• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.9. Tahap-tahap Penelitian

Skema 4.1 Tahap-tahap penelitian 4.10. Prosedur Pelaksanaan Pemeriksaan

4.10.1. Prosedur pengambilan sampel

1. Satu gram lipstik diambil secara aseptik dan di dispersikan ke dalam 1 ml Tween-80 dan kemudian dicampur sampai merata dengan vortex.

2. Volume total dibuat menjadi 10 ml dengan 8 ml sterile nutrient broth.

Lipstik yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria eksklusi.

Pengambilan sampel lipsik

Kultur pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 72 jam.

Kultur pada media Nutrient Agar dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.

Melakukan pewarnaan Gram dan pemeriksaan mikroskopis untuk melihat morfologi bakteri.

Kultur pada media selektif

Melakukan tes katalase, tes

koagulase dan pemeriksaan biokimia

Menghitung jumlah bakteri

Mengidentifikasi jenis bakteri Menghitung jumlah jamur dan mengidentifikasi jenis jamur.

Uji kepekaan antimikroba

3. Suspensi ini adalah pengenceran 10-1 dan selanjutnya diencerkan secara berurutan sampai pengenceran 10-3.

4. Kemudian 100 µL dari setiap pengeceran disebarkan pada media agar Nutrient untuk menghitung total viable count (TVC) dan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) untuk jamur.

5. Media agar Nutrient diinkubasi pada suhu 37ºC selama 48 jam dan media agar Sabouraud Dextrose Agar (SDA) diinkubasi pada suhu 37ºC selama 72 jam.

4.10.2. Prosedur pembiakan kultur

1. Ose yang digunakan untuk menanam bakteri sebelum dan sesudahnya dipanaskan hinga merah pijar di atas nyala api dan didinginkan dahulu sebelum digunakan untuk menanam mikroba.

2. Bukalah tutup cawan petri secukupnya saja untuk menghindari kontaminasi dari udara.

3. Dengan ose mikroba diambil dan kemudian dilakukan penanaman pada permukaan medium padat dengan cara goresan 4 kuadran secara berulang-ulang.

4.10.3. Prosedur pelaksanaan pewarnaan Gram

1. Bersihkan gelas objek dengan kain bersih agar tidak berlemak, kemudian gelas objek dilayangkan di atas nyala api.

2. Setelah didinginkan, beri label dengan pensil kaca atau spidol.

3. Teteskan satu tetes aquadest atau garam faal pada gelas objek.

4. Pijarkan sengkelit, kemudian didinginkan.

5. Ambil sediaan yang hendak diwarnai dengan menggunakan sengkelit.

Pada saat mengambil sediaan, hanya ujung sengkelit yang menyentuh koloni.

6. Suspensikan sediaan tersebut pada tetesan aquadest pada gelas objek lalu sebarkan dengan gerakan memutar sampai merata. Luas sediaan 1-2 cm2. Pijarkan kembali sengkelit yang dipakai untuk mengambil sediaan yang mengandung bakteri tadi.

7. Sediaan dibiarkan mongering di udara, kemudian lewatkan di atas nyala api sebanyak 3 kali agar sediaan melekat sempurna di atas permukaan gelas objek (sisi gelas objek yang mengandung sediaan menghadap ke atas agar tidak terkena nyala api).

8. Tuangkan zat warna karbol-gentian violet di atas sediaan dan tunggu selama 5 menit.

9. Cuci sediaan dengan air kran selama 5-10 detik.

10. Genangi dengan larutan lugol selama 1 menit.

11. Cuci sediaan dengan air kran selama 5-10 detik.

12. Celup dan goyang dalam bak yang berisi aceton alkohol 96% selama 10 detik.

13. Cuci sediaan dengan air kran.

14. Genangi dengan fuchsin-air (safranin) selama 1-2 menit.

15. Cuci kembali dengan air kran, kemudian keringkan di udara.

16. Setelah kering, lihat di bawah mikroskop.

4.10.4. Prosedur pelaksanaan tes katalase

1. Teteskan satu tetes hidrogen peroksida (H2O2) di atas kaca slide yang bersih.

2. Sterilkan ose/sengkelit.

3. Ambil koloni bakteri yang akan diuji.

4. Campurkan koloni yang diambil ke dalam hidrogen peroksida.

5. Interpretasi :

a. Bila terbentuk gelembung udara : tes katalase positif

b. Bila tidak terbentuk gelembung udara : tes katalase negative 4.10.5. Prosedur pelaksanaan tes koagulase

Terdapat dua cara untuk melakukan tes koagulase yaitu : 1. Slide Test

a. Teteskan satu tetes aquadest di atas kaca slide yang bersih.

b. Emulsikan koloni bakteri Staphylococcus spp. pada tetesan aquadest itu.

c. Tambahkan satu sengkelit plasma manusia.

d. Campurkan tersebut diaduk menggunakan batang pengaduk.

e. Interpretasi :

i. Bila terbentuk gumpalan : slide test (+) : Staphylococcus aureus.

ii. Bila gumpalan tidak terbentuk : slide test (-) : lanjutkan dengan tube test.

2. Tube Test

a. Inokulasi 0,5 ml citrated rabbit plasma (yang telah diencerkan sampai 1 : 4) dengan 1-2 tetes biakan Staphylococcus spp. yang telah dieramkan satu malam.

b. Eramkan pada suhu 35ºC dalam water-bath.

c. Jika terjadi koagulasi sempurna ataupun sebagian sesudah pengeraman 1-4 jam, maka tes dikatakan positif.

4.10.6. Prosedur pemeriksaan biokimia 1. Uji Indol

a. Biakan kuman diambil menggunakan ose steril lalu ditanam pada tabung berisi medium cair yang kaya akan triptofan.

b. Tabung tersebut diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.

c. Tambahkan 3-5 tetes reagensia kovac pada tabung yang mengandung biakan kuman yang berumur 24 jam tersebut.

d. Kocok tabung tersebut lalu diamkan beberapa saat.

e. Reaksi yang positif untuk indol ditandai dengan terbentuknya cincin merah pada permukaan biakan.

2. Uji Methyl Red

a. Bakteri diinokulasikan pada medium MR/VP, kemudian diinkubasi pada suhu 35ºC selama 48-72 jam.

b. Teteskan 5 tetes reagensia methyl red ke dalam media.

c. Bila terlihat warna merah pada media maka hasil dinyatakan positif.

3. Uji Voges-Proskauer

a. Bakteri diinokulasikan ke medium MR/VP, kemudian diinkubasikan pada suhu 35ºC selama 24 jam.

b. Kemudian ke dalam medium ditambahkan 0,6 ml α-napthol 5%

dan 0,2 ml KOH 40%.

c. Kocok beberapa saat dan didiamkan selama 10-15 menit.

d. Hasil dikatakan positif bila dihasilkan warna merah pada medium setelah 15 menit ditetesi reagensia.

4. Uji citrat

a. Tanam kuman yang berasal dari biakan TSI pada agar miring Simmon’s Citrate.

b. Inkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam.

c. Bila terlihat pertumbuhan dan terjadinya perubahan warna media dari hijau menjadi warna biru tua, maka hasil dinyatakan positif.

5. Uji urease

a. Bakteri diinokulasikan pada medium yang mengandung urea sebagi sumber karbon.

b. Kemudian diinkubasikan pada suhu 35ºC.

c. Bila dideteksi adanya ammonia melalui perubahan pH pada indicator pH (phenol red) yang akan menimbulkan warna merah (suasana alkali) dalam waktu 15 menit, 30 menit, 60 menit, sampai 4 jam, maka hasil dinyatakan positif.

6. Uji motilitas

a. Biakan bakteri diambil dengan jarum penanam steril kemudian ditusukkan tegak lurus ke dalam media uji motilitas yaitu media semisolid.

b. Bila setelah pengeraman pada suhu 37ºC selama 24 jam terlihat adanya penyebaran pertumbuhan bakteri ke sekitar tempat tusukan, ditandai dengan bekas tusukan yang tidak jelas, maka uji motilitas bakteri adalah positif.

7. Uji Triple Sugar Iron (TSI)

a. Lakukan sterilisasi ose pada nyala api sampai merah pijar kemudian didinginkan dahulu sebelum digunakan untuk menanam bakteri.

b. Ambil tabung yang berisi Trypticase soy broth (TSB) yang telah dikultur selama 24 jam, buka penutup tabung dan panaskan leher tabung.

c. Ambil organisme kultur dari TSB dengan ose secara aseptik.

d. Panaskan kembali leher tabung dan letakkan tabung pada rak tabung.

e. Ambil tabung agar miring Triple Sugar Iron (TSI) steril, buka penutup tabung, dan panaskan leher tabung.

f. Tusukkan ose yang mengandung kultur murni pada media secara tegak lurus sedalam kira-kira satu sampai satu setengah cm dari dasar tabung (butt), dan goreskan ose secara bolak-balik sepanjang permukaan agar miring.

g. Kemudian panaskan kembali leher tabung TSI, tutup, dan letakkan pada rak tabung.

h. Inkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam.

i. Interpretasi :

i. Jika hanya glukosa yang difermentasi, maka produksi asam hanya pada dasar tabung (butt) dan menghasilkan warna kuning, sedangkan pada bagian agar miring (slant) akan berwarna merah karena kurangnya produksi asam (al/a).

ii. Jika laktosa dan sukrosa difermentasi, maka warna kuning akan dijumpai pada butt dan slant (a/a).

iii. Jika tidak terjadi fermentasi, maka media TSI akan terlihat merah pada butt dan slant-nya (al/al).

iv. Jika dihasilkan gas pada saat fermentasi maka akan terlihat gas pada butt atau agar akan menjadi naik dari dasar

v. Jika bakteri menghasilkan gas H2S, maka pada dasar tabung akan terlihat warna hitam (black butt).

8. Uji fermentasi karbohidrat

a. Mempersiapkan phenol red carbohydrate broth dengan mencampurkan 1 g trypticase, 0,5 g sodium klorida, dan 0,0189 g phenol red dalam 100 ml air yang sudah didestilasi dan deionisasi.

b. Masukkan 4-5 ml larutan ke dalam tabung uji.

c. Tambahkan 0,5 g karbohidrat (glukosa, laktosa, atau sukrosa) yang akan diuji ke dalam tabung uji.

d. Masukkan Durham tube yang terbalik ke dalam tabung uji dan pastikan Durham tube terisi oleh phenol red carbohydrate broth sampai penuh.

e. Lakukan sterilisasi pada suhu 115ºC selama 15 menit untuk glukosa dan pada suhu 121ºC selama 3 menit untuk laktosa dan sukrosa.

f. Inokulasikan tabung uji yang berisi phenol red carbohydrate broth dengan bakteri hasil kultur secara aseptik.

g. Inkubasi tabung uji pada suhu 37ºC selama 18-24 jam.

h. Interpretasi:

i. Diproduksinya asam oleh karena karbohidrat terfermentasi ditandai dengan perubahan warna media dari merah menjadi kuning.

ii. Diproduksinya gas ditandai dengan adanya gelembung-gelembung udara pada Durham tube.

4.10.7. Uji kepekaan antimikroba

a. Menyediakan lempeng agar dengan tebal 4 mm yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme yang akan diuji.

b. Mengambil beberapa koloni bakteri yang akan diuji kepekaannya dan dimasukkan ke medium cair kemudian diinkubasi selama 2-5 jam pada suhu 36-37ºC.

c. Mencelupkan kapas lidi steril ke dalam medium cair yang berisi bakteri lalu semaikan ke permukaan lempeng agar sampai merata dan biarkan 3-5 menit.

d. Meletakkan cakram antimikroba dengan bantuan pinset steril dan ditekan sedikit agar melekat pada lempeng agar dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam.

e. Mengukur daerah hambatan di sekitar cakram antimikroba dengan jangka sorong.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jalan Universitas No. 1 Kampus Universitas Sumatera Utara. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mempunyai kelengkapan alat dan bahan untuk melakukan penelitian ini, seperti alat dan bahan untuk melakukan pelarutan sampel penelitian, kultur sampel penelitian, pewarnaan Gram, pemeriksaan mikroskopis, dan uji kepekaan antimikroba.

5.1.2. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

Pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah lipstik yang telah digunakan oleh mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2013 selama kurang dari 12 bulan sebanyak 21 buah dan lipstik baru dengan merek yang sama sebanyak 14 buah. Penelitian ini dilakukan selama 10 hari mulai dari tanggal 15 November – 24 November 2016 dan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

 Pada hari Selasa, 15 November 2016, setiap sampel lipstik ditimbang sebanyak 0,1 gr dan dilarutkan ke dalam 1 ml tween-80 lalu volume totalnya disesuaikan sampai mencapai 10 ml dengan peptone water steril.

Suspensi yang didapat dicampurkan sampai homogen dengan vortex.

Setelah suspensi tercampur dengan merata, suspensi tersebut diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 48 jam.

 Pada hari Kamis, 17 November 2016, 0,1 ml dari suspensi tersebut dibiakkan pada Nutrient Agar dan diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 24 jam.

 Pada hari Jumat, 18 November 2016, dilakukan perhitungan jumlah koloni dan hasilnya dinyatakan dalam satuan Colony Forming Units per gram (CFU/g), kemudian dari koloni yang ditemukan dilakukan pewarnaan Gram dan pemeriksaan mikroskopis dengan mikroskop cahaya.

 Pada hari Selasa, 22 November 2016, hasil pemeriksaan mikroskopis yang diduga bakteri patogen berupa ditemukannya bakteri gram positif berbentuk kokus dan bergerombol seperti buah anggur sebanyak 19 sampel dibiakkan pada media selektif Mannitol Salt Agar (MSA) pada suhu 37 ºC selama 24 jam.

 Pada hari Rabu, 23 November 2016, dilakukan pengamatan pada hasil biakan media selektif dan ditemukan 9 sampel yang mengandung bakteri patogen berupa Staphylococcus aureus yang kemudian dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan koagulase dan uji kepekaan terhadap antimikroba. Uji kepekaan antimikroba dilakukan dengan Mueller Hinton Agar dan delapan cakram antimikroba yang terdiri dari ampicillin, oxacillin, cefoxitine, vancomycin, erythromycin, ciprofloxacin, chloramphenicol, dan clindamycin. Koloni yang ditemukan pada media selektif diambil dan diencerkan dengan NaCl 0,9% sampai 0,5 Farland lalu di sebarkan pada seluruh permukaan media sampai merata dengan menggunakan kapas lidi steril. Kemudian delapan cakram antimikroba tersebut ditanamkan pada permukaan media dan diinkubasi pada suhu 37 ºC selama 24 jam.

 Pada hari Kamis, 24 November 2016, dilakukan pengukuran diameter daerah hambatan disekitar cakram antimikroba dengan jangka sorong.

Tabel 5.1 Distribusi Hasil Perhitungan Jumlah Kontaminasi Mikroorganisme pada Sampel Lipstik

Jumlah Kontaminasi Mikroorganisme (CFU/g)

Frekuensi (Lipstik)

Persentase (%)

> 1000 30 85,7

< 1000 5 14,3

Total 35 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari semua sampel lipstik yang diteliti, jumlah kontaminasi mikroorganisme yang paling banyak terjadi adalah > 1000 CFU/g yaitu sebanyak 30 lipstik (85,7%).

Tabel 5.2 Distribusi Hasil Identifikasi Jenis Kontaminasi Mikroorganisme pada Sampel Lipstik

Jenis Kontaminasi Mikroorganisme

Frekuensi (Lipstik)

Persentase (%)

Bacillus sp. 17 48,6

Corynebacterium sp. 2 5,7

Staphylococcus epidermidis 10 28,5

Staphylococcus aureus 9 25,7

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari semua sampel lipstik yang diteliti, jenis kontaminasi mikroorganisme yang paling banyak adalah Bacillus sp. yaitu sebanyak 17 lipstik (48,6%). Jenis kontaminasi mikroorganisme yang tidak diperbolehkan ada dalam suatu sediaan lipstik adalah Staphylococcus aureus yaitu sebanyak 9 lipstik (25,7%).

Tabel 5.3 Distribusi Hasil Uji Kepekaan Antimikroba terhadap Bakteri Staphylococcus aureus yang Dijumpai pada Sampel Lipstik Jenis Antimikroba Tidak Peka (Resistant)

n %

Ampicillin 9 100

Cefoxitine 1 11,1

Chloramphenicol 7 77,8

Clindamycin 2 22,2

Ciprofloxacin 3 33,3

Erythromycin 7 77,8

Oxacillin 0 0

Vancomycin 4 44,4

Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji kepekaan antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah ada dijumpainya pola resistensi terhadap antimikroba golongan ampicillin, cefoxitine, chloramphenicol, clindamycin, ciprofloxacin, erythromycin, dan vancomycin dengan angka kejadian resistensi terbanyak adalah terhadap antimikroba ampicillin yaitu sebesar 100%.

5.2. Pembahasan

Pada penelitian ini, dari 35 sampel lipstik yang diteliti, 30 sampel lipstik (85,7%) mengalami kontaminasi mikroorganisme dengan jumlah yang melewati batas yang diperbolehkan. Dari 30 sampel lipstik tersebut, 21 sampel berasal dari lipstik yang telah digunakan mahasiswi Fakultas Kedokteran Sumatera Utara selama kurang dari 12 bulan dan 9 sampel berasal dari lipstik yang baru. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sneha Sunil Sawant dan Varsha Kelkar-Mane di India, dimana dari 12 sampel lipstik, semuanya (100%) mengalami kontaminasi mikroorganisme dengan jumlah yang melewati batas yang diperbolehkan.2 Demikian juga pada penelitian yang dilakukan oleh Nuzhath Fatima di Arab Saudi, dari 10 kosmetik yang diteliti yang 2 diantaranya merupakan lipstik, semua sampel lipstik (100%) mengalami kontaminasi bakteri

penelitian yang dilakukan oleh Fatma Kaynak Onurdag, Selda Ozgen, dan Duygu Abbasoglu di Turki, hanya 2 sampel lipstik (10%) dari 20 sampel lipstik yang terkontaminasi bakteri dengan jumlah yang melewati batas yang diperbolehkan.

Jumlah kontaminasi yang lebih rendah pada penelitian yang dilakukan di Turki ini mungkin disebabkan oleh kondisi higienitas dari penggunanya sendiri karena setiap sampelnya hanya digunakan oleh satu orang, dimana resiko kontaminasi akan meningkat apabila produk yang sama digunakan oleh lebih dari satu orang.8 Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa jenis kontaminasi mikroorganisme yang dijumpai pada sampel lipstik terdiri dari Bacillus sp., Corynebacterium sp., Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis.

Dari keempat spesies tersebut, yang paling banyak dijumpai adalah Bacillus sp.

dan Staphylococcus sp. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shweta Dixit dan Rekha Bhadauria di India, dimana Staphylococcus aureus dan Bacillus sp. juga merupakan bakteri yang paling banyak dijumpai. 4 Demikian juga pada penelitian yang dilakukan oleh Fatma Kaynak Onurdag, Selda Ozgen, dan Duygu Abbasoglu di Turki, spesies Staphylococcus aureus yang tidak diperbolehkan ada pada suatu sediaan lipstik juga ditemukan.8 Ditemukannya spesies Staphylococcus sp. pada beberapa penelitian ini mungkin disebabkan oleh kontak langsung sediaan lipstik pada bibir yang dengan tidak sengaja terkontaminasi oleh flora normal hidung ataupun kulit yang kemudian bermultiplikasi pada sediaan lipstik tersebut.24

Uji kepekaan antimikroba juga dilakukan terhadap bakteri yang ditemukan pada penelitian ini dan dianggap patogen atau tidak diperbolehkan ada pada suatu sediaan lipstik yaitu Staphylococcus aureus. Hasil uji kepekaan antimikroba menunjukkan bahwa ada dijumpainya pola resistensi terhadap antimikroba golongan ampicillin, cefoxitine, chloramphenicol, clindamycin, ciprofloxacin, erythromycin, dan vancomycin dengan angka kejadian resistensi terbanyak adalah terhadap antimikroba ampicillin yaitu sebesar 100%. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Qasem M Abu Shaqra, Walid Al-Momani, dan Rania M Al-Groom di Jordan, dimana hasil uji kepekaan antimikroba dari spesies Staphylococcus aureus adalah terjadinya resistensi terhadap antimikroba golongan

amoxicillin dan ciprofloxacin.7 Demikian juga pada penelitian yang dilakukan oleh Nuzhath Fatima di Arab Saudi, hasil uji kepekaan antimikroba dari spesies Staphylococcus haemolyticus dan Staphylococcus hominis yang diisolasi dari produk kosmetik adalah terjadinya resistensi terhadap antimikroba golongan benzyl penicillin, oxacillin, dan erythromycin.3 Beberapa alasan yang menyebabkan kejadian resistensi tersebut adalah diproduksinya enzim penicillinase yang menghidrolasi cincin beta-lactam penicillin, akuisisi gen mecA yang fungsinya mengkode protein PBP2a untuk tetap mensintesis dinding sel walaupun dengan adanya antibiotik, dan adanya gen erm yang memproduksi enzim RNA methylase untuk memodifikasi tempat pengikatan antibiotik.25

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Jumlah kontaminasi mikroorganisme yang paling banyak dijumpai pada sampel lipstik yang diteliti adalah > 1000 CFU/g yaitu sebanyak 30 lipstik (85,7%).

2. Jenis kontaminasi mikroorganisme yang dijumpai pada sampel lipstik yang diteliti terdiri dari Bacillus sp., Corynebacterium sp., Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Jenis mikroorganisme yang paling banyak dijumpai adalah Bacillus sp. yaitu sebanyak 17 lipstik (48,6%).

3. Hasil uji kepekaan antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang ditemukan pada sampel lipstik adalah ada dijumpainya pola resistensi terhadap antimikroba golongan ampicillin, cefoxitine, chloramphenicol, clindamycin, ciprofloxacin, erythromycin, dan vancomycin.

6.2. Saran

1. Pengguna lipstik diharapkan untuk tidak menggunakan lipstik selama lebih dari 12 bulan.

2. Perlunya peningkatan kualitas proses produksi untuk meminimalisasi kontaminasi mikroorganisme sehingga lebih menjamin keamanan lipstik yang digunakan oleh konsumen.

3. Pentingnya peningkatan penggunaan sistem pengawet yang tepat dan adekuat pada sediaan lipstik agar dapat lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan dari kontaminasi mikroorganisme sewaktu proses produksi, distribusi, penyimpanan, dan saat sedang digunakan oleh konsumen.

4. Produsen diharapkan meningkatkan pemantauan mikrobiologis secara rutin pada produk akhir yang dihasilkan.

5. Pemerintah diharapkan dapat lebih mengontrol dan menindaklanjuti jika ditemukannya produk lipstik yang tidak memenuhi standar yang telah di tetapkan.

6. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan pada sediaan kosmetik yang lebih beragam dengan jumlah sampel yang lebih banyak serta menggunakan metode dan alat ukur yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

2. Sawant SS, Kelkar-Mane V. Study of bacterial contaminants in local as well as branded lipsticks before and after consumer use. Int J Recent Adv Mult Res. 2015;2(1):149-154.

3. Fatima N. Bacteriological evaluation and comparison of unused branded and non-branded cosmetic products available in Jazan region of Saudi Arabia. J Microb World. 2014;16(1-2):57-67.

4. Dixit S., Bhadauria R. Microbial contamination of used herbal cosmetic products. Asian J Pharm Life Sci. 2014;4(3):28-33.

5. Das KK, Fatema KK, Nur IT, Noor R. Prevalence of microorganisms in commonly used cosmetics samples in Dhaka Metropolis. J Pharm Sci Innov.

2013;2(6):7-9.

6. Scientific Committee on Consumer Safety. The SCCS’s notes of guidance for the testing of cosmetic substances and their safety evaluation. Luxembourg:

SCCS; 2012 [diakses tanggal 2016 Mei 15] Diakses dari:

http://ec.europa.eu/health/scientific_committees/consumer_safety/docs/sccs_s _006.pdf

7. Shaqra QM, Walid A, Rania MA. Susceptibility of some bacterial contaminants recovered from commercial cosmetics in Jordan to preservatives and antibiotics. Trop J Pharm Res. 2012;13(2):255-259.

8. Onurdag FK, Ozgen S, Abbasoglu D. Microbiological investigation of used cosmetic samples. Hacettepe Univ J Fac Pharm. 2010;30(1):1-16.

9. Depkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1175/MENKES/PER/VIII/2010 tentang izin produksi kosmetika. Jakarta:

Depkes RI; 2010.

10. Tranggono, Iswari, Retno, Latifah, Fatimah. Buku pegangan ilmu pengetahuan kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.

11. Yatimah, Yeyet D. Analisa cemaran logam berat kadmium dan timbal pada beberapa merek lipstik yang beredar di daerah dengan menggunakan spektofotometri serapan atom. Fakultas Farmasi UIN Syarif Hidayatullah.

2015 [diakses tanggal 2016 Mei 15]. Diakses dari:

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25702/1/Yeyet%20 Durotul%20Yatimah%20-%20fkik.pdf

12. Han, Chenny. Make-up bibir sesuai aura dan fengshui. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.

13. Widodo W,Sumarsih S. Jarak kepyar tanaman penghasil minyak kastor untuk berbagai industri. Yogyakarta: Kaninus, 2007.

14. Wasitaatmadja, Syarif M. Penuntun ilmu kosmetik medik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press, 1997.

15. Poucher, John. Poucher’s perfumes, cosmetics and soaps. 10th Ed. Dordrecht:

Kluwer Academic Publishers, 2000.

16. Eroschenko, Victor P. Atlas histologi diFiore dengan korelasi fungsional.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008.

17. Detmer A, Jorgensen C, Nylen D. A guidance document on microbiological control of cosmetic products. Danish Ministry of The Environment. 2009

[diakses tanggal 2016 Mei 17]. Diakses dari:

http://www2.mst.dk/udgiv/publications/2010/978-87-92668-66-0/pdf/978-87-92668-67-7.pdf

18. Tortora GJ, Funke BR, Case CL. Microbiology an introduction. 10th Ed. USA:

Pearson Benjamin Cummings, 2010. microbiology. 2th Ed. New Jersey: Lippincott Williams & Wilkins, 2007.

22. CLSI. Method for dilution antimicrobial susceptibility tests for bacteria that grow aerobically; approved standard. 9th Ed. Pennsylvania: Clinical and Laboratory Standard Institute; 2002.

23. World Organisation For Animal Health. Guideline 2.1. laboratory methodologies for bacterial antimicrobial susceptibility testing. Paris: World Organisation For Animal Health; 2012 Mei [diakses tanggal 2016 Mei 20].

25. Coyle MB. Manual of antimicrobial susceptibility testing. USA: American Society for Microbiology, 2005.

Lampiran 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi

Nama : Wendy

Tempat/Tanggal Lahir : Medan/02 Agustus 1995 Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Buddha

Alamat : Jl. Pukat V Gg. Langsat No.75 D, Medan

Telepon : 08116302028

II. Riwayat Pendidikan

1. Tahun 2000-2001 : TK Wiyata Dharma Medan 2. Tahun 2001-2007 : SD Wiyata Dharma Medan 3. Tahun 2007-2010 : SMP Sutomo 1 Medan 4. Tahun 2010-2013 : SMA Sutomo 1 Medan 5. Tahun 2013-Sekarang : Universitas Sumatera Utara

III. Riwayat Kepanitiaan

1. Anggota Dana dalam PORSENI FK USU tahun 2015.

2. Anggota Konsumsi dalam Perayaan Waisak 2559 B.E FK USU tahun 2015.

3. Koordinator Peralatan dan Tempat pada Perayaan Asadha 2559 B.E FK USU tahun 2015.

4. Anggota Tim Medis Fakultas Kedokteran pada Bakti Sosial KMB USU

4. Anggota Tim Medis Fakultas Kedokteran pada Bakti Sosial KMB USU