• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survei Reservoar

Dalam dokumen Judul: LAPORAN PENELITIAN (Halaman 124-128)

B. Kabupaten Hulu Sungai Utara 1. Implementasi Kebijakan

5. Pemberdayaan Masyarakat

4.5 Survei Reservoar

Hewan reservoir yang tertangkap oleh perangkap yang terbuat dari kayu dan bamboo hanya monyet ekor panjang untuk semua kabupaten di Kalimantan Selatan (Hulu Sungai Utara) dan Kalimantan Tengah (Kotawaringin Barat). Hal ini disebabkan karena populasi terbanyak untuk monyet yang berada disekitar pemukiman warga adalah Monyet ekor panjang. Menurut pengakuan warga setempat sebenarnya lutung ada hanya saja sarangnya lebih masuk lagi ke dalam hutan dan tim tidak memungkinkan untuk memasang perangkap di dalam hutan karena medan yang jauh dan berat. Adapun monyet ekor panjang yang tertangkap sangat sedikit karena komunitas monyet ekor panjang sangat banyak dan bersifat komunal. Dalam proses penangkapan monyet yang terperangkap terlihat kawanan monyet ekor panjang tersebut tampak mengamati aktifitas tim peneliti sehingga kawanan yang lain tidak mau lagi mendekati perangkap tersebut. Perangkap yang berhasil menangkap lebih banyak monyet ekor panjang di desa Banjang (6 ekor), namun hanya lima ekor saja yang diambil darahnya karena satu ekor monyet yang tertangkap masih sangat kecil dan mengikuti induknya yang tertangkap.

Hasil pemeriksaan darah tebal hewan reservoir di Kab. Kotawaringin Barat ditemukan banyak yang positif mengandung mikrofilaria dalam darahnya. Desa Sungai Bakau lebih banyak ditemukan pada hewan Kucing dan satu ekor kera yang dipelihara, karena di desa ini tidak terdapat anjing yang tertangkap dan diambil darahnya. Sebagian

94

besar mengandung mikrofilaria lain (Dirofilaria immitis dan Dirofilaria reppens), namun demikian ada pula kucing dan monyet positif mengandung Brugia malayi dalam darahnya.

Begitupula di Desa Dawak terdapat 2 ekor kucing dan 1 ekor anjing yang positif B Malayi. Kabupaten Hulu Sungai Utara sedikit berbeda karena semua monyet yang tertangkap merupakan monyet liar dan semua hasil pemeriksaan darahnya negatif.

Hal yang menjadi catatan adalah sebagian hewan reservoir yang positif mengandung D. reppens adalah kucing dan anjing. D. immitis dan D reppens merupakan cacing filarial definitive bagi kedua jenis hewan reservoir tersebut namun parasit ini sebenarnya bisa menular pada manusia jika mendapatkan kondisi dan kesempatan yang mendukung. B. malayi merupakan mikrofilaria pada manusia, terdapatnya B malayi pada beberapa binatang reservoir dalam darahnya, apalagi hewan tersebut berada dan bersimbiosis dengan kehidupan manusia menunjukkan bahwa transmisi mikrofilaria antar hewan dan manusia telah terjadi dan akan mungkin hewan disekitar kita tersebut akan menjadi reservoir utama bagi penularan filariasis B. malayi.

4.6 Survei Vektor

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut dihisap nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ).

Nyamuk tersebut mendapat cacing filaria kecil (mikrofilaria) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung mikrofilaria.37 Ketika nyamuk dapat berperan dalam menularkan microfilaria ke dalam tubuh manusia dapat disebut sebagai vektor. Mansonia bonneae diketahui merupakan vector B. Malayi tipe non periodik di daerah Dayak di Krayan. Habitat Ma.bonneae di daerah tersebut banyak ditemukan pada lingkungan di dalam hutan lebat dan merupakan sebagai spesies predominan utama dari Mansonia lainnya.38 Tipe daerah tersebut sama dengan yang ditemukan di Desa Dawak yang juga merupakan daerah hutan dan juga banyak ditemukan Ma. bonneae, sedangkan di Desa Sungai Bakau merupakan daerah pesisir pantai yang juga ditemukan Ma. bonneae. Spesies lain yang juga ditemukan adalah Cq. crassipes baik di Desa Dawak maupun Sungai Bakau. Cq.crassipes secara alami dapat menjadi vektor Brugia, Brenlia dan Cardiofilaria di Tanah Intan, Kalimantan Selatan.39 Di Bukit Gasing-Kampung Kerinchi (Kalimantan Malaysia) dilaporkan Ar. Subalbatus merupakan vector B. Pahangi tipe sub periodik.40 Filariasis B. pahangi di laporkan sebagai zoonotic yang dapat menginfeksimanusia di suburbia, Kuala Lumpur 41, dan Desa Sunga

95

Boloh, Selangor 42, Malaysia. Armigeres subalbatus banyak ditemukan di Desa Dawak dan cenderung ada pada setiap jam penangkapan. Keberadaan Ar. subalbatus perlu diwaspadai dan bukan tidak mungkin dapat menjadi vektor yang menginfeksi B. Pahangi ke manusia.

Nyamuk dari genus Anopheles yang ditemukan di Desa Sungai Bakau yaitu An. letifer.

NyamukAn. Letifer pernah dilaporkan sebagai vector W. bancrofti disekitar Sungai Pahang, Malaysia43, namun di Indonesia belum pernah dilaporkan sebagai vector filariasis.

Hasil pengujian PCR tidak ditemukan larva mikrofilaria di dalam tubuh nyamuk baik L1 – L3, namun dalam hal ini perlu kewasapadaan mengingat di daerah lain dilaporkan beberapa nyamuk yang didapatkan di daerah penelitian lain berperan sebagai vector filariasis.

Penularan filariasis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah factor ekologi yang mempengaruhi kepadatan vektor. Hasil observasi di dua desa Kabupaten Hulu Sungai Utara menunjukkan bahwa ke dua desa sama memilikit empat yang berpotensi untuk perkembangbiakan vektor. Kondisi lingkungan yang dominan dengan lokasi persawahan di mana terdapat genangan air yang merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk vector filariasis dapat meningkatkan risiko penularan filariasis di suatu daerah.44 Keberadaan tanaman air berupa padi dan tamanan lain di persawahan juga akan mempengaruhi kepadatan vektor, karena akan membuat kondisi air menjadi lebih optimal untuk perkembangbiakan vector serta menjadi pelindung bagi jentik nyamuk vector dari pemangsa. Selain itu, jarak tempat perkembangbiakan nyamuk dengan pemukiman juga akan mempengaruhi penularan filariasis, karena nyamuk dewasa akan segera mencari darah untuk pematangan telur.

Hasil penangkapan nyamuk yang dilakukan di 2 desa wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara mendapatkan spesies nyamuk yang paling banyak tertangkap adalah Culex spp dan Mansonia spp. Berdasarkan hasil pembedahan terhadap nyamuk yang tertangkap tidak ditemukan adanya larva L3 yang merupakan sumber penular (agent) filarisis pada semua nyamuk, namun berdasarkan hasil pemeriksaan dengan PCR ditemukan positif DNA cacing filarial pada nyamuk genus Mansonia.

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa vector filariasis di daerah endemis filarisis di Asia Selatan yang disebabkan oleh B.malayi tipe periodic adalah An.anthropophagus, An.barbirostris, An.campestris, An.donaldi, An.kweiyangensis, An.sinensis, An.nigerimus, Ma.annulata, Ma.annulifera, Ma.uniformis, Ma.bonneae, Ma.dive, Ma.Indiana, Ae.kiangensis dan Ae.togoi. Sedangkan vector untuk B.malayi tipe

96

sub periodic nokturna adalah Ma.annulata, Ma.bonneae, Ma.dives, dan Ma.uniformis.45 Berdasarkan referensi diketahui bahwa nyamuk Ma.uniformis telah dinyatakan sebagai vector filariasis Brugia malayi di wilayah Sumatera. Selain itu, Ma.uniformis dan Ma.bonneae menjadi vector utama penularan B.malayi tipe sub periodic nokturna di kawasan Selatan Thailand (Nakhon Si Thammarat, Phattalung, Pattani, Yaladan Narathiwat), sedangkan yang menjadi vector sekunder adalah Ma.dives, Ma.indiana, Ma.annulata, dan Ma.annulifera.46 Di Kabupaten HSU spesies nyamuk yang menjadi vector utama maupun vector sekunder di kawasan Selatan Thailand ini juga ditemukan yaitu Ma.dives dan Ma.uniformis. Ma.uniformis yang merupakan vector utama filariasis B.malayi. Hal ini menunjukkan bahwa risiko penularan filariasis masih memungkinkan untuk terjadi di mana masih pula ditemukan 1 kasus positif filariasis di DesaPihaung.

4.7 Survei Lingkungan

Banyak faktor risiko yang mampu memicu timbulnya kejadian filariasis, beberapa diantaranya adalah lingkungan. Faktor lingkungan merupakan salah satu yang mempengaruhi kepadatan nyamuk sehingga berpotensi membawa vektor filariasis.

Lingkungan ideal bagi nyamuk dapat dijadikan tempat potensial untuk perkembangbiakan dan peristirahatan nyamuk, sehingga kepadatan nyamuk akan meningkat. Lingkungan biologi meliputi keberadaan tanaman air, ikan predator, semak-semak dan kandang ternak.

Lingkungan fisik meliputi keberadaan sawah, rawa-rawa, parit, keberadaan kolam dan genangan air. 47

Di Kabupaten Kota Waringin Barat, terdiri dari dua Kecamatan yang mewakili daerah penelitian antara lain: Kecamatan Kota Waringin Lama dan Kecamatan Kumai.

Di Kecamatan Kota Waringin Lama diwakili oleh Desa Dawak yang merupakan wilayah desa secara geografis wilayahnya sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk vektor filariasis, yaitu banyaknya breeding places berupa hutan lebat, selain itu faktor lingkungan, penyebaran penyakit filariasis tergantung juga kepadatan penduduk setempat, pengaruh sanitasi lingkungan dan personal hygiene itu sendiri. Sedangkan di Kecamatan Kumai di wakili oleh Desa Sungai Bakau yang secara geografis wilayahnya adalah pesissir pantai dan sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk vektor filariasis, yaitu keberadaan kolam dan keberadaan genangan air, selain itu faktor perilaku masyarakat (keluar rumah pada malam hari, penggunaan obat nyamuk dan penggunaan kain kasa pada ventilasi) memungkinkan untuk lebih terkena penyakit filariasis.

97

Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, terdiri dari dua Kecamatan yang mewakili daerah penelitian antara lain: Kecamatan Haur Gading dan Kecamatan Banjang. Di Kecamatan Haur Gading diwakili oleh Desa Pihaung yang merupakan wilayah desa secara geografis wilayahnya sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk vektor filariasis, yaitu banyaknya breeding places (keberadaan rawa-rawa, keberadaan semak-semak, keberadaan parit, keberadaan kolam dan keberadaan genangan air), selain itu faktor perilaku masyarakat (keluar rumah pada malam hari, penggunaan obat nyamuk dan penggunaan kain kasa pada ventilasi) memungkinkan untuk lebih terkena penyakit filariasis. Selain faktor lingkungan, penyebaran penyakit filariasis tergantung juga kepadatan penduduk setempat, pengaruh sanitasi lingkungan dan personal hygiene itu sendiri. Sedangkan di Kecamatan Banjang di wakili oleh Desa Banjang yang secara geografis wilayahnya sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk vektor filariasis, yaitu banyaknya breeding places (keberadaan rawa-rawa, keberadaan semak-semak, keberadaan parit, keberadaan kolam dan keberadaan genangan air), selain itu faktor perilaku masyarakat (keluar rumah pada malam hari, penggunaan obat nyamuk dan penggunaan kain kasa pada ventilasi) memungkinkan untuk lebih terkena penyakit filariasis.

Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada hasil observasi pada saat penelitian dilapangan banyak terdapat breeding places di sekitar rumah responden positif mikrofilaria. Habitat nyamuk yang ada di sekitar rumah responden tersebut seperti rawa-rawa, parit-parit, sawah, kolam-kolam tidak terurus yang ditumbuhi oleh tanaman air sehingga ini menjadi tempat perindukan nyamuk. Selain itu lingkungan di sekitar rumah banyak terdapat pohon-pohon atau semak belukar yang memungkinkan nyamuk berkembangbiak. Hal ini dapat mendukung terjadinya risiko gigitan nyamuk filariasis.

Adanya keberadaan habitat nyamuk di sekitar rumah responden sangat mempengaruhi kehidupan nyamuk, antara lain sebagai tempat meletakkan telur, tempat mencari makan dan berlindung bagi jentik dan tempat hinggap nyamuk dewasa.20

Dalam dokumen Judul: LAPORAN PENELITIAN (Halaman 124-128)

Dokumen terkait