BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.2 Sumber Pencemaran Udara
Sumber - sumber pencemaranan udara dapat dibagi dalam dua kelompok, sumber alamiah dan akibat perbuatan manusia (Chandra, 2007).
1. Sumber pencemaranan yang berasal dari proses atau kegiatan alam.
Contoh: kebakaran hutan, kegiatan gunung berapi.
2. Sumber pencemaran buatan manusia (berasal dari kegiatan manusia).
Contoh:
a. Sisa pembakaran bahan bakar minyak oleh kendaraan bermotor berupa gas CO, CO2, NO, karbon, hidrokarbon, dan Pb.
b. Limbah industri: kimia, tambang, pupuk dan minyak bumi.
c. Sisa pembakaran dari gas alam, batubara dan minyak, seperti asap, debu dan sulfur dioksida.
d. Sisa dari kegiatan lainnya seperti pembakaran sisa pertanian, hutan, sampahdan limbah reaktor nuklir.
Dalam proses pencemaranan ini terjadi proses sinergestik yaitu suatu keadaan ketika polutan satu dengan yang polutan yang lain di dalam udara bereaksi menjadi jenis polutan baru yang lebih berbahaya dari polutan semula.
Contohnya, dua jenis komponen polutan yang berasal dari sisa pembakaran bahan bakar minyak (yaitu nitrogen dioksida dan hidrokarbon) dengan bantuan sinar ultraviolet akan membentuk jenis polutan baru (peroksiasetil nitrit dan ozon) yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Reaksi kimianya adalah:
NO2 + Hidrokarbon Peroksiasetil + O3 Sinar matahari
Polutan baru ini akan menimbulkan kabut di permukaan bumi dikenal sebagai kabut fotokimia (photochemical smog) atau senyawa pembentuk kabut pengiritasi (irritating smog forming compound). Kabut tersebut menyebabkan mata menjadi berair dan distres pernapasan pada manusia serta menimbulkan hill reaction dan mengganggu proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Ozon sendiri akan meningkatkan proses respirasi daun-daunan dan mengurangi makannya sehingga tumbuhan menjadi layu dan mati (Chandra, 2007).
Menurut Sarudji (2010), Sumber pencemaran udara dapat dikelompokkan menjadi sumber bergerak dan sumber tidak bergerak.
1. Sumber Bergerak
Sumber pencemaran udara bergerak dapat dikelompokkan menjadi:
a. Kendaraan bermotor
b. Pesawat terbang c. Kereta api d. Kapal laut
Sarana transportasi sebagai sumber pencemaran karena proses pembakaran bahan bakar pada mesin yang digunakan sebagai penggerak kendaraan tersebut. Dalam proses pembakaran bahan bakar maka timbulah gas buang dari masing-masing kendaraan yang diemisikan ke udara ambien sebagai pencemaran. Hasil pembakaran tersebut diantaranya adalah CO, CO2, SOX, NOX, Hidrokarbon dan bahan dengan penambahan bahan aditif yang digunakan untuk menyempurnakan proses pembakaran.
2. Sumber tidak bergerak
Sumber pencemaran tidak bergerak adalah pembakaran beberapa jenis bahan bakar yang diemisikan pada suatu lokasi yang tetap. Bahan bakar tersebut terdiri atas batu bara, minyak bakar, gas alam. Berbeda dengan sarana transportasi, sumber pencemaran udara tidak bergerak mengemisikan polutan pada udara ambien tetap, sehingga dalam pengelolaan lingkungannya perlu perencanaan yang matang, misalnya harus dipertimbangkan keadaan geografi dan tofografi, metereologi, serta rencana tata ruang di wilayah tersebut.
2.1.3 Jenis Pencemaranan Udara
Jenis pencemaranan menurut tempat dan sumbernya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (Kastiyowati, 2001):
1. Pencemaranan udara bebas (Oudoor air pollution) atau pencemaranan udara di luar ruangan, sumbernya:
a. Alamiah, berasal dari letusan gunung berapi, pembusukan, dan lain-lain.
b. Kegiatan manusia, seperti dari kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan, dan lain-lain.
2. Pencemaranan udara tidak bebas atau udara dalam ruangan (Indoor air pollution), berupa pencemaranan udara yang terjadi dalam ruangan yang berasal dari pemukiman, perkantoran ataupun gedung tinggi.
2.1.4 Komponen Pencemaran Udara
Menurut Wardhana (2004), komponen pencemaran udara yang paling berpengaruh dalam pencemaranan udara adalah komponen berikut ini :
1. Karbon Monoksida (CO) 2. Nitrogen Oksida (NOx) 3. Belerang Oksida (SOx) 4. Hidrokarbon (HC) 5. Partikel (Particulate)
Komponen pencemaran udara di atas dapat mencemari udara secara sendiri-sendiri, akan tetapi dapat juga mencemari udara secara bersama - sama.
Jumlah komponen pencemaran udara tergantung pada sumbernya.
Tabel 2.1 Perkiraan Presentasi Komponen Pencemaran Udara dari Sumber Pencemaran Transportasi di Indonesia
No Komponen Pencemaran Persentase
1 CO 70,50 %
2.1.5 Klasifikasi Bahan Pencemaran Udara
Bahan pencemaran udara atau polutan dapat dibagi menjadi dua bagian (Mukono, 2011) :
1. Polutan Primer
Polutan primer adalah polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu, dapat berupa:
a. Polutan gas terdiri dari :
a) Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan karbon dioksida (CO atau CO2).
b) Senyawa sulfur, yaitu sulfur oksida.
c) Senyawa nitrogen, yaitu nitrogen oksida dan amoniak.
d) Senyawa halogen, yaitu flour, klorin, hidrogen klorida, hidrokarbon terklorinasi, dan bromin.
Penyebab pencemaranan lingkungan di atmosfer biasanya berasal dari sumber kendaraan bermotor atau industri. Bahan pencemaran yang dikeluarkan antara lain adalah gas NO2, SO2, SO3, Ozon, CO, HC, dan partikel debu.Gas NO2, SO2, CO, HC dapat dihasilkan dari proses
pembakaran oleh mesin yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari bahan bakar fosil.
b. Partikel
Partikel yang di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat berupa zat padat maupun suspensi aerosol cair di atmosfer.
Bahan partikel tersebut dapat beraal dari proses kondensasi, proses dispersi (misalnya proses penyemprotan/spraying) maupun proses erosi bahan tertentu. Asap (smoke) sering dipakai untuk menunjukkan campuran bahan partikulat (partikulate matter), uap (fumes), gas, dan kabut (mist).
2. Polutan Sekunder
Polutan sekunder biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan kimia di udara, misalnya reaksi foto kimia. Sebagai contoh adalah disosiasi NO2 yang menghasilkan NO dan O radikal. Proses kecepatan dan arah reaksinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Konsentrasi relatif dari bahan reaktan 2. Derajat foto aktivasi
3. Kondisi iklim
4. Topografi lokal dan adanya embun
Polutan sekunder ini mempunyai sifat fisik dan sifat kimia yang tidak stabil. Termasuk dalam polutan sekunder ini adalah ozon, Peroxy acyl Nitrat (PAN) dan Formaldehid.
2.2. Pencemaranan Udara Dalam Ruangan (Indoor Air Pollution) 2.2.1 Pengertian Pencemaranan Udara Dalam Ruangan
Udara dalam ruangan adalah media perantara yang mana manusia, bangunan dan iklim saling mempengaruhi. Kesehatan dan kesejahteraan manusia ditentukan oleh faktor fisik, kimia dan biologis yang terkandung dalam udara dalam ruangan. Kualitas udara dalam ruangan dapat ditetapkan dengan mudah dan diawasi pelaksanaannya (Mukono, 2008). Menurut Environmental Protection Agency (EPA), pencemaran udara dalam ruangan adalah hasil interaksi antara tempat, suhu, sistem gedung (baik desain asli maupun modifikasi terhadap struktur dari sistem mekanik), teknik konstruksi, sumber kontaminan (material, peralatan gedung) seta sumber dari luar dan pekerja (Fitria dkk, 2008)
Didaerah perkotaan pada umumnya, 80% dari kehidupan suatu individu tinggal di dalam ruangan (indoor). Sebagian dari padanya, khususnya anak, bayi, orang tua dan penderita penyakit kronis, waktu tinggal di dalam ruangan lebih banyak. Bahan partikel yang terdapat di dalam ruangan dapat saja sama dengan di luar ruangan, hanya kadarnya saja yang berbeda partikel di dalam ruangan dapat terdiri dari partikel debu rumah, partikel asap rokok, asap yang berasaldari dapur, pemakaian obat antinyamukdan bahan alat kecantikan (parfum, hair spray,dll).
Perbedaan bahan polutan di dalam dan di luar ruangan tergantung dari beberapa faktor, seperti (Mukono, 2011):
1. Gaya hidup individu (Life style) 2. Keadaan sosial ekonomi
3. Struktur gedung
4. Kondisi bahan polutan di dalam dan di luar ruangan 5. Ventilasi dan sistem pendingin ruangan (AC)
6. Geografi dan meeteorologi
2.2.1 Sumber Pencemaranan Dalam Ruangan
Menurut The National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH), sumber pencemaran dalam ruangan ada 5 (lima) sumber, yaitu :
1. Pencemaranan dari alat-alat di dalam gedung seperti:
a. Asap rokok
Asap rokok mengandung berbagai zat kimia sekitar 4000 elemen dan 200 elemen di antaranya berbahaya bagi kesehatan. Zat-zat tersebut yang jumlahnya paling banyak adalah nikotin, tar dan karbonmonoksida.
Adapun zat-zat berbahaya lainnya adalah amoniak, formic acid, hydrogen cyanide, nitrous oxide, formalin, hydrogen sulfide, pyridine, metanol, aseton, naftalen, vinyl chloride, logam berat, radioaktif.
b. Insektisida
Insektisida dapat dibedakan menjadi golongan organik dan anorganik Insekstisida organik mengandung unsur karbon sedangkan insektisida anorganik tidak. Insektisida organik umumnya bersifat alami, yaitu diperoleh dari makhluk hidup sehingga disebut insektisida hayati.
Insektisida di dalam ruangan digunakan untuk mengendalikan serangga di dalam ruangan.
Menurut WHO (1999) Insektisida yang banyak beredar dan dipergunakan di Indonesia dalam skala rumah tangga atau insektisida rumah tangga, berdasarkan bahannya secara umum terbagi menjadi empat kelompok bahan aktif insektisida antara lain kelompok Karbamat, Pyrethroid, Organophosphat, dan Organoklorin. Insektisida golongan karbamat juga dapat mencemari udara dengan kandungan bahan kimianya yaitu physostigmin. Insektisida golongan organoposfat mengandung bahan yang dapat mencemari udara seperti senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion dan schordan yang sangat efektif membunuh serangga tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia dan malathion yang kurang toksik terhadap mamalia. Sedangkan Insektisida golongan organoklorin juga mengandung bahan kimia yang dapat mencemari udara yakni dichloro-diphenyl-trichloroetan atau DDT.
c. Bahan-bahan pembersih ruangan
Bahan pembersih ruangan misalnya adalah pembersih lantai. Pembersih lantai dapat dari berbagai jenis. Pada umumnya pembersih lantai digunakan untuk membunuh kuman karena mengandung fenol atau asam karbolat (carbolid acid).
2. Pencemaranan di luar gedung meliputi masuknya gas buangan kendaraan bermotor, gas dari cerobong asap atau dapur yang terletak di dekat
gedung, dimana semua dapat terjadi akibat penempatan lokasi lubang udara yang tidak tepat.
3. Pencemaranan akibat bahan bangunan meliputi pencemaranan formaldehid, asbes, fiberglas dan bahan-bahan lain yang merupakan komponen pembentuk gedung tersebut tersebut. Pencemaranan formaldehid dapat bersumber dari peralatan yang terdapat dalam ruangan seperti furniture.
4. Pencemaranan akibat mikroba lainnya dapat berupa bakteri, jamur, protozoa dan produk mikroba lainnya yang dapat ditemukan di saluran udara dan alat pendingin beserta seluruh sistemnya.
5. Gangguan ventilasi udara berupa kurangnya udara segar yang masuk, serta buruknya distribusi udara yang disebabkan oleh kurangnya luas ventilasi dan perawatan sistem ventilasi udara.
2.2.2 Standar Kualitas Udara Dalam Ruangan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077 Tahun 2011 tentang pedoman penyehatan udara dalam ruang rumah adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2 Persyaratan Fisik Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah No Jenis Parameter Satuan Kadar yang
dipersyaratkan
Sumber: PERMENKES RI Nomor 1077 Tahun 2011
Tabel 2.3 Persyaratan Kimia Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah No Jenis Parameter Satuan
Kadar
Sumber: PERMENKES RI Nomor 1077 Tahun 2011
Parameter kontaminan biologi dalam rumah adalah parameter yang mengindikasikan kondisi kualitas biologi udara dalam rumah seperti bakteri, dan jamur.
Tabel 2.4 Persyaratan Kontaminan Biologi Penyehatan Udara Dalam RuangRumah
No Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimal
1. Jamur CFU/m3 0 CFU/m3
2. Bakteri patogen CFU/m3 0 CFU/m3
3. Angka kuman CFU/m3 < 700 CFU/m3
Sumber: PERMENKES RI Nomor 1077 Tahun 2011
2.3 Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida atau CO adalah suatu gas yang tak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Gas ini dapat berbentuk cairan pada suhu di bawah -1920C. Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dengan udara, berupa gas buangan (Wardhana, 2004).
2.3.1 Pembentukan Karbon Monoksida
Kota besar yang lalu lintas nya padat akan banyak menghasilkan gas
relatif tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. Selain itu gas CO dapat juga terbentuk walaupun jumlahnya relatif sedikit, seperti gas hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lainnya (Wardhana, 2004).
Secara umum terbentuknya gas CO adalah melalui proses berikut:
1. Pembakaran bahan bakar fosil dengan udara.
2. Pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbon dioksida (CO2) dengan karbon (C) yang menghasilkan gas CO.
3. Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.
Menurut Fardiaz (1992) Secara sederhana pembakaran karbon dalam minyak bahan bakar terjadi melalui beberapa tahap sebagai berikut:
2C + O2 2CO
2CO + O2 2CO2
Reaksi pertama berlangsung sepuluh kali lebih cepat daripada reaksi kedua, oleh karena itu CO merupakan intermediat pada reaksi pembakaran tersebut dan dapat merupakan produk akhir jika jumlah O2 tidak cukup untuk melangsungkan reaksi kedua. CO juga dapat merupakan produk akhir meskipun jumlah oksigen di dalam campuran pembakaran cukup, tetapi antara minyak bakar dan udara tidak tercampur rata.
Reaksi antara karbon dioksida dan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi dapat menghasilkan karbon monoksida dengan reaksi sebagai berikut:
CO2 + C CO
2.3.2 Sumber Dan Distribusi Karbon Monoksida
Sumber dari gas ini adalah segala proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau oleh pembakaran di bawah tekanan dan temperatur tinggi seperti yang terjadi pada pembakaran internal di dalam mesin. Gas CO yang berada di udara sebagian besar merupakan polutan buatan manusia yang 80 persennya diduga keluar bersama-sama dengan asap melalui knalpot kendaraan bermotor. Kadar gas ini di daerah perkotaan berkorelasi positif dengan kepadatan lalu lintas. Umur CO di udara diperkirakan sekitar 0,3 tahun. Gas itu akan berubah menjadi CO2 apabila terdapat oksigen yang tereksitasi dan bereaksi dengannya. Oksidasi berjalan lebih 0,1 persen per jam apabila terdapat cukup cahaya matahari (Sunu,2001).
Transportasi menghasilkan CO paling banyak diantara sumber-sumber lainnya, terutama dari kendaraan-kendaraan yang menggunakan bensin sebagai bahan bakar. Sumber CO yang kedua adalah pembakaran hasil-hasil pertanian seperti sampah,sisa-sisa kayu di hutan, dan sisa-sisa tanaman di perkebunan.
Sumber CO yang ketiga adalah dari proses industri. Dua industri yang merupakan sumber CO terbesar yaitu industri besi dan baja.
Tabel 2.5 Sumber Pencemaranan Gas CO
Sumber Pencemaranan: % bagian %total
Transportasi 63,8
- Pembakaran batubara sisa 1,2 - Pembakaran limbah pertanian 8,3
- Pembakaran lain-lainnya 0,2
100,0 100,0
Sumber: Wardhana, 2004
2.3.3 Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida
1. Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida Terhadap Tanaman
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian CO selama 1 sampai 3 minggu pada konsentrasi sampai 100 ppm tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap tanam-tanaman tingkat tinggi. Akan tetapi kemampuan untuk fiksasai nitrogen oleh bakteri bebas akan terhambat dengan pemberian CO selama 35 jam pada konsentrasi 2000 ppm. Demikian pula kemampuan untuk fiksasi nitrogen oleh bakteri yang terdapat pada akar tanam-tanaman juga terhambat dengan pemberian CO sebesar 100 ppm selama satu bulan. Karena konsentrasi CO di udara jarang mencapai 100 ppm, meskipun dalam waktu
sebentar, maka pengaruh CO terhadap tanam-tanaman biasanya tidak terlihat secara nyata (Fardiaz,1992).
2. Dampak Pencemaranan Karbon Monoksida Terhadap Kesehatan
Gas Karbon Monoksida (CO) dalam jumlah banyak (konsentrasi tinggi) dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru – paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO mudah bereaksi dengan darah (hemoglobin).
Hemoglobin + O2 O2Hb (Oksihemoglobin) Hemoglobin + CO COHb (Karboksihemoglobin)
Dalam keadaan normal hemoglobin berfungsi sebagai pembawa atau pengangkut oksigen (O2) dalam bentuk oksihemoglobin dari paru – paru untuk dibagikan kepada sel-sel tubuh yang memerlukannya (Mukono,2008).
Ikatan karbon monoksida dengan darah (karboksihemoglobin) jauh lebih stabil dari pada ikatan oksigen dengan darah (oksihemoglobin). Kestabilan karboksihemoglobin kira-kira 140 kali kestabilan oksihemoglobin. Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah menangkap gas CO dan menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangut oksigen terganggu.
Pengaruh gas CO terhadap tubuh manusia berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Faktor daya tahan tubuh manusia ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya gas CO. Para olahragawan pada umumnya
mempunyai toleransi yang tinggi terhadap racun gas CO. Pada orang yang menderita anemia dan anak-anak akan mudah keracunan oleh gas CO.
Keracunan gas CO ditandai dari keadaan yang ringan seperti pusing, sakit kepala dan mata perih. Keadaan yang lebih berat dapat berupa rasa mual, telinga berdengung, detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernapas, menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung sampai kepada kematian (Wardhana, 2004).
Tabel 2.6 Dampak Pemaparan Karbon Monoksida Terhadap Tubuh Kadar CO
(ppm) Waktu Kontak Dampak Bagi Tubuh
≤ 100 Sebentar Dianggap aman Tubuh Bila Kontak Terjadi Pada Waktu Yang Lama
Konsentrasi CO di
2.4 Nitrogen Oksida (NOx)
Nitrogen oksida sering disebut sebagai NOX karena oksida nitrogen memiliki dua macam bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO.
Sifat gas NO2 adalah berwarna dan berbau. Warna gas NO2 adalah merah kecoklatan dan bebau tajam menyengat hidung. Kadar NOX di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih tinggi dari daerah pedesaan yang berpenduduk sedikit. Hal ini disebabkan karena berbagai kegiatan yang menunjang kegiatan manusia akan menambah kadar NOX di udara, seperti transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangan sampah dan lain-lain (Wardhana, 2004)
2.4.1 Pembentukan Nitrogen Oksida
Pembentukan NO dan NO2 mencakup reaksi antara nitrogen dan oksigen diudara sehingga meembentuk NO, kemudian reaksi selanjutnya antara NO dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2. Persamaan reaksinya sebagai berikut (Fardiaz, 1992):
N2 + O2 2NO
2NO + O2 2NO2
2.4.2 Sumber Dan Distribusi Nitrogen Dioksida (NO2)
Pembentukan nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk nitrogen monoksida (NO), yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen membentuk nitrogen dioksida (NO2). Emisi NOX dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOX yang diproduksi manusia adalah dari
pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagaian besar emisi NOX buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin (Depkes RI, 2001). Selain itu, NO2 dapat dihasilkan dari perilaku merokok dalam ruangan (Akhadi, 2009).
Konsentrasi nitrogen oksida (NOx) di udara sangat dipengaruhi oleh sinar matahari dan aktivitas kendaraan bermotor, pencemaran nitrogen oksida (NOx) dapat berupa asam nitrat yang kemudian diendapkan sebagai garam - garam nitrat didalam air hujan atau debu. Kecepatan emisi Nox dapat diketahui bahwa waktu tinggal nitrogen monoksida (NO) biasanya lebih lama dibandingkan nitrogen dioksida (NO2). Dari waktu tinggal tersebut dapat diketahui bahwa proses - proses alam termasuk reaksi fotokimia yang mengakibatkan hilangnya Nox (Fardiaz, 1992).
Kadar NOx di udara perkotaan biasanya 10-100 kali lebih tinggi dari pada udara pedesaan. Kadar NOX di udara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb) (Fardiaz, 1992). Sumber utama polutan NO adalah dari kegiatan manusia seperti pembakaran yang disebabkan oleh kendaraan, produksi energi dan pembuangan sampah (Agusnar, 2007).
Sebagian NO yang terdapat di atmosfer akan diubah menjadi NO2 melalui proses yang disebut siklus fotolisis NO2 yang bukan merupakan reaksi langsung dengan oksigen. Adapun tahap-tahap reaksi siklus fotolisis NO2 adalah sebagai berikut:
1. NO2 mengabsorbsi energi dalam bentuk sinar ultraviolet dari matahari.
2. Energi yang diabsorbsi tersebut memecah molekul-molekul NO2 menjadi molekul-molekul NO dan atom-atom oksigen yang sangat reaktif.
3. Atom-atom oksigen akan bereaksi dengan oksigen atmosfer membentuk O3 yang merupakan polutan sekunder.
4. O3 akan bereaksi dengan NO membentuk NO2 dan O2.
Kadar NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar matahari dan aktivitas kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx berlangsung sebagai berikut:
1. Sebelum matahari terbit, kadar nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) tetap stabil dengan kadar sedikit lebih tinggi dari kadar minimum seharihari.
2. Setelah aktivitas manusia meningkat (jam 6-8 pagi) kadar nitrogen dioksida (NO2) meningkat terutama karena meningkatnya aktivitas lalulintas yaitu kendaraan bermotor.
3. Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar nitrogen dioksida (NO2) (sekunder) pada saat ini dapat mencapai 0,5 ppm.
4. Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar nitrogen monoksida (NO) meningkat kembali.
5. Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari (jam 5-8) kadar nitrogen monoksida (NO) meningkat kembali.
6. Energi matahari tidak mengubah nitrogen monoksida (NO) menjadi nitrogen dioksida (NO2) (melalui reaksi hidrokarbon) tetapi ozon (O3)
yang terkumpul sepanjang hari akan bereaksi dengan nitrogen monoksida (NO). Akibatnya terjadi penurunan kadar ozon (O3).
Dari perhitungan kecepatan emisi NOx dapat diketahui bahwa waktu tinggal rata-rata nitrogen dioksida (NO2) di atmosfer kira-kira adalah 3 hari sedangkan waktu tinggal NO rata-rata 4 hari. Dari waktu tinggal ini dapat diketahui bahwa prosesproses alami, termasuk reaksi fotokimia, mengakibatkan hilangnya nitrogen oksida tersebut (Fardiaz, 1992)
2.4.3 Dampak Pencemaranan Nitrogen Dioksida (NO2)
Kedua bentuk nitrogen oksida, yaitu NO dan NO2 sangat berbahaya terhadap manusia. Penilaian aktivitas mortalitas dua komponen menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Pada konsentrasi yang normal ditemukan di atmosfer, NO tidak mengakibatkan iritasi dan berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambien yang normal NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang lebih berbahaya (Chandra, 2007).
1. Dampak Pencemaranan Nitrogen Dioksida Terhadap Kesehatan
Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali bila gas NO berada dalam konsentrasi tinggi.
Nitrogen oksida (NO) mempunyai kemampuan membatasi kadar oksigen dalam darah dan juga mudah bereaksi dengan oksigen membentuk NO2. Apabila NO2 bertemu dengan uap air di udara atau dalam tubuh manusia maka akan terbentuk HNO3 yang dapat merusak tubuh (Sastrawijaya, 2009).
Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem syaraf yang mengakibatkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus melanjut akan menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan lebih berbahaya apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehingga menjadi gas NO2.
Menurut Mukono (2005), apabila udara tercemar oleh gas NO2 dan bereaksi dengan uap air maka akan menjadi korosif dan memberikan efek iritasi terhadap mata, paru, dan kulit.
a. Terhadap alat pernafasan
Iritasi terhadap paru akan menyebabkan edema paru setelah terpapar oleh gas NO2 selama 48 – 72 jam, apabila terpapar dengan dosis yang meningkat akan menjadi fatal.
b. Terhadap mata
Iritasi mata dapat terjadi apabila NO2 berupa uap yang pekat c. Terhadap kulit
Iritasi terhadap kulit dapat terjadi apabila kulit kontak dengan uap air
Iritasi terhadap kulit dapat terjadi apabila kulit kontak dengan uap air