Beberapa Pelajaran Penting
2.1. Substansi, problem, dan framing
Kemampuan aktor gerakan/advokasi untuk merumuskan serta mengemas isu dan masalah yang diperjuangkan, sehingga mudah dipahami—dan dengan demikian mendapat dukungan—publik, khususnya kelompok-kelompok akar rumput yang diperjuangkan. Kejelasan rumusan tuntutan (claim) itu juga mempengaruhi respons positif lembaga negara/pemerintah yang menjadi sasaran advokasi kebijakan yang sedang diperjuangkan.
Dalam kasus advokasi Kuota Perempuan 30 persen di Parlemen, permasalahan dirumuskan dan dikemas dengan singkat, padat dan jelas. Berangkat dengan mengemukakan data jumlah perempuan yang berada di parlemen setiap periodenya, ditunjukkan potret mengenai minimnya perempuan yang duduk dalam pengambilan keputusan. Minimnya representasi perempuan dalam bidang politik ini antara lain disebabkan oleh kondisi budaya yang patriakal di Indonesia. Minimnya jumlah perempuan di parlemen sebagai pengambil keputusan ini menjadi salah satu akar permasalahan dari kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan perempuan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan affirmatif mengenai kuota perempuan sebesar 30% untuk duduk di parlemen. Nampak pula bahwa argumentasi dikemukakan dengan strategis.
Selain itu, kejelasan angka 30 persen pun membuat tuntutan ini begitu matang. Belum lagi contoh di berbagai negara terkait jumlah perempuan dalam parlemen dan kebijakan yang kemudian dihasilkannya. Hal ini membuat tidak hanya banyak perempuan, namun juga laki-laki, memberikan respon positif untuk memberikan dukungan atas tuntutan ini.
Modul SAMBUNGKAN….! )nteraksi Organisasi Masyarakat Sipil dengan Pembuat Kebijakan di Indonesia. Page 35
Berbeda dengan kasus kutoa perempuan, pada kasus UU Pornografi rumusan permasalahan tidak terlalu clear. Jargon Tolak UU Pornografi yang digunakan dalam
tuntutan ini, mengundang banyak persepsi. Argumentasinya juga kurang strategis, karena argumentasi yang digunakan panjang lebar dan ditemukan berbeda-beda dikemukakan. Walaupun banyak contoh untuk menguatkan tuntutan ini berhasil diangkat (seperti baju adat dari berbagai suku, patung, lukisan yang merupakan karya seni, dan lain sebagainya) sehingga beberapa Pemerintah Daerah mendukung tuntutan ini. Namun, dengan ketidakjelasan rumusan masalah serta argumen, menyebabkan
counter movement juga berkembang. Ketidakjelasan masalah dan argumen ini bahkan diputarbalikkan seolah-olah gerakan ini menjunjung tinggi pornografi. Sehingga pada akhirnya di tingkat Mahkamah Konstitusi pun tuntutan ini menemukan kegagalan.
Dalam kasus Tap MPR IX/2001, secara substansial sebenarnya dapat dikatakan berhasil sekaligus tidak berhasil. Disebutkan berhasil karena kelompok Pembaruan Agraria berhasil merumuskan masalah dengan baik diikuti dengan argumentasi strategis. Namun seperti dijelaskan di awal, bahwa Kelompok Kerja untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam (Pokja PSDA), di momen yang sama juga bergerak mendorong terbitnya Tap MPR tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam. Sehingga kemudian tuntutan ini kemudian menggabungkan dua kepentingan dalam satu payung atas nama Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (PA-PSDA). Dijadikannya satu dari dua kepentingan besar ini secara substansi berdampak pada kesimpangsiuran substansi
Seperti yang dikemukakan Gunawan Wiradi, akademisi terkemuka di bidang politik agraria, yang menolak isi Tap MPR ini, dengan alasan diantaranya adalah karena Tap ini ternyata tidak berhasil mengintegrasikan konsep PA dan konsep PSDA. Sekalipun namanya satu Tap, tapi isinya tetap dua hal yang terpisah. Dengan kata lain Tap MPR ini sesungguhnya tidak berhasil menyatukan kedua kepentingan itu menjadi satu-kesatuan yang utuh. Di dalam Tap MPR, sektor agraria dan pengelolaan sumber daya alam ditempatkan dan dimaknai sebagai dua entitas yang berbeda.
Dari sini, menurut Wiradi, Tap MPR ini merupakan hasil maksimal kompromi dari suatu pertarungan antara kelompok pendukung agraria yang genuine, kelompok pendukung kepentingan modal, dan kelompok yang terjebak ke dalam penggunaan jargon-jargon yang berasal dari pihak lain yang sebenarnya mereka musuhi sendiri. Dan, pertarungan gagasan itu dimenangkan kelompok ketiga. Terbukti ketika gerakan kemudian gagal menggolkan UU PA-PSDA. Berdasarkan hal tersebut, maka secara substansi kasus ini dinyatakan tidak berhasil.
Sedangkan pada isu advokasi pembatalan hak pengusahaan perairan pesisir (HP3) melalui gugatan uji materi (judicial review) terhadap UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ke MK pada 13 Januari 2010, gerakan terbukti mampu merumuskan serta mengemas isu dan masalah yang diperjuangkan. Argumen strategis mengenai privatisasi dan komersialisasi yang dilakukan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara nyata bertentangan dengan konstitusi dasar Republik Indonesia, UUD 1945 dapat dikemukakan dengan jelas diikuti dengan berbagai data yang memperkuat argumen. Sehingga pada akhirnya Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan dan membatalkan ketentuan HP3.
Modul SAMBUNGKAN….! )nteraksi Organisasi Masyarakat Sipil dengan Pembuat Kebijakan di Indonesia. Page 36
Sama halnya dalam kasus advokasi UU BHP, isu yang dikemas untuk menolak UU B(P ini sangat menarik dan menohok, yakni komersialisasi pendidikan , pendidikan
yang semakin mahal . (al ini sangat menyentuh kehidupan mayoritas penduduk
Indonesia, yang menghadapi kehidupan yang semakin sulit karena privatiasi di berbagai sektor layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, naiknya harga-harga kebutuhan pokok, dan sebagainya.
Kemudian hal ini dibenturkan dengan UUD 1945, dimana konstitusi dasar Indonesia sebenarnya secara eksplisit telah mengatur bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab negara, di mana setiap warga negara berhak memperolehnya. Di sisi lain, sejak urusan pendidikan diserahkan kepada daerah pada era otonomi daerah, banyak diberlakukan pendidikan gratis mulai dari SD-SLTA. Dari sini jelas UU BHP ini bertentangan dengan konstitusi serta semangat perubahan yang sudah terjadi di era desentralisasi.
Kemasan problem yang menarik disertai dengan argumentasi yang jelas ini, membuahkan hasil pada dibatalkannya UU membatalkan UU No 9/2009 tentang BHP oleh MK karena dinilai melanggar UUD 1945. Mahkamah Konstitusi (MK) MK menilai, UU BHP ini menyeragamkan bentuk badan hukum pendidikan sehingga mengabaikan bentuk badan hukum lainya seperti yayasan, wakaf dan sebagainya. Selain itu, penyeragaman ini juga mengakibatkan orang miskin tidak bisa mengakses pendidikan padahal hal tersebut diamanatkan UUD 1945. Oleh MK, UU ini tidak menjamin tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Mahkamah juga menilai UU BHP telah mengalihkan tugas dan tanggung Pemerintah dalam bidang pendidikan. Dengan adanya UU BHP misi pendidikan formal yang menjadi tugas pemerintah di Indonesia akan dilaksanakan oleh Badan Hukum Pendidikan Pemerintah (BHPP) dan Badan Hukum Pendidikan Pemerintah Daerah (BHPPD). Padahal UUD 1945 memberikan ketentuan bahwa tanggung jawab utama pendidikan ada di negara. UU BHP menjadikan pendidikan nasional diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar tanpa ada perlindungan sama sekali.
Berdasarkan gambaran kasus di atas jelas bahwa sebuah advokasi memerlukan rumusan masalah dengan jelas, disertai argumen yang strategis dan mudah dipahami serta data maupun contoh-contoh yang memperkuat. Hal ini akan mempengaruhi respons positif dari sasaran advokasi kebijakan yang sedang diperjuangkan.