3. SOURCE OF ESTIMATION UNCERTAINTY
(continued)
Estimasi dan Asumsi (lanjutan) Estimates and Assumptions (continued)
Penurunan Nilai Aset Non-keuangan Impairment of Non-financial Assets
Penurunan nilai muncul saat nilai tercatat aset atau UPK melebihi nilai terpulihkannya, yaitu yang lebih besar antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya. Nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual didasarkan pada ketersediaan data dari perjanjian penjualan yang mengikat yang dibuat dalam transaksi normal atas aset serupa atau harga pasar yang dapat diamati, dikurangi dengan biaya tambahan yang dapat diatribusikan dengan pelepasan aset.
An impairment exists when the carrying amount of an asset or CGU exceeds its recoverable amount, which is the higher of its fair value less costs to sell and its value in use. The fair value less costs to sell calculation is based on available data from binding sales transactions in an arm’s length transaction of similar assets or observable market prices less incremental costs attributable for disposing the asset.
Perhitungan nilai pakai didasarkan pada model arus kas yang didiskontokan. Proyeksi arus kas masa depan mencakup sepuluh tahun dan tidak termasuk kegiatan restrukturisasi yang belum memiliki komitmen dari Kelompok Usaha atau investasi signifikan di masa depan yang akan meningkatkan kinerja UPK yang diuji. Nilai terpulihkan akan sangat sensitif terhadap tingkat diskonto yang digunakan untuk model arus kas yang didiskontokan dan juga arus kas masuk masa depan yang diharapkan dan tingkat pertumbuhan yang digunakan untuk tujuan ekstrapolasi.
The value in use calculation is based on a discounted cash flow model. The future cash flow projection is for a period of ten years and does not include restructuring activities that the Group is not yet committed to or significant future investments that will enhance the asset’s performance of the CGU being tested. The recoverable amount is very sensitive to the discount rate used for the discounted cash flow model as well as the expected future cash inflows and the growth rate used for extrapolation purposes.
Manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat indikasi atas kemungkinan penurunan nilai potensial atas aset tetap dan aset sewaan yang
disajikan pada laporan posisi keuangan
konsolidasian pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013.
Management believes that there is no indication of potential impairment in values of non-financial assets presented in the consolidated statement of financial position as of December 31, 2014 and 2013.
(lanjutan) (continued)
Estimasi dan Asumsi (lanjutan) Estimates and Assumptions (continued)
Penyisihan atas Penurunan Nilai Piutang Usaha Allowance for Impairment of Trade Receivables
Perusahaan mengevaluasi akun tertentu jika terdapat informasi bahwa pelanggan yang bersangkutan tidak dapat memenuhi liabilitas keuangannya. Dalam hal tersebut, Perusahaan mempertimbangkan, berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas pada, jangka waktu hubungan dengan pelanggan dan status kredit dari pelanggan berdasarkan catatan kredit dari pihak ketiga dan faktor pasar yang telah diketahui, untuk mencatat provisi spesifik atas jumlah piutang pelanggan guna mengurangi jumlah piutang yang diharapkan dapat diterima oleh Perusahaan. Provisi spesifik ini dievaluasi kembali dan disesuaikan jika tambahan informasi yang diterima mempengaruhi jumlah penyisihan untuk piutang ragu-ragu. Pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, manajemen
Perusahaan berpendapat bahwa penyisihan
kerugian penurunan nilai tidak diperlukan, karena manajemen yakin seluruh piutang usaha akan tertagih. Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 5.
The Company evaluates specific accounts where it has information that certain customers are unable to meet their financial obligations. In these cases, the Company uses judgment, based on the best available facts and circumstances, including but not limited to, the length of its relationship with the customer and the customer’s current credit status based on third party credit reports and known market factors, to record specific provisions for customers against amounts due to reduce the receivable amounts that the Company expects to collect. These specific provisions are re-evaluated and adjusted as additional information received affects the amounts of allowance for impairment of trade receivables. As of December 31, 2014 and 2013, the Company’s management is of the opinion that no allowance for impairment losses was necessary on the trade receivables, as management believes that such receivables are collectible. Further details are contained in Note 5.
Penyisihan Penurunan Nilai Pasar dan Keusangan Persediaan
Allowance for Decline in Market Values and Obsolescence of Inventories
Penyisihan penurunan nilai pasar dan keusangan persediaan diestimasi berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas kepada, kondisi fisik persediaan yang dimiliki, harga jual pasar, estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya untuk penjualan. Penyisihan dievaluasi kembali dan disesuaikan,
jika terdapat tambahan informasi yang
mempengaruhi jumlah yang diestimasi.
Penjelasan lebih lanjut diungkapkan dalam Catatan 7.
Allowance for decline in market values and obsolescence of inventories is estimated based on the best available facts and circumstances, including but not limited to, the inventories’ own physical conditions, their market selling prices, estimated costs of completion and estimated costs to be incurred for their sales. The provisions are re-evaluated and adjusted as additional information received affects the amount estimated. Further details are disclosed in Note 7.
Aset Pajak Tangguhan Deferred Tax Assets
Kelompok Usaha melakukan penelaahan atas nilai tercatat aset pajak tangguhan pada setiap akhir periode pelaporan dan mengurangi nilai tersebut sebesar penghasilan kena pajak tersedia untuk penggunaan seluruh atau sebagian dari aset pajak
The Group reviews the carrying amounts of deferred tax assets at the end of each reporting period and reduces these to the extent that it is no longer probable that sufficient taxable income will be available to allow all or part of the deferred
3. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN (lanjutan)
3. SOURCE OF ESTIMATION UNCERTAINTY
(continued)
Estimasi dan Asumsi (lanjutan) Estimates and Assumptions (continued)
Aset Pajak Tangguhan (lanjutan) Deferred Tax Assets (continued)
Taksiran penghasilan kena pajak didasarkan pada hasil pencapaian Kelompok Usaha di masa lalu
dan ekspektasi di masa depan terhadap
pendapatan dan beban, serta strategi
perencanaan perpajakan di masa depan. Namun, tidak terdapat kepastian bahwa Kelompok Usaha dapat menghasilkan penghasilan kena pajak yang
memadai untuk memungkinkan penggunaan
sebagian atau seluruh bagian dari aset pajak tangguhan tersebut. Penjelasan lebih rinci diungkapkan pada Catatan 19.
This forecast is based on the Group’s past results and future expectations on revenues and expenses as well as future tax planning strategies. However, there is no assurance that the Group will generate sufficient taxable income to allow all or part of the deferred income tax assets to be utilized. Further details are disclosed in Note 19.
Aset pajak tangguhan diakui atas rugi
fiskal yang belum digunakan sepanjang besar kemungkinannya bahwa penghasilan kena pajak akan tersedia sehingga rugi fiskal tersebut dapat digunakan.
Deferred tax assets are recognized for unused tax losses to the extent that it is probable that taxable profit will be available against which the losses can be utilized.
Estimasi signifikan oleh manajemen disyaratkan dalam menentukan jumlah aset pajak tangguhan yang dapat diakui, berdasarkan saat penggunaan dan tingkat penghasilan kena pajak dan strategi perencanaan pajak masa depan. Pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, Kelompok Usaha tidak mengakui aset pajak tangguhan atas rugi fiskal serta atas perbedaan temporer akumulasi rugi entitas anak karena kecil kemungkinan untuk memperoleh penghasilan kena pajak pada 5 (lima) tahun berikutnya.
Management’s significant estimations are required to determine the amount of deferred tax assets that can be recognized, based upon the likely timing and the level of future taxable profits, together with future tax planning strategies. As of December 31, 2014 and 2013, the Group did not recognize deferred tax assets from tax loss and temporary differences arising from accumulated losses of subsidiaries due to less likelihood of obtaining taxable income in the next 5 (five) years.
Aset Eksplorasi dan Evaluasi Ditangguhkan Deferred Exploration and Evaluation Assets
Kebijakan akuntansi perusahaan pertambangan untuk biaya eksplorasi dan evaluasi menyebabkan adanya beberapa biaya yang dikapitalisasi untuk suatu area of interest dimana biaya tersebut dianggap dapat dipulihkan melalui kegiatan eksploitasi di masa depan atau penjualan atau dimana kegiatan belum mencapai tahap yang
memungkinkan penilaian yang wajar atas
keberadaan cadangan. Kebijakan ini
mengharuskan manajemen untuk membuat
estimasi dan asumsi tertentu sehubungan peristiwa dan keadaan di masa depan, khususnya apakah operasi ekstraksi yang ekonomis dapat dilaksanakan. Setiap perkiraan dan asumsi tersebut dapat berubah seiring tersedianya
informasi baru. Jikalau, setelah biaya
dikapitalisasi, kemungkinan kecil biaya dapat dipulihkan, maka biaya yang dikapitalisasi tersebut dibebankan dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian.
The accounting policy for exploration and evaluation expenditure results in certain items of expenditure being capitalized for an area of interest where it is considered likely to be recoverable by future exploitation or sale or where the activities have not yet reached a stage which permits a reasonable assessment of the existence of reserves. This policy requires management to make certain estimates and assumptions as to future events and circumstances, in particular whether an economically viable extraction operation can be established. Any such estimation and assumptions may change as new information becomes available. If, after having capitalized the expenditure under the policy, a judgment is made that recovery of the expenditure is unlikely, the capitalized amount will be charged to the consolidated statement of comprehensive income.
(lanjutan) (continued)
Estimasi dan Asumsi (lanjutan) Estimates and Assumptions (continued)
Estimasi Cadangan Reserve Estimates
Cadangan merupakan estimasi jumlah timah yang dapat diekstraksi secara ekonomis dan legal dari wilayah kuasa pertambangan milik Kelompok
Usaha. Kelompok Usaha menentukan dan
melaporkan cadangan bijih timah berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam “Standar Nasional Indonesia”. Dalam memperkirakan cadangan bijih timah diperlukan beberapa asumsi seperti faktor geologi, teknis dan ekonomi, termasuk jumlah, teknik produksi, rasio pengupasan tanah, biaya produksi, biaya transportasi, permintaan komoditas, harga
komoditas dan nilai tukar mata uang.
Reserves are estimates of the quantity of tin ore that can be economically and legally extracted from the Group’s mining authorization areas. The Group determines and reports its tin ore reserves under the principles incorporated in the “Standar Nasional Indonesia”. In order to estimate tin ore reserves, assumptions are required about the factors of range of geological, technical and economic, including quantities, production techniques, stripping ratio, production costs, transport costs, commodity demands, commodity prices and exchange rates.
Penaksiran jumlah cadangan bijih timah
mengharuskan ukuran, bentuk dan kedalaman bijih timah atau lahan ditentukan dengan menganalisa data geologis seperti sampel pengeboran. Proses ini mungkin memerlukan pertimbangan geologis yang kompleks dan sulit dalam menginterpretasikan data.
Estimating the quantity of tin ore reserves requires the size, shape and depth of tin ore or fields to be determined by analyzing geological data such as drilling samples. This process may require complex and difficult geological judgments to interpret the data.
Karena asumsi-asumsi ekonomi yang digunakan dalam membuat estimasi cadangan berubah dari waktu ke waktu dan karena tambahan data geologis dihasilkan selama periode operasi, maka jumlah estimasi cadangan dapat berubah dari waktu ke waktu. Perubahan cadangan yang dilaporkan dapat mempengaruhi hasil dan posisi keuangan Kelompok Usaha dalam berbagai cara.
Due to the economic assumptions used to estimate reserves change from period to period, and because additional geological data are generated during the course of operations, estimation of reserves may change from period to period. Changes in reported reserves may affect the Group’s financial results and positions in a number of ways.
Provisi untuk Penutupan dan Reklamasi Provision for Closure and Reclamation
Kebijakan akuntansi Kelompok Usaha atas
pengakuan provisi untuk penutupan dan
rehabilitasi tambang membutuhkan perkiraan dan asumsi yang signifikan seperti: persyaratan kerangka hukum dan peraturan yang relevan; besarnya kemungkinan kontaminasi serta waktu, luas dan biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan penutupan dan rehabilitasi. Ketidakpastian ini dapat mengakibatkan perbedaan antara jumlah pengeluaran aktual di masa depan dari jumlah yang disisihkan pada saat ini. Provisi yang diakui pada setiap lokasi ditinjau secara berkala dan
The Group’s accounting policy for the recognition of closure and rehabilitation provisions requires significant estimation and assumptions such as: requirements of the relevant legal and regulatory framework; the magnitude of possible land disturbance and the timing, extent and costs of required closure and rehabilitation activity. These uncertainties may result in future actual expenditure differing from the amounts currently provided. The provision recognised for each site is periodically reviewed and updated based on the facts and circumstances available at the time.
3. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN (lanjutan)
3. SOURCE OF ESTIMATION UNCERTAINTY
(continued)
Estimasi dan Asumsi (lanjutan) Estimates and Assumptions (continued)
Pajak Penghasilan Income Tax
Pertimbangan signifikan dilakukan dalam
menentukan penyisihan atas pajak penghasilan badan. Dalam kegiatan usaha normal, terdapat transaksi dan perhitungan tertentu yang penentuan pajak akhirnya belum dapat dipastikan. Kelompok Usaha mengakui liabilitas atas pajak
penghasilan badan berdasarkan estimasi
penghasilan kena pajak badan. Penjelasan lebih rinci diungkapkan pada Catatan 19.
Significant judgment is involved in determining the provision for corporate income tax. There are certain transactions and computation for which the ultimate tax determination is uncertain during the ordinary course of business. The Group recognizes liabilities for expected corporate income tax issues based on estimation of whether additional corporate income tax will be due. Further details are disclosed in Note 19.
Pensiun dan Imbalan Pasca Kerja Pension and Employee Benefits
Penentuan liabilitas dan biaya pensiun dan liabilitas imbalan kerja Kelompok Usaha
bergantung pada pemilihan asumsi yang
digunakan oleh aktuaris independen dalam menghitung jumlah-jumlah tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara lain, tingkat diskonto,
tingkat kenaikan gaji tahunan, tingkat
pengunduran diri karyawan tahunan, tingkat kecacatan, umur pensiun dan tingkat kematian. Hasil aktual yang berbeda dari asumsi yang ditetapkan Kelompok Usaha yang memiliki pengaruh lebih dari 10% liabilitas imbalan pasti, ditangguhkan dan diamortisasi secara garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja karyawan. Sementara Kelompok Usaha berkeyakinan bahwa asumsi tersebut adalah wajar dan sesuai, perbedaan signifikan pada hasil aktual atau
perubahan signifikan dalam asumsi yang
ditetapkan Kelompok Usaha dapat mempengaruhi secara material liabilitas diestimasi atas pensiun dan imbalan kerja dan beban neto kesejahteraan karyawan. Penjelasan lebih rinci diungkapkan pada Catatan 25.
The determination of the Group’s obligations and cost for pension and employee benefits liabilities depends on its selection of certain assumptions used by the independent actuaries in calculating such amounts. Those assumptions include among others, discount rates, future annual salary increase, annual employee turn-over rate, disability rate, retirement age and mortality rate. Actual results that differ from the Group’s assumptions which effects are more than 10% of the defined benefit obligations are deferred and being amortized on a straight-line basis over the expected average remaining service years of the qualified employees. While the Group believes that its assumptions are reasonable and appropriate, significant differences in the Group’s actual experiences or significant changes in the Group’s assumptions may materially affect its estimated liabilities for pension and employee benefits and net employee benefits expense. Further details are disclosed in Note 25.
Rincian kas dan bank adalah sebagai berikut: The details of cash on hand and in banks are as follows:
31 Desember 2014/ 31 Desember 2013/
December 31, 2014 December 31, 2013
Kas Cash on hand
Rupiah 290.239.416 58.201.979 Rupiah
Bank Cash in Banks
Rupiah Rupiah
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 37.632.536.942 - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
PT Bank Central Asia Tbk 4.716.004.121 661.412.215 PT Bank Central Asia Tbk
PT Bank Victoria PT Bank Victoria
International Tbk 3.698.576.087 2.643.510.583 International Tbk
PT Bank CIMB Niaga Tbk 945.726.812 572.071.756 PT Bank CIMB Niaga Tbk
PT Bank Windu Kentjana PT Bank Windu Kentjana
International Tbk 541.725.240 49.231.337.895 International Tbk
PT Bank Mayapada PT Bank Mayapada
Internasional Tbk 239.345.172 206.929.975 Internasional Tbk
PT Bank Capital Indonesia Tbk 26.394.328 - PT Bank Capital Indonesia Tbk
PT Citibank Indonesia Tbk 25.576.617 - PT Citibank Indonesia Tbk
PT Bank Sinarmas Tbk 13.311.496 6.884.353.377 PT Bank Sinarmas Tbk
PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk 7.090.438 - (Persero) Tbk
PT Bank Syariah Mandiri 1.807.989 7.153.843 PT Bank Syariah Mandiri
Dolar AS US Dollar
PT Bank Windu Kentjana PT Bank Windu Kentjana
International Tbk 23.348.866 23.758.799 International Tbk
Total 48.161.683.524 60.288.730.422 Total
Pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, saldo pada PT Bank Syariah Mandiri masing-masing
sejumlah Rp4.628.745 dan Rp5.683.971.122
disajikan sebagai bagian dari “Kas yang Dibatasi Penggunaanya” pada laporan posisi keuangan konsolidasian sehubungan dengan fasilitas pinjaman bank dari PT Bank Syariah Mandiri (Catatan 23).
As of December 31, 2014 and 2013 cash in PT Bank Syariah Mandiri amounting to Rp4,628,745 and Rp5,683,971,122 is presented as part of “Restricted Cash” in the consolidated statement of financial position in connection with loan facility
from PT Bank Syariah Mandiri
5. PIUTANG USAHA 5. TRADE RECEIVABLES