• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Daya Manusia

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 56-63)

Bab V. Analisis Tingkat Integrasi

A. Deskripsi Subsistem

3. Sumber Daya Manusia

a. Kebijakan dan Sistim Manajemen

SDM Dinas Kesehatan saat ini terdiri dari unsur PNS, tenaga kontrak dan juga relawan. Namun tahun ini ada telah dikeluarkan kebijakan walikota Makassar untuk tidak lagi menerima pegawai kontrak. Berdasarkan profil kesehatan kota Makassar tahun 2013,

terdapat 1.406 orang SDM untuk Dinas Kesehatan. Selanjutnya mekanisme perekrutan SDM di jajaran dinas kesehatan diatur oleh Dinkes Kota Makassar berdasarkan permintaan yang ada.

Dari hasil wawancara kepada staf Puskesmas tentang status kepegawaian dari staf yang ada terdapat 8 informan menyatakan status sebagai PNS, 5 informan sebagai kontrak, 7 informan sebagai relawan. Seperti yang terdapat di Puskesmas Jumpandang Baru, meskipun telah menjadi staf RR, yang bersangkutan masih berstatus sebagai tenaga kontrak selama 7 tahun. Di Puskesmas Andalas seluruh staf yang ada sudah berstatus PNS, namun ada satu orang relawan yang membantu program HIV. Ini juga menjadi salah satu strategi dalam mengatasi masalah ketenagaan di tingkat Puskesmas. Perekrutan relawan menjadi pilihan dan dianggap cukup membantu program yang ada di Puskesmas.

Karena kita disini juga kekurangan tenaga dan itu ada honornya jadi itu diambil oleh relawan.

(SKP-08, wawancara mendalam, 28/09/2015)

Karena kita merasa tidak mungkin kalau petugas yang PNS ini yang akan ke lapangan yang akan merekrut teman-teman atau mencari teman-teman yang sudah terpapar dengan HIV. Jadi kita manfaatkan yang memang betul-betul ‘full time’ mau pekerjaan ini. Lagi pula untuk menemukan dan membawa teman-teman ODHA memang sangat sulit kalau bukan yang memang sudah punya kedekatan emosional karena tugas mereka adalah membawa klien ke pelayanan kesehatan. Karena ini kan sangat peka.

(P-08, wawancara mendalam, 18/09/2015)

Rekrutmen bagi tenaga program HIV diatur secara internal di tingkat Puskesmas, hal ini merupakan kewenangan dari Puskesmas yang bersangkutan. Aspek kapabilitas dan kapasitas dari tenaga yang direkrut merupakan dengan pertimbangan subyektif dari staf program yang lebih senior. Untuk staf kesekretariatan yang ada di KPAK seluruhnya adalah tenaga kontrak. Perekrutan tenaga yang ada di KPAK diatur oleh pemerintah daerah dan beberapa yang terlibat di program dengan dana GF direkrut oleh Global Fund.

Selain itu kerjasama dengan LSM juga terjadi pada bidang ketenagaan, yakni dengan membuat MOU khususnya yang terkait dengan tenaga pendamping yang menjadi mitra

Puskesmas. Di Puskesmas Kassi-kassi, tenaga yang berasal dari LSM diawali dengan menjadi peer educator sebelum yang bersangkutan menjadi staf program.

Pada prosesnya, tenaga kesehatan yang berada pada program HIV diharapkan memiliki kepedulian dan pengetahuan dasar mengenai HIV dan juga narkoba.Saat ini tenaga kesehatan di yang ada pada fasilitas layanan kesehatan menjalani tugas rangkap di beberapa program. Ini juga menghambat pelayanan, karena tak jarang masyarakat harus menunggu ketika staf yang seharusnya melayani sedang tugas di luar Puskesmas.

Untuk tenaga kesehatan yang memberikan layanan HIV, tiap layanan memiliki aturan masing-masing. Di RSWS, pada kegiatan pencegahan, seluruh staf pokja terlibat dalam program, terbagi menjadi layanan VCT, PTRM,CSTdan RR. Di tingkat Puskesmas biasanya karena SDM dan dana yang terbatas, beberapa dokter menjalani rangkap tugas. Bahkan ada yang sudah merasa beban kerja yang berlebih karena ia mesti melayani IMS, CST juga pasien umum di Puskesmas.

Tidak hanya dokter, tenaga kesehatan lain juga mengalami rangkap tugas di Puskesmas. Misalnya saja di Puskesmas Jongaya, bagian data juga merupakan tenaga penyuluh. Dampak dari tugas rangkap ini biasanya pasien menjadi menunggu agak lama, karena tenaga kesehatan yang dituju sedang menyelesaikan tugas lain.

Kebijakan mengenai pengangkatan tenaga penjangkau di Puskesmas biasanya tidak sesuai dengan tugas yang mesti dijalankan. Beberapa tenaga penjangkau juga menjadi pendamping. Namun sudah ada upaya peningkatan kualitas yang dilakukan oleh Dinkes melalui kegiatan pelatihan baik yang diinsiasi oleh Dinkes baik tingkat provinsi maupun tingkat Kota Makassar, maupun yang merupakan kerjasama dengan Kemkes.

Diantara berbagai tantangan dan hambatan dalam tugas, masih ada Nakes yang berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya. Rasa empati membuat beberapa Nakes layanan HIV yang ada di Puskesmas tetapi menjalankan tugasnya seperti biasa meski tanpa dukungan

funding. Biasanya mereka akan memperoleh insentif ataupun uang transport. Hal ini juga

menjadi kekhawatiran di sejumlah kepala Puskesmas, mereka mengkhawatirkan kinerja yang akan menurun jika funding tidak lagi memberi dukungan terhadap program.

Untuk proses perekrutan bagi SDM di layanan HIV biasanya langsung ditujukan pada pihak manajemen RS Wahidin Sudirohusodo. Tenaga kontrak biasanya akan dikontrak sesuai dengan kebutuhan program di Pokja HIV-AIDS. Untuk kebutuhan di Puskesmas maka akan diusulkan ke Dinkes Kota Makassar dan selanjutnya akan diteruskan ke pemerintah kota untuk dibuatkan SK-nya. Keberadaan tenaga dari luar staf Puskesmas mesti ditunjang oleh perjanjian kerjasama (MOU), dan mensyaratkan bahwa SDM yang direkrut memiliki pengetahuan dasar narkoba dan HIV-AIDS.

Berikut adalah distribusi SDM yang mendukung program HIV dibawah dinas kesehatan kota Makassar:

Tabel 7. Distribusi Tenaga Kesehatan Berdasarkan Kompetensinya di Kota Makassar

No. Jenis Tenaga Kesehatan Total

1. Tenaga medis (dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi) 265

2. Tenaga kesehatan masyarakat 109

3. Tenaga kefarmasian 80 4. Bidan 219 5. Tenaga keperawatan 483 6. Tenaga gizi 72 7. Sanitarian 62 8. Analis kesehatan 50 9. Fisioterapi 6 10. Teknisi elektromedis 21 11. Radiografer 7

12. Tenaga kesehatan lainnya 32

TOTAL tenaga kesehatan 1406

Sumber: Dinkes 2014

Pada program HIV, SDM yang terlibat terdiri dari pegawai negeri sipil (PNS), pegawai harian dan tenaga kontrak. Kelompok Populasi kunci menjadi tenaga kontrak untuk program yang diselenggarakan oleh PKBI. Di Puskesmas Makkasau terdapat 10 orang staf yang terlibat dalam program HIV. Mereka adalah perawat, surveilans, perawat gigi, dokter gigi yang telibat di bidang pencegahan dan keseluruhannya sudah mendapatkan pelatihan terkait HIV. Pemberlakuan layanan komprehensif berkelanjutan di Puskesmas ini mengakibatkan kebutuhan akan tenaga analis meningkat, karena saat ini mereka hanya memiliki satu orang analis.

Di Puskesmas Jumpandang Baru terdapat 20 orang nakes yang berugas di bidang pencegahan HIV diantaranya ada 6 orang yang merupakan staf CST. Di Puskesmas Kassi-kassi, kader posyandu juga direkrut untuk terlibat dalam program HIV untuk menjadi tenaga lapangan. Mereka dipilih dengan melihat komitmennya dan kepedulian terhadap komunitas. Selain itu Puskesmas ini juga memiliki relawan yang berasal dari komunitas karena SDM yang bekerja full time sangat dibutuhkan khususnya untuk layanan CST. Pertimbangan memilih komunitas adalah karena mereka memilki kedekatan dan hubungan emosional dgn sesama populasi kunci, sehingga memudahkan untuk mengajak mengakses layanan kesehatan. Total jumlah SDM yang terlibat pada program HIV di Kassi-kassi sebanyak 21 orang dan beberapa orang juga menjalani tugas rangkap.

Keberadaan tenaga kontrak di KPA kota merupakan dukungan dari GF,mereka ditempatkan di bagian program/administrasi dan logistik. Di kalangan petugas lapangan, kebutuhan akan petugas yang perannya mengawasi kepatuhan pasien. Hal ini dianggap perlu untuk mengantisipasi pasien drop-out, tidak hanya dalam pengobatan ARV tetapi agar komunitas senantiasa mengakses kebutuhan kesehatannya ke layanan kesehatan yang ada.

Jika melihat dari ketersediaan SDM yang ada, maka dengan pelaksanaan SUFA dan juga penyelenggaraan Layanan Komprehensif Berkesinmabungan di Kota Makassar, perlu penambahan SDM terlatih yang dapat mendukung dan menjaminan layanan yang berkualitas khususnya terkait perawatan dan pengobatan HIV.

b. Pembiayaan

Bagi staf yang berada di dinas kesehatan kota, maka seluruhnya merupakan beban APBD. Mekanisme pembiayaan di Puskesmas memiliki aturan tersendiri. Petugas lapangan di Puskesmas dibiayai dengan dana BOK. Namun ada pula pegawai lepas seperti di Puskesmas Jongaya yang tidak memiliki gaji tetap. Mereka yang masih berdedikasi terhadap penanggulangan HIV meskipun sudah pensiun tetap mendukung kegiatan Puskesmas meskipun kadang tidak dibiayai.

Untuk pendamping ODHA diberikan insentif dari Dinkes Kota Makassar, selain itu insentif juga diberikan oleh Puskesmas kepada petugas yang melakukan mpbile VCT. Dana yang dipakai berasal dari global fund. Di Puskesmas Jongaya dan Jumpandang Baru insentif bagi

tenaga honorer biasanya menggunakan mata anggaran belanja jasa medik. Dana monitoring dan evaluasi bagi pelayanan kesehatan masyarakat serta dana JKN biasanya juga menjadi sumber pembiayaan di Puskesmas. Ini dilakukan untuk mendukung item kegiatan yang tidak memiliki anggaran yang cukup. Pemberian insentif tidak merata di seluruh layanan HIV, program PPIA tidak memberikan insentif kepada staf yang terlibat.

Salah seorang petugas lapangan yang bertugas di Puskesmas Jumpandang Baru menyatakan bahwa tidak ada insentif yang diberikan oleh Puskesmas selama ini. Namun ia merasa sudah puas karena Puskesmas mengikutertakan Adi dalam berbagai pelatihan/peningkatan kapasitas bagi konselor. Yang baru-baru ini ia ikuti adalah pelatihan konselor bersertifikat nasional.

Dukungan Global Fund, terhadap program khususnya pemberian insentif pada staf program HIV menimbulkan kecemburuan diantara petugas di layanan HIV. Hal ini juga berpengaruh terhadap kinerja petugas, salah seorang anggota KDS menjelaskan bahwa kinerja petugas mulai menurun dalam konseling saat pemberian ARV karena insentif berkurang. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Direktur YPKDS bahwa berakhirnya dukungan global fund, juga ikut mempengaruhi kinerja petugas di kabupaten/kota yang telah dilatih terkait program HIV, utamanya pada pelaporan ARV. Pemberian insentif pada petugas bergantung pada layanan masing-masing, biasanya diberikan pada pengelola program.

c. Kompetensi

Di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, untuk peningkatan kompetensi pelatihan HIV dilakukan kepada perawat dan unit terkait. Mereka yang telah mendapatkan pelatihan dan terlibat di program HIV akan mendapatkan bimibngan dari staf senior yan telah lebih dulu berada di program.

Di 46 puskemas di kota Makassar telah tesedia tenaga yang terlatih untuk layanan PPIA. Pelatihan biasanya diselenggarakan oleh dinkes provinsi ataupun KPA provinsi. Sebagai salah satu SR di program GF, maka PKBI Sulsel juga memiliki kewajiban dalam kegiatan peningkatan kapasitas. Terutama bagi mereka yang terlibat pada program yang didanai oleh GF.

Di beberapa puskesmas, staf program akan diikutsertakan pada pelatihan yang berbeda, agar ketika pergeseran staf dapat langsung menyesuaikan dengan tugas yang diemban. Begitu pula mereka yang mengikuti pelatihan adalah staf yang berbeda-beda sehigga ada pemerataan informasi di kalangan staf. Di Puskesmas Andalas, semua staf yang diikutkan pelatihan kemudian akan ada penilaian tentang penguasaan materi pelatihan.Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah staf tersebut dapat terlibat penuh di program HIV. Adapun pelatihan yang biasa diikuti adalah mengenai PPIA bagi kader dan bidan, penjangkaun, keuangan dan pengelolaan program. Namun tekadang juga terjadi kesalahan dari pihak dinkes ketika mengirimkan orang mengikuti pelatihan. Pengalaman salah seorang populasi kunci menyatakan, mereka yang diikutsertakan pada pelatihan ARV bukan orang yang bertanggung jawab pada layanan ARV. Sehingga ini kemudian mempersulit komunitas ketika ingin berkonsultasi mengenai ARV. Namun masih ada juga layanan kesehatan yang mengikutsertakan petugas yang sama pada tiap pelatihan.

Pergantian staf juga biasa terjadi di tingkat Puskesmas. Misalnya saja saat ini salah seorang staf program HIV di Puskesmas Jumpandang baru dipindahkan ke Puskesmas lain. Akibatnya ada kekurangan staf. Sementara Kepala Puskesmas Jumpandang Baru tidak ingin menerima staf dari dinkes karena yang bersangkutan belum dilatih untuk program HIV. Hal ini mengakibatkan penambahan beban bagi SDM yang ada disana karena mereka kekurangan staf satu orang.

Kerjasama antara layanan kesehatan dengan LSM juga terjadi pada penyediaan SDM, terutama bagi tenaga penjangkau dan pendamping ODHA. Khusus bagi SDM yang berasal dari LSM beberapa Puskesmas memberlakukan MoU yang kemudian melakukan perekrutan berdasarkan kebutuhan. Tenaga dari LSM biasanya dipilih berdasarkan pengetahuan dasar Narkoba dan HIV serta komitmen mereka terhadap penanggulangan HIV. Latar belakang sebagai populasi kunci tidak selamanya menjadi pertimbangan utama, karena aspek kepedulian terhadap komunitas juga menjadi faktor penting bagi tenaga LSM yang bekerja sebagai tenaga kontrak di layanan kesehatan.

Sehingga dari fakta-fakta yang dikemukakan diatas dapat dikatakan kompetensi SDM adalah wewenang Dinkes Kota Makassar untuk menentukan dan menyediakan/menyelenggarakan perangkat pendukungnya (pelatihan/capacity building).

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 56-63)