• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian

4. Bed Turn Over (BTO)

4.3 Tabel distribusi frekuensi tekanan darah

Tekanan Darah Persalinan Total

Seksio Sesarea Pervaginam n %

N % N %

Hipertensi 2 2,7 1 1,3 3 100,0

Tidak Hipertensi 73 97,3 74 98,7 147 100,0

Total 75 50,0 75 50,0 150 100,0

Dari 75 sampel kasus (seksio sesarea), didapatkan 2 orang mengalami hipertensi dengan presentasi 2,7% dan 73 orang tidak mengalami hipertensi dengan presentasi 97,3%. Pada 75 sampel kontrol (pervaginam), didapatkan 1 orang mengalami hipertensi 1,3% dan 74 orang tidak mengalami hipertensi dengan presentasi 98,7%.

4.2.2. Bivariat

Analisis bivariat dimaksudkan untuk mengetahui hubungan variable bebas yaitu kadar Hb dan tekanan darah dengan variable terikat yaitu persalinan seksio sesarea. Adanya hubungan antara kadar Hb, riwayat partus, dan tekanan darah dengan persalinan seksio sesarea ditunjukkan dengan nilai p < 0,05. Hasil analisis bivariat akan disajikan pada table berikut.

Tabel 4.4 Hubungan Kadar Hb dan Tekanan Darah dengan Persalinan Seksio Sesarea di RS Prikasih Jakarta Selatan Pada Tahun 2013

No Variabel SC n (%) Pervaginam n (%) P 1 Kadar Hb < 11 gr% (Anemia) ≥ 11 gr% (tidak anemia) Jumlah 20 (26,7) 55 (73,3) 75 (100) 17 (22,7) 58 (77,3) 75 (100) 0,705 2 Tekanan Darah Hipertensi Tidak Hipertensi Jumlah 2 (2,7) 73 (97,3) 75 (100) 1 (1,3) 74 (98,7) 75 (100) 1.000

Pada table diatas diketahui hasil analisis statistik masing-masing variabel independen dengan variabel dependen. Kadar Hb dikategorikan menjadi <11 gr% anemia dan ≥ 11 gr% tidak anemia. Hasil statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara anemia dengan kejadian persalinan seksio sesarea (p=0,705).

Tekanan darah dikategorikan menjadi ≥140 (sistol) atau ≥90 (diastol) hipertensi dan <140 (sistol) atau <90 (diastole) tidak hipertensi. Hasil statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara hipertensi dengan kejadian seksio sesarea (p=1.000).

4.3 Pembahasan

a. Kadar hemoglobin (Hb)

Hasil statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara anemia dengan kejadian persalinan seksio sesarea (p=0,705). Anemia jarang menimbulkan kedaruratan akut selama kehamilan, namun setiap masalah kegawatan dapat diperberat oleh anemia yang telah ada. Seperti halnya pada proses persalinan, kondisi kala II lama atau partus tak maju, akan diperberat dengan adanya anemia.27 Kadar Hb yang rendah pada ibu hamil, sampai pada bulan-bulan terakhir dan saat mendekati proses persalinan mempengaruhi kerja otot-otot alat reproduksi yaitu otot uterus, otot panggul, dan ligament. Hal ini mengakibatkan ibu tidak mempunyai kekuatan his

35

(power) yang adekuat, sehingga menyebabkan pembukaan jalan lahir tidak optimal yang akhirnya proses persalinan mengalami kesulitan.

Kadar Hb rendah (anemia) lebih sedikit dibandingkan kadar Hb tidak anemia pada persalinan lama dan persalinan seksio sesarea dan hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kadar Hb dengan persalinan seksio sesarea.37 Menurut Anisa hasil analisis statistiknya menunjukkan tidak ada hubungan antara kadar Hb dengan kejadian persalinan seksio sesarea (p= 0,923).38 Kemungkinan tidak adanya hubungan antara anemia dengan persalinan seksio sesarea dalam penelitian ini dikarenakan tidak adanya perbedaan jumlah kasus anemia yang signifikan antara kelompok ibu melahirkan dengan persalinan seksio sesarea dan persalinan normal. Dalam hal ini faktor gizi selama kehamilan sangat mempengaruhi. Hal lain yang diduga mempengaruhi hasil penelitian ini dalah tidak dilakukannya pencatatan kadar Hb selama kehamilan trimester pertama hingga trimester ketiga pada sampel dikarenakan data ini adalah data sekunder dari rekam medis pasien sebelum persalinan.

b. Tekanan Darah

Hasil statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara hipertensi dengan kejadian persalinan seksio sesarea (p=1.000). Hipertensi secara klinis paling sering dan merupakan salah satu tanda dari penyulit preeklamsia dan eklamsia. Preeklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan protein uria dan udem atau keduanya yang terjadi akibat kehamilan pada umur kehamilan ≥ 20 minggu. Preeklamsia yang terus berlangsung selama kehamilan hingga berkembang menjadi eklamsia merupakan penyulit terutama dalam persalianan spontan, karena adanya vasospasme arteri spiralis pada preeklamsia dan eklamsia menyebabkan berkurangnya sirkulasi uteroplasenta yang berakibat nutrisi dan oksigenasi ke janin, sehingga janin mengalami gangguan pertumbuhan serta hipoksia yang akhirnya dapat menyebabkan gawat janin sampai kematian, sehingga untuk mempercepat persalinan harus dilakukan dengan tindakan.38

Hipertensi pada kehamilan dan ditandai adanya proteinuria atau sering dikenal sebagai preeklamsia juga merupakan indikasi persalinan seksio sesarea, karena dikhawatirkan akan terjadi eklamsia (kejang-kejang) pada waktu persalinan, ini merupakan indikasi untuk mempercepat proses persalinan.13

Penelitian ini berlawanan dengan penelitian Yuli K yaitu hasil analisis statistik yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tekanan darah ibu pada saat sebelum persalinan dengan kejadian persalinan dengan tindakan (p=0,0001). Namun pada analisis multivariat menunjukkan bahwa hipertensi tidak berpengaruh terhadap terjadinya persalinan dengan tindakan.13 Pada penelitian Murphy secara statistik menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara hipertensi dengan terjadinya persalinan dengan tindakan.28 Kemungkinan tidak adanya hubungan tekanan darah dengan kejadian persalinan seksio sesarea pada penelitian ini dikarenakan tidak adanya perbedaan jumlah kasus hipertensi yang signifikan antara kelompok ibu melahirkan dengan persalinan seksio sesarea dan persalinan normal. 4.4 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Keterbatasan-keterbatasan tersebut adalah: 1. Data ini merupakan hasil pencatatan peneliti terhadap data rekam medis

persalinan di rumah sakit. Sedangkan terdapat variable seperti kadar Hb yang seharusnya sudah terpantau sejak masa kehamilan. Hal ini dapat menjadi bias penelitian.

2. Kesalahan sistematis disebut bias, yang terdiri dari bias seleksi, bias informasi, dan bias pengacau.

a. Bias Seleksi

Dalam penelitian ini bias seleksi tak dapat dihindari, mengingat data untuk kasus dan kontrol sangat tergantung dari kelengkapan data yang ada di Rumah Sakit Prikasih.

37

Bias informasi atau bias pengukuran dapat terjadi karena perbedaan sistem, dalam mutu dan cara pengumpulan data. Maksudnya di sini adalah faktor human eror yaitu pada saat pengukuran tekanan darah ibu pada saat sebelum persalinan dan terjadi kesalahan pada proses pemeriksaan kadar Hb ibu pada saat sebelum persalinan seperti identitas pasien tertukar dengan pasien lain.

38 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Tidak adanya hubungan kadar Hb dengan kejadian persalinan seksio sesarea dengan p= 0,705.

2. Tidak adanya hubungan tekanan darah dengan kejadian persalinan seksio sesarea dengan p= 1.000.

5.2 Saran

1. Variable yang tidak berhubungan dengan kejadian persalinan seksio sesarea yaitu kadar Hb dan tekanan darah. Mungkin perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain atau rancangan penelitian berbeda.

2. Pada penelitian berikutnya sebaiknya membedakan persalinan seksio sesarea yang indikasi medis dan non medis.

3. Mempertajam variabel Hemoglobin (Hb) dengan kriteria Hb< 6 (anemia gravis) dan tekanan darah dengan kriteria TD > 160 (sistol) dan > 100 (diastole).

4. Sampel penelitian sebaiknya diperbesar sehingga akan mengurangi nilai bias.

5. Pada pengolahan data sebaiknya menggunakan uji T test Independent dengan variabel numerik dan kategorik tidak berpasangan, sehingga akan terlihat interval dan rasio.

39

Dokumen terkait