• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber dan Distribusi Karbon Monoksida

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Karbon Monoksida

2.3.2 Sumber dan Distribusi Karbon Monoksida

Sumber dari gas ini adalah segala proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau oleh pembakaran di bawah tekanan dan temperatur tinggi seperti yang terjadi pada pembakaran internal di dalam mesin. Gas CO yang berada di udara sebagian besar merupakan polutan buatan manusia yang 80 persennya diduga keluar bersama-sama dengan asap melalui knalpot kendaraan bermotor. Kadar gas ini di daerah perkotaan berkorelasi positif dengan kepadatan lalu lintas. Umur CO di udara diperkirakan sekitar 0,3 tahun. Gas itu akan berubah menjadi CO2 apabila terdapat oksigen yang tereksitasi dan bereaksi dengannya. Oksidasi berjalan lebih 0,1 persen per jam apabila terdapat cukup cahaya matahari (Sunu,2001).

Transportasi menghasilkan CO paling banyak diantara sumber-sumber lainnya, terutama dari kendaraan-kendaraan yang menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Sumber CO yang kedua adalah pembakaran hasil-hasil pertanian seperti sampah,sisa-sisa kayu di hutan, dan sisa-sisa tanaman di perkebunan.

Sumber CO yang ketiga adalah dari proses industri. Dua industri yang merupakan sumber CO terbesar yaitu industri besi dan baja.

Tabel 2.5 Sumber Pencemaranan Gas CO

Sumber Pencemaranan: % bagian %total

Transportasi 63,8

- Pembakaran batubara sisa 1,2 - Pembakaran limbah pertanian 8,3

- Pembakaran lain-lainnya 0,2

100,0 100,0

Sumber: Wardhana, 2004

2.3.3 Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida

1. Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida Terhadap Tanaman

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian CO selama 1 sampai 3 minggu pada konsentrasi sampai 100 ppm tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap tanam-tanaman tingkat tinggi. Akan tetapi kemampuan untuk fiksasai nitrogen oleh bakteri bebas akan terhambat dengan pemberian CO selama 35 jam pada konsentrasi 2000 ppm. Demikian pula kemampuan untuk fiksasi nitrogen oleh bakteri yang terdapat pada akar tanam-tanaman juga terhambat dengan pemberian CO sebesar 100 ppm selama satu bulan. Karena konsentrasi CO di udara jarang mencapai 100 ppm, meskipun dalam waktu

sebentar, maka pengaruh CO terhadap tanam-tanaman biasanya tidak terlihat secara nyata (Fardiaz,1992).

2. Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida Terhadap Kesehatan

Gas Karbon Monoksida (CO) dalam jumlah banyak (konsentrasi tinggi) dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru – paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO mudah bereaksi dengan darah (hemoglobin).

Hemoglobin + O2  O2Hb (Oksihemoglobin) Hemoglobin + CO  COHb (Karboksihemoglobin)

Dalam keadaan normal hemoglobin berfungsi sebagai pembawa atau pengangkut oksigen (O2) dalam bentuk oksihemoglobin dari paru – paru untuk dibagikan kepada sel-sel tubuh yang memerlukannya (Mukono,2008).

Ikatan karbon monoksida dengan darah (karboksihemoglobin) jauh lebih stabil dari pada ikatan oksigen dengan darah (oksihemoglobin). Kestabilan karboksihemoglobin kira-kira 140 kali kestabilan oksihemoglobin. Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah menangkap gas CO dan menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangut oksigen terganggu.

Pengaruh gas CO terhadap tubuh manusia berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Faktor daya tahan tubuh manusia ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya gas CO. Para olahragawan pada umumnya

mempunyai toleransi yang tinggi terhadap racun gas CO. Pada orang yang menderita anemia dan anak-anak akan mudah keracunan oleh gas CO.

Keracunan gas CO ditandai dari keadaan yang ringan seperti pusing, sakit kepala dan mata perih. Keadaan yang lebih berat dapat berupa rasa mual, telinga berdengung, detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernapas, menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung sampai kepada kematian (Wardhana, 2004).

Tabel 2.6 Dampak Pemaparan Karbon Monoksida Terhadap Tubuh Kadar CO

(ppm) Waktu Kontak Dampak Bagi Tubuh

≤ 100 Sebentar Dianggap aman Tubuh Bila Kontak Terjadi Pada Waktu Yang Lama

Konsentrasi CO di

2.4 Nitrogen Oksida (NOx)

Nitrogen oksida sering disebut sebagai NOX karena oksida nitrogen memiliki dua macam bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO.

Sifat gas NO2 adalah berwarna dan berbau. Warna gas NO2 adalah merah kecoklatan dan bebau tajam menyengat hidung. Kadar NOX di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih tinggi dari daerah pedesaan yang berpenduduk sedikit. Hal ini disebabkan karena berbagai kegiatan yang menunjang kegiatan manusia akan menambah kadar NOX di udara, seperti transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangan sampah dan lain-lain (Wardhana, 2004)

2.4.1 Pembentukan Nitrogen Oksida

Pembentukan NO dan NO2 mencakup reaksi antara nitrogen dan oksigen diudara sehingga meembentuk NO, kemudian reaksi selanjutnya antara NO dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2. Persamaan reaksinya sebagai berikut (Fardiaz, 1992):

N2 + O2  2NO

2NO + O2  2NO2

2.4.2 Sumber Dan Distribusi Nitrogen Dioksida (NO2)

Pembentukan nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk nitrogen monoksida (NO), yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen membentuk nitrogen dioksida (NO2). Emisi NOX dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOX yang diproduksi manusia adalah dari

pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagaian besar emisi NOX buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin (Depkes RI, 2001). Selain itu, NO2 dapat dihasilkan dari perilaku merokok dalam ruangan (Akhadi, 2009).

Konsentrasi nitrogen oksida (NOx) di udara sangat dipengaruhi oleh sinar matahari dan aktivitas kendaraan bermotor, pencemaran nitrogen oksida (NOx) dapat berupa asam nitrat yang kemudian diendapkan sebagai garam - garam nitrat didalam air hujan atau debu. Kecepatan emisi Nox dapat diketahui bahwa waktu tinggal nitrogen monoksida (NO) biasanya lebih lama dibandingkan nitrogen dioksida (NO2). Dari waktu tinggal tersebut dapat diketahui bahwa proses - proses alam termasuk reaksi fotokimia yang mengakibatkan hilangnya Nox (Fardiaz, 1992).

Kadar NOx di udara perkotaan biasanya 10-100 kali lebih tinggi dari pada udara pedesaan. Kadar NOX di udara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb) (Fardiaz, 1992). Sumber utama polutan NO adalah dari kegiatan manusia seperti pembakaran yang disebabkan oleh kendaraan, produksi energi dan pembuangan sampah (Agusnar, 2007).

Sebagian NO yang terdapat di atmosfer akan diubah menjadi NO2 melalui proses yang disebut siklus fotolisis NO2 yang bukan merupakan reaksi langsung dengan oksigen. Adapun tahap-tahap reaksi siklus fotolisis NO2 adalah sebagai berikut:

1. NO2 mengabsorbsi energi dalam bentuk sinar ultraviolet dari matahari.

2. Energi yang diabsorbsi tersebut memecah molekul-molekul NO2 menjadi molekul-molekul NO dan atom-atom oksigen yang sangat reaktif.

3. Atom-atom oksigen akan bereaksi dengan oksigen atmosfer membentuk O3 yang merupakan polutan sekunder.

4. O3 akan bereaksi dengan NO membentuk NO2 dan O2.

Kadar NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar matahari dan aktivitas kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx berlangsung sebagai berikut:

1. Sebelum matahari terbit, kadar nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) tetap stabil dengan kadar sedikit lebih tinggi dari kadar minimum seharihari.

2. Setelah aktivitas manusia meningkat (jam 6-8 pagi) kadar nitrogen dioksida (NO2) meningkat terutama karena meningkatnya aktivitas lalulintas yaitu kendaraan bermotor.

3. Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar nitrogen dioksida (NO2) (sekunder) pada saat ini dapat mencapai 0,5 ppm.

4. Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar nitrogen monoksida (NO) meningkat kembali.

5. Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari (jam 5-8) kadar nitrogen monoksida (NO) meningkat kembali.

6. Energi matahari tidak mengubah nitrogen monoksida (NO) menjadi nitrogen dioksida (NO2) (melalui reaksi hidrokarbon) tetapi ozon (O3)

yang terkumpul sepanjang hari akan bereaksi dengan nitrogen monoksida (NO). Akibatnya terjadi penurunan kadar ozon (O3).

Dari perhitungan kecepatan emisi NOx dapat diketahui bahwa waktu tinggal rata-rata nitrogen dioksida (NO2) di atmosfer kira-kira adalah 3 hari sedangkan waktu tinggal NO rata-rata 4 hari. Dari waktu tinggal ini dapat diketahui bahwa prosesproses alami, termasuk reaksi fotokimia, mengakibatkan hilangnya nitrogen oksida tersebut (Fardiaz, 1992)

2.4.3 Dampak Pencemaranan Nitrogen Dioksida (NO2)

Kedua bentuk nitrogen oksida, yaitu NO dan NO2 sangat berbahaya terhadap manusia. Penilaian aktivitas mortalitas dua komponen menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak mengakibatkan iritasi dan berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambien yang normal NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang lebih berbahaya (Chandra, 2007).

1. Dampak Pencemaranan Nitrogen Dioksida Terhadap Kesehatan

Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali bila gas NO berada dalam konsentrasi tinggi.

Nitrogen oksida (NO) mempunyai kemampuan membatasi kadar oksigen dalam darah dan juga mudah bereaksi dengan oksigen membentuk NO2. Apabila NO2 bertemu dengan uap air di udara atau dalam tubuh manusia maka akan terbentuk HNO3 yang dapat merusak tubuh (Sastrawijaya, 2009).

Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf yang mengakibatkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus melanjut akan menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehingga menjadi gas NO2.

Menurut Mukono (2005), apabila udara tercemar oleh gas NO2 dan bereaksi dengan uap air maka akan menjadi korosif dan memberikan efek iritasi terhadap mata, paru, dan kulit.

a. Terhadap alat pernafasan

Iritasi terhadap paru akan menyebabkan edema paru setelah terpapar oleh gas NO2 selama 48 – 72 jam, apabila terpapar dengan dosis yang meningkat akan menjadi fatal.

b. Terhadap mata

Iritasi mata dapat terjadi apabila NO2 berupa uap yang pekat c. Terhadap kulit

Iritasi terhadap kulit dapat terjadi apabila kulit kontak dengan uap air nitrogen akan menyebabkan luka bakar.

d. Efek lain (terhadap darah)

Kadar nitrogen pada konsentrasi tertentu dapat bereaksi dengan darah.

Sifat racun (toksisitas) gas NO2 empat kali lebih kuat dari pada toksisitas gas NO. Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaranan gas NO2

adalah paru-paru. Paru-paru yang terkontaminasi oleh gas NO2 akan membengkak sehingga penderita sulit bernafas yang dapat mengakibatkan kematiannya (Wardhana,2004).

Gas NO2 dapat memberikan kelainan berupa (Mukono, 2008) : a. Terbentuknya MethHb (Methe Hemoglobin)

b. Peningkatan inspiratory resistance c. Peningkatan expiratory resistence d. Terjadinya sembab paru

e. Terjadinya fibrosis paru

Polutan NO2 yang tersebar di udara bersifat toksik bagi tubuh manusia.

Efek yang ditimbulkan bergantung pada dosis serta lama pemaparan yang diterima oleh seseorang. Apabila masuk ke dalam paru-paru akan membentuk asam nitrit (HNO2) dan asam nitrat (HNO3) yang merusak jaringan mucous.

Kadar gas nitrogen dioksida (NO2) antara 50-100 ppm dapat menyebabkan peradangan paru-paru pada orang yang terpapar beberapa menit saja. Namun gangguan kesehatan itu dapat sembuh dalam waktu 6-8 minggu. Jika kadarnya mencapai 150-200 ppm, gangguan kesehatannya berupa pemampatan bronchioli. Karena gangguan itu seseorang dapat meninggal dalam waktu 3-5 minggu setelah pemaparan. Jika kadar pencemaran NO2 mencapai lebih dari 500 ppm, gangguan yang timbul adalah kematian dalam waktu antara 2-10 hari. Apabila bereaksi dengan uap air dalam udara atau larut pada tetesan air, polutan NOx di dalam udara juga dapat berperan sebagai sumber nitrit atau nitrat di lingkungan. Kedua senyawa itu dalam jumlah besar dapat menimbulkan gangguan pada saluran pencernaan, diare campur darah disusul oleh konvulsi, koma dan bila tidak tertolong akan

meninggal. Keracunan kronis akan menyebabkan depresi umum, sakit kepala dan gangguan mental (Akhadi, 2009).

Pencemaranan udara oleh gas NOx juga dapat menyebabkan timbulnya Peroxy Acetyl Nitrates yang disingkat PAN. Peroxy Acetyl Nitrates ini menyebabkan iritasi pada mata yang menyebabkan mata terasa pedih dan berair (Wardhana,2004)

2. Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida Terhadap Tanaman

Udara yang telah tercemar gas nitrogen oksida tidah hanya berbahaya bagi manusia dan hewan saja, tetapi juga berbahaya bagi kehidupan tanaman.

Pengaruh gas NOx pada tanaman antara lain timbulnya bintik-bintik pada permukaan daun. Pada konsentasi yang lebih tinggi gas tersebut dapat menyebabkan nekrosis atau kerusakan pada jaringan daun. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi secara sempurna sebagi tempat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Akibatnya tanaman tidak dapat berproduksi seperti yang diharapkan. Konsentasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat menurunkan kemampuan fortosintesis daun sampai sekitar 60%

hingga 70% (Fardiaz,2011).

Campuran PAN bersama senyawa kimia lainnya yang ada di udara dapat menyebabkan terjadinya kabut foto kimia atau Photo Chemistry Smog yang sangat mengganggu lingkungan.

2.5 Pencegahan Pencemaranan Udara

Mengingat bahaya kesehatan yang dapat terjadi karena pencemaranan udara, maka harus dilakukan upaya untuk mengurangi pencemaranan yang terjadi.

Banyak program yang telah digalakkan pemerintah guna mengurangi resiko pencemaranan udara salah satunya penggunaan BBM yang beroktan tinggi/bebas timbal bagi kendaraan pribadi (Wardhana,2004).

Adapun usaha yang dapat kita lakukan antara lain:

1. Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil terutama yang mengandung asap serta gas-gas polutan lainnya agar tidak mencemarkan lingkungan.

2. Memperbanyak tanaman hijau di daerah polusi udara tinggi, maupun di sekitar tempat tinggal dan merawatnya. Karena salah satu kegunaan tumbuhan adalah sebagai indikator pencemaranan dini, selain sebagai penahan debu dan bahan partikel lain.

3. Menggunakan transportasi massal seperti bus,angkutan kota,kereta api dan lain-lain untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya. Juga dapat menggunakan transportasi ramah lingkungan seperti becak, dokar, sepeda atau berjalan kaki apabila jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh.

4. Mematuhi batas kecepatan dan jangan membawa beban terlalu berat di kendaraan agar pemakaian bensin lebih efektif,dan lain-lain.

Menurut Ryadi (2002), pengendalian sumber pencemaran yang berasal dari kendaraan bermotor antara lain dapat dilakukan melalui perencanaan design dan perbaikan tekhnis terhadap proses mesinnya. Sumber pencemaran dari kendaraan bermotor antara lain:

1. Sekitar 58 % berupa pencemaran organik terhadap seluruh buangan pencemaran kendaraan bermotor.

2. Bila dihitung dari setiap kendaraan bermotor, maka bagian – bagian kendaraan yang memberikan pencemaran dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Bagian knalpot belakang (tailpipe) memberikan emisi 50 - 60%

dari keseluruhan bahan buangan organik kendaraan bermotor.

b. Evaporasi melalui karburator dan tangki bensinnya memberikan emisi sejumlah 15-25%.

Solusi untuk mengatasi polusi udara, antara lain sebagai berikut:

a. Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api, diperbanyak.

b. Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.

c. Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu - rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.

d. Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang - gang yang sering diistilahkan dengan "polisi tidur" justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju kendaraan.

e. Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat - surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.

f. Penanaman pohon - pohon yang berdaun lebar di pinggir - pinggir jalan, terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut - sudut kota juga dapat mengurangi polusi udara.

2.6 Persyaratan Rumah Sehat

Menurut Chandra (2007), Perumahan yang baik terdiri dari kumpulan rumah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya, seperti sarana jalan, saluran air kotor, tempat sampah, sumber air bersih, lampu jalan, lampangan tempat berain anak-anak, sekolah, tempat ibadah, balai pertemuan, dan pusat kesehatan masyarakat, serta harus bebas banjir. Standar arsitektur bangunan terutama untuk menyediakan rumah tinggal yang cukup baik dalam bentuk desain, letak dan luas ruangan, serta fasilitas lainnya yang dpat memenuhi kebutuhan keluarga atau dapat memenuhi persyaratan rumah tinggal yang sehat (healthy) dan menyenangkan (comfortable)

Menurut Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor:

403/KPTS/M/2002 di Indonesia, terdapat suatu kriteria untuk rumah sehat sederhana (RSS), yaitu:

1. Luas tanah antara 60-90 m2 2. Luas bangunan antara 21-36 m2

3. Memiliki fasilitas kamar tidur, WC (kamar mandi), dan dapur 4. Berdinding batu bata dan diplester

5. Memiliki lantai dari ubin keramik dan langit-langit dari triplek 6. Memiliki sumur atau air PAM

7. Memiliki bak sampah dan saluran air kotor

Selain kriteria di atas, terdapat faktor-faktor kebutuhan yang perlu diperhatikan dan dipenuhi, seperti kebutuhan fisiologis, kebutuhan psikologis, bebas dari bahaya kecelakaan dan kebakaran, dan lingkungan.

1. Kebutuhan Fisiologis

Terdapat beberapa variabel yang harus diperhatikan di dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis yang berkaitan dengan perumahan, di antaranya : a. Suhu ruangan

Suhu ruangan harus dijaga agar jangan banyak berubah. Suhu sebaiknya tetap berkisar antara 18-300C. Suhu ruangan sangat dipengaruhi oleh :

a) Suhu udara luar b) Pergerakan udara c) Kelembaban udara

d) Suhu benda-benda yang ada di sekitarnya

Suhu dalam ruanganyang terlalu rendah dapat mengakibatkan gangguan kesehatan hingga hipotermia, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan dehidrasi sampai dengan heat stroke. Upaya penyehatan dapat dilakukan dengan cara: Apabila suhu udara diatas 300C diturunkan dengan cara meningkatkan sirkulasi udara dengan menambahkan ventilasi mekanik/buatan. Sedangkan, apabila suhu kurang dari 180C maka perlu menggunakan pemanas ruangan dengan menggunakan sumber energi yang aman bagi lingkungan dan kesehatan.

b. Pencahayaan

Rumah harus cukup mendapatkan penerangan baik pada siang maupun malam hari. Nilai pencahayaan (Lux) yang terlalu rendahakan berpengaruh terhadap akomodasi mata yang terlalu tinggi, sehingga akan berakibat pada kerusakan retina mata. Idealnya, penerangan didapat dengan bantuan listrik. Setiap ruang diupayakan mendapat sinar matahari terutama di pagi hari. Pencahayaan dalam ruang rumah diusahakan agar sesuai dengan persyaratan minimala 60 Lux.

c. Ventilasi udara

Pertukaran udara yang cukup menyebabkan hawa ruangan tetap segar (cukup mengandung oksigen). Dengan demikian, setiap rumah harus memiliki jendela yang memadai. Luas jendela secara keseluruhan kurang lebih 10 %. Pertukaran udara yang tidakmemenuhi syarat dapat

menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme, yang mengakibatkan gangguan terhadap kesehatan manusia.

d. Jumlah ruangan atau kamar

Ruangan atau kamar diperhitungkan berdasarkan jumlah penghuni atau jumlah orang yang tinggal bersama di dalam satu rumah atau sekitar 5m2 per orang.

2. Kebutuhan Psikologis

Disamping kebutuhan fisiologis, terdapat kebutuhan psikologis yang harus dipenuhi dan diperhatikan berkaitan dengan sanitasi rumah. Kebutuhan tersebut antara lain :

a. Keadaan rumah dan sekitarnya, cara pengaturan harus memenuhi rasa keindahan sehingga rumah tersebut menjadi pusat kesenangan rumah tangga yang sehat.

b. Adanya jaminan kebebasan yang cukup bagi setiap anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

c. Untuk setiap anggota keluarga, terutama yang mendekati dewasa, harus memiliki ruangan sendiri sehingga privasi tidak terganggu.

d. Harus ada ruangan untuk hidup bermasyarakat, seperti ruang untuk menerima tamu.

3. Bahaya kecelakaan atau kebakaran

ditinjau dari faktor bahaya kecelakaan ataupun kebakaran, rumah yang sehat dan aman harus dapat menjauhkan penghuninya dari bahaya tersebut.

Adapun kriteria yang harus dipenuhi dari perspektif ini, antara lain :

a. konstruksi rumah dan bahan-bahan bangunan harus kuat sehingga tidak mudah runtuh

b. memiliki sarana pencegahan kasus kecelakaan di sumur, kolam, dan tempat-tempat lain terutama untuk anak-anak.

c. Bangunan diupayakan terbuat dari material yang tidak mudah terbakar.

d. Memiliki alat pemadam kebakaran terutama yang menggunakan gas e. Lantai tidak boleh licin dan tergenang.

4. Lingkungan

Kriteria rumah yaang sehat dan aman dari segi lingkungan, antara lain : a. Memiliki sumber air bersih dan sehat serta tersedia sepanjang tahun.

b. Memiliki tempat pembuangan kotoran, sampah dan air limbah yang baik.

c. Dapat mencegah terjadi perkembangbiakan vektor penyakit, seperti nyamuk, lalat, tikus, dan sebagainya.

d. Letak perumahan jauh dari sumber pencemaranan (misalnya jalan raya dengan jarak minimal 7 m)

5. Rumah dan Kesehatan

Rumah atau tempat tinggal yang buruk atau kumuh dapat mendukung terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran napas, contoh : common cold, TBC, influenza, campak, batuk rejan(pertusis).

2.7 Kerangka Konsep

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Bahan Pencemaran Udara

1. Karbon Monoksida (CO)

2. Nitrogen Dioksida (NO2)

Karakteristik rumah:

1. Ventilasi 2. Luas bangunan 3. Tinggi plafon dari

lantai

4. Jarak rumah dari jalan raya

Keluhan kesehatan : 1. Mata perih 2. Mata berair 3. Mual

4. Sulit bernapas 5. Sakit Kepala

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian bersifat deskriptif, yaitu untuk mengetahui kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan dan kondisi karakteristik rumah serta keluhan kesehatan pada rumah tinggal di tepi Jalan Raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan Kota Medan tahun 2016.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan pada rumah tinggal di tepi Jalan Raya Djamin Ginting Kelurahan Padang Bulan.

Adapun alasan penulis memilih lokasi tersebut sebagai tempat penelitian adalah karena:

1. Jalan Djamin Ginting merupakan salah satu jalan raya yang padat dilalui oleh kendaraan bermotor.

2. Lokasi tersebut merupakan lokasi dengan perumahan padat dan berada di tepi jalan raya.

3. Belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui kadar karbon monoksida (CO) dan nitrogen dioksida (NO2) di dalam ruangan pada rumah tinggal di tepi jalan raya Djamin Ginting kelurahan Padang Bulan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2016 sampai dengan Januari 2017.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tinggal yang tidak

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tinggal yang tidak