• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

4.3.4.1 Sumbangan Protein Sarapan

Berdasarkan hasil penelitian, sumbangan protein sarapan pada siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.15 Distribusi Sumbangan Protein Sarapan pada Siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Cukup 40 74,1

Kurang 14 25,9

Jumlah 54 100,0

Berdasarkan tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa sumbangan protein sarapan siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar lebih besar dalam kategori cukup yaitu 74,1%, dengan rata-rata memperoleh protein sarapan sebanyak 12,7 gram. Berdasarkan tabel diatas juga dapat dilihat bahwa, masih ditemui siswa yang memperoleh protein sarapan kurang dari 15% yaitu sebanyak 14 orang (25,9%) terdapat yang hanya mengkonsumsi protein sebanyak 8,5% dari anjuran konsumsi protein harian (4,2 gram).

Sumbangan sarapan terhadap anjuran kecukupan protein berdasarkan jenis kelamin pada siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.16 Distribusi Sumbangan Protein Sarapan Berdasarkan Jenis Kelamin pada Siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Jenis Kelamin

Sumbangan Protein Sarapan

Jumlah Cukup Kurang N % N % N % Laki-laki Perempuan 24 16 74,1 64,0 5 9 25,9 36,0 29 25 100,0 100,0

Berdasarkan tabel 4.16 di atas dapat diketahui bahwa pada sumbangan protein sarapan terhadap anjuran kecukupan protein berdasarkan jenis kelamin laki-laki lebih banyak memiliki kategori cukup yaitu sebanyak 24 orang (74,1%), dan pada jenis kelamin perempuan lebih banyak memiliki sumbangan terhadap anjuran kecukupan protein kategori cukup yaitu 16 orang (36,0%).

Sumbangan sarapan terhadap anjuran kecukupan protein berdasarkan usia pada siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar ditampilkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.17 Distribusi Sumbangan Protein Sarapan Berdasarkan Usia pada Siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Usia

Sumbangan Protein Sarapan

Jumlah Cukup Kurang N % N % N % 4-6 tahun 6 85,7 1 14,3 7 100,0 7-9 tahun 17 70,8 7 29,2 24 100,0 10-12 tahun 17 73,9 6 26,1 23 100,0

Berdasarkan tabel 4.17 di atas dapat diketahui bahwa sumbangan sarapan terhadap anjuran kecukupan protein berdasarkan usia siswa dengan kategori cukup lebih tinggi pada siswa yang berusia 4-6 tahun yaitu sebesar (85,7%), sedangkan sumbangan energi sarapan dalam kategori kurang lebih tinggi pada usia 7-9 tahun yaitu sebesar (26,1%).

Status Gizi

Status gizi ditentukan dengan pengukuran antropometri berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Penilaian status gizi diperoleh dari hasil pengolahan berat badan dan tinggi badan siswa. Distribusi status gizi siswa berdasarkan nilai Z-score yang diperoleh dari Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.18 Distribusi Status Gizi berdasarkan IMT/U Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Status Gizi berdasrkan IMT/U Jumlah Persentase (%) Normal Kurus Sangat Kurus 35 12 7 64,8 22,2 13,0 Jumlah 54 100,0

Pada tabel 4.18 menunjukkan bahwa berdasarkan IMT/U status gizi siswa sebagian besar adalah kategori normal yaitu sebanyak 35 orang (64,8%) dengan nilai Z-score diatas -2 SD, siswa yang mengalami status gizi kurus sebanyak 12 orang (22,2%), namun juga masih terdapat siswa yang memiliki tubuh sangat kurus yaitu sebanyak 7 orang (13,0%) dengan nilai Z-score dibawah -3SD, siswa tersebut memiliki tinggi dan berat badan masih dibawah yang ideal untuk anak usia sekolah.

Tingkat Prestasi Belajar

Tingkat prestasi belajar siswa ditentukan berdasarkan hasil raport bulanan siswa dengan menghitung rata-rata nilai seluruh mata pelajaran yang ada di raport. Nilai ≥70 masuk dalam kategori „Baik‟ dan jika nilainya <70 masuk dalam kategori „kurang‟ (Kriteria Ketuntasan Minimal SD Negeri 124400 Pematangsiantar, 2016). Distribusi tingkat prestasi belajar siswa berdasarkan nilai rata-rata nilai seluruh mata pelajaran yang ada dalam raport bulanan disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.19 Distribusi Tingkat Prestasi Belajar Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Tingkat Prestasi Belajar Jumlah Persentase (%)

Baik 41 75,9

Kurang 13 24,1

Jumlah 54 100,0

Pada tabel 4.19 menunjukkan bahwa tingkat prestasi belajar siswa sebagian besar adalah kategori baik yaitu sebanyak 41 orang (75,9%), sebanyak

dengan rata-rata nilai 73,2. Sedangkan terdapat siswa yang memiliki nilai dalam kategori kurang yaitu sebanyak 13 orang (24,1%).

Status Gizi Berdasarkan Konsumsi Sarapan Pagi

Konsumsi makanan seseorang berpengaruh terhadap status gizi orang tersebut.Begitu pula dengan konsumsi sarapan pagi seseorang, ketidakseimbangan antara asupan sarapan dan kebutuhan atau kecukupan sarapan akan menimbulkan masalah gizi, baik berupa masalah gizi kurang maupun gizi lebih.Status gizi siswa meliputi Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) berdasarkan konsumsi sarapan pagi siswa (frekuensi,dan jumlah zat gizi ) adalah sebagai berikut :

Status Gizi Berdasarkan Frekuensi Sarapan Pagi

Distribusi status gizi (IMT/U) siswa berdasarkan frekuensi sarapan disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.20 Tabulasi Silang antara Frekuensi Sarapan Pagi dengan Status Gizi (IMT/U) Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Frekuensi Sarapan

Status Gizi

Jumlah

Normal Kurus Sangat

kurus

N % N % N % N %

Sering 26 68,4 8 21,1 4 10,5 38 100,0

Jarang 9 56,2 4 25,0 3 18,8 16 100,0

Pada tabel 4.20 menunjukkan semua siswa yang sering sarapan pagi lebih banyak yang memiliki status gizi normal. Siswa yang frekuensi sarapannya dengan kategori sering cenderung memiliki status gizi normal sebanyak 26 orang

(68,4%). Siswa yang memiliki frekuensi sarapan dengan kategori jarang memiliki status gizi normal sebanyak 9 siswa (56,2%), dan sangat kurus sebanyak 3 siswa (18,8%).

Status Gizi Berdasarkan Sumbangan Energi Sarapan Pagi

Distribusi status gizi (IMT/U) siswa berdasarkan sumbangan energi sarapan disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.21 Tabulasi Silang antara Sumbangan Energi Sarapan Pagi dengan Status Gizi (IMT/U) Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016 Sumbangan Energi Sarapan Status Gizi Jumlah Normal Kurus Sangat Kurus

N % N % N % N %

Cukup 19 63,3 7 23,3 4 13,3 30 100,0

Kurang 3 56,3 5 25,0 16 18,8 24 100,0

Pada tabel 4.21 menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh energi sarapan cukup sebanyak 30 orang dan 19 orang (63,3%) diantaranya memiliki status gizi normal sedangkan siswa dengan status gizi sangat kurus sebanyak 4 orang (13,3%), sedangkan siswa yang memperoleh energi sarapan kurang sebanyak 24 orang. Dari seluruh siswa yang memperoleh energisarapan kurang, yang memiliki status gizi normal sebanyak 16 orang (56,3%) sedangkan sangat kurus sebanyak 3 orang (18,8%).

Status Gizi Berdasarkan Sumbangan Protein Sarapan Pagi

Distribusi status gizi (IMT/U) siswa berdasarkan sumbangan protein sarapan disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.22 Tabulasi Silang antara Sumbangan Protein Sarapan Pagi dengan Status Gizi (IMT/U) Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun

Sumbangan Protein Sarapan

Status Gizi

Jumlah Normal Kurus Sangat Kurus

N % N % N % N %

Cukup 26 65,0 9 22,5 5 12,5 40 100,0

Kurang 9 64,3 3 21,4 2 14,3 14 100,0

Pada tabel 4.22 menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh protein sarapan cukup sebanyak 40 orang dan 26 orang (65,0%) diantaranya memiliki status gizi normal sedangkan siswa dengan status gizi sangat kurus sebanyak 5 orang (12,5%), sedangkan siswa yang memperoleh protein sarapan kurang sebanyak 14 orang. Dari seluruh siswa yang memperoleh protein sarapan kurang, yang memiliki status gizi normal sebanyak 9 orang (64,3%) sedangkan sangat kurus sebanyak 2 orang (14,3%).

Tingkat Prestasi Belajar Berdasarkan Konsumsi Sarapan Pagi

Konsumsi sarapan pagi seseorang berpengaruh pada tingkat prestasi belajar orang tersebut, Asupan gizi yang diperoleh akan mempengaruhi kecerdasan otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung prastasi belajar anak ke arah yang lebih baik. Kebiasaan sarapan pagi pada anak untuk menunjang aktivitas sekolah agar tetap fit. Bila tidak sarapan, kadar gula darah turun padahal gula dalam darah merupakan energi utama yang sangat diperlukan bagi otak. Tingkat prestasi belajar berdasarkan konsumsi sarapan pagi siswa (frekuensi,dan jumlah zat gizi ) adalah sebagai berikut :

Tingkat Prestasi Belajar Berdasarkan Frekuensi Sarapan Pagi

Distribusi tingkat prestasi belajar siswa berdasarkan frekuensi sarapan pagi disajikan pada tabel di bawah in:

Tabel 4.23 Tabulasi Silang antara Frekuensi Sarapan Pagi dengan Tingkat Prestasi Belajar Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Frekuensi Sarapan

Tingkat Prestasi Belajar

Jumlah

Baik kurang

N % N % N %

Sering 28 73,7 10 26,3 38 100,0

Jarang 13 81,3 3 18,7 16 100,0

Pada tabel 4.23 menunjukkan bahwa berdasarkan frekuensi sarapan pagi yang lebih sering melakukan sarapan pagi lebih banyak memiliki tingkat prestasi belajar yang lebih baik yaitu sebanyak 28 orang (73,7%) sedangkan yang memiliki prestasi belajar yang kurang sebanyak 10 siswa (26,3%) dari seluruh siswa yang sering melakukan sarapan pagi. Siswa yang jarang melakukan sarapan pagi memiliki beberapa siswa yang tingkat prestasi belajarnya kurang yaitu sebanyak 3 siswa (18,7%).

Tingkat Prestasi Belajar Berdasarkan Sumbangan Energi Sarapan Pagi Distribusi tingkat prestasi belajar siswa berdasarkan sumbangan energi sarapan pagi disajikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.24 Tabulasi Silang antara Sumbangan Energi Sarapan Pagi dengan Tingkat Prestasi Belajar Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Sumbangan Energi Sarapan

Tingkat Prestasi Belajar

Jumlah

Baik kurang

N % n % N %

Cukup 25 83,3 5 16,7 30 100,0

Kurang 16 66,7 8 33,3 24 100,0

Pada tabel 4.24 diatas menunjukkan bahwa berdasarkan sumbangan energi sarapan yang cukup lebih banyak siswa yang memiliki tingkat prestasi belajar

yang baik yaitu sebanyak 25 orang (83,3%) dari 30 orang yang memiliki sumbangan energi sarapan yang cukup, sedangkan dari 24 orang dengan sumbangan sarapan yang kurang hanya 16 orang (66,7%) yang memiliki tingkat prestasi belajar yang baik sedangkan 8 orang (33,3%) lagi memilik tingkat prstasi belajar yang kurang.

Tingkat Prestasi Belajar Berdasarkan Sumbangan Protein Sarapan Pagi Distribusi tingkat prestasi belajar siswa berdasarkan sumbangan protein sarapan pagi disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.25 Tabulasi Silang antara Sumbangan Protein Sarapan Pagi dengan Tingkat Prestasi Belajar Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Sumbangan Protein Sarapan

Tingkat Prestasi Belajar

Jumlah

Baik Kurang

N % n % N %

Cukup 30 75,0 10 25,0 40 100,0

Kurang 11 78,6 3 21,4 14 100,0

Pada tabel 4.25 di atas menunjukkan bahwa berdasarkan sumbangan protein sarapan yang cukup, lebih banyak siswa yang memiliki tingkat prestasi belajar yang baik yaitu sebanyak 30 orang (75,0%) dari 40 orang yang memiliki sumbangan energi sarapan yang cukup, sedangkan dari 14 orang dengan sumbangan protein sarapan yang kurang hanya 11 orang (78,6%) yang memiliki

tingkat prestasi belajar yang baik sedangkan 3 orang (21,4%) lagi memilik tingkat prstasi belajar yang kurang.

Tingkat Prestasi Belajar Berdasarkan Status Gizi Siswa

Distribusi tingkat prestasi belajar siswa berdasarkan status gizi disajikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.26 Tabulasi Silang antara Status Gizi dengan Tingkat Prestasi Belajar Siswa di SD Negeri 124400 Pematangsiantar Tahun 2016

Status Gizi

Tingkat Prestasi Belajar

Jumlah Baik Kurang N % n % N % Normal 29 82,9 6 17,1 35 100,0 Kurus 7 58,3 5 41,7 12 100,0 Sangat Kurus 5 71,4 2 28,6 7 100,0

Pada tabel 4.26 diatas menunjukkan bahwa berdasarkan status gizi siswa yang normal lebih banyak siswa yang memiliki tingkat prestasi belajar yang baik yaitu sebanyak 29 orang (82,9%) dari 35 orang yang memiliki status gizi normal, sedangkan dari 7 orang dengan status gizi sangat kurus hanya 5 orang (71,4%) yang memiliki tingkat prestasi belajar yang baik sedangkan 2 orang (28,6%) lagi memilik tingkat perstasi belajar yang kurang.

Konsumsi sarapan pagi adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran konsumsi sarapan murid sekolah dasar. Konsumsi sarapan pagi siswa sekolah dasar terdiri dari frekuensi sarapan, jumlah energi dan protein sarapan, serta sumbangan energi dan protein sarapan terhadap kebutuhan gizi harian.

Frekuensi Sarapan Pagi Siswa SD

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat diketahui bahwa pada umumnya siswa sekolah dasar sering melakukan sarapan pagi yaitu sebanyak 38 orang (70,4%) dengan frekuensi 6-7 kali dalam seminggu. Sarapan dilakukan pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah pukul 07.00 WIB (53,7%), dan sebagian besar siswa sarapan pagi di rumah (96,3%). Hal ini dapat diketahui dari hasil kuesioner wawancara sarapan pagi. Sebagian murid ada yang frekuensi sarapannya 4 kali dalam seminggu , hal ini terjadi karena anak tersebut memang tidak sarapan dari rumah dengan berbagai alasan seperti tidak sempat, dan tidak selera.

Frekuensi sarapan yang lebih sering dilakukan adalah siswa yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 72,0% dan frekuensi yang jarang melakukan sarapan lebih tinggi pada siswa yang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 31,0%, hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan sarapan berkaitan dengan jenis kelamin seseorang, perempuan akan lebih sering melakukan sarapan pagi karena perempuan lebih peduli terhadap kesehatan seperti takut sakit dan tidak malas,

sedangkan anak laki-laki lebih sering mengikuti malas untuk tidak sarapan dan lebih tertarik untuk jajan di luar rumah.

Berdasarkan kategori usia, yang melakukan sarapan dengan frekuensi sering lebih tinggi pada usia 4-6 tahun yaitu sebanyak 85,7%, hal ini terjadi karena anak usia 4-6 tahun merupakan anak yang baru masuk sekolah yang masih sangat diperhatikan oleh orang tuanya terutama dalam hal makan pagi sebelum berangkat kesekolah, selain itu anak usia 4-6 tahun masih lebih mudah untuk diatur makannya tidak memilih-milih makanan.

Penelitian Ratna (2015) menunujukkan bahwa sebagian murid ada yang sarapan 3 kali dalam seminggu, dengan alasan karena anak tersebut memang tidak sarapan dari rumah dengan alasan tidak sempat, tidak ada yang menyiapkan makanan dan tidak selera. Penelitian Tutik (2013) juga mengatakan dari 52 siswa sebanyak 22,6% yang tidak memiliki kebiasan sarapan, hal ini disebabkan adanya faktor peran orang tua yang tidak sempat membuatkan sarapan pagi dikarenakan sibuk dengan pekerjaannya.

Jenis makanan sarapan yang paling sering dikonsumsi anak sekolah dasar pada saat sarapan adalah nasi dan telur ayam hanya sebagian kecil siswa yang meminum susu saat sarapan. Anak yang memiliki frekuensi jarang dalam sarapan pergi ke sekolah hanya meminum air putih dan mengandalkan jajan ketika jam istirahat sekolah saja.

Seorang anak khususnya anak usia sekolah dasar sangat memerlukan jumlah gizi yang cukup untuk mendukung perkembangan fisik dan otaknya. Anak usia sekolah dasar harus melakukan sarapan sebelum berangkat ke sekolah, hal ini

sangat penting untuk mendukung segala kegiatannya di sekolah seperti akan membantu meningkatkan konsentrasi anak dalam mengikuti pelajaran.

Jumlah Energi Sarapan Serta Sumbangan Terhadap Anjuran Kecukupan Energi

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar sebagian besar adalah kategori cukup sebanyak 55,6%. Hal ini menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi saat sarapan telah memenuhi kebutuhan energi anak tersebut yaitu sekitar 240,0-500 kalori setiap harinya. Namun sumbangan energi terhadap anjuran kecukupan energi dengan kategori kurang juga masih banyak ditemukan yaitu sebanyak 44,4%. Kekurangan energi sarapan berdasarakan jenis kelamin pada perempuan dijumpai masih juga tinggi. Kekurangan energi sarapan ini menunjukkan bahwa porsi makanan dan zat gizi yang dikonsumsi saat sarapan terutama sumber energi masih sedikit sehingga tidak cukup untuk memenuhi 15%-30% dari kebutuhan energi yang dibutuhkan anak usia sekolah dasar.

Jumlah energi sarapan dalam kategori cukup lebih tinggi pada anak yang berusia4-6 tahun yaitu sebesar 85,7%, hal ini sejalan dengan frekuensi makan pagi anak sekolah dasar, semakin sering sarapan maka jumlah energi akan terpenuhi dari makanan tersebut. Jumlah energi sarapan dalam kategori kurang lebih tinggi pada anak usia 10-12 tahun yaitu sebesar 52,2%, hal ini karena anak usia tersebut sudah lebih sulit diajak untuk makan pagi dan lebih tertarik untuk jajan di luar rumah.

Rendahnya asupan zat gizi dapat disebabkan oleh karakteristik perilaku anak, salah satunya dari kebiasaan makan. Aprilia (2013) mangatakan bahwa sepertiga dari pemenuhan angka kecukupan gizi diperoleh dari makan pagi. Selain

dalam pemenuhan kecukupan gizi, sarapan terutama asupan energi dari sarapan juga mempengaruhi konsentrasi belajar anak. Kondisi ini berkaitan dengan penggunaan glukosa sebagai sumber energi, dimana glukosa akan diangkut dan digunakan sebagai nutrisi otak yang akan memengaruhi daya konsentrasi.

Penelitian Ratna (2015), kekurangan energi sarapan pada anak usia sekolah dasar dapat mengganggu aktivitas anak di sekolah termasuk aktivitas belajar. Kekurangan energi yang berlangsung lama akan mengakibatkan kekurangan gizi pada anak. Keadaan gizi yang kurang akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh, terhambatnya proses tumbuh kembang, dan prestasi anak.

Jumlah Protein Sarapan Serta Sumbangan Terhadap Anjuran Kecukupan Protein

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi protein sarapan siswa SD Negeri 124400 Pematangsiantar sebagian besar adalah kategori cukup sebanyak 74,1%. Hal ini menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi saat sarapan telah memenuhi kebutuhan protein anak tersebut. Namun sumbangan protein terhadap anjuran kecukupan protein dengan kategori kurang juga masih banyak ditemukan yaitu sebanyak 25,9%. Kekurangan protein berdasarkan jenis kelamin pada laki-laki ditemui masih tinggi.

Kekurangan protein sarapan ini menunjukkan bahwa porsi makanan dan zat gizi yang dikonsumsi saat sarapan terutama sumber protein masih sedikit sehingga tidak cukup untuk memenuhi 15%-30% dari kebutuhan protein yang dibutuhkan anak usia sekolah dasar. Seperti dalam penelitian Tutik (2013) mengatakan terdapatnya asupan dengan katagori kurang dipengaruhi oleh

faktor-faktor antara lain, jumlah makanan yang dikonsumsi kurang seimbang antara jumlah protein yang masuk dengan jumlah protein yang di keluarkan,ienis makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kecukupan gizi, tidak teratumya frekuensi makanan setiap harinya.

Sebagai sumber zat pembangun protein berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Memenuhi kebutuhan energi individual anak, protein disiapkan untuk pertumbuhan dan pemulihan jaringan. Sumber protein yang paling banyak adalah protein hewani yaitu dari ikan, telur dan ayam. Selain itu susu juga sebagai sumber protein yang cukup banyak menyumbangkan protein bagi tubuh. Bahan makanan nabati yang kaya akan protein adalah kacang-kacangan.

Faktor yang menjadi penyebab anak sekolah tidak tercukupi sumbangan proteinnya adalah menu dan jumlah makan yang tidak seimbang, karena banyak anak sekolah menu makan pagi nya hanya makan nasi putih dan setengah butir telur serta jarang meminum susu. Jumlah sarapan yang dikonsumsi tidak cukup untuk kebutuhan anak. Banyak anak sekolah makan sumber protein hewani hanya dengan porsi kecil, mereka membagi makanannya dengan adik atau kakak nya, tidak penuh satu porsi makanan itu seluruhnya untuknya.

Status Gizi

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa status gizi anak SD Negeri124400 Pematangsiantar berdasarkan IMT/U yang paling banyak adalah kategori normal sebanyak 64,8%. Siswa dengan berat badan sangat kurus juga masih dijumpain yaitu sebanyak 13,0%.

Tutik (2013) berpendapat bahwa sebagian subjek penetitian masih mengalami status gizi kurus kemungkinan adanya faktor langsung yaitu terjadinya infeksi (kronis), .asupan makanan dan factor tidak langsung yaitu pengetahuan gizi, dan pendapatan keluarga. Bila tubuh memperoleh cukup asupan gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.

Anak usia sekolah dasar membutuhkan asupan gizi yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Status gizi adalah gambaran keadaan gizi masa sekarang yang merupakan indikator terhadap baik tidaknya pemenuhan kebutuhan gizi seseorang. Kebutuhan gizi yang dapat terpenuhi dengan baik maka akan terwujud status gizi yang baik, sedangkan apabila kebutuhan gizi tidak terpenuhi maka akan menjadi status gizi yang kurang baik. Sesuai dengan menyebutkan untuk mencapai status gizi yang baik diperlukan pangan yang mengandung cukup zat gizi dan aman untuk dikonsumsi.

Status gizi baik sangat mempunyai peran penting pada anak terutama pada anak usia SD. Status gizi anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak yang mempunyai status gizi baik maka akan dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sedangkan anak dengan status gizi kurang, akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangannya. Terpenuhi kebutuhan gizi anak sangat baik terutama sebagai sumber tenaga, untuk pertumbuhan, perkembangan, mengganti serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.

Tingkat Prestasi Belajar

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat prestasi belajar anak SD Negeri 124400 Pematangsiantar yang paling banyak adalah tingkat prestasi dengan kategori baik yaitu sebanyak 75,9% sedangkan dengan kategori kurang sebanyak 24,1%. Tingkat prestasi belajar yang diperoleh dalam penelitian ini dilihat dari hasil raport bulanan siswa setiap mata pelajaran kemudian dihitung rata-rata nilainya untuk mengetahui kategori tingkat prestasinya. Jika siswa memiliki rata-rata nilai ≥70 dikategorikan baik dan jika rata-rata nilai <70 dikategorikan kurang.

Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya yang dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor gizi yang diperoleh anak. Peningkatan konsentrasi belajar dapat dicapai dengan berbagai cara, salah satunya adalah sarapan pagi. Seperti dalam penelitian Jumarni (2012) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar selain status gizi adalah kebiasaan saarapan pagi pada anak, dimana gizi untuk menunjang aktivitas sekolah agar tetap fit sangat dipengaruhi oleh sarapan pagi.

Kebiasaan melewatkan sarapan akan berdampak pada fungsi kognitif secara keseluruhan. Gangguan terhadap fungsi kognitif dapat menyebabkan anak berada dalam keadaan sulit menerima pelajaran yang pada akhirnya mengganggu prestasi belajar siswa di sekolah.

Kebiasaan makan sehari-hari merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, karena baik atau buruknya pola makan mengakibatkan baik atau tidak baiknya status gizi begitupun dengan kebiasaan sarapan pagi. Bila anak usia sekolah tidak terbiasa sarapan pagi secara terus menerus akan mengakibatkan penurunan berat badan dan daya tahan tubuh, kurang gizi dan anemia gizi bersi (Ahmad dkk, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian di SD Negeri 124400 Pematangsiantar diperoleh bahwa siswa yang sering melakukan sarapan sebagian besar memiliki status gizi yang normal sebanyak 68,4% dan memiliki status gizi sangat kurus sebanyak 13,3%. Siswa yang jarang melakukan sarapan dengan status gizi normal sebanyak 56,3% , kurus sebanyak 25,0% dan sangat kurus 18,8%.

Berdasarkan persentase tersebut dapat dilihat bahwa siswa yang memiliki status gizi normal sebagian besar berasal dari siswa yang sering melakukan sarapan. Pola makan yang baik dapat mempengaruhi status gizi anak. Kegiatan sarapan mempengaruhi asupan zat gizi dimana sarapan merupakan suatu kegiatan penting sebelum melakukan aktivitas fisik pada hari tersebut, Apabila anak tidak sarapan,

Dokumen terkait