Suara hati mengajak orang rela berkorban dan mengalahkan diri sendiri demi tujuan, alasan, atau prinsip yang lebih tinggi.
“Pengorbanan itu sesungguhnya berarti melepaskan sesuatu yang baik demi sesuatu yang lebih baik lagi. Kendati demikian, dalam benak orang yang melakukan pengorbanan, sesungguhnya tidak ada kerugian, dan hanya si pengamat yang melihat hal itu sebagai pengorbanan. Pengorbanan itu bisa mengambil banyak bentuk, sebagaimana dia dapat menampakkan diri dalam empat dimensi kehidupan kita: berkorban secara fisik dan ekonomis (tubuh); berupaya menumbuhkembangkan pikiran yang terbuka, selalu ingin tahu, dan membersihkan diri dari bermacam prasangka (pikiran); menunjukkan rasa hormat dan cinta mendalam terhadap sesama (hati); menundukkan kehendak diri kita pada kehendak yang lebih tinggi demi kebaikan yang lebih besar (jiwa)” (Covey, 210: 18).
Setiap novis yang mempersiapkan diri menjadi religius diharapkan bertahan dalam susah payah mencapai tujuan. Sekalipun menghadapi banyak tantangan, diharapkan dia tidak langsung menyerah kalah. Tantangan dapat berupa tawaran kenikmatan dunia yang tentunya sangat berlainan dengan pilihan hidup sebagai religius. Setiap orang pasti ingin hidup enak dan nyaman. Kepada seorang novis ditawarkan suatu hidup dalam kemiskinan, tanpa milik, kemurnian dan ketaatan yang kesemuanya ini ingin dihindari banyak orang. Menghidupi kemiskinan, kemurnian dan ketaatan pastilah membutuhkan pengorbanan. Seorang novis harus rela mengorbankan kebebasannya untuk memiliki barang-barang duniawi, mengorbankan keinginan pribadinya dan taat kepada persaudaraan.
Sekalipun sulit dan penuh pengorbanan, tetapi kalau novis mampu melihat nilai tertinggi yang mau dicapai, dia akan dengan sukacita dan gembira mengorbankan apa yang menjadi kesenangannya. Kalau novis memutuskan hidup
membiara demi tujuan dan alasan yang didasarkan pada suara hati, tentulah dia akan memperkuat motivasinya untuk lebih melihat hal lebih penting dan berguna bagi dirinya dan sesama (Covey, 2005: 131).
Miss Prym memilih mengorbankan impian dan kesempatannya untuk memperoleh kekayaan daripada harus melanggar perintah Allah. Miss Prym dengan tuntunan suara hatinya berani tampil di hadapan semua penduduk Viscos dan dengan tegas menentang keinginan penduduk Viscos untuk membunuh Berta. Meskipun di desanya dia hanyalah seorang yatim-piatu dan tidak diperhitungkan, dia berani menyatakan kebenaran. Sikap dan tindakan Miss Prym menyebabkan pertentangan dengan kepala desa Viscos dan penduduk Viscos, tetapi Miss Prym tidak mundur. Kepala desa menuduh Miss Prym gila tetapi Miss Prym tetap teguh dalam pendiriannya.
Miss Prym berani tampil di hadapan semua penduduk Viscos untuk menjelaskan pertemuannya dengan orang asing itu meskipun “Risiko yang diambilnya sangat besar” (Coelho, 2009: 99). Miss Prym melakukan hal yang tidak biasa meskipun dia hanyalah seorang yatim-piatu dan tidak diperhitungkan oleh penduduk Viscos. Keberaniannya membuat Miss Prym terancam kehilangan pekerjaannya sebagai pekerja bar (Coelho, 2009: 98-99). Padahal kelangsungan hidup Miss Prym tergantung kepada kebaikan pemilik hotel yang mempekerjakannya di bar.
Setelah Miss Prym menceritakan tawaran orang asing itu kepada penduduk Viscos, dia harus berhadapan dengan penduduk Viscos yang mulai memusuhinya, menuduhnya dengan berbagai tuduhan negatif yang menyebabkan Miss Prym
mengalami tekanan (Coelho, 2009: 123-124). Miss Prym merasa tidak mempunyai seorang pun tempatnya untuk mengeluh. Ada keinginan untuk lari dari kenyataan karena merasa tanggung jawabnya terlalu besar.
Miss Prym kadang menyalahkan diri sendiri, neneknya dan keyakinannya. Sementara itu orang-orang di Viscos sepakat kalau Miss Prymlah yang bersalah, bukan tawaran itu atau orang asing. Miss Prymlah dituduh menjadi penghasut (Coelho, 2009: 124). Kesediaan berkorban dengan keputusan yang telah diambil, membuat orang bersangkutan bertahan pada saat-saat sulit, tetap bergairah, bersemangat dan mempertahankan komitmen. Pengorbanan dijalankan dengan berpegang pada tuntutan suara hati.
Seorang novis yang pada umumnya masih berusia muda pastilah memiliki cita-cita, keinginan yang kadang bertentangan dengan kehidupannya sebagai novis. Kesadaran akan panggilan hidupnya sebagai abdi Kristus akan membuat dia rela megorbankan keinginan pribadinya demi cita-cita yang lebih luhur yaitu mengabdi Allah. Berkorban bukanlah hal mudah. Dibutuhkan perjuangan dan komitmen yang kuat. Maka novis perlu mengenal Kristus yang adalah mempelainya, mengenal dan mencintai-Nya di dalam hatinya.
Pengenalan dan cinta yang mendalam kepada Kristus Sang Mempelai akan membuat novis rela mengorbankan keinginan pribadinya demi relasi yang baik dengan mempelainya. Pengorbanan ini hanya bisa terjadi apabila seorang novis benar-benar mendengarkan suara hatinya dan menanggapinya dengan iman akan Kristus. Pengorbanan dipandang bukan sebagai sesuatu yang merugikan dan keterpaksaan, melainkan kerelaan dan kebebasan yang timbul dari suara hatinya,
sehingga pengorbanan itu dilandasi oleh iman akan Kristus. Mali dalam bukunya
Iman dalam Tindakan mengutip pendapat Bernhard Häring:
“Suara hati yang betul-betul kristiani didasarkan pada kebebasan dan kepercayaan yang kreatif yang melekat pada iman akan Kristus. Iman berarti penerimaan dengan gembira, bebas dan rendah hati akan dia yang diutus oleh Allah Bapa yang menjadi Jalan, Kehidupan, dan Kebenaran kita. Iman berarti kita menyerahkan diri secara total kepada Dia yang membimbing kita kepada Bapa. Iman juga berarti suatu pengalaman baru yang membebaskan manusia karena manusia secara bebas masuk ke dalam relasi yang intim dengan Allah” (Mali, 2009; 223).
Pengorbanan didukung oleh suara hati. Semakin seseorang mengenal Kristus, semakin dia memiliki iman dan keberanian untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan serta menyesuaikan keinginan dan keputusannya seturut kehendak Tuhan. Kehendak Kristus ini dikenal di dalam hati yang suci dan murni. Melaksanakan kehendak Tuhan menuntut kerelaan untuk mengorbankan keinginan dan kehendak sendiri serta kesetiaan dalam tugas perutusan (bdk. Yoh 15: 18-21).
Seorang novis dibina dan diarahkan untuk mengenal Kristus dan mengabdikan dirinya kepada Kristus. Oleh sebab itu novis harus mengenal mana kehendak Kristus dan mana kehendaknya sendiri sehingga dalam pengambilan keputusan novis dapat mengarahkan keputusannya sesuai dengan kehendak Kristus. Untuk melaksanakan semua ini novis perlu mendengarkan suara hatinya dan meyakininya sebagai kehendak Kristus, sebab “Suara hati dan keyakinan suara hati adalah sama karena kedua-duanya diterangi dan dibimbing oleh iman” (Mali, 2009: 224).
Yesus Kristus menerima perutusan dari Bapa-Nya dan seluruh hidup-Nya diarahkan kepada kehendak Bapa. Yesus setia kepada panggilan-Nya dengan mengorbankan hidup-Nya sehabis-habisnya di kayu salib demi cinta kepada Bapa dan manusia. Perjalanan Yesus adalah suatu perjuangan cinta dan pengorbanan yang berat. Dalam perjalanan itu Yesus juga pernah merasa berat, takut dan gentar, tetapi Yesus tidak mundur, melainkan memohon kekuatan dari Bapa-Nya. Yesus memohon agar Bapa-Nya mengambil cawan daripada-Nya, tetapi tetap menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya (bdk. Luk 42: 22). Karena cinta kepada Bapa dan kepada manusia Yesus rela mengorbankan diri-Nya dan Yesus menimba kekuatan dari Bapa-Nya dalam doa-doa-Nya kepada Bapa-Nya.
Seorang novis akan semakin berani dan rela berkorban apabila dia semakin mengenal kehendak Bapa dan senantiasa menjalin relasi yang erat dengan Kristus. Kristuslah yang selalu mengarahkan dan membantunya agar siap dan rela berkorban. Suara hati yang senantiasa menyerukan agar melakukan tindakan cinta tersebutlah yang menuntut keberanian untuk berkorban serta menantang novis untuk melepaskan diri dari dari hal-hal yang tidak baik.
Novis yang tidak mendengarkan suara hatinya adalah mereka yang takut untuk berkorban, takut rugi sehingga suara hatinya ditulikan oleh keuntungan-keuntungan, kemudahan-kemudahan dan kenyamanan, sehingga ada kemungkinan ikut membangun kebohongan-kebohongan dan kepalsuan-kepalsuan sehingga dia mengubur suara hatinya.
Mendengarkan dan mengikuti suara hati memang kadang menyakitkan, karena menuntut untuk berlaku benar dan adil terhadap situasi yang dihadapi. Ini
bukanlah hal yang mudah bagi seorang novis. Novis takut disakiti, takut kehilangan dukungan dan takut kehilangan teman. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan novis kadang memilih hidup dalam kepura-puraan agar kelihatan baik. Paulo Coelho mengatakan: “Hanya orang-orang yang takut mengambil sikaplah yang berpura-pura memiliki jiwa yang murah hati” (Coelho, 2009: 63).
Oleh sebab itu novis harus diyakinkan bahwa orang yang mendengarkan suara hati adalah mereka yang berani mengambil sikap dan mengambil keputusan yang baik dan benar. Sekalipun menerima akibat yang menyakitkan, Tuhan akan menganugerahkan hal-hal yang lebih besar kepadanya (bdk. Yoh 1:51). Orang yang hidup dalam kepura-puraan agar kelihatan baik, tampaknya dia memang senang, tidak ada masalah, tetapi sebenarnya dia diam-diam meratapi kepengecutannya (Coelho, 2009: 63).
Allah memanggil novis menjadi pengikut-Nya karena Allah mencintainya. Cinta Allah ini ditanggapi oleh novis dengan tetap setia mengikuti panggilan Allah. Menghayati kesetiaan sebagai abdi Allah menuntut pengorbanan untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan sepenuhnya menyerahkan kehendak kepada Allah yang diabdi. Kerelaan berkorban membutuhkan kepekaan mendengarkan suara hati. Suara hati menyadarkan bahwa cinta kepada Allah tidak lepas dari pengorbanan dan pengorbanan itu mempunyai makna dalam perjalanan panggilannya.
BAB V
USULAN PROGRAM RETRET MEMANFAATKAN KISAH MISS PRYM
PADA BUKU PAULO COELHO THE DEVIL AND MISS PRYM BAGI
PEMBINAAN NOVIS KONGREGASI FRANSISKANES SANTA ELISABETH (FSE) MEDAN