Sebuah sistem simetris komunikasi internal saat ini, keterbukaan komunikasi dalam hal penyampaian ide – ide ataupun keluhan di
Komunikasi Korporat PT.PLN (Persero) Kantor Pusat cukup terbuka untuk karyawan, unit – unit lain maupun staff Komunikasi Korporat itu sendiri. Masalah jarak tentunya ada, karena semua ada garis komandonya masing - masing. Tetapi Komunikasi Korporat menjembatani itu dalam suatu pertemuan Direktur maupun Direksi dengan karyawan dan unit dalam acara Coffee Morning, bincang bareng Direksi ataupun pada CEO Note dan BOD Note.
Dalam hal ini, Komunikasi Korporat PT.PLN (Persero) Kantor Pusat sudah dapat dikatakan sesuai dengan Prinsip Umum milik James E.Grunig. Karena keterbukaannya sudah cukup optimal. Dan untuk jarak itu pasti ada dalam formal organisasi atau perusahaan. Dengan posisinya yang berada pada level pimpinan menengah dan menjadi unit tersendiri sebagai Komunikasi Korporat, Komunikasi Korporat memiliki staff pelaksana sendiri dan dibantu oleh masing – masing asisten manajer Public Relations yang meng handle hubungannya dengan media massa, assisten manajer komunikasi internal dan assisten manajer strategi komunikasi.
8. Knowledge potential for managerial role and symmetrical public relations
Pengetahuan potensi peran manajerial dan simetris Public Relations. Seorang yang praktisi yang mengetahui bagaimana mengelola suatu komunikasi dalam suatu fungsi yang strategis. Pengetahuan sangat penting dalam menjalankan suatu organisasi.
Eksekutif PR Senior atau pihak lain dalam unit PR harus punya pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalankan model simetris dua arah, sebab jika tidak fungsi komunikasi tidak akan punya kemampuan untuk melaksanakan model PR yang unggul.
Komunikasi Korporat dalam hal ini PR sudah mendekati sesuai dengan prinsip umum PR excellent menurut Grunig dalam mengelola komunikasinya yang direalisasikan dalam program – program komunikasinya. Peran dan fungsi Komunikasi Korporat dianggap telah berada di atas rata – rata yang didukung oleh pengetahuan yang dimiliki seorang yang ahli dibidang PR atau Komunikasi Korporat. 9. Diversity embodied in all roles (Keragaman yang terkandung dalam
semua peran)
Prinsip yang kesembilan, prinsip varietas merupakan syarat yang menunjukkan bahwa organisasi membutuhkan banyak keanekaragaman di dalam lingkungan mereka. Semua departemen yang memberdayakan laki – laki dan perempuan dalam semua peran serta praktisi dari latar belakang ras, etnik, latar belakang budaya yang beragam.
Para praktisi PR termasuk Komunikasi Korporat mengakui bahwa
stakeholder perusahaan mereka kini mencakup karyawan, pelanggan
atau konsumen, investor, LSM, komunitas, media atau lembaga pemerintahan yang semuanya berlatar belakang multicultural. Mereka juga tahu bahwa seorang praktisi PR termasuk Komunikasi Korporat
harus memerhatikan diversitas atau keragaman komunitas dan
stakeholder yang mereka layani.
Berbicara mengenai keragaman yang terkandung dalam semua peran, PT. PLN (Persero) Kantor Pusat memiliki karyawan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam hal ini perusahaan tidak menjadikan perbedaan tersebut menjadi masalah. Perbedaan tersebutlah yang menjadikan keragaman dalam organisasi dan tidak menjadikannya pertimbangan dalam pemberdayaan karyawan.
Perusahaan multikultural seharusnya dapat memahami kulturnya dan menghormati perbedaan. Agar sejalan dengan tantangan diversitas, perusahaan harus dapat menyesuaikan diri untuk menjamin agar semua aspek dari operasi mereka mencakup diversitas ini. Dalam hal inilah PR atau Komunikasi Korporat harus mengambil tongkat kepemimpinan atau masuk dalam tataran top management perusahaan dalam mewujudkan perubahan ini. Jika tidak perusahaan akan pontang panting dalam mengikuti perubahan di lingkungan sosial dan cultural.
Terlepas dari keunggulan perusahaan dengan keberagaman yang ada, fungsi Komunikasi Korporat terlihat dalam standar peraturan yang berhubungan dengan program – program komunikasi seperti dalam majalah internal dan sosialisasinya melalui media internal lainnya, kemudian standar untuk menjauhi semua tindak KKN maupun budaya bekerja, bekerja, dan bekerja. Semua itu terlihat tidak terlepas dari adanya nilai – nilai budaya yang ada. Dengan itu, fungsi
Komunikasi Korporat dapat membangun reputasi positif disemua lini perusahaan.
10. Organizational context for excellence (konteks organisasi untuk keunggulan)
Prinsip terakhir ini menjelaskan sejauhmana karakteristik struktur organisasi, budaya, sistem komunikasi, perlakuan terhadap laki – laki dan perempuan, dan kekuatan koalisi dominan memprediksi perilaku organisasi, dalam hubungan umum dan praktek di masyarakat pada khususnya. Itu sebabnya prediksi bahwa komunikator senior dalam fungsi hubungan baik dengan publik akan memiliki kekuatan dengan koalisi dominan.
Berbicara mengenai budaya, sangat kompleks keberadaannya. Menurut dari beberapa narasumber, dapat disimpulkan bahwa PT. PLN (Persero) menganut budaya partisipatif. Budaya tersebut dapat terbentuk karena tidak terlepas dari usaha keras atau partisipasi seluruh karyawan PT. PLN (Persero) yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di kantor pusat. Memelihara hubungan baik dengan berbagai stakeholder PT. PLN (Persero) Kantor Pusat, terutama karyawan merupakan salah satu usaha Komunikasi Korporat untuk menciptakan publik internal yang loyal sehingga dapat mendukung kemajuan PT. PLN (Persero). Dengan itu, Komunikasi Korporat mampu mensosialisasikan kekuatan dan keunggulan internal kesemua lini perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis di atas, maka dapat dicermati bahwa pihak manajemen PT.PLN (Persero) Kantor Pusat belum memberikan perhatian pada profesi Public Relations atau Komunikasi Korporat pada PT. PLN (Persero) Kantor Pusat. Profesi Komunikasi Korporat yang sebenarnya harus dijalankan dengan metode-metode khusus serta harus memiliki ketrampilan untuk berkomunikasi dua arah kepada publik-publiknya.
Komunikasi Korporat secara fungsional sudah dapat dikatakan ideal menurut pandangan mengenai Komunikasi Korporat dari narasumber, tetapi dalam structural belum dapat dikatakan ideal apabila dilihat dari teori Prinsip Umum milik James E. Grunig. Hal tersebut dilatar belakangi oleh posisi Komunikasi Korporat dalam struktur organisasi yang masih dibawah Sekertaris Perusahaan, tidak berdiri sendiri atau memiliki departemen sendiri dengan pimpinan Komunikasi Korporat yang menyebabkan Komunikasi Korporat tidak terhubung langsung dengan pimpinan yaitu CEO dalam rantai komando sehingga belum berada pada level top management sehingga tidak dilibatkan dalam manajemen strategi perusahaan.