• Tidak ada hasil yang ditemukan

TABEL 15 ALAT CORS DAN KONDISINYA DI DAERAH PENELITIAN

Teknis Penggunaan CORS di Daerah

TABEL 15 ALAT CORS DAN KONDISINYA DI DAERAH PENELITIAN

Sumber : Data diolah, 2013 NO RESPONDEN

KONDISI ALAT CORS

JUMLAH RESP. BASE STATION ROVER

TIDAK BAIK (%) TIDAK BAIK (%)

BAIK (%) BAIK (%)

Kanwil sampel

Kantah sampel 5

19

-81

-19 100

100

-1. -2.

Berdasarkan tabel tersebut maka alat CORS dan kondisinya di daerah penelitian dapat disimpulkan, yaitu:

1) Kanwil sampel

n Tidak ada base station yang ditempatkan di kanwil sampel;

n Hampir seluruh kanwil sampel memperoleh rover pada akhir 2012 dari pengadaan BPN Pusat;

n Seluruh kanwil sampel menerima 1 buah rover dan tidak ada penambahan dari pembelian;

n Tidak seluruh rover berada di kanwil sampel, tetapi ada satu kanwil sampel yang memobilisasikan rover untuk men dukung pencapaian target peng ukuran. Hal ini dikarenakan permohonan pengukuran di kanwil tidak ada;

n Seluruh kondisi rover dalam keadaan baik;

n Melihat kondisi rover di kanwil sampel yang seluruhnya dalam kondisi baik maka bila belum optimal penggunaannya bukan dikarenakan faktor kondisi alat yang tidak baik.

2) Kantah sampel

n Tidak semua kantah sampel ditempatkan base station. Base station dibangun di Kantah terpilih yang menurut persyaratan teknis dan keamanan memenuhi kriteria;

n Mayoritas Kantah sampel menerima base station dan/atau rover tahun 2010;

n Base station dalam kondisi baik sebesar 81% sedangkan rusak 19%, adapun rover seluruhnya (100%) dalam kondisi baik. Kerusakan pada base station antara lain:

i) Kantah Kabupaten Malang, base station hidup tetapi tidak bisa tertangkap rover.

Beberapa waktu lalu pun rover mengalami kendala sehingga tidak bisa mencapai fixed sehingga sepanjang tahun 2013 ini CORS tidak digunakan. Untuk rover saat ini sudah diperbaiki BPN Pusat dan telah kembali berfungsi dengan baik;

ii) Kantah Kabupaten Sumedang, base station hidup tetapi tidak bisa dimanfaatkan karena terhalang bukit sehingga perlu relokasi base station;

iii) Kantah Kabupaten Klungkung, tidak bisa digunakan karena kabel dimakan tikus.

Kebijakan Strategis BPN

57

n Sebagian besar kantah sampel (76%) hingga saat penelitian dilaksanakan masih memiliki 1 buah rover yang berasal dari pengadaan BPN Pusat. Hanya satu kantah sampel mendapatkan 2 buah rover dari pengadaan BPN Pusat.

n Hanya 6 kantah sampel (24%) yang sudah melakukan penambahan rover melalui dana PNBP;

n Kantah-kantah yang belum menambah rover berdasarkan hasil penelitian dengan beberapa pertimbangan: 1) pembelian alat pengukuran non CORS dengan pertimbangan familiaritas penggunaan alat para petugas ukur, 2) tidak memiliki dana PNBP yang cukup untuk membeli rover, 3) penggunaan rover yang ada saat ini dirasakan belum efektif, 4) menanti perbaikan terhadap kendala CORS yang ada pada saat ini;

n Melihat kondisi base station dan rover di kantah sampel maka terdapat 3 kantah (19%) yang belum optimal penggunaan CORS karena kondisi alat, dalam hal ini base station yang bermasalah.

5.2. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGGUNAAN CORS

Kebijakan penggunaan CORS maupun strategi penggunaan CORS dengan terbatasnya jumlah rover baik di kanwil maupun kantah sampel sebagai berikut (data detail lihat Lampiran 17 dan Lampiran 18).

1) Kebijakan dan strategi penggunaan CORS di Kanwil sampel:

a. Tidak ada kebijakan penggunaan secara tertulis untuk kewajiban pengguna annya. Penggunaan CORS diusahakan sepanjang kondisi jaringan mendukung, walau sebatas pengikatan. Namun kanwil yang tidak ada permohonan peng ukuran maka kebijakan pengguna an nya diarahkan untuk membantu kegiatan pengukuran di kantah. Bahkan terdapat kanwil yang mempunyai kebijakan untuk memobilisasikan rover yang dimilikinya ke kantah;

b. Strategi penggunaan rover secara bergantian antar tim sesuai permintaan penggunaan rover ke penanggung jawab alat;

c. Penggunaan rover diarahkan untuk kegiatan pengukuran bidang yang luas, paling tidak untuk titik referensi.

2) Kebijakan dan strategi penggunaan CORS di kantah sampel :

a. Sebagian besar kantah sampel yang pernah menggariskan kewajiban penggunaan CORS (tidak tertulis) untuk luasan tertentu kemudian berkembang tidak lagi mewajibkan karena kendala yang dialami petugas ukur dalam menggunakan CORS. Hard policy menjadi soft policy yang sifatnya mengarahkan penggunaan CORS untuk kondisi-kondisi tertentu sepanjang jaringan mendukung;

b. Kebijakan penggunaannya lebih utama diarahkan untuk pengukuran tanah dengan: i) luasan tertentu, ii) tanah terbuka (open area), iii) untuk pengukuran program strategis, seperti Prona dan IP4T;

c. Sebanyak 3 kantah (15,79%) mensiasati kendala jaringan dengan menggariskan kebijakan penggunaan CORS secara radio link;

d. Terdapat perbedaan di salah satu kantah sampel dimana kebijakan penggunaan CORS diwajibkan. Tanpa adanya titik referensi dengan CORS maka hasil ukur an tidak akan diterima.

Untuk itu, penggunaan CORS juga dijadwalkan untuk setiap petugas ukur secara bergantian.

Sistem tersebut mendorong para petugas ukur mempelajari dan menggunakan CORS. Kantah pun mem fa silitasi dengan memberikan fasili tas pelatihan dengan mengundang vendor hingga mendampingi petugas ukur yang belum bisa gunakan CORS ke lapang. Kebijakan ini melahirkan sistem pengukuran di kantah tersebut yang diharapkan siapapun pemimpinnya akan bertindak atas nama sistem dan berperilaku berdasarkan sistem yang mengatur;

Kebijakan Strategis BPN

58

e. Strategi penggunaan rover di kantah sampel:

n Bergantian di antara para penggunanya;

n Hingga kini CORS dengan koneksi NTRIP masih belum menjadi prima dona sebagaimana peng gu na an total station sehingga hampir tidak di temukan di daerah penelitian yang saling berebut di antara para petugas ukur untuk menggunakan rover;

n Namun di beberapa kantah dengan penggunaan secara radio link justru menarik para petugas ukur untuk menggunakannya. Bahkan agar dapat menggunakan secara radio link, kantah saling tukar alat ataupun pinjam rover.

5.3. PENGGUNAAN CORS DALAM RANGKA PENGIKATAN BIDANG TANAH

Teknologi CORS di bidang kadastral digunakan dalam rangka menyediakan titik dasar virtual untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan TDT konvensional untuk pengikatan batas bidang dalam rangka pengukuran bidang tanah. Berdasarkan pemahaman kegunaan CORS di atas, sebagian besar petugas ukur masih memandang penggunaan CORS terutama dalam rangka pengukuran bidang. Padahal sebenarnya dalam rangka penyediaan TDT virtual. Berdasarkan hal tersebut, sebagian besar pengukuran masih diikatkan kepada pengikatan lokal sebagaimana yang selama ini telah dilakukan. Pengikatan lokal yang biasanya

5.4. FREKUENSI PENGGUNAAN CORS DAN OBYEK YANG DIUKUR DENGAN CORS

Frekuensi penggunaan CORS dan obyek pengukurannya sebagai berikut (data detail lihat Lampiran 19 dan 20) :

1) Kanwil sampel :

a. Sebagian besar frekuensi penggunaan rendah, hanya 1 kali/bulan namun waktu penggunaan alat umumnya lebih dari 1 hari dan bahkan 1 minggu karena tanah yang diukur umumnya luas. Terdapat kanwil sampel yang tidak ada permohonan pengukuran sehingga penggunaannya diarahkan untuk membantu kegiatan kantah dengan frekuensi penggunaan setiap hari sepanjang jaringan mendukung;

b. Obyek pengukuran yang menjadi kewenangan kanwil umumnya luas dan biasanya terbuka, seperti tanah pertanian, tanah kosong ataupun sedikit berbangunan.

2) Kantah sampel :

a. Mayoritas sebanyak 42,10% menggunakan rata-rata 1-2 kali/minggu dan 36,84% gunakan 2-3 kali/minggu. Sebanyak 10,52% tidak menggunakannya karena alat rusak dan hanya 10,54% penggunaannya 4 kali/minggu dan bahkan ada salah satu kantah yang gunakan setiap hari, terutama dalam mendukung pengukuran program-program strategis, seperti Prona. Penggunaan CORS dengan membawa back up alat dan bila kondisi jaringan tidak mendukung maka dialihkan dengan penggunaan alat ukur lainnya;

b. Sebagian besar kantah sampel lebih mengarahkan penggunaan CORS :

n tanah terbuka (open area), seperti tanah kosong, sawah, tambak;

n untuk pengukuran program massal, seperti Prona, IP4T;

n untuk pengukuran rutin diarahkan untuk luasan tertentu, misal > 3000 m2.

c. Sebagian besar responden terlihat menghindari penggunaan CORS untuk mengukur permukiman padat bangunan karena: i) sulit koneksi ataupun mencapai fixed solution, ii) untuk pengukuran bidangan yang kecil-kecil dianggap kurang efektif dengan CORS karena akan memakan waktu yang lebih lama. Biasanya responden lebih memilih untuk menggunakan meteran;

Kebijakan Strategis BPN

59

d. Sebanyak 3 kantah sampel (15,79%) menggunakan secara radio link karena telah memiliki 2 buah rover, yang berasal dari pengadaan BPN Pusat, pembelian dari dana PNBP ataupun saling tukar antar kantah. Penggunaan secara radio link tidak tergantung jaringan sehingga mempengaruhi peningkatan frekuensi penggunaan CORS menjadi setiap hari. Bahkan petugas ukur di kantah tersebut lebih memilih penggunaan secara radio link yang dianggap lebih efektif tanpa harus menunggu fixed solution yang tidak menentu lamanya (bisa sangat cepat namun bisa juga untuk fixed memakan waktu yang sangat lama hingga > 1 jam per titik). Namun penentuan posisi secara radio link ini pada penentuan posisi awal tidak secara NTRIP;

e. Hanya di salah satu kantah sampel sudah menggunakan CORS setiap hari tanpa membatasi penggunaan CORS untuk obyek pengukuran ataupun luasan tertentu, bahkan di permukiman padat. Salah seorang petugas ukur di Kantah tersebut mengungkapkan bahwa untuk mengukur di permukiman padat sebenarnya bisa tapi memang karena seringkali terkendala signal GNSS atau tidak adanya koneksi transmisi data (edge) maka pengukuran bidang tanah dengan titik dasar virtual. Untuk itu, dicari dua buah titik ikat virtual yang saling terlihat, biasanya mencari titik yang lebih terbuka dan bisa mencapai fixed solution. Pengukuran bidang kemudian dikombinasikan dengan meteran ataupun TS.

5.5. METODE PENGUKURAN CORS YANG DIGUNAKAN

Dalam menggunakan CORS, para petugas ukur dapat menggunakan salah satu dari 3 (tiga) metode, yakni: i) metode NRTK (Network Real Time Kinematik, ii) metode single base RTK/ , iii) Post processing. Berdasarkan hasil penelitian maka metode yang telah digunakan oleh para petugas ukur sebagai berikut :

1) Pada seluruh kanwil dan sebagian besar kantah sampel, para petugas ukurnya menggunakan metode NRTK secara koneksi NTRIP;

2) Hanya pada 3 kantah sampel (15,79%), para petugas ukurnya sudah menggunakan metode selain koneksi NTRIP, yakni single base RTK/radio link. Radio link ini digunakan sebagai alternatif dari penggunaan secara NTRIP yang seringkali sulit mencapai fixed solution;

3) Seluruh petugas ukur belum pernah ada yang menggunakan metode post processing. Beberapa petugas ukur menyatakan telah diajarkan tentang pengambilan data secara post processing namun untuk pengolahan datanya belum diajarkan. Bahkan software pendukung untuk penggunaan post processing belum ada.

5.6. KENDALA PENGGUNAAN CORS

Untuk dapat mengoptimalkan penggunaannya maka perlu diketahui kendala-kendala utama penggunaan teknologi CORS di daerah. Diharapkan dengan diidentifikasinya kendala-kendala yang dihadapi para pengguna di daerah maka dapat dicarikan solusi sehingga terjadi peningkatan penggunaan CORS.

Berdasarkan hasil penelitian (data detail lihat Lampiran 21), terlihat bahwa sebagian besar responden menyatakan kendala penggunaan CORS bersifat teknis, yaitu: 1) komunikasi data, 2) base station, 3) server, 4) spesifikasi alat. Selebihnya merupakan kendala non teknis, seperti: 1) pengelola CORS, 2) perilaku petugas ukur, 3) penguasaan alat. Berikut diuraikan kendala-kendalanya.

1) Komunikasi Data

n Crowded jaringan pada jam sibuk (busy hour) di atas jam 11-16.00 WIB sulit koneksi ataupun fixed solution;

Kebijakan Strategis BPN

60

n Problem koneksi NTRIP, untuk float saja membutuhkan waktu lama, terlebih fixed. Padahal pada beberapa lokasi pengukuran dekat dengan BTS ataupun pada daerah terbuka. Untuk pengukuran di permukiman padat, tertutup vegetasi, di bawah sutet dinyatakan sulit fixed solution;

n Setiap daerah seringkali didukung infrastruktur komunikasi data yang berbeda-beda sehingga untuk menangkap signal berganti-ganti simcard, akibatnya slot simcard pada rover mudah rusak;

n Tidak semua daerah memiliki infrastruktur komunikasi data yang baik, seperti pada topografi daerah pegunungan/perbukitan, perdesaan yang terpencil (remote), kepulauan;

n Beberapa daerah ditemukan blank spot, seperti Malang bagian Selatan, bagian Utara Kabupaten Sampang, daerah pegunungan di Jonggol Jawa Barat, daerah Timur Kabupaten Sumedang (Desa Jatigede) dan daerah Wado-Jatinunggal (Desa Sari Mekar, Desa Tarikolot).

2) Base Station

n Base station tidak diketahui hidup atau mati di lokasi pengukuran;

n Base station hidup tetapi tidak tertangkap rover, seperti Kantah Kabupaten Malang dan Kantah Kabupaten Sumedang;

n Base station tidak berfungsi dengan baik sehingga perlu relokasi, seperti Kantah Kabupaten Sumedang terhalang perbukitan;

n Beberapa wilayah tidak tertangkap base station, seperti beberapa wilayah di Bondowoso, Kediri, Sidoarjo, Probolinggo, Cianjur, Sukabumi, Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Jawa Barat bagian Selatan, Timur Sumedang, Grobogan, Cilacap, Blora, Marunda, Kepulauan Seribu;

n Base station di Kantah hidup (on) namun tertangkap di Pusat mati (off), seperti terjadi di Kantah Kabupaten Bantul.

3) Server

n Link server beberapa kali not connected ataupun diping dalam kondisi RTO;

n Manajemen server yang terpusat dianggap kurang efektif. Responden menyatakan semakin banyak base dan semakin jauh server dari base akan mempengaruhi kinerja CORS.

n VPN yang terbagi untuk KKP dianggap memperlambat kinerja CORS.

4) Spesifikasi alat, di daerah ditemukan beberapa jenis merk base dan rover, seperti Javad, Topcon dan Leica dengan fitur yang berbeda-beda yang dikhawatirkan kompabilitasnya dan mempengaruhi penguasaan alat petugas ukur.

5) Pengelola CORS

n Server mati ataupun ip address berganti tanpa diketahui pengguna;

n Jumlah pengelola CORS di Pusat masih kurang memadai untuk melayani pengguna di seluruh Indonesia sehingga seringkali masih kurang responsif ataupun sulit dihubungi;

n Pengelola CORS terbatas pelayanannya di hari kerja padahal banyak pengukuran untuk mengejar target dilakukan bukan hari kerja;

n Belum ada sarana komunikasi antara pengguna dan pengelola CORS yang dikelola secara profesional.

6) Perilaku petugas ukur

n Petugas ukur dengan beban kerja tinggi ingin pengukuran secara cepat dan mudah sehingga menunggu fixed dirasakan memperlambat kerja;

n Sebagian besar petugas ukur > 50 tahun merasa familiar dengan meteran atau TS sehingga tidak mau belajar alat lain karena membutuhkan waktu penguasaan yang lama dengan pelatihan yang intensif;

Kebijakan Strategis BPN

61

n Pola kerja petugas ukur bila sulit fixed secara NTRIP, sulit didorong untuk menggunakan post processing karena budaya “carry and cash”. Dengan post processing berarti pulang dari lapang belum membawa hasil ukuran;

n Pelatihan CORS umumnya cenderung diikuti petugas ukur yang masih muda dan seringkali berulang orang yang sama;

n Kecemasan menggunakan alat karena CORS dibawa tapi belum tentu bisa dipakai kalo server/base mati atau signal di lokasi tidak mendukung.

7) Penguasaan alat :

n Seringkali sulit fixed karena kesalahan petugas ukur sendiri, lupa mengganti access point ketika berganti-ganti simcard. Menu send GSM juga lupa diklik;

n Banyak pula petugas ukur yang mengungkapkan ketidak percayaannya terhadap hasil ukuran dengan CORS tanpa adanya kontrol. Hal ini karena pernah beberapa kali di data terecord fixed tetapi hasil ukuran menyimpang;

n Microtik dianggap menghambat kinerja base station. Hal ini karena kekurangtahuan admin CORS (penanggung jawab) di daerah bahwa ip address utk tiap pelayanan berbeda.

Mikrotik di ruang server lokal akan membagi ip client. Base station tidak berfungsi justru karena kesalahan pengaturan ip address oleh administrator CORS.

5.7. KOMPONEN BIAYA PENGGUNAAN TEKNOLOGI CORS

Dalam rangka penggunaan teknologi ini perlu dilihat komponen biaya yang timbul dan pemenuhannya. Hal ini agar ke depan, pembiayaan yang dianggap perlu dan menunjang teknologi ini dapat dianggarkan. Komponen biaya untuk penggunaan CORS di daerah penelitian sebagai berikut (data detail lihat Lampiran 22):

n Komponen biaya hanya untuk komunikasi data;

n Komponen biaya tersebut ditanggung oleh para petugas ukur;

n Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk simcard Rp.50.000-100.000/ bulan. Simcard yang digunakan mayoritas adalah simcard voice/GSM biasa dengan alasan lebih cepat konektivitasnya dibandingkan simcard data;

n Komponen biaya untuk pemeliharaan belum ada yang mengeluarkan karena : i) alat masih dalam masa garansi, ii) alat pernah rusak dan sudah tidak dalam masa garansi namun tidak dikenakan biaya perbaikan dari vendor, iii) alat pernah rusak dengan biaya perbaikan yang tidak terlalu besar sehingga masih bisa ditanggung Kantah.

5.8. GAP DAN PELUANG PENINGKATAN PENGGUNAAN CORS DARI ASPEK TEKNIS PENGGUNAAN

5.8.1. Gap Teknis Penggunaan CORS

Berdasarkan uraian di atas maka gambaran umum teknis penggunaan CORS di daerah penelitian sebagai berikut:

Kebijakan Strategis BPN

62

Berdasarkan gambaran umum tersebut, gap teknis penggunaan CORS :

1) Penanganan kendala teknis pada alat CORS masih lama karena SDM pengelola CORS terbatas sehingga harus menunggu dan bergantian di antara para pengguna CORS seluruh Indonesia.

2) Kebijakan yang mewajibkan untuk menggunakan CORS belum terlihat karena masih terkendala: i) alat masih terbatas jumlahnya, ii) masih banyak keluhan para petugas ukur terhadap kendala teknis. Hal ini mengakibatkan frekuensi penggunaannya masih rendah karena obyek pengukurannya terbatas di arahkan untuk tanah yang luas dan terbuka.

3) Kendala penggunaan CORS belum teratasi, terutama kendala teknis yang mempengaruhi kinerja CORS.

4) Selama ini komponen biaya hanya simcard, tanpa adanya penganggaran biaya untuk pemeliharaan alat. Bahkan di daerah penelitian, tidak ada rencana pemeliharaan alat.

5.8.2. Peluang Peningkatan Penggunaan CORS dari Aspek Teknis Penggunaan CORS

Berdasarkan gambaran umum dan gap teknis penggunaan CORS tersebut, maka peluang peningkatan optimalisasi penggunaan CORS dari aspek teknis penggunaan :

1) BPN Pusat melaksanakan evaluasi penggunaan dan kendala CORS di daerah untuk memperoleh gambaran utuh capaian penggunaan CORS dan kendala yang dihadapi pengguna di daerah;

2) BPN Pusat segera melakukan penanganan kendala teknis untuk peningkatan kinerja CORS dengan peningkatan infrastruktur CORS dan manajemen kelolanya, yang sebelumnya perlu diujicoba kelayakan dan efektivitasnya sehingga benar-benar dicapai optimalisasi penggunaan CORS (“the best and the highes use of CORS”) :

a. Komunikasi data

Komunikasi data berperan penting dalam teknologi CORS.