Bab 1 Pendahuluan
1.3 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan buku pemetaan wilayah Kota Yogyakarta ini antara lain adalah dari BPS yang dikumpulkan dengan Susenas, maupun Sakernas yang dirangkum dalam data statistik BPS.
5
2 Kondisi Kependudukan Kota Yogyakarta
2.1 Jumlah, Distribusi dan Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk yang besar dapat membawa keuntungan dan masalah yang rumit bagi suatu daerah. Keuntungan yang dapat diambil adalah apabila penduduk yang banyak tersebut mempunyai kualitas yang baik, sehingga dapat diandalkan menjadi pelaku pembangunan. Sebaliknya, jumlah penduduk yang besar akan menjadi masalah, kalau penduduk tersebut mempunyai kualitas yang rendah dan penyebaran tidak merata sehingga menjadi beban pembangunan. Perubahan jumlah penduduk sangat dipengaruhi oleh faktor demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) serta arus perpindahan penduduk (migrasi). Selain mempengaruhi jumlah, ketiga faktor itu juga akan mempengaruhi komposisi umur dan jenis kelamin penduduk pada suatu masa tertentu. Secara demografis, jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin pada suatu saat menjadi faktor penentu fertilitas dan mortalitas di masa yang akan datang, yang pada gilirannya akan mempengaruhi jumlah serta komposisi penduduk (Adioetomo, 1990). Gambaran pertumbuhan, persebaran dan terutama komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin serta
6
aspek-aspek yang mempengaruhinya sangat berguna dan diperlukan dalam pengembangan sumber daya manusia.
Tabel 2.1 Banyaknya Penduduk, Rumah Tangga, dan Rata-Rata Rumah Anggota Tangga di Kota Yogyakarta Tahun 1990, 2000, 2010
Tahun Jumlah
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
Kondisi kependudukan Kota Yogyakarta setiap tahun mengalami perubahan yang disebabkan oleh laju pertumbuhan penduduk. Kondisi fisik Kota Yogyakarta sangat mendukung bagi berkembangnya pemukiman penduduk. Hal ini sejalan dengan hasil sensus penduduk yang menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk Kota Yogyakarta dari tahun 1971 hingga 1990. Tahun 1971 jumlah penduduk Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 340.908 jiwa, kemudian meningkat menjadi 398.192 jiwa dan mencapai 412.059 jiwa di tahun 1990 (BPS,2010). Untuk hasil sensus penduduk periode-periode berikutnya yaitu tahun 2000 dan 2010, jumlah penduduk Kota Yogyakarta cenderung mengalami penurunan.
Sesuai dengan data pada Tabel 2.1, tahun 2000 jumlah penduduk Kota Yogyakarta tercatat sebanyak 396.711 jiwa dan tahun 2010 tercatat sebanyak 388.627.
7
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk per Kecamatan di Kota Yogyakarta
Kecamatan Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
Gejala penurunan jumlah penduduk itu ditengarai karena keberhasilan program keluarga berencana dalam menekan angka kelahiran total (BKKBN, 2012, Mc Donald, 2015).
Sedangkan jumlah penduduk Kota Yogyakarta pada tahun 2018 menurut proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik sebanyak
8
427.498 jiwa dengan rincian sebanyak 208.792 jiwa penduduk laki-laki dan 218.706 jiwa penduduk perempuan (Tabel 2.2).
Tabel 2.3 Kepadatan Penduduk per Kecamatan di Kota Yogyakarta, Tahun 2014-2018
Kecamatan Kepadatan Penduduk per km2 2014 2015 2016 2017 2018 Mantrijeron 12.223 12.564 12.683 12.799 12.907 Kraton 12.298 12.534 12.546 12.554 12.554 Mergangsan 12.787 13.106 13.193 13.275 13.349 Umbulharjo 10.225 10.663 10.920 11.179 11.437 Kotagede 11.013 11.493 11.780 12.070 12.357 Gondokusuman 11.453 11.739 11.820 11.895 11.963 Danurejan 16.776 17.186 17.290 17.389 17.475 Pakualaman 14.546 14.819 14.827 14.827 14.819 Gondomanan 11.760 12.060 12.146 12.229 12.304 Ngampilan 20.035 20.523 20.649 20.770 20.874 Wirobrajan 14.227 14.581 14.677 14.768 14.849 Gedongtengen 18.280 18.794 18.975 19.154 19.319 Jetis 13.724 14.020 14.065 14.108 14.139 Tegalrejo 12.418 12.808 12.975 13.139 13.296 Kota Yogyakarta 12.322 12.669 12.854 13.007 13.154 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka, 2015- 2019
Dengan luas wilayah 32,50 km2, kepadatan penduduk Kota Yogyakarta tahun 2018 sebesar 13.154 jiwa per km2. Kepadatan penduduk dapat dihitung berdasarkan jumlah penduduk untuk setiap kilometer persegi. Apabila dilihat menurut kecamatan, maka terlihat variasi kepadatan penduduk di Kota Yogyakarta.
9
Kepadatan penduduk Kota Yogyakarta termasuk sangat tinggi, karena Kota Yogyakarta mempunya banyak fungsi, diantaranya sebagai pusat pemerintahan, aktivitas ekonomi, pariwisata dan pusat perdagangan, yang merupakan daya tarik tersendiri bagi penduduk untuk tinggal di wilayah Kota Yogyakarta. Berdasar Tabel 2.3, penduduk yang paling padat berada di Kecamatan Ngampilan yaitu sebesar 20.874 jiwa per km2, kecamatan terpadat kedua setelah Kecamatan Ngampilan adalah Kecamatan Gedongtengen dengan kepadatan sebesar 19.319 km2, terpadat ketiga adalah Kecamatan Danurejan sebesar 17.475 km2 dan paling jarang penduduknya di Kecamatan Umbulharjo yakni 11.437 jiwa per km2. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kecamatan-kecamatan terpadat berada di pusat pariwisata dan industri di Kota Yogyakarta. Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk Kota Yogyakarta pada periode 2000-2010 adalah -0,21 persen, sedangkan pada pada periode 2000- 2010-2018 naik menjadi 0,19 persen.
Berdasar Tabel 2.4, dari keseluruhan jumlah penduduk Kota Yogyakarta pada tahun 2018 sejumlah 427.298 jiwa, penduduk terbanyak yaitu di Kecamatan Umbulharjo yaitu sebanyak 92.867 jiwa, dengan penduduk laki-laki tercatat 45.064 jiwa dan penduduk perempuan tercatat 47.807 jiwa. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak kedua yaitu di Kecamatan Gondokusuman sejumlah 47.731 jiwa, dengan penduduk laki-laki sebanyak 23.173 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 24.558 jiwa. Setelah itu diikuti oleh Kecamatan Tegalrejo dengan jumlah penduduk 39.691 dengan penduduk laki-laki sejumlah 19.192 jiwa dan penduduk perempuan sejumlah 19.499 jiwa.
Jika dikorelasikan dengan Tabel 2.3 kepadatan penduduk, Kecamatan Umbulharjo, Gondokusuman dan Tegalrejo bukan termasuk kecamatan dengan kepadatan penduduk 3 tertinggi di Kota Yogyakarta. Bahkan untuk kecamatan Umbulharjo, dengan jumlah penduduk sebanyak 92.867 jiwa, namun dari sisi
10
kepadatan penduduk paling rendah, hal tersebut karena kecamatan Umbulharjo wilayah kecamatan yang paling luas di Kota Yogyakarta.
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan di Kota Yogyakarta, Tahun 2018
Kecamatan Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Jumlah
Mantrijeron 16.421 17.267 33.688
Kraton 8.407 9.168 17.575
Mergangsan 15.183 15.653 30.836
Umbulharjo 45.064 47.803 92.867
Kotagede 18.957 18.980 37.937
Gondokusuman 23.173 24.558 47.731
Danurejan 9.484 9.739 19.223
Pakualaman 4.542 4.794 9.336
Gondomanan 6.470 7.311 13.781
Ngampilan 7.999 9.118 17.117
Wirobrajan 13.270 12.864 26.134
Gedongtengen 8.855 9.691 18.546
Jetis 11.775 12.261 24.036
Tegalrejo 19.192 19.499 39.691
Kota Yogyakarta 208.792 218.706 427.498 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2019
11
Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Kota Yogyakarta menurut Kecamatan, Tahun 2014-2018
Kecamatan Jumlah Penduduk
2014 2015 2016 2017 2018 Mantrijeron 32.475 32.791 33.103 33.406 33.688 Kraton 17.527 17.547 17.564 17.575 17.575 Mergangsan 30.068 30.275 30.475 30.666 30.836 Umbulharjo 84.524 86.580 88.667 90.775 92.867 Kotagede 34.419 35.285 36.165 37.055 37.937 Gondokusuman 46.521 46.840 47.160 47.461 47.731 Danurejan 18.786 18.905 19.019 19.128 19.223 Pakualaman 9.329 9.336 9.341 9.341 9.336 Gondomanan 13.407 13.507 13.603 13.697 13.781 Ngampilan 16.723 16.829 16.932 17.031 17.117 Wirobrajan 25.489 25.662 25.831 25.992 26.134 Gedongtengen 17.864 18.042 18.216 18.388 18.546 Jetis 23.750 23.834 23.911 23.983 24.036 Tegalrejo 36.785 37.271 37.757 38.234 38.691 Kota Yogyakarta 407.667 412.704 417.744 422.732 427.498 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2015-2019
Tabel 2.5 menampilkan data jumlah penduduk per kecamatan di Kota Yogyakarta dari tahun 2014–2018. Jumlah penduduk Kota Yogyakarta tahun 2018 tercatat sebanyak 427.498 jiwa. Ada peningkatan jumlah penduduk di setiap tahunnya dari 407.667 jiwa di tahun 2014, menjadi 412.704 jiwa di tahun 2015, menjadi 417.744 jiwa di tahun 2016, dan 422.732 jiwa di tahun 2017. Begitu juga untuk jumlah penduduk per kecamatan yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah
12
penduduk itu berkaitan dengan proses demografi yang mengikutinya seperti kelahiran, kematian dan migrasi.
Tabel 2.6 Distribusi Penduduk menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2014-2018
Kecamatan Presentase Penduduk
2014 2015 2016 2017 2018 Mantrijeron 7,97 7,95 7,92 7,90 8,05
Kraton 4,30 4,25 4,20 4,16 4,50
Mergangsan 7,38 7,34 7,30 7,25 7,54 Umbulharjo 20,73 20,98 21,23 21,47 19,75 Kotagede 8,44 8,55 8,66 8,77 8,02 Gondokusuman 11,41 11,35 11,29 11,23 11,65 Danurejan 4,61 4,58 4,55 4,52 4,72 Pakualaman 2,29 2,26 2,24 2,21 2,40 Gondomanan 3,29 3,27 3,26 3,24 3,35 Ngampilan 4,10 4,08 4,05 4,03 4,20 Wirobrajan 6,25 6,22 6,18 6,15 6,39 Gedongtengen 4,38 4,37 4,36 4,35 4,42
Jetis 5,83 5,78 5,72 5,67 6,04
Tegalrejo 9,02 9,03 9,04 9,04 8,99 Kota Yogyakarta 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2015–2019
Dari sisi distribusi penduduk (Tabel 2.6), jumlah penduduk Kota Yogyakarta mengelompok di beberapa titik, yaitu di Yogyakarta bagian selatan dan tengah. Di bagian selatan, distribusi penduduk terkonsentrasi di kecamatan Umbulharjo pada tahun 2014 - 2018 sekitar 20 persen, distribusi penduduk kecamatan
13
Mergangsan dan Mantrijeron masing-masing 7 persen dan 8 persen. Di bagian tengah, distribusi penduduk terkonsentrasi di kecamatan Tegalrejo, dari tahun 2014–2015 kurang lebih sama yaitu sekitar 9 persen, dan di kecamatan Gondokusuman distribusi penduduk sekitar 11 persen. Konsentrasi penduduk di beberapa titik tersebut tidak terlepas dari rencana pembangunan kota Yogyakarta melalui pusat-pusat pertumbuhan dan pusat-pusat pengembangan. Sejumlah pusat pertumbuhan dan pengembangan menjadi salah satu faktor yang mendorong perpindahan penduduk. Penyebab lainnya yaitu proses demografi berupa kelahiran yang pengaruhnya tidak terlalu signifikan seperti migrasi atau perpindahan penduduk.
2.2 Komposisi Penduduk
Salah satu karakteristik penduduk yang sangat penting adalah sebarannya menurut umur dan jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh penting terhadap perilaku demografi maupun sosial ekonomi. Pengelompokan umur sangat penting dalam berbagai analisa kependudukan dan ini sering dipakai sebagai dasar untuk melakukan kebijaksanaan/keputusan yang berkaitan dengan kelompok-kelompok umur, missal: balita (0-4), angkatan kerja, penduduk usia sekolah, penduduk usia subur dan lain sebagainya.
2.2.1 Struktur Umur
Komposisi umur penduduk di masa depan akan lebih dipengaruhi oleh arah perkembangan kelahiran dan kematian.
Jika kematian turun sedangkan kelahiran tidak, mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk anak-anak. Selanjutnya beban
14
memelihara, mendidik dan sebagainya atas anak-anak tersebut turut meningkat, sehingga efek positif dari pembangunan yang berhasil mungkin sedikit sekali terasanya. Struktur penduduk kota Yogyakarta didominasi oleh penduduk usia produktif. Hal ini bisa dilihat dari piramida penduduk (Gambar 2.1 dan Gambar 2.2). Piramida penduduk dapat menunjukkan tingkat perkembangan penduduk untuk setiap kelompok umur yang berbeda, dalam beberapa kelompok umur bisa saja terjadi pertumbuhan yang menurun. Fluktuasi dalam piramida penduduk banyak dipengaruhi oleh tingkat kelahiran dari setiap kelompok umur selain tingkat kematian dan perpindahan penduduk. Suatu wilayah yang mempunyai tingkat kelahiran yang tinggi biasanya ditandai dengan bentuk piramida yang alasnya besar kemudian berangsur mengecil ke puncak piramida. Dan berlaku sebaliknya bila pada wilayah tersebut mempunyai tingkat kelahiran yang rendah mempunyai bentuk piramida dengan alas yang tidak terlalu besar dan tidak langsung mengecil hingga puncaknya.
Gambar 2.1 menunjukkan bahwa pada bagian dasar piramida, proporsi penduduk usia muda usia 0–4 tahun bentuk piramidanya tidak terlalu lebar, yang dapat diartikan bahwa tingkat kelahiran di Kota Yogyakarta tidak terlalu tinggi.
Proporsi penduduk usia 5-9 tahun dan 10-14 tahun bentuk piramidanya juga tidak terlalu lebar, hampir sama seperti penduduk usia 0-4 tahun. Pada bagian tengah piramida penduduk, proporsi penduduk produktif relatif tinggi terutama kelompok umur 20-24 tahun. Proporsi penduduk umur 50-54 tahun dan 55-59 tahun masing-masing hampir sama dengan proporsi penduduk muda. Sedangkan untuk proporsi penduduk pada umur yang lebih tua semakin rendah karena faktor kematian. Jika dilihat lebih rinci, bentuk puncak piramida melebar pada usia 75 ke atas. Puncak piramida yang melebar
15
tersebut menandakan bahwa angka harapan hidup di Kota Yogyakarta cukup tinggi.
Gambar 2.1 Piramida Penduduk kota Yogyakarta tahun 2017 dan 2018.
Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka
Untuk data yang lebih rinci bisa dilihat pada Tabel 2.7. Pada tahun 2014-2018, jumlah penduduk tertinggi yaitu untuk usia produktif 20-24 tahun, peringkat kedua untuk usia 25-29 tahun,
16
dan ketiga untuk usia 15-19 tahun. Jumlah penduduk menurut usia terendah yaitu untuk penduduk usia 70-74 tahun.
Gambar 2.2 Piramida Penduduk kota Yogyakarta tahun 2018 Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035
30.000 20.000 10.000 0 10.000 20.000 30.000
0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+
Kelompok Umur
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
17
Tabel 2.7 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur di Kota Yogyakarta, 2014-2018
Umur Jumlah Penduduk
2014 2015 2016 2017 2018 0-4 26.512 27.211 27.398 27.571 27.713 5-9 25.830 26.738 27.201 27.668 28.141 10-14 25.493 26.269 26.493 26.676 26.860 15-19 36.580 36.863 36.838 37.132 37.584 20-24 51.509 52.287 51.813 51.054 50.130 25-29 38.173 39.922 40.824 41.508 41.904 30-34 30.055 30.958 31.483 32.145 32.928 35-39 27.722 28.476 28.674 28.979 29.320 40-44 26.900 27.418 27.504 27.556 27.635 45-49 27.319 28.155 28.441 28.649 28.779 50-54 24.833 25.933 26.504 27.073 27.597 55-59 20.517 21.669 22.527 23.295 23.992 60-64 12.848 13.759 14.465 15.224 15.992 65-69 8.869 9.322 9.640 10.048 10.534 70-74 7.277 7.325 7.414 7.514 7.644 75+ 10.030 10.399 10.525 10.640 10.745 Jumlah 422.732 412.704 417.744 422.732 427.498 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2015–2019
2.2.2 Rasio Jenis Kelamin
Komposisi penduduk selain menurut kelompok umur juga dapat dilihat menurut jenis kelamin. Rasio jenis kelamin adalah perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk
18
perempuan pada suatu wilayah dan waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dengan banyaknya penduduk laki-laki untuk 100 penduduk perempuan. Rasio yang dihasilkan biasanya berbeda untuk setiap kelompok umur.
Tabel 2.8 Rasio Jenis Kelamin menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2014-2018
Kecamatan Rasio Jenis Kelamin
2014 2015 2016 2017 2018 Mantrijeron 94,43 94,67 94,94 95,07 95,10 Kraton 91,05 91,29 91,54 91,68 91,70 Mergangsan 96,30 96,55 96,84 96,97 97,00 Umbulharjo 93,60 93,84 94,11 94,23 94,27 Kotagede 99,17 99,43 99,72 99,84 99,88 Gondokusuman 93,69 93,91 94,20 94,33 94,36 Danurejan 96,71 96,95 97,23 97,36 97,38 Pakualaman 94,70 94,34 94,60 94,69 94,74 Gondomanan 87,85 88,07 88,33 88,43 88,50 Ngampilan 87,10 87,34 87,59 87,69 87,73 Wirobrajan 102,41 102,69 102,98 103,13 103,16 Gedongtengen 90,73 90,96 91,22 91,34 91,37 Jetis 95,34 95,60 95,86 95,99 96,04 Tegalrejo 97,73 97,98 98,26 98,39 98,43 Kota Yogyakarta 94,77 95,02 95,30 95,43 95,47 Sumber: BPS, Kota Yogyakarta dalam Angka 2015–2019
Rasio jenis kelamin di Kota Yogyakarta menunjukkan angka yang terus naik. Dapat dilihat pada Tabel 2.8 bahwa pada tahun 2014, rasio jenis kelamin di Kota Yogyakarta yaitu 94,77,
19
kemudian pada tahun 2015 naik menjadi 95,02, pada tahun 2016 naik menjadi 95,30, pada tahun 2017 naik menjadi 95,43 dan pada tahun 2018 naik lagi menjadi 95,47. Pola perubahan rasio jenis kelamin per Kecamatan pada tahun 2014–2018 tidak begitu bervariasi. Rasio jenis kelamin per kecamatan naik tiap tahunnya, sama seperti pola rasio jenis kelamin Kota Yogyakarta yang terus naik. Bias dilihat pada Tabel 2.bahwa rasio jenis kelamin untuk kecamatan Wirobrajan angkanya lebih dari 100, yang artinya jumlah penduduk laki-laki di kecamatan ini lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. Tingginya rasio jenis kelamin di kecamatan Wirobrajan bisa dipengaruhi oleh migrasi penduduk dari wilayah lain yang sebagian besar adalah penduduk laki-laki.
2.2.3 Rasio Ketergantungan
Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun ke atas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun.
Tabel 2.9 Ratio Ketergantungan di Kota Yogyakarta, 2015-2018
Tahun Umur
Jumlah Angka Beban Ketergantungan 0-14 15-64 65+
2015 19,71 73,68 6,61 100 35,72 2016 19,14 74,45 6,41 100 34,32 2017 19,25 74,03 6,72 100 35,08 2018 19,40 73,88 6,72 100 35,35 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka, 2015–2018
20
Tabel 2.10 Ratio Ketergantungan menurut Kecamatan di Kota Yogyakarta, 2015-2017
Kecamatan Ratio Ketergantungan
2015 2016 2017
Tegalrejo 41.51 40.91 40.92
Jetis 40.29 39.83 40.51
Gondokusuman 38.89 38.94 38.73
Danurejan 40.49 39.62 40.04
Gedongtengen 40.10 39.37 39.64
Ngampilan 40.38 40.23 40.40
Wirobrajan 42.96 42.25 42.29
Mantrijeron 40.90 40.68 40.79
Kraton 40.24 39.56 39.36
Gondomanan 39.96 39.63 39.58
Pakualaman 40.71 40.72 40.30
Mergangsan 40.90 40.32 40.74
Umbulharjo 40.95 40.89 41.25
Kotagede 41.19 40.84 41.20
Kota Yogyakarta 40.71 40.35 40.53
Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Yogyakarta, 2018
Rasio ketergantungan Kota Yogyakarta dalam rentang tahun 2015-2017 cenderung konstan. Tahun 2015 rasio ketergantungan Kota Yogyakarta sebesar 40,71 persen, pada tahun 2016 rasio ketergantungan menjadi 40,35 persen dan pada tahun 2017 berubah menjadi 40,53 persen. Rasio ketergantungan yang tidak mengalami perubahan signifikan atau cenderung konstan tersebut menunjukkan bahwa pada
21
kurun waktu 2015-2017 jumlah penduduk umur produktif (usia 15-64 tahun) Kota Yogyakarta masih lebih besar dari penduduk umur tidak atau belum produktif (0-14 tahun dan di atas 65 tahun).
Dari Tabel 2.di atas, dapat dilihat bahwa kecamatan yang memiliki rasio ketergantungan terendah adalah Kecamatan Gondokusuman. Rasio ketergantungan yang rendah untuk Kecamatan Gondokusuman disebabkan karena kecamatan tersebut memiliki jumlah penduduk umur produktif lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk umur belum atau tidak produktif dari seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta.
Tabel 2. tersebut juga memperlihatkan bahwa angka ketergantungan atau dependency ratio (DR) di Kota Yogyakarta sudah menurun dan mencapai angka yang rendah pada tahun 2018 tetapi diproyeksikan meningkat hingga tahun 2035.
Peningkatan angka ketergantungan ini disebabkan karena peningkatan penduduk lanjut usia yang sangat tajam disertai melambatnya peningkatan jumlah penduduk usia produktif.
2.2.4 Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
Kependudukan merupakan aspek penting dalam pembangunan.
Setiap kegiatan pembangunan harus meletakkan penduduk sebagai target dan juga sebagai pelaku pembangunan. Ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang mengatur agar pembangunan Indonesia direncanakan dan dilaksanakan dengan prinsip “Kependudukan sebagai Titik Sentral Kegiatan Pembangunan” dan diupayakan mencapai kondisi Penduduk Tumbuh Seimbang. Lebih lanjut, Undang-Undang ini pun mengamanatkan Pemerintah Daerah
22
untuk melakukan pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.
Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan, Pembagunan Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga, sebagai turunan UU No 52/2009, pasal 5 menyebutkan bahwa arah kebijakan nasional perkembangan kependudukan mencakup 4 hal pokok, yaitu (a) menjamin tercapainya bonus demografi, (b) meningkatkan kualitas penduduk utuk meanfaatkan bonus demografi, (c) memberdayakan penerapan fungsi-fungsi keluarga, dan (d) memperkuat gotong royong berbasis keluarga.
Diantara keempat hal tersebut, dua diantaranya terkait dengan bonus demografi. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 Perpres No 153 Tahun 2014 tentang Grand Desain Pembangunan Kependudukan sebagai turunan dari UU No 52 Tahun 2009, kebijakan kependuduka dibagai menjadi 5 Ilima) kluster, yaitu:
a pengendalian kuantitas penduduk;
b peningkatan kualitas penduduk;
c pembangunan keluarga;
d penataan persebaran dan pengarahan mobilitas penduduk; dan
e penataan administrasi kependudukan.
Beberapa indikator utama yang dapat menggambarkan pengendalian kuantitas penduduk, yaitu angka fertilitas dan perubahan komposisi penduduk yang menyebabkan perubahan angka ketergantungan penduduk. Sementara itu, pembahasaan mengenai keluarga berencana perlu meliputi beberapa
23
pencapaian utama dan isu strategis dalam pembangunan bidang ini, yakni akseptor KB dan unmet need.
2.2.5 Angka Fertilitas atau Total Fertility Rate
Kelahiran atau fertilitas merupakan salah satu variabel penting yang mempengaruhi perubahan jumlah dan komposisi penduduk. Pengaruh perubahan angka fertilitas terutama terlihat pada penduduk usia muda. Kualitas penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta cukup baik, yang ditandai dengan penduduk terdidik, maju secara social, budaya dan ekonomi, serta dukungan faktor keagamaan. Kehidupan penduduk yang sudah kondusif itu semakin berkembang dan maju dengan dukungan kebijakan program pengendalian penduduk.
Penduduk semakin memahami pentingnya perencanaan keluarga dan pengaturan kelahiran, sehingga angka kelahiran semakin menurun.
Tabel 2.11 Jumlah Kelahiran dan Tingkat Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate) Kota Yogyakarta, 2012-2016 Tahun Jumlah Kelahiran CBR
2012 4.774 11,16
2013 4.658 11,45
2014 4.369 10,55
2015 3.720 9,70
2016 3.841 9,34
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, 2012-2016
Dapat dilihat pada Tabel 2.11, bahwa jumlah kelahiran dan tingkat kelahiran kasar Kota Yogyakarta cenderung menurun
24
dari tahun 2012–2016. Penurunan angka kelahiran diduga berkaitan dengan banyak hal, diantaranya adalah meningkatnya rata-rata usia kawin pertama, banyaknya PUS yang menjadi peserta KB aktif dan kemudahan akses pada layanan KB. Usia kawin pertama dapat mempengaruhi jumlah kelahiran melalui panjangnya masa atau usia reproduksi. Pasangan usia subur yang menikah pada usia muda berpotensi melahirkan lebih banyak anak daripada PUS yang menikah pada usia dewasa. Hal itu berkaitan dengan masa reproduksi yand dimiliki oleh PUS muda lebih panjang daripada PUS dewasa.
2.2.6 Perkawinan Usia Anak
Kematian ibu dilaporkan meningkat 2-4 kali lipat pada kehamilan usia dini dibandingkan dengan kehamilan di atas usia 20 tahun. Badan Pusat Statistik melaporkan pada 2016, sekitar 26,16% perempuan yang melahirkan anak pertama mereka berada pada usia di bawah 20 tahun. Dengan kata lain, lebih dari seperempat perempuan usia subur di Indonesia, melahirkan pada usia di bawah 20 tahun.
Perkawinan usia anak merupakan masalah serius di mana akan berujung pada kehamilan anak, yang selanjutnya, anak akan melahirkan anak. Kehamilan atau persalinan pada usia sangat dini akan berisiko si ibu mempunyai anak terlalu banyak dan jarak antara kehamilan yang terlalu dekat. Ini terjadi karena mereka memiliki masa usia subur yang lebih panjang dibandingkan bila mereka menikah pada usia dewasa. Selain masalah kesehatan, pernikahan usia anak akan membawa dampak atau permasalahan dalam hal pemenuhan hak anak baik pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Tingginya angka perkawinan anak tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan, kemiskinan, norma sosial budaya dan
25
keluarga didominasi oleh peran ayah. Norma itu, misalnya, pemahaman atau rasa malu jika anak perempuan mereka terlambat menikah atau menikahkan cepat untuk menghindari perzinahan.
Tabel 2.12 Persentase Istri yang Menikah pada Usia < 21 Tahun dan Suami yang Menikah pada Usia < 25 Tahun Kecamatan Istri (<21 tahun) Suami (<25 tahun)
Mantrijeron 176 209
Kraton 357 398
Mergangsan 502 644
Umbulharjo 702 816
Kotagede 943 1.077
Gondokusuman 754 884
Danurejan 1.610 1.809
Pakualaman 647 742
Gondomanan 444 470
Ngampilan 810 925
Wirobrajan 545 591
Gedongtengen 1.026 1.187
Jetis 334 400
Tegalrejo 823 923
Kota Yogyakarta 9.673 11.075
Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Yogyakarta, 2017
Berdasarkan Tabel 2.12, jumlah Pasangan Usia Muda yang menikah pada usia muda di Kota Yogyakarta pada tahun 2017 sebanyak 20.748 orang dengan rician untuk jumlah istri yang
26
menikah dengan usia di bawah 21 tahun sebanyak 9.673 orang dan suami yang menikah dengan usia di bawah 25 tahun sebanyak 11.075 orang. Pasangan Usia Subur dikatakan menikah pada usia muda, apabila istri menikah pada usia kurang dari 21 tahun dan suami menikah pada usia kurang dari 25 tahun. Istri yang menikah pada usia kurang dari 21 tahun di Kota Yogyakarta tertinggi di Kecamatan Danurejan yaitu sejumlah 1.610 orang. Sedangkan suami yang menikah pada usia kurang dari 25 tahun di Kota Yogyakarta data tertinggi juga di Kecamatan Danurejan, sejumlah 1.809 orang. Selain Kecamatan Danurejan, istri yang menikah pada usia kurang dari 21 tahun dan suami yang menikah pada usia kurang dari 25 tahun datanya tercatat tinggi juga di Kecamatan Gedongtengen dan Kecamatan Kotagede. Data untuk kecamatan Gedongtengen jumlah istri yang menikah pada usia kurang dari 21 tahun sebanyak 1.026 orang dan suami yang menikah pada usia di bawah 25 tahun sebanyak 1.187 orang, sedangkan untuk kecamatan Kotagede, jumlah istri yang menikah pada usia di bawah 21 tahun sebanyak 943 orang dan suami yang menikah pada usia di bawah usia 25 tahun sebanyak 1.077 orang.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi angka kelahiran adalah pemakaian alat kontrasepsi. Pemakaian kontrasepsi dapat mempengaruhi jumlah kelahiran dengan cara menghambat terjadinya konsepsi. Pasangan usia subur yang ingin mengendalikan kelahiran diharapkan menjadi peserta KB aktif dengan cara menggunakan alat kontrasepsi jenis tertentu sesuai pilihan kebutuhan. Ada berbagai macam/cara/obat yang dapat digunakan untuk menghambat konsepsi, seperti IUD, implant, suntik, pil, MOP, MOW dan kondom. Berdasarkan Tabel 2.13, jumlah PUS yang memilih menggunakan IUD dari tahun 2014 sampai 2018 cukup tinggi. Pada tahun 2014, pengguna KB suntik lebih tinggi dibandingkan kontrasepsi lain, yaitu sejumlah 11.309. Namun pada tahun 2015, pengguna IUD tercatat 10.926,
27
dan jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan PUS yang menggunakan kontrasepsi suntikan yang tercatat 10.729. Dari tahun 2015 sampai 2018, kontrasepsi suntik menjadi metode kedua yang banyak digunakan oleh PUS, dan metode ketiga setelah kontrasepsi suntik yang banyak digunakan oleh PUS adalah kondom. Tingginya minat dan kesadaran PUS untuk memakai alat kontrasepsi tertentu, khususnya IUD tidak terlepas dari faktor pelayanan yang memadai.
Tabel 2.13 Jumlah Peserta KB Aktif Per Mix Kontrasepsi di Kota Yogyakarta, 2014-2018
Jenis KB Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 IUD 10.885 10.926 10.614 9.817 9.130 MOW 2.115 2.030 1.910 1.832 1.797
MOP 219 217 209 200 198
Kondom 6.320 6.049 5.619 5.232 5.651
Implan 1.031 1.015 949 825 840
Suntikan 11.309 10.729 9.985 8.555 7.634 Pil 4.022 3.852 3.418 3.118 2.203 Jumlah 47.050 34.818 32.704 29.579 27.453 Sumber: Kota Yogyakarta dalam Angka 2015–2019
29
3 Kesehatan
Peningkatan kesehatan adalah salah satu indikator peningkatan kualitas penduduk. Salah satu tujuan pembangunan di bidang kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta mengupayakan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk, pemerintah berupaya menyediakan sarana dan prasarana kesehatan disertai tenaga kesehatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitas.
3.1 Derajat Kesehatan Masyarakat
3.1.1 Angka Harapan Hidup (AHH)
Derajat kesehatan masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, diantaranya adalah angka harapan hidup saat lahir.
Indikator berikutnya yang menggambarkan derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Harapan Hidup (AHH). AHH pada saat lahir (life expectancy at birth) adalah rata-rata tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu.
Selama periode 2015-2018, AHH Kota Yogyakarta menunjukkan perkembangan yang semakin meningkat. Pada tahun 2015 AHH
30
Kota Yogyakarta mencapai 74,25 tahun terus mengalami kenaikan hingga mencapai 74,45 tahun pada 2018.
Perkembangan AHH di Kota Yogyakarta dalam kurun waktu 2015-2018 menunjukkan peningkatan. Dari 74,25 di tahun 2015 meningkat menjadi 74,45 di tahun 2018. Angka 74,45 tersebut menggambarkan perkiraan
Perkembangan AHH di Kota Yogyakarta dalam kurun waktu 2015-2018 menunjukkan peningkatan. Dari 74,25 di tahun 2015 meningkat menjadi 74,45 di tahun 2018. Angka 74,45 tersebut menggambarkan perkiraan