Nasehat Keutamaan
A. Taat Beragama Agama ageming aji
Agama pakaian raja.
Agama adalah dasar kekuasaan raja Jawa. Raja memerintah berlandaskan agama. Maka para sultan dan sunan Jawa bergelar Ngabdurrahman Sayidin Panata Gama Khalifatullah. Agama menjadi pedoman hidup yang tak ternilai. Rakyat atau kawula dasih di Jawa mengikuti apa agama rajanya. Ketika Kerajaan Majapahit yang berkuasa di Jawa, maka orang Jawa beragama Hindu-Buda, sesuai agama rajanya. Namun, orang Jawa serta merta memeluk agama Islam sejak Kerajaan Demak berdiri dan diteruskan Kerajaan Pajang dan Mataram.
Aja dumeh ayu banjur kumayu.
Jangan mentang-mentang cantik lantas sok cantik.
Tidak baik memamerkan kecantikan tanpa imbangan kemampuan lain, misalnya kepandaian dan kesalehan. Wanita cantik apabila budi pekertinya yang baik, akan luntur di mata lelaki. Kecantikan wanita akan luntur di mata lelaki apabila tidak pandai bergaul dan tidak terampil dalam ngadi busana ‗berdandan‘.
Aja dumeh bagus banjur gumagus.
Jangan mentang-mentang tampan lantas sok tampan.
Maknanya tampan boleh tapi sok tampan tidak boleh karena berarti sombong, pamer, dan riya. Lelaki yang tampan tetapi bodoh dan rendah perilakunya akan terlihat kurang berwibawa di mata orang lain. Lelaki akan tampak lebih tampan apabila memiliki derajat ‗kebangsawan‘, pangkat ‗jabatan‘, dan semat ‗kekayaan‘.
Aja dumeh menang, banjur sewenang-wenang.
Jangan mentang-mentang menang lantas sewenang-wenang.
Kemenangan atau kekuasaan itu untuk kebaikan.
Sewenang-wenang pada yang lemah dan kalah akan membuat diri kita jatuh. Kemenangan bukan berarti kekuasaan untuk berbuat aniaya, melainkan justru dijaga dengan eling lan waspada. Orang menang yang sejati adalah yang bisa mengalahkan hawa nafsu dan keinginan diri pribadi, mengelola ego dan tidak sentimentil.
Aja dumeh sugih banjur semugih.
Jangan mentang-mentang kaya lantas sok kaya.
Orang kaya yang bermewah-mewah membuat orang miskin sakit hati. Menyombongkan kekayaan menjadi tidak bijaksana. Sebaliknya, kekayaan harus dijaga dengan perilaku rendah hati, keshalihan dan kedermawanan agar kekayaan itu berkah dan halal. Kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati. Orang kaya yang sesungguhnya adalah orang yang suka memberi.
Aja gumunan.
Jangan mudah terkagum-kagum.
Kehidupan dunia ini beraneka ragam. Mudah terkagum-kagum dengan suatu hal yang baru, menyebab-kan kita amenyebab-kan mudah terperdaya. Aja gumunan kaya kethek mlebu kutha. Jangan mudah terkagum-kagum seperti kera masuk kota. Orang yang gumunan akan mudah tergoda dan tidak waspada.
Aja kagetan.
Jangan mudah terkejut.
Mudah terkejut ketika menerima berita, melihat sesuatu yang menakjudkan, atau melihat suatu kejadian membuat jantung berdetak keras. Orang yang mudah terkejut, akan terlihat jelas kurang matang ilmu jiwanya.
Sebaliknya, perlu membaca masa depan dan melihat
berbagai kemungkinan yang akan terjadi, sehingga segala sesuatu menyangkut diri kita dapat kita ketahui dan kendalikan.
Aja mburu menange dhewe.
Jangan merasa menang sendiri.
Orang hidup perlu tenggang rasa. Mengejar kesenangan dan kemenangan diri sendiri dengan mengha-lalkan segala cara membuat kita harus berhadapan dengan banyak musuh. Win win solution merupakan jalan terbaik untuk menghadapi konflik, agar tidak ada yang merasa terkalahkan. Seribu kawan masih kurang, seorang musuh sudah lebih dari cukup. Persahabatan membuat dunia makin luas, permusuhan membuat dunia makin sempit.
Aja nggege mangsa.
Jangan mempercepat waktu.
Memburu sesuatu yang belum waktunya, mungkin justru berakibat fatal. Segala sesuatu itu akan tiba masanya.
Ada rahasia Allah yang tidak bisa dipercepat maupun diperlambat. Karena itu, kita semestinya selalu bersandar kepada-Nya. Sunnah-Nya adalah tangan misterius yang tidak kelihatan tapi dapat kita rasakan. Segala sesuatu akan tiba waktunya. Bahkan, seorang petinju yang hampir knock out, akan diselamatkan oleh bel.
Aja nggugu karepe dhewe.
Jangan berbuat sekehendak sendiri.
Manusia hidup bergandengan tangan dengan manusia lain. Rantai kehidupan menyambungkan setiap manusia dengan lainnya. Karena itu, semestinya kita selalu berempati dan bersimpati terhadap orang lain. Wujudnya ialah tenggang rasa, memperhatikan pikiran dan perasaan orang lain serta berani melihat suatu persoalan dengan cara pandang orang lain.
Aja nuhoni benere dhewe.
Jangan merasa benar sendiri.
Persoalan yang tidak pernah selesai didiskusikan di dunia ini adalah tentang kebenaran. Kebenaran itu sering kali tergantung siapa dan dari mana melihatnya. Oleh sebab itu, tenggang rasa dengan berani melihat kebenaran secara obyektif diperlukan. Maka kita perlu melihat kebenaran menurut versi orang lain dan berkewajiban menghormati-nya. Benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain.
Aja pijer mangan nendra.
Jangan mengutamakan makan tidur.
Mengurangi makan dan tidur berfaedah tidak mudah terkena penyakit dan waktu lebih produktif. Terlalu banyak makan dan tidur membuat kita menjadi malas dan
tidak sensitif terhadap penderitaan orang lain. Sebaliknya, orang Jawa mengajarkan agar kita suka berpuasa dan berprihatin agar indra menjadi awas lan eling.
Aji mumpung.
Ilmu mumpung.
Menyalahgunakan kesempatan untuk kepentingan pribadi. Misalnya mumpung punya kekuasaan mengatur anggaran negara lantas korupsi dan manipulasi. Senyam-pang menjadi pejabat yang berwenang lantas menindas rakyat. Sebaliknya, kekuasaan dan jabatan wajib digunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Contoh lain adalah mumpung tidak ada pengawasan yang ketat lalu nekat, mumpung tidak ada aturan yang jelas lalu nerabas, dan sebagainya. Integritas atau track record kita akan terbangun dengan kejujuran pribadi dan dedikasi yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ajining dhiri dumunung ing kedaling lathi.
Nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya.
Harga diri seseorang terletak pada ucapannya. Bila kata-katanya yang keluar dari mulut itu baik, maka ia pun akan dikatakan sebagai orang baik. Sebaliknya, bila ia menipu, maka ia pun akan dicap sebagai penipu. Semua pemimpin yang sukses memiliki ketrampilan dalam orasi, diplomasi dan negosiasi. Bila ingin sukses dalam
kehidup-an, maka belajar bercakap yang baik adalah syarat utama.
Diam adalah emas kata peribahasa, namun kadang kala diam adalah mala petaka. Sebaliknya, berbicara adalah emas, namun kadang kala juga karena berbicara akan celaka. Ada waktu, tempat, suasana, kepentingan, dan sebagainya yang perlu dipertimbangkan ketika seseorang akan berbicara.
Ajining sarira dumunung ing busana.
Nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya.
Harga diri fisikal seseorang terletak pada penampilan pertama. Penampilan pertama seseorang dapat dilihat dari busana yang dipakai. Semakin tinggi kelas sosial seseorang biasanya ia berpakaian yang lebih baik.
Penampilan dalam zaman modern sangat penting agar dihargai orang.
Akal okol.
Akal dan tenaga.
Manusia dikaruniai kekuatan akal pikiran. Akal pikiran itu perlu digunakan semaksimal mungkin. Akal pikiran dan fisik merupakan sarana perjuangan hidup setiap manusia. Dengan kombinasi kedua potensi ini, cita-cita setinggi apapun akan bisa tercapai, meskipun mengeringkan samudra dan merobohkan gunung.
Alelungan datan kongsi bebasahan kaselak kam-puhe bedhah.
Bepergian belum sampai mencapai tujuan, belum-belum kainnya sobek.
Perlambang tragedi politik di Kraton Demak (1478 – 1533). Sultan Demak membawa misi mendakwahkan Islam belum sampai tuntas dan mencapai kejayaan, keburu Sultan Trenggana mati syahid dan kerajaannya bubar. Misi mengislamkan tanah Jawa belum tuntas. Namun kekuatan utama yang disimbolkan dengan kampuh sudah bedhah atau sobek. Kekuasaan kenegaraan Demak, robek setelah Sultan wafat, sementara para pewarisnya saling berebut tahta. Tiga kubu yang berebut kekuasan Demak adalah Arya Penangsang di Jipang – Blora, Jaka Tingkir di Pajang, dan Pangeran Prawata di Kota Demak. Ketegangan ini berakhir dengan naik tahtanya Jaka Tingkir menjadi Sultan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.
Alon-alon kelakon.
Pelan-pelan selamat.
Bekerja bertujuan dua hal, yaitu sukses tercapai maksudnya dan diri kita selamat. Prinsip bekerja menurut orang Jawa yakni tepat cara kerja dan tepat waktu. Tepat cara kerja artinya sungguh-sungguh dan tidak sembarang-an, tepat waktu artinya tidak terburu-buru dan tidak berlambat-lambat. Jika dalam keadaan genting harus
memilih, maka orang Jawa memilih pelan-pelan asal sempurna.
Aluamah amarah supiyah muthmainah Nafsu makan, amarah, seksual, kesucian.
Perlambang empat nafsu manusia. Tiga nafsu pertama, yakni suka makanan enak, suka marah, dan akan suka kenikmatan seksual, jika sudah berhasil dikendalikan maka manusia baru akan mencapai ketenangan dan kesucian diri atau muthmainah.