• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

4. Pembibitan untuk menghasilkan PS (parent stock)

2.6. Tinjauan Studi Terdahulu

2.6.1. Studi Terdahulu Mengenai Risiko

Penelitian Merina tahun 2004 mengenai analisis risiko menggunakan alat analisis pendapatan tunai dan analisis risiko. Berdasarkan nilai R/C rasio yang diperoleh sebesar 0,88 bahwa biaya tunai yang dikeluarkan perusahaan lebih besar dari penerimaan yang diterima sehingga perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 31.878.473. Hasil perhitungan analisis risiko menunjukkan bahwa nilai risiko usaha yang diperoleh sebesar Rp 45.549.095,56. Nilai tersebut menunjukkan bahwa risiko yang harus dihadapi perusahaan X setiap periode di masa yang akan datang sebesar Rp 45.549.095,56, cateris paribus.

Hal tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan analisis pendapatan tunai diketahui pendapatan tunai yang diterima perusahaan bervariasi pada setiap periode produksinya namun rata-rata pada setiap periode perusahaan untung.

Sedangkan berdasarkan analisis risiko menunjukkan bahwa perusahaan yang dikaji masih menghadapi risiko yang besar dan dengan menggunakan analisis regresi diperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi risiko yang sangat besar pada perusahaan tersebut adalah fluktuasi harga DOC, fluktuasi harga pakan, fluktuasi biaya obat, fluktuasi harga ayam, waktu penjualan dan fluktuasi mortalitas.

Penelitian Ramadhona tahun 2004 mengenai analisis investasi dengan pendekatan model ARCH-GARCH dan pendugaan harga saham dengan pendekatan model time series pada Perusahaan Agribisnis terpilih di PT. Bursa Efek Jakarta, menggunakan metode dengan model ARCH-GARCH untuk mendapatkan model peramalan dan Value at Risk (VAR) untuk mengukur tingkat risiko. Risiko yang dikaji pada penelitian ini adalah risiko investasi pada PT. BEJ

dengan memilih perusahaan rokok yang dijadikan sebagai tempat penelitian yaitu PT. Astra Agrolestari Tbk (AALI), PT. Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT.

Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Data yang digunakan merupakan data penutupan saham harian perusahaan agribisnis dari tanggal 1 Januari 2001 sampai 30 April 2004.

Dari hasil penerapan metode ARCH-GARCH didapatkan bahwa risiko yang ditanggung investor pada saham AALI sebesar 2,46 persen; GGRM sebesar 2,57 persen; INDF sebesar 8,75 persen dari total investasi yang ditanamkan.

Ramalan harga penutupan saham AALI dan INDF cenderung mengalami peningkatan. Hal ini memberikan kesempatan pada investor untuk mendapatkan capital gain. Sedangkan GGRM mengalami penurunan, hal ini menunjukkan bahwa pelaku bursa sebaiknya melepas sahamnya agar tidak mengalami capital loss karena akan mengalami kerugian.

Peneiltian Rauf tahun 2005 mengenai risiko, bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha ternak sapi perah di PT. X, mengetahui besarnya tingkat risiko yang diterima oleh perusahaan dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat risiko yang diterima oleh perusahaan. Berdasarkan hasil analisis evaluasi finansial, usaha ternak sapi perah dapat dikatakan layak karena dilihat dari kriteria NPV yang lebih besar dari nol, nilai BCR lebih dari satu dan nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga.

Hasil perhitungan NPV usaha peternakan sapi perah dikatakan layak karena nilai NPV yang diperoleh adalah sebesar Rp 751. 892. 074. Dari analisis BCR dihasilkan nilai sebesar 1,16, nilai BCR yang diperoleh lebih besar dari satu, yang berarti bahwa benefit atau manfaat yang diterima oleh usaha harus dapat

menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan. Sedangkan nilai IRR diperoleh hasil sebesar 25,94 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga yang akan menjadikan jumlah nilai sekarang dari penerimaan yang diterima sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran. Berdasarkan hasil analisis tingkat risiko menunjukan bahwa risiko usaha ternak sapi cukup tinggi dan akan menghadapi peluang merugi setiap bulan dengan nilai koefisien variasi sebesar 1,60.

Berdasarkan analisis regresi diperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi risiko yang sangat besar pada perusahaan adalah fluktuasi penerimaan susu, fluktuasi biaya pakan, dan fluktuasi penerimaan non susu.

Selanjutnya penelitian mengenai risiko dilakukan oleh Robi’ah tahun 2006 dengan menggunakan analisis risiko, analisis keputusan berisiko dan analisis deskriptif, dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen risiko dan mengetahui tingkat risiko yang dihadapi perusahaan serta menganalisis expected value yang diberikan oleh manajer dalam kondisi ketidakpastian.

Berdasarkan analisis deskriptif manajemen produksi diperusahaan telah dilaksanakan dengan baik. Sedangkan berdasarkan analisis risiko diperoleh tingkat risiko sebesar 1,3 sehingga tingkat risiko yang dihadapi perusahaan tinggi.

Hal ini disebabkan karena fluktuasi harga input (pakan dan DOC) dengan struktur pasar oligopoli, fluktuasi harga output, fluktuasi hasil produksi yang tergantung pada alam yang menyebabkan kondisi ketidakpastian yang tinggi sehingga risiko yang dihadapi tinggi. Dari hasil expected value perusahaan lebih baik menambah populasi broiler pada periode lebaran dan tidak mengurangi populasi broiler pada periode ajaran baru.

Penelitian Iskandar tahun 2006 mengenai analisis risiko investasi saham dianalisis dengan menggunakan model ARCH-GARCH untuk mendapatkan model peramalan dan Value at Risk (VAR) untuk mengukur tingkat risiko.

Penelitian dilakukan pada PT. BEJ dengan memilih perusahaan rokok yang dijadikan sebagai tempat penelitian yaitu PT. Gudang Garam (GGRM), PT.HM Sampoerna (HMSP) dan PT. Bentoel International Investama (RMBA). Risiko yang akan dikaji adalah risiko saham dengan adanya fluktuasi harga saham dari waktu ke waktu. Sedangkan data observasi berjumlah 1032 dari Januari 2002 sampai akhir Maret 2006.

Hasil yang diperoleh berdasarkan model ARCH-GARCH adalah tingkat risiko yang dimiliki oleh saham RMBA merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan perusahaan rokok lainnya. Hal ini disebabkan oleh kurang diminatinya saham tersebut oleh investor karena saham RMBA lebih banyak menghasilkan tingkat return yang negatif. Saham HMSP memiliki tingkat risiko yang terendah dibandingkan kedua saham rokok lainnya. Hal ini disebabkan oleh rendahnya nilai fluktuasi, karena harga saham HMSP sudah tidak liquid lagi di pasar sehingga pasar modal HMSP masih sangat potensial untuk meningkatkan jumlah saham beredar.

Tingkat risiko saham GGRM menempati urutan tertinggi kedua setelah saham RMBA karena saham dianggap sudah terlalu mahal oleh para investor sehingga investor cenderung irrasional dalam mengambil keputusan dalam berinvestasi pada GGRM. RMBA memiliki tingkat risiko yang terbesar dalam industri rokok namun memiliki tingkat return yang terbesar pula. Dilihat dari nilai expected return, RMBA memilik tingkat expected return yang terbesar dan

positif. Hal ini mengindikasikan saham RMBA merupakan alternatif investasi terbaik dalam industri rokok dikarenakan memiliki expected return yang terbesar dan positif dibandingkan saham HMSP dan GGRM.

Penelitian Fariyanti tahun 2008 mengenai risiko produksi dan harga kentang dan kubis dianalisis dengan menggunakan analisis risiko model GARCH (1,1) dan menghitung nilai varian. Berdasarkan analisis risiko dihasilkan bahwa risiko produksi kentang yang diindikasikan oleh fluktuasi produksi kentang yang disebabkan oleh risiko produksi pada musim sebelumnya dan penggunaan input, pupuk dan tenaga kerja menjadi faktor yang menimbulkan risiko produksi, sedangkan lahan, benih dan obat-obatan menjadi faktor yang mengurangi risiko produksi. Pada komoditas kubis, lahan dan obt-obatan menjadi faktor yang menimbulkan risiko, sementara benih, pupuk dan tenaga kerja menjadi faktor yang mengurangi risiko produksi.

Risiko produksi pada komoditas kentang lebih tinggi dibandingkan pada komoditas kubis sedangkan risiko harga produk pada komoditas kubis lebih tinggi dibandingkan komoditas kentang. Perilaku rumahtangga petani dengan adanya risiko produksi dan harga produk termasuk risk aversion dengan melakukan pengurangan penggunaan luas lahan garapan, benih, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja. Pengurangan tertinggi input, produksi, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga akibat peningkatan risiko produksi produksi dan harga produk serta upah pada kegiatan usahatani terdapat pada rumahtangga petani lahan sempit.

Demikian pula peningkatan penggunaan tenaga kerja off farm dan non farm yang paling rendah.

Dokumen terkait