• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.3. Sumber Daya Perusahaan dan Kebun

5.3.1. Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber Daya Manusia pada kebun terdiri dari satu orang sebagai Manajer Teknik UKBB dan empat orang pekerja yang bertugas pada perawatan areal display,tanaman dan peralatan, perawatan dan pengelolaan areal pembibitan dan koleksi, perawatan pada areal penelitian dan pengadaan bahan baku serta perawatan pada areal produksi. Jam kerja pada kebun lebih fleksibel, disesuaikan dengan kegiatan yang harus dilakukan pada saat itu. Sistem perekrutan kayawan kebun berdasarkan CV yang dikimkan ke Pusat Studi Biofarmaka. Namun, tidak ada keahRismawatin khusus yang dimiliki oleh karyawan kebun hanya karyawan

40 itu harus mengerti bagaimana proses budidaya dan pasca panen tanaman biofarmaka.

5.3.2 Sumber Daya Fisik

Sumber daya fisik terdiri dari barang, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh kebun UKBB yang mendukung dan melancarkan berbagai kegiatan dalam kebun. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh kebun UKKB adalah rumah untuk yang penjaga kebun, musholla, rumah plastik untuk pembibitan, dan lahan seluas 2,8 hektar yang terdiri atas arel display, areal pembibitan, areal penelitian, areal produksi. Gudang yang berfungsi untuk menyimpan peralatan kebun dan diatas gudang terdapat ruangan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan.

5.3.3 Aspek Permodalan

Modal merupakan salah satu aspek yang sangat berperan penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Modal awal yang digunakan oleh kebun UKBB dalam menjalankan usahanya berasal dari Pusat Studi Biofarmaka IPB berupa pinjaman.

Namun untuk 2 tahun terakhir ini, kebun UKBB mampu mandiri dalam modal dan hampir tidak pernah melakukan pinjaman kepada Pusat Studi Biofarmaka IPB.

5.4 Unit Usaha

Kebun UKKB bergerak dalam budidaya tanaman biofarmaka dan melakukan pengolahan pasca panen tanaman biofarmaka sebagai bahan baku jamu dan obat herbal. Proses budidaya dan pasca panen yang dilakukan oleh kebun sangat menentukan kualitas dari tanaman biofarmaka dan simplisia yang akan dihasilkan. Jumalah komoditi yang diusahakan dalam kebun UKBB ini ada 128 tanaman dengan 15 komoditi menjadi komoditi utama. Ruang lingkup kegiatan di kebun UKBB mencakup pengadaan input, proses budidaya, proses pasca panen, dan pemasaran (distribusi) yang dapat dilihat pada Gambar 4.

41 Gambar 5. Ruang Lingkup Kegiatan di Kebun UKBB, 2011

Sumber : Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka (UKBB) 5.4.1 Pengadaan Bahan Baku

Dalam melakukan aktivitasnya, UKBB membutuhkan bahan baku berupa bibit tanaman biofarmaka. Bibit tanaman biofarmaka diperoleh dari pemasok utama yaitu Pusat Studi Biofarmaka IPB dan pemasok lainnya. Namun untuk saat ini, kebun UKKB berusaha mandiri dalam hal pengadaan bahan baku khususnya bibit tanaman biofarmaka dengan cara membudidayakan bibit sendiri.

5.4.2 Teknik dan Teknologi pada Kebun

Pada kebun, proses produksi dibagi menjadi dua bagian yaitu proses budidaya dan proses pasca panen. Proses budidaya pada tanaman biofarmaka terdiri dari :

a. Persiapan lahan

Persiapan lahan yang dilakukan berupa pembersihan lahan dari berbagai tanaman pengganggu dan pembuatan bedengan untuk tanaman temulawak dan pegagan. Setelah itu, dilakukan pemupukan lahan dengan memberikan pupuk kandang.

b. Pembibitan

Pembibitan dilakukan di tempat terpisah dari lahan untuk budidaya.

Pembibitan tanaman biofarmaka dilakukan di polibag yang berukuran kecil dan diletakkan di di lahan yang dilindungi dengan jaring yang berwarna hitam. Luas areal pembibitan ini 350 m2. Setelah bibit telah siap dipindahkan, maka bibit dikelurkan dari polibag.

c. Penanaman

Setelah bibit siap untuk di pindahkan ke lahan yang lebih besar, bibit dikeluarkan dari polibag. Umur temulawak yang sudah siap untuk dipindahkan adalah tiga minggu dan telah tumbuh tunas. Umur pegagan yang sudah siap untuk dipindahkan adalah dua minggu sedangkan bibit mahkota dewa yang siap untuk

42 dipindahkan adalah 1,5 bulan. Setelah dipindahkan, tanaman harus tetap diperhatikan dan dilakukan perawatan terhadap tanaman tersebut.

d. Pemeliharaan

Pemeliharaan untuk tanaman biofarmaka berupa penyiangan atau pemisahaan tanaman dari gulam-gulam pengganggu. Penyiraman dilakukan apabila tanah terlalu kering karena panas yang berkepanjangan. Saat ini, kebun UKBB mulai mencoba memberikan pemupukan pada saat pemeliharaan dengan tujuan agar tanaman tumbuh subur dan berkembang dengan baik.

e. Panen

Panen terhadap tanaman biofarmaka dilakukan secara manual. Untuk tanaman rimpang khususnya temulawak dipanen pada umur sembilan bulan atau pada musim kemarau. Pemanenan temulawak dilakukan dengan cara mencabut tanaman tersebut dari tanah dengan cangkul berbentuk garpu . Setelah temulawak dicabut dari tanah maka dilakuakan penyortiran yang dilakukan dengan cara pemisahan tanah dari tanaman temulawak tersebut. Pemanen untuk pegagan (daun) dilakukan setelah tanaman berumur 3 bulan. Pegagan dipanen dengan hanya memangkas daun pegagan dengan menggunakan sabit atau pisau.

Panen untuk jenis tanaman buah khususnya mahkota dewa hanya dengan memetik buah mahkota dewa tersebut dari pohonnya. Mahkota dewa yang telah bisa dipanen adalah yang telah berwarna merah dan tidak busuk. Setelah tanaman biofarmaka dipanen, maka tanaman biofarmaka harus melalui proses pasca panen sebelum dilakukan pengolahan untuk dijadikan obat herbal. Proses pasca panen pada tanaman biofarmaka pada kebun terdiri dari :

a. Sortasi

Tanaman biofarmaka yang telah dipanen atau disebut simplisia harus dilakukan sortasi terlebih dahulu. Sortasi ini dilakukan untuk memisahkan benda asing yang terdapat pada simplisia seperti tanah pada tanaman rimpang, batu, dan memisahkan antara tanaman yang busuk atau jelek.

b. Pencucian

Setelah simplisia disortasi maka akan dilakukan pencucian. Pencucian yang dilakukan pada kebun UKKB hanya menggunakan air mengalair dan satu bak penampungan. Menurut Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya

43 Temulawak4, pencucian dilakukan secara bertahap pada bak pencucian yang bertingkat dan pada air yang mengalir. Minimal banyak bak pencucian yang disediakan untuk pencucian sebanyak tiga bak. Tidak berbeda jauh dengan tanaman rimpang (temulawak), simplisia yang berasal daun juga harus dilakukan pencucian. Simplisia yang berasal dari buah (mahkota dewa) jarang dilakukan pencucian karena ummnya setelah dilakukan sortasi langsung dilakukan perajangan.

c. Perajangan

Perajangan hanya dilakukan pada simplisia yang berasal dari rimpangan (temulawak) dan buah (mahkota dewa). Perajangan dilakukan untuk mempercepat pengeringan dilakukan dengan membujur. Perajangan dilakukan dengan alat mesin perajang atau secara manual dengan arah rajangan yang seragam ketebalan 5-7 mm atau sesuai keinginan pasar. Ukuran ketebalan perajangan sangat berpengaruh pada kualitas bahan simplisia. Jika terlalu tipis akan mengurangi kandungan bahan aktifnya dan jika terlalu tebal akan mempersulit proses pengeringannya5. Di kebun UKKB perajangan hanya menggunakan pisau yang tajam.

d. Pengeringan

Pengeringan merupakan proses yang sangat penting dalam pembuatan simplisia , karena selain memperpanjang daya simpan juga menentukan kualitas simplisia6. Pengeringan yang dilakukan pada kebun UKKB dengan dua tahap.

Tahap pertama, pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar matahari. Tahap kedua, pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan oven. Proses pengeringan melalui dua tahap ini bertujuan untuk mendapat kualitas yang sesuai dengan standarisasi yang diberikan oleh Badan POM yaitu simplisia yang baik untuk bahan obat adalah yang memiliki kadar air sama atau dibawah 10 persen.

e. Pengemasan

Setelah pengeringan, maka harus segera dilakukan pengemasan untuk menghindari penyerapan uap air kembali. Pengemasan dilakukan dengan kantong

4 Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Temulawak (6 Juni 2011)

5 Loc. cit

6 Loc. cit

44 yang bersih dan tertutup rapat. Isi dari setiap kemasannya jangan terlalu padat agar simplisia tidak terlalu hancur.

5.4.3 Pemasaran

Strategi pemasaran yang diterapkan oleh kebun UKKB adalah menjual produk yang berkualitas dan sesuai dengan permintaan pelanggan guna memberikan kepuasan kepada pelanggan dan konsumen.

a. Product (Produk)

Produk yang dihasilkan oleh kebun UKKB ini berupa simplisia kering maupun basah dari semua tanaman yang ada. Temulawak, Pegagan, dan mahkota Dewa juga diproduksi dan dipasarkan dalam bentuk simplisia basah dan simplisia kering. Simplisia yang dihasilkan merupakan bahan baku yang siap dilolah menjadi jamu. Bagi perusahaan industri, simplisia menjadi bahan baku untuk memproduksi obat herbal.

b. Price (Harga)

Kebun UKKB melakukan kegiatan pemasaran sendiri, sehingga dapat menentukan kebijakan harga simplisia yang dihasilkan. Harga simplisia basah lebih murah dari harga simplisia kering. Kebijakan ini dikeluarkan karena simplisia kering mengalami proses yang lebih panjang dari simplisia basah.

Simplisia basah setelah panen dan pencucian dapat dilakukan pemasaran, sedangkan simplisia kering setelah pencucian harus dilakukan pengeringan dan pengukuran kadar air didalam simplisia tersebut. Selain itu, simplisia kering dapat lebih tahan lama dari simplisia basah.

Harga untuk setiap simplisa berbeda-beda. Harga simplisia basah temulawak adalah Rp 10.000,- per kilogram dan harga simplisia kering temulawak adalah Rp 45.000,- per kilogram. Harga simplisia basah pegagan adalah Rp 10.000,- per kilogram dan harga simplisia kering pegagan adalah Rp 65.000,- per kilogram. Sedangkan harga simplisia basah mahkota dewa adalah Rp 20.000,- per kilogram dan harga simplisia kering mahkota dewa adalah Rp 30.000,- per kilogram.

c. Place (Distribusi)

Distribusi untuk simplisia dari kebun UKKB ini masih terbatas. Simplisia didistribusikan ke PT Biofarmaka Indonesia dan laboratorium layanan yang masih

45 satu instansi dengan kebun UKBB yaitu Pusat Stusi Biofarmaka IPB, begitu juga dengan ketiga komoditi tersebut (temulawak, pegagan, dan mahkota dewa). Selain itu, simplisia juga didistribusikan ke Kios Herbal Biofarindo yang berada di Botani Square. Kebun ini juga melayani permintaan dari luar misalnya menerima pesanan dari mahasiswa IPB yang akan melakukan penelitian mengenai tanaman biofarmaka.

d. Promotion (Promosi)

Saat ini, promosi yang dilakukan oleh kebun UKKB hanya melalui personal atau langsung. Hal ini dikarenakan distribusi utama simplisia untuk kebun UKKB adalah PT Biofarmaka Indonesia dan laboratorium layananan yang masih berada dibawah naungan Pusat Studi Biofarmaka IPB.

46 VI ANALISIS RISIKO DAN MANAJEMEN RISIKO

6.1 Analisis Risiko Pasca Panen

Kebun Unit Konservasi Budidaya Biofarmaka dalam menjalankan kegiatannya, mengalami beberapa risiko kegiatan salah satunya risiko dalam pasca panen. Kegiatan pasca panen merupakan salah satu kegiatan yang sangat mempengaruhi kualitas simplisia sebagai bahan baku jamu atau obat herbal.

Bahan baku obat herbal dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu simplisia basah dan simplisia kering. Simplisia basah merupakan tanaman obat setelah panen.

sedangkan simplisia kering merupakan simplisia basah yang telah melalui beberapa proses panen dan menjadi kering sehingga siap untuk menjadi bahan baku obat herbal.

Risiko pasca panen akan mempengaruhi tingkat produksi simplisia dan kualitas simplisia. Risiko pasca panen yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa.

Penentuan risiko pada penelitian ini didasarkan pada penelitian varian, standar deviasi, dan coefficient variation yang diperoleh dari hasil peluang terjadinya satu kejadian.

6.1.1 Sumber-sumber risiko

Dalam proses pasca panen simplisia ini terdapat faktor-faktor yang dapat menimbulkan risiko. Faktor – faktor menyebabkan terjadinya risiko adalah faktor cuaca (sinar matahari), ketebalan perajangan, kelembaban udara pada ruang penyimpanan, dan peralatan yang kurang dalam proses pencucian seperti kurangnya bak pencucian simplisia. Hal ini dapat dilihat pada keterangan sebagai berikut :

a. Faktor cuaca (sinar matahari)

Sinar matahari merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kualitas simplisia yang akan dihasilkan. Sinar matahari yang maksimal akan mempercepat proses pengeringan simplisia dan menghasilkan simplisia yang baik yaitu memiliki kadar air dibawah 10 persen. Apabila sinar matahari tidak terlalu panas maka akan menyebabkan simplisia berjamur karena pengeringan yang

47 terlalu lama (lembab) atau simplisia masih memiliki kadar air yang tinggi (diatas 10 persen).

Sinar matahari yang baik untuk proses pengeringan adalah sinar matahari pagi antara jam 07.00 sampai 10.00 WIB. Hal ini dikarenakan sinar matahari pada jam ini masih segar dan belum banyak bercampur dengan berbagai polusi. Sinar matahari siang (diatas jam 10.00 WIB) kurang baik untuk proses pengeringan, karena pada jam ini sinar matahari sudah terlalu panas yang akan menyebabkan kandungan yang terdapat pada simplisia cepat menguap (hilang). Oleh karena itu, kebun UKBB dalam meminimalisasi risiko terhadap sinar matahari ini adalah dengan menggunakan oven pengeringan sehingga pengeringan dapat optimal dan memiliki kadar air dibawah 10 persen.

Pada musim hujan, kualitas produksi simplisia berkurang karena akan menyebabkan proses pengeringan berlangsung lebih lama. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sinar matahari sehingga proses pengeringan harus dilakukan secara berulang-ulang. Musim hujan juga akan mempengaruhi kelembaban suhu ruangan penyimpanan. Di kebun UKBB karena tidak adanya suhu pengatur ruangan membuat pihak kebun tidak dapat melakukan penyimpanan terlalu lama karena suhu ruangan yang terlalu lembab akan membuat simplisia akan cepat rusak atau busuk.

Pada musim kemarau, proses pengeringan akan berlangsung lebih cepat karena sinar matahari lebih baik pada saat musim hujan. Keadaan ini akan mempengaruhi kualitas simplisia yang akan dihasilkan. Semakin kering simplisia dan serta memiliki kadar air dibawah 10 persen maka simplisia tersebut dapat dilakukan penyimpanan yang lebih lama. Secara kuantitas, produksi simplisia pada saat musim hujan dengan musim kemarau tidak terlalu mengalami perbedaan. Pengaruh musim ini lebih banyak mempengaruhi kadar air yang terdapat dalam simplisia. Kadar air dalam simplisia yang masih lembab atau tidak terlalu kering mempunyai kadar air diatas 10 persen.

b. Ketebalan perajangan pada simplisia rimpangan

Ketebalan perajangan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas simplisia. Perajangan dilakukan pada simplisia jenis rimpangan dan buah.

48 Perajangan dilakukan setelah proses pencucian. Perajangan harus menggunakan pisau yang tajam dengan ketebalan antara 5 - 7 mm.

Ketebalan perajangan sangat berpengaruh pada waktu proses pengeringan.

Perajangan yang terlalu tebal akan memakan waktu yang lebih lama dalam pengeringan. Pengeringan yang terlalu lama akan berpotensi simplisia akan berjamur. Simplisia berjamur atau busuk tersebut disebabkan karena tidak maksimalnya pengeringan sehingga simplisia masih memiliki kadar air yang tinggi atau diatas 10 persen. Apabila kadar air dalam simplisia masih tinggi maka pihak kebun harus melakukan pengeringan dengan oven pengeringan. Kadar air yang tinggi atau masih diatas 10 persen yang terdapat didalam simplisia tidak baik untuk diolah menjadi obat herbal.

Begitu pula sebaliknya, perajangan yang terlalu tipis akan membuat kandungan yang terdapat simplisia akan cepat menguap. Sinar matahari yang terik akan membuat proses pengeringan akan berlangsung cepat dan apabila simplisia yang terlalu tipis dilakukan saat perajangan akan membuat penguapan kandungan yang dibutuhkan dalam simplisia tersebut akan dikhawatirkan cepat hilang atau menguap atau hilang.

c. Kekurangan peralatan yang dibutuhkan dalam proses pencucian

Salah satu peralatan yang dibutuhkan dalam proses pencucian adalah bak pencucian yang minimal dibutuhkan adalah 3 (tiga) buah. Penyediaan bak pencucian 3 buah ini adalah agar pencucian maksimal dan mikroorganisme asing dan benda-benda asing lainnya benar tidak menempel lagi simplisia. Selain itu, tujuan dengan penyediaan bak pencucian yang lebih banyak ini agar simplisia tidak terlalu lama berada didalam air dan mengurangi simplisia kehilangan kandungan yang dibutuhkan.

Air yang digunakan untuk pencucian sebaiknya adalah air yang mengalir dan bersih. Tujuan dari penggunaan air yang mengalir ini adalah untuk mempercepat proses pencucian. Penggunaan air yang mengalir ini juga mencegah simplisia bercampur dengan bahan lain atau mencegah benda-benda asing menempel kembali pada saat proses pencucian.

Pada kebun UKBB, bak pencucian digunakan hanya satu buah Hal ini menyebabkan pencucian yang kurang maksimal sehingga simplisia basah masih

49 bercampur dengan benda asing lainnya. Pencucian yang hanya menggunakan satu bak pencucian ini berlangsung lama. Pada saat pencucian dilakukan dalam kapasitas yang banyak, pihak kebun UKBB menumpuk simplisia basah tersebut dalam satu bak pencucian. Sehingga ketika dilakukan pencucian, simplisia yang berada paling bawah bak akan lebih lama terendam didalam air dan membuat mikroorganisme lainya akan cepat menempel pada simplisia tersebut.

d. Kelembaban udara di ruang penyimpanan

Ruangan penyimpanan yang baik adalah memiliki pengatur suhu ruangan sehingga simplisia disimpan tidak cepat rusak atau busuk karena suhu ruangan dapat diatur sesuai dengan simplisia yang disimpan. Suhu ruangan yang baik untuk penyimpanan adalah tidak lebih dari 30oc7. Selain itu, dengan adanya pengatur suhu ruangan dapat menjaga kualitas simplisia pada saat proses penyimpanan. Dengan adanya suhu pengatur ruangan akan mencegah organisme-organisme pengganggu lain yang dapat mempengaruhi kualitas simplisia pada saat proses penyimpanan.

Di kebun UKBB sendiri, ruangan penyimpanan tidak memiliki pengatur suhu ruangan penyimpanan. Sehingga ketika suatu komoditi setelah dilakukan pengolahan pasca panen dan tidak dipasarkan karena tidak ada permintaan, simplisia tersebut rusak (busuk/berjamur). Tidak adanya suhu pengatur ruangan penyimpanan, kebun UKBB tidak dapat melakukan penyimpanan terlalu lama karena dikahwatirkan kualitas simplisia akan menurun atau simplisia tersebut rusak/busuk.

Besar kecilnya peluang dipengaruhi oleh kajadian internal dan eksternal.

Dalam penelitian ini, peluang yang didapat adalah sama karena setiap kejadian memiliki peluang yang sama untuk terjadi. Dalam perhitungan peluang menggunakan data atau pengalaman beberapa waktu sebelumnya (time series).

Pengukuran peluang pada penelitian ini menggunakan data produksi simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa. Peluang suatu kejadian dapat dilihat pada kondisi tertinggi, normal, dan rendah seperti yang terlihat pada Tabel 6. Pendekatan yang dilakukan untuk kondisi normal, digunakan pendekatan dengan mengambil rata-rata rendemen 10 kejadian.

7 Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Temulawak (6 Juni 2011)

50 Tabel 6. Peluang pada Simplisia Temulawak, Simplisia Pegagan, dan Simplisia Mahkota Dewa dengan Kondisi Tinggi, Normal, dan Rendah.

Komoditi Kondisi Return (kg) Peluang

Temulawak setiap simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa.

Kondisi tertinggi, normal, dan rendah dihitung dari proporsi rendemen pada beberapa kali produksi mencapai tertinggi, normal, dan rendah selama kegiatan pasca panen pada setiap simplisia. Rendemen yang digunakan merupakan rendemen dengan memanfaatkan sinar matahari pada proses pengeringannya.

Kondisi tertinggi merupakan kondisi atau tingkat produksi yang paling maksimal yang diperoleh oleh kebun selama menjalankan kegiatannya (dua belas bulan).

Kondisi rendah merupakan kondisi atau tingkat produksi yang paling minimal yang pernah diperoleh oleh kebun selama menjalankan kegiatannya.

Data yang digunakan untuk melakukan penilaian risiko ini, menggunakan data produksi selama 12 kejadian selama satu tahun dari tahun 2009 sampai 2010 dari bulan Mei – April. Data 12 kejadian ini dapat dilihat pada Lampiran 1. Pada Lampiran 1 menggambarkan produksi simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa di kebun UKBB. Pada simplisia pegagan pada bulan Juli dan simplisia mahkota dewa pada bulan September tidak ada produksi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak kebun UKBB sendiri, hal ini terjadi karena pihak kebun UKBB tidak melakukan produksi terhadap simplisia pegagan dan simplisia mahkota dewa. Keadaan ini dilakukan oleh pihak kebun UKBB karena untuk meminimalkan risiko penyimpanan. Kebun UKBB tidak memiliki alat pengatur suhu ruangan untuk ruang penyimpanan. Apabila kebun UKBB tetap melakukan produksi terhadap kedua simplisia ini, akan berdampak

51 kerugian bagi kebun UKBB karena kualitas dari simplisia yang akan berkurang karena teralalu lama dilakukan penyimpanan.

Setelah melakukan pengukuran peluang dan kejadian yang terjadi maka dilakukan pengambilan keputusan yang mengandung risiko dengan menggunakan expected return. Expected return dihitung berdasarkan jumlah produksi dari nilai yang diharapkan terjadinya peluang masing-masing kejadian dari simplisia temulawak, simplisia pegagan, dan simplisia mahkota dewa. Expected return merupakan nilai yang diharapkan setelah memperhitungkan risiko yang ada.

Besarnya nilai expected return yang diharapkan oleh pihak kebun UKBB dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Penilaian Expected Return Berdasarkan Produksi Simplisia Temulawak, Simplisia Pegagan, dan Simplisia Mahkota Dewa.

Komoditi Kondisi Return (kg) Peluang expected return Temulawak

Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa expected return berdasarkan peluang kejadian dan produksi simplisia pada masing-masing simplisia, maka diperoleh expected return tertinggi pada simplisia mahkota dewa dengan nilai 11.743333. Berdasarkan keadaaan di lapangan, karena keadaan cuaca yang tidak menentu menyembabkan proses pengeringan yang dilakukan dengan sinar matahari tidak maksimal dan pengeringan dilakukan harus dilakukan sampai sore.

Keadaan ini tidak baik untuk kualitas simplisia temulawak, karena sinar matahari yang baik untuk pengeringan adalah pada pagi hari. Sinar matahari siang tidak baik untuk pengeringan karena sudah bercampur dengan berbagai polusi.

Selain itu, kurangnya bak pencucian simplisia membuat proses pencucian akan berlangsung lebih lama. Berdasarkan keadaan di lapangan, ketika simplisia

52 mahkota dewa diproduksi dalam jumlah yang banyak, akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencuci simplisia. Hal ini akan mempercepat simplisia kehilangan kandungan yang dibutuhkan didalamnya karena akan larut dalam air.

Meminimalkan risiko yang terdapat dalam proses pasca panen maka pihak kebun harus membuat perencanaan produksi. Perencanaan produksi dilakukan pada proses pasca panen mulai dari proses penyortiran, pencucian, perajangan, pengeringan, penyortiran kering, dan pengemasan. Salah satu perencanaan produksi pada proses pasca panen yang dilakukan oleh kebun UKBB adalah dengan melakukan diversifikasi komoditi yaitu dengan portofolio dimana dalam satu luas lahan diproduksi beberapa komoditi. Hal ini dapat meningkatkan kuantitas produksi karena saling menguntungkan antara satu komoditi yang satu dengan komoditi lainnya.

Saat ini, perencanaan produksi ini sudah dilakukan oleh pihak kebun

Saat ini, perencanaan produksi ini sudah dilakukan oleh pihak kebun

Dokumen terkait