mana dalam putusannya Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor : 25/Pailit/2007/PN.JKT.PST tertanggal 13 Juni 2007 mengabulkan permohonan Pemohon seluruhnya. Adapun dasar dari permohonan pailit itu antara lain adanya mempunyai dua atau lebih Kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Dan putusan tersebut juga ditunjuk Sdr H. Zulfahmi, SH, M.Hum, Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas, dan ditunjuk Sdr Firoz Gaffar, SH, MH, sebagai Kurator.

Kurator pada tanggal 25 Juni 2007 melakukan pengumuman pailit dan undangan rapat kreditur pertama di dua (2) surat kabar harian yaitu Harian Kompas dan Bisnis Indonesia. Rapat kreditur pertama akan diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 9 Juli 2007 jam 10.00 WIB, bertempat di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada No 17, Jakarta Pusat. Yang mana para kreditur diminta menyampaikan tagihan dengan bukti yang cukup pada setiap hari dan jam kerja kepada Kurator. Pada pengumuman tersebut juga disebutkan batas akhir pengajuan tagihan dan verifikasi pajak sampai dengan hari Senin, tanggal 23 Juli 2007 jam 15.00 WIB di mana Rapat Kreditur untuk pencocokan piutang akan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 6 Agustus 2007 jam 09.00 WIB bertempat di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kemudian Kurator melakukan pengumpulan harta kekayaan (aset) PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit). Pada tanggal tanggal 18 Agustus 2007 Kurator mengeluarkan Daftar Piutang Para Kreditur PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) yang Diakui Tetap, yang diketahui oleh Hakim Pengawas dan Panitera Pengganti. Isi dari daftar tersebut menguraikan jumlah piutang yang diakui tetap, jumlah piutang diistimewakan yang diakui tetap, jumlah piutang separatis yang diakui tetap dan jumlah piutang konkuren yang diakui tetap dan suara. Daftar ini dibuat oleh Kurator untuk memenuhi ketentuan pasal 126 ayat

(1) UUK. Adapun harta kekayaan dari PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) adalah berupa barang bergerak dan tanah berikut bangunannya. Tanah dan bangunannya tersebut terdiri dari sertipikat :

 Hak Guna Bangunan Nomor 12, yang terletak di Desa Teluk Pinang, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, dikenal dengan Jalan Raya Sukabumi Km 5, dengan luas tanah 48.250 m2, dengan Surat Ukur Nomor 61/1981 tanggal 13 Juli 1981, dengan jatuh tempo haknya pada tanggal 12 Agustus 2021, atas nama PT Tri Usaha Bhakti, berkedudukan di Jakarta, serta dibebani dengan Hipotik Pertama, dengan pemegang Hipotik adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) berkedudukan di Jakarta (selanjutnya disebut Pabrik).

 Hak Guna Bangunan Nomor 17, yang terletak di Desa Ciawi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, dikenal dengan Jalan Raya Sukabumi Km 1, dengan luas tanah 7.250 m2, dengan Surat Ukur Nomor 15.017/1995 tanggal 24 Agustus 1995, dengan jatuh tempo haknya pada tanggal 12 Agustus 2021, atas nama PT Tri Usaha Bhakti, berkedudukan di Jakarta, serta dibebani dengan Hak Tanggungan Peringkat Pertama, dengan pemegang Hak Tanggungan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) berkedudukan di Jakarta (selanjutnya disebut Mess).

 Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun Nomor 33/IX/1, yang terletak di Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Kotamadya Jakarta Utara, Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, nama lokasi Wisma SMR Nomor 04, Lantai VIII, Blok I, Jalan Yos Sudarso Kavling 89, Hak atas tanah bersama Hak Guna Bangunan Nomor 2533, berakhir tanggal 20-11-2014, Surat Ukur Nomor 6150/1994 tanggal 27-12-1994, Ijin Layak Huni tanggal 10-08-1995 Nomor 4802/IPB/95, Gambar Denah tanggal 11 Oktober 1996, Nomor 307/1996, luas/ tipe 192,88 m2, atas nama Perseroan Terbatas PT Truba Raya Trading, berkedudukan di Jakarta, serta dibebani dengan Hak Tanggungan Peringkat Pertama, dengan pemegang Hak Tanggungan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) berkedudukan di Jakarta (selanjutnya disebut Kantor SMR).

Setelah aset PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) terdata dan dikuasai secara penuh, Kurator meminta izin jual melalui lelang kepada Hakim Pengawas,

meskipun tidak ada kewajiban menurut ketentuan UUK. Hal ini dilakukan karena dalam prakteknya, pihak KPKNL mempersyaratkan dilampirkannya Penetapan Hakim Pengawas untuk menjual, meskipun tidak diwajibkan baik menurut Pasal 6 Peraturan Menteri Keuangan No 40/PMK.07/2006 tanggal 30 Mei 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang (selanjutnya disebut Permenkeu) maupun Pasal 6 ayat (4) Peraturan Dirjen.

Setelah mendapatkan izin jual, Kurator mengajukan permohonan kepada Hakim Pengawas agar menetapkan Penilai atas semua aset PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) yang akan dilelang, sehingga Penilai tersebut disumpah oleh Hakim Pengawas. Dalam hal ini, Kurator mengusulkan Penilai Independen yang memiliki SIUPP (Surat Izin Perusahaan Jasa Penilai) dan terdaftar di Departemen Keuangan Republik Indonesia. Usulan ini diajukan karena perkiraan harga salah-satu aset PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) yakni pabrik adalah diatas Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah), sehingga harus menggunakan Penilai Independen, sesuai dengan ketentuan pasal 29 ayat (3) Permenkeu. Meskipun aset lain PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) yakni mess dan ruang kantor yang diperkirakan berharga di bawah Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah), sebetulnya cukup dinilai oleh Penilai Internal saja, sesuai pasal 29 ayat (4) Permenkeu. Laporan Penilai inilah yang nantinya menjadi dasar bagi Kurator dalam menetapkan Harga Limit.

Pada tanggal 3 Desember 2007 dan tanggal 19 Desember 2007 Kurator telah melakukan penilaian atas harta kekayaan PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) yang berupa pabrik dan mess serta kantor SMR yang dilakukan oleh Penilai Independen, dengan nilai :

 Untuk Pabrik Nilai Pasar Rp 43.320.050.000,-Nilai Likuidasi Rp 25.191.700.000,-NJOP 2008 Rp 41.412.100.000,- Untuk Mess Nilai Pasar Rp 4.185.250.000,-Nilai Likuidasi Rp 2.661.200.000,-NJOP 2008 Rp 4.815.500.000,- Untuk Kantor SMR

Nilai Pasar Rp 1.250.000.000,-Nilai Likuidasi Rp 937.500.000,-NJOP 2008 Rp

1.289.255.000,-Tujuan dilakukan penilaian atas harta kekayaan dari PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) oleh Kurator adalah untuk menentukan Harga Limit untuk barang yang akan dilelang, karena untuk harta pailit harus penjualannya melalui lelang (untuk memenuhi ketentuan UUK). Memang Harga Limit dalam lelang eksekusi dapat ditetapkan serendah-rendahnya sama dengan Nilai Likuidasi (Forced Sale Value), sesuai pasal 29 ayat (5) Permenkeu. Kurator PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) berusaha dalam pelaksanaan setiap lelang menetapkan Harga Limit di atas Nilai Likuidasi. Hal ini dilakukan dalam rangka mempertanggung jawabkan tugas pemberesan harta pailit (secara profesional), sesuai pasal 69 UUK, termasuk kepada Kreditor yang mengaharapkan hasil lelang dengan harga yang maksimal.

Untuk meyakinkan kembali, Kurator dengan persetujuan Hakim Pengawas melakukan penilaian kembali atas harta kekayaan PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) yang dilakukan oleh penilai independen pada tanggal 26 Januari 2008 dan tanggal 18 Maret 2008, adapun hasilnya adalah :

 Untuk Pabrik Nilai Pasar Rp 40.947.250.000,-Nilai Likuidasi Rp 23.145.600.000,- Untuk Mess Nilai Pasar Rp 3.907.700.000,-Nilai Likuidasi Rp 2.469.450.000,- Untuk Kantor SMR Nilai Pasar Rp 1.200.000.000,-Nilai Likuidasi Rp

780.000.000,-Penurunan ini terjadi karena penyusutan yang semakin bertambah.

Berbekal Penetapan Hakim Pengawas dan Laporan Penilai, Kurator PT Truba Raya Trading mengajukan permohonan lelang ke KPKNL sesuai letak aset yang akan dilelang. Terhadap pabrik dan mess berada yang berada di Kabupaten Bogor, maka diajukan ke KPKNL Bogor, sedangkan ruang kantor yang berada di Jakarta Utara, maka diajukan ke KPKNL Jakarta, dalam hal ini KPKNL Jakarta

II. Dalam hal ini, surat permohonan lelang diajukan dengan dilengkapi dokumen sesuai pasal 6 ayat (4) Peraturan Dirjen, yakni salinan putusan pailit, salinan daftar harta pailit, surat pernyataan Kurator untuk bertanggungjawab atas setiap tuntutan, salinan bukti kepemilikan aset. Dokumen tersebut harus dilegalisir sesuai aslinya, sesuai Pasal 7 Peraturan Dirjen. Selain dokumen tersebut, Kurator PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) juga harus melampirkan Surat Keterangan Tanah (SKT) yang diperoleh dari kantor pertanahan setempat, sesuai pasal 12 Permenkeu. Berdasarkan permohonan dan dokumen ini, KPKNL terkait mengeluarkan Penetapan Lelang yang mewajibkan Kurator PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) melakukan Pengumuman Lelang yang memuat di antaranya adalah Harga Limit, sesuai pasal 20 Permenkeu.

Hal tersebut di atas diajukan oleh Kurator dengan surat permohonan lelang pada tanggal 17 Januari 2008 kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Bogor. Kemudian Kurator melakukan pengumuman Lelang Eksekusi Pailit Kedua PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) di Selebaran tertanggal 21 Januari 2008 dan di surat kabar harian Warta Kota tertanggal 6 Februari 2008, yang isinya mengenai barang yang akan dilelang (dijual dimuka umum) berupa pabrik dan mess, dengan harga limit untuk pabrik sebesar Rp 25.200.000.000,- dan untuk mess sebesar Rp 2.700.000.000,-.yang akan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2008 pukul 08.00 WIB bertempat di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Bogor, dilengkapi dengan syarat lelang, yaitu

 Penawaran secara lisan dengan harga naik-naik;

 Peserta lelang harus menyetorkan uang jaminan paling lambat 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan lelang;

 Uang jaminan akan diperhitungkan dengan harga pembelian jika penawarannya ditunjuk sebagai pembeli/pemenang lelang, dan jika bukan sebagai pembeli/ pemenang lelang, maka uang tersebut akan dikembalikan pada waktu itu juga tanpa potongan apapun;

 Peserta lelang yang ditunjuk sebagai pembeli/pemenang lelang, pelunasan pembayaran harga lelang selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah pelaksanaan lelang;

 Bagi peminat dapat melihat objek lelang dilokasi atau menghubungi Kurator atau KPKNL.

Dalam melakukan penjualan secara lelang ini, Kurator sebelumnya telah mendapatkan Penetapan dari Hakim Pengawas, yaitu Nomor 04/PKPU/2007/ PN.NIAGA.JKT.PST, Nomor 60/PAILIT/2007/PN.NIAGA.JKT.PST tertanggal 19 Desember 2007 yang dasar pertimbangan penetapannya antara lain adalah :  Mengabulkan permohonan Kurator;

 Menunjuk Kantor Pelayanan Kekayaan Negara (KPKNL) Bogor, Jakarta II dan Jakarta IV sebagai Balai Lelang yang akan melakukan lelang dimuka umum atas harta pailit PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit)

Pada saat pelaksanaan lelang yaitu pada tanggal 21 Februari 2008 untuk pabrik ternyata tidak ada seorang pun yang melakukan penawaran ("TAP") dan Pejabat Lelang Kelas I KPKNL Bogor mengeluarkan Salinan Risalah Lelang Nomor : 38/2008 tertanggal 21 Februari 2008. Sedangkan untuk mess ternyata lelang dibatalkan karena diikuti oleh 1 (satu) peserta dan Pejabat Lelang Kelas I KPKNL Bogor mengeluarkan Surat Pernyataan Pelaksanaan Lelang Eksekusi Kepailitan Tanggal 21 Februari 2008, tertanggal 22 Februari 2008.

Untuk ruang kantor SMR, Kurator juga telah melalukan permohonan lelang pada tanggal 21 Januari 2008 kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta II. Kurator melakukan pengumuman Lelang Eksekusi Pailit Kedua PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) di Selebaran tertanggal 4 Februari 2008 dan di surat kabar harian Warta Kota tertanggal 20 Februari 2008, yang isinya mengenai barang yang akan dilelang (dijual dimuka umum) berupa ruang kantor, dengan harga limit sebesar Rp 975.000.000,- .yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2008 pukul 11.00 WIB bertempat di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta II, dilengkapi dengan syarat lelang, yaitu

 Penawaran secara lisan dengan harga naik-naik;

 Peserta lelang harus menyetorkan uang jaminan paling lambat 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan lelang;

 Uang jaminan akan diperhitungkan dengan harga pembelian jika penawarannya ditunjuk sebagai pembeli/pemenang lelang, dan jika bukan

sebagai pembeli/ pemenang lelang, maka uang tersebut akan dikembalikan pada waktu itu juga tanpa potongan apapun;

 Peserta lelang yang ditunjuk sebagai pembeli/pemenang lelang, pelunasan pembayaran harga lelang selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah pelaksanaan lelang;

 Bagi peminat dapat melihat objek lelang dilokasi atau menghubungi Kurator atau KPKNL.

Dalam melakukan penjualan secara lelang ini, Kurator sebelumnya telah mendapatkan Penetapan dari Hakim Pengawas, yaitu Nomor 04/PKPU/2007/ PN.NIAGA.JKT.PST, Nomor 60/PAILIT/2007/PN.NIAGA.JKT.PST tertanggal 19 Desember 2007.

Pada saat pelaksanaan lelang yaitu pada tanggal 6 Maret 2008 untuk ruang kantor SMR ternyata tidak ada seorang pun yang melakukan penawaran ("TAP") dan Pejabat Lelang Kelas I KPKNL Jakarta II mengeluarkan Salinan Risalah Lelang Nomor : 13/2008 tertanggal 6 Maret 2008.

Dikarenakan pada pelaksanaan lelang yang pertama tidak terlaksana, yaitu tidak ada seorangpun yang melakukan penawaran ("TAP") untuk pabrik dan ruang kantor SMR, dan dibatalkan karena pesertanya 1 (satu) orang untuk mess; maka Kurator melakukan Lelang Kedua yaitu untuk pabrik dan mess pada tanggal 11 Juni 2008 yang diumukan melalui Selebaran dan surat kabar harian Sinar Harapan tertanggal 28 Mei 2008, dengan hasil tidak ada seorangpun yang melakukan penawaran ("TAP") padahal harga limit telah diturunkan oleh Kurator, karena hasil penilaian dari perusahaan penilai yang mana penurunan itu terjadi karena terjadinya penyusutan yang semakin bertambah.

Kurator pada tanggal 9 Juli 2008 merencanakan lelang ulang atas harta pailit PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) untuk pabrik dan mess, yaitu dengan pengumuman di surat kabar harian Sinar Harapan tetanggal 2 Juli 2008, yang pelelangannya akan dilaksanakan di KPKNL Bogor. Pelelangan ulang tersebut telah mendapat izin dari Hakim Pengawas berdasarkan Penetapan Nomor 25/PAILIT/2007/PN.NIAGA.JKT.PST tertanggal 19 Juni 2008 yang dasar pertimbangan penetapannya antara lain adalah :

 Menunjuk Kantor Pelayanan Kekayaan Negara (KPKNL) Bogor, Jakarta II dan Jakarta IV sebagai Balai Lelang yang akan melakukan lelang dimuka umum atas harta pailit PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit)

 Membebankan segala biaya untuk keperluan tersebut dibebankan pada harta pailit;

 Menentukan harga jual tidak boleh kurang dari harga taksiran appraisal dan setelah penjualan selesai dilakukan agar melaporkan kepada Hakim Pengawas.

Harga limit untuk pelelangan ulang ini telah diturunkan lagi menjadi Rp 23.145.000.000,- untuk pabrik dan Rp 2.469.000.000,- untuk mess. Harga ini ditetapkan berdasarkan penilaian terakhir dari perusahaan penilai independen.

Pada tanggal pelelangan ulang tersebut terdapat masing-masing dua orang penawar barang lelang, dan seorang diantaranya telah melakukan penawaran yang telah melampaui harga limit, sedangkan penawar yang lainnya telah mengundurkan diri. Jadi oleh Pejabat Lelang telah ditetapkan seorang pemenang untuk pabrik dan mess. Hal tersebut terlihat dari Salinan Risalah Lelang Nomor 276/2008 tertanggal 9 Juli 2008, yang dibuat dihadapan Pejabat Lelang Kelas I pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Bogor. Pelelangan ulang ini dilakukan dengan cara penawaran lisan dengan harga naik-naik. Dalam penawaran lelang ini seorang Penawar lelang telah melampaui harga limit yaitu untuk pabrik Rp 23.200.000.000,- dan untuk mess Rp 2.470.500.000,-kepada penawar lelang yang telah melampaui batas harga limit ditetapkan sebagai pemenang lelang. Disamping Risalah Lelang juga terdapat Laporan Realisasi Pelaksanaan Lelang, yang mana dalam tabel tersebut dengan jelas terlihat ada kolom Penerimaan, yang salah satunya adalah Penyetoran/ Pembayaran/ Tunggakan. Dari kolom tersebut terlihat jumlah berapa yang harus diterima untuk

Penerimaan Uang Hasil Lelang

 Harga Pokok Barang yang Terjual : Dengan Tanggungan Pemerintah, Diluar Tanggungan Pemerintah

 Harga Pokok Barang yang Ditahan

 Bea Lelang : Pembeli, Penjual, Ditahan, Pembatalan  Penerimaan Jasa Lainnya

 Biaya Adminstrasi  Uang Miskin  PPh Pasal 25

 Jumlah yang seharusnya diterima dari Pembeli dan atau Penjual Penyetoran / Pembayaran / Tunggakan

 Pokok ke Kas Negara  Hasil Bersih kepada Penjual

 Bea Lelang : Pembeli, Penjual, Ditahan, Pembatalan  Pokok Lelang, diluar Tanggungan Pemerintah  Penerimaan Jasa Lainnya

 Biaya Administrasi  Uang Miskin

 Perurugi setelah PPh Pasal 21  PPh Pasal 21

 PPh Pasal 25

 Jumlah Penyetoran / Pembayaran

 Jumlah Harga Limit Barang yang Terjual

Dari Laporan Realisasi Pelaksanaan Lelang terlihat bahwa Penjual dikenakan Bea Lelang sebesar 1% (satu persen) dari jumlah yang diterima dari Pembeli, dan dikenakan PPh Pasal 25 sebesar 5% (lima persen) dari harga pokok barang yang terjual.

Untuk ruang kantor SMR telah dilakukan lelang ulang pada tanggal 24 April 2009 sebagai ternyata dalam Pengumuman Lelang Ulang Kedua Eksekusi Harta Pailit PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) pada tanggal 9 April 2009 di surat kabar harian Warta Kota dan berdasarkan surat penetapan hari dan tanggal lelang dari KPKNL Jakarta II. Pelelangan ulang ini dilakukan dengan cara penawaran lisan dengan harga naik-naik. Pada tanggal pelelangan ulang tersebut terdapat tiga orang penawar barang lelang, dan dua diantaranya telah melakukan penawaran yang telah melampaui harga limit, yaitu sebesar Rp 785.000.000,-sedangkan penawar yang lainnya tidak melakukan penawaran. Dari dua peserta lelang,i oleh Pejabat Lelang telah ditetapkan seorang pemenang untuk ruang

kantor SMR karena penawar lelang tersebut melakukan penawaran tertinggi yaitu sebesar Rp 950.000.0000,-. Hal tersebut terlihat dari Salinan Risalah Lelang Nomor 42/2009 tertanggal 24 April 2009, yang dibuat dihadapan Pejabat Lelang Kelas I pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta II. Pada setiap lelang atas harta kekayaan (aset) PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) berlangsung, penawaran lelang dilakukan oleh Peserta Lelang secara lisan semakin meningkat, sesuai pasal 35 ayat (1) Permenkeu. Harga Lelang bersifat eksklusif, yakni sama dengan Pokok Lelang namun belum termasuk Bea Lelang Pembeli. Bila harga telah mencapai harga tertinggi, Pejabat Lelang mensahkannya sebagai Pembeli. Pembeli kemudian membayar Harga Lelang tidak melebihi waktu 3 (tiga) hari, dan setelah itu pihak KPKNL meneyetorkan Hasil Bersih Lelang kepada Kurator PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) dalam 3 (tiga) hari sejak pembayaran diterima KPKNL. Dalam hal ini, KPKNL sudah membayar Bea Lelang dan Pajak Penghasilan (PPh) yang menjadi kewajiban Kurator sebelumnya.

Risalah Lelang dibuat oleh Pejabat Lelang setelah lelang berlangsung, sesuai pasal 53 ayat (1) Permenkeu. Penjual memperoleh Salinan Risalah Lelang. Sedangkan Pembeli memperoleh Kutipan Risalah Lelang yang berlaku sebagai Akta Jual-Beli untuk kepentingan balik-nama aset yang telah dibelinya, sesuai pasal 61 ayat (2) Permenkeu. Namun Kutipan Risalah Lelang baru dapat diperoleh Pembeli setelah Pembeli menyerahkan bukti pembayaran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan juga bukti pelunasan Pajak Bumi Bangunan sampai tahun berjalan atas aset yang dibelinya. Penyerahan kedua dokumen ini dalam prakteknya, jauh lebih cepat dari ketentuan pasal 32 Peraturan Dirjen, yakni maksimal 10 (sepuluh) hari setelah lelang untuk Salinan dan maksimal 4 (empat) hari setelah bukti setor BPHTB diterima. Kelanjutannya, Kurator segera menyerahkan dokumen kepemilkan aset yang asli kepada Pembeli, tidak lebih dari 1 (satu) hari sejak Pembeli memperlihatkan bukti pelunasan seluruh kewajibannya, sesuai pasal 52 ayat (2).

Uang hasil lelang yang telah diterima Kurator tidak langsung dibagikan kepada Kreditor. Kurator PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) harus membuat Daftar Pembagian untuk dimintakan persetujuan Hakim Pengawas, sesuai pasal 189 ayat (1) UUK, dalam bentuk Penetapan Daftar Pembagian. Di dalamnya

dimuat penerimaan dan pengeluaran, termasuk upah (fee) untuk Kurator. Penetapan memuat kewajiban Kurator mengumumkan penyediaan Daftar Pembagian di kepaniteraan dan tenggang-waktu penyediaannya dalam surat kabar, sesuai pasal 192 UUK. Bila dalam jangka waktu ini tidak ada keberatan dari Kreditor, maka Kurator membagikan uang hasil lelang. Setelah pembagian, maka Daftar Pembagian memperoleh kekuatan hukum yang mengikat, maka kepailitan terhadap Debitor berakhir, sesuai pasal 204 UUK. Ini berarti Kreditor memperoleh kembali hak eksekusi atas piutang Debitor yang belum terbayar. Kurator pun wajib mengumumkan berakhirnya kepailitan ini dalam surat kabar dan Berita Negara Republik Indonesia dan mempertanggungjawabkan pemberesan yang telah dilakukannya kepada Hakim Pengawas dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah kepailitan berakhir, sesuai Pasal 202 UUK.

Terhitung setahun lebih sejak putusan pailit pada 18 Juni 2007, Kurator PT Truba Raya Trading (Dalam Pailit) telah berhasil melelang dua aset utama, yaitu pabrik dan mess. Sedangkan aset ruang kantor baru berhasil dilelang setelah hampir dua tahun. Lelang sendiri telah dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali untuk pabrik dan mess, dan sebanyak 2 (dua) kali untuk ruang kantor.

2.5.2. Studi Kasus Penjualan Di bawah Tangan Harta Pailit PT Pulung

Dokumen terkait