• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Supervisi Akademik Pengawas

Banyak pakar menyatakan betapa pentingnya supervisi sebagai bagian

dari manajemen pendidikan dalam substansi ekstensinya maupun substansi

intinya.22 Menurut konsep tradisional, supervisi dilaksanakan dalam bentuk inspeksi atau mencari kesalahan. Sedangkan dalam pandangan modern,

supervisi merupakan usaha untuk memperbaiki situasi pendidikan atau

pembelajaran, yakni sebagai bantuan bagi pendidik untuk meningkatkan

kemampuan profesionalisme sehinnga peserta didik akan lebih berkualitas.23 Konsekuensi prilaku supervisi tradisonal atau Snooper Vision adalah para staf

pengajar akan menjadi takut dan mereka bekerja secara terpaksa serta

mengurangi/mematikan kreativitas guru/dosen dalam pengembangan

profesionalismenya.24

Supervisor akademik, tentu memiliki peran berbeda dengan

“pengawas”. Supervisor, lebih berperan sebagai “gurunya guru” yang siap

22

H. Burhanuddin, dkk (ed.), Manajemen Pendidikan: Analisis Substantif dan Aplikasinya dalam Institusi Pendidikan, Malang: UM Press, 2003, 11.

23

Syaiful Sagala. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: CV. Alfabeta, 2000, 228.

24

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2000, 16.21

22

membantu kesulitan guru dalam mengajar. Supervisor akademik (pengajaran)

bukanlah seorang pengawas yang hanya mencari-cari kesalahan guru.

Peranan pengawas sekolah/madrasah adalah membantu guru-guru dan

pemimpin-pemimpin pendidikan untuk memahami isu-isu dan membuat

keputusan yang bijak yang mempengaruhi pendidikan siswa.25

Dalam melaksanakan supervisi akademik, pengawas sekolah/madrasah

hendaknya memiliki peranan khusus sebagai: 1. Patner (mitra) guru dalam

meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dan bimbingan di

sekolah/madrasah binaannya; 2. Inovator dan pelopor dalam mengembangkan

inovasi pembelajaran dan bimbingan di sekolah/madrasah binaannya; 3.

Konsultan pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah binaannya; 4.

Konselor bagi guru dan seluruh tenaga kependidikan di sekolah/madrasah;

dan 5. Motivator untuk meningkatkan kinerja guru dan semua tenaga

kependidikan di sekolah/madrasah.26

Karena itu, sasaran supervisi akademik antara lain adalah untuk

membantu guru dalam hal: 1. merencanakan kegiatan pembelajaran dan atau

bimbingan; 2. melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan; 3. menilai

proses dan hasil pembelajaran/bimbingan; 4. memanfaatkan hasil penilaian

untuk peningkatan layanan pembelajaran/ bimbingan; 5. memberikan umpan

balik secara tepat dan teratur dan terus menerus pada peserta didik; 6.

25

Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan: Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia..., 20.

26

Surya Dharma, Peran dan Fungsi Pengawas Sekolah/ Madrasah. Dalam Jurnal Tenaga Kependidikan Volume 3, No. 1, April 2008. 4.

23

melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar; 7. memberikan

bimbingan belajar pada peserta didik; 8. menciptakan lingkungan belajar

yang menyenangkan; 9. mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan

media pembelajaran dan atau bimbingan; 10. memanfaatkan sumber-sumber

belajar; 11. mengembangkan interaksi pembelajaran/bimbingan (metode,

strategi, teknik, model, pendekatan dan sebagainya) yang tepat dan berdaya

guna; 12. melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran/

bimbingan; dan 13. mengembangkan inovasi pembelajaran/ bimbingan.27 Sedangkan Kompetensi Supervisor Akademik pengawas berdasarkan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12 Tahun 2007 tentang standar

kompetensi pengawas sekolah/madrasah yang meliputi kompetensi

kepribadian, kompetensi supervisi manajerial, kompetensi supervisi

akademik, kompetensi evaluasi pendidikan, dan kompetensi penelitian

pengembangan.28

Secara lebih sepesiifik kompetensi akademik supervisor adalah sebagai

berikut: 1. Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan

kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan; 2. Memahami

konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan

perkembangan proses pembelajaran/ bimbingan tiap bidang pengembangan.

Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan atau

mata pelajaran berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi

27

Surya Dharma, Peran dan Fungsi Pengawas Sekolah/ Madrasah …, 4.

28

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12 Tahun 2007 tentang standar kompetensi pengawas sekolah/madrasah.

24

dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP; 3. Membimbing guru dalam

memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan

yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang

pengembangan; 4. Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP); 5. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan

pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/atau di lapangan) untuk

mengembangkan potensi siswa; 6. Membimbing guru dalam mengelola,

merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas

pembelajaran/bimbingan, dan Memotivasi guru untuk memanfaatkan

teknologi informasi untuk pembelajaran/bimbingan.

Untuk dapat melaksanakan peran-peran di atas, supervisor harus

memiliki beberapa kompetensi dan kemampuan pokok, yaitu berkaitan

dengan (substantive aspects of professional development) meliputi

pemahaman dan pemilikan guru terhadap tujuan pengajaran, persepsi guru

terhadap peserta didik, pengetahuan guru tentang materi, dan penguasaan

guru terhadap teknik mengajar. Kedua berkaitan dengan (professional

development competency areas) yaitu agar para guru mengetahui bagaimana

mengerjakan tugas (know how to do), dapat mengerjakan (can do), mau

mengerjakan (will do) serta mau mengembangkan profesionalnya (will

grow).29

Adapun teknik-teknik Supervisi Akademik dapat dilakukan secara

individual maupun kelompok. Berbagai teknik supervisi individual meliputi

29

25

kegiatan, antara lain: 1. kunjungan kelas; 2. observasi kelas; 3. Pertemuan

individual; 4. kunjungan antar kelas; dan 5. self assessment.30

Berbagai kegiatan supervisi yang dilakukan secara kelompok, antara

lain 1. orientasi bagi guru baru; 2. ujicoba di kelas atau penelitian tindakan

kelas; 3. pelatihan sensitivitas; 4. pertemuan guru yang efektif; 5. melakukan

teknik Delphi untuk mengambil keputusan mengenai perbaikan

pengajaran/sekolah; 6. mengunjungi guru lain yang profesional; 7.

pengembangan instrument ujian secara bersama; dan 8. pusat kegiatan guru.

Dalam kegiatan supervisi kelompok tersebut, tentu saja peran

supervisor yang menonjol adalah sebagai koordinator dan group leader.

Sementara itu dalam kegiatan supervisi individual, supervisor lebih berperan

sebagai konsultan. Berbagai bentuk kegiatan atau taknik supervisi tersebut

tentunya sangat tergantung pada inisiatif supervisor.

B. Supervisi Akademik Kepala Sekolah

Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 “ Tentang Penugasan Guru

Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah ” bahwa guru dapat diberikan tugas

tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah untuk memimpin dan mengelola

sekolah/madrasah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.31

Kepala sekolah memegang peranan penting dalam perkembangan

sekolah. Oleh karena itu, ia harus memiliki jiwa kepemimpinan untuk

30

Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, Metode dan Teknik Supervisi. Jakarta: Pustaka Jaya, 2008. 20.

31

Dissikpora RI, Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah, Jakarta: Disdikpora Press, 2010, 8.

26

mengatur para guru pegawai tata usaha dan pegawai sekolah lainnya. Tetapi

belum semua kepala sekolah mengerti maksud kepemimpinan, kualitas serta

fungsi-fungsi yang harus dijalankan oleh pemimpin pendidikan. Dalam hal

ini, kepala sekolah tidak hanya mengatur para guru saja, melainkan juga

ketatausahaan sekolah siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat dan orang

tua siswa. Tercapainya tujuan sekolah sepenuhnya bergantung pada

bijaksana yang terapkan kepala sekolah terhadap seluruh personal sekolah.

Kepala sekolah mempunyai beberapa peran dalam menjalankan

tugasnya. Salah satu peran kepala sekolah yaitu sebagai seorang supervisor.

Menurut Asmani supervisi merupakan kegiatan membina dan dengan

membantu pertumbuhan agar setiap orang mengalami peningkatan pribadi

dan profesinya.32 Menurut Daryanto, tujuan supervisi adalah untuk mengetahui apakah segala peraturan, perintah atau larangan dijadikan sesuai

dengan petunjuk. Kepala sekolah sebagai supervisor memberikan layanan

kepada guru untuk memperbaiki pengajaran dengan melakukan pembinaan

untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru maupun

sekolah.33

Menurut Daryanto, adapun beberapa faktor yang mempengaruhi

berhasil atau tidaknya supervisi atau cepat lambatnya hasil supervisi yaitu

lingkungan masyarakat dimana sekolah berada, besar kecilnya sekolah yang

menjadi tanggung jawab kepala sekolah, tingkatan dan jenis sekolah, keadaan

32

Jamal Ma’mur Asamani, Tips Efektif Supervisi Pendidikan Sekolah, Jogyakarta: Diva Press, 2012, 188.

33

27

guru-guru dan pegawai-pegawai yang tersedia, kecakapan dan keahlian

kepala sekolah itu sendiri.34

Sebagai supervisor, kepala sekolah mempunyai beberapa peran penting

yaitu: 1. Melaksanakan penelitian sederhana untuk perbaikan situasi dan

kondisi proses belajar mengajar; 2 . Mengadakan observasi kelas untuk

peningkatan efektivitas proses belajar mengajar; 3. Melaksanakan pertemuan

individual secara profesional dengan guru untuk meningkatkan profesi guru;

4. Menyediakan waktu dan pelayanan bagi guru secara profesional dalam

pemecahan masalah proses belajar mengajar; 5. Menyediakan dukungan dan

suasana kondusif bagi guru dalam perbaikan dan peningkatan mutu proses

belajar mengajar; 6. Melaksanakan pengembangan staf yang berencana dan

terarah; 7. Melaksanakan kerjasama dengan guru untuk mengevaluasi hasil

belajar secara komprehensif; 8. Menciptakan team work yang dinamis dan

profesional; 9. Menilai hasil belajar peserta didik secara komprehensif.35 Seorang supervisor dalam bidang pendidikan (kepala sekolah)

mempunyai tanggung jawab besar dan lebih berat daripada supervisor di

bidang lain (misalnya direktur pengawas, kepala bagian, dan lain-lain).

C. Kompetensi Pedagogik Guru

Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam

melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Kompetensi yang dimilki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru

34

Daryanto, Administrasi Pendidikan, ..., 171. 35

28

dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam penguasaan

pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru.

Artinya guru bukan saja harus pintar, tetapi juga harus pandai mentransfer

ilmunya kepada peserta didik.36

Istilah pedagogik diterjemahkan dengan kata ilmu mendidik, dan yang

dibahas adalah kemampuan dalam mengasuh dan membesarkan seorang anak.

Kompetensi pedagogik digunakan untuk merujuk pada keseluruhan konteks

pembelajaran, belajar, dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan hal

tersebut. Kompetensi pedagogik bertumpu pada kemungkinan pengembangan

potensi dasar yang ada dalam tiap diri manusia sebagai makhluk individual,

sosial dan moral.

Secara lebih sederhana terkait dengan guru, kompetensi pedagogik

berarti kemampuan guru dalam mengelola kelas sedemikian rupa agar tujuan

pendidikan dapat tercapai, yang didalamnya terdapat banyak hal cakupannya.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008

dijelaskan tentang kompetensi pedagogik, meliputi: Menguasai ilmu

pendidikan dan landasan keilmuannya, Mengimplementasikan prinsip-prinsip

pendidikan dan proses pembelajaran, dan Menguasai landasan budaya dalam

praksis pendidikan.37

Guru memiliki pengaruh luas dalam dunia pendidikan. Di sekolah ia

adalah pelaksana administrasi pendidikan yaitu bertanggung jawab agar

36

Nanang Hanifah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2009, 103.

37 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian RI, 2010, “Lomba Fun Science 2010”, http://pendis.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=6001, di Unduh tanggal 06 Agustus2016, pukul: 17:23.

29

pendidikan dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, guru harus

memiliki kompetensi dalam mengajar. Kompetensi pedagogik merupakan

salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam

jenjang pendidikan apapun.

Istilah kompetensi memiliki banyak makna, ada beberapa definisi

tentang pengertian kompetensi yaitu:38

1. Dalam UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditulis:

Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan

perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru atau

dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.39

2. Dalam bukunya Dr. H. Syaiful Sagala, M. Pd. yang berjudul

Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan di jelaskan:

Kompetensi adalah perpaduan dari penguasaan, pengetahuan,

keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan

berpikir dan bertindak dalam melaksanakan tugas/pekerjaannya.40

3. Menurut W. Robert Houston memberikan pengertian adalah

sebagai berikut : “Competence” ordinarily is difined as “adequacy

38

Depdiknas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, Jakarta: CV. Mini Jaya Abadi, 2003, 9.

39

Depdiknas, UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Jakarta: CV. Mini Jaya Abadi, 2005, 7.

40

Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2009, 23.

30

for a task” or as “possession of require knowledge, skill and abilities”.41

Dari uraian diatas nampak bahwa kompetensi mengacu pada

kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan.

Kompetensi guru menunjuk kepada performance dan perbuatan yang rasional

untuk memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas

kependidikan. Dikatakan rasional karena mempunyai arah dan

tujuan, sedangkan performance adalah perilaku nyata dalam arti tidak hanya

diamati tetapi mencakup sesuatu yang tidak kasat mata.

Pedagogik adalah teori mendidik yang mempersoalkan apa dan

bagaimana mendidik itu sebaik-baiknya.42 Oleh sebab itu pedagogik dipandang sebagai suatu proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah

laku manusia mengalami perubahan.43

Adapun pengertian kompetensi pedagogik adalah kemampuan dalam

pengelolaan peserta didik, meliputi:44

1. Pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan.

2. Guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik, sehingga

dapat didesain strategi pelayanan belajar sesuai keunikan masing-masing

peserta didik.

41

Roestiyah N.K “Masalah-Masalah Ilmu Keguruan” Jakarta: Bina Aksara, 1982, 4.

42

Edi Suardi, Pedagogik, Bandung: Angkasa OFFSET, 1979, 113.

43

Dewi Gusti, Kompetensi Pedagogik, http://dewigusti.blogspot.com. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2016, Pukul: 16.36 WIB.

44

31

3. Guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus baik dalam bentuk

dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar.

4. Guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran

berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

5. Mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan

suasana dialogis dan interaktif.

6. Mampu memanfaatkan tegnologi pembelajaran

7. Mampu melakukan evaluasi hasil belajar dengan memenuhi prosedur

dan standar yang dipersyaratkan. Sebagaimana dalam firman Allah

dalam surat al-Baqarah ayat 31 berikut:

بَهَّلُك َءبَمْسلأا َمَدآ َنَّلَعَو

ْنِإ ِءلاُؤَه ِءبَمْسَأِب يِوىُئِبْوَأ َلبَقَف ِةَكِئلاَمْلا ىَلَع ْنُهَضَرَع َّنُث

َهيِقِدبَص ْنُتْىُك

ا:ةرقبلا(

3

)

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”. (Qs. al-Baqarah: 31)45

ayat di atas menerangkan pengevaluasian terhadap nabi Adam tentang

asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya dihadapan malaikat.

8. Mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui

kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler untuk mengaktualisasikan

berbagai potensi yang dimilikinya.46

45

Sunarjo, Al-qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Lentera Islami, 2002, 21.

46

32

Sedangkan pengertian guru dalam kamus besar Bahasa Indonesia

adalah orang yang pekerjaannya mengajar.47 Dan menurut Roestiyah N.K. bahwa guru adalah sebagai pembimbing, untuk membawa anak didik

kearah kedewasaan, pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk

anak menurut sekehendaknya.48

Dalam perspektif Islam, pendidik adalah orang-orang yang

bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan

mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi

afektif, koqnitif maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran

Islam.49

Perlu diketahui bahwasannya pendidikan agama Islam sendiri adalah

bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hokum-hukum agama Islam menuju

kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi

pedagogik guru PAI adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan

dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai oleh guru PAI

dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan

mengevaluasi peserta didik sehingga dapat meningkatkan

perkembangan jasmani dan rohani mencapai tingkat kedewasaan

sehingga mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya sebagai

(kholifah fil ardh) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

47

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Jakarta: Balai Pustaka, 1989, 288.

48

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik, Jakarta: Rineka Cipta, 2000, 38.

49

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004, 74.

33

Adapun kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh guru

khususnya guru PAI, meliputi:

1. Pemahaman terhadap peserta didik, sedikitnya ada empat hal yang harus

dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu: a) tingkat kecerdasan; b)

kreativitas; c) cacat fisik; d) perkembangan kognitif.

2. Perancangan pembelajaran, dalam pembelajaran terdapat kegiatan

memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencapai

hasil pembelajaran yang diinginkan. hal ini mencakup tiga kegiatan

yaitu: a) identifikasi kebutuhan; b) identifikasi kompetensi; c)

penyusunan program pembelajaran.50

3. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, dalam peraturan

pemerintah tentang guru dijelaskan bahwa guru harus memiliki

kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan

dialogis. Hal ini berarti bahwa, pelaksanaan pembelajaran harus

berangkat dari proses dialogis antar sesama subjek pembelajaran

sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikatif.

4. Pemanfaatan teknologi pembelajaran, teknologi pembelajaran

merupakan sarana pendukung untuk memudahkan pencapaian tujuan

pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan penyajian

data, informasi, materi pembelajaran dan variasi budaya. Oleh karena itu,

memasuki abad 21, sumber belajar dengan mudah dapat diakses

50

34

melalui teknologi informasi, khususnya internet yang didukung oleh

komputer.

5. Evaluasi hasil belajar, evaluasi atau penilaian memegang peranan

penting dalam segala bentuk pengajaran yang efektif. Berhasil tidaknya

suatu pendidikan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dari hasil

evaluasinya. Evaluasi dapat dilakukan untuk mengetahui perubahan

perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik yang dapat

dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: a) penilaian kelas; b) tes

kemampuan dasar; c) penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi;

d) benchmarking (mengukur kinerja yang sedang berjalan); e) penilaian

program. 51

6. Pengembangan peserta didik, Pengembangan peserta didik dapat

dilakukan oleh guru melalui berbagai cara antara lain:52a) kegiatan ekstra kurikuler; b) pengayaan dan remedial; c) bimbingan dan

konseling;

D. Peran Kompetensi Pedagogik Guru PAI dalam Mengajar

Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar

terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam

membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya

secara optimal. Minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang

dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa

bantuan guru.

51

E. Mulyasa, Profesionalisme Guru, Yogyakarta: Lentera Ilmu, 2009, 110.

52

35

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional. Ada beberapa tujuan dikeluarkannya UU No. 14

tahun 2005 ini, yang dijelaskan dalam bagian penjelasannya, diantaranya:

meningkatkan martabat guru, meningkatkan kompetensi guru, dan

meningkatkan mutu pembelajaran.53

Peran kompetensi pedagogik Guru PAI dalam mengajar adalah sebagai

pengelola proses belajar mengajar PAI, bertindak selaku fasilitator yang

berusaha menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan tidak

membosankan.54 Apalagi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kurang mendapat perhatian dalam pemikiran peserta didik,

mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan

kemampuan peserta didik untuk menyimak pelajaran dan menguasai

tujuan-tujuan pendidikan Islam yang harus mereka capai yaitu

meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang

agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa

kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,

masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam penggunaan metode

mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru

dalam mengelola pembelajaran. Untuk itu, guru harus mampu mengelola

pembelajaran yang memberikan rangsangan kepada peserta didik sehingga ia

53

Depdiknas, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS…, 5 2 .

54

36

mau belajar karena memang peserta didiklah subjek utama dalam

belajar. Guru yang mampu melaksanakan perannya sesuai dengan

tuntutan seperti yang disebutkan di atas yaitu sebagai seorang guru yang

memiliki kompetensi pedagogik.55

Oleh sebab itu peran kompetensi pedagogik guru dalam proses

pendidikan yang berkualitas tidaklah ringan. Apalagi dalam konteks

pendidikan Islam, dimana semua aspek pendidikan Islam terkait dengan nilai-

nilai (Value Bound), yang melihat guru bukan hanya pada penguasaan materi

tetapi juga pada investasi nilai-nilai moral dan spiritual.

Adapun ciri-ciri guru PAI yang memiliki kompetensi pedagogik

diantaranya adalah:

1. Memiliki wawasan keilmuan yang luas sehinga materi PAI dapat

ditinjau dari berbagai disiplin keilmuan yang lain.

2. Memahami psikologi anak didik sehingga belajar PAI di sekolah

bagi anak didik bukan saja belajar tentang yang boleh dan tidak boleh,

tetapi mereka belajar adanya pilihan nilai yang sesuai dengan

perkembangan mereka.

3. Guru dalam mentransfer nilai tidak hanya diberikan dalam

bentuk ceramah, tetapi juga terkadang dalam bentuk membaca puisi,

bernyanyi, mendongeng dan bentuk lainnya, sehingga suasana belajar

tidak monoton dan terasa menyenangkan.

55

Zeni Haryanto, “Menyikapi Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Rangka Menciptakan Guru Profesional”, http://Zeniharyanto.Blogspot.Com. Diakses pada tanggal 17 Juni 2016, Pukul. 14.00 WIB.

37

4. Guru tidak hanya menyampaikan istilah-istilah arab kepada anak

didik atau memiliki kemampuan Bahasa Arab, tetapi juga diperlukan

kemampuannya dalam Bahasa Inggris, sehingga kesan guru sebagai

kaum yang dimarginalisasi dan hanya bisa menyampaikan ini halal

dan ini haram berkurang.

5. Guru PAI hendaknya mengikuti perkembangan metode pembelajaran

mutakhir yaitu menggunakan media teknologi informasi dalam

pembelajarannya sehingga pembelajaran yang efisien dapat dicapai.56 Guru harus menguasai metode mengajar, menguasai materi yang akan

diajarkan dan ilmu-ilmu lain yang ada hubungannya dengan ilmu yang akan

diajarkan kepada siswa. Juga mengetahui kondisi psikologis siswa dan

psikologis pendidikan agar dapat menempatkan dirinya dalam kehidupan

siswa dan memberikan bimbingan sesuai dengan perkembangan siswa.57 Guru sebelum mengelola interaksi proses pembelajaran di kelas,

terlebih dahulu harus sudah menguasai bahan atau materi apa yang akan

dibahas sekaligus bahan-bahan yang berkaitan untuk mendukung jalannya

proses pembelajaran. Bahan pelajaran adalah substansi yang akan

disampaikan dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan menguasai materi

pelajaran, maka guru akan lebih mudah dalam pengelolaan kelas. Selain itu

guru menjadi lebih mudah dalam memilih strategi belajarnya agar tujuan

yang hendak dicapai dalam materi pelajaran tersebut berhasil terwujud.

56

Hasbi Indra, “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Implementasi Kurikulum standar Nasional”, http://aksay.multiply.com. Diakses pada tanggal 17 Juni 2016, Pukul. 14.30 WIB.

57

38

Penguasaan bahan ajar yang berkaitan dengan materi pokoknya dari

ilmu-ilmu lain seringkali sangat dibutuhkan dalam memberikan

penjelesannya. Hal ini menjadi sebuah kebutuhan dimasa sekarang, dimana

arus informasi begitu cepat untuk diketahui siswa.

Dokumen terkait