FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
VII. KESIMPULAN DAN SARAN 56 DAFTAR PUSTAKA
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.2. Sumber Risiko dan Akibatnya
Dalam dunia bisnis, risiko sering dikaitkan dengan perolehan (return). Dalam menganalisis risiko didasarkan pada teori pengambilan keputusan dengan berdasarkan pada konsep expected utility (Robison dan Barry, 1997). Dalam kaitannya dengan expected utility sangat erat hubungannya dengan probability.
Probability dapat dipandang sebagai frekuensi relatif (relative frequencies) dan digunakan dalam pengambilan keputusan. Utility (kepuasan) sangat sulit diukur sehingga umumnya didekati dengan pengukuran return. Return tersebut dapat berupa pendapatan yang diperoleh usaha selama periode tertentu.
Tingkat risiko suatu kegiatan menjadi acuan dalam menentukan besaran nilai yang dihasilkan (keuntungan). Umumnya kegiatan bisnis dengan risiko tinggi diyakini dapat memberikan keuntungan yang besar. Artinya, nilai keuntungan searah dengan tingkat risikonya. Hal tersebut dapat terwujud apabila ternyata dalam melakukan kegiatan usaha, risiko yang diperkirakan tidak terjadi sehingga pelaku usaha tidak perlu mengeluarkan biaya kerugian akibat adanya risiko. Tetapi apabila ternyata risiko yang diperkirakan terjadi pada kegiatan usaha yang dipilih, maka yang diperoleh pelaku usaha adalah kegagalan dan kerugian.
Oleh karena itu, agar bisnis dengan risiko yang besar dapat memberi pendapatan tinggi, meskipun risiko yang diperkirakan terjadi maka pelaku usaha dapat melakukan pengelolaan terhadap risiko tersebut. Dengan mengetahui besarnya risiko yang dihadapi maka keputusan penerapan alternatif pengelolaan yang digunakan dapat lebih efisien.
Menurut Harwood, et al (1999), risiko yang sering terjadi pada pertanian dan dapat menurunkan tingkat pendapatan petani yaitu : (1) Risiko produksi; (2) Risiko harga atau pasar (penjualan); (3) Risiko institusi (kelembagaan); (4) Risiko keuangan; (5) Risiko manusia. Dari beberapasumber tersebut ternyata risiko yang paling utama dihadapi oleh petani yang tergabung dalam kelompoktani Pondok Menteng dalam memproduksi cabai merah keriting adalah risiko produksi.
20 Menurut Kountur (2008) risiko dapat diklasifikasikan dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkan, aktivitas yang dilakukan dan sudut pandang kejadian yang terjadi menjadi 4 jenis yaitu:
a. Risiko dari sudut Pandang Penyebab
Berdasarkan sudut pandang penyebab kejadian, risiko dapat dibedakan kedalam risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan disebabkan oleh faktor-faktor keuangan sepertu perubahan harga, tingkat bunga dan mata uang asing. Risiko operasional disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan seperti manusia, teknologi dan alam.
b. Risiko dari Sudut Pandang Akibat
Dilihat dari sudut pandang akibat yang ditimbulkan terdapat dua kategori risiko yakni risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni merupakan risiko yang mengakibatkan sesuatu yang merugikan dan tidak memungkinkan adanya keuntungan. Risiko spekulatif adalah risiko yang memungkinkan untuk menimbulkan suatu kerugian atau menimbulkan keuntungan.
c. Risiko dari Sudut Pandang Aktivitas
Menurut Kountur (2008) banyaknya risiko dari sudut pandang penyebab adalah sebanyak jumlah aktivitas yang ada. Segala aktivitas dapat menimbulkan berbagai macam risiko misalnya aktivitas pemberian kredit oleh bank yang dikenal dengan risiko kredit.
d. Risiko dari Sudut Pandang Kejadian
Risiko yang dinyatakan berdasarkan kejadian merupakan pernyataan risiko yang paling baik, misalnya terjadi kebakaran, maka risiko yang terjadi adalah risiko kebakaran.
Dampak risiko dan variabilitas dalam agribisnis yang tidak diantisipasi dan ditanggulangi dengan baik dapat mengakibatkan kerugian dalam skala luas. Dampak risiko dapat dikaji dari tiga sudut pandang yang saling berhubungan yaitu:
a. Sudut pandang masyarakat
Menyangkut pada dampak dan biaya sosial dari risiko yang terjadi dan bagaimanan pengelolaannya.
21 b. Sudut pandang produsen
Menitikberatkan pada kelangsungan hidup usahanya. c. Sudut pandang pembuat kebijakan
Pembuat kebijakan harus mampu memprediksi respon sektoral yang akan dilakukan untuk mengubah kondisi tersebut dan dampak berikutnya atas kemungkinan kebijakan pemerintah untuk mencapai tujuannya.
3.1.3.Pengukuran Risiko
Penilaian risiko didasarkan pada pengukuran penyimpangan (deviation) terhadap return dari suatu aset. Menurut Elton dan Gruber (1995) terdapat beberapa ukuran risiko diantaranya adalah nilai varian (variance), standar deviasi (standard deviation) dan koefisien variasi (coefficient variation).
Penilaian risiko dengan menggunakan nilai variance dan standard deviation
merupakan ukuran yang absolut dan tidak mempertimbangkan risiko dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan (expected return). Hasil keputusan yang tepat dalam menganalisis risiko suatu kegiatan usaha harus menggunakan perbandingan dengan satuan yang sama. Coefficient variation merupakan ukuran risiko yang dapat membandingkan dengan satuan yang sama dengan mempertimbangkan risiko yang dihadapi untuk setiap return yang diperoleh baik berupa pendapatan, produksi atau harga. Nilai variance dan standard deviation
kurang tepat digunakan untuk mengambil keputusan dalam penilaian risiko yang dihadapi pada kegiatan usaha.
1. Nilai Harapan (Expected Value)
Nilai harapan adalah jumlah dari nilai-nilai kemungkinan yang diharapkan terjadi probabilitas (peluang) masing-masing dari suatu kejadian tidak pasti. Nilai harapan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk melanjutkan kegiatan usaha penyelesaian pengambilan keputusan risiko dapat dilakukan dengan menggunakan expected return.
2. Peluang
Peluang merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa. Peluang hanya suatu kemungkinan, jadi nilai dari suatu peluang bukan merupakan harga mutlak dalam suatu kondisi. Menurut Darmawi (1997) dari sudut pandang empiris maka
22 probabilitas dapat dipandang sebagai frekuensi terjadinya event dalam jangka panjang yang dinyatakan dalam persentase.
3. Variance
Pengukuran varian dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari
return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian. Dari nilai variance dapat menunjukkan bahwa semakin kecil nilai variance maka semakin kecil penyimpangannya sehingga semakin kecil risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha tersebut.
4. Standard Deviation
Standard deviation dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai variance. Risiko dalam penelitian ini berarti besarnya fluktuasi keuntungan, sehingga semakin kecil standard deviation maka semakin rendah risiko yang dihadapi dalam kegiatan usaha.
5. Coefficient Variation
Koefisien variasi diukur dari rasio standar deviasi dengan return yang diharapkan atau ekspektasi return. Semakin kecil nilai koefisien variasi maka semakin rendah risiko yang dihadapi.
3.1.4.Strategi Pengelolaan Risiko
Strategi pengelolaan risiko merupakan langkah-langkah yang dapat ditempuh perusahaan untuk menangani terjadinya risiko. Fungsi-fungsi manajemen sangat berperan dalam perumusan strategi pengelolaan risiko sehingga penentuan strategi dapat dikonsep dalam manajemen risiko. Fungsi manajemen tidak hanya perencanaan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengawasi, tetapi juga menangani risiko.
Menurut Lam (2003), ada beberapa alasan mengapa manajemen risiko sangat penting dalam pengelolaan suatu perusahaan, yakni karena mengelola manajemen risiko dapat memaksimalkan nilai asset pemegang saham dan dapat memperbesar peluang kerja dan jaminan finansial. Menurut Darmawi (1997), manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Ada lima manfaat yang
23 diperoleh perusahaan dengan menerapkan manajemen risiko, manfaat tersebut adalah:
a. Mencegah perusahaan dari kegagalan b. Mengurangi pengeluaran perusahaan c. Menunjang peningkatan perolehan laba
d. Memberi ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap risiko
e. Secara tidak langsung menolong public image, karena manajemen risiko melindungi perusahan dari hal-hal buruk yang dapat merugikan perusahaan. Menurut Kountur (2008), manajemen risiko perusahaan adalah cara bagaimana menangani semua risiko yang ada di dalam perusahaan tanpa memilih risiko-risiko tertentu saja. Manajemen risiko merupakan cara atau langkah yang dapat dilakukan pengambil keputusan untuk menghadapi risiko dengan cara meminimalkan kerugian yang terjadi. Tujuan manajemen risiko adalah untuk mengelola risiko dengan membuat pelaku usaha sadar akan risiko, sehingga laju organisasi bisa dikendalikan.
Strategi pengelolaan risiko merupakan suatu proses yang berulang pada setiap periode produksi. Pengidentifikasian risiko merupakan proses penganalisisan untuk menemukan secara sistematis dan secara berkesinambungan risiko (kerugian yang potensial) yang menantang pelaku usaha. Sesudah manajer risiko mengidentifikasi berbagai jenis risiko yang dihadapi usaha, maka selanjutnya risiko itu harus diukur. Perlunya diukur adalah untuk menentukan relatif pentingnya dan untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk menanganinya. Strategi pengelolaan risiko yang dapat dijadikan usaha sebagai alternatif penanganan, yaitu strategi Preventif. Strategi preventif dilakukan untuk menghindari terjadinya risiko. Preventif dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:
a. Membuat (memperbaiki) sistem dan prosedur. b. Mengembangkan sumberdaya manusia. c. Memasang atau memperbaiki fasilitas fisik
24
3.1.5.Risiko Portofolio
Portofolio merupakan kombinasi atau gabungan dari beberapa investasi. Teori portofolio merupakan teori yang menjelaskan penyaluran modal ke dalam berbagai macam investasi dengan tujuan menekan risiko dan menjamin pendapatan seaman dan seuntung mungkin. Teori portofolio membahas portofolio yang optimum yaitu portofolio yang memberikan hasil pengembalian tertinggi pada suatu tingkatan risiko tertentu atau tingkat risiko paling rendah dengan suatu hasil tertentu. Teori portofolio membantu manajemen dalam pengambilan keputusan mengenai kombinasi investasi yang paling aman dikaitkan dengan tingkat risiko yang dihadapi.
Diversifikasi dilakukan untuk mengurangi risiko portofolio, yaitu dengan cara mengkombinasi atau dengan menambah investasi (asset/aktiva/sekuritas) yang memiliki korelasi negatif atau positif rendah sehingga variabilitas dari pengembalian atau risiko dapat dikurangi.
Korelasi merupakan alat ukur statistik mengenai hubungan dari serial data yang menunjukkan pergerakan bersamaan relatif (relative comovements) antara serial data tersebut. Nilai koefisien korelasi investasi aset i dan j ( ij) mempunyai nilai maksimum positif (+1) dan minimum negatif satu (-1). Berapa kemungkinan korelasi diantara dua aset diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Nilai koefisien korelasi positif satu (+1) mempunyai arti bahwa kombinasi dari dua aset i dan j selalu bergerak sama-sama.
2. Nilai koefisien korelasi negatif satu (-1) mempunyai arti bahwa kombinasi dari dua aset i dan j selalu bergerak berlawanan arah.
3. Nilai koefisien korelasi sama dengan nol (0) mempunyai arti bahwa kombinasi dari dua aset i dan j tidak ada hubungan satu dengan yang lain.
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Kelompoktani Pondok Menteng mempunyai produk unggulan yaitu komoditas cabai merah keriting yang diproduksi dari tahun ke tahun. Tidak berbeda dari produk pertanian lainnya cabai merah keriting juga dihadapkan pada risiko dan ketidakpastian. Terdapatnya fluktuasi pada produksi mengindikasikan adanya risiko, dan hal ini juga menyebabkan fluktuasi pendapatan petani.
25 Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari data produksi pada masa lalu (data historis) untuk diidentifikasi penyebab fluktuasi tersebut, kemudian mengidentifikasi sumber-sumber risiko tersebut. Risiko-risiko yang telah diidentifikasi kemudian diukur. Beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur penyimpangan diantaranya adalah ragam (Variance), simpangan baku (Standard deviation), dan koefisien korelasi (coefficient Variation). Melakukan perhitungan risiko portofolio untuk mengetahui apakah diversifikasi antara cabai merah keriting dan sawi dapat menekan atau mengurangi risiko. Analisis manajemen risiko meliputi, proses dalam mengolah strategi yang sesuai dalam penanganan risiko-risiko usahatani cabai merah keriting yang dihadapi oleh petani Pondok Menteng.
26 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional
Permasalahan
1) Adanya fluktuasi hasil produksi dari tahun ke tahun. 2) Penerimaan petani berfluktuasi
Target Kelompoktani Pondok Menteng:
1) Meningkatkan produktivitas cabai merah keriting 2) Meminimumkan risiko cabai merah keriting.
Analisis kualitatif:
• Mengidentifikasi sumber-
sumber risiko
Analisis kuantitatif: Metode pengukuran risiko
• Nilai harapan (expected
value) • Peluang • Variance • Standart deviation • Coefficient variation • Risiko Portofolio
27
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada kelompoktani Pondok Menteng yang terletak di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Tujuh kelompoktani yang tergabung dalam gapoktan Rukun Tani memiliki jenis kegiatan usaha yang berbeda-beda. Kelompoktani Pondok Menteng merupakan salah satu kelompoktani yang tergabung dalam gapoktan Rukun Tani yang melakukan usahatani cabai merah keriting. Waktu penelitian pada kelompoktani Pondok Menteng dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2011.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif, sedangkan berdasarkan sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara langsung pada kelompoktani Pondok Menteng meliputi keadaan umum kelompoktani, seperti luas lahan, biaya produksi, jumlah produksi, proses produksi yang dijalankan oleh kelompoktani.
Data yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan data produksi yang diperoleh dari data sekunder tahun 2005 sampai Oktober 2010. Data sekunder lainnya diperoleh dari literatur-literatur dan instansi yang terkait seperti Badan Pusat Statistik, Departemen Pertanian, perpustakaan IPB (LSI), perpustakaan pertanian Kota Bogor, BP3K Kecamatan Ciawi dan bahan pustaka lain yang relevan.
4.3. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan, merupakan cara untuk melihat dan mengamati objek secara langsung terhadap hal-hal yang berhubungan dengan penelitian. Melakukan wawancara untuk memperoleh keterangan terkait sumber-sumber risiko produksi cabai merah keriting. Pengamatan dilakukan pada kegiatan usahatani cabai merah keriting mulai dari penyemaian, penanaman dan strategi penanganan risiko. Pengambilan
28 responden untuk penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Jumlah anggota kelompoktani Pondok Menteng secara keseluruhan adalah 25 orang. Responden merupakan pihak yang berhubungan dan mengetahui dengan jelas produksi dan risiko yang dihadapi cabai merah keriting yaitu 5 orang petani yang konsisten menanam cabai merah keriting dari tahun ke tahun dikelompoktani Pondok Menteng. Data yang diperoleh dari petani yaitu meliputi data luas lahan, proses produksi cabai merah keriting, dan kendala-kendala dalam usahatani cabai merah keriting. Adapun kelima petani tersebut adalah masing-masing bapak Haji Misbah yang juga merupakan ketua Gapoktan Rukun Tani sekaligus ketua kelompoktani Pondok Menteng, Bapak Jamil sebagai sekretaris, Bapak Anwar, Bapak Jaja dan Bapak Umar.
4.4. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data yang diperoleh diolah menggunakan program Microsof Office Excel.
4.4.1.Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif dalam penilaian risiko yang dilakukan dalam penelitian ini didasarkan dengan pengukuran penyimpangan. Beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur penyimpangan diantaranya adalah ragam, simpangan baku, koefisien variasi. Dan ukuran-ukuran tersebut merupakan ukuran statistik yang dijelaskan sebagai berikut:
1) Penerimaan
Penerimaan usahatani, merupakan nilai produksi yang diperoleh dari produk total dikalikan dengan harga jual ditingkat petani. Satuan yang dipakai adalah rupiah.
2) Peluang
Peluang merupakan kemungkinan terjadinya peristiwa. Peluang hanya suatu kemungkinan, jadi nilai dari suatu peluang bukan merupakan harga mutlak dalam suatu kondisi. Menurut Darmawi (1997) dari sudut pandang empiris maka
29 probabilitas dapat dipandang sebagai frekuensi terjadinya event dalam jangka panjang yang dinyatakan dalam persentase.
Dimana:
n = Banyak kejadian
W = Frekuensi terjadinya peristiwa yang dihitung peluangnya. 3) Nilai Harapan (Expected Value)
Nilai harapan adalah jumlah dari nilai-nilai kemungkinan yang diharapkan terjadi probabilitas (peluang) masing-masing dari suatu kejadian tidak pasti. Nilai harapan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk melanjutkan kegiatan usaha penyelesaian pengambilan keputusan risiko dapat dilakukan dengan menggunakan expected return.
Dimana:
E(Ri) = Expected Return
Pi = Peluang dari suatu kejadian Ri = Return
4) Variance
Pengukuran varian dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari
return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian. Dari nilai varian dapat menunjukkan bahwa semakin kecil nilai varian maka semakin kecil penyimpangannya sehingga semakin kecil risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha tersebut.
Dimana:
= varian dari return
Pij = Peluang dari suatu kejadian Rij = Return
30
5) Standart Deviation
Standart deviation dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai varian. Risiko dalam penelitian ini berarti besarnya fluktuasi keuntungan, sehingga semakin kecil standar deviasi maka semakin rendah risiko yang dihadapi dalam kegiatan usaha.
Dimana :
= Variance atau penyimpangan dari masing-masing risiko = Standard deviation dari masing-masing risiko
6) Coefficient Variation
Koefisien variasi diukur dari rasio standar deviasi dengan return yang diharapkan atau ekspektasi return. Semakin kecil nilai koefisien variasi maka semakin rendah risiko yang dihadapi .
Dimana: CV = Coefficient variation = Standard deviation i = Expected return 4.4.2.Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif adalah salah satu model yang digunakan dalam penelitian ini, digunakan untuk mendeskripsikan secara kualitatif kondisi manajemen produksi petani cabai merah keriting kelompoktani Pondok menteng di Desa Citapen. Analisis deskriptif pada penelitian ini digunakan untuk menganalisis risiko produksi yang dihadapi oleh petani cabai merah keriting. Metode ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan diskusi dengan petani dll.
31
4.5. Analisis Manajemen Risiko
4.5.1.Identifikasi Sumber – Sumber Risiko
Tahap awal dalam menganalisis risiko adalah melakukan identifikasi risiko, yang bertujuan dalam mengidentifikasi risiko pada seluruh aktifitas fungsional yang berpotensi merugikan dan menguntungkan bagi petani. Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan analisis data historis, pengamatan dan pengacuan berdasarkan wawancara yang dilakukan pada petani.
Keseluruhan risiko yang ada pada proses produksi cabai merah keriting dirunut sesuai dengan potensinya dalam menimbulkan kerugian. Teknik ini dilakukan dengan pengamatan yang mendalam terhadap sumber-sumber risiko. Kemudian ditentukan risiko-risiko apa saja yang muncul dari sumber-sumber risiko yang ada. Beberapa contoh yang menjadi sumber-sumber risiko bagi proses produksi cabai merah keriting meliputi, lingkungan fisik (curah hujan), lingkungan sosial (pencurian), lingkungan operasional (kerusakan peralatan), pesaing (penemuan teknologi baru), konsumen (keluhan konsumen akan produk), dan lain-lain.
4.5.2.Pengukuran Risiko
Selanjutnya setelah melakukan identifikasi risiko kemudian melakukan pengukuran risiko, yang dapat diketahui dengan menentukan probabilitas terjadinya risiko tersebut terhadap kinerja petani. Pengukuran risiko mengacu pada dua ukuran yaitu, probabilitas atau dengan istilah kemungkinan (likelihood) mengacu pada besar probabilitas risiko akan terjadi.
4.5.3.Strategi Penanganan Risiko Preventif
Strategi yang dapat dilakukan pada saat pertamakali berhadapan dengan risiko adalah strategi menghindar. Kountur (2008), menjelaskan bahwa penghindaran risiko dilakukan apabila:
1) Risiko yang dihadapi terlalu besar yaitu kemungkinan terjadinya besar dan akibat yang ditimbulkan juga besar. Ini adalah risiko-risiko yang sangat besar.
2) Risiko yang dihadapi tidak dapat dikendalikan manajemen dan tidak dapat ditangani dengan strategi-strategi penanganan risiko lain.
32
4.5.4.Strategi Penanganan Risiko Mitigasi
Mitigasi risiko adalah strategi dengan mengurangi risiko, yang diperuntukkan dalam memperkecil kemungkinan terjadinya risiko kerugian pada perusahaan. Sasaran utamanya adalah bagaimana agar kemungkinan atau probabilitas terjadinya suatu kejadian yang merugikan dapat diatur sekecil mungkin. Beberapa mitigasi yang dapat dilakukan oleh petani untuk memperkecil kerugian akibat pengambilan risiko adalah diversifikasi, penggabungan atau penahanan, pengalihan risiko dan pengendalian risiko. Selain itu juga perlu dilakukan proses produksi berdasarkan sistem yang baik, prosedur yang benar dan jelas.
Banyaknya kerugian yang terjadi pada proses produksi adalah karena aktifitas petani yang tidak mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang telah diberlakukan oleh Gapoktan sebagai lembaga yang menaungi petani. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan diversifikasi untuk mengetahui apakah dengan melakukan diversifikasi petani Pondok Menteng akan menekan risiko yang dihadapi atau sebaliknya.
Kegiatan usaha diversifikasi juga tidak terlepas dari risiko usaha seperti halnya kegiatan spesialisasi. Risiko yang terdapat dalam kegiatan diversifikasi dinamakan risiko portofolio. Untuk mengukur risiko portofolio dapat dilakukan dengan menghitung variance gabungan dari beberapa kegiatan usaha atau aset. Diversifikasi yang akan diperhitungkan adalah kombinasi antara tanaman cabai merah keriting dan tanaman sawi
Jika investasi digunakan untuk dua aset maka variance gabungan dapat dituliskan sebagai berikut (Elton dan Gruber 1995):
p2 = k2 ij2+(1-k)2 ij2 +2 k (1-k) ij Keterangan :
p2 = Variance portofolio untuk investasi dua asset yang digabungkan (cabai merah keriting dan sawi)
ij = Covariance antara investasi dua asset yang digabungkan (cabai merah keriting dan sawi)
k = Fraction portofolio pada investasi asset i (cabai merah keriting) (1-k) = Fraction portofolio pada investasi aset j (sawi)
33
Covariance antara kedua aktiva i dan j dihitung dengan menggunakan persamaan bersikut (Elton dan Grubber 1995):
ij= ij i j
Keterangan : ij = nilai koefisien korelasi diantara aset i dan j
4.6. Definisi Operasional
1.Peluang (P) merupakan frekuensi kejadian setiap kondisi dibagi dengan periode waktu selama kegiatan produksi cabai merah keriting berlangsung. 2.Expected return adalah jumlah dari produktivitas atau pendapatan yang
diharapkan pada cabai merah keriting.
3.Variance merupakan ragam atau variasi dari peluang ketiga kondisi produktivitas dan pendapatan komoditas cabai merah keriting.
4.Standard deviation merupakan penyimpangan dari return yang diharapkan dari memproduksi komoditas cabai merah keriting.
5.Coefficient variation adalah besarnya risiko yang dihadapi petani apabila menginvestasikan satu rupiah pada komoditas cabai merah keriting.
6. Diversifikasi merupakan suatu kebijakan untuk menyalurkan modal kearah investasi cabai merah keriting dan sawi dengan tujuan menekan risiko dan menjamin tingkat pendapatan seaman mungkin.
7.Petani cabai merah keriting adalah petani yang melakukan budidaya tanaman cabai merah keriting, memproduksi dan melakukan penjualan cabai merah keriting.
8.Luas lahan garapan, adalah luas areal usahatani cabai merah keriting yang merupakan lahan yang dipakai untuk menanam cabai keriting dalam satuan hektar.
9. Produktivitas adalah hasil yang diperoleh per luas lahan, diukur dalam kilogram perluas lahan.
10.Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi dengan harga dalam satuan rupiah.
34
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
5.1. Sejarah dan Perkembangan Kelompoktani Pondok Menteng
Gabungan kelompoktani (Gapoktan) Rukun Tani dibentuk pada tahun 2001 yang dibangun atas dasar adanya persamaan kepentingan diantara petani-petani yang ada di wilayah Desa Citapen Kecamatan Ciawi dalam hal komoditi hortikultura yang ditanam terutama komoditi sayuran dan juga dalam hal pemasaran hasil panen. Saat itu, atas prakarsa petugas lapangan dari PT. TANINDO, dibentuklah satu kelompoktani yang bernama kelompoktani Pondok Menteng yang beranggotakan 25 orang.
Seiring berjalannya waktu petani-petani lainnya yang tergabung dalam kelompoktani tanaman pangan, kelompoktani ternak dan kelompoktani pengrajin olahan hasil pertanian, bergabung dalam rangka menyatukan kepentingan yang