BAB IV KONDISI ISLAM
MASA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
D. Syair Perang Menteng Bernuansa Syar’i
Perang Menteng adalah istilah lain untuk menemani perang Palembang antara kesultanan Palembang Darussalam ( Sultan Mahmud Badaruddin II) dengan pasukan Belanda yang dipimpi oleh Komisaris Edelheer Muntighe yang disebut dalam bahasa Melayu Palembang menjadi Idelir Menteng.50 Melalui syair perang Menteng Sultan Mahmud Badruddin II bisa membius ribuan prajurit yang akan mengikuti perperang melawan Kolonial Belanda. Syair perang menteng berisikan bait-bait yang menyampaikan jihad perjuangan pelawan penjajah kafir dari bumi Palembang.51
Syair perang Menteng tentang ketrelibatan langsung para haji yang mungkin penganut Sammaniyah, dalam perang melawan tentara Belanda yang bernada jihad ini, melukiskan dengan cukup realitas kegagalan ekspedisi Belanda di Tahun 1819.
Adapun ulama pada masa itu yang mengikuti perperangan, semuanya kumpul di luar kota, duduk di tepi Sungai Musi, semuanya dengan senjata lengkap, ketika haji-haji berkumpul mereka berzikir ketika ketua haji-haji sampai mereka berangkat sambil menghunus senjatanya yang di kepalai oleh Haji Zaen dan haji Lanang, Ki Emas Said, Ibnu, Ki Emas Haji Ahmad.52
Ulama pada akhir kesultanan yaitu, Kemas Haji Muhammad Zain, misalnya, adalah menantu dari Khalifah Abdus Shamad Al- Palembani . Demikian juga, syaikh Muhammad Aqib adalah salah seorang murid Abdu Samad Al- Palembani yang sangat terkenal.53 Yang penting ditekankan disini adalah kebanyakan mereka pernah mengenyam pendidikan di tanah suci dan mereka adalah
50 Kemas A. Racman Panji,Dkk. Syair Perang Menteng. (Palembang Rafah Press 2010). Hlm 2
51 Kemas A. Racman Panji,Dkk. Syair Perang Menteng….hlm3
52 Nindya Noegraha. Asal-Usul Raja-raja Palembang Dan Hikayat Nakhoda Asyiq Dalam Naskah Kono. (Jakarta Perpusnas 2001)hlm 59
53 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Pemikiran dan Perannya dalam Masyarakat....hal 86
81
guru atau pengikut tarikat Sammaniyah. Tampaknya melalui jaringan tarikat ini para ulama dan haji tersebut berhasil memukul pasukan Belanda dalam Perang Menteng yang terjadi pada tahun 1819M. Kaum mujahiddin yang dimotori oleh ulama tarekat tersebut mempersiapkan diri mereka untuk berjihad fi sabil li Allah dengan membaca asma Allah, berzikir dan membaca ratib dengan suara keras, mereka menyerang pasukan Belanda tanpa merasa gentar menghadapi maut. Dengan semangat dan keberanian yang tinggi para mujahiddin Palembang berhasil menangalkan serangan pertama pasukan Belanda.
Tarikat Sammaniyah adalah tarikat yang dinisbahkan kepada seorang sufi terkenal Syaikh Muhammad Samman yang secara lengkap bernama Muhammad Bin’ Abd Al-Karim Al- Sammani Al-Madani Al-Qadiri Al-Quraysyi.
Ulama sufi yang kerap dipangil Samman ini lahir di Madinah tahun 1132H/1718M dan wafat tahun 1189H/1775M.54
Muhammad Samman kemudian mengajarkan tata cara zikir, wirid dan ajaran-ajaran tasawuf sebagai tarikat yang ia pelajari dan dilengkapi dengan berbagai tambahan yang ia susun sendiri. Gabungan dari berbagai tarikat tersebut dikenal dengan nama baru yaitu Sammaniyyah.
Semasa hidupnya Syaiikh Muhammad Samman tidak hanya aktif dalam berdakwa mengajarkan agama keberbagai daerah tetapi juga menjadi penulis yang produktif terutama dalam bidang tasawuf dan tarekat.
Diantara para murid yang terkenal dan paling besar perannya dalam menyebarkan tarikat Samaniyyah di Nusantara adalah Syaikh Abdul Shamad Al-Palembani (1704-1789M). Ia adalah sufi asal Palembang yang paling terkenal dan produktif. Selain Abdul Shamad Al-Palembani, terdapat paling tidak dua ulama Palembang yang berguru langsung kepada Syaikh Muhammad Samman. Yaitu, Muhammad Muhy al-Din bin Syihab al-Din dan Kemas
54 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Pemikiran dan Perannya dalam Masyarakat....hlm 87
82
Muhammad bin Ahmad. Keduanya dianggap andil dalam menyebarkan torikat Sammaniyah di daerah Palembang.55
Syaikh Abd Al-Shamad juga perna menunjuk menantunya, kemas Haji Muhammad Zain, sebagai guru tarikat sammaniyah. Muhammad Zain perna menjadi pemimpin perang dalam perperangan melawan pasukan Belanda pada tahun 1819M yang dikenal dengan perang Menteng. Hal ini ditulis dalam syair perang menteng:
Diikutilah segala Haji yang garang Haji Zain kepalanya sekarang Itulah mulahnya jadi perperangan Dikota lama sampai diserang
Hijrahnya sultan Mahmud Badaruddin II ke daerah pedalaman membawa pengaru besar di masyarakat uluan (pedalaman).56 Di pedalaman Sultan Mahmud Badaruddin II mengobarkan semangat perang jihad kepada rakyat dengan semboyan perang melawan kafir. Dengan semboyan tersebut para ulama maju sebagai obor pembakar semangat perlawanan.
Yang terpenting dicatat disini, tahun 1819 M telah terjadi perperangan antara guru dan pengikut Tarekat Sammaniyyah dengan pasukan Belanda. Dalam perang Menteng tersebut gabungan tarekat dan haji berhasil memukul mundur pasukan Belanda.. Dalam peristiwa tersebut amalan-amalan Tarikat Sammniyyah dipakai dalam berjihad fi Sabilillah. Cerita lengkap mengeni perang menteng tersebut dilukiskan dalam Syair Perang Menteng yang berjumlah dua ratus enam puluh bait. Berikut dikutip beberapa bait penting yang berkenaan dengan keterlibatan para guru dan penganut tarikat.
55 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Pada Abad XIX Pemikiran dan Perannya dalam Masyarakat....hlm 88
56 Dra. Triana Wulandari. Syarikat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang.
Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta 2001. Hal 19
83
Berkumpulah haji tua dan muda Menghadap duli tunduk tengadah Memohon kepada duli Baginda Hendak mengamuk rakyat Holada
Delapan belas hari raya sabtu Bulan Sya’ban ketika waktu Pukul empat jamnya itu
Haji berzikir di pamarakan tentu
Haji ratid di pengadapan
Berkampung bagai menghadap ayapan Tidaklah ada malu dan sopan
Ratib berdiri berhadapan
La ilaha illallahu dipalukan ke kiri Kepada hati nama sanubari
Datanglah opsir memeriksa berdiri Haji berangkat opsirpun berlari
Haji berteriak Allahu Akbar Datang mengamuk tak lagi sabar Dengan tolong Tuhan Malik Al-Jabar Serdadu Menteng habislah bubar
Haji berteriak sambil memandang Hai kafir marilah tandang
Syurga bernaung di mata pedang Bidadari hadir dengan selendang
Disitulah haji lama berdiri
Dikerumbungi serdadu Holanda pencuri Lukanya tidak lagi terperih
Fanahlah haji lupakan diri
84
Kaum haji di gambarkan dalam syair ini adalah orang-orang tarekat.57 Walaupun sang penyair tidak menyebut nama tarekat, tidaklah sulit untuk menarik kesimpulan bahwa mereka mengamalkan amalan tarekat Sammaniyyah. Tarekat tersebut memang telah berkembang di Palembang dibawah dari tanah suci oleh murid-murid Abdul Samad Al-Palembani pada penghujung abad 18.
Selain itu syair perang menteng menceritakan perlawanan yang dilakukan oleh para priyayi dan tokoh-tokoh lokal seperti perlawanan para haji dan rakya Palembang yang dipimpin oleh haji Zain bahu membahu mempertahankan diri sekuat tenaga. Dalam syair ini diceritaka pula bagaimana kegigihan rakyat Palembang dengan senjata apa adanya berjuang tanpa rasa takut dan siap mati, Palembang berhasil memukul mundur pasukan kolonial meskipun haji Zain sang komandan gugur sebagai syuhada yang berjihad di jalan Allah.
Gambaran di atas adalah hanya sebagian kecil dari sekian bait yang terdapat pada syair perang Menteng yang menggambarkan semangat jihad dan perjuangan wong Palembang melawan penjajah. Dengan semangat dan keberanian yang tetap bergelora mereka berhasil mengalahkan serangan pasukan-pasukan Belanda meski harus bersimbah dara.
Diduga kuat syair ini dibuat setelah perang Menteng ( Perang Palembang) tahun 1819 tepatnya pada hari sabtutanggal 18 Sya’ban pukul 06.00 (pagi) oleh Sultan Mahmud Badarudin II Pangeran Ratu (SMB II), kemudian syair ini banyak diulang oleh para priyayi dan Wong Palembang pada masa itu sebagai kitab sastra yang paling diminati, ada kemungkinan kyai pedatukan adalah salah seorang yang ikut menulis ulang naskah syair perang menteng.58
57 Dr. Zulkifli, Ulama Palembang Abad XIX Peranan dan Pemikiranya dalam masyarakat....hlm 54
58 Dr. Zulkifli, MA. Ulama Palembang Abad XIX Peranan dan Pemikiranya dalam masyarakat....Hal 55
85
86
BAB V