II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Sumber-sumber dan Tingkat Daya Saing Usaha Peternakan
Suatu produk memiliki daya saing yang tinggi salah satu cirinya adalah produk tersebut dapat diproduksi secara efisien. Hal ini karena suatu produk yang diproduksi secara efisien akan menyebabkan biaya produksi menurun sehingga keuntungan akan makin meningkat. Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara di dalam perdagangan internasional. Krugman dan Obstfeld (2004) menjelaskan bahwa setiap negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama, yang masing-masing menjadi sumber bagi adanya keuntungan perdagangan (gains from trade) bagi mereka. Alasan pertama negara-negara berdagang adalah karena mereka berbeda satu sama lain. Bangsa-bangsa di dunia ini, sebagaimana halnya individu-individu, selalu berpeluang memperoleh keuntungan dari perbedaan-perbedaan di antara mereka melalui suatu pengaturan sedemikian rupa sehingga setiap pihak dapat melakukan sesuatu secara relatif lebih baik. Kedua, negara-negara berdagang satu- sama lain dengan tujuan untuk mencapai apa yang lazim disebut sebagai skala ekonomis (economics of scale) dalam produksi. Seandainya setiap negara bisa
membatasi kegiatan produksinya untuk menghasilkan sejumlah barang tertentu saja, maka mereka berpeluang memusatkan perhatian dan segala macam sumber dayanya sehingga ia dapat menghasilkan barang-barang tersebut dalam skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan dengan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi berbagai jenis barang secara sekaligus.
Krugman dan Obstfeld (2004) menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat meningkatkan output dunia karena memungkinkan setiap negara memproduksi sesuatu yang memiliki keunggulan komparatif. Suatu negara memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam memproduksi suatu barang kalau biaya pengorbanannya dalam memproduksi barang tersebut (dalam satuan barang lain) lebih rendah daripada negara-negara lainnya. Ada keterkaitan yang terpisahkan antara konsep keunggulan komparatif dengan perdagangan internasional yaitu perdagangan antara dua negara akan menguntungkan kedua belah pihak jika masing-masing negara memproduksi dan mengekspor produk yang memiliki keunggulan komparatif.
Salvatore dan Diulio (2004) menjelaskan bahwa meskipun perdagangan dapat memberikan keuntungan yang besar, banyak negara membatasi aliran perdagangan yang bebas dengan mengenakan tarif, kuota, dan hambatan- hambatan yang lain. Tarif impor adalah suatu pajak yang dikenakan terhadap barang-barang impor. Kuota impor adalah hambatan kuantitatif pada jumlah barang yang akan diimpor pada tahun tersebut. Hambatan yang lain meliputi peraturan kesehatan, dan standar keamanan dan polusi. Hambatan perdagangan didukung oleh tenaga kerja dan berbagai perusahaan dalam sejumlah industri sebagai bentuk perlindungan terhadap pesaing asing. Namun hambatan ini
umumnya membebani masyarakat secara keseluruhan karena praktik ini mengurangi ketersediaan barang dan meningkatkan harganya.
Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur daya saing suatu komoditi adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditi tersebut. Dalam periode 1990-1995, pengukuran daya saing sektor industri, agribisnis atau komoditas mengacu pada alat analisis parsial, seperti Relative Trade Advantage (RTA), Revealed Competitive Advantage
(RCA), dan Agribusiness Executive Survey (AES) (Daryanto 2009). Analisis deskriptif kelembagaan agribisnis dapat menggunakan Agribusiness Confidence Index (ACI). Monke dan Pearson (1995) memperkenalkan Policy Analisis Matrix
(PAM) yang dinilai mampu mensinergikan pengukuran keunggulan komparatif (analisis ekonomi) dan keunggulan kompetitif (analisis finansial). Selain digunakan untuk mengukur daya saing suatu komoditas, PAM juga dapat melihat sejauh mana dampak kebijakan harga input, kebijakan harga output, atau kombinasi keduanya yang dilakukan pemerintah terhadap produsen.
Daya saing subsektor peternakan ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya : (1) kekayaan sumberdaya alam dan keragaman hayati dalam menyediakan bahan baku pakan (jagung, kedelai, kacang tanah, ubikayu, limbah sawit, dan hijauan pakan ternak), (2) sumberdaya manusia sebagai pelaku usaha peternakan, (3) ketersediaan kapital atau modal yang memadai, (4) inovasi teknologi baru dan pengembangan teknologi tepat guna di bidang peternakan serta adaptasinya ditingkat peternak akan menjadi sumber pertumbuhan produktivitas subsektor peternakan, dan (5) kelembagaan peternak sebagai wadah transfer teknologi dan informasi (Daryanto, 2009).
Penelitian mengenai daya saing (keunggulan komparatif dan kompetitif) telah banyak dilakukan diantaranya Haryono (1991), Emilya (2001) Purmiyanti (2002), Sumaryanto dan Friyanto (2003), serta Kurniawan (2008). Untuk penelitian daya saing usaha ternak belum banyak dilakukan. Penelitian-penelitian yang relevan dengan penelitian ini berkaitan dengan daya saing usaha peternakan khususnya usaha ternak sapi potong diantaranya adalah penelitian Lole (1995), Nalle (1996), Nefri (2000), Perdana (2003), Lamy et al. (2003), Simatupang dan Hadi (2004), Widodo (2006) serta Daryanto (2009).
Simatupang dan Hadi (2004) menyimpulkan bahwa diproyeksikan Indonesia tahun 2020 akan mengalami defisist produksi daging sapi sebesar 2.7 juta ekor. Sebagai negara kepulauan, Indonesia kurang mempunyai keunggulan komparatif untuk mengembangkan sistem peternakan berbasis pakan rumput (grass-fed livestock farming), seperti sapi potong, kerbau, kambing, dan domba, sehingga daya saing usaha peternakan di Indonesia terletak pada sistem peternakan berbasis pakan asal biji-bijian (grain-fed livestock farming), yaitu ayam ras pedaging dan petelur. Oleh karena itu, untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan daya saing peternakan di Indonesia, dengan mempertimbangkan keragaman biofisik wilayah dan potensi sosial ekonomi (termasuk pasar domestik yang sangat besar), diperlukan pengembangan teknologi spesifik lokasi usaha peternakan intensif (grain-fed) yang berorientasi pada permintaan pasar domestik; sekaligus memfasilitasi juga usaha peternakan berbasis pakan rumput agar tidak punah.
Analisis daya saing usaha ternak sapi potong menggunakan metode analisis PAM menunjukkan hasil yang berbeda untuk berbagai daerah. Penelitian
Nalle (1996) terhadap pengusahaan ternak sapi potong di wilayah Nusa Tenggara Timur, memperlihatkan bahwa baik untuk sistem pengembalaan maupun sistem ikat serta pada orientasi substitusi impor dan perdagangan antar wilayah nilai Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD) nya lebih kecil dari satu. Hal ini berarti bahwa pengusahaan komoditi ternak sapi potong di Nusa Tenggara Timur adalah layak dan memiliki keunggulan komparatif. Namun Nefri (2000) menghasilkan bahwa keunggulan kompetitif dan komparatif terhadap kinerja usaha peternakan sapi potong di Indonesia, memperlihatkan tingkat daya saing yang relatif masih rendah baik sebelum atau sesudah perbaikan pakan, dimana nilai efisiensi ongkos produksi (C/P ratio) adalah sebesar 0.87-0.88 dan tingkat pengembalian modal (ROI) 12-13 persen serta Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD) 0.52-0.56.
Penelitian yang dilakukan Perdana (2003) menghasilkan bahwa usaha penggemukan sapi menguntungkan secara sosial dan dengan sendirinya memiliki keunggulan komparatif. Selain itu tingkat keuntungan yang diperoleh antar skala usaha (kecil, sedang, dan besar) tidak bebrbeda nyata. Widodo (2006) menghasilkan pengelolaan sapi potong model Sistem Integrasi Pertanian Ternak (SIPT) memiliki keunggulan komparatif dengan indikator nilai Koefisien Biaya Sumberdaya Domestik (KBSD) atau Domestic Resources Cost Coeficient (DRCC) < 1.0 yaitu 0.57. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebijakan diarahkan pada upaya mempertinggi harga bayangan sapi potong (harga batas) dan memperendah harga input. Mempertinggi harga bayangan daging sapi dilakukan dengan penerapan tarif impor sehingga output sapi domestik mampu bersaing
secara kompetitif dengan sapi impor. Hal ini dapat diterapkan karena kebijakan tarif pemerintah masih rendah yaitu dibawah lima persen.
Lamy et al. (2003) menganalisa sekelompok indikator dan faktor-faktor determinan yang memungkinkan perbandingan penilaian daya saing sektor produksi daging sapi di Argentina dan Kanada. Hasil analisis menunjukkan bahwa pangsa ekspor Argentina menurun sementara untuk Kanada meningkat. Biaya pemasaran di Argentina lebih tinggi dibandingkan Kanada. Namun produsen di Argentina berada dalam posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan Kanada jika dilihat dari potensi lahan, dimana Argentina memiliki wilayah luas yang tidak digunakan dan dapat dimanfaatkan untuk ternak produksi. Sebaliknya Kanada tidak memiliki lahan tidur seperti itu dan karenanya untuk meningkatkan produksi ternak maka harus dilakukan melalui peningkatan efisiensi seperti peningkatan produksi padang rumput, faktor genetik, dan lain-lain.
Penelitian Daryanto dan Saptana (2009) menghasilkan bahwa beberapa faktor penentu dalam pengembangan kemitraan berdaya saing, diantaranya : (1) konsolidasi kelembagaan di tingkat peternak rakyat, (2) pengembangan sistem informasi, terutama informasi pasar dan harga, serta (3) perlunya perlindungan peternak rakyat dan adanya praktek-praktek kegiatan usaha yang mengarah kepada monopoli dan atau persaingan usaha yang tidak sehat.
Dengan mengacu pada hasil-hasil penelitian terdahulu tersebut terlihat bahwa penelitian sebelumnya khususnya untuk usaha ternak sapi potong mengkaji secara terpisah antara analisis produksi dengan daya saing. Untuk itu dalam studi ini peneliti ingin menganalisis produksi dan daya saing sebagai suatu kesatuan karena produksi dan daya saing dalam suatu usahatani ternak sangat terkait.
2.3. Kebijakan Pemerintah Terhadap Input dan Output Komoditas