Kegiatan transaksi penjualan ikan hasil tangkapan di Pasar Indralaya dan Pasar Tanjung Batu di mulai pada jam lima pagi, dimana pedagang pengumpul atau pedagang ikan asin sudah mulai transaksi dengan pedagang pengecer, hari pasar ikan di Kecamatan Tanjung Batu adalah hari Senin dan Kamis, sedangkan di Pasar Indrajaya adalah Selasa dan Kamis. Pedagang pengumpul pada umumnya sudah mempunyai nelayan yang tetap dalam pembelian ikan hasil tangkapannya, biasanya pedagang pengumpul mempunyai nelayan binaannya adalah berkisar 10- 30 orang dan sudah mempunyai ikatan modal dengan pedagang pengumpul yaitu dengan cara memberikan modal usaha seperti untuk pembelian alat tangkap. Sistem pembayarannya kepada pedagang adalah dengan cara menyicil setiap hasil penjualan lebih dari Rp.30.000 baru pedagang memotong pinjamannya.
Selain penjualan ikan dalam bentuk segar di Kabupaten Ogan Ilir juga melakukan penjualan ikan olahan. Di kabupaten ini kegiatan pengolahan ikan sudah berjalan sejak puluhan tahun bahkan
32 bersifat turun temurun. Teknologi pasca panen ikan hasil tangkapan diperairan umum dapat berupa: pengolahan ikan segar, pengolahan untuk bahan industry, pengawetan. Pengolahan ikan segar dapat dilakukan untuk semua jenis ikan yang diolah menjadi berbagai aneka masakan khas daerah maupun masakan nasional. Pengolahan untuk bahan industry umumnya ikan gabus yang digunakan dagingnya sebagai bahan baku pembuatan kerupuk ikan, empek-empek, tekwan, bakso. Pengawetan dapat berupa ikan asin, dan ikan asap/salai. Ikan asin umumnya berbahan baku ikan sepat. Ikan asap/salai dapat menggunakan ikan lais, patin, lele. Jenis ikan dominan yang diolah adalah ikan gabus yang bernilai ekonomis tinggi.
Seluruh usaha pembuatan kerupuk dan kemplang di Kab.Ogan Ilir masih skala rumah tangga (tradisional) dan dengan teknologi yang sederhana (manual). Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pembuatan kerupuk adalah 3 - 4 orang dengan upah perorang Rp.50.000. Jumlah pengolah kerupuk dan kemplang di kabupaten Ogan Ilir dapat dilihat pada Tabel 13dibawah ini.
Tabel 17. Jumlah Pengolah Kerupuk/Kemplang di Kab. Ogan Ilir No Kecamatan/Kel/Desa Jumlah
(orang)
Klasifikasi Produk Perizinan
1 Kec. Indralaya Utara 42
Tanjung Pering) 42 Usaha kecil Krupuk Kemplang Belum ada
2 Kec. Indralaya 3
Talang Aur 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Sakatiga Seberang 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Tanjung Gelam 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
3 Kec. Indralaya Selatan 37
Tebing Gerinting Selatan 26 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Meranjat I 2 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Meranjat II 4 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Meranjat III 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Meranjat Ilir 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Tanjung Lubuk 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Sukaraja Lama 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
33 No Kecamatan/Kel/Desa Jumlah
(orang)
Klasifikasi Produk Perizinan
4 Payaraman 5
Payaraman Barat 2 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada Payaraman Timur 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Rengas II 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
Tebedak II 1 Usaha kecil Krupuk kemplang Belum ada
TOTAL 87
Sumber : Laporan Tahunan Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Ogan Ilir, 2012.
Saluran Pemasaran ikan di sungai dan rawa Kabupaten Ogan Ilir
Ikan-ikan yang dipasarkan di sekitar Ogan Ilir berasal dari dalam kabupaten dan luar kabupaten. Jenis ikan yang dipasarkan diantaranya adalah ikan baung, lais, toman, gabus dan sepat.Dari hasil wawancara dengan responden di ketahui bahwa rantai pasokan ikan di Ogan Ilir yang berjalan yaitu ikan hasil tangkapan nelayan biasanya ada yang langsung dijual ke pedagang pengecer ada juga yang dijual melalui pedagang pengumpul . Kemudian oleh pedagang pengumpul dijual ke pedagang pengecer di pasar Indralaya dan pasar Tanjung Raja yang kemudian dipasarkan ke berbagai konsumen diantaranya untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Selain jalur rantai pemasaran seperti tersebut diatas, untuk jenis ikan gabus dan ikan sepat oleh pengumpul sebagian di jual ke pengolahyang ada di dalam Kabupaten yang kemudian oleh pengolah tersebut di jual ke konsumen di dalam dan luar kabupaten.Untuk jenis ikan gabus biasanya diolah menjadi kerupuk, empek-empek atau tekwan dan bakso. Sedangkan untuk jenis ikan sepat selain dijual segar sebagian di jual dalam bentuk olahan atau diasinkan. Untuk lebih jelasnya saluran pemasaran ikan di Ogan Ilir dapat dilihat dalam gambar berikut:
Gambar 2. Saluran pemasaran ikan tangkap di Ogan Ilir
Konsumen dalam Kabupaten Pengolah
Konsumen dalam dan luar kabupaten Pedagang
pengecer Pengumpul
34 Analisis Nilai Tambah ( Value Added) untuk ikan gabus segar dan olahan
Pada Gambar 3 dibawah ini menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp 26.614 /kg dengan biaya untuk menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp 25.386 per kg.Dilihat dari jumlah pertambahan nilai, nelayan menerima bagian lebih kecil (44.03%) tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih kecil (20.80%) dibanding dengan pengecer.Pengecer menerima pertambahan nilai lebih besar (55.97%) dan menghabiskan biaya lebih besar (79.20%). Pengecer menghabiskan sebagian dari biaya tersebut untuk biaya tidak tetap sebesar (81.90%) untuk biaya input produksi seperti biaya operasional, transportasi dan tenaga kerja. Pengecer memperoleh keuntungan lebih besar tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih besar.
Pedagang Pengecer 1. Investasi : 0.74 %
2. Biaya tidak tetap : 81.90 % (input produksi) 3. Biaya tetap : 17.36 % (penyusutan dan perawatan)
Rantai Nilai 1
Gambar 3. Rantai Nilai Ikan Gabus segar di Kabupaten Ogan Ilir
Seperti pada Gambar 4 rantai nilai 2 menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp 24.459 /Kg dengan biaya untuk menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp.10.541 per kg. Dilihat dari jumlah pertambahan nilai, disini nelayanmenerima bagian terbesar (47.91%) tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih besar (50.10%). Nelayan menghabiskan sebagian dari biaya tersebut untuk biaya tidak tetap sebesar 84.68% (biaya input produksi seperti pembelian ikan untuk umpan ). Sementara pedagang pengumpul dan pedagang pengecer memperoleh penambahan nilai masing masing 32.07% dan 20.01%, tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih kecil dibanding dengan nelayan.
5.281 (20.80%) 11.719 (44.03%) 20.105 (79.20%) 14.895 (55.97%) Nelayan Nelayan Pedagang Pengecer Pengumpul kecil Konsumen dalam Kabupaten cost Value Added Value added Rp 26.614 /kg
35 Nelayan
1. Investasi : 10.57 %
2. Biaya tidak tetap : 84.68 % (input produksi) 3. Biaya tetap : 4.75 % (penyusutan dan perawatan)
Rantai Nilai 2
Gambar 4. Rantai Nilai 2 Ikan Gabus segar di Kabupaten Ogan Ilir
Pada Rantai nilai gambar5 dibawah ini total pertambahan nilai yang diperoleh sebesar Rp 30.182 per kg dengan biaya untuk menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp 56.819 per kg.Dilihat dari jumlah pertambahan nilai, pengolah menerima bagian lebih besar (74.01%) dan mengeluarkan bagian lebih besar dari sisi biaya (66.29%). Pengolah mengeluarkan sebagian dari biaya tersebut untuk biaya tidak tetap seperti biaya operasional dari proses pengolahan ikan hingga pengemasan, sebesar 82.78%. Sementara pengumpul memperoleh penambahan nilai 25.99%, tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih kecil dibanding dengan pengolah. Pengolah memperoleh keuntungan lebih besar hal ini dikarenakan biaya operasional yang dikeluarkan juga lebih besar.Pada saluran pemasaram ke pengolah ini banyak biaya yang dihabiskan untuk menghasilkan pertambahan nilai.Oleh karena itu, pertambahan nilai yang dihasilkan adalah juga semakin banyak.
Pengolah
1. Investasi : 14.11 %
2. Biaya tidak tetap : 82.78 % (input produksi) 3. Biaya tetap : 3.11 % (penyusutan dan perawatan) Rantai Nilai 3
Gambar 5. Rantai Nilai 3 Ikan Gabus bentuk olahan (kerupuk) di Kab. Ogan Ilir
5.281 (50.10%) 11.719 (47.91%) 2.156 (20.45%) 7.844 (32.07%) 3.105 (29.45%) 4.895 (20.01%) 19.156(33.71%) 7.844(25.99%) 37.663(66.29%) 22.338(74.01%) Value Added cost Pedagang Pengecer Value added Rp24.459 /Kg Pedagang PengumpulN elayan Pengumpul kecil Konsumen dalam kabupaten
Nelayan Pengumpul Pedagang
Pedagang PengumpulN elayan Pengumpul kecil Pengolah Value added Rp 30.182 / Kg cost Value Adde d Konsumen dalam dan luar kabupaten
36 Analisis Nilai Tambah ( Value Added) untuk ikan sepat segar
Seperti pada Gambar 6 Rantai nilai 4 menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp 16.114 per kg dengan biaya untuk menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp.8.886 per kg. Dilihat dari jumlah pertambahan nilai, pedagang pengecer menerima bagian lebih besar (73.82%) dan mengeluarkan bagian terbesar juga dari sisi biaya (91.21%). Pengecer menghabiskan sebagian dari biaya tersebut untuk biaya tidak tetap sebesar 82.36% (biaya input produksi seperti ikan dan transportasi).Pedagang pengecer memperoleh keuntungan lebih besar hal ini dikarenakan biaya operasional yang dikeluarkan juga lebih besar. Sementara nelayan dan memperoleh penambahan nilai sebesar 26.18% tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih kecil dibanding dengan pedagang pengecer.
Pengecer
1. Investasi : 0.16 %
2. Biaya tidak tetap : 82.36% (input produksi) 3. Biaya tetap : 17.48 % (penyusutan)
Rantai nilai 4
Gambar 6. Rantai Nilai 4 ikan sepat segar
Seperti pada Gambar 7 Rantai nilai 5 menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp 15.268 per kg dengan biaya untuk menghasilkan pertambahan nilai sebesar Rp.4.732 per kg. Dilihat dari jumlah pertambahan nilai, pedagang pengecer menerima bagian terbesar (45.16%) dan mengeluarkan bagian terbesar juga dari sisi biaya (65.62%). Pengumpul besar menghabiskan sebagian dari biaya tersebut untuk biaya tidak tetap sebesar 81.90% (biaya input produksi seperti ikan dan transportasi).Pedagang pengecer memperoleh keuntungan lebih besar hal ini dikarenakan biaya operasional yang dikeluarkan juga lebih besar. Sementara nelayan dan pedagang pengumpul memperoleh penambahan nilai masing masing 27.63% dan 27.21% tetapi biaya yang dikeluarkan juga lebih kecil dibanding dengan pedagang pengecer.
781(8,79%) 4.219(26.18%) 8.105(91.21%) 11.89(73.82%) Value Added cost
Nelayan Pedagang pengecer Konsumen dalam kabupaten
Value added Rp 16.114/kg
37 Pengecer
4. Investasi : 0.72 %
5. Biaya tidak tetap : 81.90 % (input produksi) 6. Biaya tetap : 17.38 % (penyusutan)
Rantai nilai 5
Gambar 7. Rantai Nilai 5 ikan sepat segar
Hasil analisis value added menunjukkan bahwa bentuk rantai nilai pada gambar 5c rantai nilai 3 ( rantai nilai ikan gabus bentuk olahan) merupakan keragaan yang lebih baik dibandingkan dengan rantai nilai yang lain hal ini dapat dilihat dari prosentase antara value added dengan biaya yang dikeluarkan pada rantai nilai ikan gabus dalam bentuk olahan ini mempunyai prosentase value added yang paling besar dibanding dengan bentuk rantai nilai yang lain. Bentuk rantai nilai ini merupakan rantai nilai dari kegiatan usaha pengumpul menjual hasil tangkapannya ke pengolah hasil perikanan yang kemudian dipasarkan ke konsumen yang berasal dari dalam kabupaten maupun luar Kabupaten.Pada rantai pemasaran produk olahan tersebut, terlihat bahwa pengolah menerima bagian terbesar dari pertambahan nilai.Hal ini menunjukan bahwa terjadi efisiensi produksi pada rantai pengolahan, dimana dengan rantai yang relatif lebih pendek dibanding dengan rantai pemasaran yang lain, namun dapat menghasilkan laba/pertambahan nilai yang lebih besar.