• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN DAN SARAN

2. Surat Keterangan Penelitian

MAKSIM

2:19-3:46 Di Malang itu teman-teman, saya suka sekali nonton Arema di stadion.

Dan aremania di sana itu sudah mulai ada kubu- kubunya. Jadi, ada kayaknya saya juga harus buat kubu sendiri. Saya beri nama Aremania tribun tenggara timur laut. Yang lain bawa terompet, kami bawa kompas. “Ini

tenggara timur laut di bagian mana?” Begitu dapat tempat duduk, ada yang protes, “ah, di sini bukan tenggara timur laut.

Di sini ini selatan barat daya”. Akhirnya harus cari

Maksim Kuantitas: ada di stadion namun berbalik membahas daerah di Indonesia. Hal itu terlihat dalam tuturan “Tapi teman-teman, paling tidak enak itu kalau kalian nonton dari tribun timur, karena kalau di tribun barat itu nonton pakai lampu, cahaya terang kelap-kelip di mana-mana, tapi di tribun timur itu masih gelap, listrik tidak ada. Di tribun barat itu dikasih kursi, dikasih sofa, makan enak-enak, tapi di tribun timur itu masih beralaskan tanah, makan seadanya”.

Tapi teman-teman, paling tidak enak itu kalau kalian nonton dari tribun timur, karena kalau di tribun barat itu nonton pakai lampu, cahaya terang kelap-kelip di mana-mana, tapi di tribun timur itu masih gelap, listrik tidak ada. Di tribun barat itu dikasih kursi, dikasih sofa, makrgergheran enak-enak, tapi di tribun timur itu masih beralaskan tanah, makan seadanya. Bahkan orang dari tribun barat itu berteriak ke tribun timur,

“Woi, kalian yang ada di tribun timur, sabar saja, nanti kami bangun kursi di situ. Kami kasih makan enak.” Tetapi, sampai pertandingan berakhir hidup. Di sisi lain,

ungkapan “tribun barat”

merujuk pada wilayah Indonesia Barat yang digambarkan memiliki pembangunan infrastruktur yang baik dan penduduk yang sejahtera.

Makna pesan sosial pada wacana ini ialah

pemerintah harus melakukan pemerataan pembangun diseluruh wilayah Indonesia, agar tidak ada wiyalah yang tertinggal oleh karena ketidak merataan pembangunan.

2 Suara minor dari 1.25-2.15 Teman-teman, di sini ada Maksim Kualitas: Komika mengeluhkan

KRrdfOnMLWo) bawa malam ini. Teman- teman, Rokatenda adalah gunung berapi di Pulau Flores. Dia meletus dari bulan Oktober 2012 sampai Desember 2013.

Empat belas bulan, empat belas bulan. Bahkan dari pertama kali dia meletus sampai dia ulang tahun yang pertama, tiup- tiup lilin, tidak ada kado yang datang, tidak ada. Wajar kalau teman-teman tidak tahu karena memang berita Rokatenda meletus pada waktu itu, itu tertutup oleh berita banjir Jakarta.

Bahkan berita banjir Jakarta itu diarahkan menjadi bencana nasional karena merugikan negara hampir Dua Puluh Triliun.

Rokatenda selama empat belas bulan meletus itu negara cuma rugi seribu

pada kalimat lilin, tidak ada kado yang datang, tidak

seperti di Flores Nusa Tenggara Timur. Hali tersebut ada di dalam kalimat “Bahkan dari pertama kali dia meletus sampai dia ulang tahun yang pertama, tiup- tiup lilin, tidak ada kado yang datang, tidak ada”. Tuturan ini menyiratkan periode terakhir letusan Gunung Rokatenda yang terjadi selama satu tahun, yaitu pada bulan Oktober hingga Desember 2013.

Rokatenda merupakan gunung berapi yang terletak di Pulau Palue, sebelah utara Pulau Flores.

Akibat letusan ini, beberapa desa ditimpa kerikil dan abu vulkanik, makanan dan air bersih berkurang, dan warga di sekitar Rokatenda meninggal dunia akibat tersapu awan panas. Meski

tidak memberikan bantuan logistik dan uang kepada korban erupsi Rokatenda dan lebih memperhatikan banjir di Ibu Kota Jakarta.

Makna pesan sosial, yaitu pemerintah harus sigap, tanggap, dan meperhatikan korban bencana tanpa ada pilih kasih.

3 Orasi dari timur (Abdur, SUCI 4) (http://youtu.be/

WfCVdopmpEE)

2:34-4:34 Bapak saya itu jadi caleg 2014. Kemarin beliau buat kartu nama, bagus sekali, lengkap dengan foto seperti Ursula potong poni begitu. Kemudian beliau bagi keseluruh masyarakat kampung. Beliau bagi, beliau bagi, beliau bagi.

Begitu KPU datang untuk sosialisasi, ternyata di surat suara tahun ini itu tidak ada foto caleg, tidak ada. Bapak saya langsung stres. Iya, karena kalau tidak ada foto caleg, itu

Maksim Kualitas: huruf A besar seperti gunung krakatau

Komika mengkritisi aturan KPU pada pemilu 2014 tentang surat suara caleg 2014 yang tidak memuat gambar para caleg, tetapi hanya nomor urut dan nama masing-masing calon. Pada pemilu 2014, surat suara yang memuat foto caleg hanya untuk caleg DPD RI. Menurut Komika, hal ini membuat masyarakat di kampung tempat tinggal Komika kesulitan untuk memilih calon yang mereka ingin

rata-rata masih buta huruf.

Jangankan mau memilih, huruf A besar macam gunung Krakatau saja mereka pikir lam alif.

kebenaranya. Karena tidak pernah ada bukti bahwa pernah ada huruf A sebesar gunung Krakatau membaca nama calon pada surat suara pileg 2014 silam. Makna pesan sosial pada wacana ialah

pemerintah atau KPU harus mampu membuat aturan yang tepat sasaran tanpa merugikan orang lain. Dan pemerintah diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan angka buta huruf di wilayah Timur Indonesia.

4 Tempat kejadian 1.50-2.20 Teman-teman, memang Maksim Kualitas: Komika mengkritik tentang

64k5X8nOxe8) Don’t judge the book by its cover, tapi kita ini manusia.

Stop tipu. Stop tipu-tipu. We are judging the book by its cover, we are.

Cewek pake hotpants kita bilang cabe-cabean, cewek tutup aurat kita bilang ninja. Bahkan ada yang pake hotpants tapi tutup aurat, a kalau ini gila.

“ada yang pake kosong untuk orang zaman sekarang, stop tipu-tipu tegasnya. Karena kita sekarang lebih banyak menilai buku dari sampunya atau menilai orang dari luarnya saja.

Contohya sering terjadi dilingkup masyarakat, ketika kita melihat

perempuan memakai rok mini atau pakaian ketat, kita sering mengatakan mereka cabe-cabean, perempuan nakal atau tidak baik. Dan ketika kita

melihat perempuan memakai jilbab dan

menutup aurat, kita sering mengolok mereka dengan sebutan ninja karea

menggunakan cadar bahkan menyebut mereka

namun bukan berarti

menilai orang dari luarnya saja.

Makna pesan sosial dalam wacana ialah berhenti menilai orang dari

penampilan luarnya saja.

5 Tempat kejadian fashion (Abdur, SUCI 4)

(http://youtu.be/

64k5X8nOxe8)

3.18-3:53 Dua minggu yang lalu kami ke pantai ancol itu teman-teman, aduh. Saya baru pertama kali lihat itu pantai ancol itu air lautnya itu hitam gelap tidak bisa lihat apa-apa. Itu macam oli mesin kita kasih pasir gitu.

Itu pantai ancol men. Ada ubur-ubur yang berenang

Maksim Kualitas:

“Ada ubur-ubur yang berenang itu napas satu-satu heu ha heu ha heu. Ada kala dia ancol yang kotor dan airnya yag berwarna hitam, yang tidak layak digunakan untuk mandi dan dijadikan tempat pariwisata atau liburan.

Saking gelapnya, Komika mengibaratkan air di pantai ancol seperti pasir yang

Orang Jakarta mungkin kasihan lihat saya main lampu merah. Tapi jujur saya menangis melihat kalian bisa mandi di pantai seperti itu. Jujur. mandi di pantai yang kondisinya kotor.

Makna pesan sosial pada wacana adalah bagaimana kita harus menjaga

kebersihan, sehingga tempat-tempat pariwisata tetap bersih dan terjaga.

Sehingga masyarakat bisa menikmati tempat

pariwisata dengan nyaman dan aman.

6 Difolbek Raditya Dika (Abdur, SUCI 4)

(http://youtu.be/

YBnYbUhjWwU)

2:10-3:36 Teman-teman, beberapa tahun belakangan ini pemerintah kita itu

menekankan pada

pembelajaran kontekstual.

Artinya pembelajaran yang diambil dari kehidupan kita sehari-hari. Tapi masih banyak kejadian di sekolah

Maksim Kualitas:

“Pembelajaran

membaca kelas 1 SD sampai sekarang, sampai detik ini itu masih ada diambil dari kehidupan kita sehari-hari. Namun

menurut Komika, masih banyak pembelajaran di

matematika, ada soal begini. Sebuah menara tingginya 60m, jika seorang mengamat dengan puncak menara membentuk sudut 60 derajat. Hitunglah jarak pengamat dengan menara.

Soal ini kalau diberikan kepada kami yang di timur kami bingung. Bukan bingung hitungnya, kami bingung ini menara seperti apa? Seperti apa? Tempat saya itu tidak ada menara.

Kenapa tidak diganti saja dengan tiang kapal kah, pohon kelapa kah, atau tiang listrik. Tapi percuma, listrik juga belum ada.

Dan contoh lain.

Pembelajaran membaca kelas 1 SD sampai sekarang, sampai detik ini

itu masih ada

pembelajaran begini ini: ini

sampai politikus begini saja, tidak ada perubahan”. Pada pada zaman batu tua (Palaeolthikum) yang kontekstual itu di wilayah Komika. Contoh “Sebuah menara tingginya 60m, jika seorang mengamat dengan puncak menara

membentuk sudut 60 derajat. Hitunglah jarak pengamat dengan menara.”

Soal ini menurut Komika kalau diberikan kepada Komika, di NTT tempat tinggal Komika tidak ada menara, sehingga

mengakibatkan mereka

zaman Pithecanthropus sampai politikus begini saja, tidak ada perubahan.

Lagian ini tidak kontekstual untuk daerah timur, sejak kapan ada orang timur nama budi? Sejak kapan?

Jangan-jangan budi itu

makhluk astral.

Seharusnya kalau mau kontekstual untuk daerah timur itu diganti. Ini eduardus, ini mama eduardus, eduardus senang Karena sumberair sudah dekat. diganti dengan tiang kapal atau pohon kelapa yang notabeninya mereka sering melihatnya. Makna pesan sosial pada wacana ialah sekolah harus mampu menerapkan pembelajaran kontekstual dalam

kehidupan sehari-hari.

7 Indonesia ibarat kapal tua

(Abdur, SUCI 4) (http://youtu.be/

3754EDgx_rc)

5:17-6:37 Saya heran,

pembangunan itu selalu dibeda-bedakan, selalu dibeda-bedakan. Padahal, kita ini kan satu Ibu Pertiwi, teman- teman, satu Ibu Pertiwi. Saya itu terkadang berpikir itu dengan frasa Ibu Pertiwi.

kemudian melahirkan pulau-pulau di Indonesia kah? Iya, jadi kamar bersalin begitu, lampu terang, follow spot di mana-mana begitu, kemudian Ibu Pertiwi berbaring.

O1: Ya, Ibu Per.

Ini panggilan akrab Ibu Pertiwi, ya.

O1: Ya, Ibu Per, tarik nafas dalam-dalam, Ibu. Terus Ibu, terus, iya, terus, kuat, terus, kepalanya sudah keluar, oke, ya. Sumatera.

Sumatera lahir, dan itu adalah pulau yang paling susah lahir karena gunungnya paling banyak.

Itu Ibu Pertiwi sampai robek- robek itu. Dan mungkin setelah itu, Kalimantan lahir, Jawa lahir, Bali lahir, dan

pulau-frasa Ibu Pertiwi.

atau “tanah tumpah darah” bukan sosok Indonesia Timur itu lahirnya paling terakhir”. Kedua kalimat kunci di atas menyiratkan dikotomi dan

Makna pesan sosial, yaitu permerintah harus

melakukan pembangunan secara merata di seluruh wilayah Indonesia tanpa membeda-bedakan.

O1: Ya, Ibu Per, tarik nafas dalam-dalam, Ibu. Terus Ibu, iya terus, sedikit lagi, sedikit lagi, kepalanya sudah keluar, oke, iya, saya itu, aduh, oh lain, lain dari yang lain. Buat akte kelahiran itu teman-teman di sana itu gratis. Tapi karena masih manual, itu antriannya itu panjangnya masyaAllahhuakbar.

Sasaran kritik Komika ialah pemerintah. Hal itu terlihat dalam tuturan “di tempat saya itu, aduh, oh lain, lain dari yang lain”. Tuturan ini menyiratkan kegagalan

mengimplikasikan daerah asal yang sangat memprihatinkan, yang ditandai melalui tuturan “oh lain”, dengan Jakarta yang diungkapkan melalui frasa online. Hal ini diterangkan melalui tuturan "semuanya di sinisudah bersistem online".

Makna pesan sosial ialah pemerintah harus mampu melakukan pemerataan fasilitas teknologi informasi pada berbagai daerah di Indonesia. Sehingga tidak ada daerah yang susah dalam mengurus

administrasi dll seperti yang dikeluhkan oleh Komika.

9 Indonesia 2:51-3:08 Dangdut yang sekarang itu Maksim Relevansi: Komika mengeluhkan karya

(http://youtu.be/

UEYEzNocKWc)

tahu lagunya Zaskia?

Tidak tahu. Kita tahunya dia goyang itik. Teman-teman tahu lagunya Inul Daratista? Tidak tahu. Kita tahunya dia goyang

ngebor. Teman-teman tahu lagunya Angel Elga? Tidak tahu. Kita tahunya dia mantan Rhoma Irama.

Elga? Tidak tahu. Kita tahunya dia mantan

bukan lagu. Hal itu

ditunjukkan Komika melalui dengan nafas religius yang menjunjung tinggi etika dan estetika masih tetap dangdut era 2000-an telah mengalihkan dan

mengaburkan esensi seni yang mereka tampilkan, sehingga ironisnya publik

Sebut saja Inul Daratista yang lebih dikenal dengan goyang ngebornya, Zaskia Gotik yang terkenal dengan goyang itiknya, dan lain sebagainya. Sedangkan pedangdut Angel Elga terkenal karena hubungan asmaranya dengan Rhoma Irama, bukan karena karya atau lagunya.

Makna pesan sosial dalam wacana ini ialah para penyanyi dangdut harus

1.40-2.10 Film-film di Indonesia tuh mendiskriminasikan orang Timur sebenarnya, teman-teman. Iya. Orang timur itu, misalkan kita ambil contoh Iko Uwais gitu. Iko Uwais kalau mau main film berperan jadi orang timur

Maksim Relevansi: peran subversif. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat (1) Film-film di Indonesia

sepatu hijo,

goyang-goyang bombastic, selesai, selesai. Tapi, kalau orang Timur mau jadi Iko Uwais itu susah. Kalau pun main dengan Iko Uwais paling jadi penjahat, tukang pukul, pegang parang, kemudian, “Hei, ko stop tipu-tipu saya e” orang timur itu bisa dengan berjemur.

Namun, jika harus memakai baju merah, celana biru, sepatu hijo itu tidak relevan.

dengan Iko Uwais paling jadi penjahat, tukang pukul, pegang parang. dalam film laga The Raid.

Hal tersebut terungkap dalam kalimat "Hei, ko stop tipu-tipu saya e" yang merupakan penggalan dialog Alfridus Godfred di film The Raid. Aktor

tersebut memainkan peran gangster dalam film The Raid. Mirip dengan Alfridus Godfred, di film laga

lainnya, banyak aktor dari Indonesia Timur juga berperan sebagai antagonis, peran yang identik dengan kekerasan.

Sehingga menjauhkan karakter dari simpati dan

Makna pesan sosial, yaitu

3:44:5:05 Teman-teman, Indonesia itu telalu terpusat di Jakarta. Makanya penjahat itu juga datang disini.

Pencuri itu teman-teman di timur itu dapat tangkap itu masuk penjara fasilitas mewah. Makanya anak-anak timur sana itu pikir-pikir, ah kita pencuri yang sama, tapi kok kita tidak pernah masuk Tv? Kita pencuri di Jakarta saja.

Akhirnya mereka datang kesini, mencuri disini,

Maksim Relevansi: tidak adil oleh aparat hukum. Hukum tumpul ke atas dan runcing ke bawah kata yang tepat untuk menggambarkan hal yang dikritik oleh Komika. Hukum di Indonesia timpang

sebelah atau tumpul ke atas runcing ke bawah.

Keadilan di negara ini lebih tajam menghukum

masyarakat kelas bawah daripada pejabat tinggi seperti para koruptor.

Komika membandingkan dengan para pencuri yang berijazah yang

notabenenya para pejabat

sampai busuk ummm sampai busuk. Kenapa mereka tidak masuk Tv?

Karena mereka ini bukan pencuri yang berijazah.

Akhirnya mereka pulang ke timur lagi untuk seorang raja, foto dengan gagah, masuk TV, dan masuk penjara dengan fasilitas mewah. Berbeda dengan mereka yang melakukan kejahat kecil.

Seperti mereka yang maling ayam, ubi, sandal dll. Mereka diperlakukan tidak manusiawi dan

bahkan diperlakukan kasar sebelum dimasukan di dalam penjara. Hal ini sangat bertentangan dengan negara Indonesia yang notabenenya negara hukum. Komitmen

Indonesia sebagai Negara hukum pun selalu dan dinyatakan secara tertulis dalam pasal 1 ayat 3 UUD 1945 hasil amandemen.

Makna pesan sosial pada wacana yaitu Indonesia sebagai negara hukum

boleh tumpul keatas dan

0:49-1:07 Teman-teman, sudah 16 Tahun kita tertatih dalam revormasi. Ditipu oleh politisi yang katanya berikan bukti bukan janji.

Tetapi ketika ada tangis seorang minor di pelosok negeri, mereka sibuk mencari kualisi bukan solusi. Makanya teman-teman, dari pada sibuk nonton mereka debad di televisi, lebih baik datang kesini bisa cuci mata ada tate Veni. Veni dan cuci mata yang artinya

bersenang-senang dengan melihat tante Veni.

Komika mengkritisi tentang politisi yang sering menipu rakyatnya dengan

mengumbar-ngubar jani politiknya, yang katanya memberikan bukti bukan sekadar janji. Padahal, ketika ada tangisan dari rakyat karena penderitaan. dari para politisi atau para pejabat Negara, buka janji-janji manis.

Makna pesan sosial pada wacana ialah janji harus ditepati. Dan politisi harus mampu memberikan bukti

(Abdur, SUCI 4) (http://youtu.be/

2Gmejlze-Z8)

tuh saya kepingin sekali berada di panggung ini, kemudian bawa sasando, alat musik asli NTT begitu.

Cuma apa daya, saya tidak bisa main sasando.

Teman- teman, di NTT sekalipun belajar sasando itu tidak masuk dalam kurikulum. Tidak masuk.

Sedikit lagi masuk museum itu. Saya takutnya, ini lama-kelamaan sasando itu hanya bisa tinggal cerita.

Saya punya anak begitu, kemudian saya punya anak datang, tanya ke saya.

O1: Bapa, katanya sasando itu alat musik NTT. Itu dia pung cara melalui tuturan Komika “Di NTT sekalipun belajar sasando itu tidak masuk dalam kurikulum”.

Sebagai salah satu ikon kesenian NTT, sasando dihadapkan pada situasi yang ironis hingga tahun 2014, sasando belum pernah diajarkan secara formal oleh sekolah-sekolah di NTT. Secara tersirat, Komika menilai salah satu cara atau upaya pelestarian sasando adalah dengan meneruskan dan mengajarkannya kepada generasi muda melalui pembelajaran di sekolah.

gitar kan begini (sambil memetik gitar).

Nah, gitar begini. Nah, sasando begitu.

O1: Ya itu begitu begitu bagaimana?

O2: Ah, sudah anak. Tidak usah pikir. Mari kita minum tuak saja.

dikenali dan dimainkan oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

Makna pesan sosial dalam wacana tersebut adalah bahwa lembaga pendidikan di Nusa Tenggara Timur harus lebih memperhatikan alat musik tradisional dan memasukkan kesenian sasando dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.

MAKSIM

4:26-4:44 Ini ada sedikit kejadian menarik mengenai

perbedaan hari raya Idhul Fitri di Indonesia. Padahal namanya Idul fitri itu

adalah menanti datangnya bulan. Dari dulu datang bulan gak ada yang sama.

Istri saya taggal 25, itu tanggal 36. Enggak usah diributin datangnya bulan.

perbedaan hari raya Idhul Fitri di Indonesia.

Perbedaan itu dikarenakan metode yang digunakan untuk melihat hilal berbeda.

Pemerintah menggunakan metode ruqyat, sedangkan Muhammadiyah

menggunakan hisab untuk mentukan bulan baru 1 Syawal.

Makna pesan sosial dalam wacana ini ialah bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar dan tidak perlu diributkan.

(https://youtu.be/

GAgBjreqxxM)

tentu diajari dalam pembukaan Undang-Undang Dasar ya. Dan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang

berbahagia, mengantar rakyat Indonesia dengan selamat sentosa ke pintu gerbang. Cuman sampai pintu gerbang lo ya, belum masuk lo ya. Cuman sampai pintu gerbang, kita belum masuk. Masih antri, hanya sebagian yang

hanyalah milik para pejabat dan penguasa di negri Indonesia. Rakyat Indonsia hanya di antar sampai ke pintu gerbang kemerdekaan namun belum bisa masuk dan menikmati

kemerdekaan.

Makna pesan pada wacana ini, yaitu pemerintah harus mampu memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia sesuai bunyi UUD 1945.

pergerakan

4:26-4:44 Ini ada sedikit kejadian menarik mengenai

perbedaan hari raya Idhul Fitri di Indonesia. Padahal namanya Idul fitri itu

adalah menanti datangnya bulan. Dari dulu datang bulan gak ada yang sama.

Istri saya taggal 25, itu tanggal 36. Enggak usah

Maksim Relevansi:

perbedaan hari raya Idhul Fitri di Indonesia.

Perbedaan itu dikarenakan metode yang digunakan untuk melihat hilal berbeda.

Pemerintah menggunakan metode ruqyat, sedangkan Muhammadiyah

menggunakan hisab untuk

datangnya bulan.

Dari dulu datang bulan gak ada yang sama. Istri saya taggal 25, itu tanggal 36”.

Tuturan ini tidak mematuhi maksim relevansi, karena tuturan Komika tidak berkaitan dengan pokok pembicaraan Komika atau informasi yang mendahuluinya, karena menanti datangnya bulan yang di maksud Komika

sebelumnya adalah bulan untuk

merayakan Idhul Fitri, bukan bulan yang dimaksudkan Komika setelahnya,

wacana ini ialah bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar dan tidak perlu diributkan.

Indonesia kita harus prihatin dengan Indonesia, semuanya banyak yang dikuasai asing. Pertambangan milik asing, bank milik asing, perusahaan-perusahaan milik asing. Tapi yang saya bingung, waktu saya tanya bapak saya, ya saya tanya bapak saya. itu milik asing ya?

O2: Ah itu sudah

yang melimpah ternyata tak berbanding lurus dengan kesejahteraan bangsa Indonesia. Penyebanya karena banyaknya

kekayaan Indonesia yang dikuasai oleh asing.

Komika mengkritisi tentang bayaknya kekayaan atau aset Indonesia yang dimiliki atau dikelolah oleh Negara luar, itu terlihat pada

wacana “Tapi kita harus prihatin dengan Indonesia, aset Indonesia oleh asing sudah tidak asing dan sudah menjadi rahasia umum. Itu terlihat kertika percakapan O1 dan O2.. O1:

diketahui oleh banyak rakyat Indonesia.

dengan Indonesia yang begitu banyak kekayaannya namun banyak yang

dikuasai oleh asing. Asing kendalikan semua sektor.

Menurut pengamat Ekonomi UGM Revrizon Baswir, sebagaimana dikutip dari

Hitbut-Tahrir.or.id, bahaya yang paling penting adalah asing tidak hanya akan

mengendalikan ekonomi tetapi mereka akan

mengendalikan semuanya.

Sehingga siapapun yang

Sehingga siapapun yang