• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Remaja

2. Tahap perkembangan remaja

Tahap perkembangan remaja dapat digolongkan ke dalam tiga tahap utama yaitu tahap perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional. Ketiga tahap ini menjadi kesatuan karakteristik yang biasanya dimiliki oleh remaja dan memengaruhi remaja dalam menyikapi diri sendiri serta sekitarnya.

Perkembangan fisik atau biologis remaja biasanya didahului dengan pubertas. Papalia dan Feldman (2014) dan Santrock (1996) mendefinisikan pubertas sebagai periode individu mengalami kematangan fisik dan seksual, perubahan hormon, serta mencapai kemampuan bereproduksi. Remaja laki-laki maupun perempuan sama-sama mengalami pubertas dengan terjadinya perkembangan karakteristik seks primer dan sekunder. Meski demikian, keduanya berbeda antara laki-laki dan perempuan. Karakteristik seks primer anak perempuan ditunjukkan melalui menarche atau menstruasi pertama yang dialami. Sementara anak laki-laki mengalami spermache atau ejakulasi pertama yang sering disebut juga sebagai mimpi basah (Papalia & Feldman, 2014). Karakteristik seks primer anak perempuan maupun laki-laki memang berhubungan dengan kematangan organ seks, lain halnya dengan karakteristik seks sekunder yang meliputi tanda-tanda kematangan fisiologis. Anak perempuan akan mengalami pembesaran payudara, suara yang lebih lembut, dan pinggul yang melebar. Sementara laki-laki memiliki dada

yang bidang, penis yang lebih besar, suara yang lebih berat, dan menumbuhkan jakun.

Steinberg (2002) juga mengemukakan bahwa pubertas setidaknya memengaruhi tiga aspek dalam hidup remaja yaitu harga diri, perubahan suasana hati (mood), dan perubahan pola tidur.

Pubertas mampu memengaruhi harga diri remaja melalui sudut pandang terhadap citra tubuh. Apabila citra tubuh tidak ideal dengan remaja pada umumnya, maka remaja akan cenderung mengalami stres.

Begitu pula halnya dengan berkembangnya hormon-hormon reproduksi yang mampu memengaruhi suasana hati seorang remaja ketika menghadapi suatu permasalahan.

Perkembangan kognitif remaja menunjukkan cakupan yang berbeda. Piaget (dalam Papalia & Feldman, 2014) mengemukakan teori perkembangan kognitif yang dialami oleh manusia. Piaget mengemukakan bahwa remaja masuk dalam klasifikasi tahap perkembangan paling akhir yaitu operasional formal. Tahap operasional formal merupakan tahap dimana remaja mampu berpikir secara abstrak. Contohnya seperti remaja mampu memahami konsep mencintai atau membenci dan bisa memberi label pada suatu barang yang mungkin belum diketahui jenisnya sehingga bisa untuk diteliti lebih lanjut. Tahapan ini juga membuat remaja mampu berpikir menggunakan sistem penalaran hipotesis-deduktif. Kemampuan penalaran tersebut membuat remaja sanggup mengembangkan,

mempertimbangkan, dan menguji hipotesis yang pernah dibuatnya, sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Eccles, Wigfield, dan Byrnes (2003) mengemukakan pula bahwa remaja mengalami perubahan dalam proses pengolahan informasi. Otak remaja mampu mengolah informasi sedemikian rupa untuk bisa memperoleh jawaban yang dikehendaki atas hipotesis yang telah ada. Proses pengolahan informasi ini terukur melalui perubahan struktural dan perubahan fungsional. Perubahan kerja kapasitas memori atau ekspansi memori kerja (expansion of working memory) juga terjadi sehingga memudahkan remaja untuk mengantisipasi masalah maupun keputusan yang lebih kompleks. Selain itu, Elkind (dalam Papalia & Feldman, 2014) menyatakan bahwa remaja memiliki egosentrisme yang kuat. Egosentrisme itu sendiri menggambarkan peningkatan kesadaran diri remaja yang terwujud melalui keyakinan remaja bahwa orang lain memiliki perhatian sangat besar terhadap diri, perasaan, dan keunikan remaja.

Sementara itu, perkembangan sosioemosional remaja terlihat melalui ciri storm and stress atau masa ‘badai dan tekanan’ yang identik dialami remaja (Santrock, 1996). Erikson (dalam Feist & Feist, 2008) memaparkan bahwa perkembangan sosioemosional ditandai dengan pencarian identitas sebagai konsepsi, tujuan, nilai, dan keyakinan diri. Pencarian atau pembentukan identitas ini digambarkan dengan tugas utama remaja yakni mencari identitas atau jati diri.

Tugas ini sering dikenal dengan perbandingan identity vs identity confusion atau identitas vs kebingungan identitas. Erikson menjelaskan bahwa identity vs identity confusion menjadi tahapan kelima dalam siklus perkembangan sosioemosional manusia dan terjadi pada masa remaja. Tahapan ini dipandang penting bagi remaja karena remaja berada dalam masa pencarian dan pembentukan rasa yang koheren dengan tujuan hidupnya, termasuk peranan dan tanggung jawab yang bisa dijalankan dalam kehidupan sosial.

Pembentukan identitas ini seringkali juga memengaruhi sikap remaja untuk mencari hal-hal baru. Hal-hal baru dapat berupa ketertarikan terhadap lawan jenis, memiliki konformitas dalam kelompok tertentu dengan minat yang sama, hingga idealisme-idealisme sosial yang mungkin berbeda dengan keluarga. Remaja pun dapat mengalami masa-masa pemberontakan dalam kehidupannya karena perbedaan tersebut (Papalia & Feldman, 2014). Ketertarikan terhadap lawan jenis juga menjadi salah satu hal baru yang menjadi ciri khas yang berkembang dalam diri seorang remaja. Ciri khas tersebut kerap dikaitkan pula dengan berkembangnya keingintahuan tentang seksualitas. Akan tetapi, rasa keingintahuan tersebut seringkali tidak didukung oleh lingkungan terdekatnya dan remaja justru mencari sumber dari berbagai media yang cenderung memberikan kesalahan edukasi berupa risiko seks tanpa perlindungan atau alat kontrasepsi.

Seringkali dijumpai remaja yang menyalahgunakan pemaparan media

tersebut untuk mencoba perilaku seksual dengan lawan jenis atau pacarnya, namun tanpa edukasi yang cukup dan berujung pada perilaku seksual yang tidak bertanggungjawab termasuk kekerasan seksual.

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tahap perkembangan remaja yang terdiri dari perkembangan fisik atau biologis, kognitif, dan sosioemosional dengan ciri-ciri khas.

Pertama, perkembangan fisik remaja ditandai dengan pubertas pada remaja perempuan maupun laki-laki. Menstruasi dan mimpi basah menjadi penanda berkembangnya hormon-hormon seksualitas. Kedua, perkembangan kognitif remaja ditandai dengan kemampuan berpikir hipotesis-deduktif dan egosentrisme yang menguat. Remaja memiliki kemampuan analisis terhadap suatu permasalahan yang terjadi dalam hidupnya sebelum membuat keputusan, namun di satu sisi memiliki idealisme individualis yang hanya dimiliki oleh dirinya sendiri.

Ketiga, perkembangan sosioemosional remaja ditandai dengan masa storm and stress dimana remaja mulai mengalami siklus kehidupan yang penuh tekanan dan masalah. Selain itu, pencapaian identitas juga menjadi faktor penting remaja untuk berkembang secara emosional karena yang mampu mengelola diri dan tujuan dengan baik akan menemukan tujuan hidup yang jelas. Hal ini pun berhubungan dengan cara remaja bersosialisasi dalam lingkungan masyarakat. Remaja mulai memiliki idealisme sosial, mengembangkan konformitas diri

dengan kelompok tertentu, dan memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis yang lebih intensif. Meski demikian, sikap pemberontakan dalam diri remaja terhadap tatanan sosial yang ada sangat mungkin terjadi.

Ketertarikan terhadap lawan jenis inipun wajar terjadi namun seringkali ditemukan kasus dimana tindak kekerasan seksual menjadi dampak dari keingintahuan tersebut.

C. Kekerasan Seksual