• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5) Maksud Ketidaksantunan

4.2.3.6 Subkategori Memperingatkan Cuplikan Tuturan

P : “Kuwi yo ra neng kono, opo-opo kok mung utah!!!” (C14) MT: (memindahkan barang ke tempat lain).

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di toko penutur. MT membantu penutur menyusun barang dagangan penutur. Sebelumnya, MT sudah menumpahkan barang yang tidak sengaja disenggolnya. MT salah meletakkan barang yang hendak ia susun.

Penutur mengingatkan MT untuk tidak meletakkan barang di tempat yang salah karena nanti bisa tumpah lagi.)

Cuplikan Tuturan 36

MT1: “Bu, aku boleh minta ganti HP baru?” MT2: (belum sempat menjawab).

P : “Pokoknya jangan dikasih, nanti buat macem-macem, wong masih SMP gitu udah minta yang macem-macem!” (C21)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika MT1 sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya (MT2).MT1 meminta HP model terbaru kepada ibunya. Penutur yang berada di dalam kamar mendengar perbincangan MT1 dengan ibu. Penutur langsung keluar kamar dan menanggapi permintaan MT1 dengan sinis.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan C14 : “Kuwi yo ra neng kono, opo-opo kok mung utah!!!” (Itu ya tidak di situ, apa-apa kok hanya tumpah!!!)

Tuturan C21 : “Pokoknya jangan dikasih, nanti buat macem-macem, wong masih SMP gitu udah minta yang macem-macem!”

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C14 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur mengingatkan dengan sinis. Penutur membuat MT tersinggung dengan tuturannya.

Tuturan C21 : Penutur berbicara dengan keras. Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur menyinggung MT1.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan C14 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel yo, kok, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa neng kono, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan C21 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel wong, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata jangan, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu pokoknya, dikasih, buat, macem- macem, masih, gitu, dan udah; penggunaan istilah bahasa Jawa wong.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C14 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di toko penutur. MT membantu penutur menyusun barang dagangan penutur. Sebelumnya, MT sudah menumpahkan barang yang tidak sengaja disenggolnya. MT salah meletakkan barang yang hendak ia susun. Penutur mengingatkan MT untuk tidak meletakkan barang di tempat yang salah karena nanti bisa tumpah lagi. Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di toko pada siang hari pukul 12.30 WIB, tanggal 6 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 46 tahun. MT laki-laki berusia 18 tahun. MT adalah anak penutur. Tujuan dari penutur adalah mengingatkan MT agar meletakkan barang pada tempatnya. Tindak verbal yang terjadi adalah direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT meletakkan barang pada tempatnya dengan berhati-hati.

Tuturan C21 : Tuturan terjadi ketika MT1 sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya (MT2). MT1 meminta HP model terbaru kepada ibunya. Penutur yang berada di dalam kamar mendengar perbincangan MT1 dengan

ibu. Penutur langsung keluar kamar dan menanggapi permintaan MT1 dengan sinis. Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur perempuan berusia 20 tahun. MT1 laki-laki berusia 15 tahun. MT2 perempuan berusia 47 tahun. MT1 adalah adik dari penutur. MT2 adalah ibu dari MT1 dan penutur. Tujuan dari penutur menanggapi permintaan MT1 kepada ibunya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT1 langsung diam dan pergi ke kamarnya.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan C14 : penutur hanya bermaksud mengomentari pekerjaan mitra tutur. Tuturan C21 : penutur bermaksud melarang mitra tutur yang meminta HP

baru.

4.2.4 Menghilangkan Muka

Kategori ketidaksantunan yang menghilangkan muka memiliki lima subkategori, yaitu mengejek, memperingatkan, menyindir, kesal, dan meremehkan. Kelima subkategori tersebut dianalisis berdasarkan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan. Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara penyampaian penutur yang mengikuti setiap tuturan lisan tidak santun. Penanda ketidaksantunan linguistik dianalisis berdasarkan intonasi, penggunaan partikel, nada tutur, tekanan, dan diksi dalam setiap tuturan. Penanda

ketidaksantunan pragmatik berupa konteks yang melingkupi setiap tuturan. Maksud ketidaksantunan berkenaan dengan tujuan dari penutur ketika mengutarakan tuturan tidak santunnya kepada mitra tutur. Berikut adalah analisis tuturan tidak santun dari kelima subkategori tersebut.

4.2.4.1Subkategori Mengejek Cuplikan Tuturan 39

MT : “Umurku 35 tahun kan yo, Bu?”

P : “La yo mboh, mbok umurmu dewe kok tekok.” (D1) MT : “Yo kan aku lali bu.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang menerima tamu di teras rumah. Penutur duduk tidak jauh dari MT. MT bertanya tentang usianya. Penutur menjawab pertanyaan MT dengan seenaknya.)

Cuplikan Tuturan 50

P : “Mangane kok gembus meneh? neng omah gembus, neng kene yo gembus.”

MT: “Iyo mbak, wong senenge gembus.”

P : “Wo lah yo kuwi, suwi-suwi raine dadi rai gembus.” (D12)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur berada di warung makan miliknya. Di warung makan tersebut, MT datang hendak membeli makanan. Selain penutur dan MT, terdapat pula pembeli yang lain. MT lalu bercerita bahwa tadi pagi memasak tempe gembus, lalu sekarang hendak membeli lauk tempe gembus juga. Penutur bukannya menanggapi cerita dengan baik, tetapi justru mengejeknya.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan D1 : “La yo mboh, mbok umurmu dewe kok tekok.” (Ya tidak tahu, umurmu sendiri kok tanya.)

Tuturan D12 : “Wo la yo kuwi, suwi-suwi raine dadi rai gembus.” (Wah, la ya itu, lama-lama mukanya jadi muka gembus.)

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D1 : Penutur berbicara di depan orang lain. Penutur berbicara tanpa melihat ke MT. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur tidak merasa telah mempermalukan MT di depan tamunya.

Tuturan D12 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur memberi ejekan kepada MT. Penutur berbicara di depan orang lain. Penutur mempermalukan MT di depan umum tanpa merasa bersalah.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan D1 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel la, yo, mbok, kok, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata mboh, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan D12 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel lah, yo, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata gembus, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D1 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang menerima tamu di teras rumah. Penutur duduk tidak jauh dari MT. MT bertanya tentang usianya. Penutur menjawab pertanyaan MT dengan seenaknya. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di teras rumah pukul 17.00 WIB, tanggal 10 April 2013. Penutur perempuan berusia 55 tahun. MT perempuan berusia 35 tahun. MT adalah anak dari penutur. Tujuan dari penutur menanggapi pertanyaan MT

yang menanyakan berapa usianya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung menghitung sendiri usianya.

Tuturan D12 : Tuturan terjadi ketika penutur berada di warung makan miliknya. Di warung makan tersebut, MT datang hendak membeli makanan. Selain penutur dan MT, terdapat pula pembeli yang lain. MT lalu bercerita bahwa tadi pagi memasak tempe gembus, lalu sekarang hendak membeli lauk tempe gembus juga. Penutur bukannya menanggapi cerita dengan baik, tetapi justru mengejeknya. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di warung makan pada siang hari pukul 14.30 WIB, tanggal 13 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 48 tahun. MT perempuan berusia 45 tahun. MT adalah tetangga penutur. Tujuan dari penutur adalah menanggapi ceritaMT tentang makanan yang ia masak tadi pagi. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah dikarenakan malu, MT tidak jadi memilih lauk tempe gembus, ia lalu memilih lauk lain.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan D1 : penutur hanya bermaksud menanggapi pertanyaan mitra tutur. Tuturan D12 : penutur hanya bermaksud bercanda dengan mitra tutur.

4.2.4.2Subkategori Memperingatkan Cuplikan Tuturan 41

P : “Kamu tu harusnya lebih rajin, nilaimu tu malu-maluin!” (D3) MT: “Iya-iya, Mbak.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di ruang keluarga bersama anggota lainnya. Penutur duduk di sebelah MT. Penutur dan anggota keluarga sedang membicarakan tentang prestasi keluarga.)

Cuplikan Tuturan 44

P : “Wes, ojo kakean leh ngomong, ndak kewengen!” (D6) MT: (langsung pergi).

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu di ruang tamu. MT datang untuk ikut berbincang-bincang dengan tamu penutur. Penutur menegur MT yang terlalu banyak bertanya kepada tamu penutur padahal malam semakin larut. Penutur menegur MT di depan tamu penutur.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan D3 : “Kamu tu harusnya lebih rajin, nilaimu tu malu-maluin!” Tuturan D6 : “Wes, ojo kakean leh ngomong, ndak kewengen!” (Sudah,

jangan banyak bicara, nanti kemalaman.) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D3 : Penutur berbicara di depan anggota keluarga yang lain. Penutur mengakibatkan MT merasa malu. Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara tanpa melihat ke MT.

Tuturan D6 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur berbicara di depan tamu. Penutur mengakibatkan MT merasa malu. Penutur berbicara dengan sinis.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan D3 : tuturan dikatakan dengan intonasi seru, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata malu-maluin, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu tu, harusnya, dan malu-maluin.

Tuturan D6 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa ndak kewengen, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D3 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di ruang keluarga bersama anggota lainnya. Penutur duduk di sebelah MT. Penutur dan anggota keluarga sedang membicarakan tentang prestasi keluarga. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur perempuan berusia 22 tahun. MT laki-laki berusia 15 tahun. MT adalah adik dari penutur. Tujuan dari penutur adalah menyindir MT yang nilainya tidak sebaik nilai kakak-kakaknya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi MT langsung masuk ke kamar dengan raut muka malu.

Tuturan D6 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu di ruang tamu. MT datang untuk ikut berbincang-bincang dengan tamu penutur. Penutur menegur MT yang terlalu banyak bertanya kepada tamu penutur padahal malam semakin larut. Penutur menegur MT di depan tamu penutur. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pukul 19.00 WIB, tanggal 20 April 2013. Penutur perempuan berusia 40 tahun, MT perempuan berusia 62

tahun. MT adalah ibu dari penutur. Tujuan dari penutur menegur MT yang banyak bertanya kepada tamu penutur. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung pergi meninggalkan penutur dan tamunya.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan D3 : penutur bermaksud memperingatkan mitra tutur untuk lebih rajin belajar.

Tuturan D6 : penutur bermaksud mengusir mitra tutur yang banyak bertanya kepada tamu penutur.

4.2.4.3Subkategori Menyindir Cuplikan Tuturan 53

MT : “Mbak, nek aku nganggo iki pas ra yo?”

P : “Kowe ki saiki lemu, kok pede tenan ngengge klambi ukuran S koyo ngono.” (D15)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di kamar. Selain penutur dan MT, kakak MT juga berada di kamar tersebut. MT sedang mencoba baju yang baru dibelinya. MT bertanya kepada penutur apakah baju itu cocok dengannya. Penutur menjawab dengan sindirran karena penutur merasa baju itu tidak sesuai dengan badan MT yang sedikit lebih gemuk dari sebelumnya.)

Cuplikan Tuturan 54

P : “Heh, udah nambah belum itu tinggimu?” (D16) MT: “Ya segini aja kok.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang duduk di teras rumah. MT baru saja datang bersama adiknya, lalu menyapa penutur. Selain penutur, terdapat 2 anggota keluarga lain yang duduk di teras itu. Penutur tidak membalas sapaan MT, tetapi malah menyindir MT yang tidak terlalu tinggi.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan D15 : “Kowe ki saiki lemu, kok pede tenan ngengge klambi ukuran S koyo ngono.” (Kamu itu sekarang gemuk, kok pede sekali pakai baju ukuran S seperti itu.)

Tuturan D16 : “Heh, udah nambah belum itu tinggimu?” 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D15 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur membuat MT malu. Penutur tidak merasa telah mengejek MT.

Tuturan D16 : Penutur berbicara dengan santai. Penutur berbicara di depan anggota keluarga yang lain. Penutur berbicara hanya untuk bercanda, tetapi hal itu justru mempermalukan MT.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan D15 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel kok, nada tutur sedang, tekanan lunak pada kata lemu, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan D16 : tuturan dikatakan dengan intonasi tanya, partikel heh, nada tutur sedang, tekanan lunak pada kata nambah, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu udah, nambah.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D15 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di kamar. Selain penutur dan MT, kakak MT juga berada di kamar tersebut. MT sedang mencoba baju yang baru dibelinya. MT bertanya kepada penutur apakah baju

itu cocok dengannya. Penutur menjawab dengan sindirran karena penutur merasa baju itu tidak sesuai dengan badan MT yang sedikit lebih gemuk dari sebelumnya. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pukul 13.30 WIB, tanggal 23 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 34 tahun. MT perempuan berusia 18 tahun. MT adalah keponakan dari penutur. Tujuan dari penutur adalah menanggapi pertanyaan MT tentang cocok tidaknya baju yang sedang dicoba MT. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal representatif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung melepas baju itu dan tidak mencoba baju yang lain.

Tuturan D16 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang duduk di teras rumah. MT baru saja datang bersama adiknya, lalu menyapa penutur. Selain penutur, terdapat 2 anggota keluarga lain yang duduk di teras itu. Penutur tidak membalas sapaan MT, tetapi malah menyindir MT yang tidak terlalu tinggi. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di teras rumah pukul 13.15 WIB, tanggal 23 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 34 tahun. MT perempuan berusia 21 tahun. MT adalah keponakan penutur. Tujuan dari penutur adalah menyindir MT dengan menenyakan apakah tingginya sudah bertambah. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT diam saja karena malu, lalu langsung masuk ke rumah.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan D15 : penutur bermaksud mengomentari mitra tutur yang menggunakan baju tidak sesuai dengan badannya.

Tuturan D16 : penutur hanya bermaksud bercanda dengan mitra tutur.

4.2.4.4Subkategori Kesal Cuplikan Tuturan 51

P : “Le, tumbaske gulo sek neng warung kono!” MT: “Iyo, Bu, mengku disek.”

P : “Ah, kowe ki nek diperintah mung nggawe gelo.” (D13)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur hendak membuatkan minuman untuk tamunya. MT sedang menyiapkan buku pelajarannya besok. Penutur menyuruh MT untuk membeli gula di warung depan rumahnya. MT tidak langsung pergi karena ia ingin merapikan buku- bukunya terlebih dahulu. Penutur kesal, lalu memarahi MT dengan nada tinggi, padahal sedang ada tamu.)

Cuplikan Tuturan 56

MT : “Gimana, Dek, maunya di mana?”

P : “Pokoknya aku mau di UIN aja, gak mau di UNS.” (D18) MT : “Ya udah, ibu nurut aja, yang penting sukanya di mana.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang membicarakan tentang kelanjutan kuliah penutur di ruang keluarga. MT memberi tawaran kepada penutur untuk melanjutkan kuliah di UIN atau di UNS.Penutur tidak tertarik melanjutkan kuliah di UNS.Penutur langsung menolak tawaran MT sambil beranjak meninggalkan MT.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan D13 : “Ah, kowe ki nek diperintah mung nggawe gelo.” (Ah, kamu itu kalau diperintah membuat kecewa.)

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D13 : Penutur berbicara di depan tamunya. Penutur tidak melihat kondisi MT. Penutur membuat MT malu. Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara dengan suara keras.

Tuturan D18 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur berbicara di depan anggota keluarga yang lain. Penutur mempermalukan MT, tetapi penutur tidak merasa telah mempermalukan MT. Penutur berbicara dengan ketus.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan D13 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel ah, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata gelo, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan D18 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa gak mau, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu mau, aja, gak.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D13 : Tuturan terjadi ketika penutur hendak membuatkan minuman untuk tamunya. MT sedang menyiapkan buku pelajarannya besok. Penutur menyuruh MT untuk membeli gula di warung depan rumahnya. MT tidak langsung pergi karena ia ingin merapikan buku-bukunya terlebih dahulu. Penutur kesal, lalu memarahi MT dengan nada tinggi, padahal sedang ada tamu. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pukul 19.30 WIB, tanggal 20 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 41 tahun. MT

laki-laki berusia 12 tahun. MT adalah anak penutur. Tujuan dari penutur adalah memarahi MT yang tidak langsung melaksanakan perintahnya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung pergi melaksanakan perintah penutur.

Tuturan D18 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang membicarakan tentang kelanjutan kuliah penutur di ruang keluarga. MT memberi tawaran kepada penutur untuk melanjutkan kuliah di UIN atau di UNS. Penutur tidak tertarik melanjutkan kuliah di UNS. Penutur langsung menolak tawaran MT sambil beranjak meninggalkan MT. Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur perempuan berusia 22 tahun. MT perempuan berusia 47 tahun. MT adalah ibu dari penutur. Tujuan dari penutur adalah menolak melanjutkan kuliah di UNS. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung menuruti kemauan penutur.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan D13 : penutur bermaksud mengungkapkan kekesalannya kepada mitra tutur yang sulit diperintah.

Tuturan D18 : penutur bermaksud protes kepada mitra tutur.

4.2.4.5Subkategori Meremehkan