• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PROFIL LOKASI PENELITIAN

2.2. Keadaan Sumber Daya Alam

2.2.2. Sumber Daya Darat

Kabupaten Nias Utara memiliki potensi darat di berbagai sektor antara lain pertanian, perkebunan dan kehutanan. Berbagai sektor tersebut mendukung perekonomian penduduk Nias Utara. Diperlukan berbagai kebijakan untuk mendukung dalam pengembangan potensi tersebut. kebijakan tersebut dapat berupa kebijakan subsidi, pelatihan maupun kebijakan dalam pemasaran. Dengan demikian harga yang dihasilkan tidak jatuh. Selanjutnya gambaran mengenai berbagai potensi sumber daya darat akan diuraikan dalam rangkaian tulisan di bawah ini. Pertanian

Pertanian sebagai salah satu sektor yang cukup penting. Adapun beberapa komoditas yang cukup berpotensi yaitu padi sawah, padi ladang, dan palawija. Usaha pertanian padi sawah tersebar di seluruh kecamatan. Kecamatan Alasa merupakan daerah sentral pertanian padi. Pada tahun 2013, produksi padi sawah di Kecamatan Alasa adalah 5.875 ton (BPS, 2014:188). Padi merupakan makanan pokok penduduk Nias Utara. Oleh karena itu keberadaan pertanian padi sawah cukup membantu mendukung keberadaan pangan di Nias Utara.

Gambar 2.1.3.

Grafik Produksi Padi Sawah Di Kabupaten Nias Utara 2013 Sumber: BPS Kabupaten Nias(2014)

Kecamatan Lahewa memiliki jumlah produksi padi terendah di Kabupaten Nias Utara, dengan jumlah produksi pada tahun 2013 mencapai 316 ton. Hal ini berkaitan dengan orientasi sebagian penduduk di Lahewa yang bekerja di laut maupun di sektor perdagangan. Dengan demikian berpengaruh dengan keberadaan Kecamatan Lahewa sebagai penghasil produksi padi terkecil di Nikara. Selain itu juga disebabkan oleh luas lahan di Kecamatan Lahewa tahun 2013 hanya 109 hektar. Luas lahan ini merupakan yang terkecil di bandingkan kecamatan lainnya di Kabupaten Nias Utara.

Tabel 2.2.5.

Luas Panen, Produksi dan Rata-Rata Produksi Padi Sawah Menurut Kecamatan Tahun 2013

Kecamatan Padi

Luas Produksi Rata-Rata Produksi

Tugala Oyo 805 2.099 2,61 Alasa 2.234 5.875 2,63 Alasa Talumuzoi 232 557 2,40 Namohalu Esiwa 1.178 2.978 2,53 Sitolu Ori 789 2.246 2,85 Tuhemberua 538 1.376 2,56 Sawo 482 1.923 3,99 Lotu 986 3.057 3,10 LahewaTimur 257 662 2,58 Afulu 645 1.970 3,05 Lahewa 109 316 2,90 Jumlah 8.255 23.059 2,79

Sumber : BPS Kabupaten Nias (2014)

Kemudian luas lahan panen padi di Kecamatan Alasa merupakan yang terbesar, dengan jumlah luas 2.234 hektar. Namun demikian jika dilihat dari tingkat produktivitas Kecamatan Sawo memiliki tingkat produktivitas paling tinggi yaitu 3,99 ton/hektar. Hal tersebut karena pertanian di Sawo didukung dengan irigasi yang cukup baik. Ketika peneliti berada di lokasi, terlihat bahwa masa panen baru saja telah selesai. Dimana hamparan areal persawahn yang cukup luas,

dikelilingi oleh irigasi. Ketika peneliti, melakukan wawancara dengan salah satu petani, mengatakan bahwa dalam pertanian padi ini, ada intervensi dari pihak gereja. Intervensi tersebut berupa kebijakan penanaman serentak. Adanya gerakan panen serentak maka, diharapkan akan minimalisir adanya hama. Selain itu juga akan berguna dalam distribusi pengarian.

Keberadaan usaha pertanian padi sawah ini jika dikembangkan maka akan mengurangi kekurangan stok beras selama ini, yang masih di datangkan dari daratan Sumatera. Keberadaan sektor pertanian padi sawah jauh berbeda dengan padi ladang. Data BPS tahun 2013 mencatat usaha pertanian padi ladang di Nias Utarahanya di lakukan di Kecamatan LahewaTimur dengan luas area mencapai 57 hektar dan tingkat produksi mencapai 191 ton dengan tingkat produktivitas per hektar mencapai 3,35 ton. Rendahnya usaha sektor pertanian padi ladang juga dipengaruhi oleh topografi setempat. Selain itu dipengaruhi, penduduk lebih mengusahakan perkebunan di wilayah ladang. Hal ini berkaitan dengan jumlah hasil panen dan masa tunggu panen yang cukup mempengaruhi penduduk untuk menanam padi ladang tersebut.

Selain komoditas padi sawah dan padi ladang Nias Utara juga menghasilkan komoditas lain yaitu jagung. Komoditas jagung ini ditanam menyebar ke seluruh 11 kecamatan yang berada di Nias Utara. Luas lahan jagung di Nias Utara tahun 2013 adalah 392 hektar, dengan jumlah produksi mencapai 2.328 ton (BPS Kabupaten Nias, 2014:93). Adanya lahan yang cukup di Nias Utara juga digunakan penduduk untuk menanam kedelai. Komoditas ini menyebar ke seluruh kecamatan di Nias Utara. Tahun 2013 produksi kedelai sebesar 596 ton (BPS Kabupaten Nias, 2014:95).

Tabel 2.2.6.

Produksi Padi dan Palawija di Kabupaten Nias Utara 2010-2013

Komoditas Produksi (Ton)

2010 2011 2012 2013 Padi Sawah 18.816 18.465 20.071 23.059 Padi Ladang 12 13 20 191 Jagung 144 486 2.328 2328 Ketela Pohon 193 423 495 569 Kacang Tanah 147 186,7 254 286 Kacang Hijau 67 29,5 57 83 Talas 1 2 3 4 Sagu 1 2 3 1

Sumber : BPS Kabupaten Nias (2014)

Jika melihat data tabel 2.2.6, produksi padi dalam kurun waktu 2010-2013 mengalami kenaikan. Kemudian bagaimana dengan komoditas lainnya. Jika melihat data diatas jumlah produksi komoditas lainnya tidak begitu menggembirakan. Bahkan dapat dikatakan hanya ada 4 komoditas yang berperan dalam ketahanan pangan di Kabupaten Nias Utara yaitu padi sawah, kacang tanah, jagung dan padi ladang. Hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah daerah untuk mampu menyediakan pangan dan menjadi daerah swasembada. Tanpa harsu tergantung dengan wilayah lainnya.

Perkebunan

Perkebunan merupakan salah satu urat nadi perekonomian Kabupaten Nias Utara. Hal tersebut dilihat dari luas areal lahan karet yang mencapai lebih dari 50 persen dari total luas lahan perkebunan yang mencapai 60.290 hektar. Keberadaan karet sangat mempengaruhi kondisi perekonomian penduduk. Ketika harga karet jatuh maka perekonomian secara umum juga jatuh.

Saat penelitian ini dilakukan harga karet sedang jatuh. Keluhan dari penduduk yang mengatakan harga karet hanya berkisar 10.000 rupiah per/kg sangat memukul perekonomian. Apalagi sebagai pekebun, tidak memiliki pekerjaan sampingan lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh harga karet international. Selain itu juga adanya persaingan dengan karet sintetis semakin menasbihkan karet alam semkain terancam. Kemudian disisi lain perkembangan luas areal perkebunan karet dari kurun waktu 2009-2013, mencapai hasil yang menggembirakan. Luas areal mencapai lebih dari 100 persen dari 17.394 hektar menjadi 35.927. Luas areal karet ini menjadi potensi yang cukup menjanjikan bagi perekonomian Nias Utara.

Tabel 2.2.7.

Perkembangan Luas Tanaman Perkebunan Rakyat Tahun 2009 – 2013 (Ha)

Jenis Tanaman Luas Lahan (Ha)

2009 2010 2011 2012 2013 Karet 17.394 19.133 19.333 35.712 35.927 Kelapa 15.097 16.606 16.606 18.597 18.597 Kopi 281 309 300 290 109 Cengkeh 341 375,10 375,1 40 40 Pala 0 0 15 0,5 0,6 Nilam 31 34,10 19,1 32,5 29,0 Kapulaga 0 0 12 5 3 Kakao 3.224 3.568 3.561 6.200 5.472 Pinang 107 117,70 117,7 121 112 Jumlah 36.475 40.143 40.339 60.998 60.290

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Perkebunan karet bisa dikatakan menjadi primadona bagi penduduk di Nias Utara. Oleh karena itu intervensi pemerintah dalam meningkatkan harga komoditas karet sangat diperlukan. Apalagi produksi karet Nias dalam kurun waktu 2009-2013 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari 1,1 ton menjadi 30,56 ton pada tahun 2013. Adanya kenaikan produksi ini seyogyanya menjadi pemacu bagi berbagai stakesholder untuk meningkatkan harga karet.

Selain karet, komoditas perkebunan lain yang cukup menonjol di Kabupaten Nias Utara adalah kelapa. Perkebunan kelapa dapat menggerakan sektor perekonomian, mulai dari hulu hingga hilir. Di perkebunan kelapa berbagai jenis pekerjaan mampu tercipta. Mulai dari pekerja yang memilihara kebun, pemetik, pembuat kopra, pengangkut kopra dan pedagang. Adanya rantai jenis pekerjaan dalam kelapa menjadikan kelapa menjadi primadona bagi sebagian penduduk Nias Utara. Namun demikian masalah utama adalah pemasaran. Pemasaran hinggan saat ini hanya sampai di Gunung Sitoli. Produksi kelapa Nias Utara belum mampu menembus pasar luar pulau bahkan pasar eksport. Padahal potensi kopra Nias Utara cukup banyak. Hal ini dapat dilihat dari data BPS dari kurun waktu 2009-2013 terdapat kenaikan yang cukup significant dari 1,2 ton menjadi 49,08 ton.

Tabel 2.2.8.

Perkembangan Produksi Perkebunan Rakyat di Kabupaten Nias Utara Tahun 2009 - 2013 (Ton)

Jenis Tanaman Produksi (Ton) 2009 2010 2011 2012 2013 Karet 1,1 1,3 21,29 27,24 30,56 Kelapa 1,2 1,2 10,1 42,86 49,08 Kopi 0,3 0,4 0,4 0,16 0,20 Cengkeh 0,5 1,0 0,8 0,11 0,20 Pala 0 0 0,5 0 0,10 Nilam 0,2 0,4 0,4 0,30 1,00 Kapulaga 0 0 0,5 1,0 0 Kakao 0,9 1,9 17,89 6,18 11,00 Pinang 0,4 0,6 0,7 0,11 0,60

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Kemudian bagaimana dengan gambaran rumah tangga yang terserap dari sektor perkebunan dan persebaran di Kabupaten Nias? Persebaran komoditas perkebunan menyebar ke seluruh kecamatan terutama perkebunan karet. Karet menjadi komoditas yang banyak diusahakan oleh rumah tangga dengan angka mencapai 9.890 rumah tangga.

Untuk perkebunan karet Kecamatan Tuhemberua menempati posisi pertama yang memiliki rumah tangga terbanyak yang bekerja di perkebunan dengan angka mencapai 1.550 rumah tangga.Dengan demikian terlihat betapa adanya ketergantungan penduduk Nias terhadap perkebunan karet. Kemudian komoditas kelapa menempati posisi kedua yang banyak diusahakan oleh rumah tangga dengan jumlah mencapai 8.919 rumah tangga.

Tabel 2.2.9.

Banyaknya Rumah Tangga yang Mengusahakan Tanaman Perkebunan Rakyat Menurut Kecamatan Tahun 2013

Kecamatan Banyaknya Rumah Tangga

Kar et Kela p a Ko p i C en g k eh

Pala Nilam Kap

u lag a Kak ao Pin an g Ju m lah Tugala Oyo 500 25 0 0 0 12 0 114 770 770 Alasa 600 220 210 30 0 22 0 124 231 1.437 Alasa Talumuzoi 500 128 0 0 0 0 5 80 45 758 Namohalu Esiwa 1.490 622 0 75 0 0 9 510 140 2.846 Sitolu Ori 450 224 0 0 0 0 0 250 210 1.134 Tuhemberua 1.550 2.000 110 140 7 0 7 320 99 4.233 Sawo 750 2.650 0 0 18 0 0 1100 154 4.672 Lotu 1.600 700 0 95 0 7 0 850 150 3.402 LahewaTimur 675 130 0 0 4 8 7 223 126 1.173 Afulu 1.296 165 0 100 0 0 0 140 112 1.813 Lahewa 479 2.055 63 64 6 0 5 610 3271 6.553 Jumlah 9.890 8.919 383 504 35 49 33 4.321 4.657 28.791

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Komoditas kelapa juga menyebar ke seluruh kecamatan diNias Utara. Kecamatan Sawo merupakan kecamatan yang paling banyak rumah tangganya mengusahakan kelapa dengan jumlah total mencapai 2.650 rumah tangga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kelapa juga menjadi denyut nafas perekonomian Kabupaten Nias Utara. Selain kedua komoditas karet dan kelapa kabupaten Nias Utara juga menyimpan potensi perkebunan yang lain seperti pinang dan kakao.

Kehutanan

Sumber daya darat lainnya yang menjadi andalan Nias Utara adalah hutan. Jenis hutan yang ada di Nias Utaraterbagi dalam 4 jenis yaitu hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan konversi. Data BPS tahun 2013 Hutan lindung memiliki areal terluas di Kabupaten Nias Utaradengan luas mencapai 26.342,00 hektar. Luas areal hutan lindung lebih dari 50 persend ari total luas hutan di kabupaten Nias Utara yang mencapai 47.782,70 hektar. Adapun persebaran luas areal hutan dan jenisnya perkecamatan akan disajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 2.2.10.

Luas Hutan di Kabupaten Nias Utara Menurut Jenis dan Kecamatan Tahun 2013

Kecamatan Jenis Hutan (Ha) Hutan Lindung Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Hutan Konversi Jumlah Tugala Oyo 2.915,44 0 1.818,64 0 4.734,08 Alasa 1.856,37 0 4.220,46 706,28 6.783,11 Alasa Talumuzoi 6.375,41 0 383,14 214,05 6.972,60 Namohalu Esiwa 6.206,74 0 3.178,76 55,15 9.440,65 Sitolu Ori 203,15 1.709,84 992,83 0 2.905,82 Tuhemberua 0 110,16 0 0 110,16 Sawo 0 651,77 0 0 651,77 Lotu 0 2.288,20 1.183,76 0 3.471,96 LahewaTimur 44,74 0 724,00 625,50 1.394,24 Afulu 6.689,44 0 0 2.578,16 9.267,60 Lahewa 2.050,71 0 0 0 2.050,71 Jumlah 26.342,00 4.759,97 12.501,59 4.179,14 47.782,70

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Dari tabel persebaran areal hutan diatas dapat terlihat bahwa Kecamatan Afulu memiliki hutan lindung terluas di Nias Utara.

Adanya hutan lindung ini jika dijaga kan mampu memberikan manfaat yang besar bagi penduduk setempat. Manfaat hutan lindung antara lain sebagai tempat hidup habitat bagi satwa maupun tumbuhan langka. Di samping itu sebagai penyedia cadangan sumber mata air. Kemudian hutan produksi terbatas tersebar di 7 kecamatan. Adanya berbagai jenis hutan di Kabupaten Nias Utara sebagai sumber daya darat yang harus dilestarikan.

Peternakan

Selain sumberdaya darat perkebunan, pertanian dan kehutanan. Kabupaten Nias Utarajuga ditopang oleh peternakan. Peternakan babi merupakan peternakan yang paling banyak diusahakan oleh penduduk Nias Utara.

Tabel 2.2.11.

Populasi Ternak Besar dan Kecil Menurut Kecamatan Tahun 2013 (Ekor)

Kecamatan Ternak Besar Ternak Kecil Jumlah Sapi Kerbau Babi Kambing

Tugala Oyo 0 0 1.024 0 1.024 Alasa 0 0 3.223 0 3.223 Alasa Talumuzoi 0 0 917 0 917 Namohalu Esiwa 0 0 2.708 0 2.708 Sitolu Ori 0 0 4.295 0 4.295 Tuhemberua 0 0 6.960 235 7.195 Sawo 91 0 738 190 1.019 Lotu 0 0 5.671 0 5.671 LahewaTimur 12 30 979 87 1.108 Afulu 23 0 2.478 74 2.575 Lahewa 14 8 460 129 611 Jumlah 140 38 29.453 715 30.346

Sumber: BPS Kabupaten Nias (2014)

Peternakan babi tersebar di seluruh kecamatan di Nias Utara. Kemudian untuk peternakan yang lain seperti sapi, kerbau tidak begitu banyak dipelihara oleh penduduk Nias Utara.

Perikanan Darat

Selain menimpan sumber daya perikanan laut, Nias Utara juga menyimpan sumber daya perikanan darat. Perikanan darat diusahakan penduduk ataupun ditangkap secara langsung di perairan yang ada di Kabupaten Nias Utara. Persebaran jumlah produksi dari jenis pengusahaan di sajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 2.2.12.

Jumlah Produksi Perikanan Darat Menurut Cara Budidaya Tahun 2012-2013 Komoditas 2012 2013 Produksi (Ton) Harga Jual Nelayan(Rp/Ton)

Produksi(Ton) Harga Jual Nelayan(Rp/Ton) Perairan Umum 1,38 24.840.000 0 0 Budidaya Laut 5,04 40.320.000 0 0 Budidaya Air Payau 0 0 0 0 Budidaya Kolam 128,04 2.304.648.000 125 3.125.000 Budidaya Sawah 0 0 0 0 Budidaya Kolam Air Deras 0 0 0 0 Budidaya Keramba JaringApung 6,79 118.950.000 10 800.000 Jumlah 141,25 2.488.758.000 135 3.925.000

2.3. Sarana dan Prasarana Sosial-Ekonomi

Dokumen terkait