PENDINGIN 2 PINTU DISPENSER HOT/COLD
IV.3.5 Studi Sistem Utilitas
Sistem Distribusi Air Bersih
Sumber air bersih pada lingkungan terminal penumpang Pelabuhan Tanjung Kendal adalah dari pasokan PDAM dan juge bersumber artetis sesuai kondisi eksisting. Sistem pendistribusian air akan menggunakanDown Feed Sistem.
Pada sistem air dai sumber akan di tampun pada ruang ground tank. Ruang ground tank adalah ruang penampung air di buat dari beton yag ukuranya di sesuaikan berdasarkan hitungan kebutuhan. Setalah itu air akan di pompa ke tandon atas dengan mesin pompa yang bertenaga besar. sebelum di distribusikan keseluruh bangunan dengan mengandalkan gaya gravitasi.
Gambar IV.12 Down Feed System Sumber : doc. Google
Kebutuhan Air untuk gedung terminal pelabuhan Tanjung Kendal adalah sebagai berikut :
Jumlah Penghungi :
Tabel IV.7 Jumlah Pelaku
Jenis Pelaku Jumlah Pelaku
Penumpang / Pengantar 2000 Pengelola/ Petugas
Pelabuhan 120
Total 2120
Tabel IV.8 Kenutuhan Air Berdasrkan Peruntukan Bangunan PERUNTUKAN BANGUNAN PEMAKAIANAIR BERSIH SATUAN
Apartment 250 Liter/ Penghuni/Hari Rusun 100 Liter/ Penghuni/Hari Asrama 120 Liter/ Penghuni/Hari Klinik 3 Liter/ Penghuni/Hari Rumah Sakit Umum 425 Liter/ Penghuni/Hari Ruko / Kantor 50 Liter/ Penghuni/Hari Pabrik/ Industri 50 Liter/ Penghuni/Hari Stasiun Terminal 3 Liter/ Penghuni/Hari Bandara 3 Liter/ Penghuni/Hari Restoran 15 Liter/ Penghuni/Hari Gedung Bioskop 10 Liter/ Penghuni/Hari Gedung Peribadatan 5 Liter/ Penghuni/Hari Gedung Pertemuan 25 Liter/ Penghuni/Hari Sumber : Pergub DKI Jakarta No. 122/ 2005
Maka Kebutuhan air perhari adalah sebagai berikut : Jumlah Pemakai x banyaknya pengguna air bersih dalam sehari (lihat Tabel)
Fungsi pelabuhan dianggap sama dengan bandara maka 2120 x 3 Liter = 6360 liter/ hari
Sistem Pencahayaan
Ruang Umum
Ruang umum merupakan ruang yang di gunakan oleh semua pihak baik dari penumpang, pengantar/ penjemput, maupun petugas pelabuhan. Penerangan diruangan ini direncanakan dengan intensitas setara dengan pencahayaan umum untuk interior dengan tingkat minimum sebesar 100-150 lux. Sumber penerangan utama pada siang hari menggunakan cahaya alam, sedangkan pada malam hari menggunakan lampu dengan cahaya putih alami (daylight).68
Jumlah lampu TL dengan intensitas 54 watt/ 4050 lumen yang di gunakan adalah 285 buah dan jumlah watt yang diperlukan pada ruang tersebut adalah 285 x 54 = 15.390 watt
Ruang Semi Steril
Pada bagian ini terdapat segala aktivitas persiapan keberangkatan penumpang seperti pemeriksaan penumpang, penanganan bagasi, dan lapor kehadiran penumpang. Penerangan menggunakan lampu dengan 68SNI, Fasilitas dan Peralatan di Pelabuhan untuk Pelaayanan Kapal Pesiar dan
cahaya putih alami (daylight) dengan intensitas setara dengan pencahayaan setingkat dengan pencahayaan ruang untuk pekerjaan rutin administrasi sebesar 250 lux.69
Jumlah lampu Lampu Downlight 250 watt/ 18.740 lumen yang di butuhkan adalah 20 buah dan jumlah watt yang diperlukan pada ruang tersebut adalah 20 x 250 = 5000 watt
Ruang Steril
Ruang steril digunakan penumpang yang akan menaiki kapal, transit, dan yang baru turun dari kapal. Ruang steril biasa di sebut ruang tunggu keberangkatan dan ruang tunggu kedatangan. Penerangan menggunakan kombinasi cahaya alam dan lampu dengan intensitas setara dengan pencahayaan umum untuk interior dengan tingkat minimum sebesar 100-150 lux. Khusus untuk toilet menggunakan tingkat pencahayaan 50-100 lux dan smoking room tingkat pencahayaan 100-150 lux. 70
Jumlah lampu Lampu downlight Halogen 50 watt/ 3750 lumen yang di butuhkan adalah 257 buah dan jumlah watt yang diperlukan pada ruang tersebut adalah 257 x 125 = 32125 watt
69SNI, Fasilitas dan Peralatan di Pelabuhan untuk Pelaayanan Kapal Pesiar dan Penumpang, Badan Standar Nasional Indonesia hlm 19
Sistem Utilitas Supply Udara Bersih
Untuk ruang steril dan semi steril, tata udara di ruang tersebut digunakan sistem pengatur suhu (air conditioner system) dengan suhu udara maksimal 27°C dan kelembaban antara 50-80%. Untuk ruang umum, apabila di ruang umum tersebut dibuat anjungan pengantar/penjemput maka tata udara di ruang umum dirancang menggunakan aliran udara alami yang diatur menggunakan kisi-kisi atau pengaturan panel dinding dengan bukaan yang memadai untuk sirkulasi udara. Untuk ruang umum yang berupa hall tanpa sekat tidak diatur tata udara. Berikut ni bebrapa jenis ac yang dapat diaplikasikan ke dalam gedung terminal penumpang :
Standing Floor AC
Ac ini merupakan ac portabel yang mudah di pindah-pindah. Pemasanganya pun tidak perlu menggunakan tukang ac. Ac jenis ini cocok di untuk di tambahkan ke dalam area tunggu penumpang karena mudah dipindah-pindah sesuai kebutuhan71
http://www.hargaac.co.id/jenis-tipe-Gambar IV.13 Standing Floor AC Sumber : www.lg.com
Ceiling Cassette AC
AC Ceiling Cassetteini di pasang di plafond ruangan. Ac ini di gunakan pada ruang yang luas karena lebih cepat mendinginkan untuk ruang yang luas, ac ini cocok diaplikasikan ke area ruang tunggu kedatangan dan keberangkatan penumpang. Karena letaknya di plafon, maka ac ini akan terlihat menyatu pada ruangan.72
Gambar IV.14 Ceiling Cassette AC Sumber : www.daikinindia.com
AC Split
Ac split biasanya di tempatkan untuk ruangan yang tidak terlalu besar. Ac jenis ini nantinya akan di aplikasikan 72Author, Jenis dan Tipe Air Conditioner, diakses dari
http://www.hargaac.co.id/jenis-tipe-di ruang-ruang pengelola dan ruang yang bersifat privat lainya agar mudah diatur oleh pengguna ruangan. Area pengelola biasanya ac tidak harus beroprasi selama 24 jam.
Gambar IV.15 AC Split Sumber : 4bp.com
Manajemen Sampah
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 18 tahun 2008, yang dimaksud dengan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
Pengelolaan sampah sangat penting dimana bangunan publik pasti akan menghasilkan banyak sampah. Banyaknya sampah yang menumpuk akan menimbulkan berbagai masalah seperti kesehatan dan bau tak sedap. Pemisahan sampah menjadi kunci utama pengelolaan sampah. Sampah di pisah berdasarkan jenisnya.
Sampah dari tiap-tiap ruang diambil oleh petugas kebersihan. Setelah itu sampah dikumpulkan pada pos 1.
setelah sampah terkumpul di pos 1, kemudian sampah akhirnya diangkut menuju TPA.
Untuk pengelolaan air limbah, air sebelum di buang akan dioalh terlebih dahulu menggunakan pengolahan air terlebuh dahulu melaui sistem STP, dan untuk grey water akan diolah oleh grey water recyler. Sehingga bisa diapakai lagi untuk air penyiram wc, urinoir, dan tanaman.73
Skema IV.13 Pengolahan Limbah Terminal Penumpang
Sumber : Studi Pengelolaan Sampah Bandara Hasanudin
Koridor Penumpang
Jalur koridor merupakan jalur penghubung antara gedung terminal penumpang menuju ke dermaga ataupun sebaliknya. Jalur ini memnadu penumpang menuju kapal yang akan dinaiki sesuai boarding pass. Koridor ini di lengkapi dengan penutup atap agar calon penumpang tidak kepanasan dan kehujanan. Untuk siang hari digunakan
pencahayaan alami, dan untuk malam hari digunakan penerangan buatan denan kekuatan 100-150 lux.74
Berikut ini persyaratan teknis koridor :
a) Ukuran lebar koridor minumal 75cm, sebaiknya lebih dari 120cm.
b) Dilengkapi pagar pengaman di kedua sisinya c) Ketinggianhandrailminimum 110cm
d) Lantai terbuat dari bahan anti slip
e) Kemiringan koridor maksimum 12%, sebaiknya antara 5-8%
Sistem Pengumuman Publik
Siistem pengumuman pada gedung terminal penumpang harus di rancang dengan baik untuk operasional gedung terminal maupun dalam keadaan gawat darurat. Jumlah alat pengeras suara harus dalam jumlah yang cukup diletkkan di setiap bagian dari bangunan atau harus sesuai intensitas yang cukup. Sistem pengumuman publik harus bisa di tangkap dengan jelas oleh penumpang di gedung terminal.75
Berikut ini adalah tabel tingkat intensitas suara yang harus dipenuhi :
74SNI, Fasilitas dan Peralatan di Pelabuhan untuk Pelaayanan Kapal Pesiar dan Penumpang, Badan Standar Nasional Indonesia hlm 21
Tabel IV.9 Intensitas Suara Pengumuman Publik di Terminal Penumpang
Sumber : SNI Fasilitas dan peralatan di pelabuhan untuk pelayanan kapal pesiar dan penumpang internasional
Fire Fighting System
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.26/PRT/M/2008 tentang persyaratan sistem pengamanan kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan dijelaskan bahwa: Pengelolaan sistem pencegahan kebakaran adalah upaya mencegah terjadinya musibah kebakaran atau meluasnya area kebakaran ke ruangan lain, atau upaya pencegahanya meluasnya kebakaran ke gedung atau bangunan lainnya.
Berikut ini peralatan yang di gunakan untuk upaya pencegahan dan penanganan bahaya kebakaran :
Sprinkler System
Sistem ini menggunakan sistem dengan pipa berisi air bertekanan dengan head sprinkler diujung untuk menyemburkan air. Tekanan air di dalam pipa senantiasa selalu dijaga. Apabila tekanan menurun maka jockey pump
akan dengan otomatis menstabilkan tekanan air didalam pipa. Jika tekanan masih terus menurun, maka pompa elektrik akan bekerja menggantikan tugas jockey pump. Jika pompa elektrik kembali gagal menstabilkan tekanan, maka pompa disesl cadangan akan bekerja menstabilkan tekanan air di dalam pipa.76
Sprinkler
Gambar IV.16 Sprinkler System Scheme Sumber : www.bromindo.com
Sistem Hydrant dan Hydrant Pilar
Sistem ini pemipaanya mirip dengan sistem pemipaan yang ada di rumahan. Yang membedakan sistem hydrant dengan sistem pompa air biasa adalah pompa hydrant menggunakan pompa khusus hydrant. Rata-rata
https://www.bromindo.com/prinsip-pompa hydrant mampu menghasilkan kekuatan antara 9-10 bar keatas.77 Prinsip kerja pompa hydrant adalah sebagai berikut :
o Di perlukan tandon atau reservoir tank untuk menyimpan pasokan air yang cukup
o Fire hydrant pump yang meliputi diesel pump, electrical pump, dan jockey pump.
o Air yang berada di reservoir tank di pompa oleh fire hydranr pump selama minimal 30 menit sebelum akhirnya bisa di gunakan oleh pemadam kebakaran.
o Air yang telah dipompa dari reservoir tank akan mengalir ke fire house. Pada fire house dibutuhkan tambahan nozzle untuk memaksimalkan pancaran ke titik api.
Detektsi Kebakaran
Untuk mendeteksi kebakaran digunakan alat bernama smoke detctor. Smoke detector bekerja jika dipicu oleh adanya asap. Smoke detector di tempatkan pada daerah-daerah rawan kebakaran. Prinsip kerja alat ini adalah adanya pantulan cahaya dari lampu LED pada alat terhadap photodiode akibat asap, inilah yang membuat detektor bereaksi.
https://www.bromindo.com/prinsip-Gambar IV.17 Smoke Detector Sumber : Bromindo.com
Sistem Kelistrikan
Sumber daya listrik yang di gunakan pada gedung terminal penumpang pelabuhan ini akan mengandalkan suplai dari Perusahaan Listrik Negaara (PLN) dan sistem generator set sebagai cadangan. Tegangan yang di butuhkan oleh gedung terminal pelabuhan adalah tegangan rendah.
Listrik yang di hasilkan oleh PLN adalah listrik tegangan tinggi, maka harus diubah terlebih dahulu menjadi listrik bertegangaan rendah oleh trafo. Setalah diubah menjadi tegangan rendah, listrik akan di didtibusikan ke panel utama dan di teruskan ke sub panel sebelum akhirnya didistribusikan ke panel-panel peralatan.
Skema IV.14 Sistem Kelistrikan Gedung Sirkulasi Vertikal
Ramp
Fungsi ramp adalah selain untuk jalur troli bagasi, juga direncakan untuk memfasilitasi bagi pengguna berkebutuhan khsusus. Kemiringan sudut ramp maksimum adalah 8% atau dengan rasio tidak lebih dari 1:12. untuk lebar minimum ramp adalah 95 cm.
Lift / Elevator
Lift adalah salah satu alat transportasi vertikal untuk mengangkut orangbataupun barang. Lift umum dipasang untuk bangunan bertingkat 3 (tiga) atau lebih. Dalam perencanaan lift akan di gunakan pada area tunggu kedatangan dan area tunggu keberangkatan. Pada perhitungan jumlah penumpang, diproyeksikan gedung terminaal penumpang akan melayani sebanyak 1725 orang perhari. Pengguna lift pada bangunan gedung terminal diasumsikan adalah 3% dari seluruh jumlah
penumpang. Untuk melayani jumlah tersebut, maka dibutuhkn masing-masing 2 unit lift pada area ruang tunggu keberangkatan dan ruang tunggu kedatangan.
Eskalator
Eskalataor adalah tangga otomatis yang dignakan untuk memindahkan barang atau penumpang secara diagonal dari lantai atas ke lantai bawah atau sebaliknya.
Gambar IV.18 Tangga Berjalan
Sumber : /thangmaydaithiena.com
Tangga dan Tangga Darurat
Tangga digunakan oleh penumpang untuk berpindah antara satu lantai ke lantai yang lain secara diagonal. Lebar tangga minimum 60cm, lebih baik diatas 120cm. Tangga juga harus dilegkapi dengan handrail setinggi minimum 70cm. Tinggi tiap anak tangga tidak boleh melebihi 19cm. Sedangkan tangga darurat adalah tangga yang digunakan untuk mengevakuasi atau menyelamaatkan pengunjung dari bahaya. Letak tangga
darurat adalah berhubungn dengan bangunan paling luar bangunan agar memberikan akses langsung ke luar bangunan. Ruang tangga darurat hasrus selalu tertutup dan tahan terhadap api minimal selama 2 jam.