• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU PEDULI LINGKUNGAN

5) Tahap Evaluasi

Pada tahapan evaluasi, dilakukan evaluasi terhadap seluruh proses pembelajaran, yang dilakukan oleh mahasiswa sendiri maupun oleh dosen. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan oleh mahasiswa sendiri atau self assessment dengan menggunakan kuesioner tanpa nama.

Penggunaan kuesioner tanpa nama ini memberikan kesempatan mahasiswa untuk menyampaikan semua ide dan saran terhadap proses pembelajaran tanpa ada tekanan. Hasil evaluasi proses pembelajaran menunjukkan bahwa semua sintak dan komponen model STEcS dapat berjalan dalam pembelajaran. Evaluasi pembelajaran juga dilakukan oleh dosen untuk mengetahui ketercapaian tujuan pelaksanaan model. Alat yang digunakan untuk mengetahui ketercapaian pengembangan model yaitu meningkatkan eco critical thinking skills, dengan menggunakan instrumen tes essai yang dilengkapi dengan narasi pendapat maupun hasil kajian literatur.

b. Sistem Sosial

Sistem sosial yang dibentuk pada proses pembelajaran merupakan situasi atau norma yang berlaku dalam keseluruhan pembelajaran dalam suatu model pembelajaran (Joyce et al., 2016). Sistem sosial yang dibentuk dalam model STEcS menunjukkan mahasiswa bisa menikmati pembelajaran dengan nyaman dan menarik sehingga terbentuk suasana kelas yang menyenangkan. Mahasiswa melakukan proses pembelajaran di luar kelas maupun di dalam kelas, sehingga suasana belajar lebih bervariasi dan tidak membosankan. Mahasiswa melakukan diskusi kelompok dan mengerjakan tugas dengan nyaman karena mereka boleh berdiskusi dan berkerja sama sambil duduk di lantai, tanpa harus ada keterbatasan oleh kursi-kursi yang selama ini biasa dilakukan.

Mahasiswa dapat dengan leluasa melakukan kegiatan berdiskusi, mengumpulkan informasi dari literatur serta melakukan aktivitas pembelajaran dengan nyaman. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa keaktifan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh lingkungan kelas, sehingga atmosfir kelas dapat dibuat nyaman dan menarik dengan membentuk penataan kursi dengan bentuk U, bentuk dalam melingkari meja diskusi maupun dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang nyaman (Demirci, 2017).

Mahasiswa melakukan pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas dengan menyenangkan (Chu et al., 2017), mahasiswa menyusun pengalaman belajar dengan melakukan pembelajaran outdoor melalui kegiatan tahapan organisasi dan investigasi, mahasiswa melakukan kajian literatur dengan cara daring maupun luring, mahasiswa melakukan investigasi tentang kondisi lingkungan secara berkelompok maupun mandiri disekitar rumah masing-masing, serta mengaplikasikan pengetahuan mereka kepada anak-anak disekitar rumah mereka. Sistem sosial yang dibentuk pada proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS telah membuat mahasiswa belajar dengan wellbeing. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan pembelajaran dalam suasana permisip lebih baik konsep sains daripada pembelajaran dalam situasi otoriter (Okebukola, 1990). Keterlaksanaan sintak-sintak dan kemenarikan dalam proses pembelajaran dengan model STEcS karena sistem sosial yang dibentuk dengan nyaman baik di dalam ruang kelas maupun di luar kelas menunjukkan kepraktisan dari model STEcS.

c. Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi dalam model pembelajaran STEcS berkaitan dengan relasi antara dosen dengan mahasiswa dalam proses pembelajaran, dosen memberikan reaksi, perlakuan serta memberikan respon pada mahasiswa pada seluruh proses pembelajaran. Perlakuan dosen terhadap mahasiswa

dapat dilihat pada aktifitas dosen dalam memberi tanggapan dan cara memandang mahasiswa dalam keseluruhan proses pembelajaran. Dosen sebagai fasilitator melakukan fasilitasi, melatih dan membimbing mahasiswa dalam melakukan sintak-sintak pembelajaran. Dosen mengajak mahasiswa untuk bertukar pikiran/brainstorming dalam merencanakan, menganalisis dan memutuskan tindakan pemecahan masalah pengelolaan sampah yang ada di lingkungan sekitar

Prinsip reaksi yang dibentuk pada pembelajaran STEcS memiliki karakteristik dosen sebagai fasilitator untuk membimbing, menfasilitasi mahasiswa dalam proses pembelajaran. Peran interaksi dosen dengan mahasiswa pada pembelajaran dengan model STEcS dibentuk untuk menumbuhkan ketertarikan dan kenyamanan siswa dalam proses pembelajaran. Peran dosen pada pembelajaran dengan menggunakan model STEcS sebagai motivator yang mampu menumbuhkan sikap positif terhadap materi serta rasa ingin tahu pada siswa, yaitu keinginan pada mahasiswa untuk memperoleh informasi baru dan pengalaman baru. Peran dosesn sebagai motivator ini sangat diperlukan pada tahapan orientasi, karena pada tahapan orientasi merupakan tahapan untuk pembentukan respon positif mahasiswa terhadap materi. Keberhasilan pada tahapan orientasi menjadi jalan untuk memperlancar menuju pada tahapan selanjutnya dalam model STEcS. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa kompetensi guru berhubungan positif dengan ketertarikan siswa dalam pembelajaran (Fauth et al., 2019). Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa guru yang memiliki kepercayaan diri dalam mengajar dan menguasai kelas maka akan memberikan respon yang positif dan menumbuhkan kedekatan dengan siswa dalam proses pembelajaran (Hajovsky et al., 2020). Respon positif yang dibentuk pada siswa berpengaruh terhadap pembentukan konsep. Pembentukan konsep dibentuk melalui kegiatan orientasi serta organisasi dan investigasi untuk dapat diaplikasikan dalam masyarakat sampai siswa mampu mengambil komitmen diri dalam suatu keputusan.

d. Sistem Pendukung

Sistem pendukung merupakan salah satu komponen model yang perlu diperhatikan agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan sintak-sintaknya. Sistem pendukung berupa alat, sarana prasarana yang diperlukan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model STEcS. Alat dan sarana prasarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan model STEcS antara lain:

multimedia, media sebagai alat eksperimen, bahan ajar, alat evaluasi. Instrumen yang diperlukan

untuk penilaian meliputi penilaian pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sistem pendukung pada model pembelajaran dapat berupa ketersediaan sumber data dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan model STEcS dilengkapi dengan bahan dan alat pada eksperimen.

Eksperimen pertama yaitu tentang desain pengelolaan sampah. eksperimen kedua tentang pencemaran air dan pemanfaatan minyak jelantah. Eksperimen ketiga tentang pembuatan lubang resapan biopori. Alat dan bahan yang diperlukan antara lain ruang praktikum yang dilengkapi dengan bahan praktikum seperti pada lembar kerja mahasiswa, sarana untuk mencari informasi online.

Sistem pendukung pada pelaksanaan model STEcS memerlukan media pembelajaran, terutama pada tahapan orientasi memerlukan media video untuk menayangkan permasalahan yang ada serta untuk menumbuhkan sikap positif mahasiswa pada materi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan penggunaan media pada pembelajaran berbasis masalah meningkatkan hasil belajar dibandingkan pembelajaran yang tidak menggunakan media (Phungsuk et al., 2017).

e. Dampak Instruksional dan Pengiring

Dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) merupakan dampak yang dihasilkan setelah penerapan suatu model pembelajaran selesai dilaksanakan.

Dampak instruksional pada pembelajaran kurikulum 2013 berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan berkaitan dengan tujuan pembelajaran pada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sedangkan dampak pengiring dari pembelajaran merupakan dampak yang tidak secara langsung tetapi merupakan hasil sampingan dari penerapan suatu model pembelajaran, yang berupa sikap disiplin, kerja sama, terbuka, dan menghargai. Hasil belajar dicapai langsung dengan cara mengarahkan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dampak instruksional adalah hasil yang diperoleh sehingga mahasiswa dapat mencapai indikator dan tujuan pembelajaran.

Model STEcS pada pembelajaran pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah memberikan dampak instruksional yaitu terdiri dari pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dapat diukur secara langsung, setelah penerapan model selesai. Dimensi pengetahuan yang dicapai sesuai dengan taksonomi Bloom khususnya mulai level 3 hingga level 6 yang berupa aplikasi,

hasilkan berupa pengetahuan pada level tinggi yaitu yang merupakan HOTS (Hight Order Thinking Skill).

Dampak pembelajaran secara langsung pada siswa yaitu hasil belajar yang ditandai dengan peningkatan pengetahuan dalam menguasai pengetahuan konseptual bidang studi IPA serta memiliki keterampilan dalam menunjukkan kinerja mandiri, bermutu dan terukur serta mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis dan inovatif. Mahasiswa memiliki keterampilan dalam mengambil keputusan secara bertanggung jawab secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah. Pada keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan hidup, mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah, menginterpretasikan, mengeksplanasi, inferensi, menganalisis hingga mengevaluasi untuk memutuskan suatu tindakan dalam penyelesaian masalah yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup, khususnya pada materi pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah.

Dampak pengiring dari pelaksanaan model pembelajaran tidak dapat secara langsung terukur namun membutuhkan proses secara terus menerus. Dampak pengiring dirumuskan secara jelas dan terarah dalam proses pembelajaran. Dampak pengiring merupakan dampak sampingan dari dampak utama pembelajaran.

Pada model STEcS dampak yang mengiringi dari penerapan model pembelajaran adalah dampak pengiring yang menjadi sasaran dalam pembelajaran yaitu keterampilan berpikir kritis terhadap lingkungan (Eco Critical Thinking Skill) serta dampak pengiring lain yang akan menyertai yaitu sikap kerja sama, disiplin, komunikatif, dan peduli dengan kelestarian alam.

Dampak pengiring ini muncul oleh karena tahapan-tahapan dan komponen model yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan (Eco Critical Thinking Skill) merupakan tujuan spesifik dalam mengembangkan model STEcS. Keterampilan berpikir kritis tentang lingkungan akan meningkat melalui langkah-langkah pembelajaran yang diawali dengan berbasis masalah melalui orientasi, organisasi dan investigasi, aplikasi, pemantapan konsep dan evaluasi. Tahapan orientasi, organisasi dan investigasi merupakan tahapan untuk memberikan dasar pentingnya membentuk konsep yang kuat dalam masalah lingkungan hidup hingga dapat diaplikasikan pada penyelesaian masalah-masalah yang ada di masyarakat.

Pemantapan konsep dilakukan untuk memastikan tidak adanya miskonsepsi pada mahasisiswa dan tahapan evaluasi dilakukan untuk mengevaluasi semua proses pembelajaran dan ketercapaian pembelajaran.

Dokumen terkait