Burung TMII, 2011)
2.2 Taman dan Taman Satwa
2.1 Lanskap dan Taman
Menurut Simonds (1983), lanskap adalah suatu bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dinikmati keberadaannya melalui seluruh indera yang dimiliki manusia. Lanskap juga diartikan sebagai bentang alam yang elemen-elemen lanskapnya dibagi menjadi elemen-elemen utama dan elemen- elemen penunjang. Elemen-elemen utama adalah elemen lanskap dominan yang tidak dapat diubah, seperti bentukan-bentukan sungai, gunung, dan pantai. Elemen-elemen penunjang adalah elemen-elemen lanskap yang dapat diubah, seperti bukit-bukit, semak-semak, dan sungai-sungai kecil. Lanskap dikatakan memiliki karakter lanskap alami jika di dalamnya terdapat suatu area yang keharmonisan dan kesatuan antara elemen alaminya terlihat jelas seperti bentukan-bentukan tanah, formasi bebatuan, vegetasi, dan kehidupan satwa (animal life).
2.2 Taman dan Taman Satwa
Taman merupakan sebidang lahan yang ditata sedemikian rupa sehingga mempunyai keindahan, kenyamanan, dan keamanan bagi pemilik atau penggunanya. Taman juga dapat disebut garden, park, atau landscape, bergantung pada skala dan bentuknya. Selain bernilai estetika, taman juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang memiliki berbagai peran (Arifin dan Arifin, 2005). Menurut Hernowo dan Prasetyo (1989), ruang terbuka hijau memiliki peran dalam meningkatkan kualitas lingkungan. Selain itu, ruang terbuka hijau juga berperan sebagai tempat rekreasi dan merupakan salah satu komponen habitat berbagai jenis satwa liar, terutama burung.
Taman satwa adalah suatu tempat atau wadah yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga konservasi ex-situ yang melakukan usaha perawatan dan penangkaran berbagai jenis satwa dalam rangka membentuk dan mengembangkan habitat baru; sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam; sebagai sarana pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi edukatif yang sehat (Kep. Menhutbun No. 479/Kpts-II/1998). Menurut PKBSI
(2000), taman satwa terdiri atas taman satwa umum dan taman satwa khusus. Taman satwa umum memelihara berbagai jenis satwa liar seperti taman safari, sedangkan taman satwa khusus memelihara koleksi khusus, seperti taman burung, taman serangga, dan taman kupu-kupu.
2.3 Rekreasi dan Wisata
Rekreasi berasal dari dua kata dasar yaitu re dan kreasi, yang secara keseluruhan berarti kembali menggunakan daya fikir untuk mencapai kesenangan atau kepuasan melalui suatu kegiatan. Rekreasi menurut Gold (1980) adalah kegiatan di waktu senggang yang dijalankan dengan kepuasan atau sesuatu yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman rekreasi tersebut. Rekreasi dapat dilakukan secara perorangan ataupun dalam kelompok, dan tidak dibatasi oleh kemampuan seseorang.
Berdasarkan Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan, wisata didefinisikan sebagai perjalanan atau sebagian dari kegiatan yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Menurut Damanik dan Weber (2006), potensi wisata adalah semua objek yang memerlukan banyak penanganan agar dapat memberikan nilai daya tarik bagi wisatawan. Elemen penawaran wisata sering disebut sebagai triple
A’s yang terdiri dari attraction (atraksi), accessibility (aksesibilitas), dan amenity (amenitas). Atraksi merupakan objek wisata (baik bersifat tangible maupun
intangible) yang memberikan kenikmatan kepada wisatawan. Atraksi dapat dibagi menjadi tiga, yakni alam, budaya, dan buatan. Yang tergolong pada atraksi buatan, antara lain, Kebun Raya Bogor, Taman Safari, dan Taman Impian Jaya Ancol (Damanik dan Weber, 2006). Pendit (1994) menyatakan bahwa atraksi wisata adalah segala sesuatu yang menarik perhatian dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat. Atraksi wisata lazim pula dinamakan objek wisata. Menurut Yanto (2011), wisata taman diciptakan untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat akan rekreasi yang menyajikan keindahan alam, keanekaragaman flora dan fauna, serta fasilitas-fasilitas yang tersedia.
Pada umumnya, rekreasi dan wisata memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendapat kenikmatan dan penyegaran kembali mental dan fisik. Tempat tujuan bagi orang yang melakukan wisata merupakan suatu kesatuan ruang tertentu yang
dapat menarik keinginan untuk berekreasi. Setiap ruang umum dan pribadi yang diperuntukkan bagi penggunaan rekreasi merupakan area rekreasi, dan taman adalah setiap lahan umum atau pribadi yang diperuntukkan bagi estetika, edukasi, atau kebudayaan (Gold, 1980).
2.4 Pengelolaan dan Pemeliharaan Lanskap
Manajemen atau pengelolaan adalah proses penyusunan dan pemeliharaan lingkungan tempat individu-individu bekerja secara bersama dalam suatu kelompok, yang berupaya memenuhi suatu tujuan secara efisien (Koontz dan Weihrich, 2006). Wright (1982) menyatakan bahwa pengelolaan taman berkaitan dengan perencanaan jangka panjang mengenai kebijakan dan staf organisasi dan peralatan untuk mencapai pemeliharaan yang efisien. Menurut Parker dan Bryan (1989), proses dalam pengelolaan dapat diurutkan menjadi empat tahap berikut: a. penetapan objek yang akan dikelola;
b. perencanaan kegiatan pengelolaan; c. pelaksanaan kegiatan pengelolaan;
d. pemantauan dan perbaikan rencana pengelolaan yang diperlukan.
Rencana pengelolaan merupakan elemen penting dalam menjabarkan langkah-langkah kegiatan pemeliharaan agar dapat didiskusikan terlebih dahulu dan mencari alternatif solusi jika diperlukan serta menentukan pembagian kerja selanjutnya. Dalam pengelolaan lanskap, proses pelaksanaan pengelolaan atau kegiatan pemeliharaan sehari-hari adalah bagian yang paling memakan banyak waktu, energi, serta biaya. Efisiensi dalam pemeliharaan sehari-hari sangat berpengaruh terhadap biaya. Metode dan intensitas dari pemeliharaan juga kadang-kadang akan memiliki pengaruh yang sangat besar pada biaya pemeliharaan. Pada umumnya, lebih alami atau informal suatu pola dari objek yang akan dikelola, semakin rendah biaya pemeliharaannya. Sebaliknya, objek yang lebih formal atau semakin tidak alami akan memerlukan biaya yang lebih mahal (Parker dan Bryan, 1989).
Kegiatan pemeliharaan lanskap merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk menjaga dan merawat areal lanskap dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya agar kondisinya tetap baik dan sedapat mungkin mempertahankan keadaan yang sesuai dengan rancangan dan desain semula (Sternloff dan Warren,
1984). Menurut Arifin dan Arifin (2005), terdapat dua jenis pemeliharaan lanskap, yaitu pemeliharaan ideal dan pemeliharaan fisik. Pemeliharaan ideal mengacu pada tujuan dan rancangan atau desain semula, sedangkan pemeliharaan fisik meliputi pekerjaan untuk tetap menjaga keindahan, keasrian, kenyamanan, dan keamanan taman. Sternloff dan Warren (1984) menyatakan bahwa untuk mencapai manajemen pemeliharaan yang efektif terdapat beberapa prinsip pemeliharaan taman sebagai berikut.
a. Tujuan dan standar pemeliharaan harus ditetapkan.
b. Pemeliharaan harus dilaksanakan secara ekonomis dalam aspek waktu, tenaga kerja, peralatan, dan bahan.
c. Operasional pemeliharaan hendaknya didasari pada rencana pemeliharaan yang logis.
d. Jadwal pekerjaan pemeliharaan harus didasari pada kebijaksanaan dan prioritas.
e. Pengelola pemeliharaan hendaknya menekankan pada pemeliharaan pencegahan.
f. Pengelola pemelihara harus terorganisir dengan baik.
g. Pengelola taman rekreasi harus memiliki sumber dana yang cukup untuk mendukung program pemeliharaan.
h. Pengelola taman rekreasi harus menyediakan tenaga kerja yang cukup untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemeliharaan.
i. Program pemeliharaan harus didesain untuk melindungi lingkungan alami. j. Pengelola pemeliharaan harus bertanggung jawab terhadap keamanan umum
dan pegawai pemeliharaan.
k. Dalam desain dan konstruksi dari suatu taman rekreasi dan fasilitasnya, pemeliharaan hendaknya menjadi pertimbangan utama saat pembangunan. l. Para pegawai pemeliharaan bertanggung jawab terhadap pencitraan khalayak
umum dan pengelola taman rekreasi.
Sternloff dan Warren (1984) juga menjelaskan bahwa pengelolaan yang baik seharusnya dapat merencanakan program pemeliharaan dengan pengorganisasian secara realistis dengan beberapa cara sebagai berikut:
a. menginventaris dan mengidentifikasi fasilitas dan peralatan taman yang
dipelihara;
b. membuat perencanaan pemeliharaan rutin;
c. membuat perencanaan alat-alat yang digunakan untuk pemeliharaan tidak rutin atau yang bersifat insidental;
d. merencanakan jadwal dan cara pemeliharaan pencegahan untuk mengatasi keadaan yang mungkin mempercepat kerusakan taman;
e. membuat jadwal tanggung jawab penugasan perorangan, kelompok, atau penyerahan tugas kepada kontraktor;
f. melakukan pengawasan terhadap sistem pekerjaan perencanaan dan perancangan, ketepatan jadwal pekerjaan pemeliharaan, serta kapasitas pekerjaan;
g. membuat sistem analisis biaya pemeliharaan.
Pada pengelolaan lanskap diperlukan pula perhatian terhadap daya dukung. Daya dukung adalah konsep dasar di dalam pengelolaan lanskap dan sumber daya alam yang merupakan batas penggunaan suatu area (Arifin et al., 2009). Batas penggunaan suatu areal lanskap tersebut terkait dengan pengelolaan jumlah pengunjung. Suatu wisata taman seperti taman burung memiliki kapasitas tertentu untuk diakses oleh pengunjung. Menurut Nurisjah, Pramukanto, dan Wibowo (2003), pertimbangan terhadap kenyamanan dan kepuasan pengunjung atas sumber daya wisata yang ditawarkan serta perlindungan terhadap sumber daya wisatanya itu sendiri merupakan hal yang penting dalam pengelolaan suatu area wisata.
2.5 Burung dan Pengelolaan Habitatnya
Burung merupakan hewan vertebrata yang bersayap, berkaki dua, berdarah panas, dan bertelur. Hewan ini mudah beradaptasi dan bersifat kosmopolitan sehingga burung terdapat di berbagai bagian dunia, dari kawasan gurun hingga kutub utara, dari permukaan laut hingga pegunungan tinggi, dan dari daerah hutan belantara hingga daerah perkotaan yang padat penduduk. Terdapat lebih dari 8.600 spesies burung yang diketahui dan terbagi ke dalam 27 ordo, antara lain, burung pemburu yang memiliki paruh menukik dan cakar tajam, burung pantai yang memiliki paruh yang ramping dan tajam serta tungkai yang panjang, burung
pelatuk yang berparuh seperti pahat dengan tipe kaki penggenggam, burung air yang mempunyai jari bersirip dan paruh lebar, penguin yang memodifikasi sayap seperti dayung, dan burung pengicau yang memiliki tipe kaki untuk bertengger. Berbagai jenis burung ini secara ilmiah digolongkan ke dalam kelas Aves (Collins, 1975).
Burung merupakan salah satu satwa liar yang perlu dilestarikan karena mempunyai banyak manfaat, antara lain, 1) membantu mengendalikan serangga hama; 2) membantu proses penyerbukan bunga; 3) mempunyai nilai ekonomi yang lumayan tinggi; 4) memiliki suara yang khas yang dapat menimbulkan suasana yang menyenangkan; 5) menjadi sarana untuk berbagai atraksi rekreasi; 6) menjadi objek pendidikan dan penelitian (Hernowo dan Prasetyo, 1989). Upaya terhadap kelestarian burung dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan konservasi. Konservasi burung dapat dilakukan baik secara in-situ (di dalam habitat alaminya) maupun ex-situ (di luar habitat alaminya). Menurut Alikodra dalam Ontario et al. (1991), habitat merupakan tempat hidup suatu organisme yang dapat digunakan untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain, dan berkembang biak. Konservasi burung secara ex-situ dapat dilakukan dengan membuat penangkaran yang menyerupai habitat alaminya. Abas dalam Ontario et
al. (1991) menyebutkan bahwa makanan, air, pelindung, dan ruang lingkup merupakan kebutuhan yang penting bagi kehidupan burung. Ruang lingkup dapat berupa komposisi jenis satwa liar lain di sekitarnya, faktor fisik yaitu suhu, kelembaban, cahaya, ketinggian tempat, dan keadaan tumbuhan yang ada serta pengaruh manusia.
Berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, kegiatan koleksi dan penangkaran burung di daerah merupakan bagian dari pengelolaan di luar habitat (ex-situ) dengan maksud menyelamatkan sumber daya genetik dan populasi jenis satwa burung. Kegiatan tersebut meliputi pula pemeliharaan, perkembangbiakan, serta penelitian dan pengembangannya. Kegiatan pemeliharaan burung (sebagai bagian dari kekayaan jenis flora fauna) di luar habitat wajib memenuhi syarat sebagai berikut: 1) memenuhi standar kesehatan satwa burung; 2) menyediakan tempat yang cukup luas; 3) memberikan keamanan dan kenyamanan; 4) serta mempunyai dan mempekerjakan tenaga ahli
dalam bidang medis dan pemeliharaan. Setio dan Takandjandji (2007) menyatakan bahwa kegiatan penangkaran burung tidak hanya sekedar untuk kegiatan konservasi jenis dan peningkatan populasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan wisata.
Pengelolaan habitat merupakan suatu manipulasi habitat untuk menyediakan kondisi yang cocok bagi hewan yang ingin dilindungi, atau dalam beberapa kasus untuk mengurangi jumlah spesies yang dianggap sebagai hama. Kebanyakan pengelolaan habitat burung dilakukan dengan menanam struktur vegetasi yang sesuai dengan habitat alaminya, meningkatkan ketersediaan pangan, dan memberikan daerah bersarang yang cocok bagi burung-burung (Sutherland, Newton, dan Green, 2004). Pengelolaan habitat di taman burung dilakukan terhadap lingkungan biologi dan lingkungan fisik. Pada lingkungan biologi, pengelolaan dilakukan pada habitat hidup burung yang di dalamnya terdapat tumbuhan (baik yang ditanam maupun tumbuh alami) dengan populasi, kerapatan, dan arsitektur tajuk yang mendekati habitat alami, yang akan menciptakan iklim mikro dan suasana teduh yang disukai oleh burung-burung. Tumbuhan yang cocok untuk menyiapkan lingkungan alami tersebut memiliki karakter sebagai berikut:
a. memiliki buah yang dapat dijadikan sumber pakan burung; b. merupakan tumbuhan yang berbuah sepanjang tahun; c. memiliki percabangan yang lateral/horizontal;
d. memiliki tajuk yang tidak harus selalu tinggi dan juga tidak harus selalu lebat (terutama untuk pengaturan cahaya matahari);
e. merupakan jenis tumbuhan yang tidak berduri tajam, bergetah lengket, atau beracun.
Pada lingkungan fisik, pengelolaan dilakukan terhadap kandang atau sangkar dalam hal kebersihan kandang, pemilihan lokasi kandang, bentuk dan ukuran kandang, dan jenis peruntukan kandang yang sesuai agar burung tetap aman, nyaman, dan sehat (Setio dan Takandjandji, 2007).
BAB III METODOLOGI
3.1 Lokasi dan Waktu Magang
Kegiatan magang dilaksanakan di Taman Burung, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) (Gambar 3). Lokasi Taman Burung TMII ini berada di Kompleks TMII, Jalan Pondok Gede Raya, Pintu TMII II (Gambar 4), Jakarta Timur (Gambar 2). Kegiatan magang dilakukan selama empat bulan dari bulan Maret hingga bulan Juni 2012.
Gambar 2. Peta Jakarta Timur Gambar 3. Pata Lokasi Taman Mini Indonesia (Anonim, 2010b) Indah (Anonim, 2011)
Gambar 4. Lokasi Taman Burung dalam Peta Taman Mini Indonesia Indah (Anonim, 2010a)
3.2 Batasan Studi
Pelaksanaan magang berada dalam ruang lingkup pengelolaan lanskap Taman Burung TMII. Kegiatan pengelolaan yang dilakukan meliputi proses- proses program pemeliharaan yang mencakup pengelolaan dari pelaksanaan dan pemeliharaan fisik Taman Burung TMII.
3.3 Metode Kerja
Kegiatan magang dilakukan dengan cara mengumpulkan data, baik data primer maupun sekunder yang berkaitan dengan pengelolaan lanskap Taman Burung TMII. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode berikut: a. metode survei atau turun lapang secara langsung, yaitu mengikuti setiap
kegiatan pengelolaan dengan melakukan pengamatan, pencatatan, dan ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lanskap di Taman Burung TMII sesuai dengan sistem tata kerja atau peraturan-peraturan yang berlaku dan bekerja langsung di bawah arahan dan pantauan pengelola;
b. wawancara, yaitu mendapatkan informasi mengenai sistem pengelolaan dari staf atau tenaga kerja di Taman Burung TMII.
Data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur mengenai pengelolaan yang terkait dalam pengelolaan lanskap area wisata dan rekreasi khususnya taman satwa.
Selama kegiatan magang, kegiatan pengelolaan lanskap yang dipelajari dan diikuti oleh mahasiswa di Taman Burung TMII meliputi hal-hal berikut.
a. Kelembagaan serta Kondisi Lapang
Kegiatan ini meliputi pengenalan dengan pihak pengelola Taman Burung TMII serta struktur organisasinya, pengenalan profil serta sejarah perusahaan (Taman Burung TMII), dan pengenalan kondisi lapang.
b. Kegiatan Administrasi
Pada kegiatan ini mahasiswa mempelajari struktur dan organisasi perusahaan, terutama berbagai pihak yang berperan di bidang pengelolaan lanskap, mempelajari sistem kerja serta mekanisme kerjanya dalam menjalankan program dan penjadwalan pengelolaan di lapangan, mempelajari permasalahan yang dialami dalam pengelolaan, dan mempelajari bagaimana Taman Burung TMII menghadapi dan menyelesaikan permasalahan pengelolaan yang ada. c. Kegiatan Pengelolaan
Mahasiswa mengikuti proses pengelolaan yang telah ditetapkan oleh pihak pengelola Taman Burung TMII untuk mengetahui informasi yang faktual terhadap kegiatan pengelolaan. Kegiatan pengelolaan dominan dilakukan di lapang secara partisipatif yang mencakup kegiatan pekerjaan pengelolaan yang terdiri dari
kegiatan pelaksanaan dan pemeliharaan fisik. Pada kegiatan ini dilakukan pengamatan terhadap kinerja pekerja, kapasitas kerja, efektivitas serta efisiensi waktu dalam melakukan pekerjaan, dan lain-lain. Pada kegiatan pemeliharaan fisik dilakukan pada elemen lunak (tanaman) dan elemen keras. Pemeliharaan pada elemen lunak yang dilakukan meliputi penyiraman, pemangkasan, pendangiran dan penyiangan gulma, pengendalian hama dan penyakit, penyulaman tanaman, pemupukan, dan pembibitan. Pemeliharaan terhadap elemen keras dalam taman meliputi perawatan serta kebersihan elemen taman baik sangkar maupun komponen taman lainnya. Selain itu, kegiatan di lapang juga dilakukan untuk pengambilan data penunjang seperti aspek fisik, biofisik, serta aspek sosial.
d. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan meliputi data yang terkait dengan aspek pengelolaan, aspek fisik dan biofisik, dan aspek sosial. Pada aspek pengelolaan, dikumpulkan data mengenai kelembagaan, yaitu profil perusahaan, sejarah perusahaan, struktur organisasi, serta data mengenai manajemen, yaitu sistem kerja divisi baik penjadwalan kerja maupun data tenaga kerja dan seluruh data yang berhubungan dengan kegiatan pengerjaan pengelolaan lanskap Taman Burung TMII. Aspek fisik dan biofisik terdiri atas data letak, luas wilayah dan aksesibilitas, iklim, topografi dan jenis tanah, hidrologi, vegetasi, dan satwa. Pada aspek sosial dilakukan pengambilan data terhadap karakter dan persepsi pengunjung dengan cara wawancara dan penyebaran kuesioner terkait kondisi lanskap Taman Burung TMII. Seluruh data yang dikumpulkan adalah data yang menunjang sebagai bahan analisis strategi pengelolaan lanskap Taman Burung TMII dan sebagai bahan laporan dari kegiatan magang. Jenis-jenis data yang dikumpulkan serta sumber pengambilan data dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis-Jenis Data yang Dikumpulkan dan Sumber serta Pemanfaatannya No Jenis data Unit Sumber Analisis Kegunaan
Aspek Kelembagaan
1. Profil dan sejarah - Pihak pengelola Analisis Data
perusahaan deskriptif penunjang
2. Struktur dan organisasi - Pihak pengelola perusahaan
Luas area Pihak pengelola
Tabel 1. Jenis-Jenis Data yang Dikumpulkan dan Sumber serta Pemanfaatannya
(Lanjutan)
Aspek Fisik & Biofisik
1. Letak dan batas wilayah Koordinat Pihak pengelola
2. m2 Daya
dukung Mengetahuikapasitas 3. Vegetasi Spesies Observasi/Pihak Analisis lahan
pengelola deskriptif Mengetahui 4. Satwa Spesies Pihak pengelola kondisi
lanskap 5. Topografi - Observasi/Pihak pengelola 6. Tanah - Observasi/Pihak pengelola 7. Hidrologi - Observasi/Pihak pengelola 8. Iklim(Curah hujan, temperatur,kelembaban) (mm/hr,oC, %) BMKG Aspek Sosial 1. Pengunjung:
Jumlah kunjungan Orang Pihak Pengelola Analisis Mengetahui deskriptif besar Waktu kunjungan Aktivitas kunjungan Hari Rekreasi/ Wawancara/ kuesioner Wawancara/ dan daya
dukung permintaanrekreasi Pendidikan kuesioner 2. Karakteristik pengunjung: Asal Usia Luar/dalam daerah Tahun Wawancara/ kuesioner Wawancara/ Analisis
deskriptif Mengetahuikarakter pengunjung kuesioner yang datang Jenis kelamin Aktivitas Laki-laki /perempuan - Wawancara/ kuesioner Wawancara/ kuesioner 3. Persepsi pengunjung
terhadap keindahan dan - KuesionerWawancara/ Analisisdeskriptif Mengetahuipersepsi dan
kenyamanan lanskap keinginan
4. Keinginan pegunjung - Wawancara/ Analisis pengunjung terhadap Taman Burung
TMII (saran, prasarana, jenis atraksi, dll) Aspek Pengelolaan 1. Rencana pemeliharaan: kuesioner deskriptif
Inventaris fasilitas dan peralatan Jadwal pemeliharaan Unit - Pihak pengelola Pihak pengelola Analisis
deskriptif Mengetahuisistem Pengelolaan yang akan diterapkan 2. Sistem kerja perusahaan:
Jadwal pengelolaan WaktuOrang Pihak pengelola Analisisdeskriptif Mengetahuikondisi dan
Tenaga kerja tujuan
3.4 Metode Analisis
3.4.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan terhadap data inventarisasi yang didapat melalui studi pustaka, wawancara pengelola dan pengunjung, kuesioner, serta pengamatan langsung untuk mendefinisikan masalah dan membandingkan sistem pengelolaan lanskap di Taman Burung TMII dengan sistem pengelolaan lanskap yang baik menurut teori pengelolaan yang ada. Analisis kuantitatif dilakukan dengan mengolah data melalui proses penghitungan seperti penghitungan kapasitas dan efektivitas kerja, hari orang kerja, dan daya dukung.
3.4.2 Analisis Daya Dukung
Salah satu model pendekatan untuk mempertahankan kelestarian, keberadaan, atau optimasi manfaat dari sumber daya alam, sumber daya lanskap, dan lingkungan adalah dengan melakukan pendekatan atau penilaian terhadap daya dukung atau carrying capacity-nya. Pendekatan ini juga digunakan untuk meminimalkan kerusakannya atau membatasi penggunaannya. Penilaian daya dukung dilakukan pada pengelolaan areal yang digunakan untuk kegiatan rekreasi alam yang dikenal sebagai daya dukung kawasan rekreasi atau recreation
capacity, yaitu jumlah individu atau pengunjung yang dapat ditampung pada suatu kawasan rekreasi (Nurisjah, Pramukanto, dan Wibowo, 2003). Perhitungan jumlah pengunjung maksimal untuk rekreasi menggunakan rumus berikut:
dengan
DD = daya dukung;
A = luas area yang digunakan untuk rekreasi (m2);
B = luas area yang dibutuhkan oleh seorang pengunjung untuk berekreasi dengan tetap memperoleh kepuasan (m2);
Rf = faktor rotasi (jam kunjungan per hari/rata-rata waktu kunjungan). 3.4.3 Analisis Karakter dan Persepsi Pengunjung
Analisis ini dilakukan dari hasil pengumpulan data melalui wawancara dan kuesioner yang disebar secara acak kepada pengunjung sebanyak 30 responden.
Wawancara dan kuesioner dilakukan pada pengunjung yang tidak sedang melakukan aktivitas secara aktif. Hasil dari kuesioner ini akan menunjukkan karakteristik, persepsi, serta kepuasan pengunjung terhadap kondisi lanksap Taman Burung TMII. Kuesioner karakter dan persepsi pengunjung dapat dilihat pada Lampiran 1.
3.4.4 Analisis SWOT
Analisis yang digunakan untuk menghasilkan strategi pengelolaan lanskap Taman Burung TMII adalah analisis SWOT (strength, weakness, opportunity,
threat). Analisis ini dilakukan dengan melihat hubungan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang dimiliki Taman Burung TMII dalam rangka menentukan alternatif strategi untuk mengembangkan kualitas pengelolaan lanskap Taman Burung TMII. Menurut Rangkuti (1997), analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenght) dan peluang (opportunity), tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threat). Berikut ini analisis tahapan kerja dalam analisis SWOT.
a. Pengidentifikasian Faktor Internal dan Faktor Eksternal
Identifikasi faktor internal (IFE) dilakukan dengan menetapkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Taman Burung TMII dengan mendaftarkan semua kekuatan dan kelemahannya. Identifikasi faktor eksternal (EFE) dilakukan dengan melihat peluang dan ancaman yang dihadapi Taman Burung TMII dengan mendaftarkan semua peluang dan ancamannya (David, 2008). Faktor-faktor tersebut diperoleh berdasarkan hasil diskusi dengan pihak pengelola dan hasil dari analisis beberapa aspek dalam pengelolaan lanskap Taman Burung TMII.
b. Penentuan Bobot Faktor Internal dan Eksternal
Setiap faktor yang telah diidentifikasi diberi simbol untuk mempermudah dalam melakukan pembobotan di tahap selanjutnya. Pemberian bobot dilakukan sesuai dengan tingkat kepentingannya terhadap pengelolaan Taman Burung TMII.