)a Perubahan kecenderungan arah pada kelancaran membaca huruf nasal subjek (A) menuju perubahan yang positif.
)b perubahan kecenderungan stabilitas pada baseline A1 tetap mengalami kesetabilan namun mengalami kenaikan dengan posisi angka berada pada 57,14% namun karena angkaya dibawah 85%-90% maka dianggap tidak stabil (Variabel), begitu pula pada intervensi B sama-sama mengalami kenaikan dan dianggap stabil karena berada pada angka 100%, sama halnya dengan kondisi Baseline A1. Ketiganya mengalami kenaikan yang sama walaupun tidak secara signifikan, namun pada kondisi Baseline A2 walapun mengalami kenaikan tapi dianggap tidak stabil, karena datanya menunjukan hanya berada pada posisi 20% saja.
)c Perubahan level juga terjadi pada kondisi A1 ke B1, namun mengalami penurunan pada kondisi B1 ke A2.
)d Presentase Overlap cukup buuk yaitu 57%dan 100%. Presentase Overlap dikatakan bruk karena semakin kecil presentasenya maka semakin baik.
ke tiga sampai dengan enam, MP menunjukan nilai yang stabil yaitu berada paa angka 20% dan hal itu sudah dianggap cukup oleh peneliti untuk melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki oleh MP pada kondisi Baseline (A1) ini.
b. Kondisi Intervensi(B)
Tabel 66. Kondisi Intervensi Kemampuan Membaca Huruf Nasal Pada Subjek (MP).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
7 Senin, 21 Mei 2018 2 20%
8 Rabu, 23 Mei 2018 3 30%
9 Jumat, 25 Mei 2018 3 30%
10 Senin, 28 Mei 2018 2 20%
11 Rabu, 30 Mei 2018 3 30%
12 Jumat, 1 Juni 2018 3 30%
Tabel di atas menunjukan kepada data yang didapat oleh peneliti ketika melakukan penelitian kepada subjek MP, pada kondisi ini sesi diberhentikan pada sesi ke tiga belas, karena pada sesi tersebut anak dianggap sudah cukup untuk mendapatkan Intervensi karena dua hari terakhir pada kondisi Intervensi anak mendapatkan angka 30% dan itu sudah dianggap cukup untuk melihat kemampuan anak dalam melafalkan huruf nasal.
c. Kondisi Baseline (A2)
Tabel 67. Kondisi Baseline (A2) Kemampuan Membaca Huruf Nasal pada Subjek (MP).
No Hari / tanggal Jumlah Huruf Nasal yang
dibaca benar Skor
13 Rabu, 6 Juni 2018 2 20%
14 Jumat, 8 Juni2018 2 20%
15 Senin, 11 Juni2018 3 30%
16 Rabu, 13 Juni 2018 4 40%
17 Senin, 18 Juni 2018 4 40%
Tabel terakhir adalah tabel kondisi Baseline (A2) yang dilakukan oleh subjek MP, pada kondisi ini MP mendapatkan nilai 40% selama dua kali berturut-turut dalam kondisi ini, nilai tersebut menandakan bahwa MP sudah cukup menguasai huruf nasal, walaupun memang tidak berada pada 100%, namun hal tersbut sudah dianggap cukup, karena nilai terkecil pada kondsi ini berada pada angka 20%. Dari tabel-tabel di atas, jika digambarkan dalam bentuk grafik secara keseluruhan maka akan terlihat seperti di bawah ini:
Grafik 6. Kemampuan Anak Membaca Huruf Nasal, Pada Kondisi Baseline (A1)- Intervensi (B)- Baseline (A2) Pada Subjek Penelitian
(MP).
Grafik di atas menjelaskan bahwa pada setiap kondisi mengalami kenaikan dalam hal pemahaman mengenai huruf nasal yang didapatkan oleg subjek MP. Nilai tertinggi didapatkanya pada saat pelaksanaan kondisi Baseline (A2), yaitu hanya pada angka 30% selama dua hari berturut-turut. Pada tiga kondisi di atas juga menjelaskan bahwa ada pengaruh tersendiri dalam hal pemahaman huruf nasal bagi MP. Namun tidak seperti subjek-subjek lainya, pada MP ini walaupun memang benar mengalami kenaikan yang berbeda pada tiga kondisi di atas, namun hasil yang dicapai tidak seperti yang lainya. Pada subjek MP ini, angka yang didapat hanya berada pada 20%, 30%, dan 40% saja, walaupun memang tidak mendapatkan angka 0%, namun hal ini menjadi pertibangan tersendiri dengan angka-angka yang didapatkan oleh subjek MP.
d. Analisis Data terhadap subjek (MP) 1) Analisis dalam Kondisi
Langkah 1
Pada grafik dengan menggunakan desain A-B-A maka kondisi ditulis Tabel 68. Kondisi subjek (MP)
Kondisi A1 B A2
Kondisi merupakan kode dari penelitian SSR (Single Subject Reasrch), kode 1 untuk Baseline (A) pertama dan kedua, sedangkan B untuk Intervesi.
Langkah 2
Tabel 69. Panjang Kondisi subjek (MP)
Kondisi A1 B A2
1. Panjang Kondisi
6 sesi 6 sesi 5 sesi
Panjang interval ini menunjukan sesi pada setiap kondisi pada Baseline A1, Intervensi B1 dan Baseline A2. 7 Sesi untuk baseline A1, 8 sesi untuk Intervensi, dan 5 sesi untuk Baseline A2.
Langkah 3
Mengestimasi kecenderungan arah dengan menggunakan metode belah dua (Split-middle).
Tabel 70. Estimasi Kecenderunga Arah subjek (MP)
Kondisi A1 B A2
2. Estimasi Kecenderungan Arah
(+) (=) (+)
Arah trendnya cenderung naik turun, pada fase intervensi pun arahgarisnya mendatar, sedangkan pada fase baseline A2 arah trendnya juga naik ke atas, walaupun pergerakanya sedikit.
Langkah 4
Menentukan kecenderungan stabilitas pada fase Baseline A1, dalam hal ini menggunkan kriteria stabilitasnya 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 30 x 0,15 = 4,5 (Rentang stabilitas)
Mean level A1: 10 + 30 + 20 + 20 +20 + 20 = 120 Mean Level 120 : 6 = 20
Menentukan batas atas dengan cara :
Mean level + setengah rentang stabilitas = 20 + 2,25 = 22,25
Menentukan batas bawah dengan cara :
Mean level – setengah rentang stabilitas = 20– 2,25 = 17,75
Menghitung presentase data poin pada kondisi baseline A1 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 1 : 6 = 0,16% (0,16 x 100 =16%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 1 dari banyaknya point adalah 6 maka stabilitasnya diketahui 16%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase baseline A1 adalah 57,14,%, maka diperoleh hasil Tidak stabil (Vriabel).
Fase Intervensi B
Menentukan Kecenderungan pada intervensi B, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 30 x 0,15 = 4,5 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 20 + 30 + 30 +20 + 30 + 30 = 160
Mean level = 160 : 6 = 26,66
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 26,66 + 2,25= 28,91
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas = 26,66– 2,25 = 24,41
Menghitung presentase data poin pada kondisi Intervensi B yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 1 : 6 = 0,16% (0,16 x 100 = 16%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 1 dari banyaknya point adalah 6 maka stabilitasnya diketahui 16%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Intervensi B adalah 16%, maka diperoleh hasil tidak stabil (Variabel).
Fase Baseline A2
Menentukan Kecenderungan pada Baseline A2, dalam hal ini menggunakan kriteria 15%, maka perhitunganya adalah:
Skor tertinggi x kriteria stabilitas = rentang stabilitas 40 x 0,15 = 6 (Rentang stabilitas)
Mean level dalam intervensi: 20 + 20 + 30 +40 + 40 = 150 Mean level = 150 : 5= 33
Menentukan Batas atas dengan cara :
mean level + setengah rentang stabilitas = 33 + 3= 36
Menentukan Batas bawah dengan cara:
mean level – setengah rentang stabilitas = 33 – 3 = 30
Menghitung presentase data poin pada kondisi Baseline A2 yang berada pada rentang stabilitas dengan cara:
Banyak data poin dalam rentang : banyaknya poin = presentase stabilitas 3: 5 = 0,6 (0,6 x 100 = 60%)
Banyaknya data poin yang ada dalam rentang dibagi dengan banyaknya point adalah hasil presentase stabilitas. Karena banyaknya data point dalam rentang 3 dari banyaknya point adalah 5 maka stabilitasnya diketahui 60%. Jika presentase stabilitas sebesar 85% -90% dikatakan stabil, sedangkan di bawah ini dikatakan tidak stabil (Variabel), karena hasil perhitungan untuk fase Baeline A2 adalah 60%, maka diperoleh hasil Tidak stabil (Variabel).
Langkah 5
Menentukan kecenderungan jejak data, hal ini sama dengan kecenderungan arah di atas. Oleh karena itu hasil kecenderungan jejak sama dengan kecenderungan arah.
Tabel 71. Kecenderungan jejak subjek (A)
Kondisi A1 B A2
4.
Kecenderungan jejak
(=) (=) (=)
Dengan memperlihatkan kecenderungan jejak di atas maka diketahui bahwa Baseline A1 arah trendya adalah Tidak stabil. Pada fase intervensi (B) arah trendnya pun mendatar, dan pada fase Baseline A2 arah trendnya juga mendatar. Karena pada kondisi baseline A1 mengalami ketidak setabilan, maka pada fase baseline A1 ditulis (=), artinya tidak terjadi penurunan, namun tidak dominan pula kenaikanya. Sama halnya
dengan dua konsdisi lainya, yaitu kondisi Intervensi (B) dan baseline A2, karena ketiganyam mengalami ketidak setabilan, maka ditulis (=), karena tidak mengalami penurunan maupun kenaikan.
Langkah 6
Menentukan level stabilitas dan rentang: sebagaimana telah dihitung di atas bahwa fase Baseline A1 datanya adalah tidak stabil (Variabel), adapun rentangnya adalah 10-20. Pada fase intervensi B datanya mengalami ketidak stabilan juga dengan rentang antara 20-30.
Sedangkan pada fase Baseline A2 datanya juga mengalami variabel atau tidak stabil, dengan rentang antara 20-40.
Tabel 72. Level stabilitas dan rentang subjek (MP)
Kondisi A1 B A2
5. Level stabilitas
dan rentang Variabel 10-20
Variabel 20-30
Variabel 20-40
Pada sesi ke enam belas atau sesi ke empat pada kondisi Baseline A2, subjek (MP) mengalami kenaikan angka pada posisi 40%, dimana angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan dua kondisi sebelumnya, yaitu pada kondisi Baseline A1 dengan kondisi Intervensi B. Hal ini terjadi karena subjek belum mendapatkan intervensi dari pihak lain sebelumya.
Langkah 7
Menentukan level perubahan dengan cara menanai data pertama (hari ke-1) dan data terakhir (hari ke 7) pada fase Baseline A1. Hitung selisih antara kedua data dan tentukan arahnya naik atau menurun dan beri tanda (+) jika membaik, (-) jika memburuk, (=) jika tidak ada perubahan.
Baseline A1.
Tabel 73. Presentase stabilitas Baseline A1 subjek (A)
Data besar (Hari ke-2) – Data Kecil (hari ke- 1) = Presetase stabilitas 30 – 10 = 20 ( =)
Intervensi B.
Tabel 74. Presentase stabilitas Intervensi B subjek (A)
Data besar (Hari ke-9) – Data Kecil (hari ke- 7) = Presetase stabilitas 30 – 20 = 10 (=)
Baseline A2.
Tabel 75. Presentase stabilitas Baseline A2 subjek (A)
Data besar (Hari ke-16) – Data Kecil (hari ke- 13) = Presetase stabilitas 40 – 20 = 20 (=)
Dengan demikian, level perbahan data dapat ditulis seperti di bawah ini:
Tabel 76. level perubahan subjek (A)
Kondisi A1 B A2