• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Analisisi dan Interpretasi Hasil Penelitian

4.2 Analisa Data

4.2.3 Subjek 3

Nama/Inisial : TM

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 46 Tahun

Jumlah suluk : 9 Kali

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis.

Berdasarkan informasi yang didapat, peneliti menemukan seorang subjek yang telah memenuhi kriteria awal sebagai seorang salik. Ia adalah istri dari S1 dan merupakan seorang ibu rumah tangga. Subjek 3 (S3) menyelesaikan jenjang pendidikan wajib belajar 9 tahun dan melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah selama 3 tahun. S3 sudah menikah dan memiliki anak perempuan yang sedang duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri 2 Medan (MAN 2). Sehari-harinya selain menjadi ibu rumah tangga, S3 aktif mengajar ngaji anak-anak lingkungan di rumahnya dan mengikuti kajian serta bermasyarakat. S3 dibai’at ketika berusia 21 tahun dan melaksanakan suluk pertamanya pada tahun 1995. S3melaksanakan proses suluk dari tahun 1995 hingga tahun 2004 dan telah menjadi pengamal tarekat selama 24 tahun.

Pada hari Senin tanggal 1 Oktober 2018 peneliti kembali mendatangi kediaman subjek untuk meminta ijin menjadikannya sebagai subjek primer 3 (S3) dalam penelitian ini. Proses selanjutnya setelah mendapatkan kepastian bahwa subjek bersedia dijadikan subjek 3 dalam penelitian ini

adalah peneliti melakukan validasi terhadap status subjek sebagai seorang salik dengan menggunakan data informan (subjek sekunder) atau melakukan wawancara allo-anamnesa. Teknisnya, berbekal teori yang diperoleh dari berbagai literatur tentang kriteria seorang salik, maka pada tanggal 6 Oktober 2018 peneliti memulai wawancara untuk mencari informasi tentang subjek primer 3 melalui seorang informan yakni anak dari subjek sendiri. Hasil dari data informan tersebut menyatakan bahwa subjek memenuhi kriteria sebagai seorang yang menjalankan proses suluk, maka valid jika dikatakan subjek adalah seorang salik (W3.FH.06/10/18).

Setelah memastikan bahwa subjek adalah seorang salik maka langkah selanjutnya peneliti melakukan deep interview dengan metode wawancara semi terstruktur untuk menggali secara dalam tentang kehidupan subjek, terutama yang berhubungan dengan proses suluk yang dijalankan dan Subjective Well-Being (SWB) yang dimiliki. Peneliti menyesuaikan waktu wawancara dengan jadwal subjek, agar tidak mengganggu waktu mengajar ngaji dan kajian subjek. Selain itu, sesuai permintaan subjek lokasi saat wawancara selalu berada di rumah subjek. Deep Interview beserta probingnya berlangsung selama 5 (hari) yakni dimulai pada hari Kamis tanggal 20 Juni 2019 hingga Selasa tanggal 16 Juli 2019. Metode penggalian data yang digunakan selain wawancara adalah dengan observasi.

Hasil dari proses deep interview yang dilaksanakan adalah peneliti berhasil mengungkapkan berbagai bentuk dari amaliah suluk yang

dijalankan, pengalaman-pengalaman unik yang dialami, kondisi psikologis subjek saat berproses mulai awal hingga saat ini, dan menemukan konsep Subjective Well-Being (SWB) pada diri subjek. Sedangkan melalui observasi, peneliti berhasil menemukan bukti penguat dari data hasil wawancara.

4.2.3.2 Jadwal Pengumpulan Data

No Keterangan Hari/ Tanggal Waktu

1. Pertemuan I Kamis/ 20 Juni 2019 14.00-14.30 WIB 2. Pertemuan II Jum’at/ 28 Juni 2019 16.30-16.50 WIB 3. Pertemuan III Senin/ 01 Juli 2019 15.00-15.30 WIB 4. Pertemuan IV Rabu/ 10 Juli 2019 16.30-16.50 WIB 5. Pertemuan V Selasa/ 16 Juli 2019 13.30-14.20 WIB

4.2.3.3 Hasil Allo-anamnesa

Peneliti melakukan wawancara allo-anamnesa kepada orang terdekat S3, untuk mengetahui dan menggali lebih lanjut informasi yang berkaitan dengan kehidupan S3. Orang terdekat S3 adalah anaknya yang bernama Fadhila Husna. Menurut anaknya, S3 merupakan ibu yang baik terhadapnya, menyayanginya, dansukamemberikan nasehat. Bagi anaknya S3 selalu memberikan contoh yang baik seperti mengajari anaknya untuk berpuasa dan solat sejak umur 5 tahun. Jika anaknya melakukan kesalahan, S3 tidak akan langsung menghukum, namun menegur dan mencari tahu dulu apa alasan atau penyebabnya. Maka dari itu anaknya selalu merasa

nyaman jika berkeluh-kesah dan berbagi cerita kesehariannya dengan S3.

Jadi menurut anaknya S3 merupakan pribadi yang demokratis

Berdasarkan penuturan anaknya, S3 memiliki adab makan yang baik serta tutur kata yang sopan dan santun. S3 juga memiliki kepribadian yang baik dan penyayang terhadap keluarga dan orang lain terutama kepada anak kecil. Oleh karena itu, S3 senang mengajar anak-anak lingkungannya mengaji, bahkan dengan ikhlas tanpa bayaran. S3 juga ramah, suka bermasyarakat, dan membantu orang lain. Selain itu sepengetahuan anaknya, S3 tidak pernah membuat orang lain sakit hati, justru ia suka memberi dan selalu berusaha membuat orang lain bahagia.

Maka dari itu, S3 memiliki teman yang banyak dan sering menjadi tempat curhatan orang lain.

Menurut anaknya S3 adalah sosok yang agamis. Anaknya melihat bahwa S3 selalu membaca Al-Qur’an sembari menunggu waktu sholat dan selalu berdzikir sebelum maupun setelah shalat. Ketika berdzikir S3 bisa menghabiskan waktusampai setengah jam dan setiap berdzikir kepala S3 selalu ditutupi surban. Ibadah lain yang sering dilakukan S3 adalah sholat malam (tahajjud), dhuha, dan puasa senin-kamis. Anaknya juga tahu bahwa S3 merupakan orang tarekat, meskipun sudah lama tidak kembali pergi bersuluk ke Besilam. Meski begitu, S3 terus menjalankan ibadah dari rumah suluk di rumahnya sendiri. Berkat S3, anaknya pun merasa termotivasi untuk mengikuti suluk.

Anak S3 merasa bahwa S3 merupakan orang yang sederhana dan menerima segala sesuatu apa adanya. Salah satu bentuk kesederhanaan S3 adalah tidak mengeluh atau memaksakan keadaan. Hal ini dapat dilihat ketika S3 memasak atau makan akan disesuaikan dengan keuangan yang ada. Kehidupan sosial S3 dengan orang lain juga sederhana dan apa adanya. Oleh karena itu anaknya merasa bahwa S3 tidak pernah memaksakan mendapatkan hal yang disukai.

4.2.3.4 Hasil Auto-anamnesa a. Latar Belakang

S3 dulunya merupakan orang yang tidak neko-neko. S3 sedari dulu suka belajar agama, maka dari itu setelah tamat Aliyah S3 mengikuti pengajian selama 2 tahun. Setelah menikah pun S3 dan suaminya sama-sama mengaji dengan Ustadz Nazar. Selain itu, S3 juga telah mempelajari tentang ilmu hikam pada pengajian yang diikutinya. oleh karena itu, S3 akhirnya memutuskan ikut bersuluk karena ia diajak oleh suaminya yang telah bersuluk terlebih dahulu dan ia merasa bahwa ilmu hikam dapat dipraktekkan dengan bersuluk. Teori yang didapat S3 dalam pengajian dan di dalam kitab dipraktekkan dengan bersuluk. S3 mengakui bahwa sebelum diajak oleh suaminya, S3 sama sekali tidak mengenal suluk. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Kalau kakak sih dulu, sebelum kakak menjalani suluk kakak memang tipe orang yang memang ga neko-neko gitu ya kan. Iya terus setelah tamat SMA, Aliyah la waktu iya kan, kakak ada ikut pengajian gitu la ya kan, dari situ selama 2 tahun terus kakak nikah, iya kan nikah, dari situ juga setelah nikah ada suami mengenal

suluk. Setelah menikah itulah baru diajak, awal-awalnya yok gitu kan, yok ayok ikut gitu kan. Nah mau la”.

(W14.TM.3a-3b)

“Haha iya karena diajak awalnya, iya kan gitu kan. Terus ikut-ikut ngajinya sama Ustadz Nazar juga lah kan gitu kan. Tapi tahun pertama pernikahan kakak belum, dia udah duluan kan, kak itu belum. Setelah setahun baru gitu, itulahkan”.

(W14.TM.4)

“Hehe gak ada karena memang diajak dan ikut gitu kan”.

(W14.TM.5)

“Awalnya memang karena diajak gitu. Karena kan dulu gak mengenal kayak gitu, kan gitu”.

(W14.TM.6) “Karena waktu itu, waktu ngaji, ngaji kan yang dipelajari tentang hikam misalnya kan, itu memang arahnya itu kita bisa menikmati ilmu tadi itu dengan suluk kan gitu kan, jadi kayaknya mau gitu kan, bolehlah kita coba kan, rupaya memang sejalan gitu kan”.

(W14.TM.8a-8b)

“O-oh kalau kaji itu kan teori gitu kan, mengaji itu kan. Suluk ini itulah amalan tadi itu, kalau ditanya teori tadi itukan dipraktekkan dengan cara ini gitu kan. Apa yang ada di kitab itu yang diamalkan, ya di kitab itu sesuai dengan suluk tadi itu, tidak hanya perkataan ucapan guru dalam ngaji tapi dialami dalam dzikir dia suluk ini”.

(W14.TM.10) Berdasarkan penuturan S3 ada guru yang membimbingnya ketika bersuluk di Besilam dan S3 akan terus dibimbing oleh guru yang sama kecuali beliau meninggal. S3 juga berkata ketika bersuluk, seorang salik akan dibimbing oleh tuan guru dengan jenis kelamin yang sama. Selain itu, asrama suluk antara laki-laki dan perempuan pun akan dibedakan. Menurut S3 bersuluk ke Besilam sama seperti ke Makkah sehingga ada adab-adab yang dijaga. Selama bersuluk ada 5 hal yang harus dijaga yaitu: wudhu, waktu solat, berjamaah, berkata-kata dibatasi sekitar 14-17 perkataan,

makan tidak rakus dan tidak boleh makan yang bernyawa. Pada tahap awal bersuluk dilarang memakan makanan bernyawa karena bisa membangkitkan nafsu yang akan mengganggu fokus berdzikir. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Oh iya, kalau disana ada lah”.

(W15P1.TM.7)

“Iya, kecuali kalau udah meninggal gitu kan. Setiap kita apa ada yang membimbing lah, yang laki-laki ada yang perempuan pun ada kan gitu”.

(W15P1.TM.8a-8b)

“A-ah dan apanya pun beda, kayak asramanya la gitu kan”.

(W15P1.TM.9)

“O-oh iya memang katanya itu Makkahnya inilah gitu ya kan.

Makanya kalau kesana pun ada adab-adabnya yang mau dijaga, ga bisa sembarangan juga kan gitu kan”.

(W17.P2TM.12)

“Ada 5 hal yang terjaga disitu, wudhu terjaga, kemudian waktu solat terjaga, berjamaah terjaga, kita berkata-kata dengan kawan juga dibatasi ga boleh sekitar 14 17 perkataan yang harus ada, kemudian makan juga terjaga tidak rakus tidak memakan makanan yang bernyawa. Untuk tahap awal dilarang untuk memakan makanan yang bernyawa, apa sebab kenapa? Karena bisa membangkitkan nafsu istilahnya, panas dia ha..ga boleh, dengan memakan yang tidak bernyawa maka nafsu akan turun, sehingga dzikir itu akan terfokus”.

(W17.P2TM.13a-13b) S3 sudah 10 tahun tidak pergi bersuluk ke Besilam, namun S3 selalu dibimbing oleh suaminya untuk bersuluk di rumah. Pihak keluarga S3 dan keluarga suaminya pun selalalu mendukungnya. Hal ini dikarenakan S3 berasal dari keluarga yang agamis sehingga keluarga selalu mendukungnya bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“…………Ini aja kan udah, udah hamper 10 tahun udah ga balik lagi, ini aja udah agak…agak ini juga sih iya kan”.

(W14.TM.11c)

“Ga ada biasa aja, orang itu pun kan emang mendukung kakak kan, dari keluarga kakak pun memang dari segi agama pun bagus gitu.

Ga pernah…apa yang kakak lakukan ga pernah ada komentar atau apalah, suka dukung aja lah kan gitu kan”.

(W15P1.TM.4)

“Dari pihak keluarga kakak atau pun keluarga suami selalu dukung aja ga ada masalah. Dari masyarakat pun ga ada mereka pun cuek aja, mereka pun apa yang kita lakukan disini ya mereka pun ga apa ya cueklah gitu kan. Asal kita ga mengganggu urusan mereka kan gitukan”.

(W15P1.TM.5) b. Aspek Subjective Well-Being

i. Cognitive Subjective Well-Being

S3 adalah orang yang sederhana dan tidak neko-neko. Meskipun demikian S3 masih memiliki keinginan duniawi seperti ingin membeli sesuatu, akan tetapi tidak memaksakannya harus dipenuhi. Sementara itu, pada lingkungan keluarga S3 keras dalam mendidik anaknya karena menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Hmm…kalau kakak sih mungkin ga seperti suami ya yang ga ada lagi, keinginan-keinginan itu namanya perempuan ya masih ada.

Tapi kakak ga harus semua…harus…”.

(W17.P2TM.3)

“O-oh ga harus gitu, apa yang diinginkan, mungkin dari sebelum mengenal apa pun, memang tipe yang sederhana gak mau neko-neko gitu. cuman ya belum kayak suami lah, kalau suami memang udah ini gitu ya kan. Kalau kakak ya kayak mana istri la ya ada keinginan juga beli ini itu tapi bukan bangsayang harus dipenuhi kali gitu”.

(W17.P2TM.4a-4b)

“Kakak keras juga”.

(W17.P2TM.5)

“Kita kan juga pengen yang terbaik kan gitu kan, walaupun menurut dia apa yang terbaik, menurut dia apa gitu kan, yang mama ini cerewet kali, ya kan gitu-gitu kan”.

(W17.P2TM.6) S3 bercerita bahwa pada tahap awal bersuluk, salik dilarang memakan hewan yang berdarah sampai pada tingkatan yang diperbolehkan. Menjaga apa yang dimakan ketika bersuluk bertujuan untuk meredam nafsu dan menjaga hati salik. Akan tetapi setelah keluar dari rumah suluk salik bebas untuk makan apa saja. Kemudian ketika bersuluk para salik diberikan kebebasan untuk memilih waktu istirahat atau tidur. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Iya hewan yang berdarah gitu. Untuk tahap awal ya, ada itu tingkatannya boleh gitu. Setelah keluar dari rumah suluk ya bebas gitu, pas kesana nya itu gitu kan. Itulah untuk menjaga supaya hatinya terjaga betul-betul gitu ya kan, meredam nafsunya supaya jangan apa kali”.

(W17.P2TM.14a-14c)

“Kalau sehari-hari tetap dilakukan yang disana itu, gitu kan”.

(W16.TM.6)

“Tidur ya waktunya bebas sih mau tidur kapan aja bisa”.

(W17.P2TM.15) Ada beberapa bentuk amaliah suluk S3 seperti berdzikir, puasa, solat sunnah, dll. Pada rentang waktu satu hari seorang salik harus menyelesaikan dzikirnya dengan tingkatan yang berbeda-beda. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“……….bisa seperti dzikir, puasa, solat sunnah gitu kan, tapi lebih dijaga”.

(W16.TM.9b)

“Enggak, cuman kan ada ini ya nanti, pokoknya satu hari itu harus selesai dzikirnya ini, kan ada nanti tingkatannya itu ada 5000, 6000, gitu kan, berlebih lebih bagus kan gitu kan. Mau tidur ya tidur kapan aja pun bisa, iya kan gitu”.

(W17.P2TM.16) Berdasarkan penuturan S3 terdapat orang-orang yang melarang ikut suluk karena bersuluk dianggap bisa menyebabkan gila. Menurut S3 orang bisa saja gila jika memiliki niat lain ketika bersuluk, jika salah niat ketika bersuluk maka seseorang bisa stres karena tidak sanggup melihat penampakan dari Allah. Akan tetapi S3 menegaskan bahwa sesungguhnya gila dalam bersuluk adalah tergila-gila terhadap Allah dan tidak ada sisi negatif dari suluk. Namun, S3 juga mengingatkan agar hati-hati dalam memilih proses suluk karena menurut S3, ada aliran suluk yang memiliki jalan yang salah dan tidak diakui, seperti aliran naqsabandi. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Iya sekarang kan kesannnya orangtu kalau suluk itu, jangan nanti bisa gila atau begini begitu ya kan. Memang gila, tapi gila nya gila ke Allah gitu”.

(W15P1.TM.14a-14b) “Iya, memang ada nyatanya memang yang kayak sedeng la gitu kan. Kalau itu dia niatnya lain, niatnya sesuatu, kalau itu melenceng pasti kan gitu kan”.

(W17.P2TM.10)

“O-oh, mungkin bisa jadi dia memang kesana tapi niat kesananya itu dia beda, rupanya dinampakkan Allah ntah apa-apa bisalah stres atau gimana kan jadi bukan salah tempat suluknya. Memang individunya sendiri yang salah niatnya kali gitu kan”.

(W17.P2TM.11)

“Pokoknya kalau ada orang yang melihat sisi negatif tentang suluk itu kayaknya gak ada lah, salah lah itu gitu kan”.

(W17.P2TM.17)

“Tapi ingat ya suluk ini pun emang ada yang memang jalan juga salah gitu kan, ada yang alirannya naqsabandi, ada macam-macam la gitu kan, ada apa kan gitu, ada juga yang gak diakui kan gitu kan”.

(W17.P2TM.18)

“Iya…….”.

(W17.P2TM.19) S3 merasa ada perbedaan pada dirinya ketika bersuluk dan tidak bersuluk. S3 mengaku bahwa sejak bersuluk ia lebih menjaga, lebih memperbanyak dan lebih semangat dalam beribadah. Selain itu, setelah mengikuti suluk S3 merasa kepribadiannya lebih terarah dan tafakkurnya juga lebih terjaga. Bahkan S3 juga merasa selalu bersama Allah dan ada yang mengawasinya (muraqobah/ diawasi). Oleh karena itu, S3 selalu menjaga setiap langkahnya karena merasa ada yang mengawasi dan menegurnya jika berbuat salah. Maka dari itu setelah bersuluk S3 terus termotivasi untuk berbuat baik. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Sejak suluk kan ibadah jadi lebih semangat, lebih banyak kan gitu, bisa seperti dzikir, puasa, solat sunnah gitu kan, tapi lebih dijaga”.

(W16.TM.9a)

“Hehe ya sama la itu sama”.

(W16.TM.10)

“Memang jauh bedalah kita setelah suluk itu, kepribadian kita lebih terarah gitu ya ka”.

(W16.TM.11)

“Terarah nya itu apa yang kita lakukan sepertinya ada Allah yang melihat gitu kan, kalau kita buat salah-salah ada yang menegur gitu kan. Karena kan setiap langkah kita, kita keluar, bekerja, atau apa itu kan ada namanya istilahnya “muraqobah” selalu diawasi, seperti seolah-olah kita selalu diawasi kan gitu kan. Jadi apa yang kita lakukan, oh Allah maha melihat, Allah maha mengetahui, Allah bersama kita kan gitu, terus nanti ada yang sebenarnya ketika suluk itu yang senantiasa diapakan ditimbulkan la dalam diri kita kan”.

(W16.TM.12a-12b)

“M-hm iya”.

(W16.TM.13) Adapun hal yang membuat S3 bahagia adalah adalah jika ia bisa menyenangkan hati suami, anak, dan lingkungan, karena bagi S3 membahagiakan orang lain merupakan kebahagiaan terbesar. Menurut S3 salah satu contoh kebahagiaan terbesar yang dapat dilakukan yaitu melayani tamu yang datang berkunjung. Selain itu, S3 juga merasa bahagia dan tenang ketika mengajar ngaji anak-anak di rumahnya pada sore dan malam hari. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Bahagia kayaknya bisa menyenangkan hati orang lain udah bahagia gitu. Menyenangkan suami, anak, lingkungan atau apa gitu, ya itu udah bahagia”.

(W18.TM.18)

“Ya kebahagiaan paling besar kalau kakak bisa membahagiakan orang lain, gitu”.

(W18.TM.19)

“Iya, ini kan rumah kakak ini setiap yang datang itu kakak senang gitu. Siapa aja yang datang itu, apalagi suami bilang setiap tamu yang datang itu dilayani gitu kan. Kalau bisa datang dalam keadaan lapar, pulang dalam keadaan kenyang. Jadi setiap tamu yang datang itu kita layani kita udah bahagia, gitu kan”.

(W18.TM.20)

“Iya udah gitu kakak kan ada ngajar ngaji anak-anak, setiap sore dan malam, bisa ngajar, bisa membahagiakan orang itu juga udah bahagia itu gitu, tenang gitu”.

(W18.TM.21) Berdasarkan hal tersebut, maka sesuai dengan aspek Subjective Well-Being yang dikemukakan oleh Diener, yaitu aspek kognitif, S3 sedang menilai hidupnya secara kognitif (life satisfaction) sehingga merasa puas dengan hidupnya. Hal tersebut terlihat ketika S3 merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan berbahagia atas kehidupannya sebagai ibu rumah tangga yang bisa membantu serta menyenangkan hati suami, anak, dan orang lain.

ii. Affective Subjective Well-Being

S3 mengikuti suluk karena menurut S3 satu-satunya cara yang bisa mendekatkkan diri kepada Allah adalah dengan bersuluk. Bahkan setelah mengaji dan mendengarkan kajian hikam, S3 merasakan nikmat yang luar biasa dalam bersuluk. S3 juga bercerita bahwa ketika bersuluk ia merasakan ketenangan bathin. Tidak hanya ketika bersuluk bahkan setelah bersuluk S3 selalu merasakan ketenangan bathin dalam keadaan apa pun.

Selain itu, S3 juga merasakan adanya perbedaan pada dirinya dan ibadahnya ketika bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Karena memang satu-satunya kita bisa mendekatkan diri ke Allah itu ya dengan cara itu gitu kan. Apalagi setelah mengaji, dengar kaji hikam, gitu kan, kayaknya memang betul-betul nikmat lah dengan suluk tadi itu kan”.

(W14.TM.9a-9b)

“Ya memang bathin tenang iya kan, apalagi dilakukan disaat..kami kan setiap sekali setahun kan dilakukan di bulan Ramadhan kan memang betul-betul terasa kali la kan, bangun tengah malam jam 3 lalu nanti tahajud habis itu bisa nanti ibadah sama berjamaah kan gitu. Memang bedalah, makanya kalau udah keluar dari situ nanti bisa aga goyang lagi la itu gitu ya kan……”.

(W14.TM.11a-11b)

“Iya, biar tahu kayak mana gitu kan. Intinya ketenangan bathin itulah ha, tenang bathin itu walaupun miskin walaupun apa bathin kita tenang aja hanya kepada Allah”.

(W15P1.TM.13) S3 bercerita bahwa sejak memiliki anak ia sudah 10 tahun tidak pergi bersuluk ke Besilam sehingga ia merasa tidak nyaman dan tidak menikmati ibadahnya. Namun meskipun begitu, S3 tetap melaksanakan ibadah suluk di rumahnya. Segala ibadah dan dzikir yang dipraktekkan di rumah suluk Besilam terus dilakukan S3 di rumahnya. Oleh karena itu, menurut S3 bersuluk tidak mengganggu aktifitas sehari-hari, karena bisa disesuaikan dengan kelapangan waktu yang ada. Hal tersebut diungkapkan S3 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Kakak memang udah 10 tahun ga kesana lagi, sejak ada itu kan anak kan. Kalau bapaknya baru setiap tahun, kan gitu”.

(W16.TM.5)

“Kalau sehari-hari tetap dilakukan yang disana itu, gitu kan”.

(W16.TM.6)

“Dzikir yang disana itu kan, yang dipraktekkan disana itu dipraktekkan di rumah, kan gitu kan”.

(W16.TM.7)

“Enggak, kan kita yang jadwal sendiri kan gitu kan. Kapan kita lapang waktu kan, misalnya habis subuh, habis ashar gitu kan.

Bukan mesti wajib habis subuh gitu enggak kan, ya sesuai dengan keapaan kita ajalah waktunya kan gitu”.

(W16.TM.8)

“Sebenarnya itu, kayak ini lah udah 10 tahun ga kesana itu, rasanya udah kosong tadi itu ada. Rasanya kayak ga enak gitu kan, ibadah pun gak ini gitu kan, ga nikmat lah gitu,karena kita udah lama ga kesana, apalagi ini kan udah 10 tahun lebih kan ga kesana kan”.

(W17.P2TM.8) S3 mengungkapkan bahwa ketika bersuluk ia akan mengalami

“panah”, yang merupakan puncak kenikmatan ketika berdzikir. Ketika mengalami panah S3 akan fokus kepada Allah saja, sehingga tidak lagi

“panah”, yang merupakan puncak kenikmatan ketika berdzikir. Ketika mengalami panah S3 akan fokus kepada Allah saja, sehingga tidak lagi

Dokumen terkait