Nutrien Perlakuan R1 R2 R3 R4 BK (%) 37,99 50,44 52,05 60,44 Abu (% BK) 17,40 17,19 17,08 18,75 PK (% BK) 4,21 5,92 6,48 11,80 LK (% BK) 1,44 2,48 2,71 3,52 SK (% BK) 32,50 31,02 30,44 25,80 Beta-N (% BK) 44,45 43,39 43,30 40,12 TDN 1) (% BK) 59,57 57,29 57,87 48,53 Ca (% BK) 0,42 0,30 0,41 2,65 P (% BK) 0,28 0,54 0,52 0,29
Keterangan : *Perhitungan berdasarkan data Sutardi (1980) dan hasil analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah (2011)
1)
Perhitungan TDN (Total Digestible Nutrient) berdasarkan Sutardi (1980)
TDN (% BK) = 100%
PKt = Protein Kasar tercerna; SKt = Serat Kasar tercerna; LKt = Lemak Kasar tercerna Beta-Nt = Bahan ekstrak tanpa nitrogen tercerna
BK = Bahan Kering; PK = Protein Kasar; LK = Lemak Kasar; SK = Serat Kasar Beta-N (Bahan ekstrak tanpa nitrogen) = 100% - (kadar Abu + PK + SK + LK) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi
20
Konsumsi Bahan Kering
Menurut Parakkasi (1999), konsumsi adalah faktor esensial yang merupakan
dasar untuk hidup dan produksi. Kemampuan sapi mengkonsumsi pakan sangat
terbatas. Keterbatasan itu dipengaruhi oleh keadaan fisiologis ternak, keadaan pakan
dan faktor luar, seperti suhu dan kelembaban udara.
Tabel 5. Rataan Konsumsi Bahan Kering (kg/ekor/hari)
Kelompok
Perlakuan
R1
R2
R3
R4
K1
3,74
4,60
4,96
7,28
K2
4,20
4,49
4,37
6,17
K3
2,92
4,26
4,64
5,79
K4
3,24
4,31
5,08
5,13
Rataan
3,52
a4,42
ab4,76
b6,09
cSimpangan
Baku
0,56
0,16
0,32
0,90
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan hasil sangat beda nyata (P<0,01) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi
R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Hasil penelitian pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis
jerami padi ini berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap rataan konsumsi bahan
kering (BK). Konsumsi BK pada R1 tidak berbeda nyata dengan R2, tetapi konsumsi
BK R2 tidak berbeda nyata dengan R3. Konsumsi BK pada R4 nyata lebih tinggi
daripada R3, R2 dan R1.
Perbaikan pakan berbasis jerami padi ini mengakibatkan konsumsi BK
meningkat. Pemberian ransum komplit (R4) nyata lebih meningkatkan konsumsi BK.
Hal ini disebabkan palatabilitas dan kualitas bahan pakan yang tinggi pada R4.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Parakkasi (1999) bahwa jumlah konsumsi BK
pakan dipengaruhi beberapa variabel meliputi palatabilitas, jumlah pakan yang
tersedia dan komposisi kimia serta kualitas bahan pakan. Palatabilitas merupakan
gambaran sifat bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptik seperti
penampakan, bau, rasa, tekstur dan temperaturnya sehingga menimbulkan
rangsangan dan daya tarik ternak untuk mengkonsumsinya. Ketersediaan zat
21
makanan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi yang normal harus
mendapatkan perhatian khusus. Suplementasi protein pada bahan pakan yang rendah
protein akan meningkatkan konsumsi dari bahan pakan tersebut.
Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa pemberian konsentrat pada ternak
bertujuan untuk meningkatkan daya cerna pakan secara keseluruhan. Semakin
banyak konsentrat yang dapat dicerna, arus pakan dalam saluran pencernaan menjadi
lebih cepat sehingga meningkatkan pengosongan rumen dan menimbulkan sensasi
lapar pada ternak, akibatnya memungkinkan ternak untuk mengkonsumsi pakan lebih
tinggi. Van Soest (2006) mengungkapkan bahwa suplementasi yang diberikan pada
jerami padi dapat meningkatkan konsumsi pakan seperti yang terjadi pada penelitian
Djajanegara dan Doyle (1989) dan Warly et al. (1992).
National Research Council (1984) menyebutkan bahwa kebutuhan hidup
pokok untuk heifer dengan bobot badan 300 kg membutuhkan konsumsi BK minimal
sebesar 4,5 kg/ekor/hari. Sementara itu, jika heifer tersebut diprogramkan untuk
PBBH sebesar 0,25 kg/hari, maka kebutuhan konsumsi BK minimal sebesar 6,2
kg/ekor/hari.
Performa Produksi
Performa seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan
pengaruh kumulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak tersebut sejak
terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto
(1990) dan Gunawan
et al. (2008) menyatakan bahwa faktor genetik ternak
menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor
lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya.
Performa seekor ternak dapat dilihat dari bobot badan, laju pertumbuhan dan ukuran-
ukuran tubuh. Performa produksi yang diamati pada penelitian ini adalah
pertambahan bobot badan harian dan beberapa peubah tubuh.
Pertambahan Bobot Badan Harian
Pertambahan bobot badan harian (PBBH) merupakan salah satu peubah untuk
mengetahui performa ternak. Laju pertumbuhan bobot badan ditentukan oleh
beberapa faktor antara lain potensi pertumbuhan dari masing-masing individu ternak
dan pakan yang tersedia (Cole, 1982). Potensi pertumbuhan dalam periode ini
dipengaruhi oleh faktor individu ternak dan jenis pakan. Tillman
et al. (1998)
22
menyebutkan bahwa faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya
baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, pertumbuhannya akan menjadi cepat,
demikian pula sebaliknya.
Tabel 6. Performa Pertambahan Bobot Badan Harian (kg/hari)*
Kelompok
Perlakuan
Rataan
Simpangan
Baku
R1
R2
R3
R4
K1
-0,36
0,15
0,37
0,51
0,17
0,38
K2
0,28
0,42
0,28
1,15
0,53
0,42
K3
0,27
-0,21
0,14
0,55
0,19
0,32
K4
0,06
0,82
0,42
0,40
0,42
0,31
Rataan
0,06
0,29
0,31
0,66
0,33
0,36
Simpangan
Baku
0,30
0,43
0,12
0,34
0,36
Keterangan : *Bobot badan dihitung berdasarkan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986) Bobot badan (kg) =
R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Astuti (2003) mengemukakan bahwa sapi PO tanggap terhadap perubahan
maupun perbaikan pakan dengan menunjukkan PBBH yang berbeda-beda. Astuti
(2003) menggambarkan bahwa PBBH sapi PO dewasa sangat bervariasi yaitu
sebesar 0,44-0,98 kg/hari dari berbagai penelitian perubahan maupun perbaikan
pakan. Hal ini menandakan bahwa pengaruh lingkungan (pemberian pakan) dapat
mempengaruhi performa seekor ternak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan ini tidak berpengaruh
nyata (P>0,05) terhadap PBBH (Tabel 6). Sementara itu, hasil penelitian Prihandini
dan Umiyasih (2008) menunjukkan bahwa perbaikan pakan berpengaruh nyata
(P<0,05) terhadap PBBH sapi PO betina dewasa selama 2 bulan pemeliharaan. Hal
ini disebabkan lama pemeliharaan yang relatif singkat (25 hari masa evaluasi
pertumbuhan) pada penelitian ini sehingga keragaman laju pertumbuhan bobot badan
yang ditampilkan tidak nyata.
Prihandini dan Umiyasih (2008) menggunakan dua taraf pelakuan pakan pada
penelitiannya, yaitu pakan A dan pakan B yang diujikan pada 26 ekor sapi PO betina
23
dengan rataan umur 2 tahun. Pakan A adalah perbaikan pakan yang berupa
pemberian konsentrat dan suplemen mineral dari pakan B. Pakan B adalah
pemberian pakan berupa pucuk tebu, rumput lapang, limbah pisang, daun gamal,
rumput gajah, tebon kering, daun sengon dan dedak. PBBH pada perlakuan A adalah
sebesar 0,59 kg/hari, sedangkan PBBH pada perlakuan B sebesar 0,34 kg/hari. Hal
ini menandakan bahwa PBBH yang optimal dapat diperoleh dengan perbaikan pakan.
Tidak optimalnya pertumbuhan sapi yang terjadi pada perlakuan perbaikan
pakan (R3 dan R4) dapat disebabkan faktor umur. Ada sapi yang berumur lebih tua
secara acak mendapatkan perlakuan pakan yang memiliki kandungan nutrien yang
lebih baik (R3 dan R4), tetapi tidak menghasilkan PBBH yang lebih baik.
Sebaliknya, ada sapi yang berumur lebih muda secara acak mendapatkan perlakuan
pakan yang memiliki kandungan nutrien yang tidak lebih baik (R1 dan R2), tetapi
menghasilkan PBBH yang lebih baik. Perbedaan performa PBBH ini lebih
disebabkan faktor umur dimana umur yang lebih muda akan tumbuh lebih cepat.
Sebagaimana yang terjadi pada sapi R3K3 berumur 5 tahun (Tabel 2) menghasilkan
PBBH sebesar 0,14 kg/hari lebih rendah daripada sapi R1K3 berumur 2,5-3 tahun
(Tabel 2) dengan PBBH sebesar 0,27 kg/hari. Hal ini dapat mengakibatkan tidak
adanya pengaruh perlakuan perbaikan pakan yang disebabkan tidak optimalnya
pertumbuhan pada sapi-sapi tua.
Pertambahan negatif terjadi pada sapi R1K1 dan R2K3. Hal ini disebabkan
konsumsi dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan hidup
pokok sapi R1K1 dan R2K3 sehingga terjadi degradasi jaringan yang akan
mengakibatkan turunnya bobot badan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tillman
et al. (1998) bahwa apabila kebutuhan hidup pokok tidak terpenuhi oleh pakan maka
kebutuhan tersebut dipenuhi dari degradasi jaringan.
Zain et al. (2009) menyatakan bahwa jerami padi dapat dioptimalisasikan
dengan baik apabila dilakukan perlakuan amoniasi pada jerami padi yang
ditambahkan dengan konsentrat dan diberi suplementasi. Lebih lanjut yang
diungkapkan Zain et al. (2009) bahwa pemberian 30% jerami padi amoniasi + 70%
konsentrat (39% dedak padi, 50% bungkil kelapa, 10% ampas tahu, 0,4% garam dan
0,6% mineral mix) + suplemen (ubi kayu, fosfor dan sulfur) dapat meningkatkan
PBBH hingga mencapai 0,67 kg/hari pada sapi pesisir jantan.
24
National Research Council (1984) menyebutkan bahwa kebutuhan hidup
pokok untuk heifer dengan bobot badan 300 kg adalah PK minimal sebesar 7,8% dan
TDN minimal sebesar 57%. Sementara itu, jika kebutuhan PK dalam pakan diberikan
melebihi 11,1% maka PBBH sapi tersebut dapat mencapai angka di atas 0,75 kg/hari.
Hal ini menandakan bahwa PBBH dipengaruhi oleh total protein yang diberikan
ternak sapi setiap hari.
Peubah Tubuh
Peubah tubuh merupakan ukuran-ukuran yang dapat dilihat pada permukaan
tubuh sapi, antara lain tinggi pundak, panjang badan, lebar dada, dalam dada dan
lingkar dada (Natasasmita dan Mudikdjo, 1980; Ningsih, 2011). Setiap komponen
tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, karena pengaruh alam
maupun lingkungan (Otsuka et al., 1982; Tazkia, 2008).
Panjang badan. Panjang badan merupakan salah satu ukuran yang sering
digunakan untuk menilai ternak sapi potong. Panjang badan berkaitan erat dengan
pertumbuhan tulang. Johansson dan Rendel (1968) menyatakan bahwa pertumbuhan
panjang badan dipengaruhi oleh pertumbuhan kerangka tulang dan genetik. Posisi
sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran panjang badan (Herman, 1985).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap performa panjang badan dan
pertambahan panjang badan harian (Tabel 7). Performa panjang badan akhir
penelitian dan pertambahan panjang badan harian yang terjadi pada sapi PO betina
dewasa umur 2-6 tahun dalam penelitian ini masing-masing sebesar 124,75 cm dan
0,13 cm/hari (Tabel 7). Pertambahan negatif terjadi pada sapi R2K1, R3K3, R3K4
dan R4K4 yang dapat diakibatkan oleh posisi sapi ketika diukur pada suatu waktu
tidak dalam posisi lurus yang baik.
25
Tabel 7. Performa Panjang Badan Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Panjang Badan Akhir
K1 127 123 135 125 127,5 5,26 K2 122 126 125 129 125,5 2,89 K3 122 132 129 125 127 4,40 K4 115 118 122 121 119 3,16 Rataan 121,5 124,75 127,75 125 124,75 5,04 Simpangan Baku 4,93 5,85 5,62 3,27 5,04
Pertambahan Panjang Badan Harian
K1 0 -0,2 0,24 0,44 0,12 0,28 K2 0 0,28 0,16 0,56 0,25 0,24 K3 0,52 0 -0,08 0 0,11 0,28 K4 0,2 0,32 -0,12 -0,2 0,05 0,25 Rataan 0,18 0,1 0,05 0,2 0,13 0,24 Simpangan Baku 0,24 0,24 0,18 0,36 0,24
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Lingkar dada. Lingkar dada merupakan ukuran tubuh yang paling sering
digunakan untuk menilai sapi potong. Lingkar dada berkaitan erat dengan
pertumbuhan daging dan otot bagian
thorax. Johansson dan Rendel (1968)
menyebutkan bahwa pertumbuhan lingkar dada dipengaruhi oleh pertumbuhan
daging dan otot. Berg dan Butterfield (1976) menyatakan bahwa bagian tubuh yang
paling cepat tumbuh pada sapi dewasa adalah bagian thorax dan abdominal. Herman
(1985) menyatakan bahwa posisi sapi ketika diukur tidak berpengaruh terhadap
pengukuran lingkar dada.
Perbaikan pakan yang diberikan pada pakan berbasis jerami padi ini
berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lingkar dada (Tabel 8). Lingkar dada R1 nyata
lebih rendah dibandingkan R3, tetapi lingkar dada R1 dengan R2 dan R4 tidak
berbeda nyata. Lingkar dada R2, R3 dan R4 tidak berbeda nyata. Hal ini menandakan
terjadinya perbedaan performa lingkar dada yang cukup signifikan sebagai respon
terhadap perlakuan perbaikan pakan ini, namun perbaikan pakan tersebut tidak
26
berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan lingkar dada harian (Tabel 8).
Pertambahan lingkar dada harian yang terjadi pada sapi PO betina dewasa umur 2-6
tahun dalam penelitian ini adalah rata-rata sebesar 0,09 cm/hari (Tabel 8).
Pertambahan negatif yang terjadi pada sapi R1K1 dan R2K3 dapat diakibatkan telah
terjadinya degradasi jaringan pada bagian thorax. Hal ini terjadi karena konsumsi
dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan hidup pokok
sapi R1K1 dan R2K3 sehingga terjadi degradasi jaringan.
Tabel 8. Performa Lingkar Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Lingkar Dada Akhir
K1 156,5 162 165,5 163,5 161,88 3,86 K2 155 155 154,5 162 156,62 3,59 K3 148 151 157,5 153 152,38 3,99 K4 139 151 155 147 148 6,83 Rataan 149,62a 154,75ab 158,12b 156,38ab 154,72 6,80 Simpangan Baku 7,99 5,19 5,09 7,78
Pertambahan Lingkar Dada Harian
K1 -0,1 0,04 0,1 0,14 0,04 0,1 K2 0,08 0,12 0,02 0,32 0,14 0,13 K3 0,08 -0,06 0,04 0,16 0,06 0,09 K4 0,02 0,24 0,12 0,12 0,12 0,09 Rataan 0,02 0,08 0,07 0,18 0,09 0,1 Simpangan Baku 0,08 0,13 0,05 0,09 0,1
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan hasil beda nyata (P<0,05) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi
R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Tinggi pundak. Tinggi pundak merupakan salah satu ukuran yang digunakan
untuk menilai ternak sapi potong. Tinggi pundak berkaitan erat dengan pertumbuhan
tulang, sebagaimana yang dikemukakan oleh Johansson dan Rendel (1968) bahwa
pertumbuhan tinggi pundak dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang dan genetik. Posisi
sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran tinggi pundak (Herman, 1985).
27
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tinggi pundak dan pertambahan tinggi
pundak harian (Tabel 9). Performa tinggi pundak dan pertambahan tinggi pundak
harian yang terjadi pada sapi PO betina dewasa umur 2-6 tahun dalam penelitian ini
masing-masing sebesar 125,69 cm dan 0,01 cm/hari (Tabel 9). Pertambahan negatif
terjadi pada sapi R1K1, R2K1, R2K4, R3K4, R4K2 dan R4K3 yang dapat
diakibatkan oleh posisi sapi ketika diukur pada suatu waktu tidak dalam posisi lurus
yang baik.
Tabel 9. Performa Tinggi Pundak Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Tinggi Pundak Akhir
K1 126 125 135 130 129 4,55 K2 128 127 123 120 124,5 3,70 K3 122 134 126 123 126,25 5,44 K4 122 120 122 128 123 3,46 Rataan 124,5 126,5 126,5 125,25 125,69 4,53 Simpangan Baku 3,00 5,80 5,92 4,57 4,53
Pertambahan Tinggi Pundak Harian
K1 -0,04 -0,08 0,12 0,08 0,02 0,1 K2 0,08 0,08 0,08 -0,16 0,02 0,12 K3 0,04 0,08 0 -0,04 0,02 0,05 K4 0 -0,08 -0,12 0,08 -0,03 0,09 Rataan 0,02 0 0,02 -0,01 0,01 0,08 Simpangan Baku 0,05 0,09 0,11 0,12 0,08
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Lebar dada. Lebar dada merupakan ukuran tubuh yang dapat digunakan
dalam menilai sapi potong. Lebar dada juga dapat menggambarkan penilaian sapi
potong dari arah depan. Lebar dada berkaitan erat dengan pertumbuhan tulang dan
daging bagian thorax. Posisi sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran
lebar dada.
28
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap lebar dada dan pertambahan lebar
dada harian (Tabel 10). Rataan lebar dada dan pertambahan lebar dada harian pada
penelitian ini masing-masing sebesar 31,38 cm dan -0,09 cm/hari (Tabel 10).
Pertambahan negatif yang terjadi pada sapi R1K2, R1K3, R1K4 dan R2K4 dapat
diakibatkan telah terjadinya degradasi jaringan pada bagian thorax. Hal ini terjadi
karena konsumsi dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan
hidup pokok sapi R1K2, R1K3, R1K4 dan R2K4 sehingga terjadi degradasi jaringan.
Sementara itu, pertambahan negatif yang terjadi pada semua sapi perlakuan R3 dan
R4 lebih disebabkan oleh posisi sapi ketika diukur pada suatu waktu tidak dalam
posisi lurus yang baik.
Tabel 10. Performa Lebar Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Lebar Dada Akhir
K1 35 36 33 34 34,5 1,29 K2 33 31 30 35 32,5 2,22 K3 29 32 29 30 30 1,41 K4 27 30 28 30 28,75 1,5 Rataan 31 32,25 30 32,25 31,38 2,70 Simpangan Baku 3,65 2,63 2,16 2,63 2,70
Pertambahan Lebar Dada Harian
K1 0,12 0,04 -0,04 -0,12 0 0,1 K2 -0,04 0 -0,32 -0,04 -0,1 0,15 K3 -0,04 0,08 -0,24 -0,2 -0,1 0,15 K4 -0,2 -0,12 -0,12 -0,24 -0,17 0,06 Rataan -0,04 0 -0,18 -0,15 -0,09 0,12 Simpangan Baku 0,13 0,09 0,12 0,09 0,12
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
29
Dalam dada. Dalam dada merupakan ukuran tubuh yang dapat digunakan
dalam menilai sapi potong. Dalam dada dapat menggambarkan penilaian sapi potong
dari arah samping. Dalam dada berkaitan erat dengan pertumbuhan tulang dan
daging bagian
thorax. Johansson dan Rendel (1968) menyebutkan bahwa
pertumbuhan dalam dada dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang dan daging. Posisi
sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran dalam dada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap dalam dada dan pertambahan dalam
dada harian (Tabel 11). Rataan dalam dada dan pertambahan dalam dada harian pada
penelitian ini masing-masing sebesar 62,12 cm dan 0,06 cm/hari (Tabel 11).
Tabel 11. Performa Dalam Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Dalam Dada Akhir
K1 62 64 73 63 65,5 5,07 K2 63 62 64 65 63,5 1,29 K3 58 67 63 58 61,5 4,36 K4 58 55 58 61 58 2,45 Rataan 60,25 62 64,5 61,75 62,12 4,32 Simpangan Baku 2,63 5,10 6,24 2,99 4,32
Pertambahan Dalam Dada Harian
K1 -0,04 0,04 0,2 0 0,05 0,1 K2 0,24 0,08 -0,08 0,2 0,11 0,14 K3 0,08 0,16 -0,16 -0,04 0,01 0,14 K4 0,1 0 -0,1 0,24 0,06 0,14 Rataan 0,1 0,07 -0,04 0,1 0,06 0,13 Simpangan Baku 0,12 0,07 0,16 0,14 0,13
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Pertambahan negatif yang terjadi pada sapi R1K1 dapat diakibatkan telah
terjadinya degradasi jaringan pada bagian thorax. Hal ini terjadi karena konsumsi
dan kandungan nutrien pada R1 tidak mencukupi kebutuhan hidup pokok sapi R1K1
30
sehingga terjadi degradasi jaringan. Sementara itu, pertambahan negatif yang terjadi
pada sapi perlakuan R3K2, R3K3, R3K4 dan R4K3 lebih disebabkan oleh posisi sapi
ketika diukur pada suatu waktu tidak dalam posisi lurus yang baik.
Perbaikan pakan berbasis jerami padi ini tidak mempengaruhi peubah tubuh
yang diukur, kecuali terhadap lingkar dada dan tidak mempengaruhi pertambahan
harian semua peubah tubuh yang diukur. Hasil penelitian ini sejalan dengan
Prihandini dan Umiyasih (2008) pada panjang badan dan tinggi pundak, tetapi tidak
sejalan pada lingkar dada. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini dapat
disebabkan beberapa faktor, antara lain: umur sapi yang telah mencapai dewasa
kelamin dan dewasa tubuh, pakan, genetik dan posisi sapi saat diukur.
Sapi PO betina penelitian ini yang berumur 2-6 tahun telah mencapai dewasa
kelamin dan dewasa tubuh. Rata-rata sapi lokal Indonesia mencapai dewasa kelamin
pada umur 1,5-2 tahun dan mencapai dewasa tubuh pada umur 2-2,5 tahun
(Sosroamidjojo dan Soeradji, 1990). Setelah sapi mencapai dewasa kelamin
pertumbuhan tulang akan terhenti karena osifikasi tulang rawan sudah sempurna.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Field dan Taylor (2003) bahwa pertumbuhan
dan perkembangan tulang tercapai sebelum ternak dewasa kelamin. Hal ini dapat
mengakibatkan perbaikan pakan tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tubuh
yang dipengaruhi pertumbuhan tulang seperti panjang badan, tinggi pundak, lebar
dada, dalam dada dan pertambahan hariannya.
Pemberian pakan berkualitas tinggi pada sapi yang sebelumnya diberikan
pakan berkualitas rendah akan mengakibatkan pertumbuhan kompensatori dimana
pertumbuhan ternak akan mengalami percepatan (Soeparno, 2005). Hal ini dapat
mengakibatkan perbaikan pakan berpengaruh nyata terhadap lingkar dada sehingga
dalam waktu relatif singkat sudah menunjukkan keragaman lingkar dada yang
berbeda nyata. Sementara itu, Tillman et al. (1998) menyatakan apabila kebutuhan
hidup pokok tidak terpenuhi oleh pakan maka kebutuhan tersebut dipenuhi dari
degradasi jaringan. Hal ini mengakibatkan terjadinya pertambahan harian yang
negatif pada lingkar dada, lebar dada dan dalam dada beberapa sapi penelitian.
Faktor genetik individu sapi dapat mempengaruhi performa peubah tubuh
(Johansson dan Rendel, 1968). Sapi PO betina penelitian ini yang berumur 2-6 tahun
memiliki rataan panjang badan, tinggi pundak, lebar dada dan dalam dada masing-
31
masing sebesar 124,75 cm; 125,69 cm; 31,38 cm dan 62,12 cm, sedangkan sapi PO
betina penelitian Prihandini dan Umiyasih (2008) yang berumur 2 tahun memiliki
rataan panjang badan dan tinggi pundak masing-masing sebesar 123 cm dan 119,39
cm. Adrial (2010) menyatakan bahwa rata-rata panjang badan dan tinggi pundak sapi
PO betina dewasa umur 4,5 tahun ketika dibandingkan dengan sapi pesisir Sumatera
Barat masing-masing sebesar 131,7 ± 7 cm dan 128,7 ± 5,5 cm. Sementara itu,
Abdullah et al. (2006) menyatakan bahwa rataan panjang badan, tinggi pundak, lebar
dada dan dalam dada sapi PO lokal dewasa diatas umur 2 tahun masing-masing
sebesar 120,15 cm; 127,46 cm; 44,28 cm; 59,12 cm. Perbedaan yang terjadi pada
performa peubah tubuh ini lebih disebabkan faktor genetik individu ternak.
Posisi sapi dapat mempengaruhi pengukuran peubah tubuh (Herman, 1985).
Pengukuran peubah tubuh perlu dilakukan pada sapi yang berdiri normal pada
keempat kakinya dengan kepala lurus ke depan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi
derajat kesalahan pada saat pengukuran.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Pemberian pakan berbasis jerami padi yang diperbaiki melalui suplementasi ini belum memberikan respon yang positif pada performa pertambahan bobot badan harian (PBBH), panjang badan, tinggi pundak, lebar dada, dalam dada dan pertambahan harian seluruh peubah tubuh sapi PO betina dewasa, tetapi sudah memberikan respon positif terhadap konsumsi bahan kering (BK) dan lingkar dada selama pemeliharaan. Pemberian jerami padi dalam bentuk ransum komplit yang tersusun dari 40% jerami padi dan 60% konsentrat (8,5% tepung ikan, 30,5% dedak padi, 5,7% tepung daun singkong, 3% tepung daun lamtoro, 0,3% tepung daun turi, 10% molases, 1% campuran mineral dan 1% minyak kelapa) dapat meningkatkan konsumsi BK.
Saran
Perlu dilakukan penambahan waktu pemeliharaan, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbaikan pakan pada penelitian ini berpengaruh sangat nyata terhadap konsumsi BK dan berpengaruh nyata terhadap lingkar dada sehingga memungkinkan akan terjadinya pengaruh perlakuan pakan terhadap PBBH dan peubah tubuh lainnya. Suplementasi pada perbaikan pakan berbasis jerami padi ini perlu dikembangkan lagi dengan menyesuaikan potensi ketersediaan pakan di lokasi yang bersangkutan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis lafazkan ke kehadirat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala
dengan karunia dan Rahmat-Nya yang telah melimpahkan nikmat tak terhingga dan hanya dengan pertolongan-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya hingga akhir zaman.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Hj. Komariah, M.Si selaku pembimbing utama sekaligus selaku dosen pembimbing akademik dan Ir. Anita S. Tjakradidjaja, M.Rur.Sc selaku pembimbing anggota yang telah membimbing, memberi saran, mengarahkan mulai dari penyusunan proposal hingga tahap akhir penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt, M.Si dan Prof. Dr. Ir. Erika B. Laconi, MS atas saran dan petunjuknya sebagai penguji dalam ujian sidang penulis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Henny Nuraini, M.Si sebagai penguji seminar yang telah memberikan saran untuk membuat penulisan skripsi ini menjadi lebih baik.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Ir. Suryahadi, DEA atas bimbingannya selama penelitian berlangsung di lapangan. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Ahmad Zain beserta keluarga dan Okky S. Astuti, S.Pt yang membantu penulis menjalankan penelitian ini.
Ucapan terima kasih yang terdalam kepada Riki Anwarsyam, Diki Sunaryo, Ari Pradana, Kuswanto, Agung H. Susantho, Erwinsyah dan Angga Prasetya telah menjadi orang-orang terdekat yang setia memberikan motivasi. Teman-teman IPTP dan INTP 44 yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas kesenangan dan kebahagiaan yang diciptakan bersama serta terima kasih Penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga Penulis sampaikan kepada Ayahanda tercinta Anda Mihardja & Ibunda tercinta Helviani atas motivasi, doa, kasih sayang