BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Tahapan Analisis Data
Menurut Miles dan Huberman (dalam Silalahi, 2006), bahwa tahapananalisis data terdiri dari beberapa alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisi data melainkan sebagai proses pemilihan, serta pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan yang tertulis dilapangan. Kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus dan selama pengumpulan data berlangsung, terdapat tahap-tahap reduksi yaitu membuat ringkasan, menelusuri tema, serta membuat patisi.
2. Triangulasi
Adanya teknik keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. Adapun triangulasi dapat dilakukan secara berbeda dengan teknik yang berbeda yaitu melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi.Dalam teknik ini digunakan untuk mengecek kebenaran data serta digunakan untuk memperkaya data.
3. Penyimpulann Data
Kegiatan analisis data ketiga yaitu kesimpulan. Ketika kegiatan pengumpulan data dilakukan, maka peneliti mulai mencari arti
penjelasan, sehingga kesimpulan yang mula-mula diperoleh belum jelas akan meningkat menjadi lebih terperinci. Adapun kesimpulan-kesimpulan akan muncul menjadi “final” tergantung dari seberapa besar pengumpulan data yang diperoleh.
4 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Objek Penelitian
4.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Asahan
Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Asahan provinsi Sumatera Utara yang secara geografis berada pada 2030’00” – 3010’00” LU, 99001 – 100000 BT dengan ketinggian 0 – 1000 m di atas permukaan laut.
Tabel 4.1 Letak dan Geografis Kabupaten Asahan
No Karakteristik Keterangan
1 Luas Wilayah 3.732,97 ha
2 Letak di atas permukaan laut 0 – 1000 m dpl 3 Batas Wilayah Utara Kabupaten Batubara
4 Batas Wilayah Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara Kabupaten Toba Samosir 5 Batas Wilayah Barat Kabupaten Simalungun 6 Batas Wilayah Timur Selat Malaka
7 Daerah Administrasi 25 Kecamatan 204 Desa/Kelurahan Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan
Berdasarkan jumlah desa, kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan terbanyak adalah kecamatan Kisaran Barat yang terdiri 13 desa, serta disusul kecamatan Kisaran Timur, Pulau Rakyat dan Air Batu sebanyak 12 desa dan diposisi Kecamatan Bandar Pulau, Sei Dadap dan Pulo Bandring yang masing-masing terdapat 10 desa. Adapun daerah administrasi di Kabupaten Asahan berjumlah 27 kelurahan (13,24 persen) dan 177 desa (86,76 persen) dari jumlah
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Asahan
Sumber : loketpeta.pu.go.id
Jika dilihat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS bahwa luas wilayah Kabupaten Asahan adalah 3.732,97 ha dengan distribusi wilayah terluas ada pada kecamatan Bandar Pasir Mandoge dengan luas 19,11 persen berkisar 713,6321 km2 diikuti oleh kecamatan sei kepayang dengan luas 9.93 persen berkisar 370,6919 km2 dan aek songsongan seluas 7,55 persen berkisar 282,2056 km2 dan kecamatan Kisaran Timur memiliki luas wiayah terkecil sebesar 30,1678 km2 atau berkisar 0,80 persen.
4.1.2 Kondisi Penduduk Kabupaten Asahan
BPS Kabupaten Asahan tahun 2018 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Asahan sebesar 724.379 atau berkisar 5,02 persen dari 14,41 juta jumlah penduduk Sumatera Utara. Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk lebih banyak bertempat tinggal di Kecamatan Kisaran Timur sebanyak 78,821 jiwa serta Kecamatan Kisaran Barat sebanyak 60,044 jiwa.
Berdasarkan rasio jenis kelamin yang ditampilkan oleh BPS Kabupaten Asahan menunjukkan 100,83 jumlah penduduk perempuan lebih sedikit jika dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan skala perbandingan setiap 100 penduduk perempuan, maka terdapat 101 penduduk laki-laki.
Penduduk di Kabupaten Asahan dikategorikan sebagai penduduk miskin pada tahun 2018 yang mencapai 10,25 persen jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 11,67 persen berarti menunjukkan jumlah tersebut menurun, akan tetapi dapat dikatakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka kemiskinan provinsi Sumatera Utara dengan pencapaian 9,22 persen untuk Kabupaten Asahan.
4.1.3 Kondisi Kesehatan Kabupaten Asahan
Angka Harapan Hidup didefinisikan sebagai alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesehatan penduduk pada umumnya, serta bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup atau disingkat AHH di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, program sosial lainnya termasuk di dalamnya program
kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk di dalamnya program pemberantasan kemiskinan (BPS, 2018).
Gambar 4.2 Angka Harapan Hidup Kabupaten Asahan Tahun 2014-2018
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan (2018)
Adapun kondisi kesehatan penduduk Kabupaten Asahan berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan tahun 2018 menunjukkan bahwa perlahan mengalami peningkatan seiring tahun 2014 hingga 2018.
Berdasarkan grafik di atas menunjukkan pada tahun 2014 Angka Harapan Hidup sebesar 67,27 persen dan di tahun 2015 sebesar 67,37 persen dan ditahun 2018 meningkat sebesar 67,79 persen dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 67.57 persen. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang lahir mampu bertahan hidup hingga mencapai umur 68 tahun. Kecenderungan peningkatan AHH tersebut juga ditunjang dari peningkatan kualitas pelayanan kesehatan serta peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mengurangi resiko kematian penduduk.
4.1.4 Kondisi Pendidikan Kabupaten Asahan
BPS Kabupaten Asahan mempublikasikan Kondisi pendidikan Kabupaten Asahan tahun 2018, bahwa persentase jumlah penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar sebesar 26,96 persen dan untuk pendidikan tingkat menengah pertama sebesar 21,61 persen dan pendidikan tingkat menengah atas (umum dan kejuruan) sebesar 25,91 persen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentasenya, karena terlihat bahwa penduduk lebih banyak menamatkan pendidikan pada sekolah dasar jika dibandingkan jenjang pendidikan tinggi.
Tabel 4.2 APK dan APM Tahun 2018
Tingkat Pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK)
Angka Partisipasi Murni (APM)
Sekolah Dasar (SD) 115,67 99,66
SMP 86,13 80,53
SMA 72,18 60,25
PT 16,16 14,52
*Ket : dalam persen (%)
Sumber : BPS Kabupaten Asahan, Susenas tahun 2018
Berdasarkan hasil susenas, BPS mempublikasikan Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2018 dalam indikator penting Kabupaten Asahan 2018 yaitu pada sekolah dasar kabupaten asahan melebihi 100 persen yaitu sebesar 101,85 persen. Artinya bahwa usia murid sekolah dasar yang mencakup 7-12 tahun ternyata juga mencakup kurang dari 7 tahun dan lebih dari 12 tahun. Hal ini dijelaskan bahwa terdapatnya anak didik yang terlambat masuk, atau terlalu dini untuk masuk sekolah dasar maupun tinggal kelas. Jika berdasarkan APM atau
bahwa 99 dari 100 murid yang bersekolah diusia diusia 7-12 tahun sedangkan 1 murid mengalami keterlambatan masuk sekolah dasar atau terlalu cepat untuk bersekolah maupun mengalami tinggal kelas.
4.1.5 Kondisi Ketenagakerjaan Kabupaten Asahan
Dalam pengumpulan data terkait kondisi ketenagakerjaan, BPS mengacu pada the labour force concept yang dikembangkan dan disarankan oleh ILO.
Adapun konsep ini mengelompokkan penduduk usia kerja (>15 tahun) dengan kategori penduduk yang bekerja ditambah penduduk yang aktif mencari kerja dan penduduk bukan usia kerja (< 15 tahun) dengan kategori bukan angkatan kerja.
Pada kabupaten asahan dalam kategori penduduk usia kerja sebesar 67,63 persen dan kategori penduduk yang bukan angkatan kerja sebesar 32,37 persen.
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan No Lapangan Pekerjaan
Utama Laki-Laki Perempuan Jumlah Total
1 Pertanian 92.613 23.236 115.849
2 Manufaktur 88.450 59.103 147.553
3 Jasa 21.189 34.576 55.765
Total 202.252 116.915 391.167
*Ket : Berdasarkan Usia 15 Tahun ke atas yang bekerja Sumber: BPS Kabupaten Asahan Tahun 2018
Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan bahwa penduduk yang bekerja di sektor manufaktur menjadi peringkat pertama sebesar 147.553 atau berkisar 46,23 persen dan disusul pada sektor pertanian sebesar 115.849 atau berkisar 36,30 persen dan 17,47 persen ada pada sektor jasa.
4.1.6 Kondisi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Asahan
Pertumbuhan ekonomi merupakan cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu daerah yang dicapai. Petumbuhan ekonomi juga dapat dijadikan sebagai bentuk gambaran terhadap dampak kebijakan pembangunan yang dilaksanakan khususnya bidang ekonomi serta sebagai indikator untuk perencanaan dalam menentukan arah pembangunan suatu daerah dimasa datang.
Tabel 4.4 Distribusi PDRB Kabupaten Asahan Tahun 2018
No Sektor Pertumbuhan Ekonomi Tingkat
Persentase (%) 1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 36,04
2 Industri Pengolahan 23,42
3 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 19,36
4 Konstruksi 7,13
5 Transportasi dan Pergudangan 3,57
6 Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos Wajib 3,45
7 Lainnya 7,03
Sumber: BPS Kabupaten Asahan Tahun 2018
Berdasarkan data di atas, terdapat 3 (tiga) sektor yang cukup dominan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Asahan di Tahun 2018 yaitu sektor pertanian sebesar 36,04 persen, sektor industri pengolahan sebesar 23,42 persen dan sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 19,36 persen sedangkan sektor lain memberikan kontribusi sebesar 21,18 persen. Hal ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi AHK tahun 2018 sebesar 5,61 persen, artinya ada peningkatan dari angka perbandingan tahun 2017 sebesar 5,48 persen.
4.1.7 Kondisi Keuangan Daerah Kabupaten Asahan
APBD merupakan unsur penting bagi suatu daerah dalam melaksanakan pembangunan daerah, sehingga dalam perencanaanya diperlukan prinsip efisiensi serta transparansi dalam penggunaan anggaran. Berikut data terkait kapasitas riil kemampuan keuangan daerah Kabupaten Asahan Tahun Anggaran 2016-2021
Tabel 4.5 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah
*APBD yang ditetapkan
Sumber : RPJMD Kabupaten Asahan Tahun 2018
Berdasarkan Tabel kapasitas riil kemampuan keuangan daerah Kabupaten Asahan di atas diketahui bahwa belanja yang wajib, mengikat serta prioritas sebesar Rp 1.0442.408.739.307,83 ditahun 2016 menjadi Rp 1.024.590.921.404,13 ditahun 2021 dan pengeluaran pembiayaan daerah dari tahun 2018 sampai pada tahun 2021 diperkirakan tetap setiap tahunnya yaitu sebesar 2,5 miliar. Oleh karena itu, setelah diperoleh angka proyeksi belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama, maka dapat diperkirakan kapasitas riil dari kemampuan keuangan daerah untuk jangka waktu lima tahun dari tahun 2016 sampai tahun 2021.
4.1.8 Gambaran Umum Pemerintahan Kabupaten Asahan
Kabupaten Asahan terdiri dari 25 kecamatan dengan jumlah 27 kelurahan dan 177 desa serta 1.538 dusun. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pemerintah Kabupaten Asahan berjumlah 56 baik badan, dinas, kantor kecamatan dan kelurahan termasuk juga DPRD Kabupaten Asahan.
Kepemimpinan Bupati Asahan Bapak H.Surya, B.Sc periode 2016-2021 membawa Kabupaten Asahan melalui Visi Pemerintah Kabupaten Asahan yaitu untuk terwujudnya Asahan yang Religius, Sehat, Cerdas, dan Mandiri.
Misi Pemerintah Kabupaten Asahan adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas SDM berbasis IMTAQ
b. Meningkatkan pelayanan dan kesadaran kesehatan masyarakat c. Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan yang berkeadilan d. Mengembangkan pola pembangunan dan partisipatif, proaktif,
kreatif, dan inovatif dengan menjadikan masyarakat yang cerdas sebagai basis utama pelaku pembangunan ditengah kompetensi global e. Mengelola kemajemukan masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai
budaya dan memelihara kearifan lokal
f. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang professional, amanah, bersih dan berwibawa secara akuntabel dan transparan dengan berorientasi pada pelayanan publik yang prima untuk mendorong percepatan pembangunan.
g. Meningkatkan pembangunan infrastruktur, saranan dan prasarana lainnya secara merata dalam rangka mendorong terwujudnya masyarakat yang mandiri dan berwawasan lingkungan
h. Mendorong terciptanya penegakan hukum dan HAM, keamanan, ketertiban, keadilan dan perlindungan bagi masyarakat
i. Meningkatkan daya saing pertanian dalam arti luas
j. Melakukan percepatan pembangunan perekonomian dengan mendorong pertumbuhan investasi daerah yang dipadukan dengan koperasi dan UKM pariwisata, perdagangan, industri, pembangunan pasar tradisional dan modern.
4.1.9 Deskripsi Umum Konsep Penerapan e-Government
E-Government menggunakan teknologi informasi dan kounikasi dalam mempromosikan pemerintahan yang lebih efisien serta penekana biaya yang efektif dan adanya kemudahan pelayanan pemerintah serta akses informasi kepada masyarakat umum sehingga membuat pemerintah lebih bertanggung jawan terhadap masyarakatnya. Implementasi dari pelayanan publik berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini menciptakan transparansi dan peningkatan layanan untuk menjawab kebutuhan birokrasi dan administrasi di pemerintahan daerah.
adapun pengembangan sistem informasi ini juga akan dapat meningkatkan proses pengambilan keputusan yang terkait dalam perencanaan pembangunan.
Gambar 4.3 Kerangka e-Government
Sumber : Inpres Nomor 3 Tahun 2003
Berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2003 dalam menjamin keterpaduan sistem pengelolaan dan pengolahan dokumen dan informasi lainnya untuk pelayanan publik yang transparan, maka terdapat 4 (empat) pilar dalam penerapan konsep e-Government di pemerintahan daerah yaitu penataan sistem manajemen dan proses kerja, pemahaman tentang kebutuhan publik, penguatan kebijakan serta pemapanan peraturan dan perundang undangan.
Gambar 4.4 Layanan E-Government
Sumber : Kemenpan RB (2019)
Berdasarkan gambar di atas bahwa dalam pengembangan e-Government memang memiliki ruang lingkup yang sangat luas serta memerlukan investasi dan pembiayaan yang sangat besar, namun sementara itu adanya keterbatasan anggaran pemerintah daerah yang saat terbatas sehingga pengalokasian anggaran untuk pengembangan e-Government memang harus dilakukan secara hati-hati dengan memanfaatkan sistem anggaran dengan sebaik mungkin sehingga dapat menghasilkan daya ungkit yang kuat bagi pembentukan tata-pamong yang baik.
Maka dengan demikian diperlukan siklus perencanaan, pengalokasian, pemanfaatan dan pengevaluasian anggaran sehingga pengembangan e-Government dapat berjalan dengan efektif.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Deskripsi dan Analisis Data
Dalam deskripsi dan analisis data merupakan bagian dari penjelasan terhadap data yang diperoleh baik dari wawancara, dokumen-dokumen yang menunjang penelitian serta observasi terkait penelitian mengenai Analisis Penerapan E-Government menuju Asahan Smart City. Peneliti menggunakan teori indikator penerapan e-Government menurut Indrajit (2005) yang memberikan gambaran yang berguna atas komponen penting yang harus dilakukan dalam penerapan e-Government oleh suatu organisasi dalam menjamin pelaksanaan penerapan e-Government berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Penerapan e-Government bukanlah hanya semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, namun seluruh aspek baik itu masyarakat, pelaku bisnis, komunitas dan sebagainya menjadi tanggung jawab bersama, meskipun pada dasarnya bahwa nuansa keinginan serta kesepakatan untuk bertukar informasi baik dalam bentuk data pada tingkat operasional tidak semudah yang dipikirkan karena problem yang dihadapi para birokrasi karena hal ini sudah membudaya karena tidak ingin membaginya dengan pihak lain. Hal inilah yang menjadi tugas dan peran seorang aktor melalui kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut terkait perkembangan teknologi yang cepat sehingga segala sesuatu dapat dilakukan dengan cepat dan tepat tanpa harus menggunakan waktu yang panjang.
Adapun faktor penentu yang patut menjadi bahan pertimbangan dalam
1. Infrastruktur Telekomunikasi
2. Tingkat Konektivitas dan Penggunaan TI di Lingkungan Pemerintah 3. Kesiapan SDM di lingkungan Pemerintah
4. Ketersediaan dana dan anggaran 5. Perangkat hukum
6. Perubahan Paradigma
Pada bagian deskripsi dan analisis data, peneliti melakukan berbagai kegiatan penelitian untuk mengetahui sejauh mana penerapan e-Government di pemerintahan Kabupaten Asahan dengan menggunakan beberapa data maupun dokumen penting yang mendukung diperoleh dari sumber instansi terkait baik melalui website resmi instansi terkait maupun dari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian, maka perolehan secara sekunder tersebut nantinya akan dikaitkan terhadap fakta yang terjadi di lapangan.
Adapun hasil penelitian yang dilakukan di lapangan, peneliti menemukan berbagai informasi, kondisi dan berbagai fenomena serta gejala terhadap permasalahan dalam pelaksanaan e-Government di Kabupaten Asahan. Hasil penelitian berupa kondisi, tanggapan serta permasalahan oleh para informan, maka secara garis besar peneliti melakukan pengkajian berdasarkan teori mengenai indikator penerapan e-Government oleh Richardus Eko Indrajit (2005) yang tertuang di dalam penerapan e-Government di Kabupaten Asahan.
4.2.2 Penerapan e-Government Pemerintah Kabupaten Asahan
4.2.2.1 Infrastruktur Teknologi Informasi
Dalam perkembangan teknologi informasi sekarang ini, hampir seluruh semua kalangan terutama pemerintah daerah telah memiliki situs resmi pemerintah dalam pelayanan publik. Pemerintah Kabupaten Asahan adalah salah satu kabupaten yang telah menerapkan pelayanan publik berbasis teknologi informasi dan komunikasi (e-Government) sebagai penunjang kualitas serta kreatifitas pemerintah Asahan. Berdasarkan hasil penelitian terkait perolehan data secara sekunder, peneliti menemukan adanya rencana program prioritas Dinas Komunikasi dan Informasi terkait website resmi pemerintah Kabupaten Asahan bahwa website resmi pemerintah Kabupaten Asahan sudah ada sejak tahun 2015, namun pada tahun 2018 melalui Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan, maka Kabupaten Asahan meluncurkan website resmi pemerintah Kabupaten Asahan dengan tampilan baru.
Gambar 4.5 Skema Penerapan e-Gov Kabupaten Asahan
Berdasarkan Peraturan Bupati Asahan Nomor 39 Tahun 2018 terhadap pelayanan publik berbasis elektronik (e-Government) peneliti menggambarkan dalam skema yang besar kemungkinan diterapkan pada Kabupaten Asahan.
Berdasarkan skema di atas menunjukkan bahwa dalam level penyelenggaraan, penerapan dan pelaksanaan e-Government, diperlukan infrastruktur yang akan menjadi indikator teramat penting dalam penerapan e-Government. Infrastruktur dapat menunjang target yang telah disepakati, namun secara pragmatis, perlunya pertimbangan bagi daerah yang masih memiliki infrastruktur yang sangat minim, sehingga pola yang tepat adalah melalui level kerjasama terhadap pihak swasta guna berinvestasi di daerah tersebut.
Dalam skema tersebut bahwa seluruh data dan infromasi instansi yang terkait dalam pemerintahan di Kabupaten Asahan akan di kelola oleh dinas kominfo Kabupaten Asahan. Hal ini dinyatakan dalam pasal 8 ayat 1 perbup nomor 39/2018 bahwa secara teknis operasional penyelenggaraan akan menjadi tanggungjawab diskominfo kabupaten asahan, dengan berkoordinasi dengan seluruh perangkat daerah terkait pada pengumpulan data dan informasi pada unit pemerintah dari seluruh perangkat dan instansi yang terkait dalam pemerintahan kabupaten asahan akan di kelola oleh diskominfo kabupaten asahan.
Adapun proses tersebut akan dikelola dan diintegrasikan di dalam data center kabupaten Asahan yang kemudian akan di tampung pada sistem terpadu dalam command center. Berdasarkan aspek infrastruktur telokomunikasi, Kabupaten Asahan telah membangun infrastruktur seperti command center yang di dalamnya terdapat sistem yang terhubung seperti cctv, bandwidh dengan
kecepatan 250Mbps di setiap OPD dan kecamatan serta pengrangkat keras lainnya yang berfungsi sebagai penyimpanan dengan kekuatan 1000 terabyte dengan memanfaatkan anggaran tahun 2018. Infrastruktur tersebut akan digunakan sebagai pusat sistem pengembangan aplikasi dalam rangka memodernisasi sistem yang digunakan untuk pelayanan masyarakat berdasarkan skop-skop yang telah ditentukan. Tujuan utama dari infrastruktur ini adalah untuk mewujudkan asahan smart government dengan penggunaan serta peningkatan penggunaan teknologi di bidang layanan data center baik dari pengembangan aplikasi-aplikasi serta layanan pengembangan internet dan pengguna akses internet secara publik.
Gambar 4.6 Command Center Kabupaten Asahan
Sumber : Peneliti (November,2019)
Lokasi : Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Asahan
Command center adalah sebagai pusat pengendalian seluruh aspek baik dalam data-data, pengaduan masyarakat maupun informasi lain akan dapat diketahui oleh seluruh pihak terutama kepada kepala daerah, sehingga dengan
membentuk sebuah kebijakan-kebijakan dengan melihat sumber-sumber yang diperoleh dari seluruh perangkat-perangkat daerah di dalam command center.
Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Zulkarnain selaku Kepala Bidang Teknologi dan Informatika Kabupaten Asahan, beliau mengungkapkan sebagai berikut:
“Pemerintah Kabupaten Asahan dalam hal ini dinas komunikasi dan informatika sudah membangun sistem dengan nama command center dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan ke masyarakat Asahan yang terintegrasi, namun jika dilihat secara perkembangan infrastruktur terbilang cukup kecil karena anggaran yang digunakan berkisar 1 miliar saja yang bagian di dalam nya pembangunan perangkat keras seperti computer, cctv pada 6 titik, gedung, serta pengembangan sistem aplikasi seperti dan lain sebagainya. Baru-baru ini Pemkab Asahan telah membangun aplikasi satu data atau ASADA dan sedang dalam proses pengembangan hingga saat ini”. (Wawancara, Rabu 13 November 2019, 13.12 WIB).
Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa dalam idealnya perangkat keras seperti computer, jaringan, cctv dan infrastruktur lainnya akan menjadi faktor awal untuk menjalankan sistem pemerintahan (e-Government). Pada tahun 2017, Pemerintah Kabupaten Asahan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika telah membangun jaringan serta pengadaan instalasi perangkat.
Tabel 4.6 Rekapitulasi Inventaris Barang Tahun 2017
No Jenis Barang Jumlah Tahun
Pengadaan Kondisi 1 Pembuatan Jaringan Network di Kab.
Asahan 1 2017 Baik
2 Pengadaan Instalasi Perangkat Peralatan
Jaringan Diskominfo 1 2017 Baik
3 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
PU & Penataan Ruang 1 2017 Baik
4 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Inspektorat Daerah 1 2017 Baik
5 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Perumahan dan Kawasan Pemukiman 1 2017 Baik 6 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Ketahanan Pangan 1 2017 Baik
7 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Lingkungan Hidup 1 2017 Baik
8 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 1 2017 Baik 9 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Koperasi dan Perdagangan 1 2017 Baik
10
Pembangunan Jaringan Tower SKPD Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu
1 2017 Baik
11 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata 1 2017 Baik 12 Pembangunan Jaringan Tower SKPD
Kesatuan Bangsa 1 2017 Baik
14 Pembangunan Jaringan RSUD H. Abdul
Manan Simatupang 1 2017 Baik
Sumber : Diskominfo Kabupaten Asahan (2018)
Selain itu pembangunan infrastruktur command center merupakan bagian dari kebijakan pemerintah Kabupaten Asahan dalam mewujudkan Asahan smart government yang merupakan lingkup smart city melalui kebijakan e-Government.
sebagai penjelasan keberadaan infrastruktur command center dan wujud dari e-Government dan smart city sebagai berikut:
“Command center bagian dari smart city. Kabupaten Asahan sedang melaksanakan itu namun konteksnya bertahap dan untuk peruntukkannya nanti, tentu kepala daerah (Bupati) sebagai pembuat kebijakan dan keputusan dapat dilakukan dengan memanfaatkan command center itu sendiri. Selain itu wujud dari keberadaan command center dan smart city dapat dipahami bahwa smart city diibaratkan sebagai kota pintar yang memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan daerah dan command center itu merupakan bagian utama di dalamnya, namun jika command center sudah ada, akan tetapi itu bisa saja bukan bagian dari smart city, tergantung pada kebijakan Bupati untuk menentukan arahnya. Gambaran saat ini program pembangunan command center di Asahan dapat dipastikan merupakan bagian dari smart city, akan tetapi pembangunan dan pengembangannya bertahap dikarenakan anggaran yang terbatas”.(Wawancara, Rabu 13 November, 14.09).
Berdasarkan wawancara di atas, dapat dipahami bahwa unsur dari kekuasaan dan kebijakan dari struktur perencanaan dan pengembangan sistem command center ditentukan oleh pemimpin sebagai aktor, karena menjadi mustahil sebuah sistem command center dapat di jadikan bagian dari wujud smart city meskipun pada dasar nya bahwa sistem yang terintegrasi secara online dapat diartikan sebagai wujud dari smart city akan tetapi arah kebijakan dari seorang
Berdasarkan wawancara di atas, dapat dipahami bahwa unsur dari kekuasaan dan kebijakan dari struktur perencanaan dan pengembangan sistem command center ditentukan oleh pemimpin sebagai aktor, karena menjadi mustahil sebuah sistem command center dapat di jadikan bagian dari wujud smart city meskipun pada dasar nya bahwa sistem yang terintegrasi secara online dapat diartikan sebagai wujud dari smart city akan tetapi arah kebijakan dari seorang