• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

KOTAK 3 “Sulitnya Komunikasi”

Untuk pertama kalinya istri berangkat menjadi TKW. Pak O dan istri berjanji untuk saling menjaga komunikasi di antara mereka. Namun sangat disayangkan harapan itu kandas karena majikan TKW tidak memberikan izin untuk berkomunikasi dengan Pak O. Pak O dan istri pun sangat kecewa dengan hal ini. Namun, keberuntungan datang kepada istri Pak O karena ada TKW Indonesia juga yang bekerja di Malaysia akhirnya istri Pak O memberikan no handphone temannya dan memberitahukan Pak O untuk menanyakan kabar istrinya lewat teman TKW.

Perasaan Suami terhadap Istri

Setiap pasangan suami istri yang tinggal secara berpisah dan cukup jauh dalam waktu yang cukup lama dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan rumahtangga. Pada Tabel 13 terlihat bahwa lebih dari separuh suami (61,7%)

yang ditinggalkan oleh istri pergi untuk bekerja di luar negeri memiliki perasaan biasa saja yaitu tidak sedih ataupun tidak juga gembira pada saat istri tidak dapat berperan sebagaimana mestinya. Suami mengatakan bahwa sudah terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumahtangga baik mengurus rumah maupun anak selama istri tidak ada dirumah. Pada awalnya suami terpaksa melakukan kegiatan rumahtangga dan mengasuh anak namun semakin lama perasaan terpaksa tersebut berubah menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan secara ikhlas sehingga suami pun menjadi terbiasa dengan kegiatan rumahtangga yang dilakukannya.

Sebesar 36,7 persen suami merasa malu karena istri tidak dapat berperan sebagaimana mestinya layaknya seperti ibu rumahtangga. Suami menginginkan istri tidak bekerja disektor publik namun suami lebih menginginkan istri bekerja disektor domestik (memasak, menyuci, dan mengepel), mengasuh anak, dan dapat melayani suami dengan baik. Sisanya sebesar 1,7 persen suami merasa bangga meskipun istri tidak dapat berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan rumahtangga. Bagi suami mengerjakan pekerjaan rumahtangga adalah hal yang tidak mudah namun karena rasa kasih sayang terhadap anak maka suami rela berkorban untuk memberikan yang terbaik dalam mengasuh anak dan mengerjakan kegiatan rumahtangga. Kepergian istri ke luar negeri bukan untuk mencari kesenangan namun untuk membantu keuangan keluarga. Oleh karena itu, suami merasa bangga walaupun istri tidak dapat berperan sebagaimana mestinya seperti ibu rumahtangga lain namun dapat berperan membantu meningkatkan keuangan keluarga.

Saat istri bekerja menjadi TKW sampai ke luar negeri, hampir lebih dari separuh suami (60%) memiliki perasaan biasa saja yaitu tidak sedih ataupun gembira terhadap kondisi pekerjaan istri yang bekerja sebagai TKW. Hal itu dikarenakan suami menganggap bahwa kepergian istri menjadi TKW adalah hal biasa di lingkungan masyarakat tempat tinggal suami meninjau bahwa di sekitar lingkungan tempat tinggal suami sudah terbiasa para suami ditinggalkan oleh para istrinya yang menjadi TKW di luar negeri. Sebesar 31,7 persen suami merasa malu saat istri bekerja menjadi TKW sampai ke luar negeri. Suami beranggapan bahwa istri bekerja menjadi TKW karena suami tidak sanggup mencukupi kebutuhan sang istri baik kebutuhan rumahtangga maupun kebutuhan pribadi istri. Pemikiran tersebut pada akhirnya menimbulkan rasa malu pada diri suami. Adapula suami yang bangga saat istri menjadi TKW

dengan persentase 8,3 persen. Hal itu dikarenakan, istri bekerja menjadi TKW di luar negeri dapat menambah penghasilan keluarga sehingga dapat meringkan beban suami dalam mencukupi kebutuhan anak dan rumahtangga.

Suami yang ditinggal istri bekerja ke luar negeri, akan hidup tanpa istri untuk sementara waktu walaupun tidak jelas kapan tepat waktunya istri pulang. Sebesar 51,7 persen suami memiliki perasaan biasa saja saat hidup tanpa istri untuk sementara. Suami tidak merasa sedih ataupun gembira terhadap keadaan yang sedang dialaminya saat ini. Bagi suami, hal tersebut merupakan hal biasa yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya karena adapula tetangga yang bernasib sama ditinggalkan istri bekerja menjadi TKW hingga ke luar negeri. Tabel 13 menunjukkan bahwa sebesar 33,3 persen suami merasa malu karena hidup tanpa istri untuk sementara. Suami beranggapan bahwa karena kesalahan diri sendiri yang membuat istri bekerja hingga ke luar negeri yang pada akhirnya berakibat harus hidup tanpa istri untuk sementara. Sebagian kecil suami (3,3%) yang merasa bangga hidup tanpa istri. Suami menyatakan bahwa istri sudah bersusah payah mencari uang demi meningkatkan keuangan keluarga sehingga perlu adanya rasa bangga terhadap hasil kerja keras istri.

Pada tabel menunjukkan bahwa lebih dari separuh suami (51,7%) memiliki perasaan biasa saja saat istri mempunyai penghasilan yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat terjadi karena suami beranggapan yang paling utama adalah istri dapat mengirimkan uang untuk mencukupi kebutuhan rumahtangga dan anak karena apabila hanya bergantung pada penghasilan suami saja tidak cukup dalam memenuhi kebutuhan rumahtangga dan anak (Tabel 13). Sebesar 38,3 persen suami merasa malu karena istri mempunyai penghasilan lebih tinggi. Apabila istri mempunyai penghasilan tinggi daripada suami berarti suami gagal dalam mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Sisanya sebesesar 10 persen suami bangga istri mempunyai penghasilan lebih tinggi karena dengan begitu istri dapat meringkan beban dan tanggung jawab suami dalam menafkahi keluarga (Tabel 13). Pada intinya suami merasa biasa saja terhadap situasi keluarga yang dialaminya. Hal ini dapat terlihat dari perasaan suami yang tidak sedih ataupun gembira saat istri tidak dapat berperan sebagaimana mestinya, istri bekerja menjadi TKW sampai ke luar negeri, hidup tanpa istri untuk sementara, dan istri punya penghasilan lebih tinggi.

Tabel 13 Sebaran suami berdasarkan perasaan suami terhadap istri No Perasaan suami terhadap situasi keluarga 1 2 3

% % % 1 Istri tidak dapat berperan sebagaimana

mestinya

36,7 61,7 1,7 2 Istri bekerja menjadi TKW sampai ke luar

negeri

31,7 60,0 8,3 3 Hidup tanpa istri untuk sementara 33,3 63,3 3,3 4 Istri punya penghasilan lebih tinggi 38,3 51,7 10,0 Keterangan : 1. Malu 2. Netral 3. Bangga

Dukungan Sosial

Dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam menjalani kehidupannya, juga bagi keluarga dalam menjalani kehidupan perkawinannya bagi pelaksanaan pengasuhan anak. Dukungan sosial diukur melalui dimensi emosi, ekonomi, dan informasi. Dukungan sosial dapat diperoleh melalui keluarga, masyarakat, maupun dari lembaga-lembaga masyarakat yang berada di lingkungan sekitar. Dukungan sosial mampu memberikan kekuatan yang dimana dapat mengurangi kesulitan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Kualitas dukungan sosial yang tinggi dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik yang semakin tinggi pula (Tati 2004).

Dukungan keluarga besar adalah dukungan yang diberikan oleh keluarga besar kepada suami baik berupa dukungan emosi, instrumen, penghargaan maupun informasi. Dukungan emosi yang sering diberikan keluarga besar kepada suami yaitu ketika keluarga besar mau mendengarkan masalah yang sedang saya hadapi, menunjukkan kepedulian serta memperlihatkan perhatian yang tinggi, berbagi kesulitan dengan suami, dan saat keluarga besar memberikan semangat hidup selama istri bekerja sebagai TKW. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dukungan instrumen yang sering diberikan keluarga besar kepada suami adalah bantuan dalam mengasuh anak (48,3%). Hampir separuh suami (41,7%) menyatakan bahwa keluarga besar kadang-kadang memberikan bantuan saat mengalami kesulitan keuangan. Lebih dari separuh suami (55%) mengatakan bahwa keluarga besar tidak pernah membantu meringankan pekerjaan rumah tangga selama istri menjadi TKW. Hal tersebut dikarenakan suami dan anak bekerja sama dalam melakukan pekerjaan rumah tangga serta tidak ingin merepotkan keluarga besar dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Dukungan penghargaan yang sering diberikan keluarga besar kepada suami yaitu ketika keluarga besar mengatakan sesuatu yang dapat membuat tenang dan merasa dihargai serta apapun yang suami lakukan

keluarga besar selalu mendukung tindakan suami selama tindakan tersebut positif. Berdasarkan hasil wawancara, lebih dari satu pertiga suami (36,17%) sering memperoleh dukungan informasi dari keluarga besar yaitu saat keluarga besar banyak memberi solusi setiap suami menghadapi masalah.

Keluarga inti dalam penelitian ini terdiri dari suami dan anak maka dari itu dukungan keluarga inti adalah dukungan yang diberikan anak kepada suami. Adapun dukungan yang diberikan oleh keluarga inti dirasakan tinggi oleh semua suami. Lebih dari separuh suami (55%) menyatakan bahwa suami dan anak- anak sering saling membantu dan mendukung selama istri menjadi TKW. Sebagian besar suami (75%) menyatakan bahwa suami dan anak-anak sering berkomunikasi dan saling terbuka.

Tabel 14 menunjukan bahwa dukungan emosi yang diberikan tetangga dirasakan tinggi oleh suami. Adapun dukungan emosi yang sering diberikan oleh tetangga yaitu ketika lingkungan sosial masyarakat memberikan perasaan aman kepada suami terutama ketika istri menjadi TKW, suami merasa tenang dengan lingkungan tempat tinggalnya karena merupakan lingkungan yang baik untuk menumbuh kembangkan anak, dan teman-teman suami selalu menghibur ketika sedang menghadapi masalah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dukungan informasi yang sering diberikan oleh tetangga kepada suami yaitu saat suami dan tetangga selalu bertukar pikiran dan berbagi masalah (43,3%). Separuh suami (50%) mengatakan bahwa kadang-kadang tetangga memberikan solusi ketika menghadapi masalah dan sebesar 35 persen lingkungan sosial masyarakat memberikan nasihat dan saran kepada suami ketika menghadapi masalah.

PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) adalah perusahaan yang bergerak dibidang penyaluran jasa keluar negeri dan PJTKI memiliki tugas dan tanggung jawab dari awal keberangkatan TKW hingga saat TKW sudah berangkat dan bekerja di luar negeri. Tabel 14 menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan oleh PJTKI dirasakan rendah oleh semua suami. Hampir seluruh suami menyatakan bahwa PJTKI tidak pernah memberikan dukungan sosial kepada keluarga contoh. Suami menyatakan bahwa dukungan sosial yang diberikan oleh PJTKI kepada keluarga contoh diberikan sebelum istri berangkat menjadi TKW. Saat istri sudah berangkat dan bekerja menjadi TKW, PJTKI tidak pernah memberikan dukungan sosial kepada keluarga contoh. Bagi suami, hal tersebut dapat terjadi karena PJTKI menganggap bahwa setelah istri sudah

berangkat dan bekerja di luar negeri segala urusan yang berkaitan dengan keluarga contoh telah selesai.

Tabel 14 Sebaran suami berdasarkan penerimaan dukungan sosial

No Dukungan Sosial

1 2 3 Rata-rata

Skor % % % % Keluarga Besar

1 Keluarga besar berperan banyak dalam membantu meringankan pekerjaan rumah tangga selama istri menjadi TKW

55,0 18,3 26,7 1,72

2 Keluarga besar berperan banyak dalam membantu kesulitan keuangan

38,3 41,7 20,0 1,82 3 Keluarga besar berperan banyak dalam

membantu pengasuhan anak

26,7 25,0 48,3 2,22 4 Keluarga besar banyak memberi solusi

setiap saya menghadapi masalah

35,0 28,3 36,7 2,02 5 Keluarga mau mendengarkan masalah

yang sedang saya hadapi

28,3 35,0 36,7 2,08 6 Keluarga menunjukkan kepedulian serta

memperlihatkan perhatian yang tinggi

8,3 38,3 53,3 2,45 7 Saya selalu berbagi kesulitan dengan

keluarga besar

21,7 35,0 43,3 2,22 8 Keluarga saya memberikan semangat

hidup selama istri bekerja sebagai TKW

16,7 33,3 50,0 2,33 9 Keluarga saya selalu mengatakan sesuatu

yang dapat membuat saya tenang dan merasa dihargai

13,3 28,3 58,3 2,45

10 Apapun yang saya lakukan, keluarga selalu mendukung tindakan saya selama tindakan tersebut positif

10,0 23,3 66,7 2,57

Keluarga Inti

1 Saya dan anak-anak saling membantu dan mendukung selama istri menjadi TKW

21,7 23,3 55,0 2,33 2 Saya dan anak-anak berkomunikasi dan

saling terbuka

5,0 20,0 75,0 2,70 Tetangga

1 Lingkungan sosial masyarakat memberikan perasaan aman terutama ketika istri menjadi TKW

6,7 15,0 78,3 2,72

2 Tetangga membantu meminjamkan uang atau barang ketika saya menghadapi kesulitan

45,0 43,3 11,7 1,67

3 Masyarakat selalu memberikan pertolongan ketika saya sedang menghadapi kesulitan

23,3 58,3 18,3 1,95

4 Saya selalu bertukar pikiran dan berbagi masalah dengan tetangga

26,7 30,0 43,3 2,17 5 Saya memiliki teman-teman yang saya

yakini bahwa mereka dapat menghargai dan mendukung tindakan

saya selama tindakan tersebut positif

16,7 30,0 53,3 2,37

6 Tetangga sering memberikan solusi ketika ketika saya menghadapi masalah.

Tabel 14 (lanjutan)

7 Saya merasa tenang dengan lingkungan tempat tinggal saya karena merupakan lingkungan yang baik untuk menumbuh kembangkan anak

6,7 25,0 68,3 2,62

8 Lingkungan sosial masyarakat banyak memberikan nasihat dan saran kepada saya ketika saya menghadapi masalah

31,7 35,0 33,3 2,02

9 Teman-teman saya mau mendengarkan masalah yang sedang saya hadapi

16,7 55,0 28,3 2,12 10 Teman-teman saya selalu menghibur saya

ketika saya sedang menghadapi masalah

3,3 20,0 76,7 2,73 11 Bila keluarga sedang bermasalah, apakah

mendapat dukungan uang/sembako/tenaga/obat-obatan dari

teman?

100,0 0,0 0,0 1,00

12 Apakah keluarga juga mendapat dukungan tersebut dari kelompok atau anggota kemasyarakatan?

95,0 3,3 1,7 1,07

PJTKI 1 Melakukan sosialisasi/penyuluhan program

penempatan TKW ke luar negeri

98,3 1,7 0,0 1,02