mencapai 57,33%. Demikian pula untuk aspek pengelolaan sosial ekonomi dan budaya KP3K Kabupaten Biak Numfor dikategorikan cukup efektif, yakni dengan nilai ordinasi efektivitas mencapai 53,81%.
4
KAJIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PEMANFAATAN
SUMBERDAYA PADA KP3K KABUPATEN BIAK
NUMFOR
Pendahuluan
Keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut menjadi sangat penting dalam suatu upaya pengelolaan. Upaya memanfaatkan sumber daya ikan secara optimal, berkelanjutan, dan lestari merupakan tuntutan yang sangat mendesak bagi sebesarnya-besarnya kemakmuran rakyat, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan.
Berdasarkan hal ini, guna memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat dan negara Indonesia serta menjamin keberlangsungan usaha perikanan itu sendiri, maka sudah seharusnya pembangunan dan aktivitas perikanan nasional secepatnya diarahkan untuk menerapkan kaidah-kaidah perikanan berkelanjutan. Gombos et al (2013) menyatakan bahwa eksploitasi secara berlebihan sumberdaya pesisir dan laut sangat berbahaya dalam pemanfaatan sumberdaya itu secara berkelanjutan, sekaligus akan mempercepat hilangnya keragaman hayati dan kestabilan ekosistem.
Salah satu indikator keberhasilan pola pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah apabila kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan, terutama masyarakat di kawasan pesisir, yang selama ini umumnya masih prasejahtera. Untuk itu diperlukan mata pencaharian yang berkelanjutan, yaitu matapencaharian yang dapat terus berlanjut hingga masa depan walaupun ada perubahan dan bencana dan tanpa kehilangan apa yang memungkinkan adanya mata pencaharian. Antara lain produksi pangan atau siap sedia menghadapi bencana alam. Perlu diingat bahwa penggenjotan/peningkatan pendapatan mungkin hanya salah satu bagian dari mata pencaharian (Govan, 2011).
Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut diharapkan menjadi salah satu tumpuan ekonomi nasional di masa mendatang. Hal ini dikarenakan besarnya potensi sumberdaya alam yang ada didalamnya serta besarnya peluang serapan tenaga kerja yang dapat diterima dan bekerja didalamnya serta banyaknya sektor yang dapat terlibat. Potensi pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut, tidak hanya pada sektor perikanan semata, tetapi juga pada berbagai sektor ekonomi lainnya, seperti pariwisata, transportasi laut, dan energi terbarukan. Tajerin et al. (2010)
64
menemukan bahwa secara umum posisi keterkaitan subsektor kelautan dan perikanan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian Indonesia termasuk dalam kelompok potensial dan kelompok kurang berkembang. Lebih jauh menurut Yusviaty (2010) seiring dengan menipisnya sumberdaya alam di daratan dan melimpahnya sumberdaya pesisir dan lautan yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu pertimbangan dengan adanya pergeseran paradigma menuju negara maritim dari semula negara terestrial. Hal tersebut menjadi salah satu alasan terhadap pentingnya pembangunan di bidang kelautan dan perikanan.
Pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, khususnya kawasan konservasi haruslah dilakukan secara holistik, dimana tidak dapat dipisahkan antara pemanfataan ekonomi semata, namun juga harus ditinjau dari aspek lingkungan dan sosial. Eksploitasi sumberdaya perikanan tidak boleh dilakukan secara merusak, dan harus mempertimbangkan pemanfaatan secara berkelanjutan (Adam 2012). Dengan demikian, menjadi sangat penting untuk melakukan kajian tingkat pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor, sebagai upaya untuk melihat tingkat keberlanjutan pengelolaan dengan berbagai atribut keberlanjutnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya KP3K Kabupaten Biak Numfor, terkait dengan pemanfaatan perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pariwisata.
Metode Penelitian Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam kajian tingkat keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor, meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung di lapangan khususnya yang terkait dengan arahan pemanfaatan sumberdaya KP3K dengan melakukan wawancara dan observasi langsung di lapangan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Responden yang menjadi target kuesioner adalah kepala desa, tokoh masyarakat dan nelayan, mereka diberikan pertanyaan yang berbeda. Jumlah nelayan yang diwawancarai adalah 10% dari total populasi nelayan di setiap desa (Torre-Castro & Ronnback, 2004). Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari dinas terkait baik berupa laporan, data dan informasi lainnya. Jenis dan metode pengumpulan data yang dilakukan, lebih rinci pada Tabel 27.
Metode Analisis Data
Metode analisis data disesuaikan dengan tujuan penelitian, yakni menganalisis tingkat keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut KP3K Kabupaten Biak Numfor. Metode analisis data menggunakan pendekatan analisis keberlanjutan yang dilakukan dengan metode MDS (Multi-Dimensional Scaling) dengan bantuan software Rapfish. Rapfish (Rapid Appraisal for Fisheries), yang dikembangkan oleh Pitcher (1999) dan Pitcher and Preikshot (2001).
65
Tabel 27 Jenis dan sumber data kajian keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut KP3K Kabupaten Biak Numfor
Aspek
kajian Variabel Jenis data Sumber data
Perikanan Tangkap
Potensi SDI (perikanan tangkap) Sekunder Dinas KP
Panjang rata-rata ikan tertangkap pertama kali/length capture (lc)
Primer Observasi
Hasil tangkapan berdasarkan trophic group Sekunder Dinas KP
CPUE Sekunder Dinas KP
MSY Primer Analisis
Jenis alat tangkap yang diperbolehkan Sekunder Dinas KP
Jenis alat tangkap ramah lingkungan & selektif Primer Wawancara/Observasi
Jenis kapal yang diperbolehkan Sekunder Dinas KP
Metode pengoperasian alat tangkap Primer Wawancara/Observasi
Potensi konflik pemanfaatan perikanan tangkap Primer Wawancara/Observasi
Teknologi perikanan tangkap (alat tangkap) Primer Observasi
Sarana penangkapan ikan Primer Wawancara/Observasi
Pemasaran hasil tangkapan Primer Wawancara/Observasi
Perikanan Budidaya
Potensi budidaya Sekunder Dinas KP
Jumlah pelaku usaha budidaya Sekunder Dinas KP
Jenis/spesies ikan yang dibudidaya Sekunder Dinas KP
Sumber bibit ikan budidaya Sekunder Dinas KP
Jenis pakan diperbolehkan Sekunder Dinas KP
Teknologi budidaya ikan Primer Wancara/Observasi
Jumlah unit usaha yang diperbolehkan Sekunder Dinas KP
Nilai Net B/C Primer Analisis
Dukungan sosial budaya untuk kegiatan budidaya
Primer Wawancara/Observasi
Pariwisata Jenis kegiatan wisata Sekunder Dinas KP
Jumlah pelaku dan besaran usaha yang dapat diizinkan
Sekunder Dinas KP
Peluang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan wisata bahari
Sekunder Dinas KP
Jumlah wisatawan yang diperbolehkan per kurun waktu/tempat
Sekunder Dinas KP
Jenis dan jumlah infrastruktur yang diperbolehkan
Sekunder Dinas KP
Jumlah kapal yang diperbolehkan dalam 1 tempat
Sekunder Dinas KP
Jenis dan jumlah fasilitas kesehatan, serta paramedis
Sekunder Dinas KP
Sarana dan prasarana penunjang wisata Primer Wawancara/Observasi
Kelembagaan (manajemen) pengelolaan wisata
Primer Wawancara/Observasi
Informasi wisata Primer Observasi
Pendekatan analisis keberlanjutan ini lebih didasarkan pada prinsip Multi Criteria Analysis (MCA) dengan mengandalkan algoritma yang disebut sebagai algoritma MDS (Fauzi dan Anna 2005). Multi Dimensional Scaling (MDS) merupakan teknik analisis statistik yang melakukan transformasi multidimensi (Kavanagh dan Pitcher, 2004; Fauzi dan Anna 2003; dan Budiharsono 2007). Selanjutnya nilai skor dari masing-masing atribut dianalisis secara multidimensi untuk menentukan posisi keberlanjutan pemanfaatan KP3K yang dikaji relatif terhadap dua titik acuan yaitu; titik ‟baik (good) dan titik ”buruk (bad). Untuk
66
memudahkan visualisasi digunakan analisis ordinasi. Proses ordinasi menggunakan software Rapfish (Kavanagh dan Pitcher 2004). Selanjutnya Sickle (1997) menyatakan bahwa MDS dapat mempresentasikan metode ordinasi secara efektif.
Objek atau titik yang diamati dipetakan kedalam ruang dua atau tiga dimensi, sehingga objek atau titik tersebut diupayakan sedekat mungkin terhadap titik asal. Dengan kata lain, dua titik atau objek yang sama dipetakan dalam satu titik yang saling berdekatan satu sama lain. Sebaliknya objek atau titik yang tidak sama digambarkan dengan titik-titik yang berjauhan (Fauzi dan Anna 2005). Alder et al. 2001 menyatakan bahwa teknik ordinasi dengan mengkonfigurasikan jarak antar titik dalam t-dimensi yang mengacu pada jarak euclidean antar titik. Posisi titik-titik keberlanjutan secara visual akan sangat sulit dibayangkan mengingat dimensinya sangat banyak. Oleh karena itu untuk memudahkan visualisasi posisi ini digunakan analisis ordinasi dengan metode multi dimensi scaling (MDS). Sebelum MDS dilaksanakan, maka seluruh data distandarisasi, yaitu normalisasi pada semua atribut. Proses ordinasi SIMFITGO dilakukan setelah pemberian skor pada setiap atribut dan dimensi, serta penentuan titik acuan utama (“baik” dan “buruk”). Melalui analisis MDS, maka posisi titik keefektifan dapat divisualisasikan dalam dua dimensi (sumbu vertikal dan horisontal). Melalui metode rotasi sumbu maka posisi titik-titik tersebut dapat diproyeksikan pada garis mendatar dimana titik ekstrem “buruk” diberi nilai skor 0% dan titik ekstrim “baik” diberi skor 100%. Posisi keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut KP3K Kabupaten Biak Numfor yang akan dikaji berada diantara dua titik ekstrim dan dapat dianalisis indeks keberlanjutannya dengan melihat nilai persentase pada garis horisontal tersebut.
Analisis keberlanjutan pengelolaan dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tingkat keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut pada Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor. Berikut adalah tahapan operasional analisis keberlanjutan dengan menggunakan softwareRapfish, denga mengacu pada Yusuf (2016).
Penilaian terhadap keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut (KP3K) dilakukan dengan pendekatan aspek/arahan pemanfaatan kawasan KP3K Kabupaten Biak Numfor (DKP Biak Numfor, 2015), yang meliputi; arahan kegiatan perikanan tangkap, arahan pemanfaataan perikanan budidaya dan arahan pemanfataan pariwisata dengan berbagai atribut (Tabel 28-30).
Penyusunan indeks dan status keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut KP3K Kabupaten Biak Numfor dari masing-masing aspek pemanfaatan dan atributnya, mengikuti konsep yang dikembangkan oleh Pitcher (1999). Skor penilaian setiap aspek dinyatakan dengan skala terburuk (bad) 0% hingga terbaik (good) 100%. Nilai indeks >50% dapat dinyatakan bahwa aspek yang dikaji telah berkelanjutan. Sebaliknya jika nilai indeks <50% aspek tersebut belum atau tidak berkelanjutan. Kategori indeks keberlanjutan disajikan pada Tabel 31.
Hasil penentuan keberlanjutan dari masing-masing dimensi, selanjutnya dibuat dalam diagram layang-layang (kite diagram), untuk melihat trade-off keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut kawasan konservasi perairan daearah (KP3K) Kabupaten Biak Numfor.
67 Tabel 28 Indikator penilaian atribut keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya
perikanan tangkap KP3K Kabupaten Biak Numfor
Arahan Pemanfaatan Penilaian Atribut Indikator Penilaian
Skor Baik Buruk
Perikanan Tangkap
Potensi SDI (perikanan tangkap)
1; 2; 3; 3 1 Persentase spesies ikan yang potensial dari hasil
perikanan tangkap
Skor/Nilai: Spesies ikan ekonomis penting
mencapai >50% (3), berkisar 30-50% (2), dan <30% (1)
Panjang rata-rata ikan tertangkap pertama kali/length capture
(LC)
1; 2; 3; 3 1 Persentase nilai LC ikan tertangkap pertama kali
Skor/Nilai: LC >50% (3), LC berkisar 30-50% (2), dan LC <30% (1)
Hasil tangkapan berdasarkan trophic group
1; 2; 3 3 1 Didominasi karnivora dan omnivora (3) didominasi
karnivora (2) didominasi herbivora (1)
CPUE 1; 2; 3 3 1 Catch Per Unit Effort (CPUE) merupakan
gambaran laju perikanan tangkap per tahun. Penilaian Nilai laju CPUE dapat menggambarkan kondisi status penangkapan.
Skor/Nilai: Laju yang konsisten atau meningkat menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan di suatu wilayah masih menyisakan ikan yang cukup untuk bereproduksi (3); laju tetap (2) Laju yang menurun menunjukkan jumlah ikan yang tertangkap sudah berkurang (1)
MSY 1; 2; 3 3 1 MSY merupakan upaya untuk mengetahui nilai
maksimum yang dapat ditangkap, agar pengelolaan perikanan dapat dilakukan secara berkelanjutan atau perikanan tangkap lestari. Penilaian didasarkan pada persentase tingkat penangkapan;
Nilai/Skor: lebih dari MSY (overfishing) (1), sama dengan MSY (2) dan kurang dari MSY (3)
Jenis alat tangkap yang diperbolehkan
1; 2; 3 3 1 Jenis alat tangkap didominasi (>80%) oleh alat
tangkap pancing dan jaring insang (3), jumlah alat tangkap jaring dan pancing sama banyak dengan alat lainnya (2) jenis alat tangkap lainnya mendominasi > 80% dari alat tangkap jaring dan pancing (1)
Jenis alat tangkap ramah lingkungan & selektif
1; 2; 3 3 1 Jenis alat tangkap yang ramah lingkungan &
selektif lebih dominan (>80%) (3), jumlah alat tangkap yang ramah lingkungan & selektif dengan yang destruktif sama banyaknya (2) jumlah alat tangkap destruktif lebih dominan (>80%) (1) Jenis kapal/perahu
yang diperbolehkan
1; 2; 3 3 1 Perahu yang diperbolehkan lebih dominan (>50%)
motor tempel (3), perahu tanpa motor lebih dominan (>50%) (2), kapal motor (>15PK) lebih dominan (1) Metode pengoperasian
alat tangkap
1; 2; 3 3 1 Mudah dan efektif (3), mudah tapi tidak efektif
atau efektif tapi sulit (2) sulit dan tidak efektif (1) Potensi konflik
pemanfaatan perikanan tangkap
1; 2; 3 3 1 Potensi konflik besar (3), sedang (2) dan
rendah/tidak ada (1) Teknologi perikanan
tangkap (alat tangkap)
1; 2; 3 3 1 Tradisional (3), semi-modern (mix modern dan
tradisonal) (2), dan modern (1) Sarana penangkapan ikan 1; 2; 3 3 1 >50% Tradisional/perahu TM (3), 30-50% perahu TM (2), dan <30% (1) Pemasaran hasil tangkapan
1; 2; 3 3 1 Pasar lokal (1), pasar lokal dan luar (2) dan pasar luar (3)
68
Tabel 29 Atribut keberlanjutan pemanfaatan SDPL KP3K Kabupaten Biak Numfor (Pariwisata)
Arahan Pemanfaatan Penilaian Atribut Indikator Penilaian
Skor Baik Buruk
Jenis kegiatan wisata 1; 2; 3 3 1 Jenis aktivitas wisata yang dapat dikembangkan
di kawasan konservasi perairan disesuaikan dengan potensi dan daya dukung kawasan konservasi.
Skor/Nilai: Rekreasi alam (3); gabungan (2) dan wahana (1)
Jumlah pelaku dan besaran usaha yang dapat diizinkan
1; 2; 3 3 1 Usaha layanan wisata yang dapat diijinkan
meliputi rumah makan, transportasi wisata, penginapan (Home Stay), penyewaan alat renang dan snorkling dan penyewaan alat selam. Nilai/Skor:>30% yang berusaha (3), 10-30% (2) atau tergolong cukup banyak dan <10% tergolong kurang
Peluang keterlibatan Masyarakat dalam kegiatan wisata bahari
1; 2; 3; 3 1 Peluang pelibatan masyarakat dalam
memanfaatkan wisata bahari terbuka lebar, karena itu agar tidak terjadi kesenjangan sosial antara masyarakat lokal dengan pengusa ha maka pemerintah harus memberikan peluang yang sama dan adil bagi semua pihak untuk berpartipasi dalam mendapatkan perolehan manfaat.
Skor/Nilai: Peluang besar (3), peluang cukup besar (2) kurang (1) dan tidak ada peluang (1) Jumlah wisatawan
yang diperbolehkan per kurun
waktu/tempat
1; 2; 3 3 1 Jumlah wisatawasan yang diperbolehkan per
kurun waktu dan tempat tertentu berdasarkan kegiatan wisata yang dilakukan di KP3K Kabupaten Biak Numfor.
Skor/Nilai: Kurang dari daya dukung (3), sesuai daya dukung maksimum (2) dan melebihi daya dukung (1)
Jenis dan jumlah infrastruktur
1; 2; 3 3 1 Infrastruktur yang diperbolehkan meliputi saran
a dan prasarana yang mendukung wisata meliputi
MCK/ tolilet , air bersih tempat sampah,
pondok wisata, rumah makan dan lain lain Skor/Nilai: Lengkap memenuhi syarat (3), kurang lengkap dengan dan tidak memenuhi syarat (2) tidak tersedia fasilitas (1)
Jumlah kapal dalam 1 tempat
1; 2; 3 3 1 Jumlah kapal yang diperbolehkan dalam 1 tempat
tergantung dari ukuran (daya muat orang) perahu, panjang dermaga dan ukuran pelampung-tambat (buoy); maksimum berkisar antara dua sampai empat perahu pada satu waktu yang bersamaan di suatu tempat.
Skor/Nilai: 2-4 kapal (3), 1-2 kapal (2) >4 kapal (1)
Jenis dan jumlah fasilitas kesehatan, serta paramedis
1; 2; 3 3 1 Tersedia puskesmas dan klinik (3) tersedia klinik
(2) dan tidak ada klinik (1) Sarana prasaranan
penunjang wisata
1; 2; 3 3 1 Terbatas (1), cukup (2), dan mendukung (3)
Kelembagaan (managemen) pengelolaa wisata
1; 2; 3 3 1 Tidak/kurang profesional (1), cukup profesional
(2) dan profesional (3)
Informasi wisata 1; 2; 3 3 1 Terbatas (1), cukup bagus (2) dan sangat bagus
69 Tabel 30 Atribut keberlanjutan pemanfaatan perikanan budidaya KP3K
Kabupaten Biak Numfor Arahan
Pemanfaatan
Penilaian Atribut
Indikator Penilaian Skor Baik Buruk
Perikanan Budidaya
Potensi budidaya
1; 2; 3 3 1 Sangat potensial (>50% lahan bisa untuk budidaya) (3) , cukup potensial 30-50% (2), kurang/tidak potensial (<30
Jumlah pelaku usaha budidaya
1; 2; 3 3 1 banyak (>50% dari rumah tangga nelayan/RTN) (3) , cukup banyak 30%- 50% dari RTN (2), kurang/sangat kurang (<30%) dari RTN (1)
Jenis dan spesies ikan yang dapat dibudidayakan
1; 2; 3 3 1 Ekonomis penting >50% spesies (3), 30- 50% spesies (2), <30% spesies (1)
Sumber bibit ikan budidaya
1; 2; 3 3 1 Lokal semua (3), sebagian lokal (2) semua dari luar (1)
Ketersediaan Jenis pakan
1; 2; 3 3 1 Pakan curah (3); campuran (2) dan pelet total (1)
Teknologi budidaya ikan
1; 2; 3 3 1 Ramah lingkungan (3), semi (2) dan tidak ramah lingkungan (1)
Jumlah unit usaha yang diperbolehkan
1; 2; 3 3 1 Kurang dari daya dukung (3), sesuai daya dukung (2) melebihi daya dukung (1) Net B/C 1; 2; 3 3 1 Nilai Net B/C > 1, layak (3) Nilai Net
B/C = 1 (cukup layak) (2) dan Nilai Net B/C <1 tidak layak (1) Dukungan sosial budaya terhadap kegiatan budidaya
1; 2; 3 3 1 Rendah/Kurang (1), Cukup (2) dan Mendukung (3)
Tabel 31 Kategori indeks keberlanjutan
Nilai Indeks Kategori
0 – 25 Buruk; Tidak Efektif
26 – 50 Kurang; Kurang Efektif
51 – 75 Cukup; Cukup Efektif
76 – 100 Baik; Sangat Efektif
Sumber: Pitcher (1999)
Hasil Dan Pembahasan Keberlanjutan Pemanfaatan Perikanan Tangkap
Keberlanjutan pemanfaatan perikanan tangkap merupakan penggambaran tingkat keberlanjutan kegiatan perikanan tangkap di Kawasan Pesisir dan Pulau-
70
Pulau Kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor, yang evaluasi berdasarkan 9 (sembilan) indikator/atribut pemanfaatan sumberdaya untuk kegiatan perikanan tangkap, meliputi; a) Potensi SDI (perikanan tangkap), b) Panjang rata-rata ikan tertangkap pertama kali/length capture (LC), c) Hasil tangkapan berdasarkan trophic group, d) CPUE, e) MSY, f) Jenis alat tangkap yang diperbolehkan, g) Jenis alat tangkap ramah lingkungan dan selektif, h) Jenis kapal yang diperbolehkan, i) Metode pengoperasian alat tangkap, j) Potensi konflik pemanfaatan perikanan tangkap, k) Teknologi perikanan tangkap (alat tangkap), Sarana penangkapan ikan, dan l) Pemasaran hasil tangkapan. Grafik ordinasi arahan pemanfaatan perikanan tangkap ditunjukkan pada Gambar 18.
Gambar 18 Grafik ordinasi keberlanjutan arahan pemanfaatan perikanan tangkap Hasil analisis Rapfish untuk arahan pemanfaatan perikanan tangkap diperoleh nilai ordinasi 57,66% atau tergolong berkelanjutan. Hasil analisis Rapish tersebut dapat diterima mengingat hasil uji validasi diperoleh nilai Monte Carlo sebesar 56,99% yang menunjukkan selisih perbedaan yang cukup kecil yakni 0,67% atau kurang dari 1%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pengaruh galat (error), atau dampak dari kesalahan pemberian skor relatif kecil. Dengan demikian, model Rapfish yang dikembangkan, dinyatakan memadai sebagai penduga nilai indeks keberlanjutan. Menurut Kavanagh and Pitcher (2004), bahwa analisis Monte Carlo dapat digunakan sebagai metode simulasi untuk mengevaluasi dampak kesalahan acak/galat (random error) dalam analisis statistik yang dilakukan. Hal yang sama juga dikemukakan Fauzi et al. (2005) bahwa analisis Monte Carlo dapat menjadi indikator kesalahan yang disebabkan pemberian skoring pada setiap atribut, variasi pemberian skoring yang bersifat multidimensi karena adanya opini yang berbeda, proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang, dan kesalahan dalam melakukan input data atau data yang hilang.
Hasil uji ketepatan (goodness of fit) juga menunjukkan bahwa model pendugaan indeks keberlanjutan dapat digunakan, dimana hasil analisis Rapfish diperoleh nilai Squared Correlation (R2) adalah 0,9282 atau mendekati 1. Nilai R- square semakin mendekati 1 berarti data yang ada semakin terpetakan dengan sempurna. Nilai tersebut menggambarkan bahwa lebih dari 92,82% model dapat
71 dijelaskan dengan baik, dan sisanya <7,18% yang dijelaskan oleh faktor/atribut lain. Kavanagh (2001) menyebutkan bahwa nilai Squared Correlation (R2) lebih dari 80% menunjukkan bahwa model pendugaan indeks keberlanjutan baik dan memadai digunakan.
Disisi lain, hasil uji ketidaktepatan (a lack of fit measure) atau nilai stress diperoleh 0,1652 atau mendekati 0 (nol). Nilai stress yang mendekati nol, maka output yang dihasilkan semakin mirip dengan keadaan yang sebenarnya atau semakin rendah nilai stress, maka semakin baik/cocok model tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi nilai stress, maka semakin tidak cocok model tersebut. Kavanagh (2001) menyebutkan bahwa nilai stress yang dapat ditolerir adalah <20%, dengan demikian model dapat diterima dengan baik karena memiliki nilai stress 16,52%.
Nilai ordinasi tersebut menggambarkan kondisi pemanfaatan sumberdaya dikategorikan sangat baik (berkelanjutan) dari sisi perikanan tangkap. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan kegiatan perikanan tangkap yang dilakukan oleh masyarakat pada Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) umumnya menggunakan alat yang masih sederhana, sehingga stock ikan di sekitar kawasan masih sangat melimpah. Disamping itu adanya kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan konservasi juga turut perperan dalam melindungi habitat ikan karang. Berdasarkan penelitian Leleu et al. (2012), serta Reuchlin-Hugenholtz & McKenzie (2015) diketahui bahwa Kawasan Konservasi Laut (KKL) memiliki efek menguntungkan pada sumber daya laut dan hasilnya ketika berhubungan dengan zona larang ambil (NTZs), terumbu buatan dan/atau dengan peraturan penangkapan ikan lainnya. Secara khusus, dikatakan bahwa NTZs bermanfaat bagi perikanan melalui (i) peningkatan ekspor telur dan larva yang dihasilkan dari peningkatan keberhasilan pemijahan dalam NTZ dan (ii) ekspor biomassa terhadap zona yang berdekatan (spill over) terutama biomassa antara batas NTZ dan daerah yang tidak dilindungi.
Gambar 19 Grafik leverage of attribute keberlanjutan arahan pemanfaatan perikanan tangkap
Hasil analisis leverage untuk arahan pemanfaatan perikanan tangkap, diperoleh bahwa terdapat 3 (tiga) atribut yang menjadi indikator keberlanjutan yang paling utama dari berbagai atribut lainnya, yakni; jenis alat tangkap dengan nilai RMS= 3,80 %, jenis kapal yang digunakan (RMS=3,44 %) dan cacth per unit of effort (CPUE) dengan nilai RMS=3,25 %. Hasil ini menunjukkan bahwa
72
ketiga atribut tersebut merupakan faktor yang sensitif dalam mendukung keberlanjutan perikanan tangkap di kawasan konservasi perairan daearah (KP3K) Kabupaten Biak Numfor, yang ke depan tentunya harus menjadi perhatian Pemerintah Daerah untuk dilakukan pembenahan. Kavanagh dan Pitcher (2004) menyatakan bahwa nilai RMS menunjukkan besarnya peranan setiap atribut terhadap sensitivitas status keberlanjutan.
Berdasarkan hasil analisis leverage mengindikasikan bahwa atribut jenis alat tangkap merupakan atribut yang paling sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan perikanan tangkap. Atribut yang sensitif ini merupakan faktor pngungkit dalam dimensi perikanan tangkap, hal ini karena dalam kenyataannya di lapangan, walaupun sebagian besar nelayan menggunakan alat tangkap yang masih tergolong ramah lingkungan seperti jaring dan pancing, tetapi masih ada nelayan yang menggunakan alat tangkap yang dapat merusak terumbu karang seperti tombak, panah dan speargun. Untuk itu diperlukan pengawasan dan pengaturan yang ketat tentang penggunaan alat tangkap dari pihak Dinas Kelautan dan Perikanan, agar nelayan benar-benar hanya menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan.
Charles (2001), menyatakan bahwa agar perikanan tangkap dapat berkelanjutan, maka pengelolaannya harus diatur sebagai berikut; (a) pembatasan ukuran mata jaring (membuat mata jaring lebih besar agar ikan kecil dapat lepas), memperpanjang jarak antara kail pada suatu tali. Tujuannya adalah agar ikan tumbuh lebih besar, menjadi lebih berharga saat ditangkap, (b) Penutupan musim dan tempat; untuk melindungi ikan bertelur dan juvenil (untuk meningkatkan produktivitas stok ikan) dan juga untuk mengurangi upaya penangkapan ikan pada umumnya, (c) Pengendalian upaya penangkapan ikan; pembatasan jumlah kapal, jumlah peralatan atau kapasitas perahu, untuk meningkatkan hasil tangkapan dan penampilan atau prestasi ekonomi dari usaha perikanan dengan menghilangkan upaya penangkapan ikan yang berlebihan.
Jenis kapal/perahu merupakan atribut pengungkit kedua yang turut mempengaruhi atribut ke tiga (cacth per unit of effort/CPUE) sebagai pengungkit yang saling terkait dalam upaya meningkatkan hasil tangkapan yang optimal dan lestari. Berdasarkan hasil perhitungan MSY dan F-MSY model Schaefer diketahui bahwa tingkat pemanfaatan perairan pesisir Kabupaten Biak untuk perikanan tangkap di diketahui sebesar 536,46 ton/tahun dari tingkat pemanfaatan yang optimum (MSY) sebesar 670,58 ton/tahun atau sekitar 54,53% (DKP Kab. Biak