• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organizational Influences

2.6 Investigasi Kecelakaan Kerja

2.7.2 Systematic Cause Analysis Technique (SCAT)

The International Loss Control Institute (ILCI) mengembangkan SCAT untuk mendukung investigasi kecelakaan kerja. Model penyebab kecelakaan ILCI (ILCI Loss Causation Model) adalah suatu kerangka untuk sistem SCAT. Teknik SCAT adalah alat untuk membantu investigasi dan evaluasi kecelakaan atau insiden dengan menerapkan grafik SCAT (SCAT chart). Grafik tersebut bertindak sebagai checklist atau referensi untuk memastikan bahwa penyelidikan telah melihat semua aspek dari sebuah kecelakaan (Sklet, 2002).

Dalam “Incident Management : Investigation Methodology Guide” Hydro Tasmania (2010) menyatakan terdapat lima langkah dalam melakukan SCAT, yaitu :

a. Langkah Pertama

Dalam tahap ini, penyidik perlu mengumpulkan bukti yang terdiri dari lima kategori, yaitu bukti saksi, posisi/ lokasi, dokumen, parts evidence dan reka ulang kecelakaan. Setelah bukti-bukti telah terkumpul, langkah ini membutuhkan penyelidik untuk mengevaluasi potensi kerugian jika kecelakaan tidak dapat dikendalikan. Ini adalah salah satu model investigasi kecelakaan yang mencoba memperkenalkan prinsip-prinsip penilaian resiko ke penyelidikan.

b. Langkah 2

Langkah kedua memerlukan penyidik untuk mengidentifikasi perangkat dari daftar seperti peralatan, mesin, listrik atau bahan peledak.

c. Langkah 3

Pada langkah ketiga penyidik diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab langsung dari dua daftar yaitu tindakan sub-standar dan kondisi sub-standar, misalnya mengoperasikan alat tanpa izin dan sistem peringatan tidak memadai. d. Langkah 4

Pada langkah ini mengharuskan penyidik untuk mengidentifikasi penyebab dasar kecelakaan. Pada langkah ini, sistem membagai penyebab dasar menjadi tiga kategori yaitu faktor pribadi, faktor pekerjaan dan alam.

e. Langkah 5

Dalam langkah ini, penyidik perlu mengidentifikasi tindakan kontrol yang diperlukan. Pertanyaan-pertanyaan panduan akan mengajak penyidik kembali ke unsur-unsur sistem manajemen keselamatan kerja dan mengharuskan penyidik

untuk membuat rekomendasi atas kecelakaan/insiden yang terjadi. 2.7.3 Human Factors Analysis and Classification System (HFACS)

HFACS atau Human Factors Analysis and Classification System adalah suatu metode yang khusus dikembangkan untuk menentukan kegagalan laten dan kegagalan aktif sebagaimana yang dijelaskan oleh James Reason dalam teori Swiss Cheese sehingga dapat digunakan sebagai investigasi kecelakaan dan alat analisisnya. Kerangka ini dikembangkan dan disempurnakan dengan menganalisis ratusan laporan kecelakaan yang berisi ribuan faktor manusia (Wiegmann dan Shappell, 2002).

Secara khusus, HFACS menjelaskan empat tingkat kegagalan, yang sesuai dengan model Swiss Cheese Reason. Hal ini termasuk tindakan tidak aman, pre-kondisi tindakan tidak aman, pengawasan yang tidak aman, dan pengaruh organisasi. HFACS membagi setiap tingkat kegagalan menjadi serangkaian faktor penyebab (Luxhoj dan Kauffeld, 2003).

Keterangan :

a. Tindakan tidak aman (Unsafe act)

Setelah kecelakaan kerja terjadi, kegagalan aktif dikategorikan ke dala “kesalahan/error” atau “penyimpangan/pelanggaran”. Error adalah kesalahan yang tidak disengaja, yang kemudian diklasifikasi lebih lanjut ke persepsi, kesalahan berbasis keputusan atau keterampilan. Kesalahan persepsi terjadi ketika masukan sensorik pekerja yang terlibat menurun atau tidak biasa, sehingga mengakibatkan sensorik yang tidak konsisten. Kesalahan berbasis keputusan disebabkan karena pilihan atau tindakan pekerja. Kesalahan ini tidak disengaja yaitu pekerja tidak berniat untuk membuat kesalahan, tetapi kurangnya pengetahuan dan pilihan buruk yang dibuat oleh pekerja adalah katalis untuk kesalahan ini. Kesalahan berbasis keterampilan terjadi ketika pekerja tidak terampil atau berpengalaman dalam lingkungan atau situasi tertentu. Kegagalan ini ditandai oleh kegagalan untuk memperhatikan sesuatu atau kegagalan untuk mengingat sesuatu.

a) Kesalahan dalam mengambil keputusan (Decision errors) : Kesalahan ini biasanya bermanifestasi sebagai eksekusi prosedur yang buruk, pilihan yang tidak tepat, atau hanya salah tafsir dan / atau penyalahgunaan informasi yang relevan.

b) Kesalahan berbasis keterampilan (skill based error) : biasanya terdiri dari kurangnya perhatian dan perhatian yang berlebih misalnya

kerusakan dalam pemindaian visual, respon yang tertunda, teknik yang buruk, gagal dalam memperioritaskan perhatian, dll.

c) Kesalahan persepsi (perceptual errors): adalah faktor-faktor dalam kecelakaan ketika terjadinya salah persepsi terhadap suatu objek, ancaman atau situasi (misal visual, pendengaran, gagal dalam memperhatikan sesuatu, dll).

Pelanggaran (violations) adalah faktor dalam kecelakaan ketika tindakan pekerja merupakan pengabaian yang disengaja, misalnya mengabaikan aturan atau instruksi yang dapat menyebabkan situasi tidak aman. Tidak seperti kesalahan (error), pelanggaran merupakan tindakan yang disengaja.

b. Prakondisi tindakan tidak aman (precondition for unsafe act)

Prakondisi tindakan tidak aman dibagi kedalam tiga kategori yaitu faktor lingkungan, kondisi pekerja, faktor personil. Ketiga kategori tersebut dibagi lagi menjadi subkategori. Faktor lingkungan mengacu pada faktor fisik dan teknologi yang mempengaruhi praktek/pekerjaan, kondisi dan tindakan individu dan yang mengakibatkan kesalahan manusia atau situasi yang tidak aman. Kondisi operator mengacu pada keadaan mental yang merugikan, kondisi fisiologis yang merugikan, dan faktor keterbatasan mental/fisik yang mempengaruhi praktek/pekerjaan, kondisi atau tindakan individu yang mengakibatkan kesalahan manusia atau situasi yang tidak aman. Faktor personil mengacu pada manajemen sumber daya pekerja dan faktor kesiapan pribadi yang mempengaruhi praktek/pekerjaan, kondisi atau tindakan

individu, dan mengakibatkan kesalahan manusia atau situasi yang tidak aman.

c. Pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision)

Pengawasan yang tidak aman dibagi menjadi empat kategori yaitu :

a) Pengawasan tidak memadai: Peran setiap pengawas adalah untuk memberikan kesempatan untuk berhasil bagi setiap pekerja, dan mereka harus memberikan bimbingan, pelatihan, kepemimpinan, pengawasan, atau insentif untuk memastikan tugas dilakukan dengan aman dan efisien.

b) Rencana kerja yang tidak pantas/tepat: Mengacu pada pekerjaan-pekerjaan yang dapat diterima dan berbeda selama keadaan darurat, tetapi tidak dapat diterima selama pekerjaa normal.

c) Gagal memperbaiki masalah yang dikenal : Mengacu pada ketika kekurangan diketahui oleh pengawas, namun tetap diperbolehkan untuk terus bekerja (misalnya, melaporkan kecenderungan yang tidak aman, melakukan tindakan korektif, memperbaiki bahaya keamanan). d) Pelanggaran Pengawas: Mengacu pada ketika aturan dan peraturan

yang ada sengaja diabaikan oleh pengawas (misalnya, penegakan aturan dan peraturan, resmi bahaya yang tidak perlu, dokumentasi yang tidak memadai).

d. Pengaruh organisasi (organizational influences)

a) Manajemen Sumber Daya: mengacu pada tingkat pengambilan keputusan organisasi mengenai alokasi dan pemeliharaan aset organisasi (misalnya sumber daya manusia, sumber daya keuangan / anggaran, peralatan / fasilitas).

b) Iklim Organisasi: mengacu pada suasana kerja dalam organisasi (misalnya struktur, kebijakan, budaya).

c) Proses operasional: mengacu pada keputusan dan aturan organisasi yang mengatur kegiatan sehari-hari dalam sebuah organisasi atau perusahaan (misalnya prosedur, pengawasan).

Dengan menggunakan kerangka HFACS untuk investigasi kecelakaan kerja, perusahaan dapat mengidentifikasi kerusakan dalam seluruh sistem yang memungkinkan kecelakaan terjadi. HFACS juga dapat digunakan secara proaktif dengan menganalisa peristiwa sejarah untuk mengidentifikasi kecenderungan terjadi kembalinya kekurangan atau kelemahan sistem dan kinerja pekerja. Metode ini juga akan memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang lemah dan alat/perlatan yang ditargetkan, intervensi berbasis data yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat kecelakaan dan cedera (Wiegmann dan Shappell, 2002).

Dokumen terkait