3.PERUMUSAN STANDAR AUDITING DI INDONESIA
4. SUMBER DAN JENIS BUKTI AUDIT
Kekompetenan bahan bukti tidak lepas dari pengaruh perolehannya. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sumber perolehan bahan bukti mempengaruhi kompetenannya. Bukti audit yang mendukung simpulan auditor diperoleh dari tiga pihak yaitu:
(1) Pihak intern/ Bukti ini meliputi segala informasi yang ada dalam perusahaan baik berupa data akuntansi dan data lainnya yang berkaitan dengan tugas akuntan.
(2) Pihak eksternal. Bukti ini sama dengan bukti dari pihak intern hanya saja kelebihan dari pihak eksternal ini memberikan jaminan keandalan yang lebih bila dibandingkan dengan bukti dari pihak eksternal.
(3) Bukti yang dibuat oleh akuntan. Bukti ini diperoleh melalui penelaahan dan analisis yang kritis terhadap data-data yang ada baik dari pihak ekternal maupun internal.
Sumber bukti audit dapat digambarkan pada gambar 3.4. Bukti Audit
Kompeten
Auditor
Keputusan 1. Prosedur audit 2. Ukuran sampel 3. Pos yang dipilih 4. Program audit
Gambar 3.4 Sumber bukti audit Tipe Bukti Audit
Tipe bukti audit dapat dikelompokkan menjadi dua golongan: (1) Tipe data akuntansi yang meliputi: pengendalian intern dan catatan akuntansi, (2) Tipe informasi penguat, yang meliputi: bukti fisik, bukti dokumenter, perhitungan, bukti lisan, perbandingan dan ratio, dan bukti dari spesialis.
Secara sederhana dapat digambarkan pada gambar 3.5. sebagai berikut:
Gambar 3.5 Tipe bukti audit
Sumber: Di olah dari Mulyadi dan Kanaka (1998: 75) Standar
Pekerjaan Lapangan ketiga
Bukti
Audit Sumber: 1.Bukti internal 2.Bukti eksternal 3.Bukti di buat akuntan Tipe bukti audit Tipe informasi penguat Tipe data akuntansi 1.Pengendalian intern 2. Catatan akuntansi 1.Bukti fisik 2.bukti dokumenter 3.perhitungan 4.bukti lisan 5.perbandingan dan rasio
Adapun yang dimaksud dari tipe-tipe bukti audit adalah sebagai berikut: Tipe Data Akuntansi
Bukti audit dari tipe ini meliputi jurnal buku besar dan buku pembantu serta buku pedoman akuntansi, memorandum dan catatan tidak resmi. Data akuntansi ini dapat dijadikan bukti dengan cara (1) menganalisis dan mereview, (2) menelusuri kembali langkah-langkah prosedur akuntansi, (3) menghitung kembali dan melakukan rekonsiliasi jumlah-jumlah yang berhubungan dengan penerapan informasi yang sama.
Tipe Informasi Penguat
Informasi penguat ini segala dokumen seperti cek, faktur, surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan pernyataan pihak tertulis dari pihak yang mengetahui. Beberapa unsur bukti yang terdapat pada tipe informasi penguat dapat dijelaskan sebagai berikut:
(1) Bukti fisik adalah bukti audit yang diperoleh dengan cara inspeksi atau perhitungan aktiva berwujud oleh auditor. Bukti audit ini sering dihubungkan dengan persediaan dan kas tetapi dapat diterapkan juga untuk verifikasi efek- efek, wesel tagih dan pemeriksaan dokumen.
(2) Bukti dokumenter, biasanya disebut pemeriksaan dokumen (vouching), merupakan pemeriksaan auditor atas dokumentasi dan catatan klien untuk mendukung informasi yang ada dalam laporan keuangan. Menurut sumbernya bukti dokumenter dibagi menjadi tiga, yaitu:
(a) Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar yang bebas yang dikirim langsung kepada auditor.
(b) Bukti dokumenter yang dibuat pihak luar yang disimpan dan diarsip klien.
(c ) Bukti dokumenter yang di buat dan disimpan dalam organisasi klien. Untuk bukti audit yang dibuat oleh pihak luar yang bebas diperoleh melalui konfirmasi. Meskipun konfirmasi bukan merupakan keharusan namun perolehan bukti audit melalui konfirmasi bermanfaat berbagai informasi yang lain. Berikut
ini untuk memperjelas informasi yang sering dikonfirmasi akan ditampilkan tabel 3.3:
Tabel 3.3 Informasi yang sering dikonfirmasi
Informasi sumber Aktiva Bank Piutang Usaha Wesel tagih Persediaan konyinyasi Persediaan di gudang Nilai penyerahan kas ke asuransi jiwa Bank Pelanggan Pembuat Consiqnee Gudang Perusahaan asuransi Kewajiban Utang usaha Wesel bayar
Uang muka pelanggan Utang hipotik Utang obligasi Kreditor Peminjam Pelanggan Penerbit hipotik Pemegang obligasi Modal saham
Saham yang beredar
Pencatat register dan agen
Penjual Sumber: Arens dan Lobbcke, 1991: 193
(3) Perhitungan sebagai bukti, bukti ini meliputi:
(a) Footing, yaitu pembuktian ketelitian penjumlahan vertikal. (b) Cross footing, yaitu pembuktian ketelitian horizontal.
(c) Pembuktian ketelitian perhitungan biaya depresiasi yang digunakan klien. (d) Pembuktian ketelitian penentuan taksiran kerugian piutang usaha, dan lain-
lain. (4) Bukti lisan
Pelaksanaan audit tidak selalu berhubungan dengan angka-angka namun terkadang kontak dengan orang terutama manajer menjadi suatu keharusan. Pengumpulan data dari manajer akan diperoleh dengan meminta keterangan secra lisan. Jawaban yang di terima disebut dengan bukti lisan. Meskipun belum cukup kuat bukti lisan namun bukti ini dapat menunjukkan situasi yang memerlukan penyelidikan.
Pengajuan pertanyaan yang akan diajukan kepada orang/manajer yang dimiliki klien hendaknya dalam pelaksanaannya auditor tidak bersifat otoriter dan merendahkan diri pihak yang ditanya. Dan yang terpenting lagi adalah menghindari sikap sebagai polisi dan tidak boleh penyelidikan silang antar karyawan.
(5) Perbandingan
Bukti audit berupa perbandingan ini dikumpulkan auditor di awal audit untuk membantu penentuan obyek audit yang memerlukan penyelidikan yang mendalam dan diperiksa kembali pada akhir audit yang akirnya menguatkan kesimpulan yang dibuat dengan bukti-bukti lain.
(6)Bukti dari spesialis
Bukti dari spesialias adalah bukti yang diperoleh dari seseorang atau perusahaan yang memliki keahlian atau pengetahuan khusus selain bidang akuntansi dan auditing. Contoh dari bukti ini adalah pengacara, insinyur dan lain-lain. Dan bukti dari spesialias dibutuhan dalam hal:
(a) Penilaian
(b) Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang tersedia.
(c) Penentuan prolehan nilai dengan menggunakan teknik khusus. (d) Penafsiran persyaratan teknis, peraturan atau persetujuan.
Berkaitan dengan bukti audit maka tidak dapat terlepas prosedur audit yang mana keberadaan dari prosedur audit terdapat pada standar pekerjaan lapangan yang menyatakan bahwa beberapa prosedur audit yang dilaksanakan auditor dalam mengumpulkan berbagai tipe bukti audit.Prosedur yang di maksud dalam pernyataan tersebut meliputi: inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi. Selain prosedur tersebut di atas terdapat prosedur lain yaitu: penelusuran, pemeriksaan bukti pendukung penghitungan dan scanning.
Dari uraian diatas maka prosedur audit yang dilakukan guna memperoleh bukti audit seperti yang tertera di atas dan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Inspeksi
Inspeksi merupakan audit rinci terhadap dokumen/ kondisi fisik. Inspeksi ini banyak dilakukan auditor karena dengan prosedur ini auditor akan dapat menentukan keaslian dari dokumen dan akan diperoleh eksistensi dari aktiva tetap yang di audit.
Pengamatan
Pengamatan adalah prosedur audit yang digunakan untuk melihat pelaksanaan suatu aktivitas. Dengan pengamatan / observasi ini auditor dapat memperoleh bahan bukti visual mengenai pelaksanaan suatu aktivitas.
Konfirmasi
Dalam konfirmasi ini auditor bisa menempuh prosedur:
(a) Auditor minta ijin dari klien untuk memperoleh informasi dari pihak luar. (b) Klien meminta pihak luar yang ditunjuk auditor untuk memberikan jawaban
mengenai informasi kepada auditor.
(c) Auditor menerima jawaban langsung dari pihak ketiga Permintaan keterangan
Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan lisan. Bukti audit yang dihasilkan ini biasanya bukti dokumenter dan bukti lisan.
Penelusuran
Informasi yang direkam melalui dokumen akan dilanjutkan dengan melacak pengolahan atas data yang dimaksud itu.dalam proses akuntansi. Prosedur ini
dilakukan dengan tujuan untuk menentukan ketelitian dan kelengkapan catatan akuntansi.
Pemeriksaan dokumen pendukung
Prosedur ini berlawanan dengan prosedur penelusuran. Prosedur ini bertolak dari catatan akuntansi kemudian kembali lagi memeriksa dokumen-dokumen yang mendukung informasi yang di catat. Prosedur ini bertujuan untuk memperoleh bukti audit mengenai kebenaran perlakuan akuntansi terhadap transaksi.
Penghitungan
Prosedur penghitungan ini meliputi:
(a) penghitungan fisik atas fixed assets yang berwujudan
(b) pertanggungjawaban semua formulir bernomor urut tercetak. Penghitungan ini bertujuan untuk mengevaluasi bukti fisik yang ada di tangan. Sedangkan pertanggungjawaban (pada point b) bertujuan mengevaluasi bukti dokumenter yang mendukung kelengkapan catatan akuntansi.
Scanning
Scanning adalah penelaah secara cepat terhadap dokumen, catatan dan daftar guna mendeteksi unsur-unsur yang tidak biasa diselidiki dengan mendalam.
Lebih guna mempermudah memahami bukti audit maka berikut ini akan digambar pada gambar 3.5 perihal tipe audit dan prosedur auditnya:
Tabel 3.4. Tipe Bukti Audit Dan Prosedur Auditnya
Tipe Bukti Prosedur Audit Contoh Prosedur Audit
Bukti fisik Inspeksi
Penghitungan
Inspeksi mesin pabrik Penghitungan kas
Bukti dolumenter Konfirmasi Inspeksi Penelusuran
Konfirmasi saldo bank Inspeksi faktur penjualan Menelusuri faktur penjualan ke
Wawancara
dalam kartu piutang dagang Wawancara dengan penasehat hukum klien yang menghasilkan surat pernyataan dari penasihat hukum
Bukti Perhitungan Penghitungan kembali Footing terhadap jurnal penjualan Cross footing terhadap jurnal pembelian
Bukti lisan Wawancara Meminta keterangan tentang tingkat keusangan sediaan gudang Bukti perbandingan Prosedur analitik Membandingkan realisasi penjualan
dengan anggarannya Sumber: Mulyadi dan Kanaka, 1998: 85