• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Uji Hipotesis

1. Analisis Regresi Linear Sederhana

Adapun bentuk rumus darimregresi linier sederhana sebagai berikut :71 𝑌= 𝑎 + 𝑏𝑋

Keterangan:

Y’ : Variabel dependen sebagai variabel yang diprediksi

70 Syofian Siregar, Op.Cit., h. 178

71 Uhar Suharsaputra, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, (Bandung: PT.

Refika Aditama, 2012) h. 139

X : Variabel independen

a : Konstanta (nilai Y’ apabila X = 0)

b : Koefisien regresi (nilai peningkatan atau penurunan) 2. Uji Parsial (Uji t)

Pengujian signifikansi atau uji statistic regresi linier sederhana digunakan uji t. Uji t digunakan untuk menguji signifikan atau tidaknya hubungan dua variabel, yaitu hubungan variabel independen dengan variabel dependen. Untuk mengetahui apakah masing-masing variabel terikat, maka perumusan hipotesisnya sebagai berikut:

i. Dengan menggunakan angka probabilitas signifikansi:

• Apabila Sig.> (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak

• Apabila Sig.< (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima ii. Dengan membandingkan nilai Thitung dengan Ttabel:

• Apabila Thitung < Ttabel, maka Ho diterima

• Apabila Thitung > Ttabel, maka Ho ditolak 3. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi adalah kuadrat dari nilai koefisien korelasi.

Koefisien determinasi menjelaskan besarnya presentase pengaruh variabel independen (X) terhadap naik turunnya nilai variabel dependen (Y). nilai koefisien determinasi terletak antara 0 dan 1. Nilai yang mendekati 1 (satu) berarti variabel independen memberikan pengaruh yang cukup besar kepada variabel dependen. Sedangkan nilai yang mendekati 0 (nol) berarti variabel independen tidak memberikan pengaruh yang cukup besar kepada variabel dependen.

Adapun rumus Koefisien determinasi sebagai berikut:

𝐾𝐷 = 𝑟2× 100%

Keterangan:

KD : Koefisien Determinasi r : Koefisien Korelasi

58

BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum SMPN 9 Cirebon

1. Profil Sekolah

SMPN 9 Kota Cirebon terletak di Jl. Pramuka Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat. Lingkungan sekitar sekolah terdapat beberapa pesantren, oleh sebab itu terdapat program keagamaan yang ada di SMPN 9 Kota Cirebon seperti program SAM (Satu Jam Mengaji Al-Qur’an) dan program lainnya. Letak SMPN 09 Kota Cirebon cukup strategis dan mudah dijangkau menggunakan kendaraan umum, jarak nya 3 KM dari terminal Cirebon.

SMPN 09 Cirebon didirikan pada tahun 1985, awalnya SMPN 09 Cirebon tidak memiliki gedung dan bergabung dengan gedung SMPN 04.

Pada tahun yang tidak diketahui SMPN 09 Cirebon akhirnya memiliki gedungnya sendiri di Jl. Pramuka Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon72. Namun, untuk lengkapnya sejarah SMPN 09 Cirebon belum diketahui secara pasti karena baik dari guru senior maupun kepala sekolah tidak memberikan jawaban dan tidak ada dokumen lengkap mengenai sejarah sekolah.

2. Visi dan Misi SMPN 09 Cirebon

a. Visi

Visi SMPN 9 Kota Cirebon adalah “Menjadi sekolah berkarakter IMTAQ, sarat preestasi, berwawasan lingkungan, nyaman dan asri”.

b. Misi

72 Wawancara dengan Kepala Sekolah SMPN 09 Cirebon, Senin 24 Mei 2021

1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui penanaman budi pekerti yang luhur dan program kegiatan keagamaan.

2) Melaksanakan dan menciptakan pembelajaran yang bermutu, Aktif, Inovatif, Kreatif Efektif, dan Menyenangkan berdasarkan Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi (IPTEK).

3) Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi warga sekolah untuk menjadi yang terbaik dalam bidang akademik maupun non akademik.

4) Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas sekolah dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai-nilai luhur.

5) Melaksanakan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

6) Mewujudkan kondisi lingkungan sekolah yang aman, bersih, asri, dan nyaman untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Dalam rangka mewujudkan visi misi tersebut, SMPN 9 KOTA Cirebon menyelenggarakan berbagai program yang berkaitan dengan visi misi sekolah, diantaranya yaitu program keagamaan yaitu kegiatan SMA (Satu Jam Mengaji Al-Qur’an) yang dilakukan setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, lalu program mengaji ini dikembangan menjadi program hafalan surah-surah pendek dengan jadwal yang telah dimodifikasi, hari senin upacara, hari selasa mengaji Al-Qur’an, hari rabu belajar tata cara solat dan bacaannya yang baik dan benar, hari kamis setoran hafalan surah-surah pendek dengan target saat lulus murid dapat hafal Juz ‘Amma.

Selain program tersebut, dalam mewujudkan sekolah berkarakter IMTAQ, kepala sekolah menekankan siswanya untuk disiplin solat 5

waktu. Adapun program lainnya yaitu kegiatan tahunan seperti seminar HIV/AIDS, Qurban pada Idul Adha, sosialisasi anti narkoba, dan kegiatan hari guru nasional. Untuk mencapai visi misi dan melaksanakan berbagai program tersebut, maka diperlukan aspek pendukung diantaranya guru yang professional. Untuk mewujudkan guru yang professional dengan kinerja yang baik membutuhkan dukungan berbagai pihak salah satunya kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah yang bertanggung jawab atas kualitas sekolah.

Untuk mewujudkan visi SMPN 09 Cirebon yaitu “Melaksanakan dan menciptakan pembelajaran yang bermutu, Aktif, Inovatif, Kreatif Efektif, dan Menyenangkan berdasarkan Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi (IPTEK)”, maka sekolah bertanggung jawab dalan meningkatkan kinerja guru agar terciptanya pembelajaran yang bermutu. Kepala sekolah memiliki program supervisi untuk guru, yakni supervisi administrasi dan supervisi akademik yang dilaksanakan dua kali dalam satu tahun. Kepala sekolah membuat tim supervisor yang terdiri dari guru senior yang jabatannya lebih tinggi dari guru lainnya untuk membantu kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi. Tujuan pelaksanaan supervisi terhadap guru yaitu untuk mengevaluasi kinerja guru terutama dalam pembelajaran, jika ada kendala dan masalah yang dihadapi agar cepat ditangani oleh kepala sekolah. Supervisi juga dapat menjadi acuan kepala sekolah dalam membuat program pelatihan yang tepat untuk guru.

3. Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Berdasarkan hasil studi dokumen, SMPN 9 Cirebon memiliki tenaga pendidik sebanyak 52 guru yaitu 38 Guru Tetap/PNS dan 14 Guru Tidak Tetap, pendidikan terakhir guru berlatar belakang bidang pendidikan atau keguruan yang memiliki kualifikasi akademik S2 dan SI, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar guru-guru memiliki kemampuan

dalam dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya, serta mampu dan mudah untuk diberikan bimbingan, pembinaan dan arahan dari kepala sekolah sehingga kinerja guru menjadi baik. Untuk lebih jelasnya, data tentang tenaga pendidik dan kependidikan dapat dilihat pada lampiran 11 hal..

4. Gambaran Umum Supervisi Kepala Sekolah

Kegiatan Supervisi yang dilaksanakan kepala sekolah terdiri dari 3 tahapan yakni perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Tahap pertama yaitu Perencanaan, dilaksanakan pada awal tahun pembelajaran sekitar bulan Juli yaitu merancang program supervisi dengan melibatkan beberapa guru senior dan jabatannya lebih tinggi dari guru lainnya sebagai tim supervisi untuk membantu kepala sekolah dalam melaksanakan kegiatan supervisi. Kepala sekolah bertugas untuk mensupervisi tim supervisor. Perencanaan ini dilaksanakan untuk merumuskan kegiatan supervisi. Langkah langkah untuk melakukan supervisi tercantum pada program seperti tujuan, sasaran, waktu, instrumen supervisi dan rencana kegiatan. Kepala sekolah dan tim supervisor merumuskannya secara bersama-sama. Setelah program supervisi ditetapkan, kepala sekolah menginformasikan jadwal pelaksanaan supervisi kepada seluruh guru.

Tahap kedua yaitu Pelaksanaan, supervisi dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Pelaksanaan supervisi dilakukan 2 kali dalam satu tahun, 1 kali pada tiap semester dan dilakukan oleh kepala sekolah dan tim supervisor. Pelaksanaan supervisi dilaksanakan dengan kunjungan kelas atau observasi kelas dengan membawa instrumen supervisi yang telah dirancang pada tahap perencanaan supervisi. Tim supervisor juga memeriksa kelengkapan administrasi guru yakni RPP.

Dalam pelaksanaan supervisi, tim supervisor memiliki catatan yang akan

diberikan kepada kepala sekolah yang nantinya digunakan untuk proses tindak lanjut

Tahap terakhir supervisi, yaitu Tindak Lanjut berupa kegiatan yang dilaksanakan untuk menindak lanjuti hasil supervisi. Kegiatan tindak lanjut diawali dengan melaksanakan penyampaian hasil supervisi serta langkah selanjutnya mengevaluasi apa yang kurang atau menjadi masalah guru selama pembelajaran. Kepala sekolah mengatur jadwal dengan guru untuk pelaksanaan dialog secara langsung. Kegiatan tindak lanjut lainnya yaitu penataran/pelatihan dan pembinaan bagi guru yang membutuhkan.

Tindak lanjut ini dilaksanakan agar pada proses supervisi selanjutnya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik sehingga dalam jangka waktu yang panjang kinerja guru semakin baik.73

B. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data Penelitian

a. Data Variabel Y (Kinerja Guru) 1) Data variabel Y

Berdasarkan hasil angket yang diperoleh dari 40 guru yang dijadikan sebagai responden, diperoleh data mengenai variabel Y yaitu Kinerja Guru. Data dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1 Data Variabel Y (Kinerja Guru)

Responden Variabel Y Responden Variabel Y

Responden 1 140 Responden 21 103

Responden 2 122 Responden 22 104

Responden 3 133 Responden 23 104

Responden 4 110 Responden 24 104

Responden 5 120 Responden 25 104

Responden 6 107 Responden 26 104

73 Wawancara dengan Kepala Sekolah SMPN 09 Cirebon, Senin 24 Mei 2021

Responden 7 137 Responden 27 137

2) Hasil Analisis Data Variabel Y a) Rentang Nilai (r)

d) Tabel Distribusi Frekuensi Variabel Y (Kinerja Guru)

Tabel 4.2 Hasil Distribusi Frekuensi Variabel Y (Kinerja Guru)

Kinerja Guru Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 59-63 5 13.2 13.2 13.2

64-68 5 13.2 13.2 26.3

69-73 10 26.3 26.3 52.6

74-78 9 23.7 23.7 76.3

79-83 3 7.9 7.9 84.2

84-88 6 15.8 15.8 100.0

Total 38 100.0 100.0

SSumberSumber : Hasil olah data SPSS ver 23, 2020 Berdasarkan data distribusi di atas dapat digambarkan distribusi frekuensi variabel Y sebagai berikut:

Gambar 4.1 Hasil Data Distribusi Frekuensi Variabel Y

Sumber: Hasil olah data SPSS ver 23, 2020 e) Mean, Median, Modus

Tabel 4.3 Hasil Mean, Median, Modus Variabel Y Statistics

Kinerja Guru

N Valid 40

Missing 0

Mean 116.65

Median 109.00

Mode 104

Std. Deviation 14.455

Range 38

Minimum 102

Maximum 140

Sum 4666

Sumber: Hasil olah data SPSS ver 23, 2020

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai rata rata dari variabel Kinerja guru adalah 116,65, nilai tengah 109,00, nilai yang sering muncul adalah 104, serta standar deviasi sebesar 14,455. Untuk menentukan tinggi rendahnya kinerja guru dapat dilakukan dengan cara berikut.

Perhitungan nilai rata-rata (Mi) dan standar deviasi ideal (Sdi) Nilai rata-rata ideal (Mi) = 116,65 Standar deviasi ideal (Sdi) = 14,455. Adapun Batasan-batasan kategori kecenderungan sebagai berikut:

1) Rendah = X < Mi – Sdi

= X 116,65 – 14,455

= X < 102,195

2) Sedang = Mi – Sdi < X < Mi + Sdi

= 102,195 < X < 116,65 + 14,455

= 102,195 < X < 131,105 3) Tinggi = X > Mi + Sdi

= X > 131,105

Tabel 4.4 Kategori Tingkat Kecenderungan Variabel Y Kinerja Guru

Tingkat Kecenderungan Data

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Rendah 1 2.5 2.5 2.5

Sedang 27 67.5 67.5 70.0

Tinggi 12 30.0 30.0 100.0

Total 40 100.0 100.0

Sumber : Hasil olah data SPSS ver 23, 2020 Berdasarkan tingkat kecenderungan data di atas, dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.2 Hasil Kategori Kecenderungan Data Variabel Y

Sumber: Hasil olah data SPSS Ver 23, 2020 Berdasarkan diagram, dapat disimpulkan bahwa perolehan skor variabel Y yang termasuk kedalam katagori rendah sebanyak 1 orang (2,5%), kategori sedang sebanyak 27 orang (67,5%), dan katagori tinggi sebanyak 12 orang (30%).

Berdasarkan perolehan skor tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel Y berada pada katagori sedang. Hal ini bermakna

bahwa secara umum guru berpresepsi bahwa kinerja guru belum optimal.

b. Data Variabel X (Supervisi Kepala Sekolah) 1) Data Variabel X

Berdasarkan hasil angket yang diperoleh dari 40 guru yang dijadikan sebagai responden, diperoleh data mengenai variabel X yaitu Supervisi Kepala Sekolah. Data dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4. 5 Data Variabel X (Supervisi Kepala Sekolah)

Responden Variabel X Responden Variabel Y

Responden 1 100 Responden 21 75

2) Hasil Analisis Data Variabel X

d) Tabel Distribusi Freakuensi Variabel X

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Variabel X (Supervisi Kepala Sekolah)

Sumber : Hasil olah data SPSS ver 23, 2020

Berdasarkan data distribusi frekuensi di atas dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4.3 Distribusi Frekuensi Variabel X

Sumber: Hasil olah data SPSS Ver 23, 2020 e) Mean, Median, Modus Variabel X

Tabel 4.7 Hasil Mean, Median, Modus Variabel X (Supervisi Kepala Sekolah)

Statistics

Supervisi Kepala Sekolah

N Valid 40

Missing 0

Mean 81.20

Median 75.00

Mode 73

Std. Deviation 10.064

Range 29

Minimum 71

Maximum 100

Sum 3248

Sumber: Hasil olah data SPSS Ver 23, 2020

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa bahwa nilai rata rata dari variabel Supervisi Kepala Sekolah adalah 81,20, nilai tengah 75,00, nilai yang sering muncul adalah 73, serta standar deviasi sebesar 10,064. Untuk menentukan tinggi rendahnya supervisi kepala sekolah dapat dilakukan dengan cara berikut.

Perhitungan nilai rata-rata (Mi) dan standar deviasi ideal (Sdi) Nilai rata-rata ideal ((Mi) = 81,20 Standar deviasi ideal (Sdi) = 10,064.

Adapun Batasan-batasan kategori kecenderungan 1) Rendah = X < Mi – Sdi

Tabel 4.8 Hasil Kategori Tingkat Kecenderungan Variabel X (Supervisi Kepala Sekolah)

Sumber : Hasil olah data penelitian SPSS ver 23, 2020 Berdasarkan tingkat kecenderungan data di atas, dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4.4 Hasil Kategori Kecenderungan Data Variabel X

Sumber : Hasil olah data penelitian SPSS ver 23, 2020 Berdasarkan diagram, dapat disimpulkan bahwa perolehan skor variabel X yang termasuk kedalam katagori rendah sebanyak 1 orang (2,5%), kategori sedang sebanyak 30 orang (75%), dan katagori tinggi sebanyak 9 orang (22,5%).

Berdasarkan perolehan skor tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel X berada pada katagori sedang. Pada wawancara yang dilakukan peneliti mengenai supervisi dijelaskan bahwa supervisi yang dilakukan kepala sekolah sudah baik secara administrasi dan juga perencanaan, namun pada pelaksanaannya belum optimal karena kepala sekolah tidak melakukan supervisi secara langsung melainkan melalui delegasi.74 Hal ini bermakna bahwa secara umum guru berpresepsi bahwa kegiatan supervisi belum optimal.

2. Uji Prasyarat Analisis

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan tujuan untuk melihat data apakah berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini pengujian normalitas dengan menggunakan uji Saphiro Wilk yaitu metode uji

74 Wawancara dengan Kepala Sekolah SMPN 09 Cirebon, Senin 24 Mei 2021

normalitas yang efektif dan valid digunakan untuk sampel berjumlah kecil. Hasil uji normalitas ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Unstandardized Residual .172 40 .004 .936 40 .025 a. Lilliefors Significance Correction

Sumber : Hasil olah data penelitian SPSS ver 23, 2021

Berdasarkan hasil uji normalitas di atas nilai signifikansi Unstandardized Residual variabel Supervisi Kepala Sekolah dan variabel Kinerja Guru sebesar 0,025. Nilai signifikansi kedua variabel lebih dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data seluruh variabel berdistribusi normal.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas digunakan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel apakah memiliki kecenderungan mengikuti garis lurus (linear) atau tidak. Berikut adalah hasil uji linearitas.

Tabel 4.10 Hasil Uji Linearitas ANOVA Tabel

Total Sumber : Hasil olah data SPSS ver 23, 2020

Berdasarkan hasil uji linearitas dapat diketahui nilai signifikansi pada Deviation from Linearity sebesar 0,809, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan linear antara variabel (X) supervisi kepala sekolah dan variabel (Y) kinerja guru karena nilai Deviation from Linearity 0,809 lebih besar dari taraf signifikansi 0,05.

3. Hasil Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh supervisi akademik kepala sekolah terhadap kinerja guru.

a. Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau negatif. Untuk mengetahui nilai regresi signifikan atau tidak adalah dengan membandingkan nilai ttabel dengan thitung. Berikut ini merupakan hasil uji regresi linear sederhana dnegan menggunakan SPSS ver 23, yaitu:

Tabel 4.11 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Sederhana Coefficientsa

a. Dependent Variabel: Kinerja Guru

Sumber: Hasil olah data SPSS ver 23, 2020

Berdasarkan hasil tabel di atas, dapat diketahui bahwa:

1) Angka constan unstandarized 49.049 yang memiliki arti jika tidak ada supervisi kepala sekolah (X), maka nilai konsisten kinerja guru (Y) sebesar 49.049.

2) Angka koefisien regresi yang dihasilkan adalah sebesar 0,833.

Angka ini memiliki arti bahwa setiap penambahan 1% supervisi kepala sekolah (X), maka kinerja guru (Y) akan meningkat 83,3%.

Karena nilai koefisien bernilai positif (+) maka dapat dilihat persamaan regresinya dari Y’ = a + bX menjadi Y = 49.049 + 0,833X dengan demikian dapat dikatakan bahwa supervisi akademik kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru.

b. Uji Parsial (Uji T)

Uji T bertujuan untuk mengetahui apakah nilai regresi signifikan atau tidak yaitu yaitu dengan membandingkan nilai ttabel

dengan thitung serta dengan menggunakan nilai signifikansi. Adapun langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut:

a) Penentuan thitung dengan ttabel

Nilai thitung didapatkan dari hasil uji regresi linear sederhana pada tabel yaitu sebesar 4.385. Ttabel dapat dilihat pada tabel statistik dengan ketentuan α/2 (tabel uji dua sisi) = 0,05/2 = 0,025, kemudian diketahui t tabel dengan taraf 0,025 df = 40 - 2= 38 adalah 2,024. Sehingga hasil perhitungan diperoleh nilai thitung 4.385 dan nilai ttabel 2,024.

b) Kriteria Pengujian

1) Apabila Thitung< Ttabel, maka H0 diterima.

2) Apabila Thitung> Ttabel, maka H0 ditolak.

c) Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa Thitung (4,385)

> Ttabel (2,024), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan

bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru..

c. Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh Supervisi kepala sekolah (X) terhadap kinerja guru (Y) dalam regresi linear sederhana, dapat dilihat pada nilai R yang terdapat pada output SPSS ver 23, yaitu:

Tabel 4.12 Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), Supervisi Kepala Sekolah b. Dependent Variabel: Kinerja Guru

Sumber : Hasil olah data SPSS ver 23, 2020

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diketahui nilai koefisien determinasi (R Square) 0,336 atau 33,6 % Kinerja guru dapat dijelaskan menggunakan variabel supervisi kepala sekolah, dan sisanya 66,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh antara supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMPN 9 Cirebon.

Adanya pengaruh digambarkan pada hasil analisis uji regresi linear sederhana, bahwa diperoleh arah hubungan antara variabel X dengan variabel Y dengan hasil positif (+) yang bernilai 0,833. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh supervisi kepala sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja guru (Y).

Pada pengujian statistik (uji t), hasil nilai Thitung 4,385 sebesar Ttabel

sebesar 2,024 dengan signifikansi sebesar 0,025. Dengan kriteria pengujian jika Thitung>Ttabel , maka Ho ditolak. Sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara Supervisi Kepala Sekola terhadap Kinerja Guru.

Pada uji determinasi ditemukan nilai koefisien determinasi (R square) sebesar 0,336 atau sama dengan 33,6%. Angka tersebut mengandung arti bahwa variabel (X) supervisi kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru (Y) sebesar 33,6%. Dapat disimpulkan bahwasanya supervisi kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru dan termasuk pada kategori sedang. Adapun sisanya 66,4% merupakan faktor lain yang tidak diteliti.

Seperti kompensasi, motivasi, latar belakang pendidikan dan disiplin guru yang turut mendukung kinerja guru.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SMPN 09 Cirebon, supervisi benar-benar terlaksana dan berkelanjutan dengan tujuan untuk melihat kinerja guru dalam pembelajaran. Kegiatan supervisi yang melibatkan semua guru, baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun tindak lanjut. Kegiatan supervisi dirancang di awal tahun pembelajaran untuk dilaksanakan selama dua kali dalam satu tahun. Pada perencanaan program suprvisi, kepala sekolah menunjuk beberapa guru dari guru senior untuk menjadi tim supervisi yang membantu kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi. Supervisi dilaksanakan dengan memberikan jadwal terlebih dahulu yang selanjutnya dilakukan kunjungan kelas dengan membawa instrumen penilaian. Dalam melaksanakan supervisi, tim supervisi sesuai jadwal melaksanakan supervisi kepada guru, kepala sekolah bertugas mensupervisi tim supervisi. Hal ini dilaksanakan agar memudahkan proses supervisi.

Dengan demikian, kegiatan supervisi yang melibatkan guru ini dapat dilaksanakan dan terbukti efektif untuk melihat serta meningkatkan kinerja guru.

Setelah pelaksanaan, dilakukan tindak lanjut kegiatan supervisi melalui wawancara secara langsung antara kepala sekolah dan guru yang memiliki catatan saat dilaksanakannya supervisi, serta pelatihan atau workshop yang relevan bagi guru. Kepala sekolah berdasarkan catatan yang diperoleh dari hasil pengawasan tim supervisor akan disampaikan kepada guru

yang telah disupervisi. Selanjutnya, untuk menunjang kinerja guru agar semakin baik, berdasarkan hasil supervisi kepala sekolah juga memberikan pelatihan dan pembinaan terkait dengan kinerja guru yang harus selalu diperbaiki.

Dengan demikian, berdasarkan hasil perhitungan data yang diperoleh dari lapangan terlihat pengaruh signifikan antara supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMPN 09 Cirebon yang berada pada kategori sedang.

Hasil penelitian ini juga relevan dengan teori yang ada, yaitu pelaksanaan supervisi akademik dilaksanakan dengan tiga tahap sesuai peraturan, baik dalam perencanaan supervisi, pelaksanaan supervisi dan tindak lanjut supervisi. Penilaian kinerja guru melalui supervisi pun dapat dikatakan relevan meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan atau proses pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran. Sehingga pelaksanaan supervisi akademik di SMPN 09 Cirebon telah sesuai dengan kebutuhan.

78

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka dapat dikemukakan bahwa :

1.

Kinerja guru yang belum optimal, berdasarkan data variabel kinerja guru memiliki kecenderungan yang termasuk dalam kategori sedang. Kategori sedang tersebut dapat diartikan bahwa kinerja guru dalam hal administratif sudah cukup baik, namun secara teknis saat pelaksanaan pembelajaran yaitu seperti penggunaan media pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, dan penilaian pembelajaran yang perlu diperbaiki.

2.

Sama halnya dengan aspek Kinerja Guru, aspek Supervisi oleh kepala sekolah juga belum optimal, berdasarkan data variabel supervisi kepala sekolah yang termasuk dalam kategori sedang, supervisi kepala sekolah memiliki nilai rata-rata data yang cukup signifikan. Hal ini dapat diartikan bahwa kegiatan supervisi telah terlaksana dengan cukup baik. Namun, dalam pelaksanaan supervisi kepala sekolah tidak melaksanakan secara langsung melainkan melalui delegasi tim supervisi yang teridiri dari guru senior sebab kendala waktu. Kepala sekolah hanya memberikan bimbingan serta arahan kepada guru.

3.

Pengaruh yang signifikan dan bersifat positif dari Supervisi Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi product momen yaitu 0.336 atau 33,6% artinya berada pada tingkat yang sedang. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru.

Berdasarkan temuan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan kinerja guru dapat dilakukan dengan melaksanakan kegiatan supervisi kepala sekolah secara efektif, karena

semakin intensif dan efektif kegiatan supervisi kepala sekolah, maka akan semakin baik kinerja guru.

B. Saran

1. Bagi Kepala Sekolah

a. Dalam pelaksanaan supervisi, hendaknya kepala sekolah melaksanakan secara langsung tidak selalu melalui tim delegasi agar mengetahui keadaan guru secara eksklusif.

b. Hendaknya kepala sekolah membuat jadwal untuk melaksanakan pelatihan atau penataran terkait penilaian, penggunaan media dan metode pembelajaran.

c. Kegiatan supervisi kepala sekolah harus lebih dioptimalkan agar kepala sekolah dapat melaksanakan kegiatan supervisi kepada seluruh guru degan maksimal.

d. Hendaknya kepala sekolah memberikan bimbingan lebih intensif kepada guru, karena walau bagaimanapun guru masih memerlukan bimbingan dari

d. Hendaknya kepala sekolah memberikan bimbingan lebih intensif kepada guru, karena walau bagaimanapun guru masih memerlukan bimbingan dari

Dokumen terkait