LANDASAN TEORITIK
B. Surat berharga dan warkat bank (KUH Dagang)
Sebagai salah satu bentuk usaha bank berupa penerbitan kertas berharga seba-gai mana diatur dalam UU Perbankan. Maka dalam UU No 8 Th 1997 tentang Dokumen Perusahaan dalam pasal 6 dijelaskan warkat adalah dokumen tertulis yang bentuk dan penggunaanya ditetapkan menurut aturan tertentu dan merupa-kan bukti transaksi. Dalam lalulintas perdagangan uang dikenal misalnya cek, bilyet giro, surat perintah menbayar, weswl, nota debet dan nota kredit. Di samping apa yang telah diatur dalam peraturan terebut maka terdapat aturan mendasar yang mengatur hal hal tersebut yaitu dalam
31
KUH Dagang yang menjelaskan bentuk surat dan warkat bank.
a. Wesel
Wesel diatur didalam Buku I Bab VI KUH Dagang dari pasal 100 sampai dengan 173. Di sana menjelaskan ketentuan ketentuan mendasar dari wesel yang tidak boleh dilanggar (pelanggaran atas aturan tersebut menjadikan wesel batal demi hukum).
Jenis jenis wesel sebagaimana diatur dalam KUHDagang 1. Wesel Unjuk
2. Wesel setelah unjuk
3. Wesel yang harus dibayar pada suatu waktu tertentu 4. Wesel domisili
5. wesel rekta 6. wesel inkaso
7. wesel yang penarikannya oleh pihak ke tiga b. Cek
Cek adalah suatu perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang meme-lihara rekening giro nasabah tersebut untuk membayarkan sejumlah uang ter-tentu kepada pihak yang disebut didalamnya atau kepada pemegangnya.
Syarat penggunaan cek ditentukan dalam pasal 178 KUHD dimana syarat ter-sebut merupakan syarakat mutlak ayat (1).
Jenis Cek
1. Cek atas unjuk 2. Cek atas nama
3. Cek atas nama pembawa 4. Cek mundur
5. Cek fiat – sesui SE BI No. 8/8/UPPB BI melarang cek jenis ini 6. Cek silang
7. Cek perjalanan
Disamping persyaratan dalam KUHD maupun UU Perbankan, maka cek harus sesuai dengan UU No. 13 Th 1985 tentang Bea Meterai. Dimana Cek harus sesui memenuhi bea meterai, bank dapat menolak bila tidak sesuai.
c. Aksep
Aksep merupakan suatu tanda hutang dari yang mengeluarkan aksep pada si pemegang aksep itu dimana yang mengeluarkan berjanji akan sanggup mem-bayar suatu jumlah tertentu pada si pemegang pada suatu waktu tertentu. Syarat ketentuan aksep diatur dalam pasal 174 KUHDagang, sesuai dengan UU Perbankan maka aksep dimana dalam pasal 140 KUHD dapat dibayarkan dalam bentuk valuta asing, hal tersebut kini dilarang.
d. Promes untuk pembawa
Promes suatu bentuk surat yang dibuat dalan bentuk janji akan membayar (to promise).
Surat promes ini lasim digunakan dalam praktek pinjam meminjam antar bank. Aturan berkait dengan syarat promes ditemukan dalam Pasal 229 i KUHD.
32 e. Giro Bilyet
Giro Bilyet merupakan salah satu sara dalam lalulintas uang utamanya sebagi instrumen pembayaran. Aturan terbaru berkait dengan ini dapat ditemukan dalam Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 28/32/KEP/DIR/ dan Surat Edaran BI No. 28/32/UPG.
Dimana dijelaskan Giro bilyet adalah surat perintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana untuk memindah bukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang dise-butkan namanya. Ketentuan pidana atas cek/giro bilyet kosong ditemukan dalam KUH Pidana pasal 378 tentang penipuan.
C. UU Bank Indonesia No. 23 Th 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 tahun 2004
Bank Indonesia merupakan bank sentral berdasarkan UU No. 13 Th 1968, Selanjutnya UU ini dicabut dengan UU No 23 Th 1999 tentang Bank Indonesia hingga saat ini. Tugas dan fungsi Bank Indonesia (BI) dan telah diubah dengan UU No. 3 tahun 2004 selanjutnya dalam tiap pembahasan disebut UU BI, ada tiga hal pokok:
a. menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter b. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran c. mengatur dan mengawasi bank
Penjelasan;
a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter
Dalam melaksanakan fungsi tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, BI memiliki kewenangan yang diatur dalam pasal 10 UU 23/1999 ten-tang BI dimana BI berhak untuk: 1. menetapkan sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi yang ditetapkan, 2. melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan cara cara tertentu seperti operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan.
Khusus berkait dengan kebijakan nilai tukar maka sesui dengan UU No 24 tahun 1999 tentang lalu lintas devisa dan sistem nilai tukar, pasal 5 ayat (1) BI ber-wenang menetapkan kebijakan nilai tukar. Penetapan sistem nilai tukar dite-tapkan terlebih dahulu berdasarkan keputusan pemerintah dalam bentuk kepu-tusan presiden yang diusulkan oleh BI.
Sehingga BI melaksanakan sistem nilai tukar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
b. Mengatur dan menjaga kelancara sistem pembayaran
Tugas BI dalam hal mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran dapat disimpulkan dari pasa 15, UU No. 23 th 1999 dan perubahannya UU No 3 Th 2004, dimana BI memiliki kewenangan dalam hal :
- melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penye-lenggaraan jasa sistem pembayaran
- mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk me-nyampaikan laporan tentang kegiatannya
- menetapkan penggunaan alat pembayaran
33
Dalam pasal selanjutnya yang merupakan penjabaran dari pasal 15, mulai pasal 16 hingga pasal 20, UU No 23 th 1999 dan perubahannya UU No. 3 Th 2004, berwenang untuk :
a. mengatur sistem kliring; baik kliring domestik maupun internasional;
b. menyelenggarakan penyelesaian akhir transaksi;
c. menetapkan macam harga, ciri uang yang akan dikeluarkan, bahan yang digunakan, dan tanggal mulai berlakunya sebagai alat pembayaran;
d. mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dimaksud dari peredaran.
Pada poin yang berkait dengan mata uang BI merupakan otoritas tunggal di mana mekanismenya ditentukan:dari pemerintah melalui nota keuangan anggar-an yang disampaikan sebelum awal tahun anggaran. Untuk menjalankan tugas tugas penyelenggaraan tersebut maka secara operasional BI mengeluarkan peraturan berupa Peraturan Bank Indonesia yang dalam hal ini akan memuat:
1. Jenis penyelenggaraan jasa sistem pembayaran yang memerlukan persetujuan BI dan prosedur pemberian persetujuan oleh BI
2. Cakupan wewenang dan tanggungjawab penyelenggaraan jasa sistem pembayaran termasuk tanggungjawab yang berkait dengan manajemen resiko
3. Persyaratan keamanan dan efisiensi dalam penyelenggaraan jasa sistem pembayaran
4. Penyelenggaraan jasa sistem pembayaran yang wajib menyampai-kan laporan kegiatan
5. Jenis laporan kegiatan yang perlu disampaikan kepada BI dan tata cara pelaporannya
6. Jenis alat pembayaran yang dapat digunakan oleh masyarakat ter-masuk alat pembayaran yang bersifat elektronis seperti kartu ATM, kartu debet, kartu kredit, kartu prabayar dan uang elektronik
7. Persyaratan keamanan alat pembayaran
8. Sanksi administratif berupa denda bagi pelanggaran ketentuan pa-da angka 1,4 dan 6 diatas
e. Mengatur dan mengawasi bank
Disamping sebagai pemegang otorita keuangan yang independen, Bank Indonesia mempunyai tugas sebagai lembaga pengawas keuangan dan lembaga keuangan dan perbankan dan berhak mengeluarkan izin. Melalui surat Gubernur Bank Indonesia, dimana Gubernur Bank Indonesia sebagai pimpinan tertinggi dalam struktur Bank Indonesia, berhak mengeluarkan sejumlah teguran sebagai bentuk pengawasan atas pengawasan mekanisme perbankan hingga tindakan pembekuan aset sebuah bank.