• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

3. Tahap Pengolahan data

Data diolah dengan menggunakan metode statistik. Pada penelitian ini dengan menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Pengolahan data dengan menggunakan bantuan program SPSS version 17.0 for windows.

H. Metode Analisis Data

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli maka metode analisis data yang di lakukan adalah metode analisis regresi linear sederhana. Menurut Priyanto (2012) analisis regresi linear sederhana bertujuan untuk mengukur besarnya pengaruh antara variabel bebas (independent variable) terhadap variabel terikat (dependent variable).

Melalui analisis regresi, peneliti bisa menguji apakah efektivitas komunikasi mempengaruhi intensi membeli pada mahasiswi. Untuk menganalisis hasil penelitian, maka perlu dilakukan uji asumsi sebagai berikut:

1. Uji normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Test of Normality pada program SPSS untuk melihat apakah sampel yang digunakan berasal dari populasi yang terdistribusi normal. Pengujian normalitas akan menggunakan Kolmogorow Smirnov yang mana signifikansi > 0,05 agar sampel dianggap berasal dari populasi yang terdistribusi normal (Priyatno, 2012).

2. Uji linearitas

Uji linieritas adalah uji yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas (Efektivitas Komunikasi), variabel tergantung (Intensi Membeli) mempunyai hubungan yang linier atau tidak secara signifikan. Uji linieritas dilakukan dengan menggunakan analisis statistik uji F dengan bantuan program komputer SPSS versi 20.0 for windows. Data dikatakan linear apabila nilai signifikansi variabel >0,05 (Priyatno, 2012).

33

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai analisis data dan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan data yang diperoleh. Pembahasaan diawali dengan memberikan gambaran umum subjek dalam penelitian, dan dilanjutkan analisa terhadap hasil penelitian.

A. Analisa Data

1. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi S1 Psikologi USU. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 150. Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu diuraikan gambaran subjek berdasarkan tahun jurusan, usia, jenis produk yang digunakan, frekuensi menonton.

a. Gambaran Subjek Berdasarkan Tahun Jurusan

Berdasarkan tahun jurusan subjek penelitian, maka dapat digambarkan penyebaran subjek seperti tabel di bawah ini.

Tabel 4.1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tahun Jurusan Tahun Jurusan Jumlah (N) Presentase (%)

2017 29 19,33%

2016 38 25,33%

2015 37 24,67%

2014 34 22,67%

2013 12 8%

TOTAL 150 100%

Berdasarkan tabel 4.1. terlihat bahwa sebagian besar subjek peneliti terdapat pada tahun jurusan 2016 sebanyak 38 orang dengan presentase sebesar 25,33%, dan tahun jurusan 2015 sebanyak 37 orang dengan presentase sebesar 24,67%, dan pada tahun jurusan 2014 sebanyak 34 orang dengan presentase sebesar 22,67%, dan tahun jurusan 2017 sebanyak 29 orang dengan presentase sebesar 19,33%, sedangkan sisanya tahun jurusan 2013 sebanyak 12 orang dengan presentase 8%.

b. Gambaran Subjek berdasarkan Usia

Berdasarkan usia subjek penelitian, maka dapat digambarkan penyebaran subjek seperti tabel dibawah ini

Tabel 4.2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

No. Usia Jumlah (N) Persentase (%)

1. 18 Tahun 26 17,33 %

2. 19 Tahun 27 18 %

3. 20 Tahun 37 24,67%

4. 21 Tahun 31 20,67%

5 22 Tahun 19 12,67%

6 23 Tahun 10 6,67%

Total 150 100%

35

Pada tabel 4.2. terlihat bahwa subjek penelitian yang banyak berasal dari subjek penelitian yang berusia 20 tahun sebanyak 37 orang dengan presentase sebesar 24,67%, usia 21 tahun sebanyak 31 orang dengan presentase sebesar 20,67%, usia 19 tahun sebanyak 27 orang dengan presentase sebesar 18%, 18 tahun yaitu sebanyak 26 orang dengan presentase sebesar 17,33%, kemudian usia 22 tahun sebanyak 19 orang dengan presentase sebesar 12,67%. Dan subjek penelitian yang sedikit berasal dari usia 23 tahun yakni sebanyak 10 orang dengan presentase sebesar 6,67%.

c. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Produk Yang Digunakan.

Berdasarkan jenis produk yang digunakan subjek penelitian, maka diperoleh penyebaran subjek penelitian sebagai berikut :

Tabel 4.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Produk Wardah Yang Digunakan

No Jenis Produk Jumlah (N) Presentase (%)

1 Mascara 25 16,67%

2 BB Cream/Beauty Balm Cream 27 18%

3 Blush On 16 10,67%

4 Eyeliner 19 12,67%

5 Luminous Face Powder 20 13,33%

6 Lainnya 12 8%

7 ≥ 1 Produk 31 20,67%

TOTAL 150 100%

Berdasarkan tabel 4.3. terlihat bahwa jenis produk ≥ 1 lebih tinggi dibanding dengan yang lainya dengan jumlah subjek sebanyak 31 orang dengan persentase sebesar 20,67%. Maka dapat disimpulkan bahwa, sebagian besar subjek membeli produk tidak hanya satu macam tetapi lebih dari satu macam produk warda.

d. Gambaran Subjek Berdasarkan Frekuensi Menonton

Berdasarkan frekuensi menonton, maka diperoleh penyebaran subjek penelitian sebagai berikut.

Tabel 4.4.Gambaran Subjek Berdasarkan Frekuensi Menonton No Frekuensi Menonton Jumlah (N) Presentase (%)

1 1-3 Kali/Bulan 40 26,67%

2 3-6 Kali/Bulan 71 47,33%

3 >6 Kali/Bulan 39 26%

TOTAL 150 100%

Berdasarkan tabel 4.4. dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek penelitian yang menonton tayangan beauty vlogger dalam sebulan sebanyak 3-6 kali/bulan sebayak 71 orang dengan presentase sebesar 47,33%. Kemudian subjek penelitian yang menonton tayangan beauty vlogger dalam sebulan sebanyak 1-3 kali/bulan sebanyak 40 orang dengan presentase sebesar 26,67%. Sisanya sebanyak >6 kali/bulan sebanyak 39 orang dengan presentase sebesar 26%.

37

2. Hasil Uji Asumsi Penelitian.

Sebelum melakukan analisis tersebut terlebih dahulu dilakukan uji asumsi penelitian yang bertujuan untuk melihat bagaimana distribusi data penelitian. Uji asumsi tersebut meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

a. Hasil Uji Normalitas.

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data terdistribusi secara normal. Kaidah untuk menyatakan data tersebut normal adalah jika p > 0,05 maka dapat dinyatakan sebaran datanya normal atau sebaliknya jika p < 0,05 maka dapat dinyatakan sebaran datanya tidak normal (Field,2009). Pada penelitian ini untuk menguji kenormalan data adalah dengan menggunakan Kolmogorov Smirnov sebagai berikut :

Tabel 4.5. Hasil Uji Normalitas

Variabel Asymp.Sig. (2-tailed)

Efektivitas Komunikasi 0,162

Intensi Membeli 0,678

Berdasarkan tabel 4.5. dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas efektivitas komunikasi sebesar 0,162 dan intensi membeli sebesar 0,678. Nilai kedua variabel lebih besar dari 0,05. Maka dapat dikatakan data terdistribusi normal.

b. Hasil Uji Linearitas

Hasil uji linieritas untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan antar kedua variabel. Adapun kaidah yang digunakan untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung adalah untuk linearity bila p < 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan linear, dan sebaliknya bila p > 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dinyatakan tidak linear. Sedangkan pada deviation from linierity bila p > 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan linier, begitu juga sebaliknya jika p < 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung dapat dinyatakan tidak linier (Hadi, 2000).

Tabel 4.6 Hasil Uji Linearitas Signifikansi

Linearity Deviation from Linearity Intensi Membeli*

Efektivitas Komunikasi 0,000 0,574

Berdasarkan tabel 4.6. dapat dilihat bahwa variabel efektivitas komunikasi memiliki nilai linearitas p sebesar 0,000. Kemudian, nilai deviation for linearity sebesar 0,574. Hasil ini menunjukkan nilai p (0,000) < 0,05 untuk linearity, dan p (0,574) > 0,05 untuk deviation for linearity, artinya terdapat hubungan yang linear antara efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli pada mahasiswi.

39

3. Hasil Utama Penelitian

Sesuai dengan yang dijelaskan pada Bab I, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh antara dua variabel yaitu variabel efektivitas komunikasi dan intensi membeli. Adapun hipotesa yang ada dalam penelitian ini adalah:

a. Ho (Hipotesis Nol) : Tidak ada pengaruh positif efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli

b. Ha (Hipotesis Alternatif) : Ada pengaruh positif efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli

Metode analisis data yang digunakan untuk menguji pengaruh antara kedua variabel dalam penelitian ini adalah menggunakan metode analisis regresi sederhana dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Kriteria yang digunakan apabila nilai p < 0,05 maka kedua variabel memiliki pengaruh yang signifikan. Hasil uji regresi sederhana dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.7. Hasil Analisa Perhitungan Regresi

Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 846.856 1 846.856 28.766 .000a

Residual 4356.984 148 29.439

Total 5203.840 149

Berdasarkan tabel 4.7. dapat dilihat hasil perhitungan didapat nilai F sebesar 28,766 dan p = 0,000. Jika nilai p < 0,05 maka Ho ditolak (Field, 2009), maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi memiliki pengaruh terhadap

variabel serta seberapa besar sumbangan efektif efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli. Hasil perhitungan dapat dilihat dalam tabel 4.8 berikut ini :

Tabel 4.8. Hasil Koefisien Determinasi

R R Squared Eta Eta Squared IntensiMembeli *

EfektivitasKomunikasi .403 .163 .533 .284

Berdasarkan tabel 4.8 diatas bahwa koefisien determinan (R-square) yang diperoleh dari pengaruh efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli pada subjek penelitian adalah sebesar 0,163. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli pada mahasiswi yang merupakan study pada fenomena kemunculan beauty vlogger adalah sebesar 16,3%. Yang artinya, efektivitas komunikasi memberikan sumbangan efektif sebesar 16,3 % dalam mempengaruhi intensi membeli. Sedangkan sisanya 83,7% (100% - 16,3%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Dan selanjutnya model persamaan regresi dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut ini.

Tabel 4.9. Hasil Koefisien Regresi

Berdasarkan pada tabel 4.9 diatas dapat dilihat bahwa persamaan garis regresi yang dihasilkan adalah Y = 34,645 + (0,412) X. Persamaan ini menunjukkan bahwa jika terjadi penambahan efektivitas komunikasi sebesar satu satuan maka akan terjadi penurunan intensi membeli sebesar 0,412

4. Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi data penelitian disajikan untuk mengetahui karakteristik data pokok yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan. Deskripsi data pokok yang disajikan adalah perbandingan rata-rata nilai hipotetik dan rata-rata nilai empirik penelitian, serta distribusi skor yang diperoleh berdasarkan kategori tertentu.

Rata-rata hipotetik diperoleh dari kemungkinan respon subjek terhadap jawaban skla yang diberikan, sedangkan rata-rata nilai empirik diperoleh dari respon subjek. Beribut merupakan perbandingan antara data empirik dan hipotetik dari variabel efektivitas komunikasi dan intensi membeli.

Tabel 4.10. Nilai Empirik dan Hipotetik Efektivitas Komunikasi dan Intensi Membeli

Variabel

Nilai Empirik Nilai Hipotetik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD

Intensi Membeli 40 77 59.12 5.910 16 80 48 10,67

Efektivitas Komunikasi 41 71 58.94 5.681 15 75 45 10

Berdasarkan tabel 4.10. diketahui mean empirik (X) pada variabel efektivitas komunikasi sebesar 58,94 dengan standar deviasi sebesar 5,681.

Sedangkan mean hipotetik (µ) yang diperoleh adalah 45 dan standar deviasi sebesar 10. Perbandingan mean empirik (X) dan mean hipotetik (µ) dari variabel efektivitas komunikasi menunjukan (X) 58,94 > (µ) 45. Selanjutnya pada variabel intensi membeli, diketahui mean empirik (X) sebesar 59,12 dengan standar deviasi sebesar 5,910. Sedangkan mean hipotetik (µ) yang diperoleh adalah 48 dengan standar deviasi sebesar 10,67. Perbandingan mean empirik (X) dan mean hipotetik (µ) dari variabel intensi membeli menunjukan (X) 59,12 > (µ) 48

a. Kategorisasi Data Penelitian Efektivitas Komunikasi.

Azwar (2012) menyatakan pengkategorisasian data penelitian dilakukan atas dasar pada asumsi bahwa skor subjek penelitian berdistribusi secara normal.

Norma kategorisasi dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi.

Berikut adalah norma yang digunakan untuk kategorisasi data penelitian efektivitas komunikasi.

Tabel 4.11. Norma Kategorisasi Efektivitas Komunikasi

Kategorisasi Rentang Nilai

Tidak efektif X< (µ-1.0 SD)

Cukup efektif (µ - 1.0 SD) ≤ X ≤ (µ + 1.0 SD)

Efektif X > (µ+ 1.0 SD)

43

Berdasarkan nilai rata-rata hipotetik data efektivitas komunikasi adalah 45 dengan standar deviasi 10 maka kategorisasi yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Tabel 4.12. Kategorisasi Efektivitas Komunikasi

Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase

< 35 Tidak efektif - -

35 – 55 Cukup Efektif 43 28,67%

> 55 Efektif 107 71,33%

Total 150 100%

Berdasarkan tabel 4.12. diatas, dapat di lihat bahwa tidak ada yang termasuk dalam kategori tidak efektif, kemudian pada kategori cukup efektif terdapat 43 orang (28,67%) dan sisanya tergolong kategori efektif sebesar 107 orang (71,33%) yang berada pada kategori efektif. Berdasarkan hasil kategorisasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian terbanyak pada kategorisasi efekttivitas komunikasi yaitu katerogi efektif.

b. Kategorisasi Data Penelitian Intensi Membeli

Kriteria pada variabel intensi membeli terbagi atas tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Berikut adalah norma yang digunakan untuk kategorisasi data penelitian intensi membeli :

Tabel 4.13. Norma Kategorisasi Intensi Membeli

Kategorisasi Rentang Nilai

Rendah X< (µ-1.0 SD)

Sedang (µ - 1.0 SD) ≤ X ≤ (µ + 1.0 SD)

Tinggi X > (µ+ 1.0 SD)

Berdasarkan nilai rata-rata hipotetik data intensi membeli adalah 48 dengan standar deviasi 10,67, maka kategorisasi yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Tabel 4.14. Kategorisasi Intensi Membeli

Rentang Nilai Kategorisasi Jumlah Persentase

< 37,33 Rendah - -

37,33 – 58,67 Sedang 67 44,67%

> 58,67 Tinggi 83 55,33%

Total 150 100%

Berdasarkan tabel diatas, dapat di lihat bahwa tidak ada yang termasuk dalam kategori rendah, kemudian pada kategori sedang terdapat 67 orang (44,67%) dan sisanya tergolong kategori tinggi sebesar 83 orang (55,33%) yang berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil kategorisasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian terbanyak pada kategorisasi intensi membeli yaitu kategorii tinggi

45

B. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas komunikasi beauty vlogger terhadap intensi membeli lip cream wardah pada mahasiswi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa terdapat pengaruh efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli yang dilihat dari hasil perhitungan bahwa nilai p <

0,005 dan nilai R = 0,403 yang bertanda positif dan menunjukan bahwa hubungan variabel efektivitas komunikasi beauty vlogger terhadap intensi membeli lip cream wardah adalah searah yang artinya semakin efektif komunikasi beauty vlogger maka intensi membeli juga akan tinggi.

Nilai koefisien determinan (R-square) yang diperoleh dari efektivitas komunikasi terhadap intensi membeli pada subjek penelitian adalah sebesar 0,163. Hal ini menunjukan bahwa pengaruh efektivitas komunikasi beauty vlogger terhadap intensi membeli lip cream wardah pada mahasiswi adalah sebesar 16,3 %. Yang artinya, efektivitas komunikasi beauty vlogger memberikan sumbangan efektif sebesar 16,3 % dalam mempengaruhi intensi membeli lip cream wardah.

Penjelasan mengenai salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya intensi membeli adalah efektivitas komunikasi pada paparan media yang dapat diasumsikan sebagai penentu dari intensi membeli. Dampak pada sasaran atau konsumen dipengaruhi oleh bagaimana konsumen memandang karakteristik pada sumber, apabila pesan yang disampaikan oleh sumber terpercaya dan memiliki kredibilitas yang tinggi, maka akan lebih persuasif (Kotler & Armstrong, 2001).

Konsumen yang memiliki sumber dalam menyampaikan informasi akan

mengetahui bagaimana tingkat kredibilitas sumber, daya tarik dan kekuasaan maka konsumen akan mempertimbangkan kembali apakah produk tersebut memang layak untuk dimiliki atau tidak.

Semakin jujur beauty vlogger dalam presentasinya maka akan membuat kepercayaan penonton terhadap beauty vlogger meningkat sehingga akan mendorong sikap atau kesan penonton yang lebih baik. Menurut Engel (1995) tingkat pengetahuan atau keahlian serta layak untuk dipercaya adalah determinan utama dari kredibilitas sumber, sehingga karakteristik yang dinilai dari sumber dapat mempengaruhi dalam proses persuasi terhadap seseorang.

Jika beauty vlogger sebagai sumber pesan dianggap kredibel, maka akan mempengaruhi sikap (attitudes) atau kesan konsumen secara positif terhadap produk/merek yang didukungnya melalui proses internalisasi yakni ketika penerima pesan dapat menerima dan memahami posisi beauty vlogger dalam tayangan tersebut terdapat masalah seperti dirinya (Shimp, 2014).

Mahasiswi mengakui bahwa beauty vlogger adalah jenis video yang sedang populer dan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri seorang vlogger.

Mahasiswi juga mengakui kalau menonton tayangan beauty vlogger sudah menjadi sebuah kegemaran karena beauty vlogger memberikan hiburan, memberi inspirasi dan menambah informasi sesuai kebutuhan mereka. Selain informasi, mahasiswi juga belajar cara mengekpresikan diri melalui gaya yang ditampilkan vlogger dan belajar untuk menjadi lebih percaya diri. Beauty vlogger juga banyak di bahas para mahasiswi dengan teman atau orang lain, namun tidak semua suka membagi konten vlog pada teman ataupun orang lain. Walaupun sudah menjadi 47

kegemaran dan kesenangan tersendiri, tidak semua mahasiswi S1 Psikologi USU memiliki kebiasaan menonton tayangan beauty vlogger. Hal ini didasari beberapa alasan seperti keterbatasan waktu, mengerjakan tugas kuliah, penggunaan kuota internet dan tergantung dari video yang diunggah.

Informasi – Informasi positif maupun negatif yang disampaikan beauty vlogger tentang merek/produk tersebut, maka informasi-informasi positif ataupun negatif ini akan membuat penonton memiliki kesan yang positif maupun negatif pula terhadap suatu produk/ merek yang ia tonton. Semakin banyak kesamaan yang dimiliki penonton dengan beauty vlogger maka semakin banyak pula hal yang dipelajari dan diikuti penonton dari beauty vlogger termasuk yang berhubungan dengan produk ataupun merek yang dipromosikan. Hal ini sesuai dengan teori Shimp (2014) bahwa konsumen yang menemukan sesuatu dalam diri beauty vlogger yang mereka anggap menarik, terjadi persuasi melalui identifikasi.

Artinya ketika konsumen melihat sesuatu yang menarik dari beauty vlogger mereka akan mengidentifikasi vlogger dan cenderung mengadopsi sikap, perilaku, minat, atau preferensi vlogger tersebut.

Namun kemungkinan alasan responden belum berminat untuk membeli adalah sebagai berikut : (a) Informasi tentang merek warda yang responden tonton yang diberikan oleh beauty vlogger tersebut kurang optimal atau dengan kata lain responden mendapatkan informasi yang terbatas. Misalnya di dalam tayangan beauty vlogger belum ada informasi mengenai harga produk, padahal biasanya harga produk merupakan salah satu hal yang dijadikan pertimbangan oleh konsumen sebelum melakukan pembelian.(b) Penonton hanya menikmati beauty

mereka mengganggap beauty vlogger yang perna mereka tonton adalah orang yang kredibel dan memiliki daya tarik. (c) Responden dalam penelitian merupakan konsumen yang loyal terhadap produk yang dipakaianya sekarang, sehingga responden tidak tertarik untuk membeli produk lain selain produk yang dipakaianya sekarang. (d) Segmen responden berbeda dengan segmen lip cream warda. Lip cream warda exclusive merupakan lip cream warda yang memiliki harga mahal di banding lipstik warda lainya.sedangkan semua responden adalah mahasiswi sehingga mungkin saja hal ini menjadi salah satu pertimbangan responden untuk belum berniat melakukan pembelian. (e) Penilaian subjektif respon terhadap vlogger. Responden sadar bahwa vlogger sengaja di rekrut oleh warda atau vlogger sengaja meriview produk. Sehingga menjadi hal yang wajar apabila presentasinya mengatakan hal hal yang positif tentang produk wardah.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nina (2017) bahwa variabel kredibilitas dan daya tarik berpengaruh terhadap asosiasi merek.hal ini berarti kredibilitas dan daya tarik berpengaruh secara tidak langsung terhadap niat beli dengan asosiasi merek sebagai intervening variabel atau dengan kata lain asosiasi merek memediasi antara kredibilitas dan daya tarik terhadap niat beli. Penelitian lain dilakukan oleh Irma (2017) hasil penelitian menunjukan Beauty vlogger review berpengaruh secara signifikan terhadap purchase intention pada situs Althea.kr.

Seorang beauty vlogger membuat beauty vlog tujuanya adalah untuk membagikan informasi dan pengalamanya. Oleh karena itu, saat beauty vlogger bekerjasama dengan suatu perusahaan untuk mempromosikan produk, seorang 49

karena seorang beauty vlogger akan membuat kesaksian (testimonial) mengenai produk tersebut. Seoarang beauty vlogger yang kredibel dan memiliki daya tarik akan dengan mudah mentransfer informasi kepada penonton dan penonton beauty vlog tersebut akan menerima banyak informasi seputar produk, dimana informasi – informasi ini akan mempengaruhi sikap atau kesan penonton terhadap produk.

Kesan positif maupun negatif yang melekat dapat memudahkan pelanggan memproses dan mengingat kembali. Hal ini sesuai dengan (Shimp 2014;

Ardiyanto, 2013) yakni bahwa pengguna beauty vlogger yang memiliki karakteristik akan dapat mempengaruhi sikap atau kesan konsumen secara postif terhadap merek ataupun produk yang didukungnya, sehingga konsumen akan mempertimbangkan dalam proses pembelian dan diharapkan secara langsung mempengaruhi perilaku melalui alam tak sadar mereka, hal ini membuat konsumen dipengaruhi untuk membeli tanpa ada paksaan.

Tingkat efektivitas komunikasi dan intensi membeli dapat dilihat melalui perbandingan mean hipotetik dan mean empirik. Pada variabel efektivitas komunikasi hasil menunjukan bahwa skor mean empirik lebih besar dibanding skor mean hipotetik (59,47 > 45). Selanjutnya untuk kategorisasi data penelitian efektivitas komunikasi beauty vlogger diperoleh tidak ada yang memiliki kategorisasi tidak efektif, terhadap 43 orang (28,67%) yang memiliki tingkat efektivitas komunikasi beauty vlogger yang cukup efektif, dan 107 orang (71,33%) yang memiliki efektivitas komunikasi beauty vlogger yang efektif.

Pada variabel intensi membeli hasil menunjukan bahwa skor mean empirik lebih besar daripada skor mean hipotetik (59,12 > 48). Selanjutnya untuk data kategorisasi data penelitian intensi membeli yang rendah, terdapat 67 orang (44,67%) yang memiliki tingkat yang sedang dan 83 orang (55,33%) yang memiliki tingkat yang tinggi.

51

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dan saran terkait dengan hasil yang diperoleh dari penelitian. Pada bagian pertama akan dijelaskan kesimpulan dari penelitian. Pada bagian pertama akan dijelaskan kesimpulan dari penelitian dan pada bagian akhir akan dijelaskan saran yang bersifat praktis dan metodologis yang nantinya dapat berguna bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan tema yang berkaitan dengan penelitian ini.

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi data penelitian dapat ditarik kesimpulan mengenai hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yakni :

1. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa efektifitas komunikasi beauty vlogger berpengaruh yang positif terhadap intensi membeli lip cream wardah. Dengan demikian, hipotesa diterima. Ada pngaruh positif efektivitas komunikasi beauty vlogger terhadap intensi membeli lip cream wardah pada mahasiswi.

2. Berdasarkan hasil uji regresi sederhana pada pnelitian ini diketahui sumbangan efektif yang diberikan oleh efektivitas komunikasi beauty vlogger terhadap intensi membeli lip cream wardah pada mahasiswi sebesar 16,3%

3. Berdasarkan kategorisasi skor pada variabel efektivitas komunikasi diketahui bahwa skor dan jumlah subjek paling efektif adalah sebesar 71,33 %

4. Berdasarkan kategorisasi skor pada variabel intensi membeli diketahui bahwa skor dan jumlah subjek paling meningkat sebesar 55,33%

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dan disimpulkan yang telah dijelaskan, maka peneliti akan mengemukakan beberapa saran yang nantinya diharapkan dapat berguna bagi penelitian selanjutnya dan bagi perkembangan studi ilmiah mengenai efektivitas komunikasi beauty vlogger dan intensi membeli lip cream wardah.

1. Saran Metodologis

a) Bagi penlitian selanjutnya disarankan untuk meneliti faktor lain yang dapat mempengaruhi intensi membeli. Hal ini didasarkan bahwa dalam penelitian ini efektivitas komunikasi beauty vlogger mempengaruhi intensi membeli lip cream wardah sebesar 16,3% dan selebihnya 83,7%

terdapat variabel lain yang mempengaruhi intensi membeli lip cream wardah. Oleh karena itu disarankan bagi penelitian selanjutnya dapat meneliti mengenai variabel lain tersebut.

b) Bagi peneliti selanjutnya yang berminat memperdalam variabel intensi membeli kembali disarankan untuk melihat faktor-faktor lain yang berkemungkinan mempengaruhi munculnya intensi membeli yang tidak diteliti dalam penelitian ini

c) Bagi penelitian selanjutnya, jika memungkinkan untuk menentukan artis yang menjadi beauty vlogger sehingga dapat meningkatan kualitas penelitian.

53

2. Saran Praktis

a) Bagi konsumen, Informasi yang didapat melalui tayangan beauty vlogger yang memberikan ulasan mengenai produk yang akan dibeli untuk dapat

a) Bagi konsumen, Informasi yang didapat melalui tayangan beauty vlogger yang memberikan ulasan mengenai produk yang akan dibeli untuk dapat

Dokumen terkait